Disclimer : © Masashi Kishimoto

© Kuroko no Basuke

Warning : Typo, EYD, OOC, and many Mistakes.

Don't like? Get easy to close this site.

Happy Reading all.


Konoha Team :

Coach : Kakashi Hatake.

#4 Shooting Forward : Uchiha Sasuke. (C)

#6 Power Forward : Hyuga Neji.

#7 Center : Rock Lee.

#5 Point Guard : Inuzuka Kiba.

#9 Power Guard : Aburame Shino

#12 Point Guard : ... Naruto.


Priiit

"Ayo semuanya berkumpul!" Teriak Kakashi dari sisi lapangan. Menepukan tangannya sebagai intruksi untuk para pemain bergerak cepat.

"Ada apa pelatih? Kita baru saja latihan 10 menit." Ujar Lee yang terlihat protes akan latihannya yang dipotong oleh sang pelatih. Yang seakan tak melihat gejolaknya yang membara ini telah membakar tubuhnya.

"Itu benar sekali, pelatih." Sasuke mengeluarkan nafasnya menetralkan diri. Kakashi hanya tersenyum sembari mengusap kepalanya.

"Nmaa~, waari, waari. Hm begini, langsung saja. Hari ini, kita akan berlatih dengan tim luar." Jelas Kakashi serius membuat semua pemain terdiam. Bahkan untuk Lee yang sedari tadi berpidato tentang 'Bahaya seseorang saat menghentikan program Masa Muda Membara'-nya ikut secara intens memerhatikan.

Kakashi berdehem. "Beberapa hari lalu, manager tim Konoha Sport Academy menantang kita untuk pertandingan dalam laga persahabatan. Aku sengaja tak memberitahukannya terlebih dahulu untuk menguji kesiapan mental kalian semua." jelas sang pelatih membeberkan alasan tentang pertandingan persahabatan dadakan tadi.

Terlihat olehnya seseorang mengacungkan tangannya."Ada apa Kiba?"

"Pelatih, bukan mereka telah kita kalahkan di perempat final kemarin?" tanya Kiba, sosok yang mengacungkan tangan tadi.

Mendengar itu, Neji yang sedari tadi diam pun mulai angkat bicara mengumandangkan isi pikirannya. "Itu wajar saja kurasa. Mungkin mereka belum puas dengan hasil akhir kemarin. Lagi pula, kita menang dengan skor berbeda tipis." Jelasnya dengan gaya cool dan didukung Sasuke yang turut mengangguk membenarkan.

Kakashi mengusap surai putihnya tanda tak ada kerjaan lain. "Ya, mungkin ada benarnya. Tetapi, dari apa yang mereka katakan, lawan kita kemarin adalah tim lapis ke dua dari KSA, dengan kata lain. Hari ini kita akan melawan tim inti mereka." semua orang menganga mendengarnya. 'Apa ini semacam lelucon?'

"Astaga, melawan tim lapis dua saja kita hampir mati. Bukan berarti saat ini kita tengah berjalan ke neraka?" Ucap Kiba histeris, tangannya menunjuk dirinya sendiri dengan tubuhnya yang bergetar.

"Untuk itulah. Kita harus atur formasi dan strategi guna melawan mereka. karena kita tidak tahu seperti apa tim yang akan kita hadapi nanti." Kakashi mengetuk-ngetukan pulpennya pada board.

"Dengar, aku akan menentukan starter saat ini. Pertama, Center, seperti biasa aku menunjuk Lee. Tugas utamamu adalah merebut Rebound dan passing pada Sasuke atau yang lainnya saat ada kesematan. Tetapi jika memungkinkan, kau boleh memasukannya sendiri." Mendengar itu bagai disulut sebuah api, Tubuh Lee layaknya tengah terbakar. Nyalak matanya meyakinkan dengan kepalan kuat di atas udara.

