K, lanjutan dari Between The Two Yellows chp 2. Oh ya disini Kicchi ga muncul guysssss X'DDD /terus
2
Sehari setelah hari dimana Kicchi pulang, Kagami melanjutkan kegiatan liburannya yang tersia-siakan selama lima hari.
Dirinya saat itu ada di sebuah ladang bunga matahari antah berantah. Anginnya sepoi-sepoi melewati seluruh tubuhnya. Langit biru jernih menghiasi pandangan sejauh mata, juga awan putih bersih seperti kapas yang perlahan terhembus oleh angin.
Tetapi ada satu yang berbeda. Jauh di depan matanya, seorang cowok yang sangat ia kenal—bagaikan bunga matahari yang memiliki perbedaannya sendiri berdiri tegak di sana, memunggungi Kagami, sehingga ekspresinya tak terlihat olehnya. Yakin dengan siapa orang yang ada di hadapannya, Kagami menyebutkan namanya dengan keras.
"Kise!"
Kemudian cowok itu menoleh ke arahnya dengan ekspresi bertanya-tanya. "Ha, siapa kau?" Tanya Kise dengan ragu.
Merasa agak aneh dengan sahabat yang ada di hadapannya tersebut, dia mendekatkan dirinya pada cowok di hadapannya Alis uniknya; yang bercabang itu, berkerut heran. Sepasang mata kuning madu itu menatap Kagami lekat-lekat, mulai dari badannya hingga tertuju pada matanya. Lalu akhirnya mereka berhadapan hanya dalam jarak tiga puluh sentimenter.
"Ini aku, kau tidak kenal? Yang benar saja!"
Sebetulnya, saat itu sendiri Kagami tidak ingat kenapa dia ada di sana. Dia hanya menganggap bahwa dia kehilangan memori kenapa dia berada di situ, dan menemukan tempat asing tersebut. Yang lebih dipertanyakan lagi, ya tentu saja. Apalagi kalau bukan Kise Ryouta yang tidak mengenalinya? Rival sekaligus sahabatnya ini tidak mengenalnya!
"Hmm... tidak?" Jawabnya dengan ragu.
Sebuah tarikan nafas dan digantikan dengan helaan telah dilakukan si cowok di depan Kise, "Kagami Taiga. Tidak ingat juga?"
"Ka... ga... mi?" Kise memiringkan kepalanya sambil mengusap dagu.
Sambil merasa aneh, Kagami mengusap-usap kepala bagian belakangnya, "biasanya kau memanggilku dengan sebutan Kagamicchi."
Sesaat Kise terdiam. Mengerutkan alisnya, berpikir dengan keras. Sekiranya dari tiga sampai lima menit dia berpikir, namun entah mengapa air mata bergulir dari matanya benar-benar secara mendadak. Dia sendiri tidak mengerti kenapa; hal itu terlihat dari ekspresinya yang bertanya-tanya. Dengan ragu ia hapus air matanya tersebut dengan lengannya.
"K-Kise ada apa?" Kagami semakin mendekati sahabatnya yang tiba-tiba menangis tanpa sebuah alasan. Hatinya sedikit pilu ketika melihat sahabatnya menggulirkan air mata di depannya. Ya... jika dia sedih, dia pun ikut merasakan kesedihan itu.
Sang manusia bunga matahari di tengah ladang bunga matahari itu menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Kagamicchi... itukah panggilanmu dariku?"
"Harus kubilang berapa kali... bodoh?" Jawab Kagami agak kesal.
"Kalau begitu... aku menemukanmu, Kagamicchi. Aku menemukanmu." Masih sambil melirik ke bawah, dia mengeluarkan senyum kecil tulus, walaupun agak tertahan karena dia sedang terisak bahagia melihat sahabatnya ada di depannya.
"Kamu ini... kenapa sih?" Kini jarak mereka semakin dekat, ketika Kagami menyentuh bahu Kise yang bergemetar.
Tetapi hal yang tak terduga adalah ketika Kise tiba-tiba bergerak dengan rusuh, menyelipkan tangan kirinya pada sela-sela lengan kanan Kagami untuk mengusap punggungnya dengan penuh keinginan juga nafsu. Bahkan dada mereka sudah saling bertabrakan. Sedangkan satu tangan lagi membelai pipi Kagami. Saat itulah dimana bibir mereka akan segera bertemu dalam jarak lima milimeter lagi.
Nyatanya hal itu hilang seketika, ketika Kagami yang berada di dunia yang sebenarnya terlonjak dari sofanya. Mendapatkan kesadaran penuh secara tiba-tiba.
Matanya melotot, jantungnya berdebar kencang bagaikan sedang lari maraton sehingga darahnya seperti tak terpompa dengan baik. Pikirannya melayang-layang ketika masih terbayang mata sembab si rambut kuning yang bertemu dengan mata merah tajam miliknya sendiri. Bibirnya sudah akan bersentuhan dalam jarak yang sangat tipis. Tapi satu yang paling ia rasakan adalah: ketika tangan kiri si manusia bunga matahari itu mengusap dengan nafsu di atas punggungnya yang lebar itu. Karena masih sangat terasa, Kagami tak sengaja terus mengelus punggung pada bagian Kise mengusap-usapnya dengan penuh nafsu.
