Kwon Hyunbin berjalan dengan cengiran idiot di wajah tampannya, menyapa semua orang yang ia temui di jalan.

Tebak, apa yang terjadi pada pemuda Kwon itu?

Bukan, bukan karena dia gila, walau sudah mirip orang gila, Hyunbin masih waras kok.

Yup. Sulung Kwon itu akan kencan dengan malaikatnya dan putra sang malaikat. Kemajuan hubungan Hyunbin dan Minhyun sangat cepat sejak hari itu, hingga kini Hyunbin sudah keluar dari rumah sakit mereka masih terus berhubungan, bahkan Minhyun sudah pernah bertemu dengan orangtua si sulung Kwon begitu juga sebaliknya, Hyunbin sudah bertemu dengan orangtua malaikatnya, ditambah lagi Seonho yang begitu lengket pada sang Kwon membuat Minhyun dan Hyunbin tak pernah melewatkan sekalipun hari tanpa bertemu, minimal makan malam bersama entah itu di kediaman Hwang atau Kwon maupun di luar.

Ting...Tong...

Hyunbin menekan bel dengan gembira, suara langkah kaki yang berlari mendekat dan suara Minhyun yang memperingati Seonho untuk berhati-hati menambah senyum di wajah Hyunbin.

Cklek.

"Poppa!" Seonho berteriak sesaat pintu apartemen itu terbuka, bahkan balita berusia tiga tahun itu segera memeluk sang 'Poppa' yang membuka kedua tangannya menyambut Seonho.

"Hoho tidak boleh begitu, Hyunbinnie Poppa pasti lelah, sini Momma saja yang gendong," Bujuk sang ibu pada Seonho namun rengekan dan gelengan kepala Seonho membuat Minhyun menghela nafas sedang Hyunbin nyengir senang.

"Ani, Hoho mau sama poppa, Hoho kangen Poppa. Poppa kangen Hoho jugakan? Gak apa-apakan Poppa gendong Hoho? Hoho gak beratkan?" Cerocos Seonho sambil menangkup wajah Hyunbin dengan tangan mungilnya, menatap sang poppa dengan pandangan anak anjing manis.

" Ne, Poppa kangen Hoho. Iya gak apa-apa kok Hoho di gendong Poppa, Hoho gak berat kok," Jawab Hyunbin sambil menggendong Seonho yang kini menciumi pipinya sedang Minhyun hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua lelaki yang berbeda usia itu sudah seperti Ayah-anak saja, eh.

"Apa kau sudah sarapan? " Tanya Minhyun pada Hyunbin sambil mengikuti pemuda jangkung itu masuk.

"Belum hehe," Hyunbin nyengir bodoh, karena terlalu excited dia bahkan melupakan sarapannya.

"Kalau begitu, ayok makan dengan Hoho," Kalian tahukan siapa yang berbicara.

"Ayey...Ayey Captain!" Hyunbin menjawab sambil melakukan salute membuat Minhyun geleng-geleng kepala melihatnya.

.

.

.

Setelah sarapan bersama di apartemen Minhyun, mereka memutuskan untuk segera pergi ke kebun binatang menggunakan mobil Minhyun karena Hyunbin lupa tidak membawa mobil.

Seonho duduk sendiri di bangku belakang, terkadang bocah itu berceloteh tentang yang ia lihat melalui kaca jendela, kadang bocah tiga tahun itu menyanyi lagu anak-anak bersama Poppa-Mommanya maupun bertanya macam-macam pada Hyunbin. Perjalanan menuju kebun binatang pagi itu diiringi tawa tiga lelaki berbeda usia, membuat musim semi ini menjadi sangat indah.

"Huwahhh sampai!" Seru Seonho antusias, bahkan bocah bernama lengkap Hwang Seonho itu bergerak-gerak aktif di tempat duduknya. Hyunbin terkekeh melihat kelakuan Seonho sedang Minhyun hanya tersenyum manis.

"Kalau begitu ayo kita pergi menjelajahi Kebun Binatang ini Captain!" Hyunbin menggendong Seonho dari dalam mobil, Minhyun memakaikan topi berwarna biru pada Seonho, merapikan pakaian si bocah yang terlihat kusut.

"Hoho mau turun saja, Hoho mau jalan, pegang tangan Momma dan Ppoppa Komu," Seonho meronta dari gendongan Hyunbin, pemuda berusia duapuluh tiga itu tanggap, segera menurunkan Seonho membuat sang bocah memekik senang, tertawa memperlihatkan gigi susu mungilnya.

"Ayo kita jelajahi hutan kebun binatang!" Seru Seonho lagi sambil mengandeng tangan Minhyun dan Hyunbin.

.

.

.

Mereka menghabiskan waktu hingga hampir makan siang, melihat hewan-hewan yang ada di sana, bahkan Hyunbin dan Seonho menaiki gajah sedang Minhyun hanya melihat buah hati dan pengisi hatinya sambil tersenyum, terkadang melambai pada mereka.

