THE POWER OF LOVE

*Cast : EXO (12) and Others "ChanBaek X KaiSoo X HunHan"*

*Summary: * Ketika cinta tak lagi memiliki makna dan keegoisan serta ambisi melebihi batasannya. Mungkin dengan setitik kepedulian maka cinta akan kembali berwarna meski jarak sudah terlalu jauh membawa pergi.

*Rate:* T

*Genre:* Romance, Hurt/Comfort

*Disclaimer: * Cast milik Tuhan dan FF milik author. Jika ada kemiripan, itu murni ketidaksengajaan.

*Warning: Typos everywhere. *

Mobil itu menderu kasar memecah jalanan kota Seoul. Keempat rodanya menggesek aspal jalanan, menggerusnya seakan mewakili bagaimana perasaan sang pengemudi. Kim Jongin duduk dibalik kemudi dengan air muka yang sulit ditebak. Sudut bibirnya membentuk senyum hampa sementara kedua matanya nampak memerah menahan amarah.

Bukan masalah seberapa jauh ia menempuh perjalanan, bukan masalah seberapa lelah tubuhnya, dan bukan masalah seberapa lama waktu yang ia buang asalkan Do Kyungsoo menyambutnya dengan senyuman cerah. Seharusnya. Tapi nyatanya semua itu hanya bayang semu.

Jongin masih ingat bagaimana wanita paruh baya yang selalu ia panggil dengan sebutan Eommonim, Nyonya Do, menyambutnya dengan senyum cerah yang sangat mirip dengan Kyungsoo di depan pintu pagar. Jongin membalasnya tak kalah cerah. Seakan bertemu kembali dengan ibunya. Tapi senyum Jongin perlahan menyusut dan semakin menyusut kala pendengarannya justru menangkap rentetan kalimat sederhana dari bibir Nyonya Do.

"Kyungsoo tak ada di rumah, dia sudah pindah ke Seoul sejak dua bulan yang lalu bersama tunangannya."

Dunia Jongin runtuh seketika. Pijakannya seakan lenyap, kedua lututnya lemas dan entah jantungnya telah jatuh kemana. Bumi seakan tak lagi berada pada porosnya dan Jongin tak mampu meraih oksigen seperti seharusnya. Sesak dan menyakitkan. Berkali-kali Jongin berdoa bahwa ia sedang bermimpi, tapi yang terjadi Nyonya Do kembali berkata dengan lembutnya.

"Menginaplah Jongin-aa. Sudah lama kita tidak bertemu."

Jongin ingin dan benar-benar berharap bisa melakukannya, ia rindu ibu keduanya, ia rindu bagaimana wanita itu selalu memperlakukannya seperti anak sendiri tapi Jongin sadar, berlama-lama disini sama saja dengan semakin menyakiti dirinya.

"Aku ingin tapi masih ada pekerjaan yang kutinggal, Eommonim."

Jongin berkata dengan menggigit lidahnya, berbohong bukan keahliannya dan ia benci melakukan itu pada Eomonimnya. Akhirnya setelah menolak berbagai bujukan manis yang tulus itu, Jongin pamit pulang. Membawa segala lukanya dan dengan bodohnya melupakan fakta bahwa ia dan Kyungsoo akhirnya berada di kota yang sama nantinya.

.

.

Ruangan redup itu terasa pengap. Berdindingkan pualam yang semakin menambah kesan suram, nyatanya semakin terasa sesak kala samar-samar kepulan asap putih nikotin mengudara berbaur dan menyebar memenuhi ruangan berukuran 3x4 meter itu. Seorang pria berdiri di sisi sebuah meja, mengamati beberapa lembar foto yang telah selesai dicetak diterangi sebuah lampu berukuran kecil yang hanya mampu menerangi sebagian dari ruangan itu.

Tak lama suara langkah sepatu menggema disepanjang lorong di luar ruangan itu sebelum pintu terbuka dan menampakkan sosok Jongin, menatap kosong kedepan membuat pria dihadapannya memandang dengan kening berkerut sebelum berdecak kala paham apa yang terjadi pada Jongin.

"Pulanglah jika kau masih mabuk." Desisnya tak main-main. Jongin terkekeh sinis, melangkah masuk dan duduk di salah satu sofa single sebelum merogoh sakunya dan meraih sebatang rokok, menyalakannya dan membaurkan asap di dalam ruangan itu.

"Jongdae hyung, lama tak melihatmu." Jongin berbicara tanpa menatap sang pria yang memilih kembali sibuk dengan foto-fotonya.

