Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Paradox
by Vylenzh
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
"Sakura, apa yang kau pakai?"
Sakura menatap Sasuke sekilas lalu kembali memasukkan beberapa peralatan ninjanya, "Aku akan mencari anakku."
"Sakura, tetaplah di rumah," ucap Sasuke dengan nada memohon. Ada garis hitam di bawah matanya yang menandakan dirinya sama sekali belum beristirahat.
"Aku akan mencarinya. Dengan atau tanpa izinmu, Sasuke-kun," tegas Sakura lalu memakai sarung tangannya.
"Sakura..." Sasuke memanggilnya kembali. "Kau bahkan belum sembuh benar." Suara Sasuke terdengar khawatir.
Sakura mengeluh panjang, ia menatap wajah suaminya yang terlihat lelah itu. Ia mendekatinya dan mengelus pipi Sasuke.
"Aku adalah seorang kunoichi, aku kuat, kau tahu kan?" Sakura tersenyum tipis lalu menjatuhkan kepalanya di dada bidang Sasuke, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Sasuke. "Dan aku adalah ibunya."
"Aku tahu," sahut Sasuke seraya memandang kepala merah muda yang memeluknya dengan erat. "Tapi..."
"Oh ayolah Sasuke-kun, kau tidak percaya pada kekuatanku?" Sakura melepaskan dirinya lalu memandang Sasuke geram.
Sasuke tersenyum tipis. Tangan kanannya lalu meraih wajah Sakura dan mengelus wajah Sakura. "Bukan itu. Aku mengizinkanmu. Tapi tetaplah di dekatku. Mengerti?"
Sakura tersenyum lebar lalu kembali menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan hangat suaminya. "Baik, Sasuke-kun. Aku akan terus berada di dekatmu."
Sasuke mengusap helaian merah muda Sakura lalu mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Ia mungkin terlihat protective, tapi itu bukan tanpa alasan. Sasuke hanya tak ingin ia kehilangan anggota keluarganya kembali. Ia tak mau orang yang dicintainya direnggut darinya maupun terluka.
"Aku akan melindungimu, Sakura dan aku akan menemukanmu, Sarada. Tunggu Papa," ujar Sasuke dalam hati seraya memandang jauh—menatap langit biru dari balik jendela rumahnya.
.
.
.
"Kau ada di sini." Panggilan Kakashi membuyarkan lamunan Sarada. Sarada hanya melirik singkat lelaki yang sedang berjalan mendekatinya. Ia masih duduk menekuk lututnya dan menatap desa Konoha dari atas bukit patung Hokage. "Namamu tadi... Uchiha Sarada kan?"
"Hm," gumam Sarada tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau yakin kau orang Konoha?" tanya Kakashi seraya duduk di sebelah Sarada yang menatapnya sebal.
"Apa maksud perkataanmu?"
Kakashi mengangkat kedua bahunya. "Hanya saja kau melihat kami seperti melihat hantu, lalu seakan-akan kau baru tiba di Konoha hari ini."
"..."
"Tapi aku pikir kau mengenaliku," sahut Kakashi.
"Hm. Kalian memang sama, hanya saja kau terlihat jauh lebih muda darinya," balas Sarada lalu mengalihkan pandangannya dari lelaki bermasker di sebelahnya ke desa Konoha.
"Aku hanya menebak. Tapi apakah kau berasal dari waktu yang berbeda?"
Kedua manik hitam Sarada menatap lurus ke sepasang mata yang sewarna dengannya mendengar pertanyaan Kakashi. "Bagaimana kau—"
"Sudah aku bilang kan, aku hanya menebak," potong Kakashi. "Sejak aku melihatmu di hutan, kau memang terlihat asing di mataku. Obito dan Rin juga tak mengenalimu padahal kau seorang Uchiha. Hingga kau menanyakan tahun kepada kami, baru aku menyimpulkan bahwa kau bukan dari waktu yang sama dengan kami."
"Oh." Sarada mendesah panjang lalu teringat nama yang disebutkan Kakashi tadi. "Temanmu tadi namanya Uchiha Obito?"
Kakashi mengangguk. "Ada apa?"
Sarada menggeleng lalu kembali mengamati desa Konoha walaupun pikirannya sedang berkelana. Uchiha Obito. Tentu dia tahu nama itu, nama itu sudah disebutkan berulang kali di salah satu buku pelajarannya sewaktu masih belajar di akademi. Nama dari seseorang yang mengakibatkan tercetusnya Perang Dunia Shinobi Keempat, meskipun pada akhirnya Obito berbalik membantu Konoha tapi tetap saja Sarada merasa sedikit takut.
