Title : Truth or Dare

Author : 8ternity

Rate : M

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Main Cast : - Vernon

- Seungkwan

Support Cast : find in story~

Summary : Truth or Dare? Seungkwan pilih truth? Seungkwan pilih dare? Pada dasarnya semua untuk Vernon. Karena Seungkwan cinta Vernon.

- VerKwan / HanKwan / BooNon couple –

WARNING : THIS CHAPTER CONTAINS MATURE CONTENT/NC 21!

Semua yang 8ter tulis murni fiktif kecuali beberapa hal yang akan diberi tahu di note. Dan mohon maaf kalau ada kesamaan dengan ff lain atau bagaimana, karena ini memang murni hasil imajinasi pasaran 8ter. Juga bagi pembaca yang merupakan homophobic, atau anak di bawah umur boleh undur diri/eh. Karena 8ter gak mau menerima review yang gak membangun seperti menyatakan rasa jijik atau bagaimana dan ini merupakan ff rate m yang mungkin berefek buat readers yang di bawah umur (tapi gak ngelarang keras ya, kalau mau baca silakan ^^).

Happy reading ^^

Previous Chapter :

Lantai dansa jadi riuh dan panas saat Johnny terus bermain dengan kemampuan terbaiknya.

"Dia koleksi terbaikmu, Jun." Seungkwan memuji keahlian Johnny dan dari itu Jun tahu Seungkwan suka stage malam ini.

"Dia luar biasa, Seungkwan. Dia hot, dan tubuhnya bagus. Kau bisa lihat." Ten menunjuk dengan dagunya, seperti menawarkan barang berkualitas tinggi. Dari situ Seungkwan mengerti Ten ingin ia menyewa Johnny.

Seungkwan berbalik dengan tatapan menilai DJ Johnny. Tapi kemudian perempuan dengan dada besar serta bokong berisi duduk di pangkuannya dan memilin kerah bajunya.

"Mau... bermain denganku, manis?" Perempuan itu tampak menggoda Seungkwan dengan menggesekkan pantatnya di selangkangan Seungkwan.

Seungkwan tersenyum miring dan menarik wajah perempuan itu padanya, kemudian berbisik seduktif.

"Aku ini bottom, nona. Aku punya penis kecil ." Kemudian dengan kurang ajarnya mendorong perempuan itu hingga hampir terjatuh.

Jun mencemooh kemudian langsung berbalik dengan cepat menarik Ten dalam ciumannya saat perempuan itu akan berbalik dan memintanya. Jun dan Ten memainkan peran mereka dengan panas hingga membuat perempuan itu pergi dengan perasaan kesal. Jun dan Ten langsung melepas ciuman mereka. Mereka hanya tertawa kecil, membiarkan musik keren DJ Johnny mengisi pendengaran mereka.

"Kau berengsek..." Seungkwan mengolok Jun dan membuat Ten tertawa.

"Yang tadi itu hanya penolakan halus, daripada kau." Jun terkekeh sebentar.

"Lagi pula, kupikir seseorang semuarahan itu pasti punya lubang longgar." Jun tersenyum miring, namun terkejut dengan wajah aneh saat tiba-tiba Seungkwan memukul punggungnya dan Ten melampar serbetnya.

"Sebagai pihak dimasuki, aku danTen merasa tersinggung." Seungkwan berbicara seolah ia juga perwakilan Ten.

"Lagipula, ini murahan, kau tahu itu. Tapi kau bahkan pernah berteriak dan mendesah karena aku." Ten berbicara dengan nada acuh. Kemudian berusaha mengambil serbetnya dan menggeram asal saat Jun mencuri satu ciuman.

"Kau berbeda, Ten." Jun mulai menggombal dan memberi Ten beberapa kecupan.

"Oke, tapi berhenti menciumiku, please. Johnny melihat ke sini." Ten bersikap acuh dan menunjuk stage dengan dagunya, membuat Jun berbalik serta dengan tololnya menyengir pada Johnny yang tersenyum miring dan menggeleng kecil.

"Dan Seungkwan, apa yang membawamu kemari?" Ten bertanya sambil memberi satu gelas lagi alkohol racikan. Seungkwanmenerima dengan senyum lebar, ia begitu mengakui kemampuan Ten menakar dan meracik alkohol. Dari sekian banyak bartender Jun, Seungkwan paling cocok dengan alkohol racikan Ten.

"Aku... Yah... Aku mengalami hal buruk..." Seungkwan menjawab dengan air wajah berduka, membuat Jun dan Ten merasa simpati sekaligus heran.

"Aku dengar suara frustasi mu itu di telepon tadi. Tapi, ada apa?" Jun tampak semakin simpati dan dengan perhatian memberi fokus pada Seungkwan, membiarkan Ten menyimak sambil meracik alkohol pelanggan lain.

"Aku dengan sialnya tergoda pada bibir bosku." Seungkwan berbicara frustasi, Ten langsung tertawa setelah mengantar racikannya.

"Kau gila?" Seungkwan berdecak kesal dan Jun hanya mengedikkan bahunya tidak mengerti.

"Sorry, bukan maksudku membuatmu kesal. Tapi menurutku itu wajar, seperti aku cukup tergoda pada bibir bosku." Ten terkekeh saat Jun memberinya flying kiss, kemudian Ten membelasnya dengan virtual kiss.