"Demi semangat masa mudaku, aku akan berusaha!" teriaknya nyaring menggemparkan gedung olah raga Konoha. Namun seakan itu semua hal biasa, pemain lain tak terpengaruh sama sekali dengan teriakan itu. Bahkan mengacuhkannya layaknya sampah plastik yang terbang tertiup angin.

Kakashi melanjutkan. "Okay, sanjutnya bagian Shooting Forward. Uchiha Sasuke , Aku menunjukmu. Jauhkan point kita dengan tembakan three point seperti biasa di babak pertama. Rebut momentum dan permainan dengan tiga skor berturut, mengerti?" Sasuke mengangguk dengan gumaman khasnya.

"Dan yang ketiga, Power Forward, Hyuuga Neji. Lakukan hal seperti biasa, dukung Lee dan Sasuke dari tengah lapangan." Neji mengangguk.

"Dan yang ke empat, Power Guard. Shino, kau yang terbaik di sini dalam bertahan, oleh karena itu, sangat cocok jika kau kumainkan sebagai starter untuk mengurangi intensitas skor dari KSA."

"Serahkan padaku, pelatih." datar Shino membuat Kakashi mengangguk.

"Dan terakhir, untuk point guard. Aku memilih..."

"Aku akan berusaha!" Teriak Kiba. Berdiri tegap dengan kepalan di dadanya. Melihatnya entah kenapa membuat Kakashi merasa prihatin.

"Maaf, Kiba. Untuk saat ini aku memilih Naruto."

Doeng!

Kiba kehilangan arwahnya. Tubuhnya membeku bahkan satu jaripun tak terlihat bergerak. Semua anggota tim tertawa. Seakan memprovokasi Kiba yang saat ini tengah down.

"Poor you, Kiba!" ucap salah satu pemain, menertawakan wajah pias pemuda anjing itu.

"Ano~, Pelatih. Mengenai Naruto-kun, dia belum datang sedari tadi." Ucap Lee, Kakashi terdiam. Menilik dengan mata obsidiannya mencari benda pirang disekitarnya.

"Apa ada yang tau sekarang dia ada di mana?"

Ebisu mengangkat tangannya. "Aku melihatnya tadi ditarik seorang siswi sepulang sekolah tapi aku tak tahu dia dibawa kemana, pelatih." tanggapnya. Kakashi berkerut.

"Siapa?"

"Aku kurang tahu, tapi dia berambut merah muda." jelasnya lagi. Kakashi mengangguk mengerti. Sedikit mengetahui orang tersebut.

"Kau tidak tahu? dia murid pindahan. Namanya Haruno Sakura-san. Uh~, dia sangat cantik." Lee tersenyum sendiri, membayangkan gadis itu tersenyum padanya saat berpapasan dengannya beberapa hari yang lalu. Rasanya banyak sekali bunga yang bertebaran saat gadis itu lewat di hadapannya.

"Dan dari yang ku dengar dia adalah kekasih Naruto." Bisik Neji sengaja di perlembut namun menusuk di dekat telinga Lee. Dingin dan membekukan, Meruntuhkan angan-angan sang mahluk berambut Bob yang telah melambung tinggi. Lee tertunduk di lantai dengan air mata yang mengalir deras.

"Sayang sekali, Lee." ujar prihatin Kakashi. Ingin rasanya sekedar menepuk punggung pemuda penyuka warna hijau itu. Tapi tak bisa.

"Tapi, aku berencana menjadikannya meneger Tim. Dari yang dia terangkan, dia mantan meneger tim sewaktu duduk di Sekolah Menengah Pertama." Jelas Kakashi membuat semua berkerut tak paham.

"Apa maksudnya itu pelatih?" tanya Neji meminta penjelasan.

"Aku akan menjelaskannya lain kali saat dia resmi menjadi meneger. Sekarang kita fokuskan saja pada permainan nanti. Menyambung dari apa yang Lee katakan, Karena Naruto tidak ada di sini, berarti yang kutunjuk sebagai Point guard adalah Kiba."