"Kau punya tempat tinggal?" tanya Kakashi membuyarkan pikiran Sarada.
"Apa?"
"Ikut aku, kau tak bisa berkeliaran bebas seperti itu. Jika seseorang menemukanmu dari masa depan, aku tak tahu apa yang akan terjadi denganmu."
.
.
.
Hatake Kakashi yang Sarada kenal—benar-benar ia kenali, yang biasa ia panggil Kakashi-ojisan adalah seseorang yang hangat, baik dan ramah. Kadang ia menemukan Kakashi-ojisan sedang membaca sebuah buku yang kata Mama dia tidak boleh tahu apa isi buku tersebut. Dia tidak mengenal Kakashi-ojisan sebaik ia mengenal ayah Boruto, Uzumaki Naruto, tapi ia sangat tahu di balik hobi aneh Kakashi-ojisan yang selalu membawa buku bersampul oranye itu, Kakashi-ojisan adalah seseorang yang hangat dan tidak pernah bersikap kasar.
Tapi, deskripsi tentang Kakashi-ojisan di masanya tidak berlaku untuk Kakashi muda di hadapannya. Dia—Hatake Kakashi sungguh sangat kasar. Ia heran apakah mulut lelaki ini pernah di sekolahkan.
"Dasar bodoh."
Tidak. Itu bukan ditunjukkan untuk Sarada tapi kepada Obito yang masih terengah-engah dengan napas tak beraturan.
"Kenapa kau terlambat? Bukankah janji kita jam dua siang? Sekarang jam tiga." Kakashi menatap sinis rekan satu timnya itu.
"Sudahlah Kakashi. Obito pasti punya alasan." Rin menengahi pertengkaran yang mungkin terjadi di antara keduanya.
"Kau terlalu memanjakannya Rin," sahut Kakashi lalu masuk ke apartemennya diikuti Rin. Obito masih berdiri di ambang pintu menahan kesalnya karena lagi-lagi dimarahi Kakashi.
"Kau tidak masuk Obito?" tanya Sarada masih berdiri di sana.
"Eh, iya." Obito lalu masuk ke dalam apartemen tersebut diikuti Sarada. Pintu apartemen Kakashi lalu tertutup rapat tanpa tahu bahwa empat orang itu sedang diawasi oleh sesosok bayangan yang menghilang tak lama kemudian.
.
.
.
"EHHH?! KAU BERASAL DARI MASA DEPAN?!"
"Obito! Jangan keras-keras, bodoh!" ucap Kakashi seraya menatap malas. "Kau bisa membuat orang-orang mendengar."
"Maaf," kekeh Obito. "Tapi sungguh kau berasal dari masa depan?"
Sarada mengangguk mengiyakan.
"Wah... keren!"
"Tapi bagaimana kau bisa berada di sini, Sarada?" tanya Rin penasaran. "Apakah kau melakukan sebuah jutsu atau—"
"Aku tidak tahu," keluh Sarada sambil mengingat ingatan terakhirnya ketika terjatuh ke sebuah jurang. "Aku terjatuh ke sebuah jurang, setelah itu aku tak ingat apa-apa."
"Saat kami menemukanmu, kami mendengar suara sesuatu terjatuh dan itu ternyata kau," ucap Kakashi dengan kedua matanya yang memandang lurus Sarada.
"Kau berasal dari tahun berapa?" tanya Obito antusias. "Apakah aku sudah menjadi Hokage?"
Mendengar pertanyaan Obito, Sarada mengulum bibirnya bingung. Ya, dia memang berasal dari masa depan tapi itu bukan berarti dia harus mengatakan apapun yang ia ketahui bukan? Bisa-bisa masa depan yang ia kenal nanti akan berubah.
"Aku dari waktu yang cukup jauh. Sepertinya orangtuaku juga belum lahir," jawab Sarada dengan senyum tipis di akhir kalimat.
"Heh? Apa itu berarti kami sudah tua di duniamu?" Obito bergidik ngeri. "M-mungkinkah aku sudah keriput, berjalan memakai tongkat dan, dan..."
"Berisik, Obito," potong Kakashi dengan menatap tajam padanya.
