Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
WARNING! : Out Of Character here, many, mistakes, mainstream, boring, story from me
Genre : Romance and hurt/comfort
Pair : NaruSaku slight SasuSaku
.
.
.
.
By My Side chapter 2
.
.
.
.
Suasana pagi yang terasa nyaman dan damai ditempat sebuah kediaman mewah milik keluarga besar Namikaze. Tampak seorang wanita paruh baya berambut lurus panjang melampaui bokong dengan warna merah darah sedang sibuk menyirami berbagai macam bunga yang tumbuh segar di dalam pot.
Sesekali wanita berparas cantik itu menggumamkan sebuah nyanyian merdu, ia berjalan maju untuk menyirami sebagian bunga yang belum mendapat jatah.
Tiitt... Tiitt...
Seketika, iris Violet milik Ibu dari dua putra tampan tersebut berbinar cerah melihat sebuah mobil sedan mewah terparkir di halaman luas Namikaze.
"Shion !" Ia berseru senang seraya meletakan kelantai gembor plastik hijau yang tadinya menjadi wadah air untuk menyiram bunga berpot yang menghiasi balkon mewah Namikaze.
Pintu mobil dibawah sana terbuka lebar, lalu seorang wanita bersurai pirang pucat keluar dengan mengenakan dress hitam sependek diatas lutut. Kepala gadis berkuncir di ujung rambut tersebut melihat kelantai satu dan Kushina dengan girang melambaikan tangan kearahnya.
"Hai Bibi...!" Sapanya dari bawah sana dan sedikit meninggikan suara. Tanpa melepaskan senyum manisnya, Kushina segera berjalan cepat hendak pergi turun untuk memberikan sebuah pelukan hangat kepada Shion
.
.
"Shion... Sudah lama kau tak mengunjungi kami" Rajuk Kushina setelah tiba di tempat Shion. Gadis bermata ungu pucat itu terkikik, ia memeluk rindu Ibu Naruto lalu melepasnya kembali dan kini mereka saling berhadapan muka sambil saling memegang tangan.
"Maaf Bi, aku terlalu sibuk hingga tak sempat menghabiskan waktu diluar..." Jelas gadis itu bersalah. Kushina tertawa maklum, kembali ia rengkuh tubuh mungil sahabat sang putra pirangnya di sekolah.
"Oh ya, dimana Naruto-kun ?" Shion bertanya setelah melepaskan lagi pelukan singkat mereka. Istri Minato Namikaze tersebut menatap lembut gadis muda di hadapannya, ia menggandeng tangat Shion dan mengajaknya berjalan memasuki rumah.
"Dia ada di dalam kamar bersama Sakura..." Kedua alis Shion saling bertaut sambil iris pucatnya memandang lurus kedepan.
"Sedang apa wanita buta itu di kamar Naruto-kun !?" Ia bertanya dengan nada tak suka membuat wajah bahagia Kushina berubah menjadi suram.
"Jangan mengatai Sakura seperti itu. Jika Naruto sampai mendengarnya dia bisa marah besar kepadamu..." Tegur Kushina yang hanya di respon decakan bosan dari Shion. Mereka terus berjalan hingga tak terasa kini keduanya sudah tiba di teras yang terdapat Nagato sedang duduk nyaman dikursi depan dan di temani oleh segelas teh panas.
"Tapi dia itu memang wanita buta yang tak bisa melihat keindahan alam semesta ini, dia juga tak pernah tahu seperti apa sangat tampannya wajah Naruto-kun..." Nagato yang tak sengaja menangkap ocehan berisik Shion langsung memasang raut tak suka, ia memang sangat membenci Shion. Alasannya karena, gadis angkuh itu terlalu kerap mengatai Sakura di belakang Naruto.
"Shion, Sakura adalah anak yang baik hati, tak ada salahnya Naruto jatuh cinta kepada anak dari mendiang sahabatku." Kushina mendirikan harga diri Sakura yang telah di jatuhkan oleh Shion, wanita baya itu sangat menyayangi Sakura dan ia sudah menganggap gadis itu sebagai putrinya sendiri.
"Tap—"
"Sampai aku dengar kau menyebut dia wanita buta lagi, maka aku akan membuat adik ku mengetahui semua hinaanmu terhadap kekasihnya.!" Langkah Shion dan Kushina terhenti, keduanya menoleh keasal suara dingin yang baru saja mengancam Shion. Nagato hanya memandang lurus kedepan, tak menghiraukan tatapan aneh dari Shion.
"Kenapa Nagato-nii yang menjadi marah...!?" Mata Nagato memicing tajam, ia melihat kearah Shion dengan tatapan penuh kebencian. Kushina yang menyadari kemarahan sang purta segera bertindak, wanita itu tersenyum manis kepada Shion lalu menyentuh bahunya membuat si empu mengalihkan pandangan dari Nagato dan melihat kearahnya.
"Kau ingin menemui Naruto bukan ?!" Anggukan kecil mewakali jawaban Shion dari pertanyaan Kushina. "Cepat susul dia ke kamar !" Perintahnya langsung di turuti oleh Shion, gadis sombong itu segera melesat masuk dan meniti satu-persatu anak tangga, jalan pas untuk menuju kamar Naruto.
"Cih, kenapa wanita gila itu datang kemari !" Decih Nagato muak seraya beranjak lalu berjalan melalui Kushina dan mengabaikan begitu saja sang Ibu.
