Kyungsoo kawanku. Ingatanku masihlah terpenuhi olehnya walau waktu terus berlalu. Dia, Gadis kecil tetanggaku. Tubuhnya bahkan hanya seketiakku. Gigi depannya ompong karena suka sekali makan permen. Rambutnya yang selalu dikuncir dua bergoyang lucu saat kami bermain kejar-kejaran.
Kami tak pernah terpisahkan, selalu bersama kemanapun. Berjalan beriringan sambil bergadengan tangan saat Sekolah Dasar. Hingga SMP dia malu sehingga kami putuskan tidak bergandengan lagi.
Dia akan menangis dan merengek tanpa ku. Katanya aku adalah raksasa pelindung yang mampu menjaganya dari monster manapun.
Aku bertanya-tanya apakah ada monster yang menganggumu disana Kyungsoo-ya?
Apakah kamu baik-baik saja tanpa kehadiranku?
Kamu adalah gadis yang pemberani namun cengeng sekali. Aku sangat khawatir kau tahu?
Kau tak pernah menghubungiku lagi. Apakah kau masih mengingatku? Aku selalu menjadi suamimu saat kita bermain rumah-rumahan dulu.
Kini setelah beranjak dewasa, apakah aku bisa menjadi suamimu yang sebenarnya? Masihkah tersisa sedikit ruang kosong untukku dihatimu?
Banyak sekali pertanyaan untukmu sahabatku, yang tak akan pernah mampuku ucapkan langsung padamu. Mungkin selamanya hanya akan tersimpan dalam denyut nadiku.
Kepergianku memisahkan kita. Aku terpaksa mengikuti orangtuaku pindah ke London dan meneruskan sekolah disana. Ibuku sakit Kyungsoo-ya... rumah sakit disana terbaik. Atas permintaannya aku terpaksa ikut. Masih teringat jelas dalam ingatku wajah basahmu yang bercucuran air mata, melepasku di bandara.
Sangat mengenaskan namun begitu imut. Aku terkekeh sambil mengusap wajahku. Seakan tiap detik yang kulalui bersamamu tak pernah ku lupakan. Tak pernah terhapuskan. Semoga kau pun begitu.
Pakaianku yang berserakan diatas ranjang kutata dalam koper. Mataku melirik bingkai foto di atas meja nakas, dua anak kecil yang tersenyum kearah kamera.
"Aku akan pulang, tunggu aku."
Pintu kamarku terbuka menampilkan seorang wanita berambut pendek ialah nunnaku satu-satunya. Park Yura.
"Cepatlah berkemasnya, Chanyeol. Nanti kau tertinggal pesawat."
Aku membalasnya dengan senyuman lebar tak dapat menyembunyikan rasa senang yang membuncah. Kembali ke tanah kelahiranku; Korea Selatan. Tempat seharusnya aku berada bersama gadis yang aku cintai, Do Kyungsoo.
• My Bad Boy •
.
.
© Shinkyu
.
.
Warning: GS for uke!
"Kai cewek itu datang lagi" Sehun memasuki basecamp setelah menyelesaikan kelas ekonominya dan mendapati Kyungsoo berdiri diluar sudah pasti untuk menemui Kai. Kebiasaan gadis itu seminggu belakangan.
Kai berdecak kemudian melemparkan PSP yang sebelumnya tengah ia mainkan ke atas sofa. Dia menghampiri Kyungsoo malas. Semenjak pertemuan mereka di atap. Gadis itu tak pernah menyerah mengejarnya.
"Woy! Mau apa lagi sekarang?" tanyanya kasar, sambil menyender pada kusen pintu. Memandang Kyungsoo tak sabar.
Gadis itu memakai rok mini dan atasan kaos yang ketat. Alis Kai terangkat heran.
Make up tebal menghiasi wajah Kyungsoo yang dulu selalu polos. Biasanya para gadis akan pandai memakai make up, menonjolkan kecantikan mereka. Berbeda dengan gadis mungil dihadapannya ini menor sekali, dia seperti badut.
"Pfft—" Kai mendekap mulutnya menahan semburan tawa.
Kyungsoo cemberut akan respon Kai. Dia menarik-narik rok mini yang mengekspose paha putihnya dengan jelas.
Wajah beserta make up badutnya tak terlihat lucu lagi. Kini perhatian Kai sepenuhnya terpusat pada pakaian Kyungsoo, minim dan ketat. Tubuhnya yang sedikit berisi tercetak jelas. Tak dapat Kai pungkiri bahwa Kyungsoo memang sexy tak kalah dengan para gadis nakal yang suka ia temui di bar malam tapi, Kyungsoo berbeda.. Kyungsoo bukan perempuan seperti itu.
Kemarahan terpercik dalam diri Kai. Rok Kyungsoo pendek sekali jika gadis itu menunduk mungkin celana dalamnya akan terlihat.
Apa dia berniat pamer pada para lelaki diluar sana? Dasar murahan.
Kenapa juga Kai harus sekesal ini. Dia mengumpat dalam hati.
"Ada apa dengan pakaianmu?" Kai bertanya datar. Mencoba mengontrol kemarahannya yang tak beralasan.
Kyungsoo menengadahkan wajahnya melihat Kai dengan kedua mata bulat yang berbinar senang. Eyeliner yang ia pakai berantakan hampir memenuhi kelopak matanya.
"Apa kah kau menyukainya? Aku terlihat sexy dan cantik 'kan?"
Tubuh mungil itu berputar diakhiri dengan pose berkedip nakal. Seharusnya Kai terpesona tetapi dia malah merasakan kemarahan lebih membakarnya. Apa lagi menyadari para mahasiswa yang berlalu lalang memperhatikan Kyungsoo dengan tatapan mesum.
"Masuk."
Lelaki dengan penampilan berantakan itu menarik lengan Kyungsoo ke dalam Basecamp EXO dengan bringas hingga si gadis mengaduh kesakitan.
"Diam!" Kai membentak.
Kyungsoo segera duduk di sofa lantas menunduk seperti seorang anak yang siap menerima murka orangtuanya.
