Akhirnya~ chapter 2! \o/ saya sudah dapet ide tentang chapter ini sejak saya nulis fanfic ini untuk pertama kalinya tapi entah kenapa baru keluar sekarang X3 penyelesaian chapter ini juga didukung oleh reviews positif dari para readers, dan saya masih menunggu review-review lain ^_^
Disclaimer: masih, tidak punya Hetalia (action figure-nya aja saya ga punya, sedih)
Rating: T
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
"Umm... kau mencari Dirk?" tanya Rio ragu-ragu, Kiku mengangguk. "Kalau begitu, masuklah dulu. Biar kubangunkan dia..."
"Ah, tidak perlu, Rio-kun!" kata Kiku cepat-cepat, Rio menatapnya. "Aku hanya ingin... memberikan pesanannya..." Kiku menyerahkan sebuah kotak yang cukup besar, yang dibungkus dengan kertas kado berwarna turquoise. Rio mengerutkan kening. "Apa isinya?" tanya Rio heran.
"Maaf, tapi Dirk-san bilang bahwa aku tidak boleh memberitahukannya pada siapa pun," kata Kiku. Dalam hati, Rio menghela nafas panjang. "Kiku pun tidak akan pernah berubah," pikirnya.
"Ah, apa kau mau masuk dulu?" tanya Rio, rasanya aneh juga mempersilahkan orang masuk ke rumah orang lain sementara kita di rumah orang lain itu hanya berstatus sebagai "pembantu". Kiku mengangguk dan masuk ke dalam rumah Dirk, sementara Rio menutup pintu. "Aku taruh ini dulu di kamar Dirk, kau mau minum?" tanya Rio pada Kiku yang sudah duduk di ruang tamu. "Apa saja boleh," kata Kiku.
Rio mengangguk dan beranjak ke lantai dua lagi. Dia sudah memindahkan Dirk ke atas kasurnya lagi, dan sudah membereskan kamarnya sampai benar-benar rapi. Dirk masih saja tertidur lelap, dan Rio menaruh kotak aneh itu di atas meja kerja Dirk, dan beranjak ke dapur untuk membuat minuman untuk Kiku.
"Terima kasih, Rio-kun," kata Kiku saat Rio memberikannya minuman dan menaruhnya di atas meja. Tidak ada yang berbicara sampai Rio membuka percakapan, "Sudah lama juga, kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Standar," kata Kiku, tersenyum kecil. "Aku sudah bekerja di perusahaan elektronik, 8 jam sehari ditambah lembur. Tidak bisa dibilang menyenangkan tapi tidak apa-apa. Bagaimana denganmu?"
"24 jam bekerja di bawah atap rumah ini," kata Rio ogah-ogahan. "Dirk mendaulatku sebagai pembantunya, dan aku tidak dibayar."
"Pembantu?" ulang Kiku heran, Rio mengangguk. "Sebenarnya... aku sudah ada agenda untuk melanjutkan kuliahku ke Jerman... tapi aku tidak bisa pergi..."
"Kenapa?" tanya Kiku.
Rio hanya tersenyum kecil. "Kalau aku tidak ada, siapa yang mau mengurus Dirk dan Adolph? Michelle kan sudah pulang ke Belgia."
Kiku tersenyum kecil. "Kau sangat perhatian pada Dirk-san, Rio-kun."
Rio tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin wajahnya agak memerah.
"Apa kau masih ingat waktu-waktu saat kita masih sekolah?" tanya Rio, mengalihkan perhatian.
"Ah, saat kau pertama masuk? Kau sekamar dengan Dirk-san, ya kan?" kata Kiku.
"Dan disambut dengan sangat ramah oleh Adolph," kata Rio, nyengir. "Aku masih ingat reaksinya saat Kepala Sekolah bilang kalau aku akan sekamar dengan Dirk."
"Dan Adolph-kun sekamar dengan Gilbert-san," lanjut Kiku, mengangguk kecil. "Aku dengar mereka akhirnya menjadi teman baik."
"Sangat baik," kata Rio. "Sangat baik untuk memporak-porandakan rumah kakaknya sendiri dan membuat aku tidur hanya 3 jam."
"Atau saat pertama kali aku melihatmu?" tanya Rio. "Saat itu kelas Kimia, dan Im Yong Soo tidak sengaja meledakkan lab, ya? Dan dia bersembunyi di belakangku saat kau datang," Rio tertawa.
Kiku tersenyum. "Saat itu kau masih anak baru."
"Yah, dan Dirk langsung mengenalkanku pada murid-murid lain," kata Rio nyengir. "Dan Im Yong Soo langsung mendaulatku sebagai miliknya..."
Kiku menatap Rio yang asyik bercerita. Rasanya sudah lama dia tidak melihat wajah tersenyum itu...
Kiku sedang membereskan kertas-kertas di mejanya, pekerjaan OSIS-nya baru saja selesai dan dia baru akan memberikannya pada Roderich saat Feliciano tiba-tiba mendobrak masuk ke ruang OSIS. "Kiku! Kiku! Gawat!" katanya panik. Pertamanya, Kiku hanya mengira cowok Italia ini akan bilang, "Kita kehabisan pasta!" tapi perkiraannya meleset. "Ada kebarakan di lab Kimia!"