"Nagato, ak—"
"Aku mau pergi untuk mencari udara segar, rumah ini menjadi kobaran api Neraka selama wanita itu masih ada disini." Nagato menyela datar membuat Kushina menggeleng lelah dan membiarkan sang putra bersurai merahnya pergi untuk mencari ketenangan.
.
.
.
.
Flashback...
Genangan air laut kali ini terlihat tenang, tak seperti biasanya yang selalu bergelombang kasar menerjangi tiang kokoh jembatan kayu yang saat ini menjadi tempat duduk untuk kedua remaja berparas tampan dan cantik dengan kaki jenjang sang gadis berjuntai sambil berayun-rayun lembut, membiarkan ujung jemari jempol kakinya menyentuh air laut nan dingin.
"Coba tebak. Apa yang saat ini aku lakukan !" Sakura tampak sedang berfikir keras, terlihat dari kerutan tebal yang tercipta di dahinya. Naruto tersenyum-senyum sendiri sambil terus mengamati wajah cantik Sakura dari samping, ia yakin sekali bahwa gadis musim semi itu tak bisa memecahkan teka-teki yang ia ajukan.
"Uumm... Pasti saat ini Naruto-kun sedang memandangiku !?" Sontak, jawaban asal Sakura mampu membuat Naruto terlonjak kecil sehingga hampir saja ia terjatuh karena sangking terkejutnya. Pipi halus pemuda itu merona samar, ia mengulibikan bibir bawah dan membuang muka kearah lain, sok bersikap angkuh.
"Ja–jawabanmu salah" Sangkalnya datar, namun ada getaran aneh dari luncuran suaranya. Ia bersedekap dan melirik ragu gadis yang sedang duduk sambil terkikik di sampingnya.
Sebenarnya jawaban Sakura tak salah dan tepat mengenainya, memang benar bahwa tadi Naruto sedang mengamati wajah cantik Sakura. Mulai dari rambut, dahi, kelopak mata, hidung lalu turun lagi menuju belahan bibir menggodanya. Tadi saat terus memandangi Sakura. Tanpa di sadari oleh Naruto, ia mengulas senyum manis dan tatapanya melembut. Tak seperti hari-hari biasa, selalu datar dan dingin.
"Khikhikhi... Mungkin hanya perasaanku saja Naruto-kun memandangiku." Ucap gadis itu seraya meletakan jemari lentiknya di depan permukaan bibir, menahan tawa halusnya. Naruto yang melihat Sakura seperti itu langsung merona tipis, gadis itu terlihat sangat manis dan cantik bila sedang tertawa dengan mata terpejam.
"Kau terlalu percaya diri" Sindir pemuda pirang itu datar dan ketus, namun tetap tak menghilangkan kesenangan yang tersembunyi jauh di dalam lubuk hatinya.
Flashback End...
"Jangan tertawa seolah itu lelucon !" Sakura mengatupkan rapat bibir nakalnya yang selalu saja ingin meloloskan sebuah tawa, ia memandang lurus kedepan sambil duduk nyaman diatas kasur ukuran king size, tempat biasa Naruto menidurkan diri.
"Khikhi... Pantas saja waktu itu suaramu terdengar gugup." Wajah tampan Naruto bertekuk masam, ia malu karena Sakura telah mengetahui rahasianya yang tersimpan rapat selama beberapa bulan mereka sudah menjalin hubungan.
"Yah, sekarang kau sudah tahu dan jangan menjadikan hal itu untuk menggodaku !" Ia mengancam tajam. Sudut bibir Sakura terangkat tinggi keatas hingga menampakan gigi-gigi putihnya yang bersih.
"Baiklah Naruto-kun" Pemuda itu menyeringai puas, melupakan begitu saja rasa kesalnya. Ia menumpukan telapak lebarnya diatas punggung tangan Sakura, lalu mendekatkan perlahan wajah mereka, ingin mengecup bibir peach nan begitu menggoda disana.
Sakura yang merasakan hembusan nafas segar dari Naruto reflek, langsung memundurkan kepalanya kebelakang. Naruto berdecak, kesal karena mendapat perlakuan seperti itu. Sementara Sakura, wajahnya bersemu pekat, tahu apa yang tadi ingin dilakukan Naruto terhadapnya.
"Kenapa hm !?" Naruto bertanya tak suka, merasa ditolak.
"Ad–ada suara langkah kaki seseorang menuju kemari" Jawab Sakura gugup, malu bila mengingat Naruto yang hampir setiap saat melumat bibirnya.
"Ck, biarkan saja !" Bantahnya seraya mendorong pelan tubuh Sakura hingga terbaring dibawah kungkungannya.
"Ehh,! Na— hmmph–" Dan selanjutnya yang terdengar hanyalah suara sumpalan bibir dari dalam kamar luas bernuansa biru lembut tersebut.
.
.
Shion menghembuakan nafas pendek sambil berdiri gugup di depan pintu bercat putih polos yang terdapat sebuah pajangan poster grup band hard rock asal California Amerika Serikat. Ia menata rapi poni ratanya kemudian merogoh tas hitam mininya lalu menarik kembali tangannya yang sudah menggenggam sebotol kecil parfum.
