Mindscape

Disebuah ruangan pengap yang gelap dan berair, Seorang pemuda berambut pirang berdiri tegap menghadapnya. Seakan tanpa rasa takut sedikitpun diwajahnya. "Selamat datang, sisi gelapku", Sapa Naruto kepada seseorang yang berdiri didepanya. Seseorang yang memiliki penampilan yang identik denganya, namun memiliki mata semerah darah, dengan sklera berwarna hitam pekat menyiratkan kebencian yang begitu besar, seperti namanya, dialah sang kegelapan itu sendiri.

" Apa yang kau inginkan, master", Naruto hanya menatap dingin padanya, lebih dingin dari tatapan sang Yami.

"Aku ingin kekuatan !", Naruto hanya mengulum senyum iblis diwajahnya.
"Walaupun dari kegelapan", sahut sang Yami mulai tersenyum sinis padanya. "Aku tak peduli", dalam sekejap Naruto muncul dari belakang tubuh sang yami, Memegang lehernya seperti, lebih tepatnya bersemangat hendak mencekiknya.

"Bantu aku dapatkan kekuatan, atau kubunuh kau untuk kedua kalinya nanti !", Ucapan intimidasi yang ditujukan padanya tidak membuat sang Yami gentar sedikitpun, dia malah menyeringai tepat didepanya.

Drepp

Dalam sekali serangan, sang Yami berhasil melepaskan diri dari cekikan yang dilakukan Naruto. Dengan kekuatan penuh melayangkan sebuah tendangan kearah Naruto dengan menggunakan lututnya, namun berhasil dihindari dengan mudah.

"Dunia ini tidak adil kan !"

Serangan demi serangan yang terkesan brutal terus dilakukan oleh sang Yami, namun berhasil ditangkis oleh Naruto walaupun sedikit kesulitan melakukanya. Perbedaan kekuatan tercermin diantara mereka, perbedaan kekuatan yang tipis, peluang kemenangan yang telah menyamai 50 persen.

"Hentikan, Aku malas bertarung denganmu", Naruto menangkis serangan sang Yami, dan dengan lututnya berhasil menendang pipinya, membuatnya tumbang dengan tatapan sinis penuh rasa amarah.

"Kekuatan kita seimbang, namun berbeda jenis kekuatan, apa kau yakin Master", Yami bangkit dari lantai berair, dialam pikiran Naruto. " Aku sudah tidak peduli, aku ingin kuat walaupun dengan cara apapun", sebuah pernyataan yang naruto ucapkan membuat sang Yami mulai mengulum senyuman iblis diwajahnya.

"Aku ingin membunuh mereka, terutama dia!", Senyuman iblis dengan mata penuh dendam tercermin diwajah Naruto. " Siapa ?", tanya sang Yami padanya, membuat naruto memejamkan matanya sejenak.

"Penyiksa pribadiku, Kazuki !", ucap Naruto membuka matanya membuat sang Yami semakin mengulum senyum iblis diwajahnya.
"Baik Master, aku sendiri yang akan melatihmu dengan kekuatan yang kumiliki", Naruto hanya tersenyum mendengarnya. Bersiap membayangkan apa yang akan terjadi pada Konoha akhirnya.

" Dengan syarat kau menerima kekuatanku ",


Disclaimer : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto, I'm just a Newbie Author who use his Naruto's character.

A Monster by Ardion Heart

Warning !

OOC, Smart, Dark, Strong, n Semi- Insane Naru, Typo tak terhitung, Bahasa Kacau, Ejaan tak menentu, Gaje parah, Gore berkelanjutan n Etc

No Lemon !, M for gore

So Enjoy it !

.

.

.

Aku tak pernah peduli kata orang lain padaku.

Tapi semua itu ada batasnya,

dan bayangkan

Apa yang kau lakukan jika berada diantara batas tersebut ?!


Ruang rapat

Sang Godaime Hokage, Tsunade hanya mampu menatap seluruh peserta rapat dihadapanya. Tetua desa dan perwakilan dari para penduduk serta ketua klan kini menatapnya serius.