Dia masih tidak mengerti kenapa mendapatkan mimpi tidak jelas seperti itu—maksudnya, mereka berdua laki-laki kan?
Langkah agak cepat namun lemas itu mengganggu perjalanan pendek si rambut merah menuju kamar mandinya. Ia basuhkan wajahnya dengan air dingin, tak peduli sedingin apakah air itu. Lalu matanya bertemu dengan bayangan matanya yang berada di hadapannya, pada sebuah cermin.
Sialan, mimpi macam apa itu?! Kalau... kalau...
Jantungnya masih tidak bisa kembali tenang. Seolah maraton selama lima menit bukanlah waktu yang cukup untuk si jantung. Perlahan dia elus sendiri dadanya, tepat pada jantung. Tanpa mengeringkan wajahnya dahulu, ia biarkan beberapa tetes air jatuh dari mukanya, ketika dia menatap kosong pada wastafel putih di bawah kepalanya. Pikirannya masih bergelut dengan mimpi dan kenyataan. Darimana mimpi itu berasal? Maksudnya, Kagami tidak pernah merasakan bahwa dirinya suka dengan sesama jenis—
Ataukah pengecualian pada Kise? Ah... dia hanya sahabatnya kok. Apalagi?
Tangannya bergerak menuju kepalanya, mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Segera ia ambil handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya. Keluar dari kamar mandi, dia baru mengetahui bahwa saat itu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Hari itu adalah hari terakhir baginya untuk berlibur. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai dan menyia-nyiakan liburannya. Sesaat memikirkan soal hari Minggu, dia mulai melupakan mimpi apa yang ia dapat barusan.
Saat dia berpindah tempat untuk tidur, yaitu ke kamarnya, ia menemukan ponselnya di atas kasur. Beberapa pesan telah masuk ke ponselnya, dan salah satu darisana telah terpapar sebuah nama yang hampir membuatnya menjatuhkan ponsel. Siapa lagi? Yang membuatnya teringat pada mimpi pastinya.
"Hey, maaf malam-malam begini mengirim pesan. Mungkin Kagamicchi akan terbangun, tapi kalau bisa balas pesan ini segera, bisakah?"
Baru disadari bahwa pesan itu datang pada dua puluhan menit yang lalu. Berusaha menyingkirkan pikiran mengenai mimpi, ia membalas pesan itu. Tentu saja menanyakan soal ada apa mengirim pesan malam-malam begitu.
Pesan terjawab dengan sangat cepat. Pesan dari Kise mengatakan bahwa dia akan mengajak Kagami jalan-jalan di sebuah tempat, sebagai ganti rugi karena menyita waktu liburannya kemarin untuk merawat Kicchi.
Pikirnya... boleh juga. Anak ini bertanggung jawab karena menghabiskan liburannya. Tapi berpikir soal akan berjalan-jalan berdua dengannya malah membuatnya canggung. Ya, mimpi itu mempengaruhi pikiran sekaligus tubuhnya. Melihat namanya di dalam pesan masuk saja sudah membuatnya panik. Tapi, akhirnya ia putuskan untuk membalas. Memberikan jawaban setuju untuk hal tersebut.
"Tapi Kise, apakah ada Kicchi nanti?"
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Kise meneleponnya. Kagami yang hampir panik beberapa kali mengangkat panggilan tersebut sambil duduk perlahan di sisi kasurnya, "y-ya?"
"Kagamicchi!"
"Whoa!" Seru Kagami tiba-tiba, seiring dengan jantungnya yang berdetak lagi semakin kencang. Telinganya terasa panas hanya karena mendengar nama panggilannya sekaligus dengan suara Kise yang merambat masuk.
"Eh? Ada apa Kagamicchi?"
"Err... tidak." Jawab Kagami buru-buru.
"Aneh... tapi dengar, Kagamicchi! Aku ini sudah merepotkanmu karena merawat Kicchi! Sekarang kamu malah ingin Kicchi bersama kita. Nanti kamu akan bertambah repot lagi lho!" Kata Kise dengan buru-buru dan cerewet.
"O-oh ya. Kalau begitu terserah padamu." Jawabnya dengan datar sekaligus singkat, namun terdengar tergesa-gesa. Jantungnya itu terus mengganggunya untuk bicara, apalagi pikirannya yang masih berputar-putar di tempat yang sama.
"Nah, begitu lebih baik. Aku jamin, kubayar liburanmu dengan hari terakhir nanti pagi!" Kise menjelaskan dengan nada super semangat, berbeda jauh dengan Kagami.
"T-tentu. Ha...! Buktikan hal itu."
Sejenak Kise terdiam, lalu kembali mengeluarkan kata-kata, "sebenarnya apa yang terjadi Kagamicchi? Tiba-tiba kamu terdengar datar. Apakah benar aku mengganggu tidurmu? Maaf ya. Soalnya kalau kuberitahu nanti pagi, aku takut kamu keberatan karena terlalu dadakan. M-maaf ya..." Jelasnya dengan nada penuh sesal.
