Sougo dan Yamazaki tengah berpatroli di kawasan distrik Kabukicho.

Mereka berjalan dalam keheningan tak seperti biasanya, dimana Sougo selalu menyuruh Zaki-Yamazaki- untuk mendengarkan semua rencana liciknya demi mendapatkan gelar Fukuchou.

Langkah Sougo terhenti ketika melihat siluet helaian Vermellion yang melintas beberapa meter di depannya memasuki gang menuju arah pelabuhan.

"China?"

Tak menunggu lama, pemuda pasir itu berlari meninggalkan rekan patrolinya di belakang.

'Ku mohon, Semoga ini nyata.' Batinnya berharap.

.

.

'Aku tau ini egois. Tetapi, aku selalu berharap agar kau kembali. semustahil apapun itu, aku hanya ingin kau kembali

...

...

China Musume.'

ooOoo

Sand on The Blue Moon: Give me a change!

-(Un)requited Love Sequel-

Disclaimer : Gintama By Sorachi Hideaki a.k.a Gorilla-Sensei.

Story By Me

Warning : OOC diperlukan untuk kepentingan cerita, Rated T+, Typo mungkin 'sedikit' bertebaran.

Happy Reading, Minna ^^

ooOoo

Sougo mempercepat laju larinya ketika sosok itu akan menghilang di persimpangan gang. Dengan tenaga penuh, dia menarik jubah yang menutupi surai sosok tersebut.

"Matte ... China!" serunya.

Jubah itu terlepas.

Menampakkan helaian-helaian Vermillion panjang yang jatuh menjuntai.

"Sepezu Hanzai-sha?" gumannya kecewa.

"Yo, Keisatsu-san." Sapa pemuda bersurai Vermillion itu dengan senyuman lebar.

Senyum pemuda itu semakin lebar tak kala melihat raut kecewa yang sedikit ketara di wajah Sougo.

"Jika kau berharap bahwa aku adalah Imouto-chan, Zannen, Aku bukan Imouto-chan." Ucapnya riang.

Sougo menghela nafas berat dan kemudian berkata, "Apa yang kau lakukan malam-malam begini, Hanzai-sha?"

"Apa ya?" jawab Kamui-sosok tersebut, masih dengan senyum lebar yang menyebalkan bagi Sougo.

"Berhentilah bercanda. Aku sedang tidak mood untuk itu. Bukankah, kau harusnya bersama Hime-sama, Hanzai-sha?" selidik Sougo.

Senyum lebar Kamui memudar berganti senyuman tipis dengan raut wajah sendu.

"Aku ingin mengunjunginya." Jawabnya.

Sougo yang mengerti maksudnya hanya menaikan alis sedikit.

"Aku ingin mengatakan padanya kalau Baka aniki-nya ini sudah menikah." Gumannya lirih.

"Stop ... tak perlu kau lanjutkannya, Sepezu Hanzai-sha. Melihatmu menjadi melankolis seperti ini lebih menyeramkan." Sougo menyilangkan kedua tangannya pertanda meminta Kamui untuk menghentikan ucapannya.

"Kalau begitu, Sampai jumpa, Sepezu Hanzai-sha." Ucapnya seraya berjalan memutar dan melambaikan tangan.

"Kau tak ingin ikut?" tawar Kamui.

Langkah Sougo terhenti, sejenak menimbang pemikirannya dan kemudian berbalik arah menuju Kamui, melupakan kalau dia sedang patroli bersama Yamazaki.

Ah, biasanya juga dia membolos patroli. Membolos sekali lagi dia rasa tak masalah.

.

.

.

Di lain tempat, Yamazaki nampak bingung mencari sosok pemuda bersurai pasir yang menjabat sebagai Shinsengumi Ichiban-tai Taichou-nya itu.

"Tak ada cara lain." Gumannya pada diri sendiri.

Dengan sekuat tenaga Yamazaki berlari kembali ke markas Shinsengumi, berharap sang Kaichou dan Fukuchou mereka belum terlelap menuju alam mimpi mereka.

.