"Kurasa kau yang menghilang." Balas Jongdae sinis. Ia kesal setengah kasihan melihat kondisi Jongin seperti mayat hidup beberapa bulan setelah kunjungannya ke kampung halamannya. Dan dampaknya adalah seluruh pekerjaan Jongin harus ia yang menghandlenya. Jongin melirik Jongdae sejenak sebelum kembali menatap lurus kedepan. Bersikap acuh seperti biasa.

"Lusa kau mendapat job di sebuah majalah. Aku tak bisa menggantikanmu lagi karena mereka khusus merekrutmu menjadi fotografer sementara disana." Jongdae merapikan foto-foto itu sebelum menyimpannya dalam sebuah map. Putung rokoknya ia buang dilantai sebelum ia injak.

"Tapi aku tidak mengatakan aku mau pekerjaan itu." Jawab Jongin membuat Jongdae mendengus lelah.

"Tunggakan apartementmu masih terus melilit leherku, jika kau lupa." Sindirnya membuat Jongin mengerutkan keningnya sebelum menghela nafasnya seraya berucap "Baiklah." Dengan nada malasnya.

"Ini hanya sebuah foto keluarga. Tidak sulit kurasa." Jongdae membuka buku agendanya dan memeriksa jadwal yang ia berikan pada Jongin.

"Foto keluarga? Untuk majalah? Apa mereka artis? Atau presiden?" Cela Jongin.

"CEO." Timpal Jongdae semakin membuat Jongin memandang agenda itu muak. Ya… para pengusaha dan orang-orang berkuasa selalu bisa melakukan apapun sesuka mereka dan Jongin membencinya. Semua bermula dari para pengusaha dan orang-orang berkuasa itulah kehancuran hidupnya dimulai.

"Keluarga Park akan memiliki menantu, jadi putra merekalah yang akan berfoto nanti dengan pasangannya." Ucap Jongdae mengabaikan tatapan jengah Jongin. "Dan berhentilah menganggap mereka turut andil dalam kehancuran hidupmu, Jongin." Lanjutnya lalu memandang Jongin. "Bayarannya cukup untuk hidupmu bahagia satu bulan ini."

Jongin mematikan rokoknya sebelum meniupkan asapnya membubung di udara dengan tatapan nanarnya. Mungkin benar, keluarga Park tak ada sangkut pautnya tapi mereka juga pengusaha. Salah satu kumpulan yang enggan Jongin dekati.

.

.

Jongin selalu memiliki caranya menghibur diri. Dan hanya dia yang memahami itu semua. Seperti malam ini, ketika Jongin memilih pulang setelah merasa percuma mengunjungi rekan kerjanya yang nyatanya semakin memperburuk suasana hatinya, ia menyusuri jalanan sembari memasang earphone di kedua telinganya. Music jazz yang mengalun lembut itu seakan mengantarkan gelombang ketenangan tersendiri untuk Jongin. Terkadang ia merasa menjadi pria yang terlalu melankolis tapi disinilah ia. Tampak angkuh diluar namun jauh di dalam dirinya ada sisi dimana ia memiliki kelembutan.

Diujung jalan, mobil sedannya terparkir. Sementara dibelakang mobilnya, ada seorang gadis berdiri dengan gelisah. Bahkan ia nampak kacau dan panic disaat bersamaan. Jongin memperhatikannya dari kejauhan. Namun toh ini bukan urusannya. Pandangannya ia alihkan pada layar-layar besar di puncak gedung. Menampakkan beberapa iklan juga promosi atau sekedar berita terbaru. Semuanya saling bersahutan. Jongin menarik sudut bibirnya membentuk senyum miris. Lagi-lagi para penguasalah yang memegang kendali. Hingga pandangannya terpaku pada salah satu layar, dengan wajah pria berdahi lebar dan bersurai gelap. Tatapan matanya tajam sekaligus hangat disaat bersamaan. Entahlah Jongin tak bisa mendeskripsikannya. Pria itu bermata bulat, berhidung sempurna dan senyum menawannya tercetak melalui bibir yang penuh. Sejauh Jongin memandang, pria itu sempurna. Tipikal orang kaya yang tak pernah menderita.

