A/N : sebenarnya ini ff Valentine tapi karena sibuk jadi panitia baru bisa share sekarang
WARNING! maybe typo dan ooc
O,o
"Menyambut hari Valentine besok, sudah terlihat antrian padat di…" Suara di televise masih berlanjut saat tiba-tiba Psyche menoleh kea rah Izaya yang duduk di sebelahnya karena dipaksa Psyche. Android itu terdiam beberapa saat sebelum menarik-narik lengan baju Izaya.
"Nee Izaya, hari Valentine itu apa?" tanya Psyche tiba-tiba pada Izaya yang sedang asik melihat kenaikan harga saham di laptop Shinra. "Nee? Nee?" Psyche semakin mendekatkan wajahnya yang penuh dengan rasa penasaran itu. Padahal Izaya sudah hampir agak bersyukur karena sejak lima jam setelah dia bertemu dengan Psyche dia hampir tidak direpotkan olehnya. Hampir, kalau tidak dihitung Psyche yang memecahkan barang, merusak fungsi alarm keamanan, dan hampir membuat konslet listrik. Izaya menurunkan kacamata yang sedang dipakainya dan menghela nafas. Akhirnya datang juga saat dimana dia harus menjelaskan sesuatu kepada android berwajah sama dengannya itu.
"Apa kau sudah mendownload dan melihat tentang hasil pencarian dengan kata kunci hari valentine?" tanya Izaya. Psyche mengangguk. Kekuatan koneksi computer mini yang dipasangkan kepada Psyche berkecepatan lebih dari satu giga per detik. Hal ini dikarenakan agar Psyche mampu menyerap informasi dengan lebih cepat dan menyelesaikan pertanyaan yang tidak diketahuinya dengan lebih baik meskipun menurut Shinra fungsi ini tidak terlalu berfungsi dengan baik karena Psyche masih tetap bertanya dan pernah menyebabkan Celty memerah karena harus menjelaskan bagaimana bayi bisa lahir didunia.
"Intinya di Jepang itu berarti hari dimana wanita memberikan coklat kepada kerabat, keluarga, kolega dan orang yang disukainya," jelas Izaya malas, karena sudah tahu kalau dia menjelaskan panjang lebar pun Psyche yang notabene sudah mengetahuinya lewat hasil pencariannya tadi tetap bertanya padanya.
"Izaya tidak memberikan coklat?"
"Apa kau tidak dengar kalau tadi aku bilang wanita, Psyche?" ujar Izaya sambil tersenyum dengan guratan-guratan kekesalan yang muncul.
"Eh? Tapi aku baca itu hari dimana kita memberikan hadiah misalnya coklat kepada orang yang kita sukai. Bukannya Izaya dan Shizuo itu pasangan?" bingung Psyche.
"Siapa yang bilang kalau aku dan shizu-chan itu pasangan?"
"Shinra." Izaya pun bersumpah untuk membekam mulut Shinra selamanya. "Nee Izaya, ayo kita beli coklat!" ajak Psyche sambil menyeret tangan Izaya yang memang kalah kuat jadi tidak bisa menghindar.
"Hah? Kenapa juga aku harus membeli coklat?" kesalnya.
"Psyche mau lihat bagaimana bikin honmei coklat. Jadi Izaya harus beli coklat dan membuatnya." Izaya menghela nafas lagi. Belum juga satu hari berakhir dia kembali harus direpotkan oleh android itu. "Selain itu nanti kalau jadi, Izaya bisa memberikannya untuk Shizuo." Dan Izaya pun bersumpah untuk mengantung Shinra secepat mungkin.
O,o
"I-ZA-YA!"