"Ini berbeda Tennn! Dia bos divisiku!" Seungkwan merengek dan menyembunyikan kepalanya.

"Aku mengerti, dia itu pasti berbeda. Bos divisimu. Dan bahkan mustahil untukmu mengecup bibirnya, apa lagi menciumnya." Ten berbicara agak nyaring karena Johnny semakin menguasai stage.

Ten dan Jun hanya bisa menangkap Seungkwan menggeram samar. Sampai tiba-tiba Seungkwan mengangkat kepalanya menghadap Jun. Membuat Ten dan Jun menautkan alisnya.

" Jun aku sewa kau dan Johnny." Seungkwan berujar final, dan membuat Ten hampir menjatuhkan rahangnya.

"Kau gila? Jun dan Johnny? Threesome?" Bos, bibir, dan ciuman. Hal ini mampu membuat Seungkwan hampir gila.

.

Vernon x Seungkwan

Truth or Dare

.

Chapter 2 :

Suara musik tetap berdentang di sekitar mereka. Bahkan suasana makin 'hot' dengan banyak tarian sensual menebar di lantai dansa. Stage yang bagai pengandali gairah bahkan ikut menjadi panas saat DJ seksinya menjilat bibir dan tubuh berkeringatnya bergerak sensual. DJ luar biasa terlihat memuaskan dan membuat pelanggan menghitung won mereka.

Tapi mau bagaimanapun bergairahnya, tetap membuat seorang bartender bernama Ten hampir kehilangan kontrol diri saat seorang pelanggan yang jadi temannya menyatakan ingin menyewa pacarnya si DJ Johnny dan bosnya si Jun.

"Heol! Seungkwan! Kau gila? Menyewa Johnny dan Jun? Serius? Dua orang? Threesome?" Ten membrodolnya dengan pertanyaan dan bahkan ia sudah menjatuhkan serbetnya. Tapi kalau Ten tidak mengokohkan jiwa kemanusiaanya, sungguh ia ingin mencekeki Seungkwan yang berwajah memelas dan mengangguk lamban.

"Kau serius? Seungkwan… atau siapapun nama lengkapmu-"

"Boo Seungkwan, sayang." Jun menyeletuk.

"Ah, iya. Boo Seungkwan sayang… ah! Tidak! Hanya Boo Seungkwan...Sekali lagi, kau-"

"Aku serius." Seungkwan memotong omongan Ten yang ternyata terlalu berisik.

Membuat Ten menjadi lesu dan menatap nyalang pada Jun yang malah sibuk berdehem membersihkan tenggorokkan, memutar pandangan salah tingkah, dan tangannya yang membuka satu kancing kemeja lagi sehingga tulang selangkanya semakin terlihat.

"Yah, memang apa yang salah, Ten?" Jun menjawab gugup, pasalnya Jun sudah cukup banyak mengenal Ten. Dan uke macam Ten yang cerewet akan benar-benar menjadi bising saat emosi.

"Kau sinting, Jun?" Ten menyalak pada Jun, membuat Jun menjengit. Ia dibilang… sinting? Itu bahkan terasa lebih gila dari pada dibilang berengsek.

"Kau tidak berfikir? Threesome, Jun! Pertanyaanku adalah apa Seungkwan terima lubang anusnya ditembus dua penis panjang? Sedangkan aku tahu dia pasti tidak akan tahan dengan rasa sakitnya. AKU BERPENGALAMAN!" Ten menaikkan suaranya dan menunjuk wajah Seungkwan saat pria montok itu ingin menyela.

"Lalu siapa yang akan masuk? Sedangkan pasti memilih penis Johnny yang lebih panjang dan besar. Dan kau, Jun! Apa kau akan tahan melihat live sex? Sedangkan yang ku tahu hasrat seksmu begitu tinggi membumbung. Lalu, kau mungkin akan menusuki lubang anus pacarku! Itu gila, okay!" Ten menarik nafasnya jengah, menatapi Jun dan Seungkwan yang merengut seperti dimarahi ibu mereka.

Seungkwan yang melihat Ten bagini jadi tahu kalau Ten begitu mencintai Johnny hingga menjaga harga diri lubang Johnny agar jangan pernah ditembusi penis-penis yang meski memuaskan sekalipun. Seungkwann begitu tersentuh melihat bagaimana Ten mengatai serta menyumpah serapah bosnya sendiri demi lubang anus pacarnya. Meski bekerja merelakan tubuh, tapi mereka tetap saling mencintai serta saling menjaga apa yang bisa mereka jaga. Dan demi itu Seungkwan tidak mau melayati acara pemakaman Jun yang dipenggal Ten kalau sampai lubang anus Johnny tertusuk Jun.

"Oke, Ten… aku pilih… J… Johnny…"

"Oke! Good, Seungkwan!" Ten hampir melompati meja bar dan memeluki Seungkwan, kalau dia tidak ingat itu mustahil.

Sedangkan Seungkwan sedang tersenyum. Karena tadi dia hampir menyebut Jun. Tapi ia begitu mengingat dengan dengan jelas, kalau Ten yang tersenyum-senyum di depannya ini tadi menawari Johnny untuk ia sewa.

"Tapi serius, Ten. Aku mau bicara yang yang serius sekarang…" Seungkwan menggaruk tengkuknya yang selalu merasa meremang setiap ia ingin bilang ini pada orang lain.

