THE GOOD MEMORIES

Cast: Meanie Couple

Mingyu x Wonwoo

Mingyu x Jihoon

Khusus chapter ini ada Winwoo x Jihyo

.

.

.

Wonwoo berencana untuk move on. Tapi dia malah semakin terlihat menyedihkan akibat kenangan-kenangan dirinya dengan Mingyu masih terekam jelas dalam ingatannya.

the sequel of one day on the unlucky day

.

.

.

.

Sudah berminggu-minggu lamanya sejak Wonwoo putus dari Mingyu.

Dan sudah berminggu-minggu juga Wonwoo berusaha untuk move on.

Wonwoo yakin kalau sekarang dia sudah bisa move on. Sangat yakin.

Kalau tidak, mana mungkin sekarang dia duduk manis di depan seorang gadis cantik yang dia sering perhatikan beberapa hari ini.

Mereka berdua duduk di kafe yang terletak tidak jauh dari kampus. Suasana kafe itu tidak cukup ramai, dan Wonwoo pikir itu cukup bagus. Dia tidak suka suasana ramai, dalam artian yang sebenarnya.

Bukan berarti dia tidak suka tempat-tempat gelap sih, justru kalau berduaan seperti ini semakin gelap semakin seru.

Wonwoo sibuk mengamati sosok gadis yang duduk di hadapannya. Dia tersenyum sangat manis sambil melontarkan pujian-pujian random yang ada di dalam pikirannya.

"Jihyo!"

Wonwoo memanggil gadis yang ada di hadapannya, berusaha mengalihkan perhatian gadis itu dari minumannya.

"Ya, oppa?"

"Hm, bagaimana aku mengatakannya, ya? Dilihat berulang kali pun kecantikanmu saat ini tidak ada habis-habisnya, Jihyo." Wonwoo menggombal dengan percaya diri penuh dan dia yakin betul kalau ucapannya barusan itu terdengar konyol tapi dia hanya tertawa dalam hati saja karena gadis yang berada di hadapannya malah tersipu malu mendengar gombalan Wonwoo.

"Terima kasih, oppa." Jawab gadis itu malu-malu sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

Wonwoo tersenyum semakin lebar. "Astaga, bahkan ketika kau memanggilku dengan sebutan 'oppa' pun terdengar sangat manis. Apa yang harus ku lakukan?"

Wonwoo gemas. Dia tidak tahan untuk tidak mencubit pipi gadis di hadapannya itu, jadi dia melakukannya pelan.

Jihyo hanya tertikik malu-malu, tidak tahu harus menjawab bagaimana.

Wonwoo kembali memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.

Wah, gadis ini dilihat dari sisi mana pun tetap saja cantik.

Matanya yang besar, postur tubuhnya yang tidak gemuk tapi juga tidak kurus. Bagian-bagian yang cukup menonjol di tempat seharusnya, belum lagi wajahnya yang selalu kelihatan polos. Dia itu kelihatan imut dan sexy di waktu yang bersamaan. Tipe Wonwoo sekali. Wonwoo berani bertaruh lelaki mana yang tidak suka kalau melihat Jihyo pada pandangan pertama.

"Tapi, Wonwoo oppa! Bagaimana pun kau menggodaku, itu tidak akan mempan. Kau tau kan, aku sudah punya pacar."

Wonwoo mendengus. Dia meneguk kopi dingin miliknya.

"Aku kan tidak mengajakmu pacaran. Sekarang ini kita hanya ngobrol biasa antar teman. Kau jangan terlalu serius begitu, Jihyo."

Gadis itu terdiam, kelihatannya sedang memikirkan ucapan Wonwoo. Kemudian dia menggangguk. "Ah, kau benar juga."

Wonwoo menggerutu dalam hati, kenapa semua gadis cantik di kampusnya sudah punya pacar.

Tapi kemudian dia menyeringai diam-diam. Tidak apa-apa. Wonwoo cukup berpengalaman dalam hal ini. Baginya menaklukkan hati wanita adalah hal termudah kedua di dunia selain merokok.

Sekarang mungkin saja gadis ini sedang jual mahal padanya, tapi lihat saja dalam beberapa hari ke depan mungkin Wonwoo tidak hanya akan mengajaknya ke kafe, tapi juga ke tempat tidur.

