Minnacchi! (berisik woy!) bagaimana menurut kalian dengan fict chapter satu sebelumnya? Rada absurd gimanaaa gitu? Tapi ya ngga apa-apalah, namanya baru chapter satu ko ya ^_^
Oh yaa, ucapan terima kasih kepada reviewer Leaf and Flower, sherrysakura99, dan Indrikyu88 yang sudah berkenan memberi pujian dan dukungannya untuk aku agar bisa melanjutkan fanfict ini lagi. Makasih yaa :D
Oke, langsung aja kita cabut ke teeekaape!
.
.
.
.
Kuroko no Basuke
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
.
.
.
.
Warnings: typo(s), OC, OOC, I don't take any advantage by this fanfiction.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
.
Shirou's POV
"huuf!"
Aku menghembuskan nafasku dari mulut ke tanganku untuk menghangatkan diri. Ini sudah awal bulan Januari, tapi suhu tetap rendah dan udara disekitar masih dingin. Aku disini menunggu Hanji untuk membeli buku novel bersama. Beruntunglah surai krim milikku panjang dan tebal sehingga membuatku sedikit hangat dibalik jas berwarna cokelat yang kukenakan sekarang.
Duuh, Hanji sekarang dimana siiih?
"Shirou-chaaan!"seru seseorang berlari ke arahku.
Aku mengadahkan kepalaku dan menoleh ke sosok gadis yang lebih tinggi dariku dan memiliki surai berwarna ungu gelap dan berkacamata ke arahku. Dan gadis itu pun langusng melompat dan memelukku erat hingga aku nyaris tak bernafas.
"Kyaaa! Sudah lama menunggu ya sayaaang? Aiiih, hangatnya kamu iniii"seru Hanji makin mempererat pelukannya padaku.
"Hanji-saaan, aku ngga bisa bernafas niih. Lepasin dooong!"jeritku dalam pelukannya.
"Aiih, ngga mauuu. Soalnya Shirou-chan manis banget sih hari iniiii,"ujarnya makin menjadi.
Terlihat orang-orang sekelilingku melihat kami dengan pandangan aneh, bahkan ada yang terkikik geli melihat tingkah Hanji yang over memelukku seperti anak kecil yang tengah memeluk boneka beruang besar di kamarnya.
"Hanji-saaan, dilihat orang-orang tuuh. Apa ngga maluuu? Aku ngga bisa bernafas naah, tolooong,"rengekku sambil tetap berusaha melepaskan diri dari pelukan Hanji.
"A-Aaaaah! Sori sori!"ujar Hanji akhirnya melepaskan pelukannya dariku.
Hufft! Akhirnya bisa bernafas juga.\
"Nah, ayo kita ke toko buku yang kamu maksud!"ajak Hanji seraya menarii tanganku.
Aku pun menjawabnya dengan anggukkan dan kami segera berjalan menuju toko buku yang kutuju.
"Hanji-san,"panggilku.
"Hm?"
"Aku mau ke bagian buku-buku novel dulu ya. Aku mau lihat buku baru dari penulis favoritku,"ucapku.
"Oooh, oke-oke. Kutunggu disini aja ya,"
"Un,"sahutku mengangguk pelan.
Aku pun segera beranjak menuju bagian buku-buku novel. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri sambil membaca judul-judul buku dari setiap deretan novel. Aku gelisah selama membaca judul-judul tersebut, apa bukunya sudah habis ya? Kuharap tidak, karena aku sudah pernah melihat wajah cover novel tersebut di internet kemarin.
Sampai beberapa saat kemudian, aku melihat novel yang berwarna biru gelap berada di deretan sekitar lima meter dari tempat aku berdiri. Jangan-jangan…itu novelnya? Aku pun segera berlari menuju buku tersebut. Aku yakin pasti itu buku yang sudah muncul di internet itu!
Sampai akhirnya…
GREP!
"Ah,"
Tiba-tiba ada tangan lain yang menggenggam tanganku diatas novel yang juga kupegang dan parahnya lagi saat aku menoleh kepada pemilik tangan tersebut adalah….seorang laki-laki!
Bohong! Padahal aku sudah berlari secepat itu dan tidak menyadari keberadaan pemuda ini? Pemuda ini bersurai biru langit dan kedua iris matanya pun juga senada dengan rambutnya. Dan lagi tangannya lebih besar dariku membuatku merasa….panas seketika.
Kami bertatapan cukup lama sampai akhirnya aku tersadar dan segera menarik tangaku darinya. "Ma-ma-maafkan aku! Aku seenaknya saja mengambil. Ka-ka-ka-kalau kamu mau..kamu boleh ambil kok. Hu-huwaaa! Bukunya jatuh!"jeritku panik lalu berjongkok untuk mengambil buku itu.
Saat aku sudah mengambil buku itu pun, pemuda surai biru muda itu ikut berjongkok dan berniat untuk mengambil buku yang kupegang. Namun yang terjadi malah tangannya kembali menggenggam tanganku. Dan sekali lagi kami kembali bertatapan satu sama lain. Aku ,menatap dalam wajah pemuda yang berada di hadapanku ini. Matanya biru langit begitu teduh dan tersirat kelembutan di dalamnya. Aku menyukai matanya itu.