"Apa yang kau inginkan lagi, Naruto sudah menjadi senjata oleh konoha, terbunuhnya sepuluh orang jounin dan penduduk konoha olehnya bukan murni kesalahanya !", sang Gondaime Hokage menatap para peserta rapat didepanya.

" Tapi tetap saja, dia yang sudah membunuh warga konoha", desis Koharu dengan mimik serius.

"Kenapa kau tidak mengusirnya maupun mengeksekusinya dari dulu, namun kalian malah mengirimnya ke penjara bawah tanah konoha !",Tsunade berteriak kesal padanya.
" Karena dia masih dibutuhkan konoha ", jawaban tersebut berasal dari seorang tetua yang memiliki tanda x didagunya.

" Kau, Danzo!", teriak sang hokage. "Tenanglah hokage-sama !", Sizune hanya bisa menahan pundaknya, berusaha untuk menenangkanya yang sudah diambang emosi. "Apa yang kau lakukan hahh!", teriaknya menatap Danzo seakan terus mengutuknya. "IYA, KENAPA IBLIS ITU TIDAK KAU BUNUH SAJA", teriakan tersebut terus diteriakkan oleh para penduduk Konoha mengiringi jalanya rapat yang lebih dari cukup untuk membuat mental Naruto hancur jika berada disana.

" Karena dia, adalah senjata konoha, saat desa sedang terancam kita akan membutuhkanya", ucap dingin seseorang yang dipanggil Danzo.

"Apa kau gila hahh!, mengurungnya dalam ruang isolasi dengan rantai disekujur tubuhnya. Apa kau tidak memikirkan apa yang ia lakukan pada konoha setelah ini !", teriak Tsunade marah, membuat semua orang yang berada ditempat itu terdiam seketika.

" Itu pantas untuknya!", "Dia memang pantas diperlakukan seperti itu !"
" Siksa dia saja, jangan beri ampunan pada iblis seperti dia"

"Diam!" , Riuh teriakan para peserta rapat terhenti seketika karena teriakan keras dari Tsunade.
"Apa yang kalian pikirkan hah !", Ia berdiri menggebrak keras mejanya, menimbulkan retakan-retakan kecil pada mejanya. Hingga sang Hokage berdiri angkuh menghadap mereka.

"Kau pikir apa yang akan Minato dan Kushina akan tenang disana, karena kalian telah memanfaatkan anak mereka sebagai senjata, hah !", Tsunade berteriak keras pada mereka membuat seluruh peserta rapat diam tak berkutik sedikitpun.

"Tidak mungkin!"
"Dia tidak mungkin Anak mereka"
"Jangan berbohong Tsunade-sama, dia tidak mungkin anak Minato dan Kushina" "Aku tidak percaya, dia tak mungkin anak Mereka",Teriakan para peserta rapat semakin riuh. Dan dengan sekali hentakan sang Gondaime hokage memukul mejanya hingga hancur tak bersisa, membuat mereka semua diam seketika dengan raut takut menghiasi diwajah mereka, bersiap menghadapi emosi sang Hokage.

"Apakah yang kau katakan itu benar Tsunade-hime" , Homura menatap tidak percaya pada Tsunade, pasalnya orang tua dari Naruto tak pernah diungkap sebelumnya, dan sekarang dibeberkan sebagai anak Yondaime hokage, "Itu tidak mungkin" tolaknya tidak percaya.

"Aku tidak berbohong, Jiraya sendiri yang mengatakanya padaku", seru Tsunade meyakinkan yang lainya.

" Dan karena kalian aku melanggar sumpahku sendiri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, kalian puas ?!"

Sementara para peserta rapat hanya tertunduk tak percaya, tidak mungkin orang yang mereka benci adalah putra dari seorang hokage yang telah dicap sebagai pahlawan konoha"

" Aku tidak peduli, dia tetap pembunuh "
"Kurung dia"
"Siksa dia"
"Dia itu berbahaya bagi konoha, jangan beri dia ampun"

Teriakan para peserta seakan terus memojokkan nasib Naruto. Jika Naruto tahu, mungkin dia akan dengan cepat membunuh mereka semua ditempat.