Mendengar suara itu lagi, Kagami sudah terlalu sering mendengar suara menyesal Kise itu, walaupun sebenarnya anak itu tidak melakukan kesalahan yang begitu fatal. Sekalipun sekarang, sebenarnya dia tidak terganggu karena pesan dari Kise. Dengan sabar Kagami menghadapinya—seperti biasa. "Aku tidak terbangun karena pesanmu kok, dan aku tidak terganggu dengan hal ini."
"Lalu kenapa kamu tiba-tiba terbangun jam segini?"
"I-itu karena..." Siapa yang bisa jawab soal itu? Tidak ada.
"Ya?"
"Kise..."
"...iya?"
Hampir lupa, Kagami cepat-cepat mendapatkan kesadarannya, alasan kenapa dia terbangun maupun kenapa dia menyebut nama Kise ia alihkan tiba-tiba, "tidak. Salah bicara barusan. Omong-omong, aku mulai ngantuk lagi. Besok kita lanjutkan pembicaraannya."
"A-ah baiklah. Oh ya, sebaiknya kamu ke sini pagi-pagi ya. Mungkin sekitar di atas jam tujuh dan jangan di bawah jam sepuluh. Ok?"
"Ok. Sampai nanti."
"Bye Kagamicchi!" Lalu Kise memutuskan panggilan.
Leganya bukan main ketika dia tidak mendengar atau perlu bicara lagi dengan Kise saat itu. Masalahnya sekarang adalah, Kagami ragu untuk kembali tidur lagi. Kalau-kalau mimpi itu ternyata berkelanjutan... bagaimana dengan pertemuannya besok dengan Kise? Tidak. Tidak usah berpikir apa-apa. Lupakan. Itu-hanyalah-sebuah-mimpi.
Kagami merebahkan badannya di atas kasur, menghela nafas pelan sambil menarik selimut. Dengan berat hati ia pejamkan matanya rapat-rapat, dan akhirnya bisa terlarut dalam tidur, yang untungnya tidak mendapatkan kelanjutan dari mimpi sebelumnya.
Jam delapan, si cowok berambut merah tua itu sudah bertemu dengan orang yang bersangkutan. Yang paling sulit adalah ketika memandang wajah cantik sekaligus tampan itu. Cantik memang iya, tapi tatapan yang diingat jelas oleh Kagami saat di mimpinya adalah...
Mungkin sudah tidak perlu dibahas lagi.
Hal yang tak terduga adalah ketika Kise mengajak Kagami pergi ke sebuah dermaga utama di Kanagawa, tepatnya pada Dermaga Osanbashi. Tebak apa yang sedang Kagami lihat saat ini; yang membuatnya tidak bisa berhenti melihat ke atas dengan tatapan terkejut berat, bahkan mulutnya belum juga terkatup. Kise hanya tersenyum jahil, berdiri di sebelahnya, ikut tertimpa bayangan sebuah benda besar di hadapan mereka. Rasa terkejut Kagami bukan main. Tapi yang benar saja? Ia akan liburan gratis di atas sebuah kapal feri, yang mewahnya bukan main.
Kapal feri putih itu mungkin memiliki sekian-sekian tingkat lantai, dipenuhi oleh benda-benda mahal. Ah, itu masih bayangan. Belum melihat isinya, bukan? Membayangkan saja sudah membuatnya cukup gila. Apalagi dengan masuk ke dalam?
"Jangan bengong seperti itu Kagamicchi. Ayo kita masuk." Si cowok model sekolah menengah akhir itu masuk dengan ekspresi yang biasa-biasa saja—seolah sudah biasa dengan hal-hal semewah apa yang ada di depan mereka. Dikira-kira lagi, mungkin cowok yang ada di hadapannya Kagami itu tidak main-main dengan kekayaannya. Namun dia tidak pernah membicarakan apapun soal kekayaannya. Ia hanya mengaku sebagai murid sekolahan, sebagai small forward sekaligus sebagai ace dalam tim basket Kaijou, memiliki profesi part-time sebagai model. Tak lebih.
Mulailah langkah ragu dan malu itu dilewati oleh Kagami seiring ia mengikuti Kise yang ada di depannya. Mungkin soal membayar liburannya yang tersita itu memang akan terbayar.
Apalagi ketika ia memasuki ruangan utama kapal itu. Dia menghadapi karpet merah yang membentang lurus ke depan, melapisi sebagian jalan lurus menuju tangga klasik nan mewah di depannya. Lampu kristal besar menghiasi sekaligus menerangi ruangan tersebut dengan indahnya. Kagami mungkin akan malu sebagai Kise karena sudah membawa temannya yang terus-terusan bengong melihat keindahan—hanya dari ruangan tersebut. Tetapi ya apalagi? Kagami adalah sahabatnya Kise, tidak mungkin dia merasa malu dengan sahabatnya sendiri.
Kise menyenggol Kagami dengan sikutnya, "maaf, sehabis acara meeting, mungkin kita akan menikmati kapal ini. Bagaimana? Jangan banyak melamun dulu, alis-garpu." Kise tercengir jahil padanya.
Mau marah juga bagaimana? Rasa seperti malu, harus jaga sikap, marah, dan lain-lain bercampur aduk dengan berantakan di dalam diri si alis-garpu. Sebuah tarikan nafas dalam-dalam namun menenangkan telah dilakukannya, membuatnya merasa lebih rileks. "Lalu apa aku harus masuk ke sana?"