"Aku dengar ini parfum kesukaan Naruto-kun yang di berikan kepada wanita buta itu..." Entah kepada siapa Shion berbicara, tapi yang jelas, untuk saat ini ia harus memakaikannya di permukaan kulit leher agar nanti Naruto mau duduk berdekatan dengan dirinya.
Selesai menggosokan pada lekukan lehernya, Shion menutup kembali botol kaca tersebut kemudian masukannya lagi kedalam tas lalu tangan putihnya terangkat untuk mengetuk pintu kamar.
Sebelum terketuk, Shion berfikir sejenak dan tak lama kemudian ia menarik tangannya lalu beralih menyentuh kenop pintu, ingin memberikan Naruto sebuah kejutan dengan cara langsung membuka pintu. Shion mengulum senyum senang, perlahan ia memutar kenop tersebut.
Cklekk...
"Naruto-kun !"
Buru-buru Naruto melepaskan pagutannya terhadap bibir manis Sakura, ia bangun dan duduk serta gadis dibawahnya juga ikut bangun kemudian ia memandang lurus kedepan pintu kamar untuk mengetahui siapakah gerangan orang yang telah mengganggu kegiatan mereka.
Wajah bahagia Shion lenyap, tergantikan dengan raut tak suka dan mengarah kepada Sakura yang hanya memandang lurus kedepan dengan sorot mata kosong. Gadis pirang itu berjalan masuk, berniat hendak menghampiri Naruto yang duduk tenang sambil melempar wajah datar.
"Kenapa kau datang kesini ?" Naruto mencibir muak dan tak berniat untuk beranjak dari samping Sakura.
"Naruto-kun bagaimana sih..." Shion telah masuk, tanpa mendapat perintah untuk duduk, ia langsung duduk begitu saja diatas sofa santai. "...Bukankah Kakashi-sensei menyuruh kita mengerjakan bersama-sama tugas sekolah untuk besok." Lanjutnya lagi dari kalimat yang sempat jeda tadi.
"Aku tahu, tapi bukan hanya kau dan aku. Dimana Sai dan Sara ?" Pemuda itu bangkit lalu ia meraih pergelangan kecil Sakura dan menuntun gadis itu berjalan menuju letak sofa, tempat saat ini Shion duduk sambil mengeluarkan beberapa buku pelajaran.
"Mereka tak bisa datang kesini karena sibuk masing-masing..." Jelas Shion berdusta, namun tetap tak mudah membuat Naruto untuk percaya kepadanya.
"Hn" Hanya satu kalimat yang menjadi respon dari perkataan Shion.
'Dasar wanita licik, kau pikir aku tak tahu bahwa kau sedang membohongiku' Batin Naruto mencaci-maki Shion, ia sudah kebal pada setiap kalimat yang terlontar dari mulut Shion. Wanita itu kerap berbohong, ia melakukan hal sekeji itu hanya untuk mencari alasan agar bisa menghabiskan waktu bersama Naruto.
Tanpa adanya pengganggu, hanya ingin berdua. Ia dan Naruto.
Namun tidak untuk kali ini, karena hadirnya sosok Sakura yang saat ini tengah duduk dalam lingkaran tangan Naruto terhadap pinggang rampingnya.
.
.
.
.
"Aku tak begitu yakin operasi Sakura akan sukses" Kabuto melirik Tsunade yang baru saja mengeluh. Lelaki berkacamata bundar itu menghampiri sang dokter baya, kemudian ia duduk di hadapannya.
"Kita harus berusaha sebisa mungkin..." Iris Hazel Tsunade melirik keatas, melihat Kabuto yang sedang duduk sambil mengecek beberapa dokumen penting.
"Aku takut Naruto akan bertindak diluar batas" Ucap Tsunade yang sukses mengalihkan manik kelam Kabuto dari kertas putih dan bergantian menatapnya tak mengerti.
"Apa maksud dari perkataan Anda Nona Tsunade ?!" Wanita galak itu bergeming, kemudian ia melangkahkan kaki kearah jendela yang terbuka lebar.
Hanya ingin menghirup udara segar.
"Bila gagal, dia bertekat akan mendonorkan matanya untuk Sakura..." Penjelasan dari Tsunade membuat mata Kabuto membulat sempurna dengan pandangan tak percaya mengarah kepada punggung sang pemilik gedung rumah sakit Konoha.
"Ke–kenapa Naruto-sama berkorban begitu besar untuk Sakura ?!" Kabuto bertanya tak mengerti, ia salut dengan tindakan Naruto dalam mencintai Sakura.
"Entahlah... Aku juga tak tahu kenapa dia bisa sangat mencintai Sakura" Jawabnya santai seraya melipat tangan di depan dada sambil memandangi jalanan ramai kota Konoha yang di padati oleh kendaraan dan beberapa pejalan kaki.
"Kurasa ada satu kelebihan dalam diri Sakura yang tak pernah dimiliki oleh wanita lain, dan mungkin karena kelebihan itu Naruto-sama bisa jatuh cinta kepadanya..." Jelas Kabuto, tangannya bergerak membenarkan letak kacamata bulatnya.
Bibir pink mengkilap Tsunade terangkat tipis hingga membentuk sebuah senyum yang sangat tipis, ia merasa teramat senang karena ada satu wanita yang berhasil membuat Naruto jatuh cinta. Maka dari itu, ia akan terus berusaha menolong Sakura, dan itu juga demi kebahagiaan Cucu tersayangnya.
.
.
.
.
