IT'S YOU

Chapter 2


WARNING!

Out Of Character, SasuHina, MissTypo, Rated T


DISCLAIMER: Not Mine


Keesokan harinya, kami menikah untuk yang kedua kali. Tak ada keluarga besar Uchiha maupun Hyuuga yang diundang. Dan hari itu juga dia membawaku ke rumahnya, rumah yang dulu pernah kami tinggali bersama.

"Rumah ini masih sama seperti dulu," kataku setelah selesai melihat-lihat kondisi rumah. Semua perabotan di dalamnya tidak ada yang berubah. Foto pernikahan kami yang ada di ruang tamu masih tetap di tempatnya. Bahkan, pohon-pohon bunga yang kutanam di kebun belakang kini telah berbunga. Apa ia yang merawatnya?

Setelah berkeliling, aku memasuki ruang tengah. Di sana, ia tengah berbaring di atas sofa sambil memejamkan mata sementara aku hanya memandangi wajah tampannya dari sofa di sampingnya.

"Hinata, kemarilah," perintahnya masih dengan menutup mata.

Aku tak beranjak, hanya memandanginya dengan bingung.

"U-umm, t-tapi sudah tak ada tempat di sofa itu,"

Dia membuka mata, menatapku, lalu menggeser tubuhnya. "Kau bisa berbaring di sebelahku seperti tadi malam,"

Wajahku merona mengingat aku telah tidur dengannya di sebuah sofa yang sempit. Aku mendekatinya dengan gugup.

"Ah!" pekikku ketika tiba-tiba tanganku ditarik olehnya. Aku jatuh di atas tubuhnya yang masih berbaring. Walau mata telah kupejamkan untuk mengantisipasi jatuhku, aku dapat merasakan hidung kami yang saling bersentuhan. Dia memelukku erat sementara aku berusaha membuat jarak, tak ingin dia tahu betapa cepat jantungku berpacu ketika kami sedekat ini.

"Aku berubah pikiran," bibirnya menyentuh bibirku ketika berbicara, aku tak berani membuka mata, "lebih baik kau berbaring di atasku seperti ini,"

"A-aku harus m-membereskan barang-barangku, Sasuke,"

"Nanti saja,"

Lalu, dia memperdalam sentuhan di bibirku, memeluk erat pinggangku, dan menekan tengkukku agar aku tak lepas dari ciumannya. Aku masih berusaha melepaskan diri, posisi kami yang seperti ini jujur membuatku tak nyaman. Beberapa menit kemudian, dia melepaskan ciumannya, napas kami memburu.

"Kalau kau terus bergerak-gerak seperti itu," suaranya rendah, berat, dan terengah, "aku tak yakin dapat menahannya lagi,"

Karena tak mengerti dengan apa yang ia katakan, aku membuka mata, melihat wajahnya yang ternyata juga memerah. Pertama kali aku melihatnya menampakkan emosi sejelas ini. Di bawah dadaku, aku dapat merasakan jantungnya yang berdetak cepat. Ternyata dia juga bisa gugup.

Tiba-tiba aku berteriak kecil sambil membenamkan wajah merahku yang bertambah merah ke lehernya. Akhirnya, aku tahu maksud kata-katanya.

"K-kau m-mesum,"

Di luar dugaanku, dia malah tertawa. Tangan kanannya membelai lembut rambutku dan dia berbisik pelan, "Kau yang tak mau diam. Jadi jangan salahkan aku,"

oOo

Saat istirahat makan siang hari itu, telepon genggamku bergetar. Aku yang sedang membaca script percakapan sebuah anime, terpaksa berhenti. Namanya terpampang di layar.

"Halo,"

"Ayo makan siang. Kau ku jemput,"

"Tapi aku masih ada pekerjaan,"

"Bukankah ini jam makan siang?"

"I-iya sih, ta-,"

"Kau tunggu saja di sana. Jangan ke mana-mana sampai aku datang,"

Sambungan terputus, meninggalkanku yang masih mengenggam telepon di tangan dan harus beradaptasi dengan sikap suka memerintahnya.