"Yang itu, Kwan?" Jun menyahuti, dan Seungkwan hanya mengangguk.

"Kalau begitu, Ten mendekat sedikit…" Jun memanggil Ten mendekat, membuat Ten merapatkan tubuhnya pada meja bar dan mencondong tubuh berusaha pada posisi sedekat mungkin dengan Seungkwan, membuatnya sedikit menungging.

"Ten, nanti minta Johnny pakai pengaman, oke? Kebetulan… yah… kau tahu lah… Aku seorang Klinefelter…" Dan dari jarak sedekat ini meski lampu masih remang Seungkwan bisa lihat Ten yang terlonjak.

"Wow! Wow! Wow! Seungkwan… Kau punya beberapa hal yang begitu mengejutkan. Tentu, jangan khawatir. Johnny suka seks yang sehat…" Ten menjauh dengan satu botol alkohol baru di tangannya. Begitu enteng, sangat baik mengendalikan keterkejutannya. Seungkwan merasa membaik dengan itu, karena sedikit banyak orang di luar sana menganggap Klinefelter menjijikan. Dan yang tahu jadinya hanya sedikit. Dan well, seks sehat juga gaya Seungkwan.

.

Vernon membanting tubuhnya di sofa setelah berkeliling agak lama di rumah yang lebih banyak berubah kesannya sejak terakhir kali ia ke sini. Setelah dengan agak kerasnya membanting tubuhnya sendiri, ia dengan anehnya meringis saat punggungnya terasa agak nyeri.

"Sofanya tidak empuk." Mengaduh kecil dan memeluki bantal sofa.

"Hi, Vernon." Seorang pria yang agaknya lebih dewasa menuruni tangga, pakaiannya begitu formal, bibirnya tersenyum dengan senyum lucu, dan matanya terlihat agak besar. Wajahnya terlihat halfer, tapi lumayan berbeda dengan wajah Vernon.

"Oh? Scoups, ganti sofamu, tidak empuk." Tanpa menjawab salam atau dengan hormatnya menambah embel-embel 'hyung'. Vernon malah lagi-lagi mengadu tentang sofa. Sifat yang menunjukkan sisi kekanakannya bahkan lebih mempermasalahkan dan memikirkan sofa kakaknya dibanding kehadiran kakaknya. Scoups hanya menggeleng kecil dan tersenyum seraya mendudukkan diri di sofa seberang Vernon. Sifat Vernon yang kekanakan begini begitu ia rindukan, seorang adik yang ia sayangi, yang begitu menggemaskan dan unik.

"Tidak, Ver. Sofaku baru diganti minggu lalu." Scoups hanya tersenyum sambil asik mengecapi rasa anggur yang masih tersisa di lidahnya. Karena well, ia minum anggur beberapa menit yang lalu di kamarnya.

"Joshua hyung?" Vernon menebak dan langsung memutar matanya saat Scoups mengangguk cepat.

"Furniture mu juga?" Vernon mengangkat alis heran saat Scoups malah menyatukan alisnya dan mengerjab cepat, terlihat tolol. Dan sukses membuat Vernon terpukau karena beberapa tahun tidak bertemu dan wajah Scoups yang begini tolol maksimal masih sama dengan sisa memori terakhirnya. Sekarang Scoups malah membuka mulutnya tanpa suara yang keluar, dan matanya mengitari furniture rumahnya. Kalau tampang yang ini bahkan jauh lebih tolol dari semua memori tentang wajah tolol Scoups, entah bagaimana dan siapa yang mengajarkan.

"Kupikir, kau lebih tahu aku dari pada siapapun, Vernon." Scoups akhirnya bicara dan tersenyum. Membuat Vernon lega karena kalau wajah tampan Scoups tak kembali, Vernon yakin Scoups dirasuki setan pembawa ketololan.

"Joshua hyung lagi? Sudah ku duga, mana ada seleramu menjadi begini… cantik? Ini tidak begitu cocok denganmu, Coups. Lain kali kita ganti yang lebih keren." Sekali lagi Vernon mendumel dan matanya menilai rumah hyung-nya yang ia anggap rumah sendiri.

"Rumah hantu saja bagaimana?" Scoups terdengar excited, ingin mengajak adik tersayangnya bergurau, karena cara bercanda Vernon itu keren menurutnya.

"Kau mau Chan dan Joshua hyung mati berdiri?" Vernon terkekeh dan Scoups tertawa, merasa waktunya dan Vernon begitu berkualitas. Kebahagiaan Scoups atas kehadiran Vernon, adik kesayangannya.

"Mau ku antar ke kamar?" Scoups berdiri dan merapikan stelan bajunya.

"Asal kasurnya empuk, tidak seperti sofamu." Vernon ikut berdiri dan mendapat usakan di kepalanya.

.

Johnny turun dari stage dan tubuhnya berkeringat, menoleh sebentar untuk menyemangati teman yang baru naik panggung, tampak menarik, seorang bottom. Langkah Johnny dipercepat menuju meja bar. Tatapannya tidak mau lepas dari sosok si bartender bertubuh kecil bernama Ten, pacarnya yang asik berbincara dengan bosnya dan seseorang yang tampak akrab.