Sejak puluhan menit keberadaan Shion di dalam kamar Naruto, ia terus menggerutu tak jelas, merasa terabaikan karena kesibukan Naruto dalam bercerita yang hanya kepada Sakura seorang. Mereka berdua tertawa bersama, menganggap sosok Shion tak ada diantara mereka. Seolah di dalam kamar mewah tersebut hanya ada mereka berdua. Naruto dan Sakura.
"Naruto-kun, tolong jelaskan di bagian ini, aku sama sekali tak mengerti.!" Naruto memutar badan dari menghadapi Sakura, ia mendekat pada Shion lalu meraih pulpen dan langsung mengisi jawaban pada bagian yang tak dapat di mengerti oleh Shion.
"Beres..." Gadis pirang pucat itu menyeringit, terheran karena Naruto tak terpikat mencium wangi tubuhnya. Ia berdecak muak, kesal melihat Naruto kembali berhadapan dengan Sakura dan membiarkan dirinya menyelesaikan tugas sekolah sendirian.
"Apa hebatnya sih wanita buta seperti dia.!" Sunggingan senyum di bibir merah Naruto langsung lenyap. Sakura menundukan kepala, ia jadi merasa sangat malu mendengar sindiran pedas dari Shion.
"Jaga omonganmu !" Tersenyum remeh, kemudian Shion membalas tatapan tajam Naruto yang telak mengenainya. Gadis itu melirik Sakura yang duduk di sebelah Naruto, ia semakin menjadi percaya diri untuk melanjutkan lagi penghinaannya.
"Dia itu hanya orang buta yang selalu merepotkan Naruto-kun setiap saat..." Bibir Sakura bergetar menahan tangis, ia menggigit kuat bibir bawahnya agar tak menjatuhkan bendungan air mata. Rahang Naruto mengeras, ia mengepalkan tinju kuat hingga urat-urat di punggung tangannya bermunculan.
"Tidak ada gunanya kau mencintai wanita buta." Shappire Naruto berkilat tajam, namun Shion hanya cuek dan malah semakin berani menjatuhkan harga diri Sakura dengan melempar tatapan rendah kearah gadis malang di samping Naruto yang hanya menundukan kepala dengan bahu bergetar kecil.
"Dasar wanita bu—"
"CUKUP !" Shion dan Sakura terlonjak dalam bersamaan. Naruto menatap murka gadis angkuh di sampingnya, ia berdiri kemudian mencekal kuat lengan Shion sehingga membuatnya meringis sakit.
Tanpa melontarkan sepatah katapun kalimat, Naruto langsung menarik paksa lengan Shion hingga gadis itu berdiri dalam keadaan masih terus meringis. Dengan langkah tertatih, Shion mengikuti tarikan kasar dari Naruto yang membawa dirinya berjalan menuju letak pintu kamar.
"Enyahlah kau dari hadapanku !" Naruto mendesis tajam. Setelah itu ia langsung membuka kasar pintu lalu menarik lengan Shion dan menyentaknya keluar hingga gadis itu jatuh terduduk dilantai semen.
Minato yang kebetulan lewat hendak pergi ke kamar langsung terkejut melihat Shion jatuh terduduk di hadapannya sambil merintih sakit dengan sebelah tangan kanan memegang lengan kiri yang terasa begitu sakit akibat cengkraman kencang dari jemari keras Naruto tadi.
"Naruto, apa yang kau lakukan !" Bentak lelaki paruh baya itu seraya berjongkok untuk menolong Shion yang masih duduk sambil tak henti merintih.
"Bawa dia pergi dari hadapanku !" Tak mengubris kemarahan dari sang Ayah, Naruto malah berbalik marah dan menatap Minato yang tak kalah bengis dari tatapannya kepada Shion.
"Kau sud—"
"PERGI, ATAU AKU BUNUH DIA !" Minato dan Shion terkejut mendapati amukan Naruto yang tak seperti biasanya. Sakura yang berada di dalam juga menangkap emosi Naruto dari bentakan nyaringnya, gadis itu segera beranjak dan tangannya meraba-raba udara untuk mencari keberadaan Naruto.
"Na–naruto-kun" Shion menyerukan nama pemuda itu dengan nada bergetar sambil mata ungunya menatap sedih orang yang berdiri angkuh di depan pintu kamar.
Naruto hanya mendecih sebagai respon dari panggilan Shion.
Blamm...
Terjadi keheningan diantara Minato dan Shion. Keduanya hanya menatap lekat pintu yang baru saja di banting kasar oleh Naruto, mereka tak mengerti apa yang sudah membuat Naruto berubah akhir-akhir ini.
Pemuda itu tampak mudah terbawa emosi, amarahnya bisa meledak kapan saja dan tak peduli siapun yang sudah mencari gara-gara terhadapnya.
"Dia tidak akan semarah itu bila kau tak membuat kesalahan..." Shion hanya mendundukan kepala mendengarkan ucapan Minato yang seolah tahu bahwa dirinyalah yang bersalah atas kemarahan Naruto.
"Maafkan aku Paman"
.
.
Tepat saat Naruto berbalik, ia langsung mendapati Sakura tengah melangkah lamban dengan pandangan lurus kedepan dan tangannya terangkat diudara, bergerak-gerak mencari sesuatu.