Dan kilat ungu seakan turun dari langit menghantam tubuh Kiba. Memberi efek layaknya tengah dalam mode super seiya dalam Anime Doragon Bolu karya mangaka sebelah. "Aaargh, aku tidak akan kalah darimu, Narutoo~." semua yang ada di dalam lapangan hanya bisa sweatdrop.


#Ruang ganti Pemain


"Hachi~." Naruto mengusap hidungnya yang terasa gatal. Merasa bingung sendiri tak biasanya terasa gatal seperti ini.

"Ada apa, Naruto?" Naruto menatap seseorang di sampingnya sebelum kembali mengalihkan pandangannya kedalam loker.

"Aku tidak apa-apa. Tapi rasanya ada yang sedang membicarakanku." tuduhnya, mengusap sekali lagi kala hidungnya mendadak gatal kembali.

"Pfft, haha, tak biasanya kau PD seperti itu." ejek Sakura yang duduk di bangku istirahat di belakang Naruto. Naruto mendengus mendengarnya.

"Oh, iya. Kakashi-Sensei memintaku menjadi meneger tim. Bagaimana menurutmu?" tanya Sakura meminta pendapat pada pemuda pirang di hadapannya yang sibuk sendiri berganti baju. Memang sedikit malu saat menatap tubuh itu, namun ia telah biasa melihatnya. Jadi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja seolah gugup yang ada tak pernah terjadi padanya.

Naruto berbalik dengan alisnya yang terangkat.

"Kenapa bertanya padaku? Bukan itu tergantung padamu, Sakura-Chan." tanggap Naruto begitu saja dan berbalik pada lokernya. Sakura cemberut, namun setelahnya tersenyum menyeringai dengan pandangan jahilnya.

"Bagaimana, ya? Sebaiknya kuterima saja. Sepertinya mengasyikan menonton Sasuke-kun berlatih di lapangan." ujarnya dengan nada yang dibuat-buat. Menanti sesuatu yang akan berubah dari mimik sosok pirang di hadapannya itu. Merasa rindu akan sesuatu yang tak pernah ia lihat lagi semenjak mereka menjalin hubungan. Ia tersenyum.

Mendengar hal tersebut Naruto merasa bendera perang telah berkibar disana. Memutar otak berusaha menandingi apa yang baru saja Sakura ucapkan. Hingga ia menyeringai ketika menemukan sesuatu. "Hm, Bagaimana, ya? Apa sebaiknya kuterima saja perasaan Shion-Chan tempo hari? Dia MANIS sekali." Ujar Naruto dengan penekanan dalam kata 'Manis'-nya. Tak nyambung memang. Tapi itu akan jadi senjata yang ampuh baginya. Ia terkekeh dalam hati.

"Atau menerima cinta dari Hinata-Chan tadi pagi? Sepertinya dia yang paling perfect." Ucapnya lagi seakan belum puas memanas-manasi gadis merah jambunya. Seringaiannya tersembunyi di pintu loker. Menghitung dalam hati interval sebuah ledakan yang akan terdengar.

"Aargh, Baka Pirang!" Jerit kesal Sakura memecahkan tawa Naruto.

'Tuh, 'kan?'

"Sasuke, lihatlah!" tunjuk Neji dengan matanya pada Sasuke. Menunjuk pada pintu masuk dari gedung olahraga yang menontonkan satu persatu pemain dari tim KSA yang telah sampai disini. Memerhatikan bagaimana tiap pemain bercakap santai satu sama lain. Sasuke menyipit.

"Hm, aku tak melihat perbedaan yang mencolok dari tim lapis dua." Ujarnya. Menilik satu-per satu anggota tim lawan dan menilainya secara fisik.

"T-Tunggu, hanya lima orang? Mereka bercanda?" dahi Neji berkerut, tak mengerti akan pemikiran dan situasi lawan saat ini.

"Berarti pelatih benar. Tak ada pemain cadangan dari tim inti yang mereka punya." ucap Sasuke.