Sarada tertawa melihat kelakuan Kakashi dan Obito lalu mengangkat bahunya menanggapi perkataan Obito. "Aku tidak terlalu mengenal kalian bertiga, maksudku aku tahu Hatake Kakashi tapi untukmu, Obito, aku hanya mengenalmu lewat buku. Lalu Rin, maaf sepertinya aku tidak mengenalmu."
Rin mengangguk mengerti. "Sebaiknya kau tidak mengatakan terlalu banyak tentang duniamu, Sarada. Masa depan bagi kami tetaplah misteri yang seharusnya tidak kami ketahui."
"Benar kata Rin, selama kau tinggal di sini. Sembunyikan identitas dirimu. Jangan katakan kepada siapapun kalau kau berasal dari masa depan," jelas Kakashi dibalas anggukan Sarada.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan indentitasnya? Cepat atau lambat pasti orang-orang akan menyadari bahwa Sarada bukan berasal dari waktu yang sama dengan kita." Ucapan Rin membungkam mulut tiga kepala lainnya.
"Dan kau sepertinya harus menyembunyikan identitasmu sebagai Uchiha, Sarada," lanjut Rin yang dibalas anggukan oleh Sarada.
"Aku mengerti, mungkin aku juga harus menyembunyikan simbol Uchiha di balik pakaianku ini," keluh Sarada.
"Lalu bagaimana dengan tempat tinggalmu?"
Pertanyaan Obito yang tiba-tiba itu membuat kedua mata hitam Sarada melirik Kakashi lalu berdeham. "Sebenarnya aku—"
"Dia akan tinggal di apartemenku," potong Kakashi sukses membulatkan kedua mata Rin dan Obito.
"T-tunggu, Kakashi-teme! Apa maksud perkataanmu, heh? Kalian itu laki-laki dan perempuan. Tidak boleh. Itu tidak boleh! Sebaiknya dia tinggal bersamaku saja," sahut Obito.
"Dan membuat orang-orang Uchiha bertanya-tanya siapa dia? Uchiha itu tidak bodoh—kecuali kau, Obito—mereka akan segera mengetahui kalau dia adalah Uchiha dan berasal dari masa depan," jelas Kakashi yang menyurutkan antusias Obito untuk membuat Sarada tinggal bersamanya, dan setelah berpikir lebih lama, Obito pikir perkataan Kakashi benar juga. Uchiha tidaklah bodoh—kecuali dia, eh tidak! Dia tidak bodoh. Dia kan calon Hokage berikutnya.
"Tapi Kakashi, aku kurang setuju," ucap Rin, kedua matanya memandang Kakashi dengan bibir yang mengulum ke dalam. "Bukankah lebih baik jika dia tinggal bersamaku? Kita sama-sama perempuan."
Kakashi menggeleng. "Tidak bisa, Rin. Bukankah keluarga besarmu sedang menginap di rumahmu selama seminggu ini? Akan aneh bila kau membawa seseorang menginap di rumahmu."
"Tapi—"
"Sarada akan tinggal apartemenku. Selain karena aku tinggal sendiri, aku bisa mengawasinya dan memikirkan lebih lanjut. Aku pikir, kau ingin segera kembali ke waktumu kan?" tanya Kakashi kepada Sarada yang sedari tadi diam.
"Hm." Dia mengangguk. "Rin, Obito, kalian tenang saja. Jika Kakashi melakukan sesuatu buruk kepadaku aku bisa membalasnya berkali-kali lipat," ucap Sarada dengan senyum di akhir kalimat—yang lebih mirip seringai lalu melirik Kakashi. "Benar kan Kakashi?"
"Hm..." Kakashi memalingkan mukanya dari kedua mata hitam Sarada. Dia mendesah pelan. Semoga keputusannya untuk menampung Uchiha masa depan ini tidak berbalik merugikannya.
"Kalau seperti itu, aku tidak akan berkata apapun lagi," ucap Rin seraya tersenyum tipis. Dia memandang Kakashi dengan kedua matanya yang tiba-tiba menjadi sendu lalu berbalik menatap Sarada dengan senyum lebar. "Aku akan membawakanmu pakaian ganti, Sarada. Aku bisa meminjamimu beberapa."
"Ah, terimakasih Rin." Lalu Sarada memandang tiga orang di hadapannya dengan senyum tipisnya. "Aku senang bisa bertemu kalian bertiga. Entah bagaimana nasibku jika aku tidak bertemu dengan kalian di sini."
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu Sarada," balas Obito dengan senyum lima jarinya. "Sebelum kau menemukan caramu kembali ke masa depan, kau bisa meminta bantuan apapun kepada kami. Kau adalah teman kami, Sarada."