"Indah.."
"Eh?"
"Indahnya mata itu.."gumamku terlena dalam ilusi matanya.
Menyadari bahwa kata-kataku terucap dengan jelas pemuda itu pun langsung merona wajahnya. Ia pun memalingkan wajahnya dariku. Sial, aku keceplosan lagi. Aku pun kembali merona. "Ma-maafkan aku, ano…itu…aku bukannya bermaksud bilang begitu. Umm…maafkan aku!"ujarku panik setengah mati sambil menunduk.
Pemuda di depanku pasti akan menganggapku aneh kalau aku seperti ini. Adduh, kenapa bisa keceplosan siiih?
Namun, pemuda itu malah meraih tangan kananku yang bebas dan menggenggamkannya pada buku novel yang aku pegang sekarang.
"Tak apa, kamu boleh memilikinya. Lagipula gadis sepertimu pantas membacanya karena isinya cocok untukmu,"ucapnya lembut padaku.
Aku dengan ragu mengangkat wajahku dan mencoba menatap wajahnya. Ahh, tersenyata ia juga bisa tersenyum. Spontan aku pun kembali merona dibuatnya dengan senyuman –mautnya- itu.
"A-a-a-ano, apa tidak apa-apa?"tanyaku dengan wajah memerahku.
"Um, tak apa,"jawab pemuda itu mengangguk pelan seraya mengeratkan genggamannya pada kedua tanganku.
"Te-te-te-teima kasih banyak!"ujarku sambil membungkuk dalam-dalam.
"An-ano…sudahlah tidak usah tterlalu berlebihan. Ayo berdiri,"ucap pemuda itu sambil membantuku berdiri dari jongkok.
Aku pun berdiri dengan kaku saat dibantu oleh pemuda ini. Sungguh, baru pertama kali ini aku bertemu pemuda sebaik dia. Benar-benar kejadian langka dalam seumur hidupku!
"Nah, sudah ya,"ucap pemuda itu mulai meninggalkanku.
"A-ano!"seruku.
"Hm?"
"Ano…namaku Shirou Tetsuya. Terima kasih ya..umm, namamu?"tanyaku dengan wajah merona hebat dan jantungku berdebar kencang. Kenapa pula aku harus memanggilnya lagi dan menanyakan namanya? Aku benar-benar ceroboh.
"Kuroko Tetsuya, sama-sama Shirou-san,"jawabnya sambil tersenyum simpul.
Eh? Yang benar saja? Namanya sama denganku. "Eh? Na-nama kita sama, ya…umm, terima kasih, Kuroko-kun!"ujarku lagi sambil membungkuk dalam-dalam. Setelahnya aku pun pergi meninggalkannya menuju kasir.
Aku melihat dari seragam sekolahnya sepertinya dia berbeda denganku. Ia memakai seragam gakuran standar warna hitam dengan garis biru ditengah tepat dibagian resleting bajunya. Sepertinya aku pernah melihat seragam tersebut, tapi aku lupa ia berasal dari sekolah mana. Aku penasaran dengan pemuda yang berwajah datar namun mempunyai raut wajah yang indah bila ia tersenyum, mungkin ia tipikal penyayang bila bersama perempuan.
"Shirou-chaan!"seru Hanji di dekat meja kasir.
Aku pun melambaikan tanganku membalas seruan Hanji. "Sudah dapat bukunya?"tanyanya.
"Sudah, ini,"jawabku sambil menunjukkan buku tersebut.
Hanji pun mengangguk dan aku segera memberikan buku tersebut kepada penjaga kasir agar diperiksa dan dihitung harga belinya. Dengan penasaran aku pun menoleh ke arah pemuda yang masih berada di deretan buku novel tempat kami bertemu. Dan parahnya, ia melihat ke arahku!
Jantungku langsung melompat (meski bukan sungguhan) dan senam begitu saja (haduh, bahasanya). Aku pun langsung menundukkan kepalaku, berharap itu tadi hanya ge er semata.
"Nona, sadarlah!"ujar si penjaga kasir menyadarkanku.
"Heh?! A-a-a-ano…maaf, maaf. I-ini uangnya!"ujarku panik sambil merogoh beberapa lembar uang pada penjaga kasir.
"Ahaha, tak apa. Ini kembaliannya dan silahkan datang lagi,"ucap penjaga kasir tersebut seraya tertawa ringan.
Duh, malunya aku. Sampai nyaris lupa membayar lagi.
"Shirou-chan, kamu kenapa sih kok melamun terus?"tanya Hanji sambil mengernyitkan kedua alisnya.
Aku menggeleng keras. Hanji pun menghela nafas karena melihat tingkah anehku ini. Tidak peduli dengan sikapku, kami pun berjalan keluar toko bersama.
"Oh ya, mau ke café itu ngga? Katanya ada diskon loh,"ucap Hanji sambil menunjuk ke arah sebuah café yang letaknya tak jauh dari toko buku yang baru saja kami masuki.
"Boleh, kamu yang traktir ya?"
"Iiih, keenakan banget sih kamu. Ya udah deh, aku traktir!"ujarnya sambil merangkulku gemas.
"Ehehe~, makasih ya!"sahutku dengan penuh kemenangan.
To be continued…
Mind to RnR?