.

.

"Fukuchou! Kaichou! Ini gawat!" teriak Yamazaki seraya membuka paksa pintu geser kamar Hijikata.

Hijikata menatap horror Zaki yang dengan seenak jidatnya mengganggu waktu istirahatnya. Dengan aura hitam dia menarik Katananya dan diacungkan tepat ke arah Yamazaki.

"Oy, ku harap kau memiliki alasan yang bagus karena telah mengganggu istirahatku, Nee, Ya-ma-za-ki." Ucap Hijikata dengan suara horror dan penekanan disetiap kata 'Yamazaki'.

Wajah Zaki pucat seketika, keringat dingin membanjiri tubuhnya.

"Glek." Yamazaki menelan ludahnya takut. "Fu-Fukuchou ... O-Okita-taichou ...,"

Hijikata langsung mendapatkan feeling buruk.

.

.

.

Sreek..

"Yo, Toshi ... Jimmy ... Ada apa kalian kemari?" Sapa sang empu-nya kamar ketika menyadari dua bawahannya itu membuka paksa pintu kamarnya.

"Kondo-san, Kita punya masalah." Ucap Hijikata dingin.

Melihat ekspresi mengerikan dari sang Oni no Fukuchou mereka, Kondo langsung manarik kesimpulan buruk.

"Toshi, Jangan bilang kalau Sougo ...," Ucapnya terbata.

Tanpa melanjutkan kata-katanya, Hijikata mengangguk singkat.

"Zaki, Bangun kan semua pasukan. Kita akan berpencar mencari Sougo." Perintah sang kaichou.

"Ha'i, Kaichou." Yamazaki segera meninggalkan ruang tersebut.

"Nee, Toshi, aku harap Sougo tak kembali melakukan hal gila." Ucap Kondo pelan.

Hijikata yang tengah berdiri di depan pintu kamar Kondo menghembuskan asap rokoknya.

"Saa na ... anak itu sulit untukku mengerti." Gumannya seraya menatap langit malam.

pikirannya melayang bersama rasa bersalah terhadap sosok perempuan yang masih mengisi relung hatinya.

'Mitsuba, tolong jaga adikmu sebentar dari sana sampai kami menemukannya' batinnya.

.

.

.

Sementara para anggota Shinsengumi sibuk mencari keberadaannya, Pemuda bersurai pasir itu nampak tengah menikmati pemandangan luar angkasa yang tersaji di depannya. Seragam hitam Shinsengumi-nya kini telah berubah menjadi baju ala china berwarna hitam yang mirip dengan milik Kamui.

"Kau tak ingin memberitahu mereka?" Sapa sebuah suara dari arah belakang Sougo.

Sougo yang saat ini tengah duduk dipinggir jendela kapal tersebut dengan satu kaki terangkat dan dagu yang bersandar pada lutut hanya melirik sekilas.

Diliriknya lelaki bertubuh tinggi dengan rambut teal green dengan kacamata yang mengingatkannya akan sosok Marude damena ossan a.k.a Madao.

"Aku sudah mengirim pesan ke mereka tetapi tidak terkirim." Jawab Sougo seraya mengayunkan benda flip hitam itu.

"Kau tak khawatir mereka mencarimu?"

"Daijoubu desaa~. Dengan begini aku bisa melimpahkan semua tugasku kepada Hijikata-san." Jawabnya dengan deadpan andalannya seperti biasa.

Bansai-lelaki tadi, menghembuskan napasnya pelan seraya mengangkat kedua bahunya.

"Aku tak mengerti jalan pikiran manusia Sadist seperti kalian." Ucapnya seraya berlalu.

Sougo hanya melirik kepergian Bansai melalui ekor matanya. Kemudian, pemuda itu kembali fokus menatap keluar.

"China ..." gumannya pelan.

Ntah mengapa, sampai sekarang Sougo masih belum menerima kenyataan bahwa 'China-nya' telah tiada. Walaupun, Soyo-hime mengatakan bahwa, 'China' telah meninggal lima tahun yang lalu bersama kedua bayi mereka, Sougo tetap tak bisa menerimanya.