"Benar, kau adalah teman kami, Sarada. Jadi jangan sungkan meminta bantuan kepada kami," ucap Rin dengan nada riang.
Sarada menatap penuh arti tiga orang di hadapannya. Perasaan menggelitik di perutnya yang semakin merangkak naik seakan nyaris menerobos dinding pertahanan air matanya. Ia sungguh bersyukur bisa bertemu Kakashi, Obito dan Rin. Tanpa mereka, Sarada mungkin akan kebingungan berada di dunia yang jauh berbeda dengan dunia aslinya ini.
"Terimakasih semua, terimakasih."
.
.
.
Di suatu tempat, di sebuah ruangan dengan cahaya yang remang-remang, seorang pria dengan pakaian ANBU dan topeng kucing yang menutupi wajahnya menunduk hormat kepada pria di hadapannya.
"Apa yang kau temukan, Neko?" Pria dengan perban yang melilit sebagian tubuhnya itu menatap datar ANBU yang dipanggilnya Neko itu.
"Dalam perjalanan kemari, saya tidak sengaja merasakan suatu chakra asing yang terasa kuat. Sayangnya saat saya menuju chakra tersebut, chakra tersebut tiba-tiba menghilang," jelas Neko.
"Hm? Chakra asing." Dia melirik tak minat, tapi melihat Neko yang terdiam kaku sepertinya masih ada yang belum ia katakan. "Lalu?"
"Danzou-sama," panggil Neko itu terlihat ragu. "Sepertinya chakra itu berasal dari anak perempuan itu."
"Anak perempuan?"
"Ya, Danzou-sama. Anak perempuan itu bersama dengan anggota kelompok Namikaze Minato. Dan dia memiliki simbol Uchiha di belakang pakaiannya."
"Lalu apa yang spesial?"
"Saya tak pernah tahu di Uchiha ada anak perempuan itu. Dia terlihat sangat asing, dan saat saya melihatnya di desa tadi. Dia terlihat teramat terkejut seakan-akan baru kali ini dia berada di Konoha."
Ucapan Neko membuat Danzou tersenyum miring. Dia terdiam lama seraya memikirkan perkataan Neko.
"Cari tahu lebih lanjut tentang anak perempuan itu. Jangan sampai ada yang tahu terutama Hiruzen," perintah Danzou kepada Neko yang segera mengangguk patuh.
"Baik Danzou-sama," jawab Neko lalu menghilang di balik kepulan asap sesaat kemudian.
Danzou menatap kepergian Neko tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. Wajahnya tersirat rasa penasaran terhadap anak perempuan yang diceritakan oleh Neko tadi.
"Chakra asing, hm? Mungkinkah..."
.
.
.
Sudah setengah jam sejak kepulangan Rin dan Obito, kini Sarada dan Kakashi hanya berdua. Catat, HANYA BERDUA! Mungkin jika Sasuke mengetahui ini, dia tidak akan tinggal diam, dan mungkin akan membakar habis seluruh koleksi buku oranye milik Kakashi.
Kedua manusia berbeda gender itu tampak duduk dengan canggung. Mereka terdiam tanpa berbicara apapun. Keadaan apartemen itu menjadi sangat sunyi. Kakashi yang biasanya hidup sendiri setelah kepergian sang ayah kini dihadapkan oleh situasi menampung seseorang yang terdampar dari masa depan. Ia memang mengatakan tidak apa-apa kepada Obito dan Rin, karena ini satu-satunya cara agar identitas Sarada tetap terjaga tapi mengetahui kondisi saat ini sepertinya Kakashi ingin menarik kembali perkataannya.
"Ehm." Tiba-tiba Sarada berdeham lalu melirik Kakashi. "Apakah kita akan berdiam diri terus?" Sarada berkata santai seakan-akan hal lumrah baginya tinggal berdua bersama seorang lelaki. Tapi sebenarnya Sarada hanya ingin meruntuhkan rasa canggung yang tiba-tiba muncul setelah kepulangan Obito dan Rin. Dia merasa tidak nyaman.
"Er, tidak." Kakashi mendesah pelan, dia bangkit berdiri lalu berjalan ke sebuah ruangan yang disinyalir sebuah dapur. "Kau mau makan apa?"
"Apa saja."
"Ramen tak masalah kan?" Kakashi melirik Sarada yang menatapnya dengan seulas senyum tipis di wajahnya.
