'UNFAITHFUL'

Naruto disclaimer by Masashi Kishimoto

This story by Saitou Nana'o

Title and this story inspired from Rihanna's song

Warning : OOC, BadSakura, BadNaruto, CalmSasuke

And little bit lime.

Sasu x Saku & Naru x Saku

(I love both of this pair)

Rate M for reasons

.

.

.

HAPPY READING!

.

.

.

AND ENJOY IT.

.

.

.

FLASHBACK

Gadis itu terlihat bosan.

Sasuke melirik Sakura yang sedang memandangi sebuah lukisan karya Shimura Sai tanpa ekspresi. Mereka sudah berada di pameran itu selama lebih dari dua jam dan walaupun jelas-jelas tidak tertarik pada seni lukis, gadis itu cukup sabar menemaninya. Tidak mengeluh sedikit pun. Sasuke memutuskan tidak memperpanjang penderitaan Sakura dan mengajaknya makan siang di kafe yang ada di taman didaerah sekitar. Makanan yang disajikan sederhana saja, tapi suasananya menyenangkan.

"Bosan?" tanya Sasuke sementara mereka menunggu pesanan diantarkan.

Sakura tersenyum dan melipat kedua lengannya di meja. "Mm, sedikit," jawabnya jujur, lalu mengangkat bahu. "Tapi aku sudah terbiasa. Ino sering mengajakku kalau ada pameran lukisan milik Sai, sedangkan aku sendiri buta soal seni."

Sasuke tertawa kecil. "Kalau begitu, setelah makan siang, kita ke tempat lain yang lebih menarik. Bagaimana? Ada saran?"

"Bagaimana kalau ke Chidorigafuchi?" tanya Sakura, lalu berpikir lagi. "Atau kau mau belanja? Kita bisa ke Shibuya atau Harajuku. Tidak, laki-laki tidak suka berbelanja... Ah, benar! Aku harus menunjukkan tempat kesukaanku! Sudah pernah melihat kota Jepang dari ketinggian?"

Sasuke menggeleng. Ia baru menyadari ia senang mendengar celotehan gadis itu. Ia suka mendengarkan suara Sakura. Seolah memahami perasaan Sasuke, Sakura terus berceloteh panjang-lebar.

"Ino dan aku suka sekali melihat pemandangan kota Tokyo dari puncak Tokyo Skytree." katanya dengan mata berbinar-binar. "Benar-benar menakjubkan! Banyak orang lebih suka melihat kota Tokyo dari puncak Tokyo Tower, tapi menurutku pemandangan dari puncak Tokyo Skytree adalah yang terbaik. Bisa membuatmu sulit bernapas. Aku paling suka berada di tempat yang tinggi, karena aku akan merasa... mm, bagaimana mengatakannya, ya? Rasanya begitu jauh dari peradaban. Kau mengerti maksudku? Rasanya seperti meninggalkan beban di tanah dan kita melayang bebas. Aku dan Ino suka ke sana kalau sedang stres. Aku jamin, setengah jam di sana perasaanmu langsung jauh lebih baik."

"Kita akan ke sana malam nanti karena pemandangan malam kota Tokyo lebih indah." Sakura terdiam sejenak untuk menarik napas, lalu bertanya, "Kau sungguh-sungguh belum pernah melihat-lihat kota Tokyo?" Matanya yang besar menatap Sasuke dengan pandangan bertanya.

"Begitulah." Sasuke berusaha menahan senyum. Gadis itu sanggup bercerita terus kalau memang diperlukan. Gadis yang menarik.

"Aneh... Memang, seberapa sibuknya dirimu hingga kau tidak sempat menulusuri kota kelahiranmu sendiri?" tanya Sakura.

Sasuke mendongak dan berpikir-pikir. "Entahlah, aku memang tidak punya waktu." Sakura mengangkat bahu. "Aneh sekali. Sungguh. Apa kau dilahirkan hanya untuk bekerja?"