Si model itu pun mengangguk dengan antusias, "tentu saja. Kau di sini diundang karena sebagai teman dekatku. Ketahui saja Kagamicchi, sebenarnya selama acara-acara seperti ini, aku hanya mengajak pacar-pacarku lho. Kau adalah sahabat pertamaku yang kuajak." Sekarang Kise mendorong Kagami dengan jari telunjuk pada bahunya, dan hal itu sedikit membuat Kagami heran sekaligus terusik.
"Lalu kenapa sekarang..."
"Ya karena aku tidak punya pacar. Oh ayolah, aku belum mendengar kata terimakasih darimu lho." Lagi-lagi anak itu tertawa sambil berjalan melewati karpet merah besar itu, menuju pada tangga besar yang ada di depan mata.
"T-tunggu, Kise! I-iya terimakasih!" Kagami mengikutinya dengan gusar namun tetap berusaha bersikap tidak norak.
Sesampainya pada sebuah ruangan, lagi-lagi Kagami tidak bisa berhenti mengatur ekspresinya. Ia memasuki sebuah ruangan besar dengan panggung luas di depannya. Ruangan itu hanya memiliki penerangan yang minim, seperti ruangan diskotik namun tidak memiliki lampu kerlap-kerlip atau musik dari disc jockey. Orang-orang di sana rata-rata menggunakan pakaian santai namun tetap mewah. Para wanitanya bukanlah para wanita biasa, melainkan wanita-wanita kaya raya yang memiliki sikap yang baik. Begitupun dengan para prianya. Tak kalah sopannya dengan para wanita. Yang paling diherankan adalah: dadakan Kise yang terlihat senang merusuh, mendadak bisa menyesuaikan dirinya di sana, dengan sangat mudah.
Tanpa Kagami sadari, ternyata Kise sudah meninggalkannya sebentar di tengah lautan manusia glamor. Kemudian dia menemukan si model tak terduga itu, sedang berbincang dengan beberapa wanita cantik begitupun anggun.
"Oh, jadi itu temanmu yang bernama Taiga? Dia lumayan juga. Tinggi seperti apa yang kau katakan." Seorang wanita tertawa manis selagi melirik pada Kagami.
"Dia terlihat sangat maskulin!" Seru wanita lain dengan antusias.
"Aku yakin dia memiliki wajah yang imut ketika dalam keadaan tertentu meskipun memiliki muka sangar." Para wanita dihadapan Kise saling sahut-menyahut ketika membicarakan Kagami.
Karena mereka, Kagami merasakan pipinya agak sedikit memanas, mungkin saat ini sedang merona di dalam cahaya remang-remang. Lalu dia bertemu mata dengan Kise sesaat, dan cowok berambut kuning itu memberinya senyum hangat, seperti mengucapkan: selamat datang di duniaku, Kagamicchi. Dan entah mengapa Kagami langsung mengalihkan pandangannya dari mata kuning madu itu.
Beberapa menit setelah Kise berbincang dengan teman-temannya, dia kembali pada Kagami dan langsung meminta maaf secara berlebihan karena meninggalkannya. Kise sendiri tidak bermaksud seperti itu, tetapi karena Kagami yang tidak bisa berhenti bengong, tak disadari ternyata Kise telah ditarik oleh teman-temannya. Perminta maafan itu tentu saja Kagami cepat terima, kini mereka sudah kembali berjalan kesana kemari berdua. Kadang mengambil beberapa camilan yang tersedia di sana, atau meneguk segelas jus apel.
Sesekali Kagami melihat Kise yang dikerubungi oleh para wanita ataupun gadis-gadis muda, membuatnya seperti raja yang memiliki banyak sekali budak wanita yang siap melayaninya. Sejenak Kagami terdiam untuk melihatnya. Ya... Kise memang memiliki ciri-ciri cowok sempurna—jangan soal fisik. Dia memang terlahir seperti cowok berfisik sempurna—seolah tak perlu dibahas lagi. Tak heran banyak wanita yang mengincarnya.
Hanya saja, pikiran Kagami agak berbelit. Ingatannya soal mimpi tadi malam masih jelas. Sebuah ciuman. Apakah Kise pernah mencium mantan ataupun para wanita yang tidak memiliki status dengannya?
"Kagamicchi!" Sentakan pada lengannya yang ditarik oleh Kise membuatnya berhenti melamun. "Aku lupa bilang padamu, tapi karena kamu adalah tamu yang kuundang, kita harus maju ke depan bersama-sama. Ayo." Sahabatnya Kagami itu mulai menarik lengannya lagi.
Panik. Iya, panik.
Dengan badan gemetar dan langkah berat, Kagami ditarik Kise hingga tiba di sebuah mimbar. Kakinya yang tidak bisa berhenti bergemetar membuatnya hampir tersandung pada tangga, sedangkan Kise sudah buru-buru berada di depan mikrofon. Matanya tidak teralihkan pada para penonton di bawahnya, sama sekali tidak ragu untuk menatap mereka satu per satu. Sedangkan Kagami sangat bersusah payah menatap ke depan. Kepalanya memang masih tegak, tetapi matanya tertuju pada lantai panggung.
