This is Story of Our Friendship
This fic © Fuyuhime Ryuu
Cho Kyuhyun (Super Junior) and Shim Changmin (TVXQ) © GOD and themselves
Rated : T
Genre: Friendship, Angst.
Warning! Gaje, abal, EYD gak karuan, Don't like, DON'T READ THEN...!
_o0o_
Happy Reading...
_o0o_
Persahabatan kita itu ibarat angka nol. Tidak pernah berawal dan tak akan pernah berakhir selamanya.
Seorang namja tampan berkulit putih pucat nampak duduk disebuah kursi dengan menggunakan piyama bertuliskan HOSPITAL yang tertulis vertikal. Tangan kirinya nampak memegang sesuatu berwarna hitam dan berbentuk kotak.
Dipandanginya benda itu, dan segera memencet bagian depan tepat dibagian layar yang menyala redup.
"Noona... Kapan kau menjengukku?." Ucapnya dengan suara pelan. Namun ada satu kalimat yang sama tertulis dengan huruf hangeul di atas layar bening ditangannya.
Tidak seberapa lama benda itu berbunyi, Klunthing. Dan tertulis 1 new message.
'Waeyo kyu...? Merindukan noona, eoh? Noona akan pulang sebelum ulang tahunmu bulan depan.' Kalimat itulah yang tertera disana.
"Jeongmal bogoshippoyo... Apa aku bisa bertahan selama itu noona?" Keluhnya pelan. Benda kotak yang ternyata adalah smartphone itu diletakkannya di atas nakas, tak berniat membalas pesan sang kakak.
Kini tangannya meraih satu buah kotak agak besar berwarna cokelat tua. Dibukanya kotak tersebut dan terlihat beberapa kaset CD dengan tulisan dan angka diatasnya. Diambilnya satu dan diperhatikannya dengan seksama. 'Uri shim changmin... Saengil chukae 17th. Wish you all the best...' Begitulah tulisan yang ada disana.
Air mata kyuhyun entah mengapa tiba-tiba meleleh tanpa mampu ditahannya. Diusapnya wajah yang mulai tirus dan tak terlihat adanya semangat disana.
"Kyu... Saatnya minum obat chagi." Seorang wanita setengah baya nampak memasuki kamar namja pucat itu dengan sebuah senyuman yang tak pernah tanggal. Kyuhyun si namja pucat segera menolehkan wajahnya kearah suara tersebut berasal.
"Kyu... Kau lelah?." Tanya wanita itu. Dan dijawab dengan anggukan oleh namja pucat sedikit lemas.
"Mianhae kyu... Mianhae karena tak bisa menjagamu dengan baik... Mianhae tidak bisa menggantikanmu merasakan sakit... Mianhae..." Sekarang berganti wanita yang setegar batu karang itu yang menangis tersedu dan mulai memeluk tubuh kyuhyun. Entah mengapa disetiap katanya terdapat ungkapan penyesalan yang amat sangat. Kyuhyun sungguh merasa menyesal menganggukkan kepalanya, dan mulai berfikir, seburuk apapun perasaannya kini, harusnya dia menggeleng saja.
"Eomma... Eomma... Jangan mengatakannya lagi. Aku sama sekali tidak lelah. Aku baik-baik saja eomma. Oh iya, mana obat yang harus aku minum?. Tolong ambilkan air putihku eomma. Ah, aku juga butuh ember kecilku. Gumawo eomma..." Wajah kyuhyun menampakkan semangat yang jelas dibuat-buat, juga senyuman jahil yang coba diperlihatkan pada sang ibu.
Namun sang ibu nampaknya belum mau melepaskan pelukannya pada anak laki-lakinya itu. "Kyu, ayo kita coba berobat ke Amerika. Aku yakin disana kau akan mendapat perawatan yang lebih baik." Aliran bening itu masih setia mengalir dari sudut kelopak mata yang sudah mulai banyak kerutan itu.
Kyuhyun yang kini dapat melihat wajah sang ibu segera mengusap pelan air mata yang seakan tak pernah mengering itu. "Mari melakukannya eomma, tapi aku mohon eomma jangan menangis seperti ini. Eomma tahu?, ketika eomma menangis, sakitku berkali lipat rasanya. Aku mohon tersenyumlah eomma meski sangat sulit. Dan aku akan baik-baik saja. Hm...?" Mohon kyuhyun dan mencium kedua pipi sang ibu lembut. Sedang sang ibu hanya mengangguk pelan sambil mengeluarkan kembali senyumannya yang sempat menghilang.
_o0o_
"Akhirnya kau masuk kyu... Kau tahu, hari tanpamu benar-benar kelabu." Changmin namja bertampang cool itu segera meraih leher sang sahabat. "Ah, kau sakit kyu?. Wajahmu pucat loh...?" Changmin tentu saja kaget melihat tampang sahabatnya yang nampak layu itu. Telunjuknya terus menunjuk pada pipi kyuhyun yang nampak dingin.
"Hah... Anemiaku kambuh lagi minnie. Liburanku benar-benar mengerikan." Balas kyuhyun malas.
"Memang apa yang kau lakukan?. Kau kecapekan?." Mata changmin kini membola.
"Ehm... Banyak, dan tidak ada satupun yang tak merepotkan." Masih dengan tampang malasnya.
"Kalau begitu ayo cepat ke kelas kyu..." Ajak changmin semangat dan menyeret lengan sang sahabat dengan kasar.
"Appo min... Pelan-pelan... Nanti aku bisa pingsan kalau seperti ini." Pekik kyuhyun kesal.
"Haruskah aku menggendongmu, mama (red: yang mulia)?." Wajah menyebalkan changmin membuat kyuhyun memutar bola matanya.
"Kau namja. Kau tak bisa menarik kalimatmu. Cha, gendong aku kalau gitu." Kini ganti kyuhyun yang memamerkan senyum setannya.
"Aku tidak mau menggendongmu kalau bukan bridal style." Senyuman changmin nampak menantang.
"Itu malah lebih baik lagi. Cepatlah minnie, kau terlalu banyak mengoceh. Bel masuk sudah hampir berbunyi." Perintah kyuhyun mutlak.
"Ka.. kau serius kyu...?"
"Apa aku terlihat main-main?."
Changmin hanya menggelengkan kepalanya lemas. "Kalau begitu aku gendong dipunggung saja. Aku malu menggendongmu bridal style. Bisa-bisa aku dibunuh gadis-gadis yang menyukaimu."
"Whatever" Kyuhyun segera menaiki punggung lebar sang sahabat.
"Aufh... Eh... Tubuhmu ringan sekali kyu?. Tapi Tetap saja, kau tega sekali kyu. Kan aku malu." Keluh changmin meski tetap saja dia mulai berjalan pelan.
"Kau yang memintanya minnie. Diamlah... Fokus pada jalan. Aku tidak suka jatuh dari punggungmu yang tinggi." Perintah kyuhyun lagi.
Changmin terus saja mengumpat dan mengomel sepanjang jalan, namun tetap saja sang sahabat menempel manis di punggungnya. Kedua tangannya saling tertaut di leher changmin, berharap tak terjatuh. Dan kepalanya bersandar dipunggung sahabatnya yang cukup lebar itu. 'Mianhae chinguya... Aku lelah sekali dan tak sanggup berjalan. Gumawo tumpangannya, kau benar-benar pengertian' Batin kyuhyun menyesal. Sebuah senyum samar terlihat dari bibirnya yang pucat.