Sasuke ragu sejenak. "Tidak juga," jawabnya pelan.

"Lalu kau hidup untuk apa? Seorang workaholic pasti juga ingin berlibur. Memangnya otakmu itu robot yang bisa dipakai terus-menerus?"

Sasuke menunduk dan bergumam, "Aku terpaksa."

"Apa?" tanya Sakura dan mencondongkan tubuh ke depan karena tidak mendengar dengan jelas.

Sasuke mengangkat wajah dan mengulangi, "Aku bekerja karena memang tuntunan dari keluargaku."

"Ohh… Haruskah?"

Pertanyaan yang wajar, tapi Sasuke tidak ingin menjawab. Ia masih belum yakin mau menceritakannya pada orang lain. Untung saja saat itu makanan pesanan mereka datang sehingga Sasuke tidak perlu langsung menjawab.

"Kenapa? Kenapa kau harus bekerja sekeras ini?" tanya Sakura sekali lagi setelah pelayan pergi.

Gadis itu benar-benar tidak mau melepaskannya. Jawaban apa yang bisa diberikan?

"Ceritanya panjang," Sasuke mengelak, tidak langsung menjawab pertanyaan Sakura tadi. "Lain kali saja kuceritakan."

Gadis itu tidak mendesaknya lagi. Sakura memang suka berceloteh panjang lebar, tetapi ia tidak suka memaksa, meskipun sebenarnya dia penasaran.

Setelah selesai makan, Sakura membawanya berkeliling kota, dengan penuh semangat menunjukkan tempat-tempat menarik, seperti pemandu wisata berpengalaman. Sasuke menyadari Sakura gadis yang ekspresif. Ia tidak hanya bercerita dengan kata-katanya, tapi juga dengan mata dan gerakan tubuhnya.

Mungkin karena cuaca hari ini cerah, mungkin karena angin juga tidak bertiup terlalu kencang, atau mungkin juga karena ia mendapat teman seperjalanan yang menyenangkan, Sasuke merasa santai hari itu. Gembira dan santai. Sudah lama sekali ia tidak mengalami perasaan seperti ini. Kapan terakhir kalinya ia merasa gembira? Pasti sebelum ayahnya meninggal dan semua tanggungan ayahnya harus terima.

Ia merasa lengannya disiku pelan. Ia menoleh dan melihat Sakura sedang menatapnya dengan alis berkerut.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya gadis itu sambil tersenyum. Kerutan di dahinya menghilang.

"Tidak ada," Sasuke berbohong.

Sasuke mendengus pelan, masih tetap tersenyum. "Bohong," gumamnya dengan nada riang. "Kau tahu,Ino juga sering begitu."

"Sering bagaimana?"

Sakura mendongak. Senyumnya masih menghiasi bibirnya. Sepertinya memikirkan Ino saja ia bisa tersenyum. "Aku selalu tahu kalau Ino sedang banyak pikiran," katanya. Sasuke mendengar nada bangga dalam suara gadis itu. "Alisnya akan berkerut dan dia lebih banyak diam. Kalau ditanya apa yang sedang dipikirkannya, dia hanya akan menjawab 'tidak apa-apa' dengan nada berat." Sakura menoleh mamandangnya dan senyumnya melebar. "Sama seperti yang kaulakukan tadi."

Sasuke mengangkat alisnya dan ikut tersenyum. Gadis itu punya senyum yang menular.

"Taman yang indah," komentar Sasuke mengalihkan pembicaraan.

FLASHBACK END.

-000-

"Sasuke-kuuunn~ kau ada dimana? Aku merindukanmu tau." Ini suara wanitaku. Suara yang teramat aku sukai. Suara yang amat aku rindukan akan celotehannya. Dan suara yang selalu terngiang ditelingaku.

"Sasuke-kun, kau tau hari ini ada banyak sekali mahasiswa yang menggodaku lho~ Apa aku ini terlalu cantik hingga banyak yang mengejarku? Ahh~ tapi kau tenang saja Sasuke-kun, walau banyak pria yang mengejarmu, hatiku tetap hanya untukmu kok."