Pikirannya tidak bisa fokus, terlarut pada rasa malunya di depan. Kise sudah banyak berceloteh dengan orang-orang, begitupun mereka yang meresponnya dengan antusias (didominasi oleh suara wanita.) Tiba-tiba nama Kagami dipanggil oleh Kise, mengenalkannya secara singkat, menariknya berdiri di depan mimbar.
"Nah, kalian bisa dengarkan suaranya saat ini. Silakan berbicara, Kagamicchi." Dan dia memberikan kedipan mata itu lagi padanya; sebagai penyemangat barang kali.
Sial Kise! Kenapa tidak dari awal dia bilang aku harus berbicara di sini?!
Diam-diam Kagami mengetes suaranya di dalam kerongkongan, lalu mulai membuka mulutnya...
"Halo..."
Jeritan yang datang dari beberapa arah membuat Kagami hampir lompat bunuh diri dari panggung. Dikiranya dia telah mengacaukan sebuah sapaan, ternyata wanita-wanita itu menjerit karena mengidolakan Kagami dalam pandangan pertama. Memang tidak sebanyak wanita yang menjerit karena Kise, namun dia sudah digemari banyak orang. Sebuah keraguan ia torehkan pada matanya, menyorot pada Kise. Tetapi cowok itu hanya membalas dengan senyum selamat! pada Kagami.
"Y-ya... terimakasih." Cepat-cepat Kagami mengeluarkan suaranya lagi kemudian menyingkir dari mimbar, membuat Kise mengambil alih kembali mimbarnya.
"Sudah kuduga, banyak sekali wanita yang akan senang berkenalan dengan Kagamicchi," Kise tertawa kecil, "ya, sedikit perbedaan untuk pertemuan kali ini ya? Biasanya aku membawa pacar namun sekarang..." Kise tiba-tiba merangkul Kagami juga menariknya lebih dekat, "...kali ini kubawakan sahabatku ke sini." Dia tersenyum cerah lagi pada para penonton.
Awalnya Kagami akan mengelak dari rangkulan itu karena dia masih ragu untuk dekat dengan Kise. Tetapi akan mencurigakan kalau dia melakukan hal itu bukan? Jadi dia hanya berusaha menahan detak jantungnya yang menambah cepat, dicampur dengan senyum paksa.
Bermenit-menit dilewati, akhirnya mereka pun turun dari panggung. Kagami disambut oleh beberapa wanita cantik dan diajak berbincang sebentar oleh mereka. Kebanyakan memang menanyai soal basket, karena barusan Kise memberitahu bahwa dia handal dalam bermain basket dalam posisinya sebagai power forward sekaligus berperan sebagai ace. Dengan rasa malu, Kagami berusaha meladeni mereka satu per satu, membuatnya sedikit terlarut dan melupakan beberapa hal yang membuatnya malu di depan panggung barusan.
Beberapa acara pun terlewati, akhirnya mereka semua pun bubar dari ruangan meeting tersebut.
Tiba di kamar mereka, Kagami duduk sebentar di kasurnya yang berada di sebelah kanan di depannya pintu, sedangkan kasur Kise ada di sebelah kiri. Sejenak ia rilekskan pikirannya sambil membiarkan Kise mengganti bajunya ke yang lebih santai. Rasanya dia sedikit sakit kepala dengan hiruk pikuk juga penuhnya ruangan meeting barusan.
"Berapa lama kita akan di sini?" Tanya Kagami selagi memijat keningnya.
"Seharian. Ada apa memangnya?" Kemudian Kise berdiri di depannya, "Kagamicchi tidak suka?"
"Bukan... hanya belum biasa dengan meeting tadi." Jawabnya sambil menghela nafas.
Kise tersenyum padanya, "daripada diam di sini, lebih baik kita nikmati udara di luar. Mungkin pada ujung geladak?"
Tanpa basa-basi, Kagami menyetujui hal itu, kemudian mereka berjalan keluar menuju ke sana.
Aroma laut benar-benar terasa pada setiap hirupan, sekalipun dalam musim dingin. Suara gelombang laut memang sedikit mengganggu pendengaran ketika mendengarkan orang berbicara, tetapi suara itu adalah suara jernih yang menenangkan hati. Benar kata Kise, menikmati pemandangan di luar juga cukup—bahkan lebih menenangkan hati dibanding berdiam diri di dalam kamar.
Kise berdiri di sebelah kanan Kagami, menyandarkan kedua lengannya pada pagar, begitupun dengan Kagami. "Bagaimana? Lebih tenang kan?" Dia lebih mengencangkan suaranya.
"Iya... begitulah." Ucapnya dengan singkat.
"Syukurlah, hari ini saljunya tidak terlalu ganas."
"Mm-hmm."