"Apa?" kata Kiku otomatis, Feliciano mengangguk dan Kiku segera beranjak ke arah lab Kimia, diikuti oleh Feliciano. Menyadari sesuatu yang ganjil, dia pun berhenti dan berbalik. "Err, Feliciano-kun, kenapa kau mengikutiku?"
Feliciano menatapnya polos, lalu, "Oh, ya! Aku harus memberitahu yang lain!" dan segera pergi menjauh. Kiku menghela nafas dan segera bergegas ke lab Kimia.
Murid-murid berlalu lalang di koridor yang mengarah ke lab Kimia, ada yang nekat ingin melihat dan ada yang ingin pergi sejauh mungkin kalau-kalau terjadi ledakan. Kiku pun melihat kebanyakan murid-murid yang sedang belajar Kimia sudah berada di luar, beberapa ada yang terkena luka bakar ringan. Di antaranya, Kiku melihat Rio yang terdiam menatap lab Kimia dengan Im Yong Soo di sampingnya.
Yong Soo melihat ke arah Kiku dan langsung memekik. "Hiee!! K-Kiku!" katanya panik, langsung bersembunyi di belakang Rio. Kiku menatap mereka heran. "Yong Soo, berhentilah bersembunyi di belakangku," kata Rio dengan nada lelah. "Ada apa?" tanya Kiku heran. Yong Soo langsung merikuk lebih kecil, tidak berani menatap wajah Kiku.
Rio menghela nafas, lalu berbisik, "Dia yang tidak sengaja meledakkan lab."
"Oi, Kiku? Kau mendengarku?" tanya Rio.
"Ah," kata Kiku, akhirnya kembali ke dunia nyata. "Maaf, Rio-kun..."
Hening.
Sampai suara hand phone Kiku berdering. Kiku melihat ke layar hand phone-nya, lalu beranjak. "Permisi dulu, Rio-kun," dan agak menjauh dari ruang tamu, tapi Rio masih bisa mendengar percakapannya, walau tidak terlalu jelas.
"Heracles-san? Ada apa?
"Ah, aku sedang tidak sibuk...
"M-Malam ini?
"T-Tidak... bukannya aku menolak atau bagaimana...
"Yah, agendaku memang sedang kosong...
"Ah... kalau begitu, baiklah...
"S-Sekarang?
"Baiklah, Heracles-san, mata ashita."
Kiku menutup teleponnya, lalu kembali ke ruang tamu. "Maaf, Rio-kun, tapi aku harus pergi sekarang. Tidak apa-apa, 'kan?" katanya, Rio nyengir. "Tentu saja tidak apa-apa, lagipula kau ingin bertemu dengan Heracles, 'kan?" wajah Kiku memerah. Rio nyengir semakin lebar. Ternyata hubungan mereka belum putus juga, dari pertama Rio masuk ke Hetalia Academy sampai sekarang.
"Oh ya," kata Kiku, mengeluarkan sebuah kotak sedang dari dalam jasnya dan memberikannya pada Rio. Rio mengerutkan kening. "Apa ini?" tanyanya heran, sambil mengantar Kiku keluar rumah. Kiku tersenyum. "Kau boleh membukanya kalau kau mau, Rio-kun," katanya. "Maaf menganggu, sayounara." Kiku pun pergi, Rio menatap punggungnya dengan pandangan heran.
Rio menutup pintu, menatap heran kotak yang diberikan Kiku padanya. Kotak ini terasa ringan, jauh lebih ringan daripada kotak Dirk. Dia menggoyangkannya perlahan, dan tidak ada suara berarti yang keluar. Heran, dia membuka kotak itu.
Sebuah flash disk, edisi terbaru, dengan motif salah satu tokoh anime kesukaan Rio. "Whoa," kata Rio perlahan, mengangkat flash disk itu seakan itu hanya khayalannya. Rio pernah melihat flash disk ini saat dia berjalan-jalan bersama Lee, dan harganya tidak tanggung-tanggung: US$ 100. Rio memang menyukainya dan ingin membelinya, karena kebetulan flash disk lamanya sudah terjangkit virus (gara-gara Dirk dan Adolph).
Rio pun melihat catatan kecil yang terselip di dasar kotak itu. Rio mengambilnya dan membacanya.
Rio-kun,
Selamat ulang tahun. Maaf kalau kau tidak menyukai kado dariku.
Honda Kiku
Rio nyengir kecil. Yah, setidaknya ada satu orang yang mengingat ulang tahunnya...
"Hoo, Kiku itu memberikanmu flash disk untuk kado ulang tahunmu, ya?" sahut sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik pundaknya.
"Waa!!" Rio terpekik kaget, dan langsung berbalik.
Dia menganga, terkejut dan heran.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Seperti yang sudah saya bilang, chapter yang ini ending-nya menggantung X| dan kebetulan saya udah nyelesain setengah chapter 3-nya jadi fanfic ini mulai mendekati akhir (dimana-mana semua juga mendekati akhir) review this or die!! *Switzerland mode on* ^^ becanda!! Tolong review ya!