"Diam !", bentakan sang Hokage yang kesekian kalinya, berhasil menghentikan teriakan para coucil yang seakan terus memojokkan Naruto.

" Aku harap jika dia berhasil lolos, dia tidak akan menghancurkan konoha ", ucapnya lirih, memalingkan wajahnya dari para coucil.

" Apa maksutmu !, Tsunade-hime ", tanya Homura menatap penasaran sang Gondaime hokage didepanya.

" Dia telah diikat dengan rantai yang dilapisi fuin penahan chakra biju, tingkat tertinggi dikonoha. Dipenjara didalam sebuah ruang isolasi penyerap chakra biju tingkat tiga, dan penjagaan penuh oleh dua puluh jounin elit konoha. Kau pikir dia bisa lolos", lajut Homura menatapnya sinis. Sang gondaime hokage menatap serius para peserta rapat didepanya.

"Dia orang yang telah membunuh ratusan warga konoha termasuk sepuluh orang chunin saat dia berumur sembilan tahun",

" ya !"

" Orang yang sengaja kalian latih untuk tidak memiliki sedikitpun rasa belas kasihan "

" Ya !"

"Orang yang sama yang berhasil menyusup, menghabisi puluhan pasukan setingkat chunin yang berada sebuah markas musuh ditakigakure, kemudian mengirim kepala mereka kekonoha, saat dia berumur 12 tahun"

"ya, itu benar "

"Orang yang sama yang berhasil menyusup kesalah satu markas milik orochimaru, menghancurkanya dan berhasil menyeret salah satu pengawalnya kekonoha"

"Ya", jawab para coucil sedikit gemetar.

" Orang yang sama, yang berhasil menyusup kemarkas para nukenin Rank-B sendirian, membantainya dengan sebuah senyuman seakan tak berdosa diwajahnya"

"Dan kalian pikir penjara yang kalian buat dapat menahanya", ucapan sang hokage membuat para coucil mulai bergidik ngeri, membayangkan apa yang akan Naruto lakukan pada mereka.

" Sial",

" Dan jika dia jadi monster, dan membalas dendam pada konoha. kalianlah penyebabnya" lanjutnya kemudian pergi meninggalkan rapat tersebut.

"Mau kemana kau!", teriak Homura. Tsunade mengalihkan pandanganya kearahnya menatapnya sinis.
" Aku, ingin melihat sendiri keadaanya", sang Hokage memalingkan wajahnya meninggalkan ruang rapat dengan wajah yang penuh emosi.

...

Underground Prison of Konoha, Naruto's cell

Naruto yang masih terikat oleh rantai menatap Kazuki yang memainkan pisau bedahnya yang menyayat-nyayat tubuhnya.

"Argg, Hentikan", Naruto Hanya berteriak menahan sakit ketika sebuah pisau bedah yang menyayat perlahan kulitnya. Walaupun tidak terlalu dalam, hanya dikulitnya, tetapi justru disitu letak rasa sakit yang sebenarnya.

" Jadi Naruto, kita akan bermain dengan alat baruku", ucapan manis Kazuki terdengar sangat mengerikan ditelinganya. Kazuki menyiapkan sebuah pisau bermata dua dengan gerigi yang tajam seperti gergaji, kemudian menyayatkanya perlahan ditungkai kiri Naruto. Tungkai yang penuh dengan paku yang beberapa menit yang lalu Kazuki tancapkan di perut, tangan, lengan, dan perutnya.

"Arggg", teriakan kesakitan Naruto terus mengema ditempat tersebut.

" Diamlah !, Kau terlalu berisik !", Kazuki membekap mulut Naruto dengan sebuah saputangan yang berlumuran darah, darahnya.

'Hentikan, Hentikan, Aku ingin bebas', Naruto hanya meratapi nasibnya, namun rantai disekujur tubuhnya lebih dari cukup untuk membatasi pergerakan tubuhnya.