Detik-detik terlalui tanpa perbincangan. Di saat itulah Kagami melirik ke arah Kise, tiba-tiba dia terlarut dalam lamunan. Sosoknya, rambut pirang—bukan. Dia mengetahui mana perbedaan pirang dan kuning. Ya, rambut kuning seperti warna bunga matahari itu terbang diterpa angin, menunjukkan betapa indahnya dari segi kemaskulinan maupun kecantikan yang ia pancarkan. Tatapan mata kuning madu yang lembut itu tertuju pada satu arah, namun pikirannya seperti tidak ada di sana. Sesaat Kagami kembali mendetailkan tatapannya, menemukan betapa mulusnya kulit sang model di sampingnya ini, terlihat dari lehernya yang jenjang dan pipinya yang lembut—itu baru saja ia amati. Bagaimana kalau ia sentuh? Lalu matanya tertuju lagi pada satu titik fokus; pada antingnya yang hanya ada di sebelah kiri. Ia bertanya-tanya kenapa Kise tidak terlihat seperti wanita walaupun mengenakan anting itu. Dia tetap terlihat keren. Diidolakan banyak wanita. Ya... tentu saja.
Lalu baru ia sadari ternyata manusia bunga matahari itu sudah menatapnya juga.
"Hmm, ada apa Kagamicchi?"
Rasa terkejut hampir membuat Kagami ingin membuang dirinya ke laut, cepat-cepat ia alihkan pandangannya dari Kise. "T-tidak. Aku hanya mau lihat pemandangan sebelah sana."
"Oh..." Lagi-lagi Kise kembali menikmati angin. "Kurasa untuk penenangan diri sudah cukup. Bagaimana dengan wisata keliling kapal?"
"A-apa? Tapi tempat ini kan terlalu besar—"
"Jadi kamu memutuskan untuk berdiam diri di sini sampai masuk angin, hingga perjalanan keliling laut selesai? Ayolah..." Ia tertawa kecil sambil mengambil langkah kembali ke arah bangunan kapal.
"T-tentu saja tidak! Dasar!" Bantah Kagami sambil mengikutinya dari belakang.
Perjalanan wisata dalam kapal pun dimulai. Hal pertama tentu saja mulai lagi dari ruangan pembukaan. Mereka mulai keliling dari ruangan tersebut, kemudian berpindah pada ruang makan. Tempat itu tentunya sangat luas, diisi oleh banyak sekali meja-meja bundar, diselimuti oleh taplak meja berwarna putih, juga kursi-kursinya. Lagi-lagi terdapat lampu kristal menghiasi langit-langit ruangan. Tetapi tidak hanya pada ruang makan, ballroom pun memiliki keindahannya tersendiri. Seperti pada pilar-pilar yang berada di setiap sisi ruangan, membuat seperempat lantai atas menghiasi sisi ruangan ballroom, juga pada jendela besarnya yang langsung menghadap pada laut.
"Tempat berikutnya, Kagamicchi? Jangan terus memandang keluar lama-lama." Kise mulai berjalan meninggalkan ballroom. Bagi Kagami, untuk meninggalkan satu ruangan indah merupakan hal yang berat. Ingin baginya untuk tetap di situ untuk beberapa menit... beberapa jam... beberapa hari kedepan... tapi ya mana mungkin?
Berikutnya adalah kolam renang. Tak pernah diduga sebuah kolam renang berada di dalam kapal—oh, ya. Ini kapal feri. Mungkin ruangan apapun akan ada di sana. Sekalipun ruangan fitness pun ada.
Benar-benar aneh tapi nyata.
Kunjungan pada setiap ruangan bukanlah hal yang sebentar. Tanpa terasa waktu untuk makan malam bersama pun tiba. Seperti biasa, kebiasaan Kagami yang tidak bisa mengontrol porsi makan itu pun tetap berlaku di sana. Dia sudah menghabiskan setiap macam hidangan pembuka, bahkan berkali-kali mengambil piring untuk makan makanan inti, tak dilewati juga dengan makanan penutup.
Tetapi dia berhenti untuk mengambil makanan penutup selanjutnya ketika Kise mengatakan dia ingin keluar sebentar, lagi-lagi untuk mencari udara. Dia sesungguhnya tampak terlihat bosan di ruangan tersebut. Selalu saja melayani siapapun orang yang berbicara, mengenai dunia kekayaan. Hal itu sebenarnya tersorot dari cara dia memandang, berbicara, termasuk pada pengalihan topiknya. Sekalipun sebagai model, dia hanyalah murid kelas satu SMA biasa. Terkadang seorang murid pun bisa jenuh dengan dunia pekerjaan ataupun kalangan atas. Bagi Kise, mungkin hanyalah Kagami yang bisa membangkitkan semangatnya karena memiliki kesamaan sebagai anak SMA atau pemain basket.
Dan darisanalah, Kagami pun memutuskan untuk keluar dari ruangan.
Mereka kembali ke geladak, posisinya persis seperti yang tadi siang. Aromanya masih sama, tetapi anginnya sekarang terasa lebih dingin, apalagi dalam musim dingin seperti itu. Pemandangan pun tidak bisa dilihat dengan jelas seperti tadi siang. Hanya saja sekarang tergantikan oleh betapa cantiknya bintang yang bertaburan di langit tak terbatas tersebut.
"Ya ampun dingin sekali di luar!" Keluh Kise sambil mengusap-usapkan lengannya secara bersilangan di depan dadanya. Tiap kali ia berbicara, uap-uap keluar dari mulutnya, sesaat Kagami tertegun untuk terus menatapnya.
Tetapi sebuah getaran secara dadakan dalam saku Kagami membuat lamunannya terpecah tiba-tiba. Ia rogoh sakunya dengan buru-buru, menemukan ponselnya yang menerima panggilan dari seseorang di seberang sana. Dia baca nama kontak itu sambil menyipitkan mata, kemudian ia angkat dengan cepat. "Pelatih?"