"Sama-sama..." Seakan changmin mendengar setiap kalimat yang terucap dari dalam hati sahabatnya itu. Changmin pun tak mampu menyembunyikan senyumannya sambil mengeratkan gendongannya. Kyuhyun semakin menyembunyikan wajahnya dipunggung changmin tanpa peduli bagaimana orang lain memandang keduanya.
_o0o_
"Changmin oppa, bisakah kita bicara sebentar?." Seorang yeoja cantik berambut hitam lurus nampak menyapa shim changmin saat dirinya dengan kyuhyun hendak berjalan menuju kantin pada jam istirahat itu.
Kyuhyun yang segera menyadari posisinya segera berlalu berniat meninggalkan keduanya. "Aku tunggu di kantin minnie..." Changminpun mengangguk dan segera menuju ke sisi lain yang cukup lenggang.
"Ada apa...?." Changmin sama sekali tidak tahu siapa nama gadis dihadapannya saat ini sedikit kebingungan untuk menyapanya.
"Namaku yoora, Im yoora. Oppa, aku sudah lama ingin mengatakan ini tapi aku tidak memiliki keberanian sebelumnya." Wajah si gadis mulai memerah. "Saranghaeyo oppa, maukah oppa menjadi namjachingu ku?." Tangan yoora tak bisa berhenti untuk saling terpaut.
"Mianhae yoora sshi. Aku belum bisa menerima perasaanmu. Bukankah kita belum saling mengenal. Bagaimana kalau kita berteman dulu, Otte?."Changmin segera mengulurkan jemari kurusnya kehadapan si gadis.
"Ah... Be.. benar juga. Kita belum saling mengenal. Aku ma... mau jadi temanmu changmin oppa." Sambut gadis itu masih dengan wajahnya yang bersemu bak kepiting rebus.
"Temanku sedang menunggu, aku pergi dulu nde...? Mau ikut?." Tanya changmin masih dengan senyuman menawannya.
"Ah... Aku juga harus menemui teman-temanku. Mungkin lain kali aku akan bergabung denganmu oppa." Wajah si gadis nampak semakin cantik saat tersenyum tulus.
"Aku akan menunggunya. Bye..." Ucap changmin sambil berlalu. Seakan matahari yang tengah bersinar menyilaukan dimata sang gadis, dirinyapun membalas lambaian tangan yang sangat jarang dilihatnya itu.
.
.
.
"Aigoo... Cassanova kita datang." Sindir kyuhyun saat sang sahabat kini tengah duduk disampingnya.
"Aku bukan cassanova kyu. Aku hanya tidak suka menyakiti perasaan lembut seorang gadis. Aku kan bukan kau kyu, yang menolak gadis dengan kejam." Balas changmin yang dihadiahi cibiran oleh kyuhyun.
"Aku memang tak sepertimu minnie. Itu karena aku tak punya banyak waktu untuk bersenang-senang." Kyuhyun segera memasukkan sesuap kecil nasi kari dihadapannya.
"Alasan..." Balas changmin dan segera menelan makanan yang sama dihadapannya.
"Ne minnie, Setelah ini ayo kita keatap sekolah. Kita bolos sekali-sekali. Otte?." Kyuhyun segera mengeluarkan senyum setannya. Dan dijawab acungan jempol oleh changmin.
_o0o_
"Ah... Dinginnya..."Keluh changmin sambil mengeratkan jaket tebal yang membungkus tubuhnya. "Kita ngapain disini kyu...?. Sepertinya otakmu sedikit bermasalah."
"Hm... Minnie. Ada yang ingin aku katakan padamu." Entah mengapa mata changmin segera membelalak lebar. "Tidak mungkin..." Kyuhyun bingung mendengar kalimat changmin tersebut. Padahal dirinya belum mengatakan apapun. Tidak mungkin kan changmin bisa membaca pikirannya?.
"Tidak mungkin kau mau mengatakan perasaanmu padaku kan kyu?. Ingat kyu, aku masih normal, ne...?" Kyuhyun langsung cengo saat itu juga. "Otakmu yang tidak normal minnie." Balas kyuhyun dingin sedang changmin tergelak seketika.
"Baiklah... Apa yang mau kau katakan?" Tanya changmin setelah puas tertawa.
"Aku akan ke vienna minnie." Ucap kyuhyun lirih.
"Liburan?. Mengunjungi ahra noona...?." Changmin kini mulai memandang intens ke arah sang sahabat meski pertanyaan santai yang diucapkannya.
"Aku akan menetap disana." Balas kyuhyun singkat.
"Waeyo...?" Kini suara changmin turut melemah.
"Eomma dan appa yang merencanakannya. Mereka ingin aku menemani noona disana."
"Oke. Kita masih bisa bertemu saat liburan. Ahra noona selalu pulang saat libur." Kyuhyun hanya tersenyum lembut, begitu juga dengan changmin.
"Aku senang kamu bisa mengerti minnie, gumawo. Geunde Mian, ulang tahun ini, mungkin kita tidak bisa merayakannya bersama." Kyuhyun jelas sangat menyesal dengan setiap kalimat yang diucapkannya.
"Gwenchana, Aku juga bukan anak kecil lagi kyu. Kapan kau akan berangkat?." Wajah changmin sudah mulai memerah.
"Besok." Jawab kyuhyun singkat. "Secepat itu?" Changmin semakin heran. Biasanya kyuhyun akan membicarakan hal sepenting itu dengannya jauh-jauh hari sebelum pergi.
"Ehm..." Kyuhyun nampak mengangguk pelan.
"Oke, sampaikan salamku pada ahra noona. Aku sangat merindukannya. Telphon aku kalau kau sempat. Aku kembali kekelas dulu. Segera menyusul, cuacanya mulai buruk." Changmin segera berlalu dari hadapan kyuhyun.
"Mianhae minnie... Mianhae..." Lirihnya pelan saat punggung changmin sudah tak nampak lagi. Air matanya terus mengalir tanpa mampu dipendamnya lagi.
_o0o_
Kyuhyun tengah sibuk dengan persiapannya untuk bepergian esok, meski tidak bisa dibilang dia sendiri yang mengepak segala keperluannya, setidaknya dialah yang memilih barang mana saja yang akan dibawanya. Namun pandangannya terus tertuju pada handphonenya yang sejak tadi tak berbunyi.
Dilihatnya lagi pesan terkirim dilayar hp nya.
'Changminnie, kau tadi kemana?'
'Changminnie, siswa nakal. Kenapa tidak kembali kekelas tadi, eoh?'
'Kau tak ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya minnie?. Setelah hari ini, kau pasti akan merindukanku loh... :P'
'Minnie, kenapa kau tak mau balas sms ku?. Kau juga tak mengangkat telphon mu. Wae?. Kau bilang tidak apa-apa. Tapi kau terlihat buruk jika seperti ini.'
'Minnie...'
Kyuhyun menghela nafas lelah. Dia sungguh tak suka dengan suasana buruk seperi ini.
"Kyu... Makanlah dan segera minum obatmu. Istirahat yang cukup, perjalanan kita besok akan sangat melelahkan." Nyonya cho nampak memasuki kamar putranya yang tengah duduk di atas tempat tidurnya itu.
"Eomma, aku bisa minta tolong pada eomma?." Nyonya cho segera duduk disebelah sang putra tercinta. "Katakan kyu. Apa yang bisa eomma bantu, eoh?." Balas nyonya cho lembut.
"Eomma, aku akan terus berjuang untuk hidup. Tapi, kalau aku sudah tak mampu lagi, bisakah eomma berikan ini pada changminnie tepat ketika ulang tahunnya?." Sebuah amplop berwarna biru kini mulai berpindah ketangan nyonya cho.