Sehun yang tengah bermain game di laptop melirik mereka tak acuh kemudian memasang headset tampak tak mau perduli dan ikut capur akan pembicaraan mereka.
Kyungsoo mengkerut di atas sofa. Apa lagi salahnya sekarang? Dia kan sudah berusaha tampil cantik sesuai type Bad Boy pada umumnya. Kenapa Kai justru marah.
Lelaki itu selalu marah sepanjang waktu. Kyungsoo khawatir dia nanti bisa menderita darah tinggi. Tidak lucu kalau akhirnya Kai menjadi stroke, Kyungsoo ingin menikah dulu dengan Kai dan hidup bahagia seperti semua dongeng yang ia baca dibuku cerita sewaktu kecil.
Beberapa menit menunggu. Kai tak kunjung buka suara. Ragu Kyungsoo mengangkat kepalanya dan mendapati Kai tak ada.
Kemana dia?
Kyungsoo mengedarkan pandangannya. Ruangan geng EXO kosong hanya ada dirinya dan Sehun yang sibuk dengan laptopnya. Calon kekasihnya yang galak itu menghilang kemana?
Kyungsoo menghentakan kakinya kesal. Dia sudah susah payah berdandan mengikuti tutorial di youtube. Malah ditinggalkan begitu saja. Setidaknya Kai harus sedikit terpesona atau terangsang juga tak masalah.
Kyungsoo langsung merona akan pemikirannya sendiri. Dia menepuk pipi gembilnya dan tersenyum aneh membayangkan tubuh sexy Kai tanpa pakaian.
Orang lain mengira dia sepolos parasnya padahal dia tahu banyak dan belajar banyak hal.
Sesuatu dilemparkan, menubruk dadanya. Kyungsoo tersentak kaget mendapati kaos hitam besar dan celana training panjang tergeletak dipahanya. Pakaian lelaki, pasti milik Kai sendiri.
Kai menolehkan wajahnya, memandang kemana saja selain gadis berpenampilan sexy dihadapannya itu. Tak tahu harus menjawab apa jika gadis yang terus mengejarnya ini bertanya. Kenapa juga dia harus peduli pada Kyungsoo. Sial.
"Untuk apa.. ini.. " Kyungsoo bingung sekali. Dia mengangkat kaos serta celana yang Kai berikan.
"Jangan banyak tanya. Ganti saja. Kamar mandinya ada di sana" Kai menunjuk pojok ruangan dengan dagunya congkak.
"Kenapa aku harus ganti. Baju ku bagus kok" Kyungsoo makin kebingungan.
"Itu terlalu terbuka." Aku tak suka. Tambah Kai dalam sanubari. Tentu saja tak dia ungkapkan nanti Kyungsoo geer lagi.
"Bukan kah kau suka dengan gadis yang terbuka begini?"
Kai menoleh terkejut. "Kata siapa?"
Kyungsoo kembali menunduk meremat kaos yang Kai berikan.
"Aku pernah melihatmu dengan seorang perempuan sexy berpenampilan seperti ini di bar." ucap Kyungsoo pelan, menelan kecemburuannya bulat-bulat. Dia tak pantas untuk marah atau cemburu memang dia siapa? Bibirnya mengukir senyum getir.
Kai berdecak. "Kau mengikutiku hingga ke bar?" tanya Kai dengan suara rendah. Dia melotot marah pada Kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk takut.
"Apa kau tolol? Bar bukan tempat untuk orang sepertimu. Disana berbahaya!"
"Bukan tempatku.." ulang Kyungsoo suaranya bergetar. Sikap Kai selalu membuatnya bingung. Terkadang dia terlihat peduli, mengabaikannya kemudian akan bersikap kasar.
"Lalu dimana seharusnya aku berada?" Kyungsoo balik bertanya dengan mata yang mulai basah oleh air mata.
Kai diam tak tahu harus menjawab apa.
"Tempatku adalah bersama denganmu." Kyungsoo melanjutkan. Dia berdiri hingga pakaian yang Kai berikan jatuh ke lantai. Lengan putihnya perlahan melingkari leher Kai—memeluk lelaki itu dengan berani. Kyungsoo mengubur wajahnya di dada Kai yang hangat dan lebar. Ia tak perduli Kai akan mendorong atau memukulnya. Dibenaknya sekarang adalah bagaimana cara menyapaikan perasaannya pada lelaki ini.
Kedua tangan Kai terpaku disamping tubuhnya. Wangi Kyungsoo yang menyengat menusuk hidungnya. Gadis ini pasti mencoba menggodanya dengan parfume aneh.
Kyungsoo benar-benar gigih.
Apakah Kyungsoo sungguh mencintainya? Hingga sampai melakukan tindakan seperti ini? Kai bertanya-tanya dalam kalbu.
Kai melirik kepala Kyungsoo yang terbenam di dadanya. Dia berusaha keras untuk mengabaikan gadis ini. Kedua lengannya terkepal disamping tubuh. Payudara Kyungsoo bergesekan dengan dadanya. Lekukan tubuh Kyungsoo yang menempel dengannya bisa ia rasakan jelas. Pada dasarnya Kai sama seperti lelaki normal. Diperlakukan seperti ini berhasil menaikan hasratnya. Nafas Kai perlahan memberat. Nafsu mulai menapaki ubun-ubunnya.
Bisa saja Kai menyetubuhi Kyungsoo sekarang juga di sofa. Seperti yang biasa dia lakukan dengan para pelacur tapi, gadis ini berbeda. Dia mencintainya. Satu-satunya yang mencintai Kai di dunia ini hanya dia.
"Lepaskan!" Kai mendorong Kyungsoo hingga dia terjatuh ke sofa. Rok Kyungsoo yang pendek tersingkap hingga celana dalamnya yang berwarna hitam mengintip, Kai segera memalingkan wajahnya. "Sudah ku bilang pakai baju itu! Apa kau tuli?"
Kyungsoo bergetar sedih. Jelas tersinggung akan perlakuan Kai yang mendorongnya bagaikan tubuhnya sangat menjijikan.