"Hm." Angguk Sarada. Setelah memberikan jawaban singkatnya, Sarada mengamati apartemen Kakashi itu. Apartemen itu cukup terawat untuk ukuran Kakashi yang hidup sendiri walaupun terasa sangat sunyi. Tak ada hiasan dinding apapun maupun foto. Kalau boleh dikatakan, apartemen Kakashi terasa 'kosong'.
"Kakashi," panggil Sarada saat Kakashi muncul dengan membawa dua cup ramen yang tampak mengepul.
"Ada apa?" Kakashi meletakkan salah satu cup ke atas meja dan mendorongnya ke arah Sarada. Satu cup lainnya ia letakkan di hadapannya.
"Apa yang kaulakukan di waktu senggang?"
Pertanyaan mendadak Sarada membuat Kakashi mengernyit heran. "Maksudmu?"
Entah darimana rasa penasaran itu, Sarada ingin sekali mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya selama ini. Sesuatu yang kata Mama tidak boleh ia ketahui dulu. Sesuatu yang selalu dibawa oleh Kakashi-ojisan dunianya. Mungkin ia bisa mengetahuinya dari Kakashi muda di hadapannya ini.
"Yah seperti membaca buku, mungkin?" Sarada bertanya pelan.
"Buku? Yah tentu, kadang aku melakukannya," jawab Kakashi lugas. Ia mengambil sumpitnya dan mematahkannya menjadi dua.
"Buku apa?" tanya Sarada makin penasaran. Nada antusias terselip di kalimatnya menantikan jawaban Kakashi.
"Buku ninja, tentu saja. Kau pikir buku apa?"
Sarada mendesah panjang. Dia benci mengakui bahwa dia selalu kalah oleh rasa penasarannya. "Buku oranye, mungkin?"
"Buku oranye?"
"Oh ayolah..."
"Kau sebenarnya sedang membicarakan apa, Sarada? Makan ramenmu nanti dingin." Pernyataan Kakashi menutup rapat mulut Sarada. Dia mengeluh panjang mendengar Kakashi yang sepertinya belum mengenal buku oranye. Dia kan penasaran buku apa itu sedangkan Mama tidak pernah mau memberitahukan kepada dirinya buku yang selalu dibawa oleh Kakashi-ojisan dan dibawanya kemanapun Kakashi-ojisan pergi.
Sarada mengambil sumpitnya dan mematahkannya menjadi dua, mengamati dengan onyx-nya Kakashi yang duduk tenang akan memakan ramennya.
'Dilihat-lihat Kakashi terlihat seperti Papa. Em, mungkin sedikit. Kakashi lebih banyak bicara daripada Papa yang seperti tak memiliki kosa kata,' batin Sarada dengan sudut bibirnya yang terangkat.
Mungkin ini kesialan baginya karena terdampar di masa lalu, tapi mungkin sebuah keberuntungan bisa bertemu dengan Kakashi muda, kan?
.
.
.
-to be countinued-
Terimakasih banyak yang sudah menyempatkan diri membaca ide absurd-ku. Terimakasih yang me-review kemarin dan favorite + alert juga.
Special thanks:
Luca Marvell (Terimakasih. Naruto terlalu mainstream sampai nggak ada ide yang anti-mainstream buat si kepala kuning itu lagi. Haha. Udah lanjut...), Yui uchiha (Sudah lanjut...), mi gi cassiopeia ot5 (Sudah lanjut...), Sasshi Ken (Ayo bikin. Sepertinya keren tuh Sarada ketemu SasuSaku versi 16 tahun, mungkin Sarada bisa gangguin mereka. Hahaha XD. Udah lanjut...), akane hagurashi (Masa SasuSaku susah dibikin momen apa, soalnya kan momen mereka berdua kan seupil. Hehehe. Semoga lanjutan ini nggak termasuk lama ya.), dan farahpark (Maaf mengecewakan, di lain waktu kalau ada ide dan momen cocok diusahakan akan membuat timetravel Sarada ke time SasuSaku. Semoga masih mau melanjutkan ya...)
Aku sedang antusias menyelasaikan fanfic ini padahal SBMPTN sudah dekat. Haha (dasar Author bandel!). Aku curi-curi waktu di sela-sela belajar untuk menyelesaikan fanfic ini. Dan ending-nya sudah terancang apik di otakku, tinggal waktu ketiknya ada atau nggak.
Semoga readers masih menikmati fanfic ini.
Sampai jumpa.^^