"Nomor 4, hm jadi dia Nara Shikamaru, ya? Kapten tim KSA yang pelatih bicarakan. Tapi yang kulihat hanya pemain pemalas yang kerjanya menguap saja. Sebagai Point Guard harusnya dia fokus." gumam Kiba tak jelas. "Dan Nomor 6 itu Shooting Guard mereka, Uzumaki Nagato. Nomor 7, Center, Shimura Sai. Nomor 9, Power Guard , Genma. Dan nomor 8, Small Forward mereka, Namikaze Menma. Hmm, benar apa yang Sasuke katakan tentang penampilan mereka yang tak ada bedanya dengan lapis dua." Ujarnya lagi tak bosan bercerocos. Mengamati tiap wajah agar memudahkannya mengenali lawan. Sampai ia menemukan sesuatu yang mengganjal dari salah satu pemain mereka.

"Apa hanya perasaanku atau dia mirip dengan seseorang yang ku kenal?" Ucapnya sedikit mata menyipit menunjuk seseorang dengan nomor tiga di punggunya. Berambut hitam dengan permata biru dan tiga garis tipis di masing-masing pipinya.

"D-Dia..." Semua pemain terbelalak.

"Sekarang kita kedatangan tamu, ya?"

Naruto mengangguk. Mengikat tali sepatunya dengan kuat dan telaten. Takut-takut itu lepas dan mempermalukannya karena lepas dan terjatuh.

"... dan yang kutahu, semua teman SMP kita berhasil masuk ke KSA, bukan?"

Naruto kembali mengangguk tanpa mau membuka mulutnya. Bangkit berdiri dan mengusap-usap rambutnya menjadi berantakan sebelum mulai berjalan meninggalkan ruang ganti pemain di ikuti Sakura di belakangnya.

"Lawan kita adalah Menma. Aku sudah tidak sabar melihat permainannya." Gumam Naruto dengan senyum samar yang tak Sakura lihat. Bukan sebuah senyuman biasa, namun begitu berat dan berbeda.

.

.

.

Kiba mengoper bola pada Lee cepat, membiarkan pria berambut bob itu menggiring benda orange itu ke bawah ring dan melakukan lay up pada jala lawan menambah skor.

Teet


07:43

Konoha v KSA

15 (1) 06


"Oy, Oy, Oy. Bukan, 'kah ini terlalu mudah?" gumam Kiba. Menilik pemain lawan yang terlihat tak menunjukan aksi perlawanan yang berarti. Padahal waktu telah berjalan cukup lama ia rasa.

'Ini terlalu aneh.' pikir Sasuke. Merentangkan tangan di hadapan pemain bernomor 7, Shimura Sai, yang tengah mendreable bola.

"Apa aku sedang berkaca? Kau mirip dengaku. Jika saja rambutmu sedikit lebih pendek, aku pasti bisa merasakan apa yang Menma alami." Ujar pemuda itu, berlari kekiri dan memegang bola dengan kedua tangannya bermaksud melakukan passing.

"Mungkin nenek buyutmu adalah nenek buyutku juga." Jawab Sasuke datar. Mengayunkan tangan kanannya guna menepis bola dari Sai.

Pak

Tangannya berhasil menepis bola yang selanjutnya ia berlari mengejar bola itu. Mendreable dan langsung melakukan tugasnya dengan Three point Shoot.

"Are, bukan itu lelucon yang bagus? Kenapa dia tak tertawa?" ujar Sai sembari menyentuh dagunya dengan telapak tangan. Memusingkan dirinya sendiri dengan pikiran aneh tentang lelucon Sasuke.

Plush

Teet


06:23

Konoha v KSA

18 (1) 06


'Kuso! Kami yang menyerang, kenapa kami yang tertekan? Apa ini?' racau Sasuke dalam hati. Menatap tajam para pemain KSA yang terlihat santai menerima semua itu. Seakan semua serangan yang mereka lakukan bukan sesuatu yang perlu ditakuti. 'Mereka terlalu meremehkan kami!' geram Sasuke.