Izaya dan Psyche menoleh kea rah sumber suara itu berasal. Mereka sudah selesai membeli alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat coklat. Sebenarnya Izaya lebih memilih memanggil seseorang untuk membelikan semua itu daripada harus keluar dan membeli barang-barang tersebut dengan dilihati semua wanita yang sedang membeli di toko tersebut. Izaya tidak bisa menghindar karena Psyche terus saja menggeretnya kesana-kemari memasuki hampir semua toko terkenal yang diketahuinya sehingga Izaya hanya bisa pasrah.
"Shizu-chan!" panggil Izaya mesra sambil menghindar dari vending machine yang tiba-tiba terbang ke arahnya dan langsung membentur tembok. "Sambutan hangatmu kuterima dengan tangan terbuka," senangnya. Akhirnya Izaya punya hal yang bisa menghilangkan stresnya juga. Psyche menatap Izaya sambil memiringkan kepalanya, berdasarkan data, pasangan itu mengungkapkan cintanya dengan kencan, ciuman, hadiah berupa bunga, boneka, bukan vending machine.
"Sedang apa kau di Ikebukuro hah?!" kesal lelaki berambut pirang dengan rompi hitam dan kemeja putih. Dia menggenakan kacamata hitam dan sepertinya sedang memandang penuh amarah kepada Izaya.
"Aku kan sedang membeli bahan untuk membuatkan Shizu-chan coklat malam ini." Psyche memiringkan kepalanya lagi. Bukannya sebelumnya Izaya bilang kalau lelaki itu tidak mau memberikan Shizuo coklat?
"Hah?!"
"Izaya, itu Shizuo?" tanya Psyche memecah perhatian semua orang disana. Kasak kusuk mulai terdengar.
"Eh? Psyche, kau belum tahu tampang Shizu-chan?" Psyche menggelengkan kepala.
"Hoi! Apa kau berniat membuatku semakin kesal hah? Kenapa ada dua orang berwajah sepertimu hah?!"
"Shizu-chan, aku juga tidak merencanakan penciptaan dolppengenger-ku," ujar Izaya dengan ekspresi sedikit terluka. Psyche menatap keduanya bergantiaan dan melihat titik-titik darah yang meneres di tanah tempat Shizuo berpijak.
"Shizuo terluka?" tanyanya. Izaya langsung melihat ke arah tangan lelaki itu. Darah berasal dari punggung tangannya.
"Ah, aku sedang dalam perjalanan ke apartemen Shinra sebelum mencium baumu."
"Tapi Shinra sedang berpergian dengan Chelty," ujar Psyche yang langsung membuat Shizuo mengerutkan kening.
"Hoi! Dia siapa?" bingung lelaki itu. Izaya melihat kea rah Psyche yang tampaknya sedang berpikir padahal dia tahu bahwa android itu pasti sekarang sedang melihat memorinya untuk mencari tahu sesuatu yang entah kenapa agak membuat Izaya memiliki firasat buruk.
"Ah, tapi Izaya bisa mengobati luka Shizuo di tempatnya Shinra. Ayo cepat Izaya, kita harus cepat mengobati Shizuo!" suruh Psyche sambil menarik tangan Izaya lagi.
"HAH?!" teriak mereka bersama-sama.
"Shizuo, ayo!" suruhnya yang menimbulkan ribuan pertanyaan di otak Shizuo. Siapa sebenarnya Psyche sehingga seorang Izaya tidak bisa lepas dan menikam tangannya agar membiarkan informan itu pergi?
o.o
"IZAYA!" jerit lelaki berambut pirang yang kini sedang duduk di salah satu kursi yang berada di apartemen Shinra. Kacamata hitamnya sudah dilepas, tepatnya sudah dilemparkan Psyche entah kemana. Di depannya berdiri Izaya yang dengan senang hati membunuhnya.
"Shizu-chan, aku bahagia bahkan saat kau terluka kau selalu memikirkanku," ujar Izaya yang kini sudah menggulung lengan bajunya dan menggenakan sarung tangan plastic di tangannya. Dia memegang sebuah jarum khusus yang digunakan untuk menjahit kulit manusia dan sedang melakukannya meskipun dia terpaksa.