"Kagami-kun!"
Tanpa disadari dentuman muncul dalam jantung Kagami. Tapi tidak begitu cepat, hanya sebuah irama tidak menentu, setiap kali ia mendengar suara cewek manis itu, suara milik Aida Riko. Lalu ia terlarut dalam pembicaraan dengan pelatihnya itu. Sesaat ia merasa nyaman, suka, bahkan ia sempat tertawa kecil—jarang sekali ia tertawa kecil seperti itu.
Kemudian ia kembali melirik pada Kise sesaat, menemukan bibirnya telah membentuk sebuah senyum tenang. Sepertinya tanpa diberitahu, Kise sudah mengetahui bahwa Kagami menyukai sang pelatih basket Seirin itu.
"Aku... aku tidak akan bolos besok, pasti!" Menyadari senyum itu, sepasang mata merah itu langsung mengalihkan pandangan, merasa canggung dengan senyum Kise. "A-ah iya tentu, pelatih. Selamat malam." Jawab Kagami dengan buru-buru, tetapi sebuah senyum kecil juga merekah pada bibirnya. "J-juga, selamat mimpi indah—eh. Ya, maksudnya adalah... selamat tidur... y-ya! Itu! Jangan tertawa pelatih! Tch, selamat mi—malam!" Merasa mukanya yang sudah memanas dan pasti merona, Kagami memutus panggilan sesegera mungkin. Refleks ia mengeluarkan helaan nafas panjang, merasa lega karena sudah mengobrol dengan pelatihnya itu.
Juga, senyum Kise masih ada di sana, bahkan semakin melebar—bagai senyum jahil. "Jadi begitu ya Kagamicchi? Ternyata kamu sedang menyukai pelatih Seirin. Yaaa kan?" Kise mendekatkan mukanya pada muka Kagami, sambil dibungkukkan badannya.
Gerakan cepat menghindar dari Kise timbul secara tak sadar, "t-tidak kok! Sungguh!" Kagami mengelak dari pandangan jahil Kise itu. Entah kenapa kalau melihat ia menyipitkan matanya, malah membuat Kagami teringat kembali pada mimpinya. Mengenai mata setengah terbuka milik Kise, yang begitu liar dan penuh nafsu. Sesaat mukanya semakin memanas—itu yang ia rasakan. Tapi kalau orang yang melihat, pasti akan ditemukan pipinya yang semakin memerah.
"Tuh, kan. Baru saja diusili langsung memerah pipinya. Benar kata temanku, kamu memiliki muka imut di keadaan tertentu." Si rambut kuning itu langsung menyentuh pipi Kagami berulang kali menggunakan jari telunjuknya.
"Diam!" Bentak Kagami. Sebetulnya memang bukan karena pelatihnya. Tapi karena mimpi itu. Hey... semudah itu ia lupakan rasa malunya pada pelatih Seirin, dan kembali teringat pada mimpi? Kagami berpikir keras, mungkin karena orang yang dihadapinya saat ini bukanlah pelatih. Melainkan Kise yang berbuat aneh pada mimpinya.
"Lalu kenapa? Apa lagi alasan yang lainnya, Ka-ga-mi-cchi?" Tanyanya dengan nada gemas.
"Soal mimpi." Tak disadari Kagami mengatakannya.
Kise menaikan sebelah alisnya, "ooh, jangan-jangan kamu bermimpi berbuat dengan pelatih ya—"
"B-bukan!" Sekali lagi Kagami membantah, bahkan suaranya lebih lantang. Rasa kagetnya membuncah ketika dia mengatakan kalimat sebelumnya. Kenapa... tiba-tiba?
"Lalu mimpi apa?" Tanya Kise, kesekian kalinya tanpa rasa bosan. Baginya, mengusili temannya yang satu ini merupakan hal yang menyenangkan.
Tak bisa menjawab lagi, Kagami hanya menggeleng pelan. Merasakan dinginnya udara secara tiba-tiba. Ia masukkan tangannya ke dalam saku jaket sambil bernafas melalui mulutnya semenjak hidungnya telah mampet.
"Baiklah... tapi sepertinya kamu sudah kedinginan sangat parah. Kembali masuk ke ruang makan saja yuk?" Kise kembali pada posisi tegaknya, menatap laut dengan tatapan kosong.
Hening sesaat, lalu Kagami kembali membuka mulutnya, "satu menit lagi."
"Satu?"
"Dua."
"Hey... Kagamicchi..."
"Tiga. Tiga menit lagi." Timpalnya lagi.
Apapun itu, Kise malah semakin bingung dengan pikiran tidak stabilnya Kagami. Ya, saat ini apa yang dipikirkan Kagami adalah bersama Kise untuk sesaat. Kenapa hanya karena mimpi dia bisa sampai merasa malu berat? Ia ingin memastikan lagi. Memastikan. Sebetulnya, dia juga sudah meyakinkan dirinya bahwa dia suka pada pelatih basketnya. Hanya saja kenapa ada rasa aneh ketika dia dekat dengan Kise saat ini? Yang benar saja... dia laki-laki kan? Bahkan sewaktu bersama Himuro, temannya semasa kecil, ia tidak pernah merasa aneh jika terus bersama dengannya. Tapi untuk saat ini, ia merasa aneh dengan sahabat yang ada di sampingnya. Seolah sebuah listrik memaksanya untuk menjauh sekaligus mendekati orang yang ada di sebelahnya saat ini.
