holla SylphWolf di sini! Sebenernya SylphWolf ini anak kelas 9, jadi bulan-bulan kemarin sibuk belajar buat UN! *cielah* doain saya lulus dengan nilai memuaskan yah! =A=
sebagai author baru, SylphWolf kegirangan sendiri karena dapet review ._.
Pichipichi-pit: terimakasih udah baca! terimakasih pujiannya! *fly* cerita Ciel jadi iblis itu sebenernya cerita di anime Kuroshitsuji II :) keep reading yah! mudah-mudahan tambah penasaran. hehe :3
Lafinyo: terimakasih! anda ga bego kok ._.v hehe
AraAra Siluman Katak: ee... yah... begitulah... akhirnya hari ini update ._. maaf kelamaan~~ tolong ampuni author stres ini #eh
Demonic Side
Disclaimer: Kuroshitsuji dan Kuroshitsuji II milik Yana Toboso. Tapi tokoh Aquarine Vodaffe dan Rangel berlisensi, punya saya! xD
Genre: Ga jelas~
Background (time): After-story dari anime Kuroshitsuji II
Warning! Novel-like. Yang kurang suka bahasa (agak) baku dan cerita yang (kayaknya) agak rumit, lebih baik hengkang (!) Don't like don't read, RnR please! ^.^
.
Angin malam terasa dingin menusuk kulit. Bulan enggan menampakkan wajahnya, membiarkan bumi terlihat lebih gelap… lebih sendu. Claude mengamati sekitar, berdiri di atas atap pondok kayu milik Aqua. Hannah duduk di sampingnya, mengenakan gaun gothic loli berwarna hitam dengan aksen turquoise. Mereka berdua menyapa kesunyian malam dengan kebisuan.
Aqua melangkah keluar pondok dan menengadah. Ia mendapati ekspresi keras kedua iblis itu. Dengan lembut Aqua memanggil mereka, meminta mereka turun dan menikmati makan malam yang telah ia siapkan dengan susah payah.
"Besok aku akan pergi berburu, jadi kita bisa makan daging," ujar Aqua sembari menata meja.
Claude memasukkan kacamatanya ke dalam saku. "Tidak perlu, biar aku yang berburu."
Aqua memandangi Claude dalam diam. Lelaki tegap itu menyantap hidangan yang ada tanpa protes, menikmati setiap sendok yang masuk ke mulutnya. Hannah sempat mengajaknya bicara, dan mengelus kepalanya perlahan untuk menunjukkan rasa sayang.
"Apa kabar Ruka dan Alois, Hannah?" tanya Aqua ragu. Ia ingin mengangkat suatu topik untuk dibicarakan, namun ia bimbang.
Perempuan berkulit gelap itu tersenyum. Ia mengelus perutnya lembut dan berkata, "Kurasa mereka baik-baik saja. Mereka bersama dan akan saling melindungi."
Segaris senyum lega terlukis di wajah Aqua. "Syukurlah. Aku juga ingin saling melindungi dengan kalian berdua."
Terdengar suara dentingan alumunium. Ternyata Claude yang tak sengaja menjatuhkan sendok makannya. Ia berjongkok untuk mengambilnya, dan muncul kembali dengan wajah muram.
"Aku akan melindungimu, Aqua," sela Hannah. Ia menunjukkan air muka yang paling penuh kasih sayang yang pernah terlihat di Kuroshitsuji. "Percayalah padaku, dan juga pada Rangel."
Gadis berusia enam belas tahun itu menggeleng. "Tidak. Aku meminta Rangel untuk menjadikanku pelindung. Jangan menganggapku lemah, Hannah."
"Dia benar. Dia gadis yang kuat. Kau kurang pengalaman, Hannah," sahut Claude. Akhirnya ia membuka suara juga, meski ditanggapi dengan ekspresi kesal yang sedemikian rupa oleh Aqua.
Aqua menatap Claude tajam selama tujuh belas detik. Tangannya mengepal menggenggam alat makan. Dan Hannah memerhatikannya dengan tatapan khawatir, walau ia tetap melanjutkan makannya. Claude, yang sadar diawasi, hanya melanjutkan menyantap makanan. Ia berusaha menghindari mata hazel Aqua.
"Claude Faustus, kau tak pernah memanggil namaku."
Claude, yang kini telah menyelesaikan makannya, mengenakan kembali kacamata bergagang peraknya. Ia menatap gadis keras kepala yang duduk di seberangnya. "Apa benar begitu?"
"Ya!" seru Aqua, penuh nafsu. "Aku benci itu. Apa kau bingung untuk memanggilku Aqua atau Rangel? Jangan bodoh! Sekarang aku ini Aqua!" jerit Aqua. Tindakan Claude seakan meragukan dirinya. Tanpa bicara apa-apa lagi Aqua bangkit dan meninggalkan ruang makan, menuju kamarnya. Hannah hendak menyusul, namun dicegah oleh Claude. Aqua dibiarkan menangis sendiri di dalam kamar.