Lima belas menit kemudian, setelah dia memaksa atasanku, kami berdua telah berada di dalam mobil hitam mewahnya. Ditemani alunan saxophone yang diputar pelan di dalam mobil, kami tak saling bicara hingga -tak seperti biasanya- dia yang mengajakku bicara terlebih dahulu.

"Kenapa kau bekerja?"

Aku memandangnya heran. Bukankah semua orang dewasa bekerja? Kecuali yang tidak, tentunya.

"Umm, untuk mencari uang?"

Kali ini dia yang memandangku aneh. Mungkin jawabanku salah.

"Bukan itu maksudku," pandangannya beralih ke depan karena sedang menyetir, "keluargamu kaya. Aku yakin uang mereka tak akan habis hanya untuk menghidupimu,"

Pertanyaan itu tak kujawab, merasa sungkan untuk menceritakan alasannya. Kurasa dia menyadarinya karena melihatku membuang pandangan ke luar jendela, tak menatapnya.

"Lupakan saja," katanya, membebaskanku untuk tidak menjawab.

Tak lama kemudian, kami tiba di tujuan. Restoran itu terletak di daerah pusat perbelanjaan, tak terlalu jauh dari kantornya dan tempat kerjaku. Setelah memesan, dia meminta izin untuk pergi ke kamar kecil, meninggalkanku sendiri di sana.

Aku sedang mengamati kendaraan yang berlalu lalang di jalan di samping restoran ketika sesuatu di atas meja bergetar. Ponsel canggih keluaran terbaru itu tentu saja bukan punyaku, gajiku selama setahun belum tentu sanggup membelinya. Itu miliknya.

Untungnya dia cepat kembali. Jadi aku tak perlu ragu untuk menjawab panggilan itu atau tidak. Setelah dia menekan salah satu tombol, getarannya berhenti.

"Kenapa kau tak menjawab teleponnya?" tanyaku penasaran.

"Tak penting,"

Sebelum duduk, dia melepas jas hitam yang sedari tadi dikenakannya dan meletakkannya di kursi kosong. Kemudian, pesanan kami datang, dua porsi sushi dan dua gelas air putih.

"Tentang pertanyaanmu di mobil tadi," kataku ketika sushi telah kumakan separuhnya, "sebenarnya aku-,"

"Kau tak perlu menceritakannya jika tak mau,"

"A-ano," Kurasa ucapanku sedikit mengejutkannya karena kini dia menatapku, membuat wajahku merona karena tatapannya. "K-kau kini adalah s-suamiku. Jadi, kupikir kau berhak tahu,"

Dia tak berkata apapun. Dia juga tak melanjutkan makannya. Dia hanya menatapku.

"S-saat aku lulus SMA, a-ayah menyuruhku untuk mengambil kuliah jurusan bisnis karena dulu aku dituntut untuk menjadi penerus perusahaan. Aku menolak karena aku memang tak berbakat dalam bisnis. Itu adalah pertama kalinya aku menolak perintah ayah. Kami bertengkar hebat hingga dia mengusirku dari rumah dan mengancam tak akan membiayai kuliahku jika aku tak menurut. Akhirnya, aku benar-benar pergi dari rumah. Sejak saat itu, aku mulai bekerja untuk membiayai hidup dan kuliahku,"

"Sampai sekarang?"

Aku mengangguk, lalu tersenyum menatapnya. "Aku yakin kau sudah tahu tentang aku yang tidak lagi menjadi ahli waris ataupun penerus perusahaan. Oleh karena itu, aku sedikit heran ketika kau setuju untuk menyetujui perjodohan itu,"

Dia membuang pandangan dari wajahku. Walau raut wajahnya masih tetap datar seperti biasa, aku tahu perkataanku membuatnya tak nyaman. Tetapi saat ingin meminta maaf, sebuah suara memanggilnya dengan keras di tengah suasana tenang restoran.