Masih dengan gambar pria yang sama namun di tempat yang berbeda ia melangkah. Bandara Incheon. Jongin mengenalnya. Beberapa kali ia mengantar Jongdae kesana. Sorot lampu dan bidikan kamera memenuhi setiap langkah pria muda kaya raya itu. Untuk sesaat Jongin terperangah. Bukan karena betapa mempesonanya dia atau betapa semua orang dan wartawan seakan mengaguminya, tapi lebih kepada bagaimana ia melambai dan tersenyum. Semua itu nampak tulus. Pria yang ramah. Batin Jongin. Lalu sebuah headline tertulis disepanjang siaran itu. CEO muda Park Chanyeol akan segera mengumumkan perpertunangannya.

Jongin lalu kembali tersenyum, sebuah senyum sarat akan rasa geli. Betapa sempurnanya hidup pria itu bukan? Selayaknya cerita di negeri dongeng. Jongin menghela nafas membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada di posisi pria bermarga Park itu? Apakah ia akan sebahagia itu? Tidak tanpa Kyungsoonya.

"Lepaskan!" Bentakan nyaring yang cukup familiar menarik atensi Jongin. Pandangannya kembali beralih pada gadis yang berdiri tak jauh dari mobilnya beberapa waktu lalu. Kali ini ada dua pria berpakaian rapi tengah sibuk menenangkan atau memaksa gadis itu lebih tepatnya untuk masuk kedalam mobil sedan lain yang terparkir didekat sana. Jongin mampu melihat ada pria lain di kursi penumpang, duduk dengan pandangan dinginnya, mengingat jarak Jongin dan mereka tak terlalu jauh. Dan kedua mata Jongin membulat. Pria dengan dahi lebar dan wajah nyaris sempurna itu adalah Park Chanyeol. Lalu gadis itu meski masih berteriak tetap diseret masuk ke dalam mobil sebelum sedan itu berlalu pergi membawa Park Chanyeol dan entah… tawanannya? Jongin terpaku. Cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya. Apa dia baru saja menjadi saksi penculikan oleh CEO terkenal? Atau… dia baru saja menjadi orang yang turut terhipnotis pesona CEO muda itu? Menggelikan.

.

.

.

Ditempat yang berbeda. Sebuah mansion berwarna putih dengan dua tiang pada masing-masing sisinya yang menyangga bagian beranda di lantai dua itu nampak sedikit ribut. Halaman luas dengan patung bunga serta air mancur terletak di tengah-tengah halaman. Beberapa pohon tertanam di bagian sisi mansion menambah kesan asri pada tempat itu.

Dua mobil terparkir di halaman dengan dua pengawal di kedua sisi pintu ganda mansion. Bersiaga seakan sewaktu-waktu ada pembunuh bayaran yang menyusup masuk meski beberapa kamera CCTV telah terpasang apik di setiap sudut. Nampak cukup berlebihan tapi itu semua memang mereka butuhkan.

"Lepaskan!" Raungan itu terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan depan mansion. Park Chanyeol menatap nyalang pada gadis yang masih setia memberontak dari genggaman dua pengawal pribadinya. "Kalian benar-benar brengsek!" Maki gadis itu nyatanya membuat Chanyeol cukup terperangah. Sebelah tangannya terangkat membuat kedua pengawalnya mengangguk dan melepas cengkramannya pada kedua lengan sang gadis mungil yang sepertinya akan meninggalkan bekas membiru nantinya.

"Puas-" Suara huskynya terdengar dengan nada sing a song. "-Do Kyungsoo-ssi?" lanjutnya. Kyungsoo menatap Chanyeol tajam meski kedua matanya memerah menahan tangis. Seringai aneh muncul diwajah Chanyeol sebelum ia melangkah mendekat.

"Kau tidak berfikir untuk kabur bukan ketika aku tidak ada di rumah?" Tanyanya yang jelas-jelas jawabannya adalah tidak. Chanyeol tahu itu. Kyungsoo membuang wajahnya keras, menyembunyikan liquid yang sebentar lagi akan meluncur bebas dari kedua matanya.

"Kau harusnya menunggu hingga acara pertunangan kita selesai, Kyungsoo." Lanjut Chanyeol. "Ibumu juga aku pastikan datang."

Kyungsoo berpaling dan menatap Chanyeol dengan jejak basah di kedua pipinya membuat Chanyeol mengatupkan bibirnya dan menggeram tak suka.

"Apa aku menyakitimu? Huh? Apa aku melukaimu? Kenapa kau menangis?" Chanyeol membentak Kyungsoo membuat gadis itu semakin sibuk dengan tangisnya. Chanyeol bukan membenci Kyungsoo, ia hanya tak suka melihat gadis menangis dan itu karenanya.