Seketika, wajah kejam Naruto hilang dan perlahan mulai melembut. Tanpa membiarkan sang kekasih semakin kesulitan, pemuda itu segera mendekati Sakura kemudian merengkuhnya dan hal itu berhasil membuat tangan sang gadis meraba anggota tubuh atasnya, mencari tempat untuk bisa dipeluk.
"Naruto-kun..." Sakura berseru halus sambil mengeratkan lingkaran tangannya pada punggung lebar Naruto. Tanpa disadari, liquid yang menggenang di pelupuknya mulai berjatuhan.
"Aku ada disini" Bisiknya lembut tepat di dekat telinga Sakura, untuk memberinya sebuah ketenangan.
.
.
.
.
Flashback...
Sakura tak henti mengulum senyum, terkadang kikikan geli lolos dari bibir mungilnya membuat Naruto yang sedang merengkuh pinggangnya menautkan kedua alis, bingung akan sikap anehnya.
"Kenapa kau terus saja tertawa ?" Ia bertanya heran. Sakura mengatupkan bibirnya, cekalannya terhadap bahu Naruto mengerat, seolah takut kehilangan sosok dingin tersebut.
"Tak bolehkah aku tertawa !?" Dengusan ketus terdengar dari pemuda disamping Sakura, mereka terus berjalan menyusuri pasir putih sambil saling berpegangan erat.
"Terkadang kau ini bisa aneh" Sakura memanyunkan bibir, merasa tersinggung dengan ceplosan Naruto.
"Aku menjadi aneh bila hanya bersamamu" Gadis itu menyangkal, sementara Naruto, ia menghentikan langkah kemudian memegang bahu Sakura dan membawanya untuk saling berhadapan, meski pandangan gadis itu tak pernah luput dari depan.
"Kenapa seperti itu ?" Naruto bertanya terhadap Sakura, ia penasaran dan ingin tahu apa alasan dari keanehan Sakura saat bersama dirinya.
"Entahlah, tapi... Aku sangat menyukai wangi tubuhmu" Bibir Naruto tersungging tipis keatas, merasa senang karena mendengar kalimat jujur dari Sakura.
"Kau ingin memberimu sesuatu" Tangan kanan Naruto merogoh saku celana sekolahnya, kemudian ia keluarkan lagi sambil menggenggam sebuah botol kaca kecil.
"Sesuatu? Apa itu..." Sakura hanya diam dan menurut ketika Naruto meraih tangan kanannya lalu ia balikan hingga terlentang keatas.
"Benda inilah yang selalu membuat tubuhku wangi, dan sekarang kau bisa memilikinya..." Ucap pemuda itu seraya meletakan botol minyak wangi miliknya diatas telapak tangan Sakura.
"Ap–apa Naruto-kun yakin dengan hal ini !?" Tawa hambar lolos dari Naruto, ia menggenggam tangan Sakura lalu mengatupkannya agar botol kecil tersebut tergenggam rapat dalam jemarinya.
"Tentu saja" Sakura tertawa bahagia mendengar jawaban disana. Naruto mengulas senyum tipis seraya merengkuh kembali pinggang Sakura lalu mengajaknya berjalan santai.
.
.
Angin berhembus kencang menerpa tubuh Sasuke. Pemuda raven itu berjalan dalam tiupan angin, raut khawatir terlukis jelas di wajah tampannya. Ia sibuk mengedarkan pandangan disekitar tebing untuk menemukan keberadaan Sakura.
Pada saat Sasuke mengunjungi rumah Sakura, Kizashi mengatakan bahwa putrinya tidak ada di rumah dan sedang pergi ke pinggir laut bersama seseorang yang dikenali oleh keluarga Haruno.
Tentu saja hal itu membuat Sasuke cemas.
Tanpa membuang lebih banyak waktu, pemuda dengan gaya rambut emo itu langsung berlari kencang pergi ke tebing untuk memastikan keadaan sahabat pinkishnya.
"Ah, itu dia !" Serunya sambil bernafas lega, segera ia menyusul ketempat keberadaan Sakura.
Baru hendak menyunggingkan seulas senyum, seketika urung kala manik kelam Sasuke menangkap pemandangan dimana Naruto sedang merunduk sambil menangkup kedua sisi wajah Sakura yang bersemu. Ia menggeram marah, tangannya mengepalkan tinju.
.
.
"Tutup matamu !" Sakura tertawa halus, telapak kecilnya bertumpu di dada bidang Naruto dengan pandangan masih tetap lurus kedepan.
"Aku tak bisa melihat, apa lagi yang perlu aku lakukan dengan mata buta ini..." Gadis itu berkata disela meloloskan kekehan geli. Entahlah, ia tak tahu apa yang ingin Naruto lakukan hingga menyuruhnya untuk menutup matanya yang tak bisa melihat apa-apa.
"Ck, kau ini. Maksudku katupkan kelopak matamu...!" Jelas Naruto malas. Toh, salah ia juga yang tadi berkata tak jelas. Seolah Sakura bisa melihat.
"Khikhikhi... Baiklah, baiklah" Senyum Naruto semakin bertambah lebar ketika melihat kelopak lentik Sakura sudah mengatup sepenuhnya. Ia menangkup sisi wajah gadis cantik bermarga Haruno itu kemudian mendongakannya seiring ia merunduk, untuk menyatukan bibir mereka.
Sedikit lagi bibir mereka akan bersentuhan bila saja Sasuke tak datang mengganggalkan.