Dan walaupun, dirinya melihat sendiri makam 'China-nya' tujuh bulan yang lalu, feeling-nya menyatakan bahwa wanitanya dan anak-anaknya masih hidup.

Sougo tau pemikirannya mulai gila semenjak wanita bersurai vermillion itu tiada. Tetapi, nalurinya sebagai seorang ayah mengatakan lain.

Kedua anaknya masih hidup. 'China-nya' masih hidup. Itulah yang selalu Sougo rasakan.

Temukan aku.

Sougo teringat akan sebuah kalimat yang selalu 'China' ucapkan kepadanya ketika mereka hadir di dalam mimpi pemuda tersebut.

"Apakah masih ada harapan?" gumannya lagi.

Ah, Sougo benci ketika dirinya menjadi melankolis seperti saat ini.

.

.

.

Hijikata nampak jalan terengah-engah bersama Kondo yang mengikutinya di belakang. Hari telah menunjukkan pukul lima dini hari, mereka telah mengelilingi setiap penjuru Edo, dan mereka belum juga menemukan batang hidung Si Pangeran Sadist dari planet Sadist tersebut.

Pikiran buruk hinggap ke benak Hijikata dan Kondo.

"Toshi, jangan-jangan Sougo telah kembali ke planet Sadist untuk mengembalikan sisi Sadist-nya yang terkikis oleh sifat melankolis-nya beberapa waktu ini?" Ucap Kondo dengan muka serius.

Sebuah pertanyaan absurd keluar dari mulut Sang Komandan Shinsengumi tersebut.

Hijikata hanya melongo mendengarnya. Satu tangannya terulur menepuk pelan bahu kiri Kondo. Kemudian, Hijikata berkata, "Kondo-san, sebaiknya anda kembali ke markas dan memperbaiki otak anda."

"Eh?" Kondo mengedipkan matanya bingung, Hijikata memijit pelipisnya pelan.

'tak bisakah rekan-rekannya normal untuk sehari saja?' batinnya.

Mereka berdua kini terdiam.

"Oy, Toshi." Panggil Kondo.

"Kenapa Kondo-san?"

"Apa jangan-jangan mereka bertemu?" tanya Kondo dengan muka serius.

"Eh?"

"Jika kita tak bisa menemukannya di Edo, bukankah ada kemungkinan mereka berdua bertemu?"

Kondo nampak berpikir.

Seakan mengerti, Hijikata menjawab, "Itu tidak mungkin Kondo-san. 'Dia' pasti akan mengabari kita jika datang kemari."

Hijikata menyalakan rokoknya.

"Tapi, Toshi, kita sudah mencarinya lebih dari empat jam dan telah memutari seluruh Edo, Bukankah itu kemungkinan yang paling besar terjadi?" gumannya.

Mata Hijikata membulat, gerakkan tangannya terhenti.

Saat ini dia mulai berpikiran untuk membenarkan kemungkinan yang dikatakan oleh Kondo tadi.

"Kondo-san, kau membawa ponselmu?" tanya Hijikata yang dibalas anggukan oleh Kondo.

"Coba kita tanya langsung ke orangnya." Usul Hijikata.

Baru saja Kondo akan menelpon seseorang, sebuah suara menghentikan mereka.

"Hijikata-san? Kondo-san? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya suara tersebut.

Mereka berdua berbalik ke sumber suara.

"Hime-sama! kanapa anda ada di sini?" tanya Kondo.

Sosok Soyo yang berdiri di belakang mereka hanya tersenyum lembut.

"Aku dan Nobume-san ingin melihat apakah Kamui-kun sudah berangkat ke Rakuyou atau belum." Jawabnya.

"Rakuyou?" desis Hijikata.

"Hmm." Putri Tokugawa itu mengangguk. "Kamui-kun dan Okita-san ingin mengunjungi makam Kagura-chan. Awalnya Kamui-kun ingin pergi sendiri, untungnya dia bertemu Okita-san dan mereka pergi bersama." Jelas Soyo.