"Kau tahu, temanmu, Kisuke, telah dibunuh oleh Kumogakure, karena misi dari Hokage !", Kazuki menjambak rambut Naruto mengulum senyum sadis diwajahnya.

'Tidakkk !, Konoha dan Kumogakure sialan !', batin Naruto berteriak tidak percaya satu-satunya yang menganggapnya teman telah mati.

Perlahan, Kazuki mengambil sebuah palu. Palu berukuran besar, cukup besar untuk membuat tulangnya remuk tak bersisa.

Duakk

Dengan kekuatan penuh, palu tersebut menghantam perutnya. Rantai yang mengikatnya membuatnya merasakan rasa sakit lebih, karena rantai tersebut secara tidak langsung mengoyak perutnya. Tanpa sadar Naruto perlahan memuntahkan darah segar dari mulutnya.

" Cukup", rintih Naruto menahan rasa sakit diperutnya.

Seakan tak merasa puas, Kazuki mengayunkan palunya kedadanya namun tidak terlalu kuat, dia tidak mau Naruto mati. Walapun tidak membunuhnya, namun itu cukup untuk menghancurkan tulang rusuk naruto.

"Arghh, hentikan",

Pukulan itu cukup untuk membuat Naruto berteriak dengan nafas dengan tersenggal-senggal.

"Pernahkah aku memberitahumu, Rusuk manusia merupakan bagian terpenting dari tulang manusia selain tulang tengkorak yang berfungsi melindungi organ penting didalamnya, Sayangnya struktur tulang ini lebih rapuh dari tulang lainya"
"Bahkan lebih rapuh dari tulang hasta, tanganmu"

Naruto hanya terdiam menahan rasa sakit diperut dan rusuknya, tak memperhatikan Kazuki yang seakan mengajar sebuah pelajaran anatomi padanya.

"Dan, Keempatbelas rusuk ini cukup kuat untuk melindungimu"

Kazuki menempelkan tanganya kedadanya, perlahan menekanya, membuat Naruto berteriak kesakitan. Rasa sakit ditulang rusuknya yang belum hilang, kini ditambah dengan tekanan dari Kazuki, memberikan suatu kombinasi rasa sakit yang amat sangat menyakitkan.

"Tapi, jika kau menghancurkan salah satunya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang sesak nafas, dan akhirnya mati karena tak bisa bernafas"
Lanjutnya, melepaskan tanganya dari dada Naruto yang mungkin tulangnya telah hancur karena pukulanya.

Dengan Nafas tersenggal-senggal, Naruto berusaha menyamakan ritme nafasnya. Dan berterimakasihlah pada Kazuki, kini Naruto mengalami sesak nafas akut.

"Sepertinya waktu bermain kita sudah habis ya Naruto", Kazuki dengan kasar menendang perutnya, memberikan sensasi rasa sakit yang menyakitkan yang bangkit kembali dari perutnya. Kemudian meninggalkanya dengan sebuah senyuman Sadis diwajahnya.
" Semoga kau cepat menemui Kisuke, Naruto"

Duakk

Dan, Satu-satunya pintu disana ditutupnya dengan keras. Meninggalkanya sendirian dengan luka yang menganga ditubuhnya.

" Kenapa, Kenapa dia yang harus dibunuh bukan Aku !", lirih Naruto menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Memberontak dengan chakra Kyubi yang terus keluar namun terhisap oleh rantai yang mengikatnya. Perlahan terlihat sebuah retakan-retakan kecil pada rantainya.

"Sialan kau Konoha !", Teriaknya keras dengan kekuatan penuh berusaha memberontak dari balik rantai yang mengikatnya.

Perlahan retakan tersebut semakin banyak, perlahan menciptakan kerapuhan pada rantai tersebut. Akhirnya setelah beberapa menit berusaha meloloskan diri, ia menyerah. Menyerah karena chakranya telah terkuras habis, ia hanya menatap ruangan tersebut. Perlahan luka ditubuhnya mulai mengering dan nafasnya mulai normal, karena charka kyubi yang berhasil merembes keluar dari tubuhnya.

...

