Dialah yang pertama memanggil namaku. Dialah orang yang kusukai pertama kalinya dalam hidupku.

Sedangkan dia, orang yang pertama mengatakan ingin dekat denganku, yang pertama memintaku untuk menjadi seorang teman.

Kim Junmyeon, Zhang Yixing

Bolehkah aku berharap kalian menjadi bagian terpenting dalam kesempurnaan hidupku?

BaekhyunSamaa Present

Can I?

.

.

.

Aku menatap kotak-kotak marmer berwarna putih keabuan yang kini kupijaki. Ini adalah rumah Suho, dan disinilah aku, memulai belajar bersama dengan mereka. Suho mengusulkan rumahnya untuk digunakan sebagai area belajar kami, karena ia bilang rumahnya sepi. Hanya ada dirinya dan adiknya.

"Oke, sekarang sebaiknya kita saling berkenalan dulu. Mungkin beberapa ada yang sudah mengenal, tapi apa salahnya jika kita mengenalkan diri lagi?"

Suho membuka awal pertemuan kelompok kami. Aku tahu, yang ia maksud belum dikenal adalah aku, tapi entah mengapa aku tak tersinggung. Mungkin karena cara mengatakannya yang sopan.

"Kyungsoo-ah, bisa kau memulainya?" ucapan Suho membawaku kembali dari pertualanganku dialam pikiran. Aku mempererat cengkraman tanganku pada celana sekolahku, memulai perkenalanku dengan gugup.

"A-aku Do Kyungsoo, dari kelas XI A."

Dan entahlah, aku tak tahu ada yang memperhatikanku atau tidak.

"Ahaha…. Kyungsoo-ah, kalau yang itu kami sudah tahu. Bisakah kau memberikan informasi yang lebih spesifik seperti alamat rumah, tanggal lahir, atau apa saja yang bisa membuat kami lebih mengenalmu?"

Suho tertawa renyah sekarang.

Aku yang masih gugup, mencoba mengangkat kepalaku pelan-pelan. "Aku, lahir 19 Januari 1993" kataku memberi informasi yang lebih spesifik. Mereka semua lalu mengangguk-ngangguk, kemudian memperkenalkan diri mereka masing-masing.

"Jadi Kyungsoo, kau harus memanggilku Suho-hyung, mengerti?" Ucap Suho setelah perkenalannya. Aku tersenyum, namun kulihat sebuah tatapan sinis dari seseorang.

Lay? Kenapa ia menatapku begitu?

.

.

.

"Kyungsoo, apa kau yakin akan pulang dengan bus? Ini sudah hampir malam, apa tak sebaiknya kau menumpang dengan yang lain? Sepertinya rumah Lay searah denganmu, bukan begitu?" Suho menolehkan pandangannya kearah Lay, yang kini hanya mengangguk singkat tanpa ekspresi. Benarkah tanpa ekspresi? Aku merasa ada sedikit ekspresi yang sama dengan tadi.

"Bagaimana?" Suho bertanya padaku lagi, meminta keputusan. Aku menggeleng, tak mau membuat Lay semakin tak suka padaku.

"Tidak hyung, aku bisa pulang sendiri"

Aku melangkahkan kakiku menuju pelataran rumahnya, membuka gerbang, lalu membungkuk berpamitan.

Kini aku telah sampai dihalte bus. Suho benar, disini sepi sekali, dan sepertinya akan lama menunggu bus datang.

Apa keputusanku ini salah?

Apa sebaiknya aku kembali dan meminta tumpangan pada Lay?

Dari jauh kulihat mobil Lay datang kearahku. Oh, Tuhan, kau benar-benar memberikan jalan keluar untuk masalahku.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan kedepan halte, terus melihat kearah pengendara mobil, berharap ia menoleh dan melihatku.

Jarak mobil semakin dekat

Syukurlah Ia menoleh

Dan ia melihatku,

Namun,

Mengapa mobilnya tidak melambat?

Mobil Lay melaju cepat didepanku, membuat tiupan angin dan debu-debu berterbangan disekitarku. Aku mengipas-ngipaskan tanganku, lalu melepas kacamataku dan menggosoknya.

Do Kyungsoo, bukankah harusnya kau tahu Lay tak akan memberikan tumpangan untukmu?

.

.

.

Aku masih terduduk di halte bus yang sepi ini. Sudah jam 7 malam, dan sama sekali tidak ada Bus yang datang.

Apa yang harus ku lakukan?

Siapa yang harus kuhubungi?

Orang tuaku?

Aku bahkan tak tahu mereka dimana

Saudara?

Kekasih?

Teman?

Bukankah aku tak memiliki semua itu?

Aku menghembuskan nafas pelan, sedikit menghilangkan sesak didada yang entah karena apa. Do Kyungsoo yang hidupnya tak memiliki apapun, mengapa bisa sampai menghayal untuk hidup sempurna?

Itu sungguh tak mungkin Do Kyungsoo, jadi sadarlah!

Tiiit Tiiit…..

Bunyi klakson sebuah Mini Bus membuyarkan lamunanku, membuatku tersadar dan segera melambai-lambaikan tangan sambil maju kejalan raya, berharap sang supir melihatku. Yah, kali ini harus ada yang menyadari keberadaanku.