"Maaf aku terlambat, Pelatih." Kakashi mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru datang dan mengalihkan kembali pandangannya pada lapangan.

"Ie, tidak apa-apa." Ujar Kakashi. Naruto turut mendudukan diri diikuti Sakura disampingnya.

"Sedang tertekan ya?" Gumam Sakura. Kakashi kembali mengalihkan pandangannya kesamping mengarah Sakura.

"Ya, seperti itulah. Aku tak tahu apa yang mereka rencanakan, dan seperti yang terlihat. Meski skor kita yang memimpin, justru kita lah yang tengah ditekan di permainan ini." jelas pria berambut putih itu membeberkan situasi yang terjadi.

"Sou?" ujar Naruto turut mengalihkan pandangan ke lapangan.

Teet


00:00

Konoha v KSA

29 (1) 14


"Kuso!" ujar Kiba sembari meremas surai coklatnya. Terduduk di bangku dengan giginya yang saling bergemerutuk. Sasuke hanya memerhatikannya tanpa berbicara.

"Oha, bukankah itu Kapten Naruto? Lama tak bertemu." ujar seseorang berambut coklat sembari mengangkat tangan tanda salam. Pemain nomor 10, Genma. Melambai heboh meminta atensi.

Semua tim Konoha terbelalak mendengarnya, kecuali Naruto dan Sakura tentunya.

"A-apa maksudmu memanggil Naruto kapten?" ucap Kiba terbata saking tak percaya-nya. Menunjuk orang yang dituju dengan jari yang bergetar.

Genma tersenyum lebar. Saat akan berjalan, Seseorang lain berambut hitam dengan gaya peneaple hair style menepuk pundak pemain tadi. Aura kelam keluar dari tubuh sang pria nanas.

"Mendokusei, kau menganggap itu tahun berapa? Sekarang yang menjadi kapten saat ini adalah aku." Ujarnya yang terdengar malas namun penuh dengan intimidasi di dalamnya. Genma bergidik ngeri.

"Hm, tapi aneh, yang memakai nomor 4 justru bukan Naruto. Malah saudara kembarku yang memakainya." ujar Sai dengan senyumnya. Mulai berjalan mendekati mereka.

Jauh di sana Sasuke menggeram kesal, bisa-bisanya dia dianggap sama dengan mayat hidup itu.

Naruto berdiri dari duduknya. Berjalan santai pada mereka pemain KSA yang baru saja menyapanya. "Lama tak bertemu, Genma, Shikamaru, Sai, Nagato dan..." Naruto tersenyum.

"... Ototou." ujarnya.

Krik

Krik

Krik

"Aree~!" teriak semua pemain Konoha tak percaya.

"A-Apa telingaku tersumbat kumbang raksasa?" ujar Shino yang bahkan tak diperdulikan yang lainnya.

"A-aku sempat curiga, dari manapun memang dia mirip Naruto-kun, tapi tetap saja aku sulit mempercayainya." kali ini Lee yang berbicara. Menatap tanpa berkedip pada sosok bersurai hitam yang berjalan kearah Naruto.

"Salahmu sendiri yang menyewa apartemen sendiri dari pada hidup bersama kami, Aniki." ujar pemuda itu. Tangannya terlipat di depan dada dengan wajah malasnya.

"Khehe, maaf-maaf. Aku hanya tak mau terlalu jauh dari sekolah."

Tim Konoha sweatdrop melihat perbedaan sikap yang mencolok diantara keduanya.

"Aku sering dengar tentang pasangan kembar itu tak akan memiliki sifat yang sama, Dan aku percaya sekarang." ujar Neji pelan.

Priiit

Peluit peringatan terdengar dari sisi KSA, memberi isyarat pada semua pemainnya untuk segera bersiap menyusun rencana.

"Sudah waktunya, Aniki. Kali ini aku akan memulainya. Pastikan kau berada di lapangan kali ini." ujar Menma sebelum berbalik menjauhi Naruto. Berkumpul kembali dengan pemain KSA yang lain dan mengatur strategi. Naruto sendiri hanya tersenyum. Ikut berbalik dan bergabung dengan timnya.