Konohagakure no Sato

Sebuah gedung besar dengan simbol Hi, atau api dengan sebuah bukit batu berpahatan 5 wajah hokage menambah kesan megah pada gedung tersebut. Sebuah representasi dari desa yang dianggap terkuat diantara kelima desa besar Shinobi.

Dari balik jendela nampaklah seorang wanita berusia sekitar setengah abad namun masih terlihat berumur dua puluh tahunan, suatu keajaiban jutsu medis. Kedua matanya sedang menatap seorang jounin didepanya.

"Kudengar, Ada desas-desus tentang divisi gelap konoha, dan kau salah satu darinya", Sang gondaime hokage mulai berbicara, kemudian menyatukan kedua tanganya menatap sinis sang Jounin.

" Katakan !, apa yang kau ketahui, sebelum aku mengirimmu keintrogasi konoha", bentak Tsunade membuat jounin didepanya mulai berkeringat dingin.
'Cih, Hokage sialan, lama-lama kubunuh dia', decih sang jounin dalam pikiranya. Berusaha tidak menunjukkan kekesalanya, dengan mengulum sebuah senyuman palsu.

"Cepat katakan Kazuki !, atau aku panggil Anbu sekarang !", bentakan sang Hokage membuat kazuki terdiam seketika. 'Huh, apa boleh buat', batinya tidak suka.

" Baiklah aku mulai", ucap sang jounin memulai penjelasanya.

"Ada sebuah divisi gelap dari konoha, tetapi divisi ini tidak pernah diketahui namanya, sebuah divisi penyerangan dan pertahanan licik yang dimiliki konoha. Bahkan lebih licik dari Anbu ne, sebuah divisi yang diciptakan untuk menyusup, mensabotase serta menghancurkan musuh dari dalam benteng mereka sendiri", ucap sang jounin berusaha menghindari tatapan sinis sang Hokage.

"Licik, Apa maksudmu ?, apakah mereka menculik seseorang, memaksa, atau malah membunuh orang tidak bersalah", sang hokage meninggikan suaranya, menunjukkan sebuah ketertarikan, namun Kazuki kembali mendecih tidak suka.

"Tapi bukan itu yang yang menyebabkan divisi ini menjadi divisi yang sangat licik", jawab Kazuki sedikit mengurangi rasa penasaran sang Hokage. " Lalu ", Tsunade kini semakin menatapnya sinis, kembali membuat sang jounin didepanya kembali mendecih tidak suka. 'Lama-lama kubunuh juga dia', batin sang jounin berusaha tak menunjukkan ekspresi apapun, memulai melanjutkan penjelasanya.

"Tapi, karena divisi ini memanfaatkan anak-anak dibawah umur sebagai prajurit mereka. Melatih mereka sebagai senjata yang tak kenal belas kasihan, kemudian mengirim mereka menyusup kedaerah musuh sebagai korban perang. Bisa dikatakan misi mereka bukan pengintaian, melainkan penghancuran total. Tak peduli apakah nyawa mereka jadi taruhanya, yang terpenting. Misi mereka selesai, bisa dibilang keberhasilan mendekati seratus persen !", ucapan sang jounin membuat Tsunade membelalakkan matanya tak percaya.

"Tidak mungkin !", bantah sang hokage berdiri, menggebrak meja kantornya. Sementara Kazuki hanya menatapnya tak peduli.
" Terserah padamu, yang penting aku sudah memberitahumu ", balas Kazuki.

"Satu lagi, tapi setelah ini kau harus membiarkanku pergi", pinta sang Jounin berhasil menghentikan sejenak Tsunade yang sedang mengamuk. Dalam keheningan sang hokage mulai duduk dikursi singgasananya, berusaha menenangkan diri dari emosinya yang sudah memuncak.

" Katakan sekarang !", bentak Tsunade, namun tidak berhasil menciutkan nyali Kazuki. Ia malah tersenyum palsu, berhasil membuat sang hokage kini menatapnya kesal.

