Normal POV
Tanpa berpikir panjang lagi, Gakupo segera memanjat gerbang sekolah yang lumayan tinggi itu dengan lincah dan mudah. Tidak sampai menit berikutnya, pemuda berambut ungu itu sudah berdiri di balik pagar dan menghampiri sosok yang tergeletak itu. Pertama-tama pemuda itu mengecek dari mana sumber cairan berwarna merah itu berasal, setelah memastikan luka-luka seseorang itu tidak fatal, Gakupo membalikkan badan orang yang sedang tengkurap itu lalu mengguncangkan tubuhnya pelan-pelan.
"Paman? Paman, anda tidak apa-apa?"
"Ungghh…"
Perlahan-lahan tapi pasti, paman itu membuka kedua matanya, meliha sekitarnya lalu tatapannya fokus pada wajah orang yang menolongnya. "Di mana ini?"
Di belakang Gakupo, Hakuo-sensei, Len dan Kaito yang mengikutinya segera menghampiri target mereka dengan senter kecil di dalam genggaman mereka masing-masing. Hakuo-sensei, sebagai guru olahraga ia adalah orang yang setidaknya paling berpengalaman di dalam memberikan pertolongan pertama diantara mereka yang ada di sana. Dengan segera guru pelatih olahraga itu mengecek luka di dahi si orang asing yang mengucurkan darah walaupun alirannya tidak begitu deras.
"Maaf, anda berada di Voca Gakuen. Kami akan membawa anda ke dalam untuk segera mengobati luka di dahi anda. Apakah anda mampu berjalan?"
Sang pendatang baru itu hanya mengangguk-angguk lemah sambil memasrahkan dirinya dibopong oleh orang-orang yang lebih muda darinya itu masuk ke dalam gedung sekolah.
Setibanya di ruang UKS, pria asing itu segera dibaringkan di atas kasur oleh Hakuo-sensei. Len segera mencari obat-obatan yang kira-kira diperlukan untuk mengobati luka si pria asing itu, sedangkan Gakupo hanya berdiri mematung di sebelah meja telepon. Hakuo-sensei tampak sibuk mengobrak-abrik isi kotak P3K untuk mencari kapas bersih, lalu menetesinya dengan alkohol.
"Bagaimana keadaan anda, tuan? Apa anda masih merasa sangat pusing? Atau ada bagian lain yang terluka?" Tanya Hakuo-sensei sembari membersihkan luka di dahi pria tak dikenalnya itu.
"Ah, tidak kok, hanya sedikit pusing saja. Aku yakin sebentar lagi rasa pusing ini akan segera hilang."
"Boleh kami tahu siapa nama anda?"
"Kiyoteru Hiyama, salam kenal." Kata pria itu sambil tersenyum hangat walaupun sesekali ia meringis kesakitan karena luka di dahinya. Hakuo-sensei yang sudah selesai membersihkan luka itu segera memasukkan kembali alkohol ke dalam kotak lalu meraih obat yang ia butuhkan.
"Namaku Hakuo Yowane, seorang guru yang mengajar di sekolah ini." Setelah selesai mengoleskan obat, Hakuo-sensei memanggil Len. "Len, tolong letakkan obat ini di tempat asalnya."
"Baik, Sensei."
"Ermm, kalau saya boleh tahu, kenapa anda bisa sampai luka-luka seperti ini?"
Pria yang bernama Kiyoteru itu hanya tersenyum masam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Hakuo-sensei. Ia menghembuskan nafas lega, mungkin karena merasa tertolong.
"Tadi di tengah jalan salju longsor dengan hebatnya, sehingga mobil kami terkena imbasnya. Hanya aku saja yang selamat dengan luka di dahi ini. Awalnya aku memutuskan untuk pulang, tapi jalan satu-satunya itu benar-benar terblokir dengan sempurna. Makanya aku tak punya pilihan lain kecuali datang kemari." Mendengar cerita panjang lebar Kiyoteru, Hakuo-sensei hanya mengangguk-angguk paham sambil sesekali menggumamkan kata 'oh…'
Gakupo yang hanya diam saja di situ dan mengamati memutuskan untuk melakukan sesuatu, merasa tidak enak karena hanya dirinya saja yang tidak melakukan apa-apa. Pemuda itu melihat-lihat sekitarnya dan menemukan telepon tepat di sebelahnya, tiba-tiba di kepalanya muncul ide yang cemerlang. Gakupo mengangkat gagang telepon, menekan beberapa tombol lalu menunggu hingga telepon tersambung.
"Oh, hallo, kami menemukan seorang pria yang terluka di Voca Gakuen karena kecelakaan, ah, apa bisa dikirim ambulans segera? Saya takut korban menderita gegar otak. Oh…sebentar," Gakupo menjauhkan gagang telepon dari telinganya lalu bertanya pada si korban salju longsor. "Hiyama-san, apakah anda masih merasa pusing berkepanjangan?"
"Tidak, aku sudah tidak merasa pusing lagi sekarang walaupun rasanya lelah sekali."