"Sasuke-kun… Aku mencintaimu. Sungguh."

"Sasu...Sasuke…Sasuke-kun, Sasuke-kun."

"Kau ada dimana? Hiks~" Tidak, tidak. Wanitaku mulai menangis. Jangan.

"Sasuke-kun~ Hiks kau jahat! JAHAT!" Jangan. Jangan menangis. Kau boleh marah, kau boleh menyalahkanku. Tapi tolong, hentikan air matamu. Sakura…

"Hahha, hentikan… hentikan! Itu geli! Hentikan, kau membuatku ahaha~ geli!" ahh, kini ia terlihat senang. Ia tertawa.

"Huahh~ aku senang sekali hari ini." Ya Tuhan, ia terlihat bahagia sekali.

"Heh! Setidaknya bersikaplah romantis padaku! Ini sama sekali tidak romantis!" Ia terlihat marah. Tapi wajahnya bersemu merah.

"Hei, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih sudah menemaniku…" ia tersenyum dengan manis.

"…terima kasih, Naruto." tunggu? Tunggu dulu? Apa dia salah menyebutkan nama. Tidak. Mengapa ia mengucapkan terima kasih pada orang lain? Sakura. Kau salah!

"Naruto! kau bodoh! Ahahha, hentikan Naruto! ini menggelikan! Hentikan!" Sakura tertawa dengan puas, ia tertawa. Tertawa dengan seseorang yang tengah menggelitiki dirinya. Tertawa dengan seseorang selain aku.

"Naruto, ayo kita kesana! Sepertinya pemandangannya indah." Sakura menggandeng tangan seorang laki-laki yang ada disampingnya. Mereka berjalan berdampingan. Saling menggenggam tangan satu sama lain dengan erat. Mereka… mereka semakin menjauh dari pandanganku.

Heh? Itu Sakura-ku. Ia cantik sekali malam ini. Helaian rambutnya ia biarkan tergerai dan terbuai dengan hembusan angin. Dress putih milliknya juga melambai-lambai. Ia tersenyum sumringah.

"Naruto… kau terlambat!" ujarnya seketika ada seseorang yang ada dibelakangnya. "Untuk apa bunga ini? Aku tidak butuh bunga, asal kau tau itu." Ia marah, tapi ia tetap menerima bunga itu.

Tidak, tidak. Pria itu mendekap Sakura dalam pelukannya. Tidak! Sakura, harusnya kau menolaknya! Tapi kenapa kau malah mengeratkan pelukanmu. Hentikan Sakura! pria itu sedikit melepaskan pelukannya. Mereka berdua saling menatap dengan intens. Kepala mereka semakin mendekat. Jangan, jangan katakan pria itu hendak mencium Sakura. Berhenti! Kumohon hentikan! Sakura hanya milikku… tidak semuanya sudah terlambat. Sakura sudah ada didalam rengkuhan pria itu.

Hentikan. Tolong hentikan semua ini.

Jangan… jangan lakukan itu…

Tolong berhentilah, Sakura…

Hentikan.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Arrggghh…! Hahh… hah. Hah..!" Nafasnya memburu tak karuan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya tergenggam erat mencengkram sprei yang ada dibawahnya.

"Arrgghh!" Sasuke berteriak frustasi. Mimpi apa yang sebenarnya terjadi. Itu semua hanya mimpi. Ya, mimpi. Tidak, bukan… semua itu bukan mimpi. Itu semua adalah bayang-bayang kenyataan yang masuk kedalam mimpinya. Semua itu nyata. Memang, semua itu memang nyata.