"Naruto dan Kisuke adalah prajurit terkuat sekaligus satu-satunya yang masih hidup selama beberapa tahun terakhir, mereka yang telah bertanggung jawab pada agresi di Kirigakure sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi Kisuke dinyatakan telah dieksekusi di Kumogakure karena seseorang dari konoha telah membongkar kedoknya. Dan divisi ini telah dibubarkan beberapa tahun yang lalu oleh sandaime sendiri setelah mengetahui bahwa mereka menggunakan cara licik tersebut", ucap Kazuki hendak melakukan sebuah segel hijutsu hendak pergi dengan shunshinya.

"Hey Kazuki !, jangan pergi !", bentaknya keras memanggil nama sang jounin, tetapi tidak ada jawaban apapun dari Kazuki. Tanpa mengatakan sepatah katapun, pergi dengan sebuah serigaian.

...

Flashback on

Diperbatasan konoha timur konoha, Naruto yang masih berusia 10 tahun dengan pakaian yang lusuh bersama dengan seseorang yang seumuran denganya, seseorang dengan rambut biru pendek yang kontras dengan kaos lusuh yang dipakainya.
"Kisuke, misi apa yang Tou-sama berikan", Naruto hanya menatap kedepan tak menatap orang yang dia tanyai. "Hanya misi biasa, menyusup kepusat desa Kirigakure membuka pertahanan untuk para pasukan pemberontak dari Kirigakure", jawabnya tersenyum.

Kisuke hanya terdiam setelah menjawab pertanyaan dari Naruto, menatap langit kelam yang berawan gelap, seakan menggambarkan dengan jelas suatu pertanda akan adanya suatu tragedi.

"Tapi kenapa mereka mengirim kita untuk menyusup ?", Naruto hanya terdiam mendengar sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Kisuke, berusaha memikirkan suatu alasan.

"Mungkin teman-teman kita sedang ada misi lain, dan juga kita yang memiliki skor tertinggi dalam hal penyusupan, mungkin karena itu Tou-sama mengirim kita untuk menyusup kedaerah musuh", balas Naruto menoleh kearahnya. Kisuke hanya tersenyum menatap Naruto yang hanya terdiam, seperti termenung memikirkan sesuatu.

"Menurutmu bagaimana caranya membuka pertahanan mereka ?", sebuah pertanyaan berhasil membuat Naruto bangun dari lamunanya, menghela nafasnya pelan, terdiam memikirkan suatu strategi yang mungkin terlintas dalam pikiranya.

" Seperti biasa, pura-pura jadi korban, mensabotase peralatan ninja mereka, memasang kertas peledak pada dinding pertahan mereka, lalu biarkan para pasukan pemberontak yang menyelesaikanya", jawab Naruto panjang lebar berusaha memasang wajah datar yang biasa dia tujukan pada musuhnya.

"Hentikan itu, bakaa!", Kisuke tanpa rasa bersalahnya menendang bokong Naruto yang tak bersalah. Naruto hanya mendengus kesal memegangi pantatnya.

" Apakah menurutmu misi kita mudah", tanya Kisuke tanpa beban, menatap penasaran pada Naruto.

"Ya, mudah. Semudah menyusup kedalam desa musuh, yang dijaga oleh ratusan ninja setingkat jounin atau mungkin Anbu, dan jika kita sampai ketahuan mungkin kita akan dipenggal disana", balas Naruto dengan nada sarkatis, namun nada sarkatis yang telah diucapkanya seakan tak menyiutkan nyali Kisuke.

"Kenapa ?!, kau tidak sakit kan!", tanya Naruto berjalan mendahului Kisuke, menatap mata beriris hitam kelam miliknya.

Mata biru cerah , sebiru lautan milik Naruto beradu dengan mata hitam kelam miliknya, dia hanya memejamkan sekejap matanya.
"Tidak, aku hanya tidak peduli jika aku mati atau tidak, yang terpenting aku hanya ingin menyelesaikan tugasku",

Naruto hanya tersenyum tipis setelah mendengarnya, kini ia memegangi paha kirinya, dimana terdapat sebuah kunai dan ratusan lembaran kertas peledak disembunyikan disana.