"Kau bisa memberiku anastesi brengsek!" kesal Shizuo, karena dari awal yang dilakukan Izaya malah menyiram lukanya dengan cairan antiseptic.
"Untuk diriku sendiri kalau terluka Shizu-chan, aku akan melakukannya. Tapi Shizu-chan kan monster. Lagipula lukamu bertambah parah karena melemparkan vending machine untukku. Jadi mengingat apa yang kau perbuat. Aku tidak merasa butuh memberikannya padamu."
"IZAYA!" teriak Shizuo lagi karena merasakan rasa sakit saat Izaya dengan sengaja menekan luka Shizuo.
"Izaya~ air hangatnya sudah datang!" seru Psyche ceria sambil membawa baskom air yang diletakkan di atas kepalanya. Dia disuruh Izaya untuk menghangatkan air setelah sebelumnya menyiapkan cairan antiseptic sementara Izaya menyiapkan alat yang dibutuhkan untuk menjahit luka Shizuo tadi.
"Taruh di meja, Psyche. Aku ingin menyiksa Shizu-chan lebih lama," ceria Izaya yang kemudian malah semakin memperlambat gerakkan tangannya.
"Kau berniat membunuhku ya!" seru Shizuo kesal tapi tidak bisa mendorong kepala Izaya karena tangannya yang tidak terluka sudah diikat dengan borgol ke kursi tempatnya duduk. Dia bisa saja bebas namun lukanya akan bertambah lebar dan itu pasti membuat Izaya tersenyum semakin lebar. Jadi dia melupakan hal itu.
"Izaya, apa kalian sedang bermesraan?" tanya Psyche yang langsung membuat kaku tubuh kedua lelaki di depannya.
"Psyche, apa yang tadi kamu katakan?" tanya Izaya yang tiba-tiba mengeluarkan senyum komersil dengan wajah tersenyum meskipun matanya sama sekali tidak tersenyum. Sementara Shizuo terlalu merinding untuk mengatakan sesuatu.
"Karena meskipun kelihatannya Izaya tidak suka menjahit luka Shizuo dan Shizuo tidak suka disentuh oleh Izaya tapi Izaya tetap menjahit luka Shizuo dan Shizuo tetap tidak melukai Izaya dengan serius," ujar Psyche yang dari tadi mengamati mereka berdua. "kalian seperti Celty dan Shinra, kata Shinra itu artinya Celty mencintainya."
Pegangan kursi Shizuo langsung retak. "Kufufu, hahahahaha! Aku, suka dengan monster ini? Psyche bagaimana mungkin aku mencintai monster ini? Yang aku sukai adalah manusia, jadi monster ini tidak termasuk di dalamnya," jawab Izaya yang tertawa layaknya seorang iblis. Sementara Shizuo menatapnya lekat-lekat dalam amarah karena sekali lagi dengan sengaja atau mungkin bukan, Izaya memasukkan jarum lebih dalam ke dalam kulitnya.
"Ah, aku tahu! Itu kata SHinra namanya Tsundere!"
"IZAYA!"
"Shizu-chan aku kan Cuma salah menaruh jarum sedikit," kesal Izaya sambil menutup kedua telinganya.
"Kau menjatuhkannya tepat di atas lukaku, brengsek!"
"Iya, iya, sebentar lagi selesai. Shizu-chan kayak anak kecil, gitu aja marah," omel informan itu sambil menyiramkan cairan antiseptic lagi.
"IZAYA!"
"Shizu-chan, kalau berteriak lagi, aku tidak akan memberimu coklat!"
"Siapa yang mau diberi coklat hah!?"
"Ah, ternyata Shizuo deredere!" seru Psyche yang langsung membuat keduanya terdiam. Sepertinya mereka harus menyelesaikan apa yang harus mereka lakukan sebelum Psyche merusak jiwa mereka berdua.
0,0