Kini waktu makan siang sudah tiba, Minhyun dan Hyunbin memutuskan untuk makan di Baloons Cafe seperti permintaan Seonho.

Saat ini bocah itu tengah melahap dessertnya, Eskrim dengan potongan buah-buahan.

"Mau Yagi," Pinta Seonho dengan mulut penuh eskrim, Minhyun menggelengkan kepala tanda bahwa Seonho tak boleh tambah lagi eskrim.

Seonho merengek, matanya memerah dengan bibir mengerucut, jangan lupakan bekas-bekas eskrim di sekeliling mulutnya bahkan ada sedikit noda di pipi bocah gembul itu.

"Ah, bagaimana jika kita membeli Kapten Optimus prime?" Hyunbin memangku Seonho yang merajuk, si mungil Hwang mendongak menatap wajah poppanya.

"Benarkah?" Tanya Seonho dengan mata berkaca-kaca, Hyunbin mengangguk, mengusap air mata bocah itu.

"Tentu, kita akan beli Optimus Prime, bumble bee, dan apapun yang Hoho mau, tapi Hoho jangan menangis, bagaimana?"

Seonho mengangguk senang, "Hoho tidak nanngis, mata Hoho kelilipan," Seonho mengusap kasar matanya kemudian tersenyum senang membuat Hyunbin terkekeh, Minhyun tersenyum sambil membersihkan wajah sang anak yang belepotan.

"Aigoo, Hoho ya, kenapa sangat kiyowoh?" Hyunbin mencium gemas pipi gembul Seonho membuat Seonho tertawa geli.

"Kau terlalu memanjakannya Hyunbinnie," Walau berkata begitu sesungguhnya Minhyun senang melihat pemandangan Seonho yang tertawa lepas.

"Aku menyayanginya jadi tak apakan aku memanjakan Seonho sesekali?" Hyunbin tersenyum idiot, Minhyun menggerutu.

"Sesekali darimana? Kau selalu memanjakan Seonho,"

Mendengar gerutuan Minhyun, Hyunbin tertawa garing.

.

.

.

Perjalanan pulang Minhyun dan Hyunbin hanya diisi obrolan sesekali dua sejoli itu karena si perusuh alias Hwang Seonho sudah terlelap bersama Kapten Optimus primenya.

Suara deru mesin mobil yang memasuki basement apartemen berhenti, Hyunbin keluar dari mobil, membukakan pintu itu pujaan hatinya kemudian cepat-cepat menggendong Seonho yang terlelap di bangku belakang, Minhyun mengambil barang-barang milik Seonho, mereka berjalan beriringan menuju ke dalam lift, tangan kiri Hyunbin digunkan untuk enggendong Seonho sedang tangan kanannnya menggenggam tangan Minhyun. Senyum terukir di wajah keduanya.

.

.

.

Hyunbin membaringkan Seonho di kamar bocah itu, membuka sepatu Seonho dan menyelimuti bocah itu, bahkan Hyunbin mengecup dahi Seonho sambil berbisik, "Selamat malam," Setelah itu sang pemuda Kwon keluar dari kamar bermaksud menemui Minhyun yang tadi ke dapur.

Langkah Hyunbin terhenti kala melihat punggung sempit Minhyun, nampaknya sang pujaan hati tengah membuat minuman hngat untuknya. Kakinya berjalan perlahan kearah Minhyun, memeluk pemuda yang lebih tua membuat Minhyun terlonjak kaget.

"Aish, kau mengagetkanku Hyunbinnie" Ujar Minhyun, pipinya berubah merah dan jantungnya berdentum tak karuan.

"Coklat hangat? Kenapa tidak Kopi?" Hyunbin meletakan dagunya di bahu Minhyun, tangan pemuda Kwon itu mengerat di perut Minhyun bahkan terkadang ia mengelus perut rata itu.

"Lebih sehat," Jawab Minhyun sambil mengangkat mug berisi cokelat hangat itu, menyodorkannya pada Hyunbin. (Ngertikan? Jadi Hyunbin lagi meluk Minhyun sambil naruh dagunya di bahu Minhyun nah Minhyun nyodorin mug itu ke bibir Hyunbin)

Hyunbin menyesap coklatnya sedikit.

"Mmm hangat, tapi lebih hangat memeluk Hyung hehe," Minhyun semakin blushing mendengar kata-kata Hyunbin, pemuda berusia duapuluh lima tahun itu menundukan kepalanya, pura-pura menyesap cokelat dari gelas yang sama.

Hening. Untuk beberapa saat tak ada yang bersuara, mereka menikmati keheningan yang ada, Hyunbin semakin menyerukan kepalanya di ceruk leher Minhyun sedang yang lebih tua memainkan tangan pemud Kwon yang masih nyaman memeluk dan mengelus perutnya.

"Hyung," Hyunbin memanggil dengan suara serak, memecah kehwningan yang ada, Minhyun hanya menggumam sebagai jawaban.