"Benar katamu yang dari dulu kau ucapkan, jika kita berhasil tidak akan dipuji. bahkan jika kita mati kita hanya akan dilupakan", Seakan tak merasa terbebani, Naruto mengucapkan apa yang benar-benar terjadi pada anggota divisi yang sama denganya.

"Tapi berjanjilah padaku kau tidak akan mati !", Naruto hanya terdiam setelah mendengar sebuah permintaan dari Kisuke.

"Pasti !", balas Naruto tersenyum.

...

Flashback End

"Kisuke", Naruto hanya terdiam membayangkan seseorang, seseorang yang bernasib sama denganya. Seseorang yang menjadi partner dalam melakukan semua misinya. Dia adalah satu-satunya temannya.

Ia hanya menatap ruangan disekelilingnya, setidaknya Kazuki untuk seminggu ini tidak 'bermain-main' denganya. Dia hanya menghela nafasnya perlahan, mencoba merilekskan tubuhnya yang terikat rantai.
'Mungkin dia sudah bosan'

Naruto menggerakan jari-jari tangan dan kakinya, memastikan bahwa bagian tubuhnya masih utuh. Mencoba memikirkan sebuah ide untuk melarikan diri.

" Aku ingin bebas", berontak Naruto, menarik-narik rantai yang mengikat tanganya. Namun seakan mengejeknya, rantai itu justru semakin kuat mengikatnya menghisap perlahan chakranya.

Dan seperti perkiraan, Naruto menghentikan usaha perlawananya. Bukan karena menyerah, tetapi karena ia telah kehilangan banyak chakranya.
Perlahan, naruto terdiam menatap kearah pintu. Satu-satunya pintu yang ada di Selnya.
'Setidaknya, dia tidak datang'.

Dreeet

Satu-satunya pintu diruangan itu terbuka, menampilkan Kazuki yang membawa kotak 'peralatanya' dengan sebuah senyuman, bukan senyuman biasa itu senyuman iblis. Harapan Naruto pupus, seperti yang ia yakini. "Harapan hanyalah Harapan"
Dia bukan bosan denganya. Tapi dia ingin membuatnya benar-benar merasakan yang namanya, keputusasaan.

"Mari kita bermain lagi, Naruto", sebuah ucapan manis dilontarkan oleh Kazuki, namun bagi Naruto itu merupakan sebuah ucapan seorang iblis, atau bahkan mungkin lebih buruk dari itu.

Perlahan Kazuki meletakkan kotak pealatanya, mengacungkan sebuah palu berkait tepat dilehernya.
" Mari kita bermain-main, Naruto"

'Tidaaaaak !', batin Naruto berteriak.

Menggunakan rasa takut, sebuah cara untuk membuat seseorang tidak berdaya dan menuruti apa yang diperintahkanya dengan memanfaatkan rasa takut korbanya. Dan Naruto kini benar-benar merasakanya, sebuah ketakutan yang mendalam. Lebih menakutkan dari siksaanya selama berbulan-bulan ia lewati.

Sebuah paku sekrup tepat diletakkan di kuku jempol kiri kakinya. Naruto bisa merasakanya, sebuah firasat buruk muncul dibenaknya. Bukan hanya buruk, sangat buruk !.

'Lebih baik aku mati ', batin Naruto putus asa. Drasss

"Arggg, Hentikann !", Teriaknya putus asa, sebuah paku skrup berhasil menembus jempol kakinya. Menembus, menghancurkan tulang yang ada didalamnya, mengoyak daging dan ototnya. Darah perlahan mengalir dari lukanya, membasahi lantai yang telah berbau anyir. Sebuah cara yang tepat untuk membuat seseorang putus asa.

" Cukup, hentikan ", Setidaknya Ia tahu, jari kaki lainya akan menjadi korban. Ia benar-benar ingin pingsan, namun luka dikakinya menamparnya untuk tetap sadar.

'Aku masih ingin bebas !'

'Aku ingin membalas mereka!'

'Aku tidak mau menjadi sang lemah yang terus disiksa!'

'Aku Ingin balas dendaaam !'