"YAH, BOCAH! KAU MAU MATI, EOH?" sang supir keluar mobil.

"KAU TAK LIHAT AKU SEDANG BURU-BURU? Pemilik Bus ini sedang menungguku, KAU TAHU?" Ia terlihat memarahiku, mengambil ancang ancang hendak menjitak kepalaku.

Aku hanya menunduk terdiam, bersiap-siap dijitak olehnya.

Tiba-tiba saja handphonenya bergetar, yang kemudian dengan cepat diangkatnya.

"Yeoboseyo"

"…..…"

Nada bicaranya langsung berubah. Ia terlihat dengan seksama mendengarkan.

"Berbicara dengan pria kecil?"

"…..."

Dia menatapku sekilas. Lalu kembali sibuk dengan telephonenya.

"Ah, tadi dia menyabrang terburu-buru, jadi-"

"….."

"Ne Boss."

Sang supir kini menutup telephonenya, dan mengalihkan pandangannya padaku. Tunggu dulu, kenapa tatapannya menjadi ramah?

"Oh, maaf Tuan, tadi saya sedang marah, takut dimarahi oleh Boss."

Ia terlihat canggung dan menggaruk tengkuknya. Mungkin karena memarahi aku tadi?

"Gwenchana" Balasku sopan.

Ia lalu membukakan pintu Busnya, menggerakkan tangannya menyuruhku masuk.

"Tadi Bossku bilang ia tak jadi pergi, dan menyuruhku mengantar orang yang hampir kutabrak saja" ucapnya dengan nada seakan meyakinkan. Aku mengangguk, tak mau kesempatan langka terbuang. Aku pun berjalan kearah kursi paling belakang, yang berada didekat jendela tentu saja.

Entahlah, walau ini sedikit aneh, aku merasa aku harus berterimakasih pada si Boss tadi.

Bersamaan dengan pemikiranku, kulihat sosok tinggi berdiri tak jauh dari halte memandang Bus kami.

Siapa dia?

Mungkinkah Suho-hyung?

Mengetahui kemungkinan hal itu, entah mengapa membuat mukaku memerah karenanya.

Apa aku menyukai Suho-hyung?

.

.

.

Hari ini seperti biasa, aku tetap berada didalam kelas, membaca beberapa buku tebal yang entah berapa kali aku baca. Sekarang adalah jam kosong, dimana para guru sedang mengadakan rapat yang tak bisa ditinggalkan. Semua siswa terlihat bercanda gurau dengan temannya, yang aku tak tahu membahas apa. Mereka terkadang tertawa bersama, dan bahkan mereka menampilkan ekspresi sedih bersamaan juga.

Tuhan, tak bisakah kau kirimkan seseorang seperti itu untukku?

"Do Kyungsoo, kau mendengarku?"

Semua siswa menghentikan aktivitasnya, memusatkan perhatian kepada sang pembicara. Bukankah itu Lay? Kenapa ia memanggil namaku?

"Kyungsoo-ah, maaf kemarin aku tak melihatmu. Aku dengar kau pulang larut malam, benarkah itu?"

Ia menampilkan ekspresi bersalahnya, membuat beberapa decikan kagum terlontar padanya. Ia berwajah sempurna, juga berperilaku baik. Bukankah kau juga berfikir begitu?

"Kyungsoo-ah, andai saja kau tidak menolak ajakanku, kau takkan pulang selarut itu? Semalaman aku merasa bersalah karena itu, kau tahu?"

Ia mendekat kearahku, mngulurkan tangannya, dan menampilkan senyumannya. Dari jauh aku dapat melihat Suho menatap kami sambil tersenyum dan mengangguk, memberikan saran agar aku menjabat tangan Lay.

Kenapa saat berjabat tangan dengannya aku tak merasa hangat?

Lay tersenyum lebih lebar, lalu dengan lembut mengatakan

"Do Kyungsoo, bisakah kau berteman dengan Zhang Yixing? Aku benar-benar ingin dekat denganmu"

Aku mengangkat wajahku, tak percaya dengan apa yang ia katakan.

Lay mengajak seseorang sepertiku berteman?

Apa tidak salah?

Tanpa pikir panjang, aku mengangguk menyetujuinya. Kini ia menampilkan sebuah senyuman, yang tak kuketahui berarti apa.

Yang jelas, dialah orang pertama yang mengatakan ingin dekat denganku, ingin berteman dengan seseorang Do Kyungsoo.

Kalian tahu,

Kini, Aku telah menyukai seseorang

Aku juga telah mendapatkan teman

Tuhan, tak bolehkah aku berharap anugerahmu lebih banyak lagi?

.

.

.

PART 2 END

Special Thanks for uwiechan92, soobaby, dan OhSooYeol atas reviewnya. Terimakasih reviewnya, saya sangat merasa sengan saat membacanya. Ini Kaisoo kok, tapi ada Sudo dan Sulay-nya juga… Saya disini ingin buat castnya Dio-hyung jadi cowok culun, yang pake kacamata tebel, jadi begitulah.

Terimakasih telah membaca…