Sasuke tak habis pikir. Mengapa semua ini harus terjadi. Kenapa? Ini semua salah Sakura. Ia sudah berjanji akan selalu setia kepadanya. Ia selalu bilang bahwa ia hanya mencintai Sasuke seorang. Ia selalu bilang bahwa ia hanya memandang Sasuke saja. Ia selalu bilang bahwa ia selalu merindukannya. Ia selalu bilang… semua itu hanya kata-kata. Sebuah omongan yang tak terbukti pada kenyataannya. Sakura bohong. Itu semua palsu. Sakura ingin membodohi seorang Uchiha Sasuke. Sakura ingin menghancurkannya. Sakura hanya ingin hartanya. Begitukah?

Sasuke tak peduli jika hartanya diperas hanya untuk wanita kesayangannya. Ia tak peduli. Uangnya bukanlah segalanya bagi Sasuke. Tapi, kenapa Sakura berani untuk membohonginya dan kenapa Sakura begitu tega untuk membodohi Sasuke. Apa karena Sakura sudah tau bahwa Sasuke begitu mencintainya, cinta yang begitu besar hingga Sasuke terlihat lemah dan mudah untuk dibodohi. Apa Sakura tidak mencintanya?

Sasuke tersenyum getir memikirkan sikap Sakura yang membuatnya begitu frustasi. Dulu, saat pertama kali ia bertemu dengan Sakura. Sakura adalah orang yang sangat ramah, penuh perhatian, penuh kehangatan, penuh kasih sayang dan penuh akan cinta…dan Sasuke menyukainya. Entah, sejak kapan rasa suka dan kagumnya pada Sakura bisa berubah menjadi cinta.

Ketika Sasuke terpuruk, disaat Sasuke kehilangan arah, disaat Sasuke kehilangan harapan. Selalu ada secercah cahaya untuknya, selalu ada harapan untuknya dan selalu ada cinta yang penuh untuknya. Dan itu semua bersumber dari seorang perempuan yang bernama Haruno Sakura. Sakura telah memberikan semua yang dibutuhkan Sasuke.

Semuanya… Dan Sasuke juga sudah berjanji, akan memberikan segalanya untuk Sakura. Segalanya yang ia miliki hanya demi Sakura seorang. Yah… segalanya. Kecuali, waktu. Sasuke sadar bahwa ia tak pernah ada untuk Sakura. Ia sadar bahwa ia selalu meninggalkan Sakura demi pekerjaannya. Ia akui itu memang kesalahnya yang tak pernah bisa menemani Sakura ketika ia sedang bahagia ataupun ketika Sakura bersedih ia tak bisa berada disampingnya. Yang hanya bisa ia lakukan hanyalah menghiburnya lewat telepon, hanya dengan suara tanpa ada kontak fisik.

Sungguh, Sasuke ingin memeluk tubuh Sakura yang mungil kedalam pelukannya. Membelai rambut merah mudanya yang panjang dan halus. Dan menelusuri semua yang ada pada tubuh Sakura. Ia ingin itu semua… setiap hari, setiap saat dan bahkan setiap hembus nafas Sasuke, ia ingin terus berada disamping Sakura.

Kini Sasuke menyesal tidak bisa menemani Sakura, ia menyesal karena lebih memilih pekerjaannya, ia menyesal sudah meninggalkan Sakura…Ia sangat tau bahwa Sakura sangat membutuhkannya, tapi kenapa ia tak pernah ada untuk Sakura. Salahkah ia?

Dan sekarang, siapa yang pantas untuk disalahkan? Uchiha Sasuke ataukah Haruno Sakura yang bersalah?

-000-

"Naruto, kau ini manusia atau hewan?!" sindir Sakura yang tengah melihat keadaan sekitar apartemen milik Naruto yang berantakan.

Diruang tamu memang berantakan. Bantal-bantal sofa tergeletak sembarangan, selimut yang ada didepan TV tergulung secara asal-asalan. "Hehe, semalam aku tidur disofa." Naruto menujukkan cengirannya dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

Karena melihat Sakura yang enggan untuk disofanya, Naruto segera mengambil bantal-bantal dan selimut yang berserakan diatas lantai, dan membawanya kedalam kamar Naruto. Setelah dirasa ruang tamunya sudah cukup bersih, Naruto mempersilahkan Sakura untuk duduk disampingnya.