"Hi…" Sapanya akrab dengan bosnya, dan duduk di sebelah Jun, menarik habis perhatian Ten tepat di depannya.

"Hi, sayang." Ten menopang dagunya dengan tangan, membuatnya menungging dan membuat pandangannya dan Johnny sejajar.

"Hi juga, cantik." Johnny sudah ingin menarik Ten demi mengambil satu ciuman. Tapi Ten menahan wajahnya dan menoyor dahinya. Bibirnya mencebik kesal dan matanya menatapi bibir Johnny membuat mau tak mau Johnny mengerutkan keningnya. Ten dengan gerakan tegas menunjuk bibir Johnny, membuat Johnny makin bingung dengan sikap aneh Ten.

"Di bibirmu ada bekas lipstick-nya." Bibir Ten bersungut, tapi tangannya terjulur membersihkan bibir Johnny, sedikit bergidik membayangkan bibir Johnny yang diciumi perempuan dengan lipstick berlapis tebal.

"Bagaimana rasanya bibir yeoja, hmm? Tidak mau coba payudaranya?" Ten membersihkan bibir Johnny dengan agak kasar, menekan-nekan kesal membuat Johnny malah tertawa. Kemudian dengan gemas memegangi tangan Ten, menarik dan melumat bibir Ten yang mengimbangi dengan hebat. Mereka saling melumat dalam, membuat dua pasang mata di sekitar mereka melihat dengan enteng seakan yang dilihat itu bukan merupakan dosa. Kemudian saat suara sedot-menyedot selesai mereka saling melepas dan tersenyum.

"Untukmu, sayang." Johnny merogoh sakunya dan mengacuhkan dua orang di sampingnya yang keheranan, lebih memeting Ten di depannya. Mengeluarkan secarik kertas yang menarik kedua sudut bibir Ten ke atas, menyimpannya di atas meja bar. Secara perlahan dan menutup dengan kedua tangan menggeser perlahan ke dekat Ten, kemudian membuka perlahan seperti membuka peti harta karun.

Sebuah kwitansi dengan jumlah won tidak main-main membuat Ten menutupi mulutnya yang menganga dan mengambil kertas itu cepat.

"Astaga Johnny! Bagaimana bisa?" Ten heboh dan memasukkan dengan cepat ke kantung celananya.

"Perempuan yang tadi menciumku memberikan ini, dia bilang ingin mencium. Tapi aku bilang kalau aku gay. Dan tanpa diduga dia memberiku won sebanyak itu untuk ciumanku." Johnny hanya mengangkat bahunya sekali dan tersenyum lebar pada Ten.

"Astaga Johnny! Oh ya! Oh ya!" Ten seakan bertemu dewa, ia histeris dan tidak bisa mengontrol dirinya. Serta dengan gerakan menjauh seolah mengingat sesuatu. Hingga dengan cepat tengannya mengambil gelas dan meracik alkohol.

"Untuk pacarku yang mempesona." Ten memberi pada Johnny dan memberi flying kiss, mendapat balasan tawa Johnny.

Seolah kembali pada dunianya, Ten baru teringat dengan Jun dan Seungkwan.

"Johnny, ini Seungkwan, teman baru. Dan dia akan menyewamu." Ten tersenyum sambil menatap Seungkwan. Seungkwan menyatukan alisnya sebentar dan kemudian mengerti arti tatapan Ten. Seungkwan menarik selembar kertas dari sakunya dan memberi pada Jun.

"Penjilat…" Katanya sambil terkekeh.

Ten penasaran, tapi dia menahan diri. Dan secara kebetulan, dia lihat senyum miring Jun. Oke, Ten tahu arti senyum itu.

"Ten, 30% untukmu." Jun tersenyum pada Ten yang terbelalak kaget, bahkan Johnny hampir tersedak alkoholnya.

"30%? Bukannya biasanya 10%?" Ten melongo tolol diikuti Johnny.

"30 atau 10?" Jun tersenyum menggoda.

"Aku… tentu 30! Oh, ya Tuhan! 30%! Ah iya! Kamar! Aku siapakan kamar! Taeyong! Gantikan aku!" Ten berteriak agak nyaring, membuat beberapa mata melihatnya karena DJ belum mulai, dan Taeyong si bartender lain yang mengerjab saat pipinya dicium cepat oleh Ten.

Seungkwan berdecak sekali saat Jun mencuri satu ciuman di bibirnya dan DJ mulai dengan panggungnya.

.

Hampir pukul 11 P.M. Dunia gemerlap terus terasa seperti pagi hari, selalu sibuk dan bersemangat. Dua orang pria sedang berhati-hati berjalan di padang remang. Salahkan fokus mereka yang terbagi karena sambil asiknya berciuman. Dua orang itu Johnny dan Seungkwan. Sedang berjuang manahan hasrat menuju kamar yang tadi disiapkan Ten.

Panas. Hanya itu yang dirasakan Seungkwan, saat Johnny masih asik manjelajahi seluruh bagian mulutnya, seakan mematikan fungsi kerja otaknya. Membuat semakin lama Seungkwan terhanyaut dalam ciuman Johnny. Dan Johnny merasakan gairah Seungkwan, membuatnya menyeringai. Dengan sedikit bermain melepas kulumannya, menatap mata sayu dan pipi memerah Seungkwan di tengah remang dengan konsentrasinya yang cukup tinggi membawa mereka ke arah kamar. Ia ingin membawa Seungkwan hanyut dan tenggelam, memberikan jilatan lembut dan sensual di permukaan bibir Seungkwan, membuat Seungkwan reflek menjulurkan lidah dan menggesek lidah mereka. Johnny agak kaget karena Seungkwan bagitu hot. Membawa mereka ke depan pintu kamar lalu dengan lamban membuka pintu di belakang mereka dan menutup kasar serta mengunci cepat, kemudian memojokkan Seungkwan di belakang pintu.