"Kau seharusnya tahu.." Kata Kai dengan nada pelan seperti bisikan namun Kyungsoo masih bisa mendengar suaranya. "...para pelacur yang kau lihat di bar, tidak bisa dibandingkan dengan kamu."
Kyungsoo memandangnya kaget. Bola matanya seakan bisa keluar dari rongga.
Kai berbalik meninggalkan Kyungsoo termangu sendirian. Sebelum menghilang dari balik pintu keluar. Dia berkata tanpa membalikan badan.
"Jadilah dirimu sendiri, jangan berubah demi aku, jangan berpakaian seperti itu lagi. Aku lebih suka Kyungsoo yang dulu"
Kyungsoo melihat telinga Kai berubah menjadi merah. Lelaki itu pasti menahan malu mengungkapkannya. Bibir Kyungsoo terangkat membentuk senyuman bahagia.
"Baiklah" Katanya memeluk kaos yang Kai berikan dengan erat.
Kyungsoo menyadari dibalik perlakuan dan perkataan Kai sebenarnya lelaki itu perduli padanya.
Tanpa Kyungsoo sadari Sehun melihat interaksi mereka dengan senyuman.
«»
Di Goyang terdapat sebuah rumah yang indah bercat putih. Berlantai dua dengan tanaman hias serta bunga mawar dihalaman. Pepohonan rindang disana menghalau sinar sang surya membuat rumah tersebut sejuk nan teduh. Seorang pemuda jangkung berdiri gugup di depan gerbang. Berkali-kali mengusap lehernya bimbang. Dia berdehem sebelum memenekan intercom.
"Siapa?" suara wanita bertanya ramah.
"Eommanim, ini aku Chanyeol"
"Omo! Chanyeolie!"
Gerbang langsung terbuka dan seorang wanita paru baya tergesa-gesa keluar. Matanya berlinang begitu mendapati pemuda dengan senyum lebar menyambutnya.
"Kau pulang? Ini benar kau?"
"Eommanim masih secantik dulu" Puji Chanyeol berjalan mendekati. Dia membungkuk sopan dengan senyuman masih tertera diwajahnya yang tampan.
"Kau..." wanita itu kehilangan kata-kata. Segera menarik Chanyeol kedalam pelukannya.
Chanyeol memejamkan matanya. Menikmati hangatnya pelukan dari wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu sendiri. "Aku pulang" bisiknya lirih penuh kelegaan.
«»
Setelah melepas rindu, mereka kini mengobrol ringan di ruang tamu kediaman Do. Chanyeol ijin untuk melihat beberapa foto yang terpasang di dinding. Kebanyakan foto keluarga Do saat bertamasya dan juga foto anak perempuan mereka satu-satunya, Kyungsoo. Dari kecil hingga tumbuh dewasa.
Telunjuk Chanyeol menyusuri wajah Kyungsoo yang tersenyum ke arah kamera. Rambutnya yang hitam tergerai panjang. Giginya yang kecil-kecil menggemaskan mengintip dari bibirnya.
Rupanya dia sudah tidak ompong lagi. Pikir Chanyeol geli.
Kyungsoo tumbuh menjadi gadis yang cantik dengan caranya sendiri. Chanyeol tersenyum untuk kesekian kali. Mengagumi teman kecilnya itu dalam diam.
"Dia masih cengeng Chanyeol-ah"
Ny. Do datang membawa cookies dan teh hangat buatannya. Mendapati Chanyeol terus menatap foto putrinya. Dari dulu dia sudah mengetahui bahwa anak sahabatnya itu menyimpan rasa pada Kyungsoo. Dia dan Park Yuri—ibu Chanyeol bahkan berencana menjodohkan mereka. Sayang sekali Chanyeol tidak setuju. Chanyeol berencana mengambil hati Kyungsoo dengan usahanya sendiri tanpa campur tangan atau paksaan orang tua. Kesungguhannya menghasilkan decakan kagum dari para ibu.
Sejak kecil Chanyeol anak yang ramah, sopan dan bertanggung jawab ditambah fakta dia merupakan anak sahabatnya, ibu Kyungsoo tersebut makin menyukainya. Chanyeol merupakan kandidat nomor satu menantu yang ia idamkan. Sayang Sekali putrinya Kyungsoo malah menuruni sifat ayahnya yang sangat tidak peka. Sampai sekarang dia tak pernah menyadari akan perasaan Chanyeol padanya.
"Dia pasti kesulitan" tebak Chanyeol masih tak dapat mengalihkan perhatiannya dari foto Kyungsoo.
"Benar sekali" wanita itu menarik Chanyeol untuk duduk disebelahnya. "Kau tahu dia mogok makan selama seharian saat kau pergi?"
"Benarkah?!" Chanyeol menegakan tubuhnya terkejut dan khawatir. "Lalu apakah saat itu dia sakit eommanim?"
Nyonya Do tersenyum karena reaksi Chanyeol. Anak ini sangat peduli pada putrinya.
"Tidak, walau cengeng dia anak yang kuat"
Chanyeol menghela nafasnya lega melupakan fakta itu.
"Lalu dimana dia sekarang?" tanyanya tak bisa menahan diri lagi. Rasa rindunya harus segera pulang atau dia bisa mati berdiri.
"Dia kuliah bersama dengan Luhan di Seoul nak"
Bola mata Chanyeol melebar terkejut. "Apa!" pekiknya.
"Abeoji yang menginginkannya. Dari kecil dia selalu bergantung padamu. Dia harus dewasa Chanyeol-ah" wanita paruh baya itu menjelaskan dengan suara sendu. Seakan tak rela berpisah dengan Putrinya namun kepergian Kyungsoo itu adalah yang terbaik.
"Kampus mana?"
"Seoul University, jurusan tataboga"
Chanyeol tak bisa menahan tawanya. Punggungnya jatuh melemas pada sandaran kursi. Luar biasa lega.
"Hei, kenapa?" ibu Kyungsoo mengangkat alisnya bingung akan respon Chanyeol.