Keturunan Uchiha itu langsung menarik kasar kerah seragam KHS Naruto dari belakang hingga rangkulannya terhadap Sakura lepas dan tubuhnya terputar kebelakang, mempertemukan kilatan iris Shappire pucat dan Onyx pekat dari masing-masing milik pemuda berparas tampan.
"Ap—"
"BRENGSEK !"
Bukhh...
Naruto terhuyung kebelakang akibat tinjuan keras dari Sasuke yang tepat mengenai pipinya. Sakura yang mendengar suara pukulan keras segera bergerak panik mencari sosok Naruto yang entah kemana hilangnya, ia takut terjadi apa-apa terhadap putra bungsu Namikaze tersebut.
"Berani sekali kau membawa Sakura tanpa izin dariku !" Sasuke menghardik murka, kembali ia menarik kerah seragam Naruto kemudian melayangkan tunju pada bagian sudut bibirnya hingga mengalirkan darah.
"Sasuke, apa itu kau ?!" Pria yang dipanggil itu tak mengubris dan masih terus bertubi-tubi menghajar Naruto yang hanya pasrah tak ingin melawan. Sakura panik, tangannya meraba-raba udara untuk menangkap Sasuke.
Bertepatan saat Sakura berhasil menemukan keberadaan Sasuke, kepalan tinju yang diarahkan kepada Naruto salah sasaran dan mengenai sudut bibir Sakura hingga lebam membuat si empu jatuh terduduk disamping Naruto.
Mata Sasuke membola lebar, tak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan terhadap Sakura. Dada Naruto bergerumuh marah melihat Sakura terluka, ia bangkit kemudian langsung melayangkan tinju keras di wajah Sasuke.
Pemuda raven itu hanya diam menerima pukulan Naruto, ia merasa pantas mendapat perlakuan seperti itu karena telah menyakiti wanita yang ia cintai dengan tangannya sendiri.
"MATILAH KAU UCHIHA !"
Bukhh...
Duakhh...
Kembali suara pukulan terdengar membuat Sakura berhenti meringis lalu berdiri sambil menggerakan tangan diudara. Gadis itu semakin panik, ia terkejut mendengar Sasuke yang mengerang karena terus di pukuli oleh Naruto.
"Hentikan !"
Bukhh...
Sakura jatuh tersungkur akibat tersandung batu kecil. Kesibukan Naruto dalam menghajar Sasuke langsung terhenti, ia melihat ketempat Sakura dan seketika terkejut melihat gadis disana sedang dalam keadaan tidak baik.
Pemuda pirang itu segera berlari menghampiri Sakura yang sudah duduk sambil memegang lutut. Sementara Sasuke, ia mendongak untuk melihat Sakura. Lelaki bermanik hitam kelam itu meringis sakit mendapati Sakura terluka dua kali karena dirinya.
"Kau tidak apa-apa Sakura !?" Naruto menuding cemas seraya berjongkok lalu mengangkat bridal style tubuh Sakura dan membawanya berjalan dengan tergesa meninggalkan Sasuke yang hanya menudukan kepala, tak berani menatap wajah kesakitan Sakura.
"Maafkan aku, Sakura"
Tangan kecil Sakura memeluk leher Naruto, wajahnya bertekuk rintih karena tak tahan dengan rasa perih dibagian sudut bibir dan lutut mulusnya yang kini berdarah karena tadi tergesek batu hingga menjadi luka beberapa tingkat goresan yang menganga kecil.
"Bertahanlah, aku akan segera mengobati lukamu !" Sakura menggigit bibir bawahnya, kepala pinknya ia sandarkan di dada lebar Naruto. Mencoba mencari kenyamanan untuk bisa mengurangi rasa perih di sudut bibir dan lututnya.
.
.
.
.
"Apa kau marah padaku ?" Sasuke bertanya ragu terhadap Sakura sembari menyentuh lembut punggung tangannya yang bertumpu diatas lutut. Gadis merah muda itu tersenyum manis, tangannya merambat naik memegang pergelangan Sasuke.
"Tidak, aku tahu bahwa kejadian kemarin hanya ketidak sengajaan." Jawabnya sembari menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong seperti biasa. Sudut bibir Sasuke melengkung tinggi keatas, ia beranjak dari berlututnya di hadapan Sakura yang tengah duduk nyaman diatas sofa.
"Terimakasih Sakura" Ucap pemuda itu bahagia, bahkan sangking bahagianya, ia sampai memeluk erat tubuh mungil Sakura. Sedang gadis itu hanya tersenyum geli sambil membalas pelukan sang sahabat emo.
"Aku berjanji untuk tak akan pernah lagi menyakitimu..." Sasuke berkata disela memejamkan mata, menikmati pelukan hangat mereka.
"Aku pegang janjimu" Gadis itu menjawab di iringi dengan kekehan geli. Ia turut merasa senang karena ada pria baik yang selalu menjaganya, dari mereka masih bocah polos hingga tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sangat cantik dan tampan.
"Terimakasih untuk semuanya, Sasuke..."
Flashback end...
Manik hitam pekat itu menatap penuh sayang Sakura yang terbaring di ranjang perawatan, sang empu duduk kemudian meraih tangan putih si gadis yang langsung terkejut kecil.
"Sasuke !" Ia berseru senang seraya bangun lalu duduk, kepala pinknya ia tolehkan kearah samping, tempat keberadaan sosok sang sahabat.