Naruto mulai kehilangan kesadaranya, sedikit mengurangi rasa sakit yang berada ditubuhnya. Kini Naruto benar-benar pingsan. Yang terakhir diingatnya, Lengan dan tungkainya dikuliti hidup, dan hebatnya sebuah katana ditinggalkan menancap diperutnya, memberikan ingatan rasa sakit yang tak akan pernah hilang.

'Aku membencimu konoha !'

"Naruto !"
"Naruto !"

Sang uzumaki bangkit dari posisi tengkurapnya, iris biru secerah lautan kini menatap lantai berair yang menjadi alasnya berbaring. Ia hafal tempat ini, tempat alam bawah sadarnya. Tempat ia sering menemui Kurama dan sang Yami.

"Kau memang lemah Naruto, Saat itu kau menolak kekuatanku, dan kini kau tahu kan Akibatnya"

Sang Yami datang dari balik kegelapan, menatap balik Kurama yang menatapnya sinis. Kini mata merah bersklera hitamnya menatap Naruto sinis, karena dialah sang kegelapan itu sendiri.

"Diam kau !", Teriaknya keras, cukup keras hingga bahkan kurama menutup telinganya.

" Kapan kau membalas mereka Naruto ?!, kau mau melihat para penduduk Konoha menertawakan kematianmu"

"TUTUP MULUTMU, YAMI"

"Jangan membantah Naruto, aku hanya memberitahumu. Lihat saja konoha, dan hokagenya yang dipuja itu, dia bahkan tidak peduli sedikitpun padamu", Naruto mulai tertunduk.

" Lihat teman temanmu seakademi mereka tidak peduli padamu, bagi mereka kau hanyalah angin yang dilupakan!",

"Lihat para penduduk desa konoha, lihat para tetua desa, Sadarlah Naruto !", Naruto mulai menatapnya serius, hati nuraninya seakan mulai berubah kelam.

" Mereka sekarang menertawanmu Naruto, Mereka kini sedang bercanda ria diatas penderitaanmu, dan Kazuki itu... Dia yang akan memimpin perayaan mereka, perayaan akan matinya sang Uzumaki Naruto"

"Kau ingin itu terjadi, hah ! Uzumaki Naruto"

"Tidak Akan !", Teriaknya keras.

" Jadi apa kau ingin membalas mereka Naruto "

"Kau benar yami, aku harus membalas mereka", Naruto mengatakanya tanpa sedikitpun keraguan pada matanya.

" Dimulai dari Dia !",

"Baik, bangkitlah dari tidurmu Naruto... Tunjukan siapa Naruto yang sebenarnya. Jangan sia-siakan kekuatan yang aku berikan padamu"

"Tunjukan kau adalah Naruto, jangan ragu pada dirimu, Naruto"

"Pasti, aku akan menghancurkan mereka semua !"

.

.

.

To Be Continue


Terlalu pendek ? Yah maafkan aku yang masih sibuk dengan pekerjaanku didunia nyata, tanpa banyak basa basi akan kujawab beberapa review yang masuk.

Anko Guru Matematika - Kenapa awalnya dipanggil kyubi trus akhirnya dipanggil kurama, hmm. Itu karena sebenarnya naruto udah sering ketemu sama si kurama sebelum kejadian prolog.

The Spirit of Lightning - Ide bagus, tapi akan kupikirkan lagi

Firdaus Minato - Pairing ?, Aku gak yakin ada perempuan yang mau sama orang yang pikiranya udah nggak genap. tapi makasih saranya akan kupikirkan lagi.

Fiq - Aku juga suka sih, tapi belum ada fic sejenis ini jadi kubuat fic ini sebagai pelampiasanya, becanda nggak juga kok.

666-Username - ide bagus, untuk fic ini.. mungkin iya.

Dan aku berterimakasih untuksemua review lain yang menginginkan fic ini lanjut. Dan seperti biasa, jika punya opini atau kritik atau mungkin mau memberi saran untuk adegan gorenya, bisa tulis di kolom review atau pm.

So, See you in next Chapter

Ardion's heart

..

.

.

Logout


Next Chapter

[My Turn]

.