"Aku juga akan pindah kuliah disana eommanim" sahut Chanyeol dengan senyuman lebar. Dia bahkan merasa pipinya akan segera sobek. "Aku ke sini untuk menemuinya dulu, tak ku sangka Kyungsoo malah akan satu kampus denganku"
"Kalian memang ditakdirkan untuk selalu bersama" eomma Kyungsoo itu mengelus rambut Chanyeol penuh kasih. Ikut bahagia jika Chanyeol nanti akan disisi Kyungsoo seperti dulu. Putrinya akan aman jika ada Chanyeol disampingnya.
"Jagalah Kyungsoo seperti dulu" pintanya pada Chanyeol.
Chanyeol merengkuh nyonya Do dalam pelukannya. "Tanpa kau minta aku akan mempertaruhkan nyawaku untuknya."
Nyonya Do merasakan matanya memanas, terharu mendengarnya.
"Apa ini, istriku selingkuh dengan calon menantuku?" suara baritone mengagetkan mereka.
Ayah Kyungsoo datang dengan stelan kantor serta membawa tas kerja. Dia berkacak pinggang memandang mereka galak.
"Yeobo!" nyonya Do segera melepas pelukan Chanyeol lantas berdiri menyambut suaminya sementara Chanyeol duduk dengan tegang. Tak tahu harus berbuat apa.
"Aku bercanda" dia tertawa. "Kapan kau tiba Yeol? Tidak kangen dengan abeoji?"
Tuan Do dari dulu memang tak pernah berubah, suka sekali bercanda.
Chanyeol langsung mendekap ayah Kyungsoo erat. "Semalam abeoji. Tentu saja aku kangen dengan kalian."
"Dengan kami atau dengan Kyungsoo?" goda Tuan Do menarik turunkan alisnya.
"Yak hentikan!" satu-satunya wanuta diruangan itu langsung memukul pundak suaminya.
«»
Hampir dua minggu telah dilalui Kyungsoo dengan perasaan cintanya pada lelaki yang paling ditakuti. Sikapnya yang ceria dan tak pantang menyerah perlahan berhasil melelehkan kebekuan dalam diri Kai. Lelaki itu mulai membuka diri sedikit namun pasti hanya pada Kyungsoo seorang. Walau perlakuan Kai tak berubah secara drastis masihlah Kasar dan ringan tangan namun, Kyungsoo tak pernah mengeluh sedikitpun. Rasa cintanya tak juga luntur.
"Kaaaaiii" Kyungsoo belari segera memeluk lengan Kai.
Beberapa orang di koridor terkesiap melihat tindakan Kyungsoo. Gadis itu berani sekali melakukan kontak fisik dengan Kai. Hal yang mustahil dilakukan oleh semua orang.
"Aku kangen!" ungkapnya manja sementara Kai langsung menepis Kyungsoo menjauh darinya.
"Kau mau kemana? Aku ikut!" tanpa perduli akan perlakuan Kai yang kasar, Kyungsoo tetap mengikutinya pergi.
Gadis dengan surai sebahu memperhatikan mereka dari kejauhan, air mukanya sinis. "Dia sungguh memuakan!"
Baekhyun berjalan disampingnya sambil memainkan ponsel. "Kau suka sekali mengurusi urusan orang" komentarnya pada Luna.
"Hei, dia terus menempeli Kai sepanjang waktu!" pekik Luna tak terima.
"Kai saja tidak keberatan kok" Baekhyun tersenyum singkat menepuk pundak Luna agar lebih tenang. "Sudahlah."
Mata Luna menyipit menatap Baekhyun kesal. "Kau sedikitpun tidak cemburu apa?"
Bahu Baekhyun terangkat tak acuh. "Kenapa juga aku harus cemburu?" ungkapnya dengan senyuman.
«»
"Kyungsoo mengapa kau tak takut sedikit pun padaku?" Sudah lama Kai menyimpan pertanyaan ini.
Mereka kini tengah berada didalam mobil Kai. Kyungsoo memaksa masuk setelah mengancam akan memecahkan kaca mobilnya dengan batu. Dia memang gila. Kai memiliki julukan baru untuknya. Satansoo.
"Dulu aku takut sekali. Kau bahkan bisa membunuh orang jika kau mau." Kyungsoo memainkan jemarinya dan mulai bercerita.
Kai tersenyum tipis mendengarnya.
"Tapi..." Kyungsoo menoleh menatap retina hitam Kai lekat. "Sekarang aku sangat..sangat menyukaimu!" kedua lengannya merenggang menujukan seberapa besar cintanya pada lelaki berandal ini.
"Aku bisa memukulmu kapanpun, kau akan terluka" potong Kai dengan suara dingin tapi tak juga dapat berhasil memadamkan api cinta Kyungsoo untuknya.
"Luka yang ditimbulkan nanti juga sembuh kok. Lagi pula aku percaya kau tak akan melakukan itu." ucap Kyungsoo ceria.
"Kenapa?"
"Karena kau juga menyukaiku?" Kyungsoo menangkup pipinya. Berkedip menggemaskan.
"Percaya diri sekali" Kai tertawa menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. "lalu kenapa kau mencintaiku?" lelaki itu sangatlah penasaran.
"Kau punya banyak alasan untuk dicintai, Kai." ungkap Kyungsoo tulus Kai merasakan hatinya terhunus. Matanya memandang Kyungsoo penuh arti.
Kyungsoo selalu seperti itu, dia bisa memberikan perasaan hangat yang tak pernah bisa Kai dapatkan dari siapapun di dunia ini. Kai merasa dihargai sebagai manusia biasa. Bukan Kim Kai yang memiliki harta melimpah, status sosialnya, atau kekuatan fisiknya. Kyungsoo memandangnya sebagai Kim Kai pemuda biasa.
Semakin hari, rasa penasaran Kai makin bertambah pada gadis ini. Orang seperti Kyungsoo baru Kai temui. Apa kah Kai bisa berharap padanya?
Apa kah Kyungsoo bisa memberikan kebahagiaan padanya yang tidak pernah ia dapatkan sedari kecil?