Pemuda itu kembali menempelkan gagang telepon ke telinganya dan melanjutkan pembicaraanya, "Ia bilang baik-baik saja, oh begitu…baiklah, terima kasih." Dengan begitu Gakupo mengakhiri pembicaraan dan mengembalikan gagang telepon sesuai posisi semula.
"Dikarenakan salju longsor tadi ambulans tidak akan bisa datang, jadi anda terpaksa harus menunggu di sini selama 8 hari. Apa hal itu mengganggu anda?"
"Oh, tentu tidak. Aku cukup berterima kasih karena sudah ditolong, err…siapa namamu anak muda?" Kata Kiyoteru terputus ketika ia sadar ia belum tahu nama pemuda yang satu ini.
"Gakupo Kamui, paman."
"Ah, ya, terima kasih banyak ya, Kamui-kun."
"Atau mungkin ada anggota keluarga atau teman yang dapat dihubungi?"
Pria itu segera berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan dan mengambil secarik kertas dari kantong celananya dan memberikannya pada Gakupo. Kertas yang diberikan itu berisi nomor telepon, entah anggota keluarga pria itu atau temannya Gakupo tak tahu. Tetapi Gakupo tetap menelepon dan memberi kabar kepada siapapun yang memiliki nomor tersebut. Sedangkan Len pergi meninggalkan ruangan dan memberi tahu yang lain tentang orang asing yang baru saja mereka tolong ini.
Saat itu Kaito sedang berdiri di depan menara jam yang letaknya berada di tengah halaman sekolah yang luas tertutup salju putih. Jam yang terletak di ujung menara itu menunjukkan pukul 8 malam. Pemuda itu terus mengamati jam sambil merekamnya dengan handy cam kesayangannya itu. Karena terlalu fokus, Kaito tidak menyadari ada seseorang tepat di belakangnya, hingga kepalan salju yang mendarat dengan sempurna di kepalanya, barulah ia menoleh ke arah sumber tawa seseorang yang telah melemparinya salju.
"Haish, kau lagi kau lagi, menyebalkan sekali."
Mendengar keluhan yang dilontarkan Kaito, sosok yang melemparinya gumpalan salju tadi kembali melakukan hal yang sama, tapi kali ini salju itu meleset karena Kaito menundukkan kepalanya tepat pada waktunya.
"Miku! Hentikan! Aku tidak suka rambutku basah karena salju! Belum lagi kalau kameraku terkena air."
Miku terkekeh senang, pelan-pelan ia menyusuri permukaan salju yang licin dengan hati-hati supaya tidak terpeleset. Kedua tangannya ia masukkan kedalam kantong mantelnya supaya tidak mati rasa karena dingin. Malam ini udaranya memang benar-benar ekstrim.
"Ayolah, aku kan Cuma bercanda, apa kau sebegitu dendamnya sampai-sampai tak mau memaafkanku?" kata Miku masih dengan unsur-unsur kesinisan di setiap kata yang ia ucapkan, seolah-olah seperti mencurigai Kaito. Si pemuda kembali menoleh melihat gadis itu walaupun ia sendiri berjalan menjauh.
"Apa maksudmu? Kau ingin memulai pertengkaran denganku lagi?"
"Hee, masih pura-pura tidak tahu, huh? Apa aku perlu mengucapkannya to the point?"
"Kalau kau terus-terusan bersikap tidak jelas seperti itu mana aku-"
Kaito jatuh terduduk ketika tiba-tiba Miku mendorongnya sekuat tenaga, nafas gadis itu terengah-engah, tatapan matanya tidak terlihat usil lagi, tetapi terlihat marah dan kesal. "Hei, apa yang kau mau?!"
"Kau sebegitu bencinya padaku sampai-sampai ingin membunuhku kan?! Kau sangat benci padaku sampai-sampai kau juga ingin mengutuk ku dan kau masih pura-pura tidak tahu! Keterlaluan!" bentak Miku dengan emosi yang meluap-luap, sedangkan Kaito hanya terperangah mendengar ucapan gadis itu.
"Siapa yang ingin membunuhmu? Aku sama sekali tidak ingin mengutuk mu atau entah apalah itu."
Mku dengan kasar merogoh kantong mantelnya, menarik sebuah amplop hitam lalu melemparkannya dengan kasar pada Kaito. "Lalu siapa lagi yang mengirimkan surat ini kalau bukan kau?!"
"Sudah kubilang aku tidak tahu! Bukan aku yang mengirimkan surat itu!"
Emosi Miku semakin menjadi-jadi, serasa seperti tidak puas kalau pemuda di hadapannya itu tidak mengaku kalau semua itu adalah perbuatannya. Miku cukup yakin kalau Kaito-lah pelakunya, tidak diragukan lagi!
"Hatsune-san, hentikan tindakanmu itu." Sela seorang pemuda berambut ungu yang berdiri di belakang Miku. "Tidak hanya kau, aku juga menerima amplop hitam itu."
Kedua mata Kaito membulat, sama terkejutnya dengan Miku. "Kau juga menerima surat itu, Gakupo?"