"Kau mengurungku disini!" Raung Kyungsoo. Chanyeol terkadang berfikir sepertinya sudah menjadi tabiat Kyungsoo berteriak seperti ini jika berbicara dengannya. "Kau bahkan tak mengijinkanku bicara dengan ibuku!"

Chanyeol menggertakkan giginya kesal sebelum menarik lengan Kyungsoo hingga jarak mereka semakin terputus. Kedua iris cerahnya menatap iris Kyungsoo yang meredup entah sejak kapan.

"Dan membiarkanmu kabur seperti tadi? Itulah alasan aku tidak suka membiarkanmu berbicara dengan Ibumu. Kau jadi… lemah dan bimbang." Setiap katanya terdengar tajam dan kesal.

"Dia adalah Ibuku." Desis Kyungsoo membuat Chanyeol melepaskan cengkramannya dan berbalik memunggungi Kyungsoo.

"Masuk ke kamarmu dan jangan keluar hingga besok pagi. Aku lelah baru kembali dari Jepang. Kuharap kau mengerti, Kyungsoo-ssi." Chanyeol berucap sebelum melangkah pergi. Ia enggan berdebat dengan Kyungsoo lebih lama lagi karena hasil akhirnya ia selalu berada di pihak yang disalahkan dan kehabisan alasan untuk menahan Kyungsoo di mansionnya. Itu hal yang sangat ia hindari.

.

.

Ruang kamarnya nampak gelap, hanya cahaya rembulan yang ia biarkan menyusup masuk melalui tirai yang tersibak terkena angin. Jendela sengaja ia buka karena ia butuh udara segar. Pikirannya penuh juga tubuhnya lelah. Chanyeol berbaring di atas ranjangnya dengan pandangan menewarang.

"Bagaimana kabar Baekhyun, Chanyeol-aa?"

Pertanyaan sederhana yang tak mampu dijawab seorang CEO cerdas seperti dirinya itu nyatanya seakan kembali membuka luka yang belum sepenuhnya kering. Orang tua Baekhyun yang tidak sengaja bertemu dengannya ketika berada di Jepang sudah ia anggap orang tuanya sendiri. Namun bertemu mereka beberapa hari yang lalu nyatanya semakin memperburuk keadaan hatinya.

"Apa kau akan melamar Baekhyun? Kami sudah mendengar berita tentang pertunanganmu di media. Benarkah itu?"

Chanyeol nyaris menenggelamkan dirinya di lautan kala mendapat pertanyaan itu. Apa orang tua Baekhyun benar-benar merestuinya? Sialnya, ia tak memiliki Baekhyun barang secuil pun.

Lalu kalimat-kalimat lain menggelitik daya pikirnya.

"Dia bulan lalu melakukan tur di Jepang dan sempat bertemu kami. Meski hanya setengah jam."

Point pertama, Baekhyun sudah tidak bekerja di Club malam.

"Dia juga sering menceritakan betapa prianya sangat perhatian padanya. Apa itu kau yang dimaksud? Dia sangat pemalu. Bahkan tak pernah menceritakan kekasihnya pada kami."

Point kedua, Baekhyun benar-benar mencintai pria itu.

"Dan dia mengatakan berkat pria itu, dirinya bisa sesukses sekarang."

Point ketiga, Chanyeol tak ada andil berharga dalam hidup Baekhyun yang lebih baik.

Dahi Chanyeol lalu mengerut. Ada yang janggal. Baekhyun melakukan tur? Seketika tubuh tegapnya terduduk, jemarinya meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas sebelum menghubungi asistennya dan berseru dengan tegas tak peduli pada malam yang kian merangkak menuju ujungnya.

"Cari informasi apapun mengenai Byun Baekhyun."

Chanyeol merasa ingin menertawai dirinya sendiri. Ia telah sesukses sekarang, telah berada di puncak karirnya ketika usianya bahkan belum mencapai genap 30 tahun, tapi untuk hal sesimpel Byun Baekhyun bahkan tak ia ketahui.

Lalu suara lain membuat atensi Chanyeol teralih. Suara gaduh derap langkah di luar kamarnya sungguh membuatnya kesal. Apa pelayan dirumahnya lupa bahwa sekarang hampir tengah malam? Dan mereka berlarian? Chanyeol turun dari ranjang dengan segala sumpah serapahnya sebelum membuka pintu dengan keras membuat beberapa pelayan yang tengah melangkah keluar dari kamar Kyungsoo terlonjak kaget lalu menunduk takut. Chanyeol memicingkan matanya menatap satu persatu pelayan yang nampak ketakutan.