Apakah Kyungsoo benar mencintainya seperti yang gadis itu umbar-umbar setiap hari dan apakah Kai pantas mendapatkan orang sebaik dia?
Sorot tajam Kai berkelana, memperhatikan paras Kyungsoo lekat. Kyungsoo adalah gadis yang cantik. Kulitnya putih bersih seperti mutiara. Berbeda sekali dengannya. Bulu matanya lebih panjang dari yang Kai kira. Bibirnya merekah merah bagai bunga mawar yang indah. Kai rasa ingin mencicipi sedikit.
Rasa penasaran makin bertambah, dia menjadi kesal pada dirinya sendiri.
"Kau bilang aku pantas dicintainya, kalau begitu berikan aku salah satu alasannya."
"Tidak mau, itu rahasia!" Kyungsoo mengulurkan lidahnya lalu tertawa.
Dasar Kyungsoo tetap saja menyebalkan. Hidung Kai berkedut sebal.
"Keluar dari mobilku sekarang!"
«»
Tubuhnya yang tinggi, terbalut pakaian yang berwarna serba hitam sungguh menawan. Chanyeol membawa tas Gitar dibahunya. Dia memakai snapback menutupi rambutnya yang dicat coklat.
Setiap langkah kakinya menarik perhatian seisi kampus. Para perempuan yang ia lewati terpesona akan parasnya bagaikan dewa Ares. Sungguh tampan. Postur tubuhnya yang tinggi dan ideal seperti model menambah daya tariknya.
"Apa dia seorang idol?" gadis dengan rambut dikuncir kuda bertanya pada temannya. Mereka masih memperhatikan Chanyeol yang sudah menghilang dari koridor.
"Yang jelas dia adalah calon suamiku." jawab temannya dengan mulut menganga. Masih sepenuhnya terkagum akan paras Chanyeol. Baru saja menginjakan kaki memasuki kampus baru Park Chanyeol sudah berhasil mencuri perhatian semua orang.
«»
"Luas sekali..." pandangan Chanyeol berkelana, menelusuri pemandangan sekitar kampus barunya. Senyum tak luntur dari wajahnya. "Aku akan menemukanmu." bisiknya penuh tekad melangkah pasti mendekati kerumunan perempuan yang tengah duduk melingkar dihalaman. Seperti tengah berdiskusi tentang pelajaran.
"Permisi."
Mereka sontak menoleh padanya. Beberapa tak malu menutupi raut kagum setelah melihatnya. Chanyeol membenarkan topi yang ia pakai sebelum tersenyum ramah.
"Apakah saya boleh bertanya?"
Para gadis terkikik genit.
"Tentu," salah satu menjawab, pipinya tersipu.
"Apakah kalian kenal Do Kyungsoo, mahasiswi jurusan tataboga?"
Mereka menunjukkan air muka keruh seakan nama itu sesuatu yang menganggu. Saling berbisik satu sama lain. Tampak ragu untuk menyampaikan pada Chanyeol.
Samar-samar Chanyeol dapat mendengar mereka menyebutkan gadis Kai.
Kai.. siapa dia?
Perasaan tak nyaman merasuki relung dadanya.
"Yah kami tahu, belakangan ini dia cukup terkenal." jawab seorang gadis dengan rambut yang dicepol. Bahunya terangkat tak acuh. "Kau bisa mencarinya dikelas memasak. Lurus saja, lantai dua sebelah kiri."
Walau bingung Chanyeol mengangguk dan mengucapkan terimakasih dengan sopan.
Kyungsoo cukup terkenal? Memangnya apa yang Kyungsoo lakukan?
Chanyeol mengangkat bahu, akan ia tanyakan setelah bertemu dengan gadis itu nanti. Pemuda itu tersenyum senang. Membayangkan akan melihat segera Kyungsoo lagi.
"Lantai dua sebelah kiri, lantai dua sebelah kiri" Dia terus bergumam sambil sesekali memperhatikan seisi kampus yang lumayan ramai. Sebelum menaiki tangga menuju lantai dua. Lewat jendela, pandangannya menangkap sosok gadis duduk sendirian di bangku sebuah taman yang terlihat sepi dan terpencil karena tertutupi sebuah pohon yang cukup besar. Dari jarak jauh pun gadis itu terlihat cantik dimatanya.
Seharusnya Chanyeol segera bergegas menemui Kyungsoo. Tapi ketika cahaya matahari memancar menyilaukan menerpa Sang gadis dengan gaun putih itu, dia aterlihat seperti malaikat.
Beberapa detik Chanyeol terdiam. Air mata yang jatuh menuruni pipi si gadis bagaikan mutiara. Berkilauan. Bagaimana mungkin seseorang yang sedang sedih bisa terlihat begitu indah.
Dari dulu Chanyeol pemuda yang baik. Dia tak pernah bisa melihat seseorang menangis. Tujuannya bertemu Kyungsoo gadis yang ia cintai kini berubah arah kakinya melangkah menuju gadis lain tanpa ia sadari.
"Apa kau baik-baik, saja?"
Baekhyun mengusap air matanya begitu mendengar suara lelaki asing menyapanya. Makian yang ia persiapkan tertelan kembali ke dalam tenggorokannya tatkala mata sipitnya bersibrok dengan sosok tampan bertelinga peri.
"Kenapa kamu sendirian disini?" Chanyeol tersenyum. Suaranya berat, ramah dan mendayu. Menggetarkan perasaan Baekhyun yang sendu.
"Kenapa kamu ingin tahu urusan orang lain?!" seru Baekhyun balik bertanya. Tak nyaman akan kehadiran Chanyeol. Dia resah dan salah tingkah. Tak pernah ada yang melihatnya menangis sebelumnya.
Chanyeol cukup terkejut akan suara melengking Baekhyun. Dia pikir Baekhyun merupakan type perempuan lemah lembut.
"Ah.. maaf" Chanyeol mengusap lehernya salah tingkah. "Aku tak pernah bisa melihat seorang menangis."
Pemuda itu meletakkan tas gitarnya disamping bangku yang Baekhyun duduki. Dia kemudian beringsut duduk di sebelah Baekhyun, sambil menopang dagu. Memperhatikan Baekhyun dengan senyuman.