.
.
.
Diri sendiri ialah segalanya,
Dengannya aku tertawa, menangis, menderita.
Kalau kehilangan ini semua,
Biarlah ku terluka, tersayat, tersiksa.
Kata-kata yang ingin kudengar,
Namaku, namaku, namaku.
Kala kau tak tahu siapa aku,
Lihat aku, pandang aku, cintai aku.
Cuma ada satu aku,
Yang berada di hadapanmu.
.
.
.
Claude bodoh… Bodoh! Aku tahu ia bukan siapa-siapa, tapi kenapa ia tidak memanggil namaku? Dia tentu tak menyadari betapa berartinya nama itu untukku… Panggil aku… panggil namaku… Namaku Aqua! Aquarine Vodaffe. Bukan Rangel. Rangel hanyalah iblis yang terikat kontrak denganku. Aku adalah Aqua. Air mata terus menetes dari kedua mata Aqua. Ia mencoba menghentikan alirannya, tapi sulit sekali. Tiada seorang pun yang akan mengerti, nama itu membuat Aqua yakin bahwa ia dan Rangel tetaplah individu yang berbeda. Seharusnya memang begitu, tapi…
Tok tok tok!
Pintu kamar Aqua yang terbuat dari kayu ringan diketuk seseorang. Aqua segera membukakan pintu, karena ia yakin itu Hannah. Dan benarlah, Hannah muncul dengan wajah cemas. Melihat Aqua yang berlinang air mata, Hannah tertohok. Dilingkarkannya kedua lengannya ke bahu Aqua, mendekap gadis itu dan turut menangis bersamanya.
"Claude memang selalu dingin, Aqua… Aku mengerti perasaanmu. Aku sangat mengerti," ucap Hannah. "Tapi, Aqua, kalau ini memang berat bagimu, kenapa kamu meminta Rangel masuk ke dalam tubuhmu?"
Aqua menyeka air matanya dengan lengan gaun birunya. "Karena itulah hal yang diajarkan ayah padaku. 'Panggillah seorang iblis dan suruh ia masuk ke dalam tubuhmu.' Itu adalah pesan beliau yang selalu kuingat."
Tangan Hannah memegangi kedua pundak Aqua. "Aqua, sebagai iblis aku memang tidak pantas mengatakan hal ini. Tapi aku menyayangimu—sangat menyayangimu. Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku sungguh-sungguh menyayangimu. Berbeda dengan Claude. Iblis sejenis dia dan Sebastian hanya memikirkan makanan!"
Dalam kesedihannya, Aqua memaksakan diri tersenyum. Ia dapat merasakan gemetar tangan dan suara Hannah. Tatapan matanya yang lurus dan dalam, mengandung arti. Mata itu tidak mungkin berbohong padanya. Hannah mengatakan hal yang sebenarnya.
"Aku tahu, Hannah. Aku percaya padamu."
Lagi, Hannah memeluk Aqua. Sebagai seorang iblis, ia berterimakasih karena Aqua telah memberikannya kesempatan untuk merasakan cinta yang tulus dan murni di kehidupannya yang kedua.
.
.
.
Ciel mengetuk pintu kayu itu pelan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kesabarannya habis dan ia mulai berteriak. Tak terhenti di situ, ia mulai menendang pintu itu. Pintu malang, yang nyaris ambruk oleh tenaga Ciel yang luar biasa sejak menjadi iblis.
"Sebentar!" seru Aqua dari dalam pondok. Terdengar suara kerompyang nyaring dan jeda sesaat. Kemudian Aqua muncul di hadapan Ciel yang sudah berwajah keras. Aqua tertegun. Ia tak menyangka akan mendapati Ciel di depan pondoknya.
"Ada perlu apa?"
"Jangan berbasa-basi. Aku ingin bertemu Hannah. Mana dia?" tanya Ciel sinis. Mata merahnya mendelik pada Aqua.
"Aah~ Aku tidak tahu."
"Jangan macam-macam!" Ciel merangsek maju dan menekan Aqua ke dinding. Dengan sukses tubuh Aqua bertubrukan dengan dinding dan menimbulkan suara keras. "Kalau Hannah tidak ada, Rangel pun cukup. Panggil dia."
Aqua nyaris menangis karena kesakitan. Ia memandang Ciel geram. Wajahnya memerah. "Tidak!"
~TBC~
Author's note: chap 2 selesai. how's it? dimohon reviewnya. jangan pelit-pelit #maksa hehe. btw puisi yang diselipkan di atas itu bikinan SylphWolf khusus untuk fic ini, judulnya "The Only Me". maaf kalau jelek. thanks for reading, keep reading yah! :);)