"Yosh, karena Naruto sudah ada..."

"Tunggu, pelatih. Aku masih belum bisa bekerja sama dengan semuanya. Sebaiknya mainkan saja Kiba sampai aku siap." potong Naruto. Menggaruk pelipisnya dengan senyuman grogi.

Kakashi mengangguk. "Berarti tidak ada perubahan formasi, lakukan seperti tadi dan hancurkan!" perintah Kakashi. Berpegangan pada pundak para pemainnya yang membuat formasi melingkar.

"Konoha!"

"Fight!"

"Kukira mereka bakal memasukan Naruto." ujar Sai entah berbicara dengan siapa. Memerhatikan sejumput benda pirang yang duduk bersenda gurau dengan permen gula kapas di bangku cadangan.

"Entahlah, tapi aku tahu persis apa yang dipikirkan kakaknya Menma itu." Ucap Shikamaru di sampingnya. Mengusap ubun-ubunnya dengan mimik malas kebiasaannya. "Baiklah, Semua. Meski Naruto tidak masuk, kita lakukan semua seperti yang ku bicarakan sebelumnya. Mengerti?!" teriak Shikamaru pada semua.

"Ha!" teriak mereka semangat.

.

.

.

"Kalau begini aku tak perlu menahannya seperti tadi, bukan?!" ujar Kiba percaya diri. Sedikit terprovikasi akan ucapan Shikamaru dan kawan-kawan.

"Tapi jangan lengah dulu, Kiba. Dipertandingan final kemarin kau selalu kehilangan bola, bisa dibilang kau yang hampir membuat tim kita tak bisa memenangkan piala musim panas." peringat Shino pada Kiba. Meski matanya tertutup kacamata hitam, Kiba dapat merasakan tajamnya manik milik Shino. Kiba mendengus.

"Iya, Iya." ogahnya.

Priit

Bola berasal dari tim KSA, bermula dari passing Genma pada Shikamaru yang mendreablenya hingga tengah lapangan. Manik hitamnya memerhatikan sekitar, seakan mengamati seluruh celah dan memperhitungkan semua kemungkinan.

Duk

Dan ia menyeringai saat melihat gelagat dari Sasuke yang akan berusaha maju ke arahnya. Menghiraukan Neji yang tengah herdiri di hadapannya, kakinya melebar dan dengan cepat bola beralih dari tangan kanan ke tangan kiri dengan media selangkangannya membuat pergerakan Neji dan Sasuke terhenti sejenak dengan kedua kaki mereka yang melebar hingga setelahnya Shika melakukan operan lurus dari celah kaki Neji ke celah kaki Sasuke dengan sekali pantul ke lantai. Keduanya terbelalak, mereka sadar jarak antara keduanya -Neji dan Sasuke-terpaut cukup jauh dan sangat tidak mungkin melakukan bounce pass dengan perantara jarak yang jauh sementara bola memantul sekali.

Tap

Nagato yang tadi sempat berjongkok untuk menangkap bola mulai menegapkan tubuhnya. Melakukan kuda-kuda bersiap melakukan shooting.

"Tiga untuk kami." ujar sosok berambut merah itu, melompat dan langsung melepaskan bola melakukan shooting dari luar kotak.

Plush

Teeet


09:40

Konoha v KSA

29 (2) 17


"He-Hebat." gumam Lee tak percaya akan kerjasama Shikamaru dan Nagato. Merasa semua itu tak mungkin untuk dilakukan. Bahkan logika tak mampu menjelaskan.

"Maaf saja, meski ini hanya pertandingan latihan, tapi kami tidak akan kalah." Ucap Shikamaru. Terlampau percaya diri dengan apa yang telah dilakukannya.

"Souka?" Sasuke pun ikut menyeringai. "Kita lihat saja." ujar sang kapten Konoha itu.

Bola dimulai dari konoha. Bermula ketika Shino memberi umpan lurus pada pemuda bertaring didekatnya itu.