"Kenapa kamu harus begitu peduli pada orang lain?" bisik Baekhyun membuang muka. Tidak ingin melihat wajah tampan dan senyuman itu lebih lama.
"Karena bagiku semua perempuan harus dijaga. Perempuan sepertimu harus bahagia. Kalian berharga"
Mata sipit Baekhyun berlinang. "Berharga?" dia menatap Chanyeol dalam.
Chanyeol mengangguk. Kemudian menyodorkan sapu tangan yang ia ambil dalam saku jaket.
"Semua akan baik-baik saja." dia menyodorkan saputangan itu pada Baekhyun yang menoleh menatapnya heran.
Chanyeol menanti Baekhyun meraih saputangan miliknya tapi perempuan itu diam saja. Air mata malah kembali berlinang menuruni pipi Baekhyun. Tanpa disangka gadis itu malah menepis sapu tangannya.
Chanyeol menghela nafasnya melihat sapu tanggan berakhir ditanah. Padahal dia hanya mencoba bersikap baik. Walau begitu Chanyeol tampak tak tersinggung atau marah akan sikap Baekhyun padanya. Dia tetap tersenyum.
Isakan Baekhyun makin kencang. Chanyeol meliriknya bingung. Takut perbuatannya salah dan menyinggung perasaan Baekhyun.
"Gwenchana" ucapnya menenangkan. Ibu jarinya mengusap pipi Baekhyun lembut. "Apa kau mau bercerita dengan ku?"
Baekhyun merasakan dadanya berdentum. jari Chanyeol di pipinya terasa besar dan hangat.
Chanyeol orang yang sangat lancang atau terlalu baik? Baekhyun tidak bisa membedakan yang jelas keduanya membuat ia tidak nyaman.
"Masalah keluarga." Baekhyun bergumam setelah Chanyeol mengusap air matanya. Pipi Baekhyun dipenuhi semburat merah muda.
"Ah" Chanyeol mengangguk mengerti berniat tidak bertanya lebih dalam. "Kupikir kau diputuskan pacarmu" dia mencoba bercanda dan Baekhyun langsung mendelik kesal.
"Padahal aku bersedia loh. Menjadi pengganti pacarmu" seru Chanyeol menepuk dadanya bangga.
"A-pa katamu?" Baekhyun salah tingkah tersenyum tipis. Hanya menarik ujung bibirnya saja.
"Hehe bercanda."
Kata terakhir yang Chanyeol ucapkan menghapus senyumnya.
"Siapa kau? Aku baru melihatmu" tanya Baekhyun buru-buru mengganti topik pembicaraan. Menepis kekecewaan hatinya.
"Aku mahasiswa baru, panggil saja Chanyeol oppa. Kau pasti lebih muda dari ku"
Baekhyun mendengus geli. "Tidak sudi."
"Eii kau ini."
"Kenapa kau bisa ada disini sih? Kau menguntitku ya?!" seru Baekhyun memandangnya galak. Jangan-jangan Chanyeol ini sebenarnya suka padanya. Masalahnya tempatnya saat ini terpencil dan jarang dilalui orang lain.
"Percaya diri sekali, aku kan..." wajah Chanyeol mendadak pucat pasi.
"Apa?" Baekhyun memiringkan kepalanya.
"Astaga!" Chanyeol langsung berdiri, baru mengingat sesuatu yang penting.
"Wae? kau mengagetkan ku."
"Aku harus mencari seseorang!" Chanyeol menoleh pada Baekhyun gelisah.
"Nugu?"
"Do Kyungsoo, kau mengenalnya?" tanya Chanyeol memakai tas gitarnya buru-buru.
"..ya.. ku pikir aku tahu dia."
Kyungsoo gadis imut dengan rambut berwarna hitam yang sedang mencoba mendekati Kai. Orang terdekatnya. Bagaimana mungkin Baekhyun lupa.
"Kyungsoo sekarang terkenal. Semua orang mengetahuinya." kata Chanyeol bangga. Senyum lebar Chanyeol ketika membicarakan gadis lain mengusik Baekhyun.
"Kurasa aku harus pergi sekarang." pamit lelaki itu dengan nada sopan. Dia membungkuk. Dalam hati Baekhyun memuji sikap Chanyeol.
"Ah begitu, tadinya aku akan meneraktirku sebagai upah mengusap air mata." mengapa Baekhyun menjadi tidak rela. Dia menarik jaket hitam Chanyeol dan langsung dilepaskan sedetik kemudian.
"Itu gratis kok" Chanyeol kembali tersenyum. "Asal kamu sekarang bahagia, tak perlu membayar, aku rela."
"Aku bisa bahagia." Baekhyun menyahut asal-asalan. Menyentuh bibir bawah dengan telunjuknya.
Chanyeol terdiam.
"Kecuali jika kamu mau menemani aku disini sekarang. Jangan pergi kemana-mana. Sebentar saja. Aku butuh sandaran." Baekhyun pikir dia sudah gila. Bagaimana mungkin dia berkata seperti itu pada lelaki yang baru dikenalnya.
"Maaf tapi aku harus pergi." Chanyeol menggaruk pipinya tidak enak menolak Baekhyun lalu membungkuk singkat. Dia sangat sopan dan menghargai perempuan.
Selepas kepergian Chanyeol, Baekhyun kembali duduk sendirian tak tahu harus berbuat apa. Mata sipitnya menangkap sebuah benda milik Chanyeol didekatnya. Dia mengambil saputangan itu di tanah. menepuk benda berwarna hijau itu guna menghilangkan kotoran. Ada tulisan yang terukir indah menarik perhatiannya.
Happynes delight.
Baekhyun menulusi tulisan itu dengan jarinya yang lentik. Menelusuri perlahan dengan perasaan kagum.
Di dalam gedung fakultas secepat kilat Chanyeol menaiki tangga hingga dua-dua. Tidak sulit, kaki panjangnya sangat membantu. Setelah sampai diruangan memasak. Dia mengetuk pintu lalu gadis cantik dengan aksen cina menyambutnya.