Dengan tenang Gakupo mengangguk lalu ia mengeluarkan surat hitam miliknya sendiri dan menunjukkannya pada Kaito. Ternyata tidak hanya mereka bertiga yang ada di sana, Len juga hadir di tempat itu. Pemuda berambut kuning itu juga merogoh-rogoh kantong mantelnya lalu mengeluarkan benda yang sama persis seperti yang ada dalam genggaman Gakupo sekarang.
"Aku juga menerima surat hitam ini."
Tanpa menunggu lebih lama lagi Kaito juga mengeluarkan benda hitam yang lagi-lagi sama. "Kita semua mendapat surat ini, eh?"
Udara di luar sangatlah dingin, membuat ke empat murid itu memilih untuk kembali ke dalam gedung dari pada berlama-lama berdebat atau berunding di luar. Mereka tiba di depan pintu kaca yang tebal dan kedap suara, Miku yang sudah tidak tahan lagi dengan dinginnya udara malam itu berusaha mendorong dan mendobrak pintu sekuat tenaga.
"Sial, kita terkunci di luar!"
Len dengan wajah innocent nya mengeluarkan sebuah kartu lalu menggesekkannya pada mesin yang tertempel di dipintu, lalu suara 'ting' dapat terdengar, menandakan system kunci pintu sudah terbuka.
"Sensei bilang system keamanannya sudah diubah lagi sebelum para teknisi ikut pulang pada liburan kali ini."
Tanpa mendengar cerocosan Len lebih panjang lagi, Miku segera masuk dan melompat-lompat di atas karpet tebal, berharap salju yang menempel di sepatunya dapat turun. Setelah itu gadis itu pergi begitu saja entah kemana.
" Hah, seharusnya aku memilih pulang saja pada liburan kali ini." Ucap Kaito dengan nada sedikit menyesal sambil membersihkan kameranya dari salju. Gakupo menoleh begitu mendengar ucapannya.
"Apa menurutmu surat itu hanya sebuah 'joke'?"
"Hee, tentu saja! Aku sudah berpikir begitu sejak awal." Jawab Kaito enteng. Kali ini ganti Len yang bertanya.
"Lalu…kenapa kau memilih untuk tetap di sini?"
"Aku kan seorang jurnalis." Kata si pemuda berambut biru itu bangga sambil memamerkan handy cam nya lalu pergi meninggalkan Gakupo dan Len sendirian.
"Apa menurutmu semua ini hanya 'joke' biasa?" Len hanya diam saja, tidak tahu harus berkata apa. "Atau…ada sesuatu yang disembunyikan dibalik isi surat ini?"
Aku terus memikirkannya. Sejak kapan semua itu dimulai?
Kau mengotoriku, membuatku tampak menyedihkan
Kau membuatku menjadi monster di ujung ruangan
Kau mendiamkanku
Kau mempermainkan harapan-harapan palsuku
Kau mengambil satu-satunya yang kumiliki dan meletakkannya di lehermu
Aku mengulurkan tanganku dan kau melepaskan
Kau menghapusku dari pandanganmu
Dan yang terakhir, kau mengambil posisiku
Selamat Natal dan Tahun Baru
Setelah delapan hari, berjalanlah menyusuri pohon Zelkova
Di bawah menara jam kau akan menemukan seseorang mati
Di malam Natal, aku mengutukmu
Di lain sisi asrama, Hakuo-sensei mengajak si pendatang baru berjalan menyusuri lorong berlapiskan kaca tebal ala minimalis yang menyambungkan gedung sekolah dengan asrama guru. Pria yang lebih tua beberapa tahun dari Hakuo-sensei itu tertegun begitu mereka tiba di depan pintu keamanan yang segera dibuka oleh Hakuo-sensei dengan menggunakan kartu miliknya.
"Sistem keamanan di sini benar-benar ketat sekali." Komentar pujian itu meluncur begitu saja dari mulut seorang Kiyoteru Hiyama, kagum dengan teknologi canggih yang diterapkan sekolah itu.
"Ya begitulah, lebih-lebih system keamanan di asrama guru. Dulunya tidak se-ketat ini, tapi karena insiden 5 tahun yang lalu system keamanannya dibuat seperti ini."
"Di sekolah ini pernah terjadi insiden?"
"Begitulah, ada beberapa anak jenius yang membobol system keamanan, ia membakar kamar guru yang sangat dibencinya." kata Hakuo-sensei sambil mendorong pintu kaca itu untuk memasuki ruangan selanjutnya. Kiyoteru mengikutinya dengan wajah bertanya-tanya.
"Lalu apa yang terjadi pada anak-anak itu?"
"Siapa? Mereka yang melakukan perbuatan itu?"
"Ya."
"Mereka lompat dari atap sekolah. Surat kematian yang mereka tinggalkan berisi tentang komentar mereka 3 tahun di sekolah ini seperti sebuah mimpi buruk."