Wonwoo terkekeh dalam hati membayangkannya.

Tentu saja Jihyo tidak menyadarinya. Dia dengan polosnya menjawab semua pertanyaan Wonwoo soal profil dirinya, mulai dari hobi, genre musik kesukaan, ukuran sepatu hingga ukuran cup bra-nya.

Tidak, yang terakhir itu hanya pertanyaan Wonwoo dalam hati saja. Dia tidak setolol itu untuk menanyakannya langsung.

"Hei! Jeon Wonwoo brengsek!"

Seseorang dari arah pintu kafe berteriak penuh amarah ke arah Jihyo dan Wonwoo, membuat mereka berdua mendongak ke sumber suara.

Jihyo terlihat jelas kaget bukan main, dia membelakkan matanya lebar-lebar dan menutup wajahnya dengan tas selempangnya sambil berbisik panik ke arah Wonwoo.

"Oh tidak! Dia datang ke arah sini!"

Wonwoo tahu siapa yang dimaksud oleh Jihyo, itu adalah Seungcheol. Dia cukup tenar juga di kalangan mahasiswa. Dia adalah mahasiswa tingkat akhir yang berasal dari jurusan kesenian. Dia juga menjabat sebagai ketua klub tari dan peran. Klub yang cukup banyak diminati para gadis maupun laki-laki. Soonyoung dan Mingyu juga masuk dalam klub itu, Wonwoo sendiri sampai heran apa bagusnya klub itu.

Tapi sekarang Seungcheol bukan sedang berperan sebagai ketua klub. Dia hanya mahasiswa biasa yang kesal pacarnya kencan dengan orang lain. Wonwoo dengar-dengar sih dia jago bela diri. Dari postur tubuhnya sudah menjelaskan sih, tapi bukan Wonwoo namanya kalau dia takut hanya karena postur tubuh.

Seungcheol, pacar Jihyo yang sudah mengetahui entah darimana kalau Wonwoo mengajak pacarnya untuk berkencan. Dia melangkah dengan kesal ke arah Wonwoo dan Jihyo.

Wonwoo bersikap tenang, dia sudah biasa menghadapi hal-hal konyol seperti ini. Maksud Wonwoo, yah tidak sekali dua kali dia berusaha merebut pacar orang lain. Tapi ini adalah yang pertama sejak dia putus dari Wonwoo.

Sementara Jihyo yang berada di hadapannya, tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya dan terus menggumamkan 'habislah kita!' secara berulang kali dengan gusar.

"Bajingan sialan!"

Seungcheol menggebrak meja Wonwoo dan Jihyo dengan keras, membuat Jihyo memekik kaget.

Seungcheol menarik kerah baju Wonwoo, membuat Wonwoo mau tidak mau harus berdiri agar bajunya tidak robek.

Jujur saja, tarikan Seungcheol tidak main-main kuatnya.

"Seungcheol oppa, dengarkan dulu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan."

Jihyo setengah panik dan gusar menarik kedua tangan Seungcheol dari kerah baju Wonwoo.

Seungcheol menepis tangan Jihyo. Dia semakin menarik kerah Wonwoo dan menatap tajam wajah Wonwoo yang beberapa centi dari hadapannya.

Wonwoo hanya membalas tatapannya datar.

Seungcheol bertanya sambil menggertakkan giginya, menahan amarah.

"Apa yang sedang kau lakukan dengan pacarku?"

Wonwoo masih dengan sikap tenangnya, dia mengangkat sebelah alisnya. "Kau masih bertanya? Jelas-jelas kau sudah lihat sendiri." Wonwoo bicara dengan nada meremehkan.

"Semua yang kau lihat ini adalah seperti yang kau bayangkan." Wonwoo menarik tangan Jihyo dan menggenggamnya.

"Brengsek!"

Jihyo jelas semakin panik. Dia berusaha bicara, tapi sebelum dia melakukannya Seungcheol lebih dulu mengarahkan pukulannya ke wajah Wonwoo.

Wonwoo bisa mendengar suara .Jihyo yang memekik ketakutan.