"Apa yang kau katakan kyu. Kau harus memberikannya sendiri. Eomma tidak mau tahu." Mata nyonya cho mulai berembun.
Kyuhyun segera mendekap tubuh sang ibu berharap mampu menenangkan wanita yang dihormatinya itu. "Eomma... Jangan seperti ini nde?. Ada kalanya seseorang itu tidak bisa melewati batas takdir yang dituliskan Tuhan. Aku mohon eomma, mengertilah."
"Kyu, kau sudah berjanji pada eomma untuk terus berjuang. Kau bilang tak suka melihat eomma menangis, kyu. Kau mau mengingkari janjimu sendiri eoh.?" Tanya sang ibu pelan penuh dengan isakan.
"Anni eomma. Aku akan terus berjuang untuk itu. Tapi aku tak bisa menjanjikan lebih dari itu eomma. Eomma aku juga tidak ingin seperti ini." Kini kyuhyun ikut terisak. Tak mampu lagi berpura-pura menjadi namja kuat seperti sebelumnya.
Menyadari sisi rapuh sang putra, nyonya cho segera menghapus air matanya dan juga air mata sang putra, dan mencoba tersenyum setelahnya. "Iya, kau hanya perlu untuk terus berjuang kyu. Hasilnya, mari kita pasrahkan pada Tuhan saja." Ucap nyonya cho lembut.
"Eomma..." Kyuhyun yang masih terisak memilih untuk memeluk tubuh sang ibu kembali. Nyonya cho membalas pelukan hangat sang putra sambil mengelus rambut kyuhyun yang sudah banyak berkurang ketebalannya. "Jangan katakan apapun kepada sahabatku eomma, jangan katakan pada siapapun tentang keadaanku. Aku akan memberitahunya sendiri nanti, suatu hari nanti, jika waktu masih berpihak padaku. Berjanjilah padaku eomma." Pinta sang putra untuk yang kesekian kalinya semenjak vonis untuknya seakan mengubur semangat hidupnya yang membara selama ini.
Sang ibu hanya mampu mengangguk menjawab itu semua.
_o0o_
Changmin tengah bermain-main dengan hanphonenya usai makan malam. Berkali-kali dibacanya ulang pesan yang dikirim oleh sahabatnya.
Matanya nampak memerah dan pipinya dihiasi oleh lelehan air berwarna bening. "Kau benar-benar akan pergi kyu?. Aku pasti akan menyesal tidak menemuimu, tapi aku tidak mau kau melihatku yang buruk begini. Aku malu kyu."
Changmin memilih merebahkan tubuhnya dan menutup matanya. Mencoba melupakan apapun yang terjadi hari ini. Berusaha memasuki alam mimpi yang tak pernah menyakitinya.
_o0o_
"Kau siap kyu?." Tanya nyonya cho yang telah menenteng tas tangannya. Sedangkan kyuhyun yang menggendong tas coklat kecil dipunggungnya nampak mengangguk pelan. "Cha, ayo berangkat." Kini sang ayah yang mengatakannya.
Ketiganya segera berjalan pelan menuju pelataran rumah. Seorang supir pribadi sudah nampak menunggu diluar pintu mobil berwarna hiam metalik itu.
Tuan cho segera memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang disamping tempat susuk sang supir. Begitu juga dengan nyonya cho yang memilih untuk duduk dikursi penumpang sebelah kanan dan menyisakan ruang kosong yang tentu saja merupakan bagian kyuhyun yang masih terus tertegun menatap rumahnya. Setelahnya dia terus menatap arah jalan, seakan ada seseorang yang tengah ditunggunya.
"Kyu, palli..." Nyonya cho sedikit menyentak lamunan putranya yang berbuah senyuman tipis dari kyuhyun. "Ehm..." Jawabnya dan segera memasuki mobilnya.
'Selamat tinggal rumah, selamat tinggal jalan, selamat tinggal changmin, selamat tinggal semuanya.' Batin kyuhyun kemudian memandang kearah depan. Mobil yang dikendarainya segera melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan nowon-gu.
_o0o_
Namja tampan berambut kuning itu nampak menggeliat santai ditempat tidurnya. Dia hari ini memang tak memiliki niatan untuk berangkat sekolah seperti biasanya, toh tak ada yang melarangnya bolos atau memarahinya sedikitpun.
Dirinya segera teringat dengan kalimat sahabatnya yang mengatakan akan berangkat ke vienna hari ini juga. Di ambilnya hp berwarna putih disamping bantalnya, berniat untuk menghubungi sahabatnya.
Namun sebuah pesan singkat nampak sudah singgah dihandphonenya. 'Minnie... Mianhae. Aku berangkat dulu. Meski kau sedikit jahat padaku, tapi aku tetap janji akan mengirimimu kejutan ulang tahun untukmu nanti. Bukankah kau sangat menyukai kejutan?.' Dan emoticon big smile yang menjadi akhir dari pesan singkat tersebut terlihat mengejek.
Changmin segera melihat waktu pengiriman, dan ternyata sudah 3 jam yang lalu. Changmin mencoba menghubungi nomor sang sahabat, namun nomornya sudah tidak aktif. Changmin yakin, kyuhyun kini pasti sudah berada dipesawat, tengah duduk manis dan memejamkan matanya.
"Kita pasti akan bertemu lagi kan?." Ucap changmin lirih sambil tersenyum lembut. "Aku masih berharap kau hanya mengerjaiku saja kyu." Lanjutnya, dan air matanya kembali mengalir.
_o0o_
#1 February 20xx
Sudah hampir satu bulan kyuhyun mendekam dalam rumah sakit super lengkap di USA. Cho ahra nampak duduk manis dikursi tepat disamping tempat tidur sang dongsaeng.
"Mau makan kue mu kyu. Noona sudah membelikannya untukmu." Ahra segera mengambil sekotak kue kering dengan model lucu dan terlihat lezat.
"Aku mau jjangmyeon noona, uhuk... uhuk... " Balas kyuhyun disambut dengan batuk yang tak mampu ditahannya. Jemarinya yang mulai mengurus terus saja menekan bagian dadanya berharap sakit yang dirasanya akan berkurang. Bibirnya sudah mulai kering. Sangat kering malah. Tubuhnya terasa lemas setelah kegiatan muntah yang hampir seharian tadi dan batuk yang sampai saat ini masih belum mampu dijinakkannya.
"Kau ini selalu mencari yang tidak ada kyu. Makanlah... bisa-bisa kau meninggal bukan karena penyakitmu tapi karena kelaparan kyu." Kyuhyun tak mampu menahan tawa mendengar kalimat sang kakak. Meski jelas terdengar nada getir pada ucapannya.
"Nanti noona, nanti aku pasti memakannya. Sekarang lidahku masih tidak bisa merasakan apapun. Noona bayangkan, kalau makan sesuatu tapi tidak ada rasanya, kan seperti makan pasir." Wajah kyuhyun terlihat mengernyit membayangkan rasanya dan bergidik kemudian.
"Oke... Kau sudah janji dan kau tidak boleh berbohong pada noona. Arra...?" Ucap ahra dan segera memasukkannya lagi kedalam lemari pendingin kecil yang ada di ruangan rawat inap kyuhyun.
"Noona... Neomu jhoaeyo..." Kyuhyun tiba-tiba meraih tangan sang kakak yang sudah kembali ke posisinya.
"Nado uri kyunnie." Balas sang noona sambil menyentil pelan hidung bangir adiknya.