Kedua mata merah ruby Kiyoteru melihat lantai yang sedang dipijaknya lalu menghembuskan nafas berat mendengar kabar sedih semacam itu. Ia tidak pernah menyangka hal-hal yang menyedihkan seperti itu pernah terjadi di sekolah terbaik seperti Voca Gakuen ini.
"Mimpi buruk ya…kalau begitu anak-anak di sini sedang berada di dalam mimpi buruk seseorang."
"Hmm?"
"Ah, tidak apa-apa."
Keesokan paginya…
25 Desember 2012
Luka melemparkan amplop hitam yang ada dalam genggaman tangannya dengan ringan, amplop itu mendarat dengan sempurna di tumpukan-tumpukan amplop hitam yang lain di atas meja. Pagi itu mereka semua berkumpul di lounge untuk membahas surat hitam yang mereka terima itu. Hanya ada para murid saja yang berkumpul pagi itu. Luka kemudian kembali ke tempat duduknya dan memasukkan kedua tangannya kedalam kantong mantel abu-abunya. Seluruh mata tertuju pada Dell, satu-satunya orang yang belum mengeluarkan surat hitamnya.
"Aku membuangnya ke tong sampah." Suara beratnya itu terdengar begitu emotionless, seolah-olah Dell bukanlah manusia melainkan robot ajaib. Yang lain tetap diam, hanya Len saja yang berkomentar.
"Kau membuangnya begitu saja?"
"Hu uh, aku tidak mengerti apa maksudnya jadi kubuang saja."
Gakupo yang sejak tadi hanya duduk diam sambil mengamati kemudian bersuara. "Lalu kenapa kau memutuskan untuk tetap tinggal di sini?"
"Karena aku belum bisa memecakan rumus fisika terakhir yang kupelajari."
Gelak tawa Miku terdengar bersahabat pagi itu, gadis itu tersenyum sambil menggeleng-geleng pelan dan berdecak pelan.
"Sudalah, surat-surat itu pasti hanya perbuatan usil seseorang."
Luka menatapnya lekat-lekat. Susah sekali membedakan apakah tatapan itu berarti baik atau tatapan sinis. Mungkin diva sekolah itu sudah cukup terbiasa melakukannya tanpa ia sadari. Sesuatu yang paling sering ditemukan dari gadis bertipe tsundere.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, seseorang yang sangat bodoh sudah melakukan perbuatan konyol ini, beri tahu Hakuo-sensei saja." kata Luka dengan nada mengejek, lalu ia menunjuk Hakuo-sensei yang berada di di luar ruangan sedang berjalan bersama pria asing yang kemarin mereka tolong itu.
"Kalau kita memberitahunya, ia akan segera menemukan siapa pelakunya untuk kita walaupun ia harus bersusah payah mengecek setiap kamera CCTV yang ada di sekolah ini. Bagaimana? Mau menemukan siapa pelakunya dan membuktikan bahwa kita semua tidak bersalah?"
Suasana hening, tidak seorangpun bersuara. Hanya langkah kaki sensei dan Kiyoteru yang semakin mendekat sajalah yang terdengar. Ketujuh murid itu saling pandang satu sama lain, menebak-nebak di dalam benak mereka masing-masing siapa gerangan yang berani melakukan perbuatan semacam ini. Gadis tsundere itu kini menoleh pada Gakupo dengan tatapan yang sama mengejeknya.
"Kau tidak bisa melakukannya kan? Bagaimana kalau surat ancaman itu nyata? Kita akan mendapat hukuman, nilai-nilai kita akan dijatuhkan drastis. Lalu pada akhirnya kita tidak akan direkomendasikan ke universitas terbaik."
Suara berisik pintu terbuka terdengar mengisi ruang lounge yang sangat sepi itu. Kedua pria yang jauh lebih tua dari pada mereka segera masuk dan menghampiri mereka. Refleks Gakupo mengambil kembali amplop hitam miliknya dan menyembunyikannya di balik mantelnya sendiri, hal yang sama juga dilakukan oleh kelima murid yang lain tepat pada waktunya sebelum Hakuo-sensei benar-benar berdiri di dekat mereka.
"Apa yang kalian lakukan berkumpul di sini? Apa kalian tidak mau makan pagi?"
Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Semuanya memilih untuk membisu.
"Kenapa tidak ada yang menjawab? Apa ada yang salah?"
Gakupo bangkit berdiri pertama kali. "Tidak ada, Sensei." Lalu keenam murid yang lain ikut berdiri menyusul Gakupo.
Hakuo-sensei tersenyum senang lalu ia mengenalkan pria di sampingnya kepada murid-murid lain yang belum tahu tentang keberadaan pria itu. Kiyoteru sendiri tampak senang bertemu dengan pemuda-pemudi di hadapannya, sebagai tanda senangnya, se-ulas senyum muncul di bibirnya.
"Mari kuperkenalkan, ia adalah orang yang kita tolong kemarin."
Kiyoteru menambil satu langkah kedepan lalu memperkenalkan diri.
"Namaku Kiyoteru Hiyama, senang berkenalan dengan kalian. Maaf kalau keberadaanku di sini merepotkan. Aku akan tetap di sini sampai longsoran salju yang menutupi jalan itu disingkirkan."