Wah, gila. Pukulan Seungcheol benar-benar sungguhan ternyata. Wonwoo merasa pipi sebelah kanannya perih. Wonwoo rasa sudut bibirnya akan segera berdarah rasanya.

Wonwoo mengusapnya, dan ternyata benar. Ada bercak darah di tangannya.

Wonwoo merasa marah, dia jelas tidak terima. Wonwoo balas memukul tepat di wajahnya Seungcheol. Butuh beberapa pukulan di tempat yang sama untuk membuat tulang pipi Seungcheol menonjol dan berubah warna menjadi keunguan.

Tapi, bukan berarti karena Wonwoo berhasil memukul Seungcheol di beberapa bagian dia juga selamat dari pukulan kuat Seungcheol. Wonwoo berani bersumpah ini sakit sekali.

.

.

.

.

Nah, Wonwoo sudah duga akan berakhir seperti ini.

Duduk dengan wajah babak belur di kantor polisi, kemudain mendengarkan ocehan polisi yang bertugas tentang bagaimana mahasiswa jaman sekarang yang bersikap anarkis dan hanya bisa bicara omong kosong lewat demo aksi yang membuat para polisi sering kewelahan.

Seungcheol yang duduk di sebelahnya juga melakukan hal yang sama.

Wonwoo sudah menyangka kalau pemilik kafe tempat mereka adu jotos tadi akan segera melaporkan mereka ke kantor polisi setempat.

Padahal pertengkaran mereka tadi kan tidak kelihatan seserius itu. Astaga.

"Terutama kau, bocah!"

Polisi itu memukul kepala Wonwoo dengan gulungan kertas yang ada di mejanya.

"Kau sudah berulang kali keluar masuk tempat ini. Kelihatannya kau ini tidak bisa hidup kalau tidak buat masalah sekali pun, ya?"

Wonwoo mengelus kepalanya yang berdenyut-denyut. Serius, itu sakit.

"Itu karena aku merindukanmu, pak." Jawab Wonwoo asal. Dia menjawab dengan nada datar dan malas.

Polisi itu menghela nafasnya berat. "Astaga, aku bisa cepat tua kalau mengurus bocah ini terus." Dia bergumam kesal.

Dalam hati Wonwoo berharap polisi itu cepat-cepat menjadi tua agar dia tidak bertemu dengan orang tua ini lagi di kantor polisi.

Setelahnya, polisi itu kembali mengoceh soal pertengkaran remaja laki-laki yang semakin marak, anak-anak yang kehilangan sopan santun, berandal-berandal, dan Wonwoo sudah tidak ingat apalagi yang dibahas oleh orang tua itu karena dia sudah sangat bosan mendengarkannya.

Tepat saat Wonwoo sudah berada persis di ambang batas kebosanannya, Jihyo kembali datang dengan Soonyoung dan Mingyu di samping kanan-kirinya. Mereka kelihatan tergesa-gesa.

Polisi itu berhenti mengoceh dan mulai bertanya pada Jihyo soal dua orang yang baru saja datang bersamanya.

Dalam hati Wonwoo berterima kasih kepada tiga orang itu. Yah, walaupun untuk Mingyu dengan terpaksa sih.

"Astaga, Ketua! Apa-apaan dengan wajahmu itu!" Raut wajah Mingyu kelihatan panik dan nada suaranya terdengar khawatir. Dia membungkuk untuk mengecek wajah Seungcheol secara dekat. "Astaga, padahal dalam waktu dekat kita akan menggelar pertunjukan!"

Seungcheol hanya berdecak dan menjauhkan wajah Mingyu dari hadapannya.

Wonwoo yang mendengarnya memutar bola matanya kesal. Dia tahu persis kalau itu sindiran ditujukan untuknya, tapi dia berusaha untuk tidak menanggapi. Lagipula dia tidak peduli apakah dalam waktu dekat ini mereka akan ada pertunjukkan atau tidak. Itu kan bukan urusannya.

"Ah iya, benar juga." Jihyo bergumam, nada bicara dan ekspresinya menunjukkan kalau dia benar-benar menyesal. "Maafkan aku, Seungcheol-oppa." Walaupun tidak terucap dengan jelas, orang-orang yang berada di tempat itu bisa mendengarnya.

Wonwoo semakin jengkel mendengarnya.