"Noona, Kau tahu kan aku masih terus berjuang noona?. Kau juga tahu kan aku bertahan untuk kalian?. Kalau noona, kalau aku tak lagi mampu untuk bertahan, aku mohon jaga appa dan eomma untuk bagian ku juga ya noona?. Segeralah menikah noona, sepertinya namja yang kau kenalkan pada kami adalah namja baik dan bertanggung jawab. Cepatlah punya anak yang banyak agar appa dan eomma tidak akan pernah merasa kesepian. Aku akan selalu berdoa yang terbaik untukmu noona. Dan lagi, aku tidak mau kalian semua menangis karena aku. Bukankah aku sudah memberi kalian setiap senyumanku?." Ucap kyuhyun panjang lebar seakan dia tidak akan bisa mengatakan apapun lagi setelahnya.
"Kau ngomong apa sih kyu?. Noona seorang wanita. Jika noona sudah menikah, tentu saja noona akan mengikuti suami noona. Jadi kau yang harus menjaga dan berada disisi eomma." Balas ahra. Matanya yang bening mulai berembun.
"Kan aku mengatakan hanya kalau noona. Aigoo..." Ucap kyuhyun kesal, bibirnya dibuat mengerucut imut.
"Jangan berkata seperti itu, seakan kamu sudah lelah kyu." Cho ahra masih nampak berlinang.
"Arra... Mianhae..." Balas kyuhyun dan segera merangkul tubuh kecil sang kakak. "Padahal kan seharusnya aku yang kesal. Kenapa jadi aku yang minta maaf, Ah...Noona menyebalkan." Sungut kyuhyun pelan yang akhirnya dihadiahi jitakan manis oleh ahra.
"Noona ke kamar mandi dulu kyu. Mau cuci muka. Lihat, kau membuat noona hampir menangis." Ahra memperlihatkan matanya yang memerah.
"Aku yakin matamu kena iritasi bukan karena aku membuatmu menangis noona." Balas kyuhyun sambil memamerkan evil smilenya.
"Yha... Ini jelas-jelas karena kamu. Masih tak mau mengaku. Dasar evil." Balas ahra dan segera berbalik menuju kamar mandi yang tersedia diruangan tersebut.
"Noona... Neomu gwiyowo..." Pekik kyuhyun dan mendapat lemparan death glare dari ahra yang sama sekali tak membuat kyuhyun takut. Kyuhyun justru terkikik seperti bocah gila.
_o0o_
Changmin nampak bersantai dibawah pohon sakura yang masih belum bersedia melelehkan es beku disetiap dahannya.
"Kyu, aku merindukanmu chingu." Cairan bening itu kembali menghiasi wajah putih shim changmin. Entah sudah yang keberapa kali setelah sahabatnya memilih untuk pergi kenegara lain.
Bukan karena kyuhyun yang tak pernah menghubungi changmin, hanya saja changmin sendiri masih takut terluka. Mengingat sang sahabat yang memilih meninggalkannya.
Egois memang, tapi mau bagaimana lagi, hatinya begitu sakit ketika suatu pagi dirinya tak lagi bisa menemukan senyum cerah sang sahabat.
Handphone ditangannya terus saja diputar-putar searah jarum jam, "Aku merindukanmu kyu. Aku tidak bisa seperti ini terus." Ucapnya cepat. Segera ditekannya layar hp ditangannya mencari nomor kontak sang sahabat.
"Changminnie... Bogoshippoyo..." Suara diseberang segera meledak sesaat setelah changmin mendengar satu kali suara tut dari seberang. Memaksanya untuk menjauhkan telinga tersayangnya dari suara kencang beresonansi tinggi itu.
"Astaga kyu, Telingaku bisa kehilangan fungsinya kalau kau begini." Maki changmin pelan.
"Mianhae, aku sungguh senang kau menelphone ku minnie. Kau kemana saja?. Aku sms tidak membalas, aku telphone tidak kau angkat. Aku pikir kau membenciku minnie."Pekik kyuhyun bagai anak kecil atau mungkin juga pasangan kekasih yang lama tak bertemu.
"Mianhae, Geundae aku kan bukan kekasihmu. Kau tak berhak mengaturku, arra...?" Balas changmin cuek.
"Aigoo, kau berubah minnie. Aku jadi sedih. Kau tahu aku bisa mati merindukanmu?. Tapi kau sepertinya baik-baik saja tanpaku. Baguslah kalau begitu." Suara kyuhyun terdengar menyedihkan dan pasrah dalam satu kalimat.
"Tidak merindukanmu, pantatmu itu. Aku hampir gila setiap hari menangis karena ingin bertemu denganmu kyu." Air mata changmin mulai meleleh tanpa mampu dihentikannya. Changmin sudah tak bisa lagi berpura-pura kuat dari sang sahabat.
Saling diam untuk sesaat. Berusaha menguasai perasaan mereka yang tenggelam dalam kesedihan.
"Minnie... Bagaimana mengatakannya padamu tentang keadaanku?." Suara dari seberang kembali terdengar.
"Apa maksudmu?. Kau tak kerasan disana?." Tanya changmin dengan matanya yang membola.
"Hm..." Jawab kyuhyun singkat.
"Apa kau sakit? Suaramu sedikit berbeda."
"Hm..."
"Kau sakit karena tak kerasan disana?"
"Sepertinya begitu."
"Kau tak ingin kembali ke sini?"
"Tentu saja aku ingin"
"Kenapa kau tak kembali saja?. Lupakan tentang sekolah disana"
"Aku tidak bisa minnie."
"Karena orang tuamu?"
"Salah satunya."
"Haruskah aku membantumu untuk mengatakan pada ajjushi dan ahjumma?."
"Ehm... Kau tak akan bisa mengubah pikiran mereka."
"Wae?."
Tiba-tiba panggilan sudah berakhir sebelum changmin menuntaskan pembicaraannya. "Ah s#*l... Pulsa ku habis..." Changmin segera menggeram kesal. Diusap wajahnya kasar mengingat hal tersebut.
_o0o_
Kyuhyun kembali melihat layar handphonenya. Entah mengapa hatinya begitu berbunga-bunga setelah mendengar suara sang sahabat.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia..." Canda sang ibu yang tengah duduk sambil membaca majalah style dihadapannya.
Kyuhyun masih terus tersenyum tak berniat menanggapi kalimat sang ibu. "Changmin... Tidak membenciku ternyata eomma." Kyuhyun segera menatap sang ibu dan memperlihatkan puppy eyesnya yang lucu.
"Eomma kan sudah bilang kyu. Sahabatmu tak mungkin membencimu." Jawab sang eomma pelan.
"Eomma, aku sudah makan banyak, aku sudah meminum obatku, sudah mendengar suara changmin, sudah melihat noona, dan sekarang aku merasa sangat ngantuk. Aku sudah boleh tidur eomma?." Tanya kyuhyun dengan nada merajuk.
Nyonya cho sedikit merasa tercekat dengan kalimat sang putra. "Kalau kau begitu lelah, tidurlah kyu. Eomma akan menemanimu disini. Tapi bangunlah dalam setengah jam, arra...?" Jawab sang ibu pelan.
"Mianhae eomma. Sebenarnya aku masih ingin menemani eomma sampai appa kemari. Tapi mataku sedikit tidak bersahabat." Kyuhyun segera menutup matanya perlahan. Sebuah senyuman nampak indah dibibirnya.
Nyonya cho segera mengelus rambut sang putra pelan. Rambut yang sedikit tumbuh usai menerima jenis pengobatan yang berbeda. 'Tidurlah kyu, mimpi yang indah.' Batin nyonya cho pelan.