Hakuo-sensei menambah penjelasan dari Kiyoteru yang menurutnya kurang lengkap. "Pria ini adalah seorang dokter, lebih tepatnya seorang psikolog."
"Whoooaa…" kata Kaito terkagum-kagum dan tidak menyangka kalau liburan mereka kali ini akan ditemani oleh seorang dokter. Setidaknya ia merasa lebih tenang mengetahui ada dokter di sekolah itu, kalau-kalau ada yang sakit selama liburan setidaknya dokter itu bisa membantu mereka.
"Kalian bisa menceritakan problem-problem yang kalian miliki padaku kalau kalian mau. Tenang saja, rahasia apapun itu akan tetap tertutup rapat bersamaku." Kata Kiyoteru menawarkan bantuan konseling pada murid-murid yang mungkin saja mengalami stress selama ini karena kewajiban belajar mereka yang ekstrim.
Gakupo's POV
Setelah makan pagi kami ditugasi untuk membersihkan tumpukan salju yang sangat tebal di halaman sekolah. Kenapa harus dibersihkan? Kalau tidak nanti sekolah ini bisa-bisa terpendam salju sepenuhnya. Hahahaha, tentu saja aku hanya bercanda. Kami semua ikhlas melakukannya, kalau aku sih rela karena aku merasa tidak ada kerjaan. Pada awalnya kami memang benar-benar membersihkan tumpukan salju, lama-kelamaan sebagian dari kami mulai bermain-main dengan salju, menyekop salju lalu melemparkannya tinggi-tinggi. Kegiatan membersihkan pun tergantikan dengan perang lempar salju. Cukup menyenangkan memang, kami semua tertawa lepas, asik mengerjai satu sama lain walaupun kami tidak begitu dekat. Kecuali aku dan Luka.
Aku melihat gadis itu tersenyum senang walaupun akhirnya ia memilih untuk duduk di pinggiran sambil menyaksikan perang salju antara Kaito dan Miku yang jarang sekali akur seperti ini. Len yang awalnya hanya diam saja akhirnya juga ikut terkena imbas lemparan salju meleset yang dilemparkan Kaito. Sama seperti Len, Rin pun juga begitu. Sedangkan Dell, pemuda yang nyaris tidak pernah tersenyum itu akhirnya menampakkan sedikit senyum tipis di wajahnya yang datar itu selama melihat teman-temannya sedang asik berperang.
Diam-diam aku juga tersenyum, sedikit, melihat Luka yang tampaknya cukup senang. Karena terlalu lama memandangnya, ia menoleh melihatku. Kami beradu pandang, kedua matanya melihatku, memperhatikanku sambil tersenyum. Aku segera memalingkan muka dan kembali melihat perang salju yang semakin tidak terkendali di depanku. Sejauh ini aku belum terkena satupun lemparan salju meleset. Ketika aku menoleh ke arah yang lain tiba-tiba wajahku terasa dingin. Aku menutup mataku rapat-rapat, merasakan partikel-partikel es yang kini mengotori wajahku mulai berjatuhan. Dari jauh aku mendengar tawa Kaito dan Len yang membaur, menertawakan ku. Mereka terdengar begitu senang karena berhasil melempar target tepat pada sasarannya, yaitu aku. Jack pot.
"Awas ya kalian! Rasakan ini!" kataku sambil tertawa saat membalas melempari mereka. Sadar atau tidak akhirnya aku jadi ikut-ikutan di dalam perang salju itu.
Dari ujung pandanganku, aku melihat Hiyama-san mengamati kami dari atas balkon sambil tertawa melihat tingkah kami yang seperti anak kecil. Tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk bertanya pada dokter muda itu. Penasaran kenapa aku memanggilnya dokter muda? Walaupun ia adalah orang yang paling tua diantara kami, umur Hiyama-san masih 29, cukup muda untuk seorang dokter bukan? Tanpa kusadari aku berjalan mendekati Hiyama-san dengan membawa surat hitam milikku.
"Ermm, tadi kau bilang kau adalah seorang psikolog kan?"
"Ya, begitulah. Untuk sekarang begitu."
"Apa kau bisa membaca kondisi seseorang hanya dengan melihat kata-kata yang ditulisnya?"
Hiyama-san mengedipkan matanya beberapa kali, tampak sedang berpikir lalu ia tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Eh, seseorang yang kukenal…ia menulis semacam puisi yang isinya…" rasanya sulit sekali untuk mengatakannya pada Hiyama-san. Walaupun aku tahu ia adalah satu-satunya orang yang ahli dalam bidang semacam ini, tapi tetap saja, bagiku ia tetaplah orang luar. Aku sedikit ragu ia akan menjaga rahasia ini. Bagaimana kalau ia mengatakannya pada Hakuo-sensei? Habislah kami semua.
"Isinya adalah sesuatu yang orang lain tidak boleh tahu?"
"Benar."
Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia tersenyum lalu berkata "Tenang saja, pendeta dan psikolog harus menjaga rahasia klien mereka. Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun."
Jawaban itu ia lontarkan seolah-olah ia bisa membaca pikiranku seperti membaca buku. Kurasa ia memang seorang master psikolog. Harus kuakui ia berhasil meyakinkanku bahwa apa yang akan kuceritakan padanya tidak akan bocor kemana-mana. Aku menyodorkan surat hitam itu padanya, lalu ia membacanya.
Setelah menunggu beberapa saat sampai ia selesai membaca barulah ia berkomentar tentang hasil analisisnya terhadap surat itu.
"Siapapun yang mengirim surat ini berada dalam keadaan yang berbahaya. Depresi serius, orang ini harus secepatnya diberi pertolongan."
Len's POV
Tadi aku sempat melihat Gakupo-san bercakap-cakap dengan Hiyama-san di atas balkon. Lalu aku melihat Gakupo-san menyodorkan surat hitam miliknya pada dokter. Aku sungguh penasaran sekali pada apa yang kira-kira dikatakan oleh dokter itu tentang surat-surat hitam yang kami terima. Dan kini aku melihat kesempatan terbuka untuk menanyai Gakupo-san tentang surat itu. Di lounge hanya ada aku, Gakupo-san dan Rin.
"Tadi aku melihatmu bercakap-cakap dengan Hiyama-san tentang surat itu. Bagaimana responnya?"
"Si pengirim surat tidak bercanda." Gakupo-san menggosok-gosokkan sol sepatunya di karpet dengan wajah tertunduk, beberapa detik kemudian ia mengangkat wajahnya dan terus memandangi Rin yang sedang duduk-duduk di sofa sambil mendengarkan musik. Tanpa aba-aba, ia melangkah mendekati Rin, duduk di sebelahnya.
"Kagami-san, aku ingin bertanya sesuatu."
"Ya?"
"Erm...surat itu, kapan kau menerimanya?"
Dari air mukanya, aku tahu Rin sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. Namun ia tipikal orang yang sangat pro dalam hal menutupi rasa kalutnya dalam waktu singkat, sehingga keterkejutan sesaatnya tadi tidak begitu nampak. Rin mencopot kedua earphone yang menempel di telinganya lalu menoleh melihat Gakupo-san dengan santai seolah-olah pertanyaan Gakupo-san barusan hanya pertanyaan biasa.
"Satu hari sebelum liburan."
"Dimana kau menemukannya?"
"Di lokerku."
Jawaban-jawaban singkat itu tampaknya memuat Gakupo-san sedikit gusar, tapi Rin tetap menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja seolah-olah hal yang mereka bahas sama sekali tidak penting. Seperti itulah Rin, sepintas kau akan melihatnya seperti orang yang pasrah-pasrah saja, tapi sepintas lagi kau akan melihat ia sebagai sosok yang super santai dan tidak mau ambil pusing.
"Apa surat itu merupakan alasanmu memilih untuk tidak pulang?"
Rin tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.
"Itu sebagai penghormatanku. Seseorang sangat membenciku sampai-sampai ia ingin membunuhku. Tidak sopan kan kalau aku pulang begitu saja."
Dari jauh sekalipun raut bingung Gakupo-san tampak jelas sekali di mataku. Tidak diragukan lagi, pasti Rin telah memberikan jawaban yang aneh-aneh dan susah untuk dianggap masuk akal padanya.
"Apa kau punya dugaan siapa yang mengirimkan surat ini?"
"Monster di ujung ruangan barangkali? Mungkin saja begitu. Aku sering melihat monster itu terduduk di ujung kamarku."
"Monster? Seperti apa wujudnya?"
"Seperti anak kecil. Separuh wajah sebelah kirinya berwarna biru. Tapi aku juga pernah melihat monster itu dengan wujud dewasanya. Yang aku tahu tentang monster itu hanyalah ketertarikannya pada Megurine-san."
Normal POV
Pernyataan Rin tentang monster di ujung ruangan itu membuat Gakupo merasa semakin tidak enak. Ia ingat betul istilah itu juga tertera di surat hitam yang mereka terima. Jika pemikirannya benar maka…
Tapi ini sungguh aneh. Baik Gakupo maupun Len tidak yakin kalau semua informasi yang diterimanya dai Rin ini merupakan informasi yang rasional. Apa yang dimaksud Rin dengan monster di ujung ruangan? Hantu atau semacamnya? Tapi isi surat dan pernyataan Rin barusan terlalu kebetulan sekali untuk dikatakan 'kebetulan'. Tapi kini yang jelas Gakupo mengerti 1 bagian dari isi surat itu.
Kau membuatku menjadi monster di ujung ruangan
Kalimat itu menerangkan tentang Rin.
Kini kedua pemuda itu sedang berada di perpustakaan sekolah. Baik Gakpo dan Len sama-sama sibuk membongkar-bongkar berbagai macam dokumen tentang murid-murid yang bersekolah di Voca Gakuen. Lembar demi lembar dibuka satu persatu. Semua ini adalah ide Gakupo yang berpikir bahwa mungkin yang dimaksud 'monster di ujung ruangan' oleh Rin adalah orang yang di wajahnya ada tanda lahir yang mencolok. Tapi sejauh ini foto-foto yang dilihatnya tidak menunjukkan itu.