Astaga, Wonwoo pikir semua oang-orang ini sibuk memperhatikan Seungcheol dan tidak ada satu pun yang perhatian terhadap dirinya. Wonwoo mendecak dalam hati, dia kasihan terhadap dirinya sendiri.

"Oh tidak! Lihat wajah Wonwoo kita ini." Soonyoung seakan bisa membaca pikiran Winwoo, mendekatkan kepalanya ke wajahnya Wonwoo dan menggerakkan dagu Wonwoo ke kanan dan ke kiri. "Hei, Seungcheol hyung! Kau serius merobek bibirnya seperti ini?"

Wonwoo menatap Soonyoung dengan penuh haru, dia merasa tersentuh untuk sesaat. Ah, Soonyoung memang benar-benar sahabat sejati Wonwoo.

"Harusnya kau segera bunuh saja dia! Astaga! Astaga! Anak ini!" Soonyoung memukuli kepala Wonwoo secara berulang kali dengan nada kesal yang tak tertahankan.

"HEI!!!!" Wonwoo menyahut Soonyoung dengan jengkel dan menatap Soonyoung tajam.

"Apa? Kenapa? Aku sudah berulang kali bilang jangan cari masalah! Ya Tuhan!" Soonyoung menarik rambutnya sendiri, dia kelihatan frustasi.

Wonwoo hanya diam dan masih menatap tajam ke arah Soonyoung.

"Ah, sudah! Sudah!"

Polisi yang bertugas itu sudah tidak tahan lagi mendengar perdebatan antar anak muda yang ada di hadapannya. "Berhubung wali kalian sudah datang, aku akan segera membebaskan kalian setelah mereka menandatangani kertas ini."

Polisi itu menyerahkan beberapa lembar kertas pada Soonyoung.

Wonwoo melirik polisi itu, dan kemudian ganti melirik Soonyoung dengan ekspresi bertanya-tanya.

"Bukan! Aku bukan walimu! Aku ke sini datang untuk menjemput ketua kami." Nada bicara Soonyoung terdengar ketus, dan Wonwoo merasa kecewa saat itu juga.

Tapi kemudian Wonwoo berpikir.

Kalau bukan Soonyoung yang datang sebagai menjadi walinya, berarti bukankah? Wonwoo melirik ragu-ragu ke arah Mingyu yang berdiri persis di sampingnya.

"Aku harus tanda tangan dimana, pak?"

Suara Mingyu terdengar begitu tenang, membuat hati Wonwoo terasa seperti melayang untuk beberapa detik.

Tidak lama setelahnya, dia kembali ke dunia nyata.

"Aku tidak memintamu melakukannya." Wonwoo bergumam, agak tidak yakin dengan ucapannya sendiri.

Mingyu tersenyum simpul. "Aku juga tidak melakukan ini untukmu. Aku melakukan ini untuk kita." Dia menggerakkan kepalanya menunjuk kepada Soonyoung yang sibuk menggerutu masalah pertunjukkan peran yang sebentar lagi akan diselenggarakan, dan juga pada Seungcheol dan Jihyo yang sedang bicara serius.

Lagi-lagi ada perasaan sedih tersendiri saat melihat Jihyo yang kelihatan sangat bersalah terhadap Seungcheol. Padahal kalau dipikir-pikir, itu semua kan salah Wonwoo yang memanfaatkan kepolosan Jihyo untuk kesenangannya pribadinya.

Wonwoo menghela nafasnya berat. Dia mencuri-curi pandang kepada Mingyu.

"Yah, bagaimana pun juga terima kasih ya." Wonwoo mendekatkan bibirnya pada telinga Mingyu. "Mantan."

Wonwoo bisa lihat, walaupun ekspresi datar yang ditunjukkan oleh Mingyu tapi seluruh wajahnya berubah warna menjadi merah.

"Kau memakai jaket itu?"

Mingyu menunjuk pada jaket zipper biru dongker yang dikenakan oleh Wonwoo.

"Tentu!" Wonwoo menjawab dengan mantap. "Kau sudah mengembalikan ini padaku, jadi ini adalah milikku."