Kyuhyun nampak sudah terlelap dalam tidurnya yang tenang tengah malam itu. Namun tiba-tiba alat pendeteksi jantung menunjukkan suara yang sedikit janggal. Nyonya cho dengan sigap segera memencet tombol merah diatas ranjang sang putra dengan sangat panik. Sementara tangan kanannya terus saja mencoba membangunkan sang putra yang entah mengapa tak peduli dengan tangisan sang ibu, tidak seperti sebelumnya.
Seorang dokter dan beberapa perawat nampak bergegas dengan langkah cepat memasuki ruang pasien yang kyuhyun tempati.
"Tolong anda keluar dulu nyonya, kami harus memeriksa keadaan putra anda." Pinta seorang yeoja berpakaian khas perawat menggunakan bahasa inggris yang lancar dan fasih. Nyonya cho terpaksa mengikuti perintah yeoja tersebut, meski dalam hati nyonya cho begitu ingin terus mendampingi sang putra.
"Yeobo... Palli... Jebal..." Kaki nyonya cho lemas seketika setelah mengatakan kalimat yang sama sekali tak dimengerti siapapun tersebut.
Tak butuh waktu 15 menit tuan cho sudah berada disamping sang istri yang tak lagi mampu berdiri dan kini tengah terduduk lemas dilantai yang dingin. Tuan cho segera memeluk tubuh lemas sang istri yang begitu disanjungnya itu. Sementara cho ahra hanya terdiam sambil berdiri, takut untuk menanyakan apapun tentang keadaan sang adik tercinta.
Beberapa menit setelahnya dokter dan beberapa perawat itu sudah keluar dari ruangan tersebut dengan peluh yang mengucur dan wajah lemas yang nampak jelas menyesal. Keluarga tuan cho segera mengerubungi namja tinggi berhidung mancung itu antusias.
"We are apologize. We can't save Mr. cho kyuhyun. We were do the best for him". Ucap namja berambut kelabu dan berkacamata di hadapan tuan cho pelan. Sang dokter segera berlalu dari hadapan tuan cho.
Tuan cho seakan membeku seketika mendengar kalimat yang diucapkan sang dokter tersebut. "Yeobo... Eottoke...?" Nyonya cho segera memeluk tubuh sang suami. Dunianya seakan runtuh saat itu juga.
"Kanker paru-paru yang dideritanya sudah menyebar terlalu parah keseluruh tubuhnya sejak anda membawanya kemari. Kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengatasinya. Maafkan kami tidak bisa menyelamatkannya nyonya. Putra anda sudah berjuang dengan sangat gigih dan luar biasa tuan dan nyonya cho." Seorang perawat yang berambut hitam digulung itu menjelaskan dalam bahasa korea. Suster yang memilih untuk segera beranjak dari tempat tersebut jelas terlihat sedih, mengingat kyuhyun adalah pasien yang selalu dibawah tanggung jawabnya.
Keluarga cho segera memasuki ruangan sang putra yang sudah nampak dibersihkan dari alat-alat yang melilit tubuhnya.
"Kyu... Cho kyuhyun putraku..." Tuan cho segera membuka kain putih yang menutup seluruh bagian tubuhnya. Diciuminya wajah tampan yang pucat dibalik kain tersebut. Begitu juga dengan nyonya cho. Sementara sang kakak memilih berdiri disamping sang ayah dan menggenggam tangan dingin adik kandungnya itu. Dadanya begitu sesak hingga sulit baginya untuk menghela oksigen disekitar ruangan tersebut.
Ahra segera mencium tangan sang adik sambil berkata, "Kyu... Apakah meninggalkan kami adalah pilihan terbaik yang diberikan takdir untukmu?. Apakah begini membuatmu bahagia?. Apa dengan begini, kau tidak merasakan sakit?. Kalau kepergianmu ini membuatmu senang, kalau dengan begini kau terbebas dari rasa sakit, kami juga akan baik-baik saja kyu. Noona akan menjaga appa dan eomma seperti yang kau minta, tapi noona mohon, berbahagialah disana. Terimakasih telah menjadi bagian dari kami, adikku yang kusayangi, keluarga yang aku cintai." Ahra segera meminta tempat sang ayah dan mencium dahi kyuhyun sangat lama, seakan dirinya tak mau lagi berpisah dengan raga sang adik.
"Noona mohon, biarkan kami menangis untuk saat ini saja. Biarkan kami menangis untuk saat ini saja kyu." Suara ahra mulai bergetar. Begitu pilu hatinya melihat sang adik terus menutup matanya erat. Namun dia terus berusaha untuk tegar demi sang adik.
Sang eomma kini tak mampu lagi berdiri dengan tegak. "Padahal kurang sehari lagi putra kita berusia 17 tahun yeobo... Kenapa dia sama sekali tak mau bersabar?" Tuan cho segera meraih tubuh lemas sang istri dan dipeluknya erat, berharap dapat membagi kekuatan yang dimilikinya.
Tubuh kyuhyun semakin dingin, meski begitu kyuhyun seakan tak mau mendengar tangisan dari sang ibu. Dan disadari maupun tidak, bibir kyuhyun nampak melengkung membentuk huruf U yang tipis, sangat tipis seperti senyum tulusnya yang biasa diberikan untuk siapapun.
_o0o_
#S. Korea, 3 Februari 20xx. pukul 00:30 KST.
Changmin terus saja berusaha menghubungi nomor sang sahabat yang tak mau aktif semenjak kali terakhir changmin berbicara dan kehabisan pulsa.
"Aigoo... Namja ini, apa dia sudah punya yeoja...?. Dia melupakanku... Jinjja." Changmin yang merasa kesal terus saja mencoba menghubungi nomor sang sahabat berkali-kali hingga ia merasa jengah juga dibuatnya dan memutuskan untuk tidur saja. Meski sebelumnya, bibirnya sempat mengucapkan, "Saengil chukka hamnida chinguya..." pelan.
_o0o_
#Washington DC, 2 February 20xx Pukul 10:30 UST (United State Time)
Keluarga cho nampak duduk di apartemen yang sudah menjadi milik keluarga cho. wajah lelah, letih dan juga kesedihan jelas menjadi penghias tersendiri di raut muka mereka.
"Kapan kita akan kembali ke korea appa?. Kapan kita menguburkan kyunnie appa?." Tanya ahra dengan suaranya yang lirih hampir tak terdengar.
"Hari ini ahra ya... Appa sudah memesan tiket. Aku ingin kyuhyun melihat rumahnya saat masih tanggal 3 februari, tepat diulang tahunnya yang tak sempat dirasakannya." Suara tuan cho tak kalah parau.
Nyonya cho masih setia memandangi jenazah sang putra yang sudah nampak tampan dengan balutan tuxedo hitam ditubuhnya. Beberapa bunga lily putih dan bunga lain berwarna putih nampak menghiasi kotak petinya.
Mereka kembali terdiam, sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
_o0o_
# , 18 February 20xx. Pukul 03:45 KST
Shim changmin masih sibuk dengan PSP ditangannya. "Tahun ini sepertinya tidak akan ada yang akan memberiku kejutan." Ucapnya pelan. "Menyebalkan tanpa mu kyu... Kapan kau liburan dan mengunjungiku?." Lanjut changmin.
PSP ditangannya segera diletakkannya begitu saja. Matanya sudah mulai lengket antar kelopaknya. Dan changmin memutuskan untuk berlayar kepulau mimpi. "Saengil chukkae shim changmin. Semoga kau menjadi pria tampan yang populer." Ucapnya pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Selamat siang, saya mencari tuan shim changmin. Ada paket untuknya."Seorang namja dengan topi biru bertengger dikepalanya nampak sibuk berbicara dengan salah satu pembatu dirumah tersebut.