"TEME!,"

Sontak, seluruh perhatian pengunjung restoran beralih pada Naruto-kun, si pemanggil. Kali ini, mimik wajahnya terbaca jelas. Dia kesal.

"Untung aku menemukanmu. Kenapa kau melarikan diri? Teleponku juga tak diangkat. Gara-gara kau, rapat dengan Si Rambut Putih itu jadi diundur," kata Naruto-kun ketika telah sampai di sebelah dia.

"Sudah kubilang, kau yang mewakiliku, Dobe," Walau dia menatap tajam dan jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya, sepertinya Naruto-kun sudah kebal. Naruto-kun dengan santainya malah menarik kursi kosong di sebelahnya dan duduk di sana.

"Mereka menginginkanmu ada di sana dan tidak akan memulai rapatnya jika kau tak ada,"

"Bukankah ada Itachi?"

"Mereka ingin kalian berdua, makanya Itachi-san menyuruhku mencarimu"

Untuk sesaat, mereka saling melotot untuk mengetahui kemauan siapa yang lebih kuat.

Aku yang mengerti sedikit apa yang mereka bicarakan hanya memandang mereka secara bergantian. Naruto-kun yang menjadi asistennya di kantor adalah teman baiknya sejak mereka sekolah. Hubungan keduanya memang aneh. Tapi sejauh ini, Naruto-kunlah satu-satunya teman dekat yang dia miliki.

"Baiklah," katanya sambil beranjak, mungkin karena sadar kewajibannya sebagai presiden direktur, dia mengalah,, "aku akan ke sana. Dobe, kau antar Hinata pulang setelah makan siang,"

"Sip, Bos!"

Meski tak mengatakan apapun, sebelum pergi dia sempat melihat ke arahku. Mungkin itu caranya berpamitan kepadaku. Setelah mengambil jas hitamnya yang tergeletak di kursi, dia pergi meninggalkanku dan Naruto-kun.

"Ano, Naruto-kun," kataku setelah dia menghilang dibalik pintu,"sebenarnya ada apa?"

"Kami mengerjainya, Hinata-chan," Bukan Naruto-kun yang menjawab, tetapi seseorang yang berjalan di samping meja, menarik kursi di depanku, lalu duduk di sana.

"Itachi-san?"

Kakak iparku itu tersenyum kepadaku.

"Ne, Hinata-chan," kata Naruto-kun sambil mencomot sushi milik dia yang ditinggalkan, "sebenarnya tak ada rapat. Itu hanya untuk membuat Sasuke pergi. Jadi, kami bisa bertanya sepuasnya kepadamu,"

oOo

"Jadi, Hinata-chan, apa kini kau tinggal bersama Sasuke?"

"I-iya," jawabku. Aku merasa seperti sedang diinterogasi.

Meja yang tadinya hanya berisi dua porsi sushi dan dua gelas air putih, kini bertambah dua porsi sushi, dua gelas air putih, dan satu porsi ice cream. Walau jam makan siang telah berakhir lima menit yang lalu, mereka tak mengizinkanku untuk pergi. Ketika aku berkata aku harus kembali karena masih ada pekerjaan, Itachi-san malah berkata ,"Gampang. Itu sudah diurus, kau di sini saja,", membuatku mau tak mau tetap tinggal.

"Dia yang menyuruhmu?"

Aku mengangguk.

"Apa dia… melamarmu lagi?"

Mukaku merona mendengar pertanyaan itu. Dengan tersipu, aku mengangguk.

"Ternyata adikku yang bandel itu berani juga,"

"Huh. Perlu perjuangan panjang untuk meyakinkannya. Dasar Teme bodoh!"

"A-ano, apa maksudnya?"

Untuk sesaat mereka tak menjawab dan hanya saling berpandangan. Hingga akhirnya Itachi-san yang bersuara.