"Ya?"
"Apa Kyungsoo ada?" tanya Chanyeol dengan nafas terengah.
"Kyungsoo. Do Kyungsoo?" gadis itu memastikan.
Chanyeol mengangguk semangat.
"Dia sudah pulang dua jam lalu" jawabnya menyesal.
"Ah benarkah?" Chanyeol sedih tak dapat menemui Kyungsoo hari ini. "Lalu bisakah aku meminta kontak atau alamatnya?" setidaknya besok dia harus bertemu gadis itu.
"Maaf kami tidak bisa memberikan informasi teman pada orang asing" tolak si gadis mengibaskan tanggannya.
"Aku bukan orang asing bagi Kyungsoo, aku temannya."
"Kenapa teman tidak mengetahui cara menghubungi?"
"..." Ah benar juga. Pikir Chanyeol dalam hati.
"Jika kau teman dekatnya kau bisa bertanya pada keluarga nya bukan?"
"Kau benar!" kenapa tidak terfikirkan, dia bisa bertanya pada nyonya Do.
Selepas kepergian Chanyeol gadis itu memandang punggung Chanyeol iri.
"Tampan sekali dia, kau sangat beruntung Kyungsoo."
«»
Waktu terus berlalu kini sudah hampir menunjukan pukul sepuluh malam. Kai berada di rumah Sehun yang megah bersama dengan anggota EXO mereka berkumpul sambil bermain game dan minum soda sama seperti remaja normal lainnya.
Alunan musik rock mengagetkan mereka. Handpone Kai yang biasanya sepi kini tampak menyala—berdering menandakan ada panggilan masuk. Sambil mengerutkan kening dengan keheranan Kai mengambil benda persegi itu.
"Yeobboseo?"
"Kai eoddiseo?" Suara perempuan asing menyambutnya.
"Nugu?"
Nomor ponsel Kai hanya anggota EXO yang tahu. Keluarganya pun mungkin tak menyimpan nomornya. Kecuali ayahnya yang hanya menelepon untuk menanyakan uangnya sudah habis atau belum.
"Aku Kyungsoo."
Seharusnya Kai sudah bisa menebak. Siapa lagi stalker gila nomor satu selain gadis ini. Dia mendengus.
"Yah! bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku?"
"Tao yang memberinya hehe" sahut Kyungsoo ceria.
"Aish" Kai menghela nafas kesal. Pasti Tao mengambil nomornya di Handpone Kris lalu menyebarkannya pada Kyungsoo.
"Jangan marah sama Tao, aku yang memaksa memintanya!"
"Aku sudah dapat menebaknya." Bola mata Kai memutar bosan.
"Hihihi—"
Tut.. Tut..
"YA! Ditutup" Kyungsoo cemberut. Gadis itu berguling-guling diatas kasurnya. Dia segera menekan nomor Kai yang telah ia hafal sejak tadi siang.
"Kaaaiiii kenapa ditutup" keluh Kyungsoo manja selepas Kai menerima penggilan.
"Tidak penting bicara denganmu." Kai menjawab dengan suara datar.
"Kau ini, apa kau sudah makan?" Kyungsoo mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa peduli mu. Suka suka Perutku." balas Kai dengan jutek.
"Apa kau mau ku buatkan chicken?" Kyungsoo mencoba menyuap setelah mengetahui makanan kesukaan lelaki itu dari Tao.
"Jangan menelepon ku lagi atau kau akan mati."
Malah ancaman yang Kyungsoo terima seperti biasa.
"Iya..iya aku akan mati. Kau sedang apa?" sahut Kyungsoo tidak perduli. Tampak tak takut sama sekali.
"Aku sedang memikirkan rencana untuk membunuhmu." Kai belum menyerah juga membuat Kyungsoo takut padanya.
"Apa kau akan menarik kulitku hingga lepas dan membotakan kepalaku dengan silet?" Tebak Kyungsoo ceria.
"Iya akan ku pikirkan!" bikin Kai kesal saja. Ancamannya kapan sih menakuti gadis itu. Kai risih diganggu terus.
"Oh jangan lupa memotong telinggaku ya." Kyungsoo tertawa. Tanpa sadar bibir Kai tertarik keatas mendengarnya. Matanya melirik pada kaca didalam kamar Sehun, menampilkan refleksi wajahnya yang tengah tersenyum. Dia kaget dan tak menyangka. Kai bahkan lupa dia bisa berekspresi seperti itu. Kenyataan Kyungsoo yang menyebabkannya tersenyum membuatnya kesal.
"YA KENAPA KAU MALAH SENANG?!" pekik Kai berlebihan.
"Dari dulu kau selalu mengancamku banyak hal, tapi tak pernah kau wujudkan huh."
"Belum saja." kata Kai kalem. Dia sendiri bertanya-tanya kenapa semua perkataannya tidak pernah ia wujudkan pada Kyungsoo.
"Aku akan menanti pembunuhan ku dan juga saat dimana kau membalas cintaku."
Tut.. Tut.. Tut..
"Halo Kai, halo.."
Keheningan yang Kyungsoo dapatkan. Dia cemberut menyadari Kai lagi-lagi memutuskan sambungan telpon padahal dia belum selesai berbicara. Dia tidak menyerah lantas menghubungi Kai kembali. Lelaki itu langsung mengangkat telponnya dengan betakan.
"Apa?!"
"Hihi galak sekali." Kyungsoo senang dapat mendengar suara Kai seperti ini. Biasanya dia hanya bisa mendengar Kai bicara (marah-marah) padanya hanya dikampus saja.
"Terserah aku!"
Tut.. tut..
"Yah dimatikan lagi, huh!" Kyungsoo memandang ponselnya sedih kemudian dia tetap menghubungi Kai lagi dan lagi.
"MAU APA?! SEKARANG!"
Seperti biasa Kai akan menjawabnya dengan bentakan kasar. Perlakuan Kai seperti itu saja Kyungsoo sudah bahagia.
"Aku lupa belum mengatakannya" Kyungsoo tersenyum.