"Hee, lihat." kata Len bersemangat. Spontan Gakupo menoleh ke sebelah. "Kau terlihat imut sekali waktu kecil."
Oh, ternyata Len menemukan dokumen tentang Gakupo. Si pemuda yang dokumennya dibaca itu hanya diam saja dan melanjutkan mencari-cari foto yang ia inginkan, sementara Len melanjutkan membaca biodata Gakupo.
"Cita-cita menjadi dokter…role model mu adalah ibu. Aneh, tidak biasanya anak laki-laki menuliskan role model mereka adalah ibunya." Kata Len terus mengomentari biodata Gakupo yang tidak digubris oleh si pemilik dokumen. Barulah Len sadar seharusnya ia tidak mengucapkan hal-hal tentang role model secara sembarangan. Pemuda pecinta pisang itu melihat kolom yang bertuliskan 'ibu, meninggal karena kecelakaan'. Detik itu juga mulutnya terkunci rapat, tidak tahu harus bagaimana ia meminta maaf pada Gakupo.
"Hng, ternyata dugaanku benar. Kau bersaudara dengan Kagami-san." Len terlonjak, tidak menduga kalau Gakupo menemukan biodata miliknya sendiri. Pemuda itu tersenyum pahit lalu mulai bercerita tentang kisahnya dengan Rin.
"Kami memang saudara kembar, tapi waktu kami masih bayi orang tua kami bercerai. Aku ikut ayah dan Rin ikut Ibu. Kami baru bertemu kembali saat aku masuk ke sekolah ini."
"Hoo, sejarah yang panjang."
Setelah beberapa jam mencari-cari dokumen yang mereka cari akhirnya mereka menyerah. Mungkin warna biru di wajah si monster yang dikatakan Rin itu bukan tanda lahir? Sejauh ini Gakupo dan Len tidak menemukan satu lembar pun foto seseorang yang di wajahnya terdapat tanda lahir yang mencolok.
Ketika hendak pergi ke asrama putra, mereka bertemu dengan Dell yang sedang duduk di sebuah bangku dekat tangga sambil membaca buku. Ia tampak tenang sekali dan tidak terganggu dengan kehadiran kedua pemuda yang lain.
"Honne-san, apa ada seseorang di sekolah kita yang di wajahnya ada tanda biru?" Tanya Gakupo entah apa yang dipikirkannya saat itu. Ia memutuskan untuk bertanya pada orang yang super diam ini? Dell hanya diam saja walaupun kini ia sedang memandang Gakupo dengan wajah datarnya. Len merasa tidak perlu menunggu jawaban dari Dell, sehingga ia menjawab pertanyaan itu menggantikan si pendiam.
"Percuma kau bertanya padanya. Jangankan wajah satu sekolah, wajah-wajah teman sekelasnya sendiri mungkin ia tidak hafal." Jawab Len acuh tak acuh.
Si jenius berambut abu-abu itu menutup bukunya lalu berdiri. Wajahnya sedikit terlihat tampak berpikir.
"Kalimat 'Kau menghapusku dari pandanganmu'. Apa itu menerangkan tentang diriku?"
Semuanya terdiam.
"Kalimat itulah yang paling mendekatiku dari ke delapan dosa yang tertulis di dalam surat."
Saat tiba di persimpangan antara menuju ke asrama dan ruang makan, Gakupo berpamitan pada Len dan Dell karena ia ingin kembali ke kamarnya sendiri.
Di kamar, Gakupo sepintas melihat selebaran yang dulu pernah ia remat-remat karena sedang kesal lalu dilemparkannya begitu saja di lantai. Dipungutnya selebaran itu dan dilihatnya isi selebaran yang sudah kucel itu. Setelah melihat-lihat beberapa saat Gakupo menggulung selebaran itu lalu bergegas pergi mencari Luka yang ada di asrama putri.
Gakupo's POV
Aku mempercepat langkah kakiku menuju pintu keamanan asrama putri. Bel yang ada di sana segera kupencet, tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan sosok Luka yang selalu menawan dari balik pintu kaca bening itu.
"Kau tahu benar kan kalau cowok tidak boleh masuk ke asrama putri? Apa kau berniat melanggarnya?"
"Aku ingin Tanya sesuatu."
Luka melepaskan gagang pintu dan membiarkanku masuk. Pintu keamanan ini terhubung oleh sebuah lorong panjang dengan dinding kaca di sepanjang koridor. Kulihat Luka bersandar di sisi dinding sambil bertumpu pada besi pegangan yang ada di sana. Awalnya ia hanya diam aja, namun kemudian ia menulis-nulis sesuatu di dinding kaca yang berembun.
"Jadi, apa yang ingin ditanyakan?"