"Ada apa?" Tanyanya berusaha terdengar sepelan mungkin karena bisa saja Kyungsoo tengah tidur. Apa yang pelayan-pelayan ini lakukan dikamarnya?

"Maaf tuan. Nona Kyungsoo …" Ucapan salah satu pelayan itu terputus kala suara pecahan kaca dan erangan terdengar dari dalam kamar Kyungsoo. Chanyeol mengabaikan ucapan pelayan itu dan memilih menghambur memasuki kamar Kyungsoo yang bersebrangan dengan kamarnya.

Seorang pelayan nampak sibuk membersihkan pecahan kaca sementara Kyungsoo meringkuk diatas ranjangnya. Selimut tebalnya ia cengkram erat, kedua alisnya saling bertaut, dan rahangnya mengeras menahan sakit, jangan lupakan wajahnya yang berpeluh. Ia benar-benar nampak menyedihkan.

"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Chanyeol.

"Tadi nona Kyungsoo meminta segelas air, namun saat saya mengantarkan air minum nona sudah kesakitan." Pelayan yang tengah membersihkan pecahan kaca itu berdiri dan segera menjawab pertanyaan tuannya sebelum pria tinggi itu kembali memarahi mereka semua.

'KRAK'

Suara pelan yang terdengar itu membuat beberapa pelayan berjengit seiring langkah Chanyeol menghampiri Kyungsoo. Sudah mereka pastikan pria itu menginjak salah satu pecahan kaca diatas lantai.

"Cepat siapkan mobil." Titah Chanyeol segera meraih cardigan biru Kyungsoo dan membantunya mengenakan cardigan itu lalu mengangkatnya dengan menyelipkan tangan kanannya di bawah lutut Kyungsoo serta tangan kirinya di perpotongan leher Kyungsoo.

Ia melangkah tergesa mengabaikan bagaimana jejak darah tercecer dari kaki kirinya yang terluka.

Mobil sedannya telah siap sementara Kyungsoo benar-benar kehilangan kesadarannya. Suhu tubuhnya bahkan turut membuat Chanyeol berkeringat.

"Cepat kerumah sakit." Titah Chanyeol pada supir pribadinya sebelum mobil itu melaju memecah keheningan malam. Biar bagaimana pun Kyungsoo tak boleh terluka sedikitpun.

.

.

Chanyeol memandang kaki kirinya yang dibalut perban. Ia merasa konyol. Berlarian seperti orang gila di tengah malam sembari menggendong Kyungsoo lalu mengabaikan tatapan ngeri beberapa orang yang berpapasan dengannya karena melihat bagaimana kaki pria itu berdarah cukup parah. Beruntung Kyungsoo hanya demam dan kelelahan biasa, bukan masalah yang serius sehingga ia bisa pulang paginya, sementara Chanyeol, ia ragu bisa berangkat ke kantor dengan langkah tegap mengingat lukanya cukup dalam pada kakinya.

"Chanyeol-aa, ada apa dengan wajahmu?" Kris muncul di ruang makan tanpa undangan ataupun pemberitahuan dari siapapun membuat Chanyeol berdecak. "Kau terlalu ambisi dengan pekerjaanmu, kawan." Goda Kris lalu duduk di salah satu kursi dan meraih sehelai roti.

"Ada apa kau pagi-pagi kemari, Kris?" Chanyeol menyesap kopinya sebelum merapikan dasinya dan bangkit dari kursi.

"Ada yang ingin kutanyakan. Ayolah… aku sudah tidak melihatmu selama beberapa bulan dan kau menjadi pria yang dingin." Kris mengeluh sebelum mengunyah rotinya cepat dan turut bangkit melangkah mengikuti Chanyeol.

"Apa?" Chanyeol meraih jasnya lalu mengenakannya dengan gaya yang bahkan membuat Kris terdiam sejenak. Chanyeol cukup memberikan penggambaran bagaimana seorang CEO muda seharusnya bersikap.

"Kau akan bertunangan?" Kris kembali menemukan suaranya. Chanyeol terhenti sejenak sebelum mengangguk sekenanya. "Dan kau tidak memberitahuku? Astaga…"

"Itu tidak sebanding dengan pernikahan yang kau sembunyikan dariku." Sindir Chanyeol malas.

"Hei… bahkan pernikahan itu batal. Kau membuka luka lama teman." Kris memulai aksi dramanya semakin membuat Chanyeol jengah, namun didetik berikutnya ia berbalik dan menatap Kris.

"Batal? Kenapa?"

Kris mengendikkan bahunya sebelum tertawa hambar.