"Nice!" ucap Kiba menerima bola dari Shino dari bawah ring. Menggiring bola dengan mata yang senantiasa memerhatikan kawan.

"Kiba!" teriak Shino yang rupanya telah berpindah ke sisi Kanan, memasang gerak tangan meminta bola. Kiba mengangguk dan mengopernya dengan cepat.

Dari balik kaca mata, Shino mencari celah. Terus memantulkan bolanya kelantai sembari waspada jika saja bolanya terebut.

"Sangat aneh memakai kacamata renang saat bermain basket, tapi matamu tajam sekali." Ujar Genma dihadapannya. Shino tak menghiraukan itu, mengambil langkah mundur dan melakukan shooting pada ring.

"Akan lebih aneh jika aku melihat seluruh lapangan dengan mataku." ujar santai Shino.

Brak

Plush


09:12

Konoha v KSA

32 (1) 17


"Wow, bukan kah hebat jika kau mampu melihat seisi lapangan?" puji Genma sedikit bersuit kala bola memasuki ring dengan memantul pada papan terlebih dahulu.

"Merepotkan jika semua cahaya masuk kematamu secara utuh." Dan Shino mulai berlari kembali ke areanya menyisakan Genma yang tersenyum penuh arti.

"Pelatih, aku tak tahu dia memiliki akurasi yang baik?" tanya Naruto pada Kakashi. Melihat bagaimana shoot dari pemuda berkacamata itu membuatnya penasaran.

"Hm, sebenarnya dia memiliki penglihatan 360 derajat layaknya seekor capung atapun Lalat yang mampu melihat sekitarnya. Namun karena sensitifitas mata pada cahaya membuatnya kesulitan untuk memaksimalkan potensinya. Seakan cahaya lampu mematikan sistem saraf." jelas Kakashi. Naruto mengangguk mengerti.

"Tapi, kacamata Shino bukan hanya menurunkan intensitas Cahaya. Namun secara langsung mengurangi jarak penglihatan 360 derajatnya menjadi setengah lapangan. Tapi itu tidak buruk, dengan kemampuan Defense-nya yang kuat, aku bisa menggunakannya sebagai Guard yang baik bersama dengan Kiba." tambah Kakashi lagi.

"Merepotkan sekali." gumam Shikamaru. Merasa malas sendiri dengan point yang semakin tertinggal jauh akibat three point dari Shino.

"Nagato, Genma. Giliran kalian, kejar pointnya secepat mungkin di lima menit kedepan. Jangan buang-buang waktu. Dan empat menit selanjutnya, Kita bersenang-senang." ujarnya dengan nada yang tak ubahnya seperti tadi. "Bukan begitu, Menma?" manik tajamnya melirik sosok beberapa kaki di belakangnya. Shika mengangkat tangan guna menerima bola dari sosok tersebut.

"Tentu saja, akan ku paksa dia masuk." Ujar sosok itu dengan seringaian. Berjalan santai ke arahnya. Shikamaru mendengus.

"Mendokusei." dan Shikamaru mulai berlari, mendreable dengan tenang memerhatikan situasi.

"Genma!" dan ia langsung melemparkan bola itu cepat pada pemuda bernama Genma tadi yang ditangkap dengan sempurna oleh orang itu.

"Nice!" ujarnya. Berbalik memunggi seseorang sembari mengangkat tangan keatas saat Neji mencoba merebutnya.

"Sial!" geram Neji. Genma menyeringai.

"Ohoho, tenang lah." dan salah satu tangannya terlepas dari bola sementara tangan yang lain mengayunkan bola melambung ke belakang tubuh melewati Neji dan beberapa pemain Konoha yang tak mampu mengantisipasi passing dadakan itu.

"Three point-nya untuk Nagato." bisik Genma membuat Neji mengalihkan pandangannya cepat mengikuti arah bola melambung. Matanya terbelalak.

"Mana bisa..."