Wonwoo memasang wajah datarnya, kemudian dia menarik zipper jaketnya hingga sebatas dada. Tidak apa-apa, dia akan menjadi laki-laki paling tidak tahu malu sedunia hari ini.

Toh, tidak akan ada yang sadar juga kalau jaket yang digunakannya adalah jaket bekas pemberiannya pada Mingyu.

.

.

.

.

Wonwoo berpikir sejenak soal kata-kata Jihyo yang baru beberapa saat yang lalu disampaikan pada Wonwoo.

'Wonwoo oppa itu memang tampan. Sumpah, aku tidak bohong.'

Wonwoo senyum-senyum sendiri. Itu adalah fakta yang tidak bisa dibohongi sih, bagaimana ya.

Ah, tapi bukan perkataan yang itu yang jadi poin utamanya.

'Tapi Seungcheol oppa jauh lebih tampan.'

Astaga, bukan yang itu juga. Wonwoo jadi jengkel sendiri mengingatnya.

'Tapi itu hanya ketertarikan semata. Jauh daripada tampang, Seungcheol oppa itu bagiku adalah cinta.'

Nah, itu dia.

Apa tadi? Cinta katanya?

Memangnya tahu apa orang sepolos Jihyo soal cinta?

Wonwoo memiringkan kepalanya tidak yakin. Wonwoo menyimpulkan kalau ternyata Jihyo punya cara halus tersendiri untuk menolak Wonwoo.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Mingyu yang berjalan di sebelah Wonwoo membuka suara, bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Wonwoo sekarang.

Sebenarnya Wonwoo tidak berencana seperti ini. Astaga. Memangnya orang waras mana yang akan jalan berdampingan dengan mantan pacarnya saat-saat dia mencoba untuk move on?

Tapi Mingyu adalah pemaksa yang handal. Jadi mau tidak mau Wonwoo menerima tawaran Mingyu untuk diantarkan pulang berjalan kaki hingga ke tempat kos nya.

"Cinta." Jawab Wonwoo.

Mingyu agak terkejut mendengar jawaban Wonwoo. Jujur saja dia masih agak sensitif soal itu, dia mana mungkin lupa ekspresi wajah Wonwoo saat dia mengatakan kalau dia ingin hubungan mereka putus.

Mendengar Mingyu yang terdiam, Wonwoo melanjutkannya. "Aku pikir aku ini jatuh cinta pada Jihyo."

Mingyu masih diam.

"Tapi ternyata aku salah. Itu hanya ketertarikan semata."

Wonwoo menatap Mingyu.

.

.

.

.

Mingyu teringat saat itu.

Malam dimana Mingyu muncul di hadapannya secara tiba-tiba.

"Mingyu?"

Minyu tersenyum.

Manis sekali, seperti biasanya.

Wonwoo sampai-sampai harus berkedip berulang kali untuk memastikan sendiri kalau dia tidak sedang berhalusinasi.

"Kau apa kabar?"

Suara yang selalu tenang dan Wonwoo seperti ingin menangis saja saat mendengar suara Mingyunya yang selama ini dia rindukan.

Tapi dia tidak mungkin melakukannya saat itu juga, kan? Jadi dia memutuskan untuk menjawab 'baik' karena Wonwoo tahu kalau pertanyaan Mingyu itu hanya sekedar basa-basi yang sudah kelewat basi. Mingyu juga tidak akan benar-benar peduli dengan kabar Wonwoo sebenarnya.

Dan setelahnya keduanya tidak bicara sepatah kata pun.

Mereka berdua hanya diam dan sibuk dengan pikiran satu sama lain.

Oh tidak. Inilah saat-saat yang Wonwoo benci. Bagaimana rasa canggung memenuhi udara sekitar mereka. Itu benar-benar terasa mencekik bagi Wonwoo.

Padahal mereka sudah mengenal sejak lama, bahkan sudah beberapa kali berhubungan intim. Tapi sejak mereka berdua putus, ini adalah suasana terburuk yang pernah Wonwoo rasakan semenjak Mingyu berada di hadapannya secara empat mata.

"Hm, bagaimana aku mengatakannya ya?"

Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengalihkan padangannya dari Wonwoo, menatap sekitarnya.

Ah, Wonwoo tahu apa artinya itu.