"Mungkin gadis itu takut padaku. Dia kabur." Ucapan Kris membuat Chanyeol tercenung sejenak. Ia sempat mendengar pernikahan sahabatnya ini adalah paksaan dari kedua orang tua, dan hal itu juga terjadi padanya dan Kyungsoo. Apa Kyungsoo juga akan melarikan diri seperti wanita itu?

"Hei… apa itu Baekhyun?" Pertanyaan Kris yang menyebut nama Baekhyun membuat Chanyeol mendongak dan memasang wajah blanknya seraya bergumam "Huh?" Kris tertawa geli.

"Apa tunanganmu itu Baekhyun?"

"Bukan." Sahut Chanyeol cepat lalu berlalu dari ruang makan dan melangkah keluar dari mansionnya diikuti Kris yang masih menyerukan namanya sedikit kesal.

Tanpa keduanya sadari, Do Kyungsoo berdiri di anak tangga dan mendengar semuanya. Termasuk bagaimana Kris melafalkan nama Baekhyun dengan cukup akrab dan gemas. Siapa Baekhyun? Batin Kyungsoo.

.

.

.

Ruang kamar bernuansa serba putih itu nampak tenang. Hanya suara dengkuran halus dari balik selimut diatas ranjang queen size itulah yang terdengar mengalun. Angin perlahan meniup tirai putih yang sedikit tersibak. Cahaya matahari pagi menyusup perlahan menerangi ruangan itu menambah kesan indah. Samar-samar terdengar ketukan sebelum pintu yang berwarna putih itu terbuka menampilkan sosok pemuda dalam balutan jas rapinya berdiri menatap sosok diatas ranjang itu.

"Baekhyun-aa, bangun baby." Suaranya terdengar lembut namun menuntut disaat bersamaan membuat gadis itu bereaksi sejenak sebelum kembali terlelap. "Baby…"

"Oh Sehun sajangnim, aku masih mengantuk." Baekhyun menyahut dari atas ranjangnya dengan mata terpejam. Jemarinya menggapai bantal lain untuk ia jadikan penutup wajahnya namun Sehun telah melangkah lebih dulu dan meraih jemari itu. Mengusapnya lembut dengan pandangan masih tertuju pada gadis yang menurutnya selalu cantik meski dalam keadaan setengah sadar seperti ini.

"Aku harus berangkat kerja sekarang dan kau ada jadwal bertemu dengan penggemarmu, bukan?" Sehun berucap tanpa melepas kontak matanya dengan sang kekasih. Baekhyun nampak memberenggut sebelum membuka matanya dan balas menatap Sehun.

"Kenapa kau selalu ingat sesuatu yang tidak kusukai?" Cibirnya nampak merajuk. Sehun terkekeh pelan sebelum berdiri dan melangkah menuju jendela, menyibak tirainya hingga cahaya matahari benar-benar masuk kedalam ruang kamar itu. Baekhyun mengerang menerima terpaan cahaya yang cukup menyilaukan itu sebelum beranjak dari ranjangnya menghampiri Sehun. Memeluknya dari belakang dengan lembut sembari menyandarkan kepalanya di punggung bidang pria tinggi itu.

"Apa kau akan datang ke acaraku?" Baekhyun tahu itu pertanyaan bodoh karena jawabannya pasti adalah "Aku tidak bisa, Baby." Baekhyun merapatkan bibir tipisnya berusaha maklum sebelum tersenyum kala Sehun berbalik dan menatapnya. "Tapi aku akan mengirimkan bunga yang cukup indah untukmu, setelah itu aku akan menemanimu makan malam. Bagaimana?"

Makan malam yang dimaksud Sehun bukanlah kencan atau semacamnya melainkan menikmati makanan yang dimasak khusus oleh para pelayan Sehun dikediamannya yang luas itu. Baekhyun hafal Sehun bukan tipikal pria romantic meski terkadang ada sisi yang membuat Baekhyun menyukainya. Bagaimana Sehun selalu membuat Baekhyun merasa penting dan bermanja padanya.

"Baiklah." Tak ada pilihan lain yang mampu Baekhyun pilih jadi gadis itu memilih tetap tersenyum kala Sehun mengecup dahinya sebelum berlalu dari ruang kamarnya.

Oh Sehun melangkah keluar dari apartement Baekhyun dan melangkah menyusuri lorong demi lorong sebelum tiba di lift dengan tatapan matanya yang berubah tajam. Ia menatap jemarinya yang sempat mengusap tangan Baekhyun, ia masih merasakan cincin asing yang melingkar di jemari Baekhyun. Sehun pernah bertanya dan jawaban Baekhyun adalah "Ini hadiah dari Ibuku."