"Ah, saya yang akan menerimanya." Namja setengah baya itu segera membubuhkan tanda tangannya di kertas yang diangsurkan si namja muda.
"Gamsahamnida. Saya permisi dulu." Pamit si namja dan segera berlalu.
"Wah... Besar sekali..." Sebuah kotak sebesar lemari es nampak berdiri gagah didepan pintu rumah yang tak bisa dianggap sederhana itu.
"Ige mwoya ajjusshi?." Changmin nampak melotot melihat kardus yang mungkin hampir sama tinggi dengan dirinya. "Untuk siapa ahjusshi?." Lanjut changmin bertanya.
"Ini untuk anda tuan muda." Balas namja setengah baya yang masih nampak gesit diusianya.
"Dari siapa ya?." Changmin segera meraih amplop yang ada diatas kardus tersebut. Dibacanya dengan teliti tiap kalimat yang tertera disana.
'Changmin ah... Annyeong... JSaengil chukka hamnida uri changminnie... Seperti yang aku janjikan, aku akan memberikan kejutan untukmu di hari istimewamu ini. Pantang bagiku CHO KYUHYUN untuk tak menepati janji. Hehehe...
P.S: Buka sesuai urutan ya...? Ikuti permainannya atau kau akan menyesal. Camkan itu...!'
Changmin segera tersenyum dengan rona wajah bahagia. Ternyata sang sahabat sama sekali tak melupakannya sedikitpun.
"Ahjusshi, tolong bantu aku membawa barang ini ke kamar nde?." Pinta changmin dan segera mengambil salah satu sisi dari barang tersebut.
Dan tanpa menunggu lama, changmin segera membuka setiap bagian dari kardus yang dibungkus dengan sangat rapi itu setelah terletak manis disudut ruangan kamarnya.
Dilihatnya ada kotak dengan angka 1 dan disampingnya angka 25 dengan tumpukan yang tak bisa dikatakan rendah mengingat kotak tersebut hampir penuh. Ada hiasan pita-pita cantik disekitar tutup maupun dalam kardus tersebut. Gemerlap glitter menambah kesan 'wah' dari kardus tersebut.
Bagian atas kardus bertuliskan 'SHIM CHANGMIN'S HIDDEN TREASURES' yang sepertinya ditulis tangan menggunakan beberapa warna yang berbeda seperti hasil karya anak TK.
Dengan hati-hati changmin mengambil kardus dengan nomor 1 besar diatasnya, berwarna hijau muda dengan pita warna merah gelap menjadi pemanis disisi kardus tersebut. Kardus itu tidak begitu lebar, namun panjang dan agak tinggi. Changmin segera membukannya dengan wajah nan berseri-seri.
Sebuah kaset CD bertuliskan 'Uri shim changmin... Saengil chukae 17th. Wish you all the best...' dan sepasang sepatu sepak bola berwarna putih dengan beberapa garis berwarna hitam tergeletak mansi didalam kardus tersebut. Changmin segera mengambil kaset tersebut, dan memasukkannya kedalam pemutar CD yang ada dikamarnya.
Pemandangan awal adalah kyuhyun yang tengah tersenyum dan duduk manis di sofa cokelat tua yang changmin yakini berada di rumah kyuhyun.
"Saengil chukka hamnida... Saengil chukka hamnida... Saranghaeyo uri minnie... Saengil chukka hamnida...Yeyyy..." Kyuhyun terlihat riang dan tersenyum senang.
"Minnie ah... Saengil chukkae... Kau sudah menginjak 17 tahun sekarang?. Kau harusnya tambah tampan meski jangan harap bisa mengalahkan ketampananku yang sempurna. Kekekeke..." Bibir changmin nampak mengerucut lucu mendengar kalimat sang sahabat. Meski sesaat kemudian berubah menjadi lengkungan kearah atas.
"Oiya minnie, kau suka kejutan dariku?. Kau harus suka tak peduli bagaimana." Kyuhyun nampak menjulurkan lidahnya setelah memaksa changmin dengan kejam.
"Ah... Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu minnie. Ini mungkin berita duka tapi aku harus mengatakannya padamu, karena kau adalah sahabat terbaikku." Wajah kyuhyun kini menjadi sedikit mendung.
"Jika hadiah dengan CD ini sampai padamu, mungkin aku memang terpaksa tidak bisa menemanimu melewati angka 17 mu minnie."
"Minnie, selama ini kita tak pernah memiliki rahasia apapun diantara kita. Iyakan?". Changmin nampak mengangguk seakan memang sedang berbincang dengan sang sahabat.
"Aku minta maaf sebelumnya minnie. Aku memiliki suatu hal yang ku sembunyikan darimu. Mianhae... Jeongmal mianhae..."
"Minnie, aku... Ah... minnie... Aku sering memintamu untuk tidak terus menerus meminum minuman berkarbonasi dan memakan junkfood bukan?. Itu karena aku sungguh menyayangimu. Aku tak ingin kau menjadi seperti diriku, minnie."
"Aku bahkan sangat jarang mengonsumsi keduanya, namun... aku..." Kyuhyun terlihat bingung mengatakannya.
"Ah... Minnie... Lihat apa yang terjadi padaku." Dan gambar segera berpindah menjadi ruangan serba putih dengan beberapa alat kedokteran yang saling silang ditubuh kyuhyun.
"Noona... Apa yang kau lakukan?." Ucap kyuhyun dalam video itu dengan lemah.
"Hanya ingin mengabadikan wajah jelekmu saeng... Kekekeke..."
"Kau jahat noona..."
"Katakan sesuatu kyu.."
"Ehm... Aku harus mengatakan apa noona.?."
"Katakan bagaimana perasaanmu saat ini."
"Buruk tentu saja. Aku..." Kyuhyun tiba-tiba terbatuk. Cukup lama untuk ukuran batuk biasa. Ada beberapa cairan berwarna merah yang sempat terlihat dari rekaman singkat itu. Dan setelahnya rekaman berakhir tanpa ending yang jelas, kembali ke sofa sebelumnya.
"Aku terlihat buruk kan min?. Sahabatmu yang tampan ini mengidap kanker paru-paru stadium lanjut. kankernya sudah menginfeksi sebagian besar paru-paruku hingga 32% sejak 7 bulan lalu. Padahal menurut dokter, ketika manusia itu sudah terinfeksi 40%, umumnya manusia tidak akan mampu bertahan tanpa keajaiban. Meski aku terus berusaha untuk melawan, tapi tubuhku tak mau menuruti kehendakku minnie. Tapi asal kau tahu, sahabatmu ini sudah berjuang hingga akhir. Kau terkejut eoh?. Kau ingin tepuk tangan untukku? Lakukanlah. Terimakasih... terimakasih... hehehehe..." Lanjut kyuhyun berusaha tak terbawa emosi. Dirinya justru tertawa meski terasa begitu hambar.
"Min, ini wasiatku sebagai sahabatmu yang baik dan tampan. Kekekeke..." Kyuhyun masih sempat memperlihatkan senyum evilnya yang sedikit menyebalkan. "Kemoterapi itu sakit sekali min. Jangan pernah kau berakhir dikursi pesakitan itu. Kalau berhasil, mungkin hanya memerlukan penyembuhan, tapi kalau tidak, mungkin kau tidak akan tahan dengan sakitnya yang akan kau rasakan selama kau hidup. Kau juga harus menjalani operasi pengangkatan sel kanker, radioterapi, terapi biologis. Semuanya tidak ada yang nikmat kau tahu?. Aku tidak hanya menakutimu min. Tapi kau harus mengikuti saranku. Makanlah makanan yang sehat meski eommonim jarang pulang memasakkan makanan sehat kedai yang kau percayai bisa menjaga gizi pada makanan yang mereka jual. Arra...?" Kyuhyun nampak memelototkan matanya lebar.