"Uhmmm… Hmm…" Tubuh Seungkwan bergetar dan Johnny baru bisa mendengar desahan Seungkwan dengan jelas saat mereka di sini, membuatnya tak sabar untuk memuaskan Seungkwan.

Johnny menarik Seungkwan dan mendorongnya ke kasur, menghimpit Seungkwan hingga tak sanggup bergerak. Tenaga Seungkwan terkuras oleh rasa panas dan gairahnya yang meluap-luap. Kemudian sedikit mengerang, ketika menyadari tubuhnya sudah menempel dengan tubuh maskulin Johnny. Kedua tangannya melingkari leher Johnny, mengusap sensual tengkuk Johnny dan menuntutnya berbuat lebih saat pria tampan itu menrunkan ciumannya, menyentuh dan menjilat lehernya. Tidak sanggup menolak saat Johnny membuka cepat bajunya, dimana setelahnya Johnny langsung melepas seluruh kain di tubuhnya sendiri dengan gerakan sensual. Dan memberi Seungkwan senyuman menggodanya, tanda ia benar-benar ingin menggerayangi Seungkwan.

"Aaakkhh!" Seungkwan sedikit mengerang saat Johnny mulai menyentuh putingnya yang jadi sensitif. Johnny merunduk menjilati puting kanannya, memilin lembut dengan lidahnya dan membasahi dengan salivanya. Seungkwan membusungkan dadanya, membuat pinggulnya terangkat menyentuh penis menggantung Johnny yang mulai mengeras.

"Johnnnnhhh… a-aahh…" Seungkwan mendesah saat Johnny tiba-tiba meremasi penisnya yang masih berbalut celana kerjanya.

Si dominan dengan cepat melapas celana Seungkwan, menurunkan celana dalamnya dengan agak kesulitan hingga membuat Seungkwan benar-benar telanjang. Johnny tersenyum melihat penis kecil Seungkwan menegang. Secara perlahan beringsut turun sambil bibirnya mengecup jengkal tubuh sensitif Seungkwan membuat mau tak mau Seungkwan menggeliat-menggeliat, lebih parah dari kata resah. Kebutuhan duniawinya mengejang naik, terlalu mau segera di genjot.

"Aku suka tubuhmu, begitu luar biasa dan menggairahkan." Tubuh Seungkwan menggelinjang terhentak rasa mendalam akan kebutuhan untuk ditusuk habis di titik manisnya di dalam lubang anusnya. aat Johnny kembali manghisap putingnya, namun kali ini lebih gencar. Seungkwan merasa ia akan benar-benar gila.

"Aku tahu kau menyukainya, Seungkwan. Rasanya nikmat, kan? Apa kau ingin lebih? Aku bisa memberikan apa yang penis tegangmu ini inginkan." Johnny mulai mengeluarkan kemampuan merayunya dan tangannya mulai turun meremasi penis Seungkwan.

"Engghhh! Aaakkhh!... Oouuhh… Haakkkhh! Lakukan saja… aahhh… yang kau mauuhh.. eummhh.. Aku ti-tidak tahannhhh!" Seungkwan mendesah nyaring, kepalanya mendongak keras. Akhirnya… akhirnya Seungkwan merasakan eksistensi kulit kasar permukaan tangan Johnny meremasi penisnya yang terasa memengan kendali kewarasannya. Seolah pompaan dan kocokan Johnny pada penisnya adalah obat yang akan segara mengembalikannya pada akal sehatnya, memberikan kebutuhannya. Oh yeah! Ini benar-benar nikmat!

"Tentu.. tentu manis…" Kata Johnny sambil mengocok cepat penis Seungkwan.

"Kau sudah sangat basah. Seungkwan, lihat penis manis-mu, kau terlihat seksi sekali…" Johnny dengan sensual berbisik di telinga Seungkwan. Dadanya diturunkan, sengaja menggesakkan puting mereka.

"A-aku sudah ti-tidak kuat lagiihh.. aaakkhh! Hhaakkhh! Enngghhhhh… kocok! Kocok lagihh! Ahh.. Tuhan.. nikhmat sekalihh!" Seungkwan meracau keenakan, membuat Johnny menyeringai. Tangannya secara perlahan turun dan membuka lebar kedua paha terimpit Seungkwan. Mengatur posisi hingga menrangkak di atas tubuh Seungkwan. Mulai beringsut turun dan menjilati tubuh Seungkwan.

"Ssshh… aahhh.. uuhhmm…" Seungkwan menggeliat merasa titik-titik sensitifnya terjamah.

"AAKKKHH! AAHHHH! JOHNNNHHHH!" Tiba-tiba Johnny mengulum penisnya. Membuatnya berteriak merasa sensasi hangat, nyaman, dan nikmat yang diberikan mulut Johnny. Terasa begitu memabukkan menuju surga sesungguhnya, yah… Surga saat prostatnya di bor penis jumbo Johnny yang menggantung di antara kakinya.