"Aku akan terus berdoa agar kau bisa melihat lagi..." Hati Sakura berdesir hangat mendengar ucapan Sasuke. Genggamannya pada tangan pemuda itu mengerat, seolah mengatakan bahwa dirinya pasti akan baik-baik saja.
"Aku sangat menyayangimu Sasuke..." Kelopak pemuda itu terbuka lebar dengan perasaan bahagia, terkejut dengan kalimat 'sayang' yang meluncur manis dari bibir peach Sakura.
Namun rasa bahagia itu tak bertahan lama, ketika kalimat tadi tersambung lagi. "...Sahabatku" Entah kemana Sakura menatap, namun Onyx pekat Sasuke bisa menangkap ketulusan dari dalam hijau Emerald tak bercahaya tersebut.
"Kita berdua akan menjadi sahabat selamanya... Sahabat yang tak akan terpisahkan." Ia berkata seperti itu hanya sekedar untuk membahagiakan Sakura. Biarlah hatinya hancur dan perasaannya hambar, ia tak peduli akan dirinya sendiri. Yang paling terpenting kebahagiaan Sakura, kebahagiaan gadis yang sejak lama ia cintai.
"Terimakasih banyak karena Sasuke sudah mau menjadi sahabat dari gadis buta seperti diriku..." Kepala emo itu menggeleng kuat, pegangannya beralih naik dan kini tengah mencekal kedua bahu kecil Sakura, meminta gadis itu untuk menatap orang di hadapannya.
"Jangan berkata seperti itu. Dulu kau juga gadis cantik yang bisa melihat dengan kedua matamu yang selalu berkilat indah dan akan berubah menjadi sorot mematikan bila sedang marah..." Kekehan geli lepas dari Sasuke saat tadi mengenai kalimat 'mematikan'. Sakura mengerucutkan bibir mendapat ejekan dari sahabatnya.
"Kau mau aku pukul !" Sukses, tawaran Sakura berhasil menghentikan tawa Sasuke, wajah pemuda itu menjadi pucat mengingat dulu Sakura yang kerap melayangkan pukulan Shannaro kepada lelaki mesum yang sering mengusiknya.
"Tidak tidak, tolong ampuni aku peri bunga Sakura..." Kini giliran gadis itu yang mengekeh geli, ia jadi teringat saat masa kecil mereka dulu. Keduanya sering bermain bersama dan Sakura yang selalu dipanggil peri bunga musim semi oleh Sasuke yang menjadi pengawal setianya.
Dari dulu hingga kini, mereka selalu bersama. Walaupun ada sosok Naruto yang sekarang menjaga Sakura. Sasuke akan tetap selalu berada di samping sosok jelmaan dari bunga musim semi tersebut, menjadi pelindung kedua yang setia setelah Naruto.
"Oh ya, ngomong-ngomong dimana Rubah pirang itu ?" Sasuke bertanya seraya melepaskan cekalannya terhadap bahu Sakura. Sang gadis mengulum senyum malu, ia memandang lurus kedepan.
"Naruto-kun pergi mencari makanan untuk ku..." Jawabnya senang membuat Sasuke tersenyum miris di hadapannya.
"Aku bisa mempercayakan dirimu kepada Rubah itu." Anggukan semangat menjadi respon Sakura dari perkataan Sasuke, ia meyakinkan sang sahabat bahwa dirinya akan baik-baik saja selama Naruto ada disampingnya.
"Naruto-kun selalu menjagaku dengan baik, dia begitu perhatian kepadaku..." Sasuke tersenyum pahit mendengarkan pujian Sakura yang terlontar untuk Naruto.
Sekuat apapun ia pendam, rasa sakit di dalam hatinya tetap tak bisa sembunyikan, terlihat jelas guratan kecewa yang terpancar dari wajah dinginnya. Senyum dibibir tipis pemuda itu perlahan lenyap, hingga sepenuhnya menjadi datar. Tersenyum tidak, dan hanya datar yang terlukis jelas di wajahnya.
"Aku akan disini menemanimu sampai Rubah itu kembali..." Senyum Sakura semakin bertambah lebar, merasa senang karena ia tak sendirian menjelang Naruto kembali dari berbelanja membelikannya makanan diluar sana.
"Aku terima tawaranmu." Jawabnya seraya tertawa geli membuat Sasuke yang tadinya sempat bersedih kembali meresa bahagia karena melihat senyum tulus yang tersungging dibibir peach wanita tercintanya.
.
.
.
.
Dua sosok lelaki bertubuh besar sedang mengawasi pergerakan Naruto dari dalam mobil, tatapan keduanya tak pernah lepas dari pemuda pirang disana yang sedang duduk menunggu bungkusan Takoyaki untuk Sakura. Mata hitam kedua preman tersebut menatap Naruto dari kejauhan dengan wajah sangar.
"Terimakasih banyak tuan" Senyum simpul dan datar Naruto kerahkan kepada si penjual, lalu kemudian ia pergi setelah terlebih dulu membayar total semua belanjaannya.
"Aku harus bergegas !" Ketika satu orang pengintai hendak membuka pintu mobil, sang rekan langsung menahan bahunya agar tak bertindak asal-asalan.