Sayangnya Sehun tak cukup bodoh untuk tahu bahwa cincin itu adalah sebuah cincin untuk pasangan. Ibu mana yang memberikan cincin sejenis itu? Atau lebih tepatnya, dimana pasangan lainnya untuk cincin itu?

Pintu lift terbuka dan Sehun melangkah masuk. Menekan tombol untuk lantai dasar sebelum ia meraih ponselnya dan berucap pada orang di seberang line. "Carikan informasi mengenai sebuah cincin pasangan yang dipesan sekitar dua bulan ini."

Sehun tak akan membiarkan gadisnya menghilang. Tak akan membiarkan siapapun meninggalkannya lagi.

Sehun melangkah keluar dari lift menuju mobilnya yang terparkir di baseman sebelum sebuah suara yang cukup dikenalnya membuat langkahnya terhenti. Gadis yang sama meski dengan perubahan penampilan yang cukup membuat Sehun nyaris lupa jika saja ia tak melihat dimple yang terselip dipipinya itu. Zang Yixing.

"Oh Sehun?" Tanyanya ragu. Sehun menarik bibirnya membentuk sebuah senyum seraya mengangguk. Biar bagaimana pun gadis itu pernah berkorban waktu dan tenaga hanya untuk menemuinya.

"Syukurlah aku tidak salah orang." Yixing tertawa renyah nyaris mirip dengan bagaimana Luhan selalu tertawa. "Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Sehun.

"Seperti yang kau lihat. Aku sangat baik. Ah benar, apa kau tidak datang waktu itu?" Tanya Yixing membuat Sehun terdiam. Apa dia harus berbohong dan mengatakan dirinya sibuk? Atau dirinya harus mengatakan bahwa ya… dia tak bisa menerima pernikahan Luhan.

"Ya… sayang sekali." Jawab Sehun akhirnya. Raut wajah Yixing berubah.

"Sudahlah. Lagipula segalanya menjadi kacau hari itu." Yixing menghela nafasnya sejenak. "Luhan kabur dari acara pernikahannya dan membuat semua keluarga menjadi marah besar padanya."

Sehun membeku ditempatnya. Jika Luhan memang kabur, kemana dia selama ini? Kenapa tidak menemuinya?

"Lalu dimana dia sekarang?" Sehun tak bisa untuk berpura-pura tak tertarik. Yixing mengendikkan bahunya.

"Aku juga tidak tahu. Bahkan seluruh keluarganya pun akhirnya terpaksa mencoretnya dari hak ahli waris. Sangat disayangkan mengingat ia adalah harapan utama keluarga."

Otak Sehun benar-benar memproses cukup lama sebelum akhirnya ia menghela nafas, terlalu terkejut dengan kabar yang ia dengar.

"Sudahlah. Jangan kau fikirkan. Suatu saat juga dia pasti kembali. Kemana lagi dia harus pergi jika bukan pada keluarganya?" Yixing menepuk lengan Sehun sembari tersenyum lembut. "Ah apa kau tinggal disini?"

"Tidak. A-aku hanya mengunjungi seseorang."

Sehun ingin memaki dirinya. Bagaimana bisa ia mengatakan Baekhyun hanyalah seseorang setelah mendengar bahwa Luhannya masih berada di suatu tempat tanpa ikatan apapun dan mungkin mengharapkannya kembali.

"Oh begitu. Baiklah, aku harus pergi. Sampai bertemu lagi Sehun-ssi." Yixing melambai sebelum melangkah menuju mobilnya dan meluncur pergi. Jiwa Sehun seakan hilang sejenak dari raganya. Ia duduk di dalam mobilnya cukup lama, bahkan hingga tanpa sadar Baekhyun mengetuk jendela mobilnya dari luar.

"Kau belum pergi?" Tanya Baekhyun dengan dahi berkerut. Sehun tertawa hambar dan beralasan bahwa ia sengaja ingin mengantar Baekhyun membuat gadis itu tertawa geli sebelum masuk ke dalam mobil.