"Aku hampir lupa, kau mau minum apa Sakura?" tanya Naruto yang bangkit dari duduknya.

"Untuk apa kau bertanya, jika yang kau punya hanya orange jus saja?" jawab Sakura dengan senyum meremehkan.

"Kata siapa? Tunggu sebentar, akan kuambilkan minum." Naruto segera berjalan kearah dapurnya yang tak jauh dari ruang tamu. Mata Sakura mengekori pergerakan arah langkah Naruto pergi. Tak beberapa lama, Naruto membawakan segelas jus strawberry untuk Sakura. dan kemudian ia duduk kembali ketempat awalnya disamping Sakura.

"Sekarang minuman favoritmu sudah berubah?" Tanya Sakura.

"Tidak, itukan khusus hanya untukmu. Jika kurang kau bisa ambil lagi didalam almari esku. Disana masih banyak jusnya untukmu." Jelas Naruto pada Sakura yang asyik dengan meminum jusnya.

"Kenapa kau mau repot-repot menyimpan jus ini hanya untuk aku?"

"Kenapa yah? Karena, aku kasihan padamu. Setiap kau kesini hanya minum air putih saja, sedangkan orange jus kau tidak pernah suka. Dan, yang pasti aku menyimpan ini karena aku tau, kau pasti akan datang kesini lagi, setiap hari malah." Celoteh Naruto yang sengaja menggoda Sakura.

"Kau pikir aku tidak bisa membeli sendiri apa? Huh, dasar!"

"Hei Sakura, lihat! Dibibirmu ada sisa jusnya. Sini aku bersihkan." Naruto memajukan tubuhnya agar mendekat pada Sakura, tangannya terulur menyentuh wajah Sakura. Dengan perlahan ibu jari Naruto menyentuh ujung bibir Sakura yang kotor. Gerakan tangan Naruto begitu deduktif diatas permukaan bibir Sakura, membuat Sakura terbuai akan sentuhan jari Naruto.

Perlahan, Naruto mendekatkan wajahnya pada Sakura, begitu dekat hingga nafas keduanya dapat terdengar satu sama lain. Bibir mereka bertemu. Awalnya hanya sebuah kecupan-kecupan biasa yang diberikan Naruto. kemudian dengan berani, Naruto membuka mulutnya untuk menyesap bibir merah muda milik Sakura.

Awalnya Sakura tak merespon, tapi kini ia tengah memejamkan matanya erat dan menikmati ciuman Naruto. Lama-kelamaan Sakura semakin terbuai dengan tangan Naruto yang bergeriliya diseluruh tubunya. Memberikan sensasi yang menghidupkan nafsunya. Sakura kini tak mau kalah. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Naruto dan berpindah tempat kepangkuan Naruto.

Ciuman mereka sangat memburu. Sedangkan tangannya mempunyai peran masing-masing untuk saling meraba satu sama lain. Memberikan sengatan yang menghidupkan nafsu masing-masing. Lidah Naruto menari-nari didalam mulut Sakura, saling membelit dan mengecap secara bergantian. "Umhhh…" Desah Sakura didalam mulut Naruto.

Tangan Naruto bergerak meraba-raba tubuh Sakura, mencari sesuatu yang ia inginkan. Setelah menemukannya ia meremas pelan bagian tubuh Sakura yang sensitive tersebut. "Unghh~" Desah Sakura semakin keras.

Mulut Naruto berpindah keleher jenjang leher Sakura yang bisa ia jangkau hingga meninggalkan bercak kemerahan disana. Sakura sendiri juga tak mau kalah, ia memaksa Naruto agar melepas kaos yang ia kenakan. Setelah telepas, tangan Sakura meraba-raba dada bidang yang dimiliki Naruto. Gerakan tangan Sakura menurun hingga berada diatas perut six pack Naruto, melakukan gerakan memutari perutnya secara perlahan.