Hijikata dan Kondo melongo mendengarnya.

Sedetik kemudian tubuh mereka merosot ke tanah diiringi dengan tawa paksa.

"Hahahaha." Tawa mereka berdua.

Dan tak lama kemudian muka Hijikata berubah datar.

"Haha tte janne darou!" teriaknya. "Kono kuso gaki yarou!" lanjutnya dengan jerit frustasi. dihempaskannya batang rokok yang baru saja dibakar tadi ketanah, kemudian menginjaknya secara brutal seolah-olah dia tengah menjitak kepala pasir Sougo.

Walaupun, Hijikata akui dia sangat kesal dengan tingkah Sougo yang tak berubah itu. Tetapi, kelegaan jelas terpancar dari wajahnya.

"Kupikir dia akan melakukan hal nekat lagi." Ucap Kondo yang ntah sejak kapan sudah menangis.

"Kondo-san."

"Yokatta ... arigatou hime-sama." lanjutnya seraya menyeka air matanya.

Soyo sendiri hanya memiringkan kepalanya tak menegrti.

"Nee ... Sampai kapan kalian akan menyembunyikannya?" tanya suara dingin dari sosok bersurai biru gelap yang tengah berdiri di belakang Soyo.

Mereka bertiga nampak terdiam.

"Nanti." Jawab Hijikata singkat.

"Kalian seharusnya tak menyembunyikannya." Ujar suara dingin itu lagi.

"Berhentilah bersikap seolah-olah kau tak terlibat ... Imai ... tidak, Maksudku ... Nyonya Saito." Balas dingin Hijikata seraya berlalu melewati mereka.

Kondo membungkuk hormat kepada Soyo sebelum akhirnya menyusul Hijikata yang nampak berjalan sangat cepat di depannya. Sedangkan, Saito Nobume, melirik kepergian mereka melalui sudut matanya.

"Kalian masih belum berbaikan?" tanya Soyo.

Nobume hanya mengangkat kedua bahunya singkat, kemudian melanjutkan langkahnya bersama Soyo.

.

.

.

Kamui dan Sougo kini tengah berdiri di depan Pusara milik Kagura dan Kouka. Diletakkannya bungket bunga yang mereka bawa masing-masing kemudian, mereka berdua berdo'a.

"Setelah ini kau mau ikut mampir mencari makanan?" tanya Kamui.

"Hmm, terserah kau saja." Jawab Sougo. Toh bagaimanapun mereka akan pulang bersama ke bumi.

.

Kedua pemuda berusia sama dengan surai berbeda itu melintasi jalan-jalan kumuh di Rakuyou. Mata Sougo bergerak pelan memperhatikan setiap sudut tempat yang mereka lewati.

"Inikah tempat kelahiran China?" gumannya yang dibalas anggukan oleh Kamui.

Sougo terdiam.

Sekarang dia mengerti kenapa gadis itu nampak enggan untuk kembali ke tempat ini. Memorinya kembali ke saat dia menawarkan China untuk tinggal di rumah barunya yang baru dia beli menggunakan uang hasil tabungan Hijikata.


"Oy ... China ... kenapa dengan wajah jelekmu itu?" tanya Sougo kala itu.

Kagura hanya diam seraya terisak.

Merasa diacuhkan, Sougo berjalan mendekati gadis yang tengah duduk di kursi taman itu.

"Aku bertanya padamu, China Musume. Dan aku tahu kalau kau tak memiliki gangguan pendengaran." Ucapnya sarkastik.

"Bukan urusanmu aru! Dasar, Do-S-yarou!" sembur gadis itu dangan air mata yang mengalir deras dan leleran ingus seperti biasa.

"Tentu saja ini urusanku, baka! Kau itu kekasihku sekarang!" seru Sougo. Dia sendiri nampak kaget ketika kata-kata itu meluncur mulus dengan laknatnya.

Kagura menghentikan isakkannya dan beralih ke arah Sougo.