"Enakkkhhh! Aaahhh! Nik-matthhhh! Akuuhh… aku ingin lebih… euunngghh! Aakkhhh!" Seungkwan menjambaki rambut Johnny saat merasa pusat gairahnya disedot dengan kesan memabukkan. Tubuhnya bergerak maju mundur dengan binal, menikmati rasa nikmat yang menyerangnya.

"Aku… Anngghhh! Johnnyyhhh! Sedi-kit ahhh! eeuunngghhh! Sedikit lagihhh…." Seungkwan merasa kepalanya hampir pecah, pandangannya memutih dan terasa meliliti perutnya saat Johnny membelit kepala penisnya dengan lidahnya dan menggoda lubang kencingnya.

"AANNGGHH! JOHNHH! AKU! ANNGGHH! AARRRHH!" Seungkwan keluar dengan cukup deras dalam mulut Johnny, dadanya naik turun dan merasa kelegaan yang membebaskan pada hasratnya. Bibir Johnny benar-benar menaklukkannya. Johnny menyeringai puas dan meneguk spermanya seperti meminum alkohol racikan Ten.

"Kau manis, Seungkwan. Kau… siap dengan bagian inti?" Seungkwan masih menganga tersengal. Mendengar pertanyaan Johnny, tapi masih tidak punya kekuatan untuk menjawab. Terasa menyenangkan meski membuatnya lemas.

"Oke… hhh… pengaman…" Seungkwan berbicara acak, tapi cukup membuat Johnny mengerti. Karena sebelum memulai, Ten memberi kondom dan bilang Seungkwan seorang Klinefelter. Well, Johnny tidak mau punya istri selain Ten, meski Seungkwan bisa memberinya anak.

Johnny membuka kasar bungkus pengamannya. Mengocok sedikit penisnya yang terasa sakit, karena sungguh dia tidak ada memuaskan diri sama sekali dari tadi. Menggunakan pengaman secepat yang dia bisa dan dengan tidak sabaran membuka tutup lube anal sex yang terdapat di nakas samping ranjang, menumpahkan hampir setengah isinya. Sangat banyak, namun sesuai dengan ukuran penisnya yang terlalu besar.

Suara becek mengisi pendengaran Seungkwan dan pemandangan Johnny yang melumuri penisnya membuat Seungkwan menjilati bibirnya sendiri.

"Kita akan mulai, Seungkwan. Kau cukup mendesah, menerima, dan menikmati." Johnny mengangkat pinggul Seungkwan, menyimpan bantal di bawahnya, serta menekuk lutut Seungkwan sambil menuntun Seungkwan membuka lebar selangkangannya. Meremas bongkahan pantat Seungkwan, mencebiknya ke kanan dan kiri, lalu perlahan melesakkan masuk penisnya.

"Aaarrgghh! Aaakkkkhh! Sa-sakit! uugghh!" Seungkwan mengerang, merasakan hole-nya yang senantiasa dirawat agar tetap sempit, di bobol oleh penis Johnny, penis terbesar yang pernah memasukinya.

"Ini akan segera nikmat, Seungkwan. Kau akan segera menikmatinya." Johnny begitu terbuai oleh sempitnya asshole Seungkwan. Namun disatu sisi kasihan melihat Seungkwan yang merasa kesakitan.

"Shit! Lubangmu seperti virgin!" Johnny mendesis dan menghujami Seungkwan dengan ciuman kupu-kupu. Mengundang kekehan bangga Seungkwan di tengah rasa sakitnya.

"ANNGGHH!" Menjerit sekeras yang Seungkwan bisa saat penis Johnny benar-benar memenuhi lubahngnya, dan membuat tubuhnya seakan terbelah.

"Oohh! Shit! Kau.. ahh.. sempit.." Johnny menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Seungkwan. Meresapi remasan di penisnya, serasa ingin langsung mengenjot. Tapi mencoba tidak egois pada pelanggannya sendiri.

"Yah! Johnnh! Johnnyyhh! Bergerak… eeuunngghh.. Bergerak ku mohon ahh.." Seungkwan merasa begitu membaik karena Johnny tidak bermain kasar padanya. Tapi sungguh penis Johnny sangat sangat sangat besar. Kerena sehabis menerobosnya dan sekarang berkedut di dalam tubuhnya, kepala penis Johnny benar-benar mendekati titik manis tubuhnya. Seungkwan menaik turunkan pinggulnya, nampak tidak sabar menunggu hentakan Johnny yang nampaknya merasa pening menerima remasan rektumnya.

"Aaahh! Eunngghh! Ahhaahhhh! Johnnnhhhh!" Seungkwan menggelinjang. Tiba-tiba Johnny mengeluar masukkan penisnya dengan cepat. Dan dengan luar biasa tepat menumbuk prostatnya.

"Terus mendesah, Seungkwan. Aku suka desahanmu." Merayu saat seks itu penting. Sambil fokus menumbuk prostat, membuat tubuh Seungkwan menikmatinya dan lagi-lagi merasakan fraksi khas saat melakukan seks. Kenikmatan yang bergelimpangan, memabukkan, menyelimuti.