"Sebenarnya kami tak punya hak mengatakan ini kepadamu. Tapi berhubung Sasuke sudah melamarmu, kurasa tak masalah," Itachi-san melihat ke arah Naruto-kun, "Naruto, kau yang cerita,"

Naruto-kun yang masih asyik dengan sushinya menatap Itachi kaget. "Eh, kenapa aku?"

"Karena semua ini idemu," jawab Itachi-san.

"Tapi selama ini kau yang menyusun skenarionya."

"Aku hanya membantu."

"Tap-"

"Gajimu mau kupotong?"

"Hei, itu tidak adil!"

"Tak masalah buatku,"

Aku bingung memandang mereka berdua selama perdebatan itu berlangsung.

"Huh, baiklah," Naruto-kun akhirnya menyerah dan meletakkan sumpit yang digunakannya di atas piring yang telah kosong. "Begini, Hinata-chan, sebenarnya Teme sudah menyukaimu dari dulu."

Kalau kukatakan aku tak terkejut mendengar berita itu, maka aku berbohong. Dia menyukaiku? Kalau sekarang, aku bisa percaya karena dia memang telah mengucapkannya beberapa hari yang lalu. Tetapi 'sejak dulu'?

"Aku tak tahu sejak kapan dia mulai tertarik denganmu. Tapi, diam-diam dia telah memperhatikanmu sejak, ummm," Naruto-kun berusaha mengingat-ingat sambil menghitung dengan jari, "sekitar satu tahun lalu ketika kau pertama kali menjadi dubber."

"S-selama itu?" Jantungku perlahan menjadi cepat.

"Yup," Naruto-kun mengangguk," makanya dia menerima perjodohan itu."

Sejenak sunyi merayapi meja itu. Aku masih berusaha menyerap informasi yang diterima. Jadi, itu alasannya.

"Saat kau memutuskan untuk pergi dari rumahnya beberapa bulan lalu, aku tahu dia kecewa walau tak ditampakkannya. Sejak saat itu dia mulai menjadi seorang workaholic dan selalu pulang larut malam untuk mengerjakan tugas-tugas kantor yang sebenarnya bisa dikerjakan besok. Aku bahkan pernah sekali harus menyeretnya pulang."

Huh?

"Sejak itu, kami berencana untuk menyuruhnya membuatmu kembali pulang, karena kami yakin kau tak mau pulang jika bukan Sasuke yang meminta. Tapi kau tahu seperti apa dia. Selama ini dia tak pernah meminta kepada wanita untuk mendampinginya karena mereka selalu menawarkan diri dengan suka rela. Jadi, butuh waktu lama untuk meyakinkannya membawamu pulang."

Mereka membiarkanku meresapi apa yang baru saja mereka katakan. Benarkah dia seperti itu? Bukankah dia adalah Sasuke yang cool, dingin, cuek, tak pedulian, galak, dan suka memerintah?

"Kau ingat saat malam-malam, Teme ke rumahmu waktu itu?" Aku mengangguk. "Sebenarnya mobilnya tidak mogok, dia hanya malas untuk membawanya pulang dan memutuskan untuk berjalan kaki ke rumah. Aku sudah memperingatkannya bahwa hujan akan turun malam itu, tapi ia tak mendengarkan dan mengacuhkanku. Aku mengikutinya dengan mobil diam-diam dari belakang. Tadinya aku bingung dia mau ke mana karena arah tempat tinggal kalian berlawanan. Ternyata dia pergi ke apartemenmu,"

Jadi dia sengaja pergi ke apartemenku? Itukah pe-

"DOBE!"

Aku tak pernah mendengarnya berteriak sekeras ini sebelumnya. Aku juga tak menyangka dia akan berteriak di tengah restoran yang penuh sesak. Sungguh. Saat dia berada di dekat kami, aku dapat merasakan kemarahannya. Aku melihat ke arah Naruto-kun yang ketakutan dan Itachi-san yang tenang-tenang saja sambil memakan sushinya. Aku tak berani melihat ke arahnya.

"Apa maksudnya ini!"