Dia sudah mengenal Mingyu cukup lama, jadi tahu kalau yang akan disampaikan Mingyu adalah sesuatu yang tidak bagus.

"Katakan saja, Mingyu." Wonwoo memasang wajah datarnya. Suaranya terdengar dingin. "Katakan dengan keberanian seperti yang kau lakukan terakhir kali."

Ekspresi Mingyu menegang.

Wonwoo memang sengaja mengatakannya untuk membuat Mingyu merasa tidak enak. Lagipula siapa suruh dia berani berhadapan lagi dengan dirinya.

"Aku hanya ingin mengembalikan ini."

Mingyu menyerahkan kantong plastik ke hadapan Wonwoo.

Wonwoo membukanya, dan ternyata isinya adalah sebuah jaket zipper berwarna biru dongker.

Wonwoo mendengus.

Astaga, dia tidak percaya ini.

"Ini aku berikan untukmu! Jadi, ini adalah milikmu!"

Orang gila mana yang mengembalikan barang pemberian mantan kekasihnya di saat mereka sudah putus?

Ah, benar. Orang gila macam Mingyu.

Mingyu menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak bisa menerima ini."

Wonwoo masih dalam keadaan tidak percaya.

"Wah, kau tidak perlu repot-repot datang menghampiriku semalam ini hanya untuk mengembalikan ini."

Ekspresi wajah Mingyu mengeras. "Maafkan aku"

Wonwoo menghela nafas. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi.

Mingyu berdiri dan menatap Wonwoo yang kelihatan seperti orang frustasi dan marah.

Lalu dia segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Wonwoo tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Malam itu juga, harga diri Wonwoo hancur berkeping-keping.

.

.

.

.

Wonwoo tersenyum miris ketika mengingatnya kembali.

Astaga. Mingyu ternyata punya seribu satu cara untuk mempermalukan Wonwoo.

"Bagaimana menurutmu?" Wonwoo bertanya masih menatap Mingyu.

"Apanya?" Sahut Mingyu tidak yakin dengan pertanyaan Wonwoo.

Wonwoo mendecak tidak sabar. "Soal cinta. Menurutmu cinta itu yang seperti apa?"

Mingyu terbatuk saat mendengarnya. Itu terasa seperti serangan tiba-tiba terhadapnya.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kau tidak merasa aneh bertanya begitu pada mantan kekasihmu?"

Sskarang giliran Wonwoo yang tertohok.

Sial. Mingyu ada benarnya juga.

Wonwoo sadar sih kalau dia tolol, tapi dia baru sadar kalau ternyata dia setolol ini.

Astaga. Mau ditaruh dimana wajahnya sekarang ini?

Wonwoo tidak sadar wajahnya berubah menjadi merah karena menahan malu.

Dan itu membuat Mingyu semakin terkikik.

Wonwoo tidak henti-hentinya menggumamkan kata 'brengsek' dan mengambil langkah lebar-lebar menuju tempat tinggalnya.

Mingyu yang melihat tempat tinggal Wonwoo yang semakin dekat, menahan lengan Wonwoo.

Wonwoo memasang ekspresi tidak suka dan berusaha menarik lengannya dari genggaman Mingyu.

"Aku akan beritahu kau cinta menurutku itu seperti apa!"

Mingyu masih berusaha menarik tangan Wonwoo yang terus memberontak.

"Lepaskan! Aku sudah tidak peduli!"

Wonwoo juga dengan keras kepala masih berusaha melepaskan genggaman Mingyu.

"Cinta itu adalah kau, Wonwoo. Selalu kau."

Wonwoo tadinya ingin menghajar Mingyu dengan sikutnya kalau Mingyu benar-bensr tidak akan melepaskan lengannya.

Tapi dia mengurungkan niatnya, dan dia pun terdiam.

Tunggu. Apa yang barusan dikatakan oleh Mingyu?

Dia tidak mendengarnya dengan jelas.

.

.

.

TBC

.

.

.

a.n:

Long time no see!

Sori chapter ini alurnya kecepetan dan ngebosenin. Jujur pas aku baca, sumpah bosen bgt bikin ngantuk tapi ya gimana yak udah terlanjur di tulis wkwk.

Kritik saran diterima yak:)

See you:)