"Ummhh! Ahh! Aahh! Sodomi aku ngghh! Sodomi a-akuhh! Terushh ah! Ja-jangan ber-ahh! Sial!" Seungkwan tidak bisa mengontrol gejolak hormon dan gerakan tubuh mereka naik turun. Terasa tercekik oleh kebutuhan rasa nikmat yang membuat kecanduan. Sesuatu yang mencuci kewarasan dan mengosongkan kata-kata hingga hanya terisi desahan menyatakan kenikmatan yang diterima hampir seperti meluap dari otak dan akal sehat.

"Aahhkkhh! Mphhh!" Seru Seungkwan kaget merasakan penisnya diremas oleh Johnny, dan reflek merasa pening kenikmatan. Dia menggigit bibir bawahnya sedikit kancang.

"Jangan tahan desahanmu! Biarkan suaramu keluar!" Bisik Johnny tegas dan terasa mengendalikan pikiran Seungkwan.

"Enngghhhh! Aakkhhh! Ouuhhh… sshhh.." Ssungkwan mendesah keras, melesak kepalanya menekan bantal. Fraksi yang menumbuki sisi terdalam tubuhnya membuatnya benar-benar melayang, membiarkan ia dikendali. Tubuhnya beringsut dan naik turun seperti tempo, dicitan ranjang iramanya, desahan Seungkwan nyanyiannya, dan Johnny di sini sebagai penikmatnya. Membuatnya tidak mau berhenti memainkan Seungkwan masih dengan pinggulnya yang menusiki prostat Seungkwan.

"Terus seperti itu, Seungkwan. Fokus pada ahh… apa yang kau rasakan. Lupakan semuanya, rasakan nikmatnya." Johnny mencoba tetap fokus untuk memuaskan Seungkwan sambil mempercepat kocokannya pada penis Seungkwan.

"A-aku… Uwaakkkhh! Tidak tahan lagihh…. Sshhh… aakkhhh!" Racau Seungkwan semakin tenggelaam dalam kenikmatan seks yang Johnny mainkan.

"Katakan padaku bagaimana rasanya?" Johnny tersenyum miring. Seungkwan hanya diam karena masih merasa kecau. Terlalu menghantak kesadarannya, telinganya terasa tuli, yang terasa sensitif hanya prostat dan penisnya. Bagitu nikmat dan gila.

"Katakan Seungkwan!" Johnny mengubah kocokannya menjadi sangat kasar dan hentakan pinggulnya menjadi sangat cepat.

"Eeenngghh! Aaakkhh! Nikmatthhh! Enak! Uugghh… nikmat sekali.. uugghh.. aaahh.. lagihh! Rasanya sangat nikmat.. ahhh.." Seungkwan sangat frustasi, dia ingin klimaks. Ingin mengeluarkan spermanya saat Johnny sekarang malah menurunkan segala rangsangannya.

"Katakan apa yang tubuhmu inginkan. Dan mintalah padaku." Goda Johnny.

"Ammhh! Lakukan Johnhh! Lakukan apa yang ingin kau lakukan! A-akuhh.. tidak tahan! Ouuhh! Aakkhh! FUCK MEEHHH!" Seungkwan mengerang tidak tahan. Tubuhnya perlu rangsangan, perlu pelampiasan, perlu kepuasan.

"Tidak sabar sekali. Mendesahlah, mintalah padaku!" Pinggulnya bergerak, tangan kanannya mengocok penis Seungkwan, dan lidahnya turun memilin puting Seungkwan. Memberi stimulus untuk Seungkwan berbuat lebih binal.

"Cepathhh! Aaakkkhhh! Uuummhh! Aku mau penismu menyodomiku.. ooouuhh! Sshh.. Nhhh!" Seungkwan meracau, merasa kacau dan bisa saja kehilangan seluruh kewarasannya kalau tidak disidomi.

"Perintahkan padaku apa yang kau inginkan." Johnny gila, mengambil seluruh kewarasan Seungkwan malam ini, menunggangi Seungkwan. Menyuruh Seungkwan menjadi lacurnya dan meminta, memohon, serta memerintah demi hantakan penisnya.

"Aaaghh! Please fuck me! Fuck me roughly! Aaahh! Crush my hole! Engghh!" Seungkwan makin menjadi dan menggelinjang.

"As you wish, sweety."

"AAARRGGHH! AKH! Akkhh! Oouuggh! Yeahh! Feels gooddhh! Ssshhh! Crush my hole! Thrust it! Eennghhh! Fasterrhhh! Deepp! Deepeerrhh! Akh! Akh! Harderrhh! Uugh! Nikmatthh! Di sanahh! Lagihh! Eungghhh! Tusuk lagi!" Seungkwan meracau frustasi dan perlahan kepuasan menghampirinya saat tanpa aba-aba Johnny menyodomi begitu keras. Kali ini tanpa stimulis tambahan, karena Johnny perlu serius untuk menghabisi prostat Seungkwan dan berusaha membuat Seungkwan menemukan desahan tertingginya. Seungkwan jujur sangat menyukai tusukan Johnny. Tepat, keras, dan tepat.

"Sempithh! Nghh! Damn!" Johnny pun tidak tahan tidak mendesah, sungguh pelanggan malam ini luar biasa. Membuatnya merasa mencabuli seorang virgin polos yang meneriaki nya dengan kata-kata kotor.