"Ummm, kami hanya ingin berbincang dengan Hinata-chan. Jadi, umm, kami terpaksa mengusirmu karena jika kau ada di dekatnya, kami tak bisa mengobrol tentangmu dengan Hinata-chan." Sunyi sejenak. "Ups. Kelepasan. Hehe…" Naruto-kun tersenyum gugup sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Apa yang kalian bicarakan tentangku?" Kali ini suaranya pelan dan mendesis dengan gigi yang bergeletuk. Dia benar-benar marah.

"Bukan hal penting, Sasuke, hanya kenangan masa lalumu,"

"Jangan bohong!"

"Kalau tak percaya, tanya saja Hinata-chan," perintah Itachi-san sambil tersenyum memandangku. Aku mengangguk kaku, masih tak berani menatapnya.

Tiba-tiba tanganku ditariknya kasar hingga aku hampir saja jatuh jika genggamannya tak erat.

"Kita pergi,"

Dan aku hanya bisa menunduk sambil mengikutinya.

oOo

Dia membawaku ke taman kota yang sepi karena hari itu adalah hari kerja. Aku tak berani membuka pembicaraan dan mungkin dia masih berusaha mereda kemarahannya. Kami masih berada di dalam mobil, udara di luar terlalu panas saat jam-jam seperti ini.

"Jadi kau sudah tahu?" suaranya pelan, walau aku tahu dia masih marah.

"T-tahu tentang a-apa?"

Sontak dia memandangku tajam, "Jangan-pura-pura! Apa yang kalian bicarakan tadi?"

Aku memalingkan wajah ke luar jendela. Tatapannya membuatku takut.

"S-sejak kapan?"

"Apanya?"

"Se-sejak kapan kau menyukaiku?"

"Apa itu penting sekarang?"

"Aku… ingin tahu,"

Aku mendengar dia menghela napas kecil.

"Jadi itu yang kalian bicarakan?"

Aku tak menjawab, masih melihat ke luar jendela dan menunggu jawabannya. Lima menit berlalu, dia beranjak ke luar mobil lalu berjalan ke pintu samping dan membukakan pintu di sampingku.

"Ikut aku," perintahnya pelan.

Aku membuntutinya dengan berjalan pelan sambil melihat-lihat keadaan taman yang mengingatkanku tentang taman yang sering kukunjungi ketika aku kecil dulu. Tanpa melihat ke mana aku berjalan dan apa yang ada di depanku, aku menabrak punggung lebarnya.

"Kau ingat pertama kali kita bertemu?" tanyanya dengan lembut.

Sejenak aku melihat sekitar untuk mengetahui bahwa aku berada di bagian taman bermain anak-anak. Dia berjalan menuju ayunan yang berada di samping kotak pasir.

"D-di saat pertemuan dua keluarga itu?"

"Bukan," dia memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti, "saat kau bermain sendirian di kotak pasir yang ada di taman dekat rumahmu,"

Pikiranku melayang kembali ke masa beberapa tahun yang lalu. Dulu, aku memang sering bermain sendiri di tempat yang dia sebutkan. Pernah suatu waktu saat musim panas, bola kaki anak-anak yang sedang bermain di lapangan yang berada di dekat kotak pasir mengenai kepalaku. Aku sangat ingat kejadian itu karena untuk pertama kalinya sejak aku bermain di kotak pasir itu, ada anak yang mendekatiku, walau hanya untuk mengambil bola. Saat mencoba mengingat bagaimana rupa bocah kecil saat itu, yang kuingat hanyalah kulitnya yang pucat dan rambut hitamnya.

Tunggu…

"K-kau anak laki-laki yang waktu itu mengambil bola dariku?"

"Hn"

Konfirmasi darinya membuat wajahku merona. Benarkah dia anak laki-laki yang kutemui waktu itu? Berarti dia juga yang…

"Aku menepati janjiku, bukan?" tanyanya.