"Jangan gegabah, dia bukan bocah yang bodoh. Bila sampai ketahuan kau bisa mati di tangan bocah itu" Jelasnya yang dapat dimengerti oleh rekan kerjanya yang sedikit ceroboh.
"Ingat pesan Nona, jangan sampai kau melukai bocah itu barang seujung rambutpun !" Yang di ceramahi itu mengangguk paham dan kemudian segera ia membuka pintu mobil, berniat untuk keluar.
.
.
Langkah Naruto terhenti dan dengan gesit tubuhnya berputar kebelakang, melihat kearah gang sempit yang tadi ada seseorang mengikutinya. Naruto merasa curiga, namun masih bisa ditutupi dengan memasang raut datar, seperti tak terjadi apa-apa.
'Apa yang mereka inginkan dariku...' Inner Naruto bertanya kepada diri sendiri, ia merasakan adanya saat ini seseorang menguntitnya secara diam-diam dari belakang.
Berpura-pura cuek, Naruto melanjutkan lagi perjalanannya yang hendak pergi kerumah sakit. Sesekali biru tajamnya melirik kesamping untuk melihat bayangan orang di belakangnya, ia tak sebodoh itu dalam hal sepele seperti yang saat ini orang disana lakukan terhadapnya.
Shappire pucat Naruto menemukan tikungan yang terletak beberapa langkah dari tempatnya saat ini berpijak. Sebelah sudut bibir Naruto terangkat samar, segera ia berlari kencang membuat orang yang bersembunyi dibalik tembok kumuh menampakan diri dan mengejarnya lalu ikut masuk kedalam tikungan nan sepi.
"Sial !" Sosok hitam gelap itu mengumpat kesal karena lalai dalam bertugas hingga targetnya berhasil meloloskan diri.
Jdukk...
"Aawww !" Sebuah batu kerikil yang lumayan cukup besar mendarat diatas kepala orang bertubuh besar tersebut, ia mengaduh kesakitan sambil memusut kepalanya yang mendapat benjolan besar.
"Apa kau yang inginkan dariku.!" Suara dingin dari arah belakang lelaki itu membuatnya cepat menghadap kearah sang target. Pemuda pirang disana tersenyum remeh, ia mendekat dan berhenti dari jarak yang cukup dekat dengan lelaki berkulit hitam itu.
"Aku di perintahkan untuk membawamu..." Setelah cukup menjelaskan, lelaki kekar itu langsung berlari hendak menerjang Naruto.
Dan tentu saja hal itu tak berhasil, pergerakan Naruto dalam menghindar sangat gesit hingga lelaki itu melewatinya. Tak terima di perlakukan seperti itu, ia berbalik sambil mengeluarkan sebuah belati yang berkilau karena terkena cahaya lampu. Benda tajam itu ia kerahkan kearah Naruto seraya melajukan larinya, berniat hendak menusuk perut Naruto.
"MATILAH KAU BOCAH..."
Naruto hanya berdiri tenang tanpa ada rasa khawatir. Meletakan diatas aspal belanjaan, kemudian Naruto membiarkan orang disana untuk menusuk dirinya menggunakan belati.
Namun, itupun kalau dia bisa hanya untuk mencondongkan ujung belatinya saja di depan wajah datarnya.
Kreettt...
Trakk..
"Aargghh !"
Terdengar suara geraman sakit dari lelaki yang tadi hendak menyerang Naruto, pria bayaran itu jatuh terbaring diatas aspal kering karena tadi gerakan kilat Naruto yang langsung berhasil mematahkan tulang lengan kananya.
Naruto berjongkok di hadapan lelaki yang sedang mengerang sakit itu sambil memegangi tangan kanannya, ia menjambak rambut hitam orang itu membuatnya mendongak dengan cucuran keringat. Wajah mereka berdekatan, dan Naruto menatap datar lelaki berkulit gelap tersebut.
"Katakan,! Siapa orang yang sudah membayarmu untuk menangkapku..." Lelaki itu tak menjawab dan malah menatap bengis Naruto yang ia anggap bocah lincah ingusan.
"Apa untungnya aku mengatakannya padamu bocah..." Naruto mendengus remeh, ia mengambil belati yang terletak disamping tubuh lemah lelaki itu lalu meletakan bagian yang tajamnya tepat dileher pria sangar itu.
"Katakan atau benda ini akan menyayat lehermu hingga kau tak bernyawa lagi...!" Ancamnya datar mambuat wajah hitam lelaki itu memucat sempurna dengan seluruh saraf tubuh yang menegang karena rasa takut.
"Ak–aku mohon ja–jangan lakukan itu" Masih dalam keadaan berbaring telungkup, lelaki itu memohon kepada Naruto agar tak bertindak lebih jauh.
"Baiklah. Kalau begitu katakan dengan jujur !" Bibir lelaki berwajah seram itu bergetar, ia begitu takut dan lebih memilih untuk mengatakan yang sebenarnya dari pada harus mati sia-sia ditangan seorang anak muda yang masih bersikeras tetap ia anggap hanyalah seorang bocah.
"Aku tak akan mengulangi lagi kalimatku jadi, cepat katakan sekarang...!" Desak pemuda dingin itu sembari semakin menempelkan mata belati besi putih itu pada leher orang bayaran tersebut hingga membuatnya merasakan sakit.
"No–nona Shion..."
.
.
.
.
To be contine...
.
.
.
.
Yah, jadi three-shoot nih :D