"Gin-chan memintaku untuk kembali ke Rakuyou aru. Gin-chan bilang kalau dia akan menikah dengan Tsukky bulan depan." Curhatnya.

Sougo hanya melirik sejenak tanpa menjawab.

"Aku tak ingin pulang ke sana aru! Papi dan Kamui-Nii tidak ada di sana aru! Aku tidak mau sendirian ... hiks ... hiks." Tangis gadis itu kembali pecah.

Menarik nafas sejenak, sebuah ide gila yang sebenarnya hanya melintas lewat meluncur begitu saja, "Jaa, bagaimana kalau kau tinggal bersamaku? Aku baru saja membeli rumah baru kemarin, bagaimana?"

Gadis itu menatap Sougo dengan binar senang.

"Bolehkah, Sadist?" tanya gadis itu dengan senyuman tipis walaupun, air mata masih mengalir.

Mendengar jawaban Kagura sebuah senyum terlukir tipis di wajahnya. Entah mengapa, pemuda itu senang gadis itu menerima tawarannya.

"Hmm." Sougo mengangguk singkat. Kagura mulai akan berjingkrak senang ketika Sougo melanjutkan kalimatnya, "Tetapi kau juga harus membantuku merawat rumah tersebut."

Senyum Kagura luntur. Sejenak gadis itu berpikir dan kemudian mengangguk antusias.

"Hmmm ... Aku akan berusaha, Sadist!" seru senang gadis itu.

Sougo tersenyum tipis melihatnya. Tanpa sadar tangan pemuda itu bergerak ke arah pipi Kagura dan

Mencubit pipi gadis itu dengan sangat keras.

"Aww!" teriak Kagura kesakitan. "Apa yang kau lakukan, Kuso gaki!" teriaknya galak.

"Hahaha ... Kau lebih bagus berekspresi galak seperti itu, China. Ekspresi menangismu jelek sekali." Sahut Sougo seraya tertawa senang dengan hasil kerjanya.

Pipi gadis itu memerah marah.

"Mati kau, Sadist!" teriak gadis itu seraya mengayunkan payungnya.

Akhirnya mereka berdua kembali merusak taman kota Edo.


Sougo tersenyum mengingat saat pertama kali mereka memulai hidup bersama. Hal yang dilalui Sougo sangatlah sulit. Dia harus rela bangun pagi guna membangunkan gorilla betina itu, mengajarkan dasar merawat rumah yang baik dan benar, serta mengajarkan bagaimana cara memasakan makanan yang layak untuk dimakan selain menu tamago-kake-gohan yang mengisi perut mereka selama seminggu penuh.

Sebenarnya Kagura merupakan gadis yang cepat belajar. Walaupun, tingkat kegagalan masakannya mencapai tujuh puluh persen, tetapi di bulan kedua gadis itu mampu membuat menu sederhana tanpa merubah makanannya menjadi dark matter-nya otae.

Sekali lagi Sougo tersenyum tipis.

Tetapi, senyuman itu dengan cepat menghilang ketika menyadari kesalahpahaman mereka. Selama ini Sougo selalu mengira bahwa gadis itu tak pernah membalas perasaannya. Di saat dirinya kecewa, sosok lain muncul di hadapannya, membuat perasaan Sougo teralih. Tapi siapa sangka, di saat perasaan Sougo terbagi, ternyata gadis itu juga telah lama membalas perasaannya.

Di tengah kebimbangan, akhirnya Sougo tak mampu jujur pada dirinya sendiri. Dia bahkan tak dapat memutuskan kemana hatinya berpihak.

Dan karena sikap ragunya itu, keduanya lepas. Lebih tepatnya Sougo yang melepas mereka. Pemuda itu bahkan tak dapat mencegah kepergian Si surai Vermilion agar tetap bersamanya. Yang dia lakukan hanya memandang gadis itu dalam diam ketika, Kapal gadis itu meninggalkan bumi.

Dan akhirnya, dia menyesal.

Sangat menyesal.

"Kita sampai." Suara Kamui membuat Sougo kembali ke alam sadarnya. Ditatapnya bangunan kecil di depan sana.