… berjanji untuk menikahiku.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Sejak pergi bermain ke tempat ini setiap siang sejak beberapa minggu lalu, ini pertama kalinya ada yang mau mendekatiku. Dia anak laki-laki seumuran denganku, berkulit pucat, bermata hitam dan berambut hitam. Di tangannya ada sebuah bola yang tadi jatuh menggelinding ke arahku.

"A-aku s-sedang membuat istana p-pasir,"

Aku menunduk, terlalu malu untuk menunjukkan rasa senangku kepada orang lain. Kukira dia akan langsung pergi, ternyata malah mendekatiku dan mengusap rambutku. Aku yang masih terduduk di atas pasir dengan seember pasir di tangan kananku, mendongak menatapnya yang berdiri.

"Di rambutmu ada pasir, pasti karena bola tadi."

Aku diam tak berkutik dengan wajah merah. Seingatku saat itu, dia adalah orang pertama yang mengelus rambutku kecuali ibu.

"Hei," sapanya sambil berjongkok di depanku, "sudah kuputuskan, kalau sudah besar nanti aku akan menikahimu,"

Menikah? Apa itu? "M-maksudmu?"

"Menikah… kau akan jadi istriku dan kita akan tinggal bersama seperti tou-san dan kaa-san,"

Ha? "T-tapi k-kenapa?"

Dia tersenyum lebar hingga gigi-giginya terlihat. "Karena kau merah seperti tomat. Dan aku suka tomat,"

oOo

Aku langsung masuk ke dalam dan meninggalkannya yang masih memarkirkan mobil begitu kami sampai di rumah sepulang dari taman. Sepanjang perjalanan rona merah nakal di wajahku tak mau pergi dan aku tak berani melihatnya. Sungguh, sepanjang hidupku aku tak menyangka kalau bocah kecil berambut hitam di masa kecilku adalah dia.

"Kau menghindariku," katanya sambil menahan tanganku ketika aku akan masuk ke kamar.

Aku masih tak memandangnya. "T-tidak, aku hanya lelah dan ingin tidur,"

"Kalau begitu aku akan menemanimu," Tanpa peringatan, dia mengangkat tubuhku dan membaringkannya di atas ranjang. Kemudian, dia memposisikan dirinya di belakangku, memeluk pinggangku, dan membenamkan wajahnya di rambutku. Walaupun alasanku untuk tidur adalah agar dia tak tahu betapa membaranya wajahku, ajakannya terlalu menggoda untuk kutolak.

Tubuhnya begitu hangat dan nyaman, seolah menyuruhku untuk menetap selamanya dalam pelukan itu. Ditambah dengan wangi maskulin tubuhnya dan usapan lembut ibu jarinya di pinggangku, membuatku terhanyut ke alam mimpi. Kadang aku berpikir, kenapa dia -yang notabene begitu sempurna- memilihku yang bodoh, tak dapat diandalkan, ceroboh, dan kikuk ini dibandingkan wanita-wanita anggun dan seksi yang dapat dengan mudah ia dapatkan.

Saat mataku hampir terpejam sepenuhnya, samar-samar aku mendengar suara bisikannya di telingaku, "Karena kau adalah kau, Hinata" dia mencium pelipis kananku, "aku mencintaimu,"

Dalam tidurku saat itu, aku bermimpi tentang bocah kecil berambut hitam dengan bola sepak di tangannya menghampiriku lalu mencium pipiku.

FIN


I'm back :D

Sejujurnya, aku nggak puas dengan chapter ini. Tapi udah nggak ada inspirasi lagi, jadi, inilah hasilnya. Maaf kalau hasilnya benar-benar nggak memuaskan dan maaf juga baru update (biasa, lame excuse). Oh, dan terima kasih banyak atas reviewnya (nggak nyagka bakal dapet review sebanyak itu). Sebenarnya cerita ini one shoot tapi karena waktu itu ide dan waktu terbatas, dipotong jadi dua chapter.

Khusus untuk para reviewer yang nggak log ini, review akan dibalas lewat review juga (tapi bukan sekarang :D)

Mohon maklum kalau ada typo. Review lagi yak!

Ubur...