"Well, aku minta maaf minnie karena telah merusak suasana bahagia ulang tahunmu yang ke 17. Aku sendiri mungkin tidak bisa merasakan umur 17. Hahahaha... Tapi tidak apa-apa, selama kamu sehat, dan baik-baik saja. Aku akan menikmati umur 17 bersamamu. Keberatan?." Sudah ribuan butir cairan bening itu menetes dari mata changmin. "Kau pasti bercanda kyu."
"Cha, minnie... Coba pakai sepatu barumu. Aku ingin lihat pas tidak dengan ukuranmu. Kakimu kan seperti raksasa. Hahahha..." Changmin kini tak sanggup lagi melihat tayangan video dihadapannya.
Changmin mulai mencari jaket tebal miliknya dan memakainya dengan sedikit tergesa.
"Ini semua adalah kejutanmu untuk setiap tahunnya. Kau tahu kan aku tak mungkin lagi bisa mengejutkanmu lagi. Hahahaha... Jadi jangan dibuka sekalian. Buka lah setiap tahunnya. Kau tidak boleh curang atau aku akan marah minnie..!" Sebuah kardus berwarna besar yang sama persis dengan kardus yang kini berada di lantai kamar changmin terlihat disamping kyuhyun.
Changmin segera mengenakan sepatu pemberian kyuhyun. Air matanya tak mau berhenti menetes, namun tiada isakan dari bibirnya.
"Minnie... Saranghaeyo... Neomu... neomu... neomu... neomu saranghaeyo... Jangan menangis minnie. Aku tahu kamu sedih. Tapi jangan menangis aku mohon. Karena namja tidak boleh menangis minnie. Jangan membuatku malu memiliki sahabat cengeng. Aku sebenarnya tak pernah meninggalkanmu, aku hanya lebih dulu pergi dan akan menunggumu terus mulai sekarang. Disini..." Kyuhyun nampak tersenyum dengan senyuman paling lembut yang dimilikinya.
Changmin sudah mulai keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian tebalnya dan syal yang membelit lehernya.
Didalam otaknya terus saja berucap 'Kyuhyun... cho kyuhyun... kyuhyun...' Seakan menjadi mantra ajaib yang mampu membuatnya merasa tenang.
Dengan linglung dan dengan diantarkan oleh sopir keluarganya, changmin mencoba mencapai rumah keluarga cho yang nampak sepi.
Dipencetnya bel rumah besar itu berkali-kali, hingga seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu rumah tersebut. Antara terkejut dan bingung harus berbuat apa, nyonya cho terus saja memandangi sahabat putranya yang sudah dianggapnya sebagai putranya juga itu. "Changminnie..." Nyonya cho segera merangkul tubuh tinggi namja tersebut. Air matanya sekali lagi tertumpah setelah sekian hari ditahannya dengan sangat.
"Eommonie... Kyuhyun ada dirumah?. Aku ingin bermain game dengannya." Changmin memperlihatkan senyumannya, tapi jelas terlihat kekosongan yang kelam dari sana.
"Changminnie..." Nyonya cho memilih untuk terus mendekap namja tampan dihadapannya itu lebih erat.
"Hari ini aku ulang tahun eommonie. Kyuhyun bercanda denganku, tapi dia agak keterlaluan kali ini. Bolehkah aku memukulnya eommonie...?" Changmin juga turut memeluk wanita yang turut disayanginya itu.
_o0o_
"Kyunnie... Anak itu tak mau membuat siapapun merasa sedih minnie. Mungkin beginilah Tuhan memperlihatkan kasih sayangnya pada kyunnie. Dia tak ingin kyuhyun kami menderita lebih dari ini. Atau mungkin juga Tuhan tahu, bahwa kyunnie sudah pada batasnya." Nyonya cho sudah mulai bisa menguasai dirinya.
"Geundae eommoni... Kenapa kyuhyun sama sekali tidak mengatakannya padaku?. Bukankah aku sahabatnya?. Bahkan dia berbohong harus pindah ke vienna. Aku harus bagaimana untuk memaafkan diriku sendiri yang sama sekali tak menyadari beban sahabatku yang mulai lemah eommoni?." Changmin nampak benar-benar sedih setelah mendengarkan cerita dari nyonya cho.
"Kyunnie menyayangimu changminnie. Dia benar-benar tak ingin membebani dirimu. Aku harap kau juga mengerti niat baiknya nde?." Nyonya cho segera mengelus punggung changmin lembut.
"Bisakah saya menemuinya eommoni." Nyonya cho hanya tersenyum dan segera mengangguk pasti.
_o0o_
"Jadi disini kau beristirahat kyu?. Aku merindukanmu sahabatku." Mau tak mau air mata changmin kembali meleleh, namun segera diusapnya demi tak ingin sang sahabat bersedih dialam tenangnya.
Sebuket lily putih diletakkannya di depan nisan bertuliskan Cho kyuhyun itu. "Semoga kau bahagia, tenang disana, dan tidak mengganggu penghuni yang lain kyu. Aku harap kau menungguku disurga, karena aku tak mau merasakan panasnya neraka. Arra...?" Changmin sedikit tersenyum dengan kalimatnya sendiri, begitu juga dengan nyonya cho.
Bohong kalau keduanya baik-baik saja setelah kehilangan sosok yang begitu berharga bagi mereka. Tapi mereka mencoba tegar, dan menjadikannya sebagai cobaan agar menjadi orang yang lebih kuat, lebih bersyukur dan menghargai kehidupan.
"Ayo pulang minnie. Tidakkah kau merasa dingin?." Nyonya cho segera menggandeng lengan changmin.
"Aku akan sering mengunjungimu kyu..." Ucap changmin seraya tersenyum kearah nisan sahabatnya dan kemudian berlalu bersama nyonya cho.
Tanpa mereka sadari, ada satu sosok transparan yang tersenyum senang sambil melambaikan tangannya, seakan mengatakan sampai jumpa.
_o0o_
#18 February 20xx, 50 years after all
Seorang namja setengah baya yang berada dipertengahan umur 60 an tengah duduk santai diserambi rumahnya. Tangannya yang sudah mulai menunjukkan penuaan itu meraih satu kotak berwarna cokelat muda dengan pita cokelat tua.
Segera dibukanya kotak tersebut, dan sebuah kaset CD serta sebuah topi berwarna cokelat dan sebuah syal tebal berwarna senada nampak menghiasi bagian dalam kotak tersebut.
Dengan langkahnya yang tak lagi gesit, diarahkannya kaki-kaki jenjangnya menuju bagian dalam rumah dan segera memasukkan kaset CD itu kedalam tempatnya.
"Anyyeong changminnie... Saengil chukka hamnida... Saengil chukka hamnida... Saranghaeyo uri minnie, Saengil chukka hamnida..."Kyuhyun nampak berjoget-joget tak jelas yang mengundang tawa changmin.
" Kau suka dengan kejutan yang kuberikan?. Well, dijamanmu itu mungkin sudah tidak lagi menjadi trend. Tapi percayalah, topi yang kuberikan ini akan sangat nyaman kau gunakan. Wae?. Karena aku yang memilihkannya untukmu pabo. Kau juga harus menggunakan syalnya agar kau tak kedinginan dan membeku."