Grep

Nagato menerima bola dengan baik menggunakan tangan kiri dan menggerakannya cepat hingga bola telah tersentuh kedua tangannya sebelum melakukan lemparan three point pada ring. Hampir tidak ada jeda dalam gerakannya seakan ia terbiasa menerima operan dadakan dari Genma.

Syuut

"Tentu saja bisa." Enteng Genma. Dan dengan deras, bola menukik tajam ke arah ring menerobos masuk pada ring.

Plush

Teeet


09:02

Konoha v KSA

32 (2) 20


Naruto tersenyum samar. Menyaksikan bagaimana kerja sama Genma dan Nagato semakin meningkat dibanding saat ia masih satu grup dengan mereka. Tingkat akurasi operan Genma yang mampu memberikan Passing yang tak mungkin dan kemampuan Nagato menerima umpan sulit dari Genma kemudian melakukan Shooting tanpa jeda membuat waktu lebih efektif bagi KSA.

"Bukan mereka semakin berkembang?" Naruto mengalihkan pandangannya pada Sakura. Ia tersenyum.

"Ah, tentu saja." ia alihkan kembali menuju lapangan.

"Jangan lagi." Ujar Neji prustasi, melihat bola berputar di udara dan mengarah pada Nagato. Dan seperti beberapa tembakan sebelumnya, bola dengan cepat langsung di tembakan ke arah ring oleh pemuda berambut merah darah tersebut.

Plus

Teet


05:56

Konoha v KSA

42 (1) 41


"Khaha, Bagus, Nagato. Kita dou kombi terbaik senegara Hi kurasa." Genma mengacungkan tinjunya kearah Nagato yang langsung direspon pemuda berambut merah itu.

"Hm, itu sudah pasti." balas pemuda itu.

Di belakangnya pemain Konoha menatap kepergian dua pemuda itu dengan wajah yang amburadul. Keringat bercucur dengan nafas yang memburu. Tentu saja, mati-matian tim Konoha merebut ataupun memblok bola yang terus saja mengalir di tim KSA. Loncatan, larian atau pun pergantian 'Marking player' terus terjadi. Namun seakan jalur laju bola tak bisa dihentikan, pergerakan cepat yang seharusnya dapat menghambat laju operan malah berbalik pada keadaan masing-masing yang semakin menurun. Membuat seakan Konoha perlahan-lahan terkubur dalam permainan KSA.

"Pelatih, aku sudah siap." Naruto bangkit berdiri. Menghirup nafas sebelum mengeluarkannya perlahan lalu menatap Kakashi.

Kalashi mengangguk mengerti, dirinya ikut berdiri.

Teet~

"Cih, padahal aku masih ingin bermain." gumam Kiba berjalan lunglai kearah Naruto membuat si pirang meringis.

"Maaf, Kiba." Ia mengacungkan tinjunya. Kiba membalas.

"Ya, aku mengerti." ujar ogah-ogahan Kiba. Naruto tersenyum dan langsung memasuki lapangan.

"Wow, sang Kapten sudah masuk ya?" Sai berbicara dengan senyum andalannya.

"Domo, Sai." salam Naruto.

Seseorang datang padanya. Berjalan santai dan berhenti dihadapan Naruto. Saling berpandangan mengamati manik saphire masing-masing. "Aku sudah menunggu ini, Aniki. Akan aku tunjukan apa yang telah kuraih selama kau tidak ada." si rambut hitam menyeringai. Mengangkat tangan di depan wajah sang kakak seolah ingin mencengkramnya. "Akan kuhancurkan." bisik tajam sang adik. Sedang Naruto bergeming tak takut, malah tersenyum menanggapinya.

"Hm, Tentu saja. Kau boleh mengerahkan semua kemampuanmu. Tapi tentu aku tidak memberikannya dengan percuma." Naruto tersenyum, mulai berbalik dan menuju tempatnya bermain. Semakin menjauh dari Menma yang menatap kepergiannya.

"Kau akan menyesalinya, Aniki." Menma menyeringai.


TBC