Bukan suka kan? Iya kan? Ayolah...
"Tapi Kagamicchi," ucap Kise tiba-tiba, "aku kedinginan sekarang."
Kagami meliriknya sebentar, "masukkan tanganmu ke saku kalau begitu. Apa susahnya sih." Matanya kembali mengalihkan tatapan.
"Ya... jaketku tidak ada saku. Celanaku juga tidak begitu meyakinkan bisa menghangatkan tangan. Bagaimana kalau kembali masuk?" Dia tersenyum tipis.
Tanpa disadari, Kagami mengeluarkan tangan kanannya dari saku, menggenggam tangan Kise dengan erat. Seketika ia merasakan setruman betapa jauhnya suhu tubuh mereka saat itu—sekaligus dengan setruman yang lain. Kagami dengan jaketnya yang lebih tebal lebih memungkinkan dirinya untuk menjaga suhu tubuh. Sedangkan Kise sudah seperti orang mati. Tangannya benar-benar dingin. Ingin sekali ia salurkan kehangatannya pada Kise—maksudnya, ya dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya mati kedinginan hanya karena ia bilang ingin di sini selama beberapa menit lagi kan? Tapi... perasaannya menjadi berbeda. Dia malah merasa senang sekaligus malu untuk menggenggam tangan Kise.
"Err... Kagamicchi?" Kise agak kebingungan ketika menatapnya.
"Diam. Aku sedang membantumu." Ujarnya dengan cepat, dengan nada marah—tapi bukan maksudnya untuk marah sebenarnya.
Gerakan kikuk Kise terlihat, ia menggaruk pipinya dengan tangannya yang satunya, "tapi kamu hanya menghangatkan tangan kiriku. Tidak dengan seluruh badanku."
Itu benar. Kagami merasa dirinya benar-benar idiot sekarang. Tapi rasa ingin menggenggam tangannya itu... tidak bisa berhenti.
"Ya... ya aku tahu!"
"Kagamicchi ayolah!" Keluarlah jurus Kise, ia merengek. Menatap Kagami dengan penuh tatapan memelas, "aku kedinginan sungguhan! Aku mau masuk!"
"Sebentar!" Sela Kagami lagi.
"Apa lagi?"
Kepalanya bergerak, ke depan wajah Kise. Dengan lembut ia menempelkan bibirnya pada bibir Kise. Sepuluh detik... dua puluh... empat puluh... semenit... dua menit... Ia merasakan nafasnya dan nafas Kise bertabrakan sehingga menimbulkan udara hangat di sekitar pernafasan mereka. Tangan Kagami masih menggenggam erat tangan Kise, sambil memejamkan matanya dalam-dalam. Membayangkan bahwa di saat mimpi itulah, Kise menciumnya. Tetapi yang terjadi malah dia yang mencium Kise duluan. Ini gerakan refleks. Entah kenapa daritadi ia sudah gemas ingin mengecup bibir pucat itu, mungkin bisa membantunya untuk sedikit lebih hangat. Tapi tetap saja, itu tidak mungkin. Dan... tunggu... apa yang ia perbuat seakarang?!
Menolak dirinya sendiri, Kagami melepaskan genggamannya pada Kise, menjauhkan wajahnya dari wajah Kise. Kepalanya hingga telinganya pun benar-benar sangat panas saat ini. Kise menatap ke bawah dengan mata terbuka lebar, terkejut bukan main. Mukanya memang sedikit memerah tapi entah kenapa dia tidak mengeluarkan reaksi apa-apa. Oh iya tentu saja. Dia pasti berpikir kalau Kagami itu aneh... dia aneh. Dia mencium sesama jenisnya! Iya... pasti Kise berpikiran seperti itu.
"K-Kise maaf," sekarang bukannya merasa senang, tapi hati Kagami malah terpukul sangat keras. Buru-buru ia lepaskan genggaman tangannya. "A-aku, tidak sengaja. Maksudku tadi... ah! Saat ini kamu memikirkan aku aneh kan? Y-ya aku tahu. Memang aneh. M-maaf. Sekarang kita bisa masuk... tapi, aku duluan ke kamar ya? Sekali lagi... maaf." Langkah cepat Kagami menghentakkan geladak sunyi. Langkahnya terlalu cepat sampai Kise yang baru kembali tersadar tidak bisa mengejarnya. Bahkan memanggil nama Kagami pun percuma. Kagami sudah terlalu terlarut dalam kesalahan fatalnya. Dia tidak bisa berbalik lagi. Apalagi untuk berdekatan dengan Kise. Dia... berani-beraninya membuat Kise malu di kapal itu... maksudnya, dia artis! Banyak temannya di sini dan sekarang dia menimbulkan sebuah skandal? Kalau ada yang melihat... bagaimana?
Tak habis pikir, Kagami masuk ke kamar, membaringkan dirinya. Tertidur di sana. Berharap waktu cepat berlalu.