Byun Baekhyun, gadis yang tanpa sengaja ia temui di London beberapa bulan yang lalu itu nyatanya mampu mengobati sedikit luka Sehun. Dengan telaten gadis itu menemaninya, menerima segala sifat uring-uringan dan manja Sehun lalu berakhir dengan ia mengajak Sehun tertawa karena leluconnya. Baekhyun adalah tipikal gadis banyak bicara yang terkadang cukup tempramental. Ia lebih suka mengeluarkan segala yang ada di pikirannya secara spontan dari pada ia pendam. Dan puncaknya, ketika Baekhyun memainkan sebuah lagu dari grand piano dirumah Sehun, pemuda itu seakan terbius. Baekhyun bukanlah sembarangan gadis yang hanya memanfaatkan kekayaannya.

Semuanya berjalan sempurna, Sehun yang dalam usaha kaburnya dari kenyataan pernikahan cinta pertamanya bertemu dengan gadis yang mampu membuatnya merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya. Hari-hari mereka tak luput dari adu mulut sebentar sebelum salah satunya memilih mengalah dan berakhir dengan acara makan malam atau acara menonton bersama, tentu tetap dikediaman Sehun.

Namun tidak untuk beberapa bulan terakhir. Baekhyun kurang lebih berubah, ia menjadi gadis yang sedikit pendiam dan tertutup. Yang lebih parah adalah ia terlalu sibuk dengan tur nya sebagai pianis muda yang berbakat. Tak ada waktu sebanyak dulu untuk Sehun meski kenyataannya bagaimana Baekhyun sekarang juga tak lepas dari campur tangannya.

"Siapa yang mengirimimu bunga mawar ini?"

Pernah suatu hari Sehun memasuki apartement Baekhyun dan melihat sebuket bunga yang tergeletak diatas meja begitu saja, bahkan beberapa kelopaknya sudah terlepas dan menghitam, layu. Baekhyun yang pagi itu nampak sibuk di dapur hanya menjawab dengan gumaman seperti "Fansku." Atau sejenisnya karena suara gadis itu benar-benar sumbang. Ia yang biasanya tampil cukup rapi meski hanya memasak di dapur, pagi itu nampak kacau, bahkan ia membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja, ada kacamata membingkai wajahnya dan menyembunyikan bagaimana sembabnya kedua mata indah itu. Ia menangis semalaman. Lalu atensi Sehun beralih pada jemari lentik favoritnya. Ada sebuah cincin melingkar disana.

"Kau membeli cincin?" Tanya Sehun.

"I-Ini dari ibuku." Baekhyun menjawab lalu kembali larut dalam kesibukannya memasak.

"Aku tidak tahu jika kau ulang tahun juga di bulan Agustus."

Sehun sebenarnya hanya bercanda, ingin membuat suasana tidak secanggung sekarang namun respon Baekhyun adalah "Apa hadiah dari seorang Ibu harus pada ulang tahun putrinya saja?"

Sehun terkejut dan menghela nafasnya. Ia salah bicara. Mungkin Baekhyun sedang dalam masa setresnya karena tur yang cukup padat itu. Ia berusaha memakluminya dan memilih tidak membahas masalah cincin itu lagi mulai detik itu. Tapi lambat laun ia sadar, cincin itu bukan hanya sekedar cincin bermerk terkenal yang cukup mahal dari orang tuanya, tapi cincin untuk sepasang. Dan kenyataany itu benar-benar mengganggu Sehun.

"Malam ini aku ingin mengunjungi Minseok Eonni." Baekhyun menatap Sehun sebelum kembali memandang lurus kedepan.

"Minseok Eonni? Saudaramu yang di Club?" Sehun masih ingat Baekhyun pernah menceritakan sedikit masa lalunya. Baekhyun mengangguk dengan senyum cerahnya. "Apa kau yakin tidak apa-apa? Kau tidak lelah?"

"Tidak. Aku sudah lama tidak melihatnya." Permintaan Baekhyun tidak pernah bisa Sehun tolak, akhirnya pria itu hanya mengiyakan meski ia ragu bisa mengantarnya.

"Sudahlah. Aku bukan anak kecil lagi. Jadi kau lanjutkan saja pekerjaanmu."

Ucapan Baekhyun hanya membuat Sehun mengangguk dengan senyum tipisnya.

.

.

.

TBC

Ga tau mesti ngomong apa ini. Chap pertama kemarin bener-bener ga nyangka bakalan ada big mistake yang bikin orang bingung bacanya. Jeongmal Mianhae… /Deep Bow/

Yang chap kedua ini juga kayaknya ga lebih baik dari chap pertama, atau lebih ngebosenin? Someday bisa jadi dihapus kalo makin garing ceritanya.

Anyway… ada saran kah untuk next chap? Atau beneran aku delete ajah? *putus asa

Akhir kata… RnR yah… ^^