"Hentikan semua ini, Sayang. Ayo kita mulai…" Ucap Naruto yang tiba-tiba menghentikan kegiatan mereka berdua.

Naruto menidurkan Sakura diatas sofa, sedangkan dirinya berada diatas tubuh berdua terdiam sejenak dan saling menatap. Tak butuh lama Naruto melanjutkan kegiatannya. Mencium bibir Sakura yang sudah basah akibat perlakuannya. Mereka berdua saling menikmati semua ini. Tak perduli setan, mereka berdua sudah saling tertutup kabut kenikmatan.

Kini, tubuh bagian atas mereka sudah topless, tanpa menggunakan apa-apa. Pakaian mereka sudah tertanggalkan entah kemana. Bibir mereka masih betah untuk melumat satu sama lain, tangan Sakura bergerak diatas kepala Naruto untuk memberikan pijatan untuknya, sedangkan tangan Naruto sendiri memberikan pijatan pada kedua payudara Sakura.

"Ahhh…Enghh~" desah Sakura semakin keras.

Bibir Naruto berpindah lagi keleher jenjang Sakura, menjangkau bagian yang belum ia tandai. Setelah Naruto menandainya, ia hendak berpindah. Namun, sebuah tetesan air yang mengenai pipinya menghentikannya.

"Sasuke…" Naruto hendak mendongakkan kepalanya, namun tangan Sakura menahan kepalanya agar tetap berada ditempat.

Lagi, Naruto terkena tetesan air yang berasal dari Sakura. Ia yakin, kini Sakura tengah menangis. Menangisi akan seseorang yang Sakura cintai. Tentu bukan dirinya, namun kekasih resmi dari Sakura, Uchiha Sasuke. Ia tau itu. Lalu bagaimana bisa ia bercinta dengan seseorang yang sudah memiliki kekasih? Katakan ia egois, memang.

Disaat Sakura terpuruk dalam kesedihan, Naruto selalu bertanya-tanya. Dimana Sasuke? Kenapa Sasuke tega membiarkan Sakura terpuruk sendiri? Kekasih macam apa dia?

Disaat Sasuke tak ada untuk Sakura, Naruto lah yang selalu ada untuk Sakura. Menjaganya dan menghiburnya, selalu. Selalu disetiap ia dibutuhkan. Selalu disaat Sakura terpuruk dalam kesedihan tanpa harus Sakura butuhkan, Naruto sudah selalu ada untuk Sakura. Jauh, sebelum Sakura bertemu dengan Sasuke. Naruto memang selalu ada…

Itu semua karena Naruto memang mencintai , apa dayanya. Kini Sakura lebih memilih Sasuke dari pada dirinya. Dan sekarang, ia menjadi tempat pelampiasan untuk Sakura. Tak peduli ia hanya dimanfaatkan saja atau menjadi pelampiasan Sakura, ia tak peduli. Yang hanya ia ingin adalah Sakura selalu ada bersamanya, walaupun hati Sakura bukan untuknya. Ia harus menutupi hubungannya ini.

Menutupi dari teman-teman Sakura bahwa ia ini hanyalah sahabat dekat Sakura, menutupi bahwa mereka taka da hubungan apa-apa, dan menutupi segala kebohongan-kebohongan yang telah ia dan Sakura perbuat. Ia harus menjadi aktor yang hebat untuk memerankan semua kepalsuan itu.

Friend with benefit? Itu benar, hubungan Naruto dengan Sakura hanya sebatas friend with benefit . Tidak lebih. Kenapa? Karena mereka berdua saling membutuhkan. Saling terikat satu sama lain dan saling menguntungkan.

Menguntungkan bagi Sakura yang membutuhkan pelampiasan, dan menguntungkan bagi Naruto yang mendapatkan Sakura meski dengan cara yang licik sekalipun.

"Naruto… kumohon, hentikan semua ini…"

-000-

TBC

-000-

Mind to riview again?