"Hyung," Sekali lagi Hyunbin memanggil Minhyun.

"Ada apa Kwon Hyunbinie?" Jawab Minhyun kali ini sambil menoleh kearah Hyunbin yang masih asik menjadikan bahunya sebagai sandaran. Wajah Minhyun dan Hyunbin kini sangat dekat bahkan mereka bisa sama-sama merasakan deru nafas masing-masing.

"Aku tak apa kok," Jantung Hyunbin berdegup sangat cepat. Heol, bibir merah Minhyun benar-benar mengundangnya untuk...

Cup.

Bukan, sungguh, itu bukan Hyunbin yang mengecup Minhyun.

Hyunbin membelalakan matanya kala merasakan bibir lembut dan hangat itu menempel di bibir tebalnya, sebentar memang tapi rasanya.

"H-hyung," Kan Hyunbin jadi gagap.

"M-maaf," Minhyun berusaha melepaskan pelukan Hyunbin di pinggangnya namun bukannya terlepas Minhyun yang di tahan Hyunbin, sekarang malah berhadap dengan pemuda tinggi itu.

"Hey, lihat aku hyung, " Hyunbin memegang dagu Minhyun dan membuat pemuda yang lebih tua mendongak, mata hazel Minhyun bertemu dengan Oniks Hyunbin.

"Aku tahu, aku tak pantas mengatakan ini, tapi hyung, aku tak lagi bisa membendung ini," Waktu seakan terhenti di sekitar mereka, Minhyun menahan nafasnya, entah kenapa hatinya berdegup kencang mendengar kata-kata sang Sulung Kwon.

"Hyung, bolehkah aku menjadi ayah untuk Seonho? Menjadi pendamping hidupmu dan menjadi ayah yang baik untuk Seonho. Aku menyayangi Seonho sebesar aku menyayangimu, Jadi bolehkah aku menjadi bagian dari keluarga kalian?"

Minhyun terdiam. Hey, dia tidak menyangka akan ditembak sekarang.

"Kau melamarku?" Tanya Minhyun tak percaya.

"Tidak, aku melamar Seonho," Hyunbin terlihat sebal, "Tentu saja aku melamarmu hyungkuuu sayang." Pipi Minhyun diunyel-unyel gemas oleh pemuda jangkung itu.

"Aish, Hyunbinnie," Minhyun merengek, ngomong-ngomong sudah lama sekali sejak Minhyun bisa merengek seperti ini.

"Iya, iya, habis hyung malah bertanya aku melamar hyung, tentu saja aku melamrmu, mana mungkin kan aku melamar Seonho,"

"Jadi aku harus menjawab apa?" Minhyun mengerjap lucu, sok bertanya apa yang harus ia jawab.

"Bagaimana jika hyung menjawab, ' Iya Hyunbinnie sayang, bagaimana kalau menikah besok?' kan begitu enak," Alah Hyunbin dan segala keabsuradannya.

Plak!

Kepala Hyunbin digeplak main-main oleh Minhyun.

"Kau kira menikah semudah membalikan telapak tangan?" Minhyun ngomel sambil menggigit main-main dagu Hyunbin.

"Daripada mengomel bagaimana jika Hyung menjawab pertanyaanku saja? Jangan mengalihkan pembicaraan," Minhyun merenggut sebelum mengangguk malu-malu kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Hyunbin.

Hyunbin rasanya ingin berjingkrak senang, tapi karena Minhyun tengah memeluknya jadi Hyunbin hanya berdeham sebelum berbisik.

"Jadi, bagaimana jika kita membuat program membuat adik baru untuk Seonho?"

Hyunbin dan segala kemesumannya.

"Ya Kwon Hyunbin!"

The End

bacot's Zone :

Hi kawan, ku bawa kelanjutan ff ini hah~~ maaf ya, ffku terlantar yang pure boy, karena tugas anak kelas 12 numpuknya amit2, gurunya bener2 hobi nyiksa murid huhuhuhu terus aku lagi kesulitan sama KIMIA. Aku dan Kimia itu kayak Donghan sama Taehyung :v gak akan akur Cin~~~ I really hate Chemic guys... Akuuuhhh gak ngerti kimia, benci Kimia... Tapi aku anak MIPA, padahal kelas X awal masuk ane milih Bahasa eh dimasukin ke MIPA... ya ginilah jadinya, maaf buat yang nungggu pure boy and Idiot boy belum bisa up karena ya gitu, saya gak ada waktu :v

sampai ketemu di ff berikutnya Love You...

ps. Seonho disini cuman sakit biasa aja bukan sakit parahkok...

pss. Maaf ya banyak typo ini ngedadak ngeupnya belum bisa ngedit huhuhuhu

pssss. Ada yang beli album JBJ? Aku beli dan itu kenapa aku puasa jajan :v wkwkwkwkwkwk

pssss. Ayok support JBJ dan Nu'est W!