Kedai makanan kecil itu nampak tua dan sederhana.

Mereka akhirnya memasuki bangunan kecil tersebut dan mengambil tempat tepat di meja pertama yang mereka lihat setelah masuk ke dalam.

Kamui memesan semua menu yang ada sementara, Sougo hanya memesan nasi telur dengan segelas ocha hangat.

"Kau yakin hanya ingin makan, makanan itu?" tunjuk Kamui ke arah Tamago-kake-gohan yang di pesan Sougo.

Sougo mengangguk singkat, "Kagura menyukai menu ini." Jawabnya.

Kamui terdiam sejenak.

"Kau benar-benar mencintai Imouto-chan?" tanya Kamui, nada suaranya terdengar dingin namun tersirat nada kesedihan.

"Sangat mencintainya." Balas Sougo singkat. "Dia orang kedua yang mampu membuatku meminta maaf setelah Aneue." Lanjutnya dengan tatapan sendu.

"Kalau begitu kenapa kau melepaskannya?" Sougo melirik kearah Kamui, "Jika kau benar-benar mencintai adikku, kenapa kau melepaskannya di saat dia mengandung anak kalian?" tanya Kamui tajam.

"Aku tak tau kalau dia tengah hamil saat itu." jawab enteng Sougo, membuat emosi Kamui nampak tersulut.

Kamui hendak melayangkan tinjuannya tepat ketika suara Sougo kembali terdengar.

"Aku pikir, ketika dia mengatakan kalian akan memperbaiki hubungan keluarga kalian, itu adalah jalan yang terbaik untuk membuatnya bahagia." Terang Sougo. "Ternyata aku salah. harusnya aku mencegahnya saat itu." lanjutnya dengan tatapan sedih.

Kamui terdiam. Perasaan bersalah kembali bersarang di hatinya ketika mendengar ucapan Sougo. Dia sadar, sebenarnya sebagian dari kematian Kagura juga merupakan salahnya. Dia gagal menjadi sosok kakak bagi Kagura.

Kini, berbagai kata 'seandainya' kembali mampir ke benaknya.

Seandainya, dia tak bergabung dengan Harusame.

Seandainya, dia membawa Kagura saat pertama kali mereka bertemu di Yoshiwara.

Seandainya, dia menarik kabur adiknya di pertemuan kedua mereka.

Seandainya ... Seandainya dan Seandainya, dia langsung kembali ke rumah setelah pertarungan terakhir mereka.

Kamui Yakin, dia masih bisa menikmati sisa harinya bersama Sang Imouto-chan yang diam-diam selalu dia perhatikan dan sayangi itu.

Kini sosok Mami yang begitu dia cintai telah tiada dan Adik yang dia sayangi turut mengikuti Sang Mami.

Hal apalagi yang bisa dia lakukan seandainya dia tidak menikah dengan Soyo?

Kamui tertawa getir.

Sougo hanya diam melanjutkan makannya dengan pikiran yang kembali melayang ke masa lalu.

Dalam diam mereka berdua menyesali masa lalu mereka.

Masa lalu mereka tentang sosok berharga, bernama ... Kagura.

t.b.c


Yosh ... Yuki mau membalas review dulu ^^

firufiru: Yup, masih lanjut. Yuki ingin menceritakan sedikit demi sedikit penyesalan mereka di masa lalu. Terima Kasih atas Reviewnya Firufiru-san^^.

Freedom friday: Gimana? apa di chapter ini sudah dapat clue-nya, hehehe... tenang aja, Yuki juga nggak kuat kalau mau bikin calon suami Yuki menderita #dibunuhKagura. Makasih atas Reviewnya Freedom-san^^.

Natsuki yani: Makasih buat jejaknya Natsuki-san^^. Nih dah di up, hehehe ...


...

Yup, sampe di sini dulu...

makasih buat semua readers terutama yang sudah memberikan review, serta mem-fav dan follow cerita ini.

Semoga ceritanya dapat menghibur pada readers semua.

Daah ... Minna ...

RnR?