"Apa kau ingat kejadian setelah festival di musim gugur tahun pertama? Saat itu kau diikuti oleh seseorang. Kau masih ingat?"
Gadis di hadapanku ini menghela nafas panjang. Lalu aku melanjutkan ucapanku.
"Seseorang mengirimkan surat tanpa nama padamu dan kau berpikir seseorang sedang mengawasimu diam-diam. Kau bilang kau tidak menyukainya."
Luka menoleh melihatku dengan tatapan seperti biasanya, namun ekspresi wajahnya sedikit berubah ketika aku menyinggung-nyinggung soal kasus USB. Wajahnya terlihat sedikit murung saat ia mengingat-ingat kejadian beberapa waktu silam yang menurutnya kelam, tapi itulah awal hubungan kami dimulai.
Saat itu kami hanyalah teman biasa. Suatu hari Luka datang kepadaku dengan wajah sembab, ia memintaku untuk mendengarkan ceritanya. Luka bercerita bahwa ia merasa ada stalker yang senantiasa mengikuti dirinya kemanapun ia pergi. Bahkan stalker itu mengirimkan memo pada Luka yang berisi petunjuk dimana Luka terakhir kali meletakkan USB nya saat si pemilik USB sendiri lupa meletakkannya dimana. Luka datang padaku dan menceritakan semua ketakutannya itu dan sejak saat itulah aku bertekad melindungi Luka apapun yang terjadi. Sejak itu juga Luka menjadi kekasihku. Sayangnya, di awal tahun kedua hubungan spesial kami berakhir sampai di situ.
"Mengingat apa yang kulakukan waktu itu…aku berlari padamu. Aku sangat takut…bisakah kau melindungiku? Tidakkah aku sangat imut dengan ekspresi ketakutan seperti itu?" kata Luka sambil mengingat-ingat memori antara dirinya dan diriku yang entah menyakitinya atau tidak aku tidak tahu.
"Kau tidak benar-benar bertingkah seperti itu."
"Aku merasa kau sangat romantis. Aku bagaikan artis pemeran utama yang sedang dalam dillemma, tapi aku punya seorang pangeran di sebelahku."
Kemudian mantan kekasihku ini berjalan selangkah mendekat padaku, menatapku penuh selidik.
"Jadi? Kenapa kau menggali-gali kenangan romantisku?"
"Salah satu surat dari si stalker yang kau berikan padaku tanpa kau baca waktu itu…waktu itu aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan surat itu. Jadi aku mempublikasikannya di selebaran sekolah atas namaku. Kupikir dengan begitu si stalker akan menyerangku atau berhenti melakukannya. Tapi kau tidak menerima surat-surat apapun lagi setelahnya." Aku menyerahkan selebaran kumal dan menunjukkan postingan surat si stalker yang terletak pada ujung bawah lembaran dan memintanya untuk membacanya sendiri.
Kau jahat
Kau bersinar tanpaku
Kau membuatku yang sudah jatuh kedalam kegelapan jatuh lebih dalam
Namamu sungguh buruk
Aku tidak bisa menyebut namamu
Kau jahat ketika kau tertawa
Harapan-harapan palsuku menjadi racun dan membuatku sakit
"Kenapa kau mempublikasikannya?"
"Jika kau tidak tahu kalau itu dia, surat ini hanya terbaca seperti puisi cinta. Tapi di dalam surat itu disebutkan tentang 'harapan-harapan palsuku' yang juga tertulis di surat hitam itu."
Aku merasakan Luka mengerti apa yang kumaksud.
"Kalimat 'Kau mempermainkan harapan-harapan palsuku' itu tentang diriku. Lalu…" ia menatap kedua mataku lekat-lekat, mata biru aquamarine nya yang begitu indah membuatku terhipnotis dan tidak bisa tidak memandang wajahnya. "' Kau mengambil satu-satunya yang kumiliki dan meletakkannya di lehermu' itu tentang dirimu."
Setelah itu diantara kami berdua begitu hening, bahkan suara angin lewat pun tidak ada. Hanya deru nafas kami yang terdengar. Luka membalikkan tubuhnya sehingga sekarang ia membelakangiku, kemudian berjalan menjauh menuju ke arah memasuki asrama putri.
"Tentu saja orang itu ingin membunuh kita. Hati seseorang secara tidak sengaja telah digunakan sebagai alat untuk membantu dalam urusan cinta pertamaku." Kini ia tersenyum pahit. "Aku mengakuinya."
To be Continued
A/N: okeee, melihat respon dari pembaca dan reviewers, saya akhirnya memutuskan melanjutkan fic ini. sebenarnya di chap kali ini author mau lanjutkan lebih panjang lagi, tapi begitu liat word count nya sudah 4800an ya sudah deh author potong sampai di sini dulu. di sini Luka nya kaku sekali ya? ya begitulah, tapi lama-lama mencair sendiri kok dianya.
terima kasih banyak buat readers dan reviewers yang mau memberikan waktunya barang beberapa menit saja untuk membaca fic ini, author tak akan pernah lupa kebaikan kalian (alay mode on) huehehehe, adieu~