"Anngghhh! Akhh! Ahaaahhh! Ahhahh! Cabuli lubangkuhh!" Seungkwan menjerit lagi bersama kata-kata kotor yang membuat hormon Johnny bergejolak, seperti di lempari won yang jumlahnya tidak terhitung.

"Uwwaakkhh! Eeunngghh! Hhhaakhh! Aku ingin kelur!" Pekikan dan desahan Seungkwan menyatu. Terlalu gila untuk menahan mulutnya.

"Uhh… eemmhh.. luabangmu nikmat, Seungkwan.. Keluar bersamahh.. ahhh.. kumohon.."

Johnny menggeram. Ia lebih suka keluar bersama, seperti saat spermanya menyembur, penisnya diurut sampai terasa benar-benar habis dari ujung lubangnya. Terasa luar biasa.

"AAAAGGHHH!"

Johnny dan Seungkwan selesai dengan klimaks luar biasa mereka. Benar-benar membebaskan lilitan kupu-kupu di perut mereka, sangat sangat nikmat dan memuaskan.

"Lihat, spermamu begitu banyak, Seungkwan." Johnny terkekeh sambil mengelus lubang ujung penis Seungkwan, membersihkan sperma Seungkwan di situ. Seungkwan tertawa dan mengambil bantal di bawah pantatnya.

Johnny dengan cepat mencabut penisnya, melepas kondom dan membuang nya di keranjang sampah. Kemudian duduk di sisi tempat tidur dan mengenakan celananya, melihat mata Seungkwan yang mulai berat.

"Tidurlah…" Johnny berbicara lembut dan mata Seungwkan mulai tertutup.

"Ahh… itu tadi nikmat sekali. Bosmu gila kalau dia menolak nelakukan seks denganmu." Johnny bermonolog, mulai menyelimuti Seungkwan dan dirinya. Tidur dengan jarak sejauh mungkin dari teman yang tadi sempat curhat soal bosnya sambil minum alkohol sebelum melakukan seks.

.

TBC/END?

None : YAY! Akhirnya update.. first of all 8ter mau kasih info tentang si Klinefelter dulu ya… bagian ini 8ter bikin fiktif. Faktanya Klinefelter gak akan hamil meski berhubungan tubuh sebanyak apapun, ya? Karena pada dasarnya jalur dari asshole dan rahim udah pasti beda. Itu sebabnya para klinefelter jarang mengandung sendiri. Biasanya bayi tabung atau ibu pengganti, karena mereka aslinya gak bisa melahirkan karena tidak punya saluran melahirkan seperti perempuan. Jadi biasanya diambil indung telur doank. Tapi di ff 8ter ini, Seungkwan dan Johua bisa hamil melalui hubungan tubuh dan sperma yang melalui asshole. Thanks so much ya atas respon baiknya^^ dan sorry gak threesome^^ gak kuat bayanginnya/plak.

Q and A :

Oraeruh : ini dilanjut kok yahhh :D moga suka part naena-nya :v makasih udah review… makasiihhhhh TT TT TT TT*alay juga

NicKyun : iya nih si Boo, ayo deketin ayank enon-nya/plak/ bentar lagi deket kok ya ;D thanks dan review yahhhhh :**

Redhoeby93 : hahahahahaahahahkkkkkk! Boo mainnya sama seme yahh… minum-minum pula… anggap aja 8ter lagi gesrek, tapi bener deh…. Asik aja kalo boo bad kan… ntar kalo ada enonnya… kan gitu kan ya? Eheheheheehhehe… ntar enon demen… eheheheheeh/apa'an/plak/plak/plak/lol/ makacih yah dah reviewwwwww ;DDDDDDDD

Guest : dah next, yank… makasih dah review :DDDDD *big hug

baesurr : ssippp lahhh… 8ter bikin ini juga karena pengen verkwan naena.. HHUUAAHAHAHAHAHAHAHAHAAH/plak/ketahuan mesumnya/-_-/ anyway thanks dah review yahhhhh

Jieqio : suka uname kmu, lucu :D … udah lanjut kok yank.. ini juga lagi semangat TT makasih udah semangatin dan review kamu tuh semangat buat 8terr/lebay/-_-/apa'an/palk/plak/plak/plak/lmaoo/

. 1654 : nama uname kmu ingetin sam temen 8ter dehh… mirip.. lucu/plak/ kalo gitu aku suka deh kita jadi sharing kan yaaaaaaa… aku gak percaya malah awalnya… makasih dah nunggu, udah penasaran, dah review juga… *hug /lebayyyyy/ plak/lol/lmao/-_-/TT/sorryyy

hyuckbaby : maafkan 8ter gak bikin threesome… gak kuat.. taku kehujanan/eh? Moga kamu puas yah sam nc yang di atas ;DDD BDDDD B)))) :vvvv hhuueeeeheheeheheheh makacih dah review yah ::***

also BIG THANKS TOO to all the readers who has follow and favorite.

BUT SUPER BBBIIIIGGGGG TTTTHHHHHHAAAAANNNKKKKKSSSSSS to all the readers who follows, favorites, and reviews TT THANKS SO MUCH! LOVE YOU!

Review, please. Dan 8ter bakal berusaha lanjutin FF ini. Review terlalu sedikit/berhenti, artinya FF berhenti update...

Thank you!^^ *Deeb Bow*