"Senang sekali masih bisa menyapamu changminnie, kau masih sehat kan?. Aku sungguh berharap bisa menua bersamamu, tapi ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Aish... Kenapa aku jadi seperti namja yang tidak normal begini?. Hahaha..."
"Halabojji..." Sebuah suara cempreng mengganggu kegiatan changmin yang tengah menonton wajah sang sahabat yang tak mungkin menua itu.
Changmin segera mengambil tubuh kurus bocah tampan yang memanggilnya kakek dengan lidah cadelnya. Wajahnya yang lucu dan matanya yang besar selalu mampu memukau changmin.
"Appa... Saengil chukkha e... Saranghaeyo..." Anak laki-laki satu-satunya yang dimiliki changmin segera memeluk tubuh sang ayah yang mulai ringkih itu.
"Changminnie. Kau sudah memiliki cucu?. Aigoo... pasti menyenangkan bermain dengan cucumu?. Apa...? Kau bilang mereka berisik?. Kau tidak boleh seperti itu sebagai kakek-kakek. Mulutmu itu masih saja kasar." Kyuhyun yang berada dilayar datar itu tertawa-tawa seakan tanpa beban.
"Bagaimana dengan istrimu? Siapa namanya?. Ommo... sepertinya aku turut menua bersamamu min. Aku jadi pikun juga. Mianhae..." Kyuhyun segera terkikik geli karenanya. Tak terkecuali dengan changmin dan keluarganya kini.
"Kyuhyun samchun benar-benar orang yang lucu dan ceria nde appa?. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengannya." Sang ayah hanya mengangguk beberapa kali masih sambil tersenyum.
"Nuguceyo halabojji?" Bocah tampan dipangkuannya itu rupanya penasaran juga dengan namja berparas tampan berkulit pucat yang terus saja menyita perhatian sang kakek.
"Kyuhyun harabojji..." Entah mengapa changmin malah tertawa sendiri setelahnya.
"Appa, wae?" Tanya sang putra pelan.
"Anniyo, hanya saja aku tak pernah membayangkan akan memanggil kyuhyun dengan embel-embel harabojji. Aneh saja." Ucap namja yang masih cukup tampan diusianya tersebut.
"Min, kau tak melupakanku kan?. Apa namaku dinisan sudah luntur?. Apa rumputnya sudah meninggi?. Tidak terasa 50 tahun sudah berlalu ya?. Aku senang masih bisa memberikan sesuatu untukmu. Aku harap kau bukan namja cengeng lagi yang akan menangis karena tak mendapat hadiah. Hahahaha..."
"Apa...? Anakmu mendengarnya?. Kau malu eoh...?Arra... arra... Mian... Geunde min, Ini hadiah dariku yang terakhir. Mau bagaimana lagi, aku tidak punya cukup uang untuk membelikanmu hal yang lebih besar. Sertifikat tanah misalnya. Atau lebih banyak lagi, setidaknya 1000 kotak lagi. Aku kan tidak bekerja min. Hahahaha... Sampai jumpa min. Aku sudah mengatakan padamu aku akan menunggumu lebih dari 100 kali, tapi bukan berarti aku memintamu untuk segera menemuiku. Hiduplah dengan baik dan makan makanan yang sehat. Jangan terlalu banyak minum alkohol juga cola. Tubuh rentamu itu tak lagi sesehat ketika kau SMA arra...?" Changmin nampak sedikit mencibir ucapan kyuhyun.
Dan seakan kyuhyun sudah menduga ekspresi changmin, kyuhyun segera membentak sambil menunjuk kearah changmin, "Yha... Yha... Jangan membuat ekspresi seperti itu. Aish... Kau itu selalu seperti itu kalau diberi tahu. Kau pikir kau tampan?. Tidak, kau sama sekali tak bisa mengalahkan aku. Kau pikir kau imut?. Sama sekali tidak. Jangan harap." Kalimat kyuhyun tersebut mampu membuat putra dan anak menantunya tertawa tergelak.
"Astaga... Samchun benar-benar orang jenius." Sang ayah segera memberi death glare yang membuat sang anak semakin terpingkal-pingkal.
"Yha...!" Bentak sang ayah gemas. Bahkan sikecil yang berada dipangkuannya berjengit kaget.
"Teruslah hidup sampai seribu tahun minnie. Tetaplah sehat, sahabatmu ini selalu mendoakanmu dan selalu menyayangimu. saengil chukkaeyo..." Kaset CD tersebut akhirnya terhenti sudah dengan senyuman lebar kyuhyun yang mengembang.
Changmin segera beranjak dari tempat duduknya, mengenakan topi dan syal cokelat yang baru saja didapatnya. "Appa mau mengunjungi sahabat appa dulu... Kyuhyun ah..." Ucap namja tengah baya itu dan beranjak dari ruangan hangat tersebut.
"Hati-hati appa. Ini aku sudah membelikan bunganya." Ucap shim kyuhyun, putra satu-satunya milik changmin dan istrinya yang telah lebih dulu pergi meninggalkannya.
"Ayo antarkan aku ke tempat biasa jonhyun ah... Aku ingin menyapa sahabatku." Changmin mengucapkannya sambil tersenyum lembut.
"Nde tuan." Balas supir pribadinya itu sambil membungkukkan tubuhnya. Tak lupa membukakan pintu untuk sang juragan.
'Seribu tahun eoh... Aku bukan namja yang sesabar itu kyu.' Batin changmin sambil tersenyum.
.
.
.
2 hari setelah ulang tahunnya changmin ke 50, tepat tanggal 20 februari, changmin meninggal dengan senyuman yang terukir diwajahnya. Seakan dirinya sangat bahagia dapat segera bertemu lagi dengan sahabat yang begitu disayanginya, cho kyuhyun.
Kyuhyun sendiri seakan tahu sampai batas mana sahabatnya akan berjalan. Kado terakhir darinya seakan menjadi kalimat selamat datang bagi changmin.
Begitulah persahabat diantara mereka terjalin. Saling menyemangati, saling menyayangi dan saling berbagi. Bukankah persahabatan mereka terlihat semanis madu?.
If our friendship was a story book, We would meet on the very first page
The last chapter would be about, How i'm thankful for the life we've made
_FIN_
Akhirnya selesai...
Fuyu minta maaf, plot kecepetan, cerita gaje, garing, pasaran, feel gak dapet...
Jebal mianhaeyo chingudeul...
Mau bagaimana lagi...
Kemampuan fuyu masih sebatas ini...
review yang membangun dari kalian semualah yang akan membuat fuyu terus berkembang.
Untuk yang sudah review di chapter sebelumnya,
PusSparKyuELF301, mifta cinya, Puput257, melani. , Awaelfkyu13, jihyunelf, adlia, Erka, kys134, Changru Minru
Maaf kalau ini endingnya mengecewakan, bahkan terlalu mengecewakan. Tidak sesuai dengan harapan kalian. Tolong dimaafkan. #bow,
Untuk yang minta jangan sad ending, fuyu harap ini bukanlah termasuk sad ending, Mereka bisa ketemu lagi kan...? :P
Kkekeke...
Yang nanya, ini yaoi atau bukan, Fuyu udah janji gak akan bikin ff yaoi…
Kalau ini tidak bisa bikin nangis, memang tujuan fuyu untuk ngebikin readerdeul tersenyum, bahwa ikatan persahabatan itu akan selalu berakhir manis…
Dan banyak sekali typos yang bertebaran dimana-mana, itu karena fuyu tidak punya cukup waktu untuk mengedit atau semacamnya…
Gamsahamnida, gumawo...
Saranghaeyo readerdeul...
Last saying, review please...:D
#Bow,