"APA!"
"Aku mencintaimu."
Ungkap Kyungsoo, pipinya bersemu. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan malu-malu menunggu Kai menjawabnya dan hanya kebisuan yang gadis itu terima. Lagi-lagi Kai memutuskan sambungan.
Kyungsoo yakin suatu saat nanti Kai akan membalas perasaannya. Walau ribuan tahun Kyungsoo harus menunggu saat itu tiba dia rela.
Kyungsoo meletakan ponselnya di atas meja nakas. Dia beringsut mengambil figura foto Kai yang dia dapatkan hasil memohon pada Tao. Gadis itu mengecup foto Kai yang tengah memandang galak ke kamera. Entah bagaimana cara Tao mendapatkan foto ini Kyungsoo tak mau membayangkannya.
"Selamat malam." bisiknya seraya mengelus foto Kai perlahan. Setelah meletakan bingkai foto kesanyangannya itu kembali ketempat semula. Kyungsoo bersiap tidur, lampu dengan gesit ia matikan. Ditengah kegelapan kamarnya dalam keheningan dia menghayal Kai tersenyum sangat tampan hanya padanya seorang.
Sebelum memejamkan mata dan tidur. Kyungsoo memanggil Kai dalam doanya. Berharap pintu hati Kai terbuka walau cuma sesenti untuk orang sepertinya. Kyungsoo meminta pada Tuhan dengan air mata yang mengalir dalam diam bahwa semua yang ia lakukan bisa mengubah kerasnya hati Kai sedikit demi sedikit menjadi Kai yang lebih baik. Ia berharap Kai bisa membalas perasaannya dan mereka bisa bahagia.
Kyungsoo hampir putus asa, dia takut semua harapannya akan kandas begitu saja.
Diwaktu yang sama lelaki harapan Kyungsoo berdiam diri dengan Penglihatan kosong. Tidak menyentuh minuman di atasmeja ataupun ikut memainkan playstasion bersama teman yang lain.
"Siapa yang menelpon, Kai?" Kris bertanya karena si tan semenjak menjawab panggilan menjadi aneh.
"Pasti Kyungsoo." Sehun menebak tanpa mengalihkan tatapannya dari layar monitor playstasion.
"Dia meneleponku terus. Sangat menganggu." adu Kai hambar.
"Kalau kau terganggu kenapa tidak diblokir saja? Malah kau angkat terus panggilannya." cibir Sehun tak habis pikir.
"A...ku hanya.. ah sudahlah!"
"Yah! Mau kemana?" Chen baru datang dengan sekotak pizza ditangan. Kai malah berniat pergi dengan jaket yang sudah dia pakai.
"Bar!" sahut Kai singkat.
"Aku ikut!" pekik Sehun menyambar jaketnya begitupun dengan Kris dan Chen mereka segera menyusul Kai tanpa suara.
Suara musik menghantak ruangan. Muda mudi memenuhi lantai dansa. Bergoyang berantakan. Perempuan dengan pakaian kekurangan bahan merupakan pemandangan biasa disana. Kris dan Chen entah menghilang kemana. Mereka mungkin bercinta disalah satu sudut bar yang gelap. Kini hanya tersisa dirinya dan Sehun saja. Dihadapannya terdapat banyak botol minuman kosong yang sudah tandas masuk ke dalam perut.
"Kai kau sudah habis tiga botol. Sebaiknya kau berhenti." Ken selaku bartender mengingatkan. Mengamati langganannya itu khawatir.
"Diam! Berikan lagi!" Pandangan mata Kai sudah tidak fokus. Dia kalut tidak memahami perasaannya. Dampak kehadiran gadis menyebalkan yang mengganggunya.
Kyungsoo berhasil mengacaukan perasaannya hingga seperti ini.
"Kenapa dia? Apa dipukuli hyungnya lagi?" tebak Ken pada Sehun yang tengah sibuk digoda perempuan berpakaian sexy.
"Tidak, kurasa seorang gadis menganggunya."
"Apa? Akhirnya dia dewasa." Ken tersenyum lega. Dia pikir Kai tidak akan pernah dekat dengan perempuan kecuali para pelacur yang dia bayar untuk semalam.
"Lalu bagaimana denganmu Sehun-ah?" tambahnya meledek Sehun yang betah dengan status single. Padahal hanya dengan berkedip pun mampu membuat para gadis berlekuk lutut padanya.
"Aku ingin melihat Kai bahagia dulu, selanjutnya kebahagiaanku akan mengikuti." ungkap Sehun menyingkirkan si gadis penggoda yang terus menggangunya. Dia mendorong gadis itu pergi lalu melanjutkan meminum botol keras yang sedari tadi ia abaikan.
"Kau memang sahabat yang baik" puji Ken singkat. Sehun tersenyum lembar sembari mengangkat botol minumannya gesture bahwa dia setuju.
"Aku minta lagi!" pekikan Kai menganggetkan mereka.
"Astaga botol ke lima! Kau akan berakhir dirumah sakit." Ken menggelengkan kepalanya prihatin. Dia tak habis pikir, Kai ingin bunuh diri atau apa.
"Ha ha ha Ooh aku jatuh cinta ini gila... hihi Ouch" tanpa perduli Kai terus merancau.
"Kai hentikan kau belum makan apapun dari pagi" Sehun menjauhkan botol ke enam yang akan Kai raih.
"Kau sinting kenapa baru mengatakannya?!" Ken berteriak kesal.
"Aku lupa!" Sehun balas berteriak tak terima disalahkan.
"Mabuk dengan perut kosong sangat berbahaya!"
"Aku tahu hyung!"
Kenapa mereka jadi saling berteriak satu sama lain begini.
"Berikan satu botol lagi!" Kai berdiri mencekik leher Ken. "Berikan bajingan!" ancamnya sebelum merintih menekan perutnya. Bau anyir langsung menusuk hidung kala darah segar keluar dari mulut Kai membasahi seragam bartender yang Ken kenakan.
Kai langsung tergeletak tak sadarkan diri. Hampir terjatuh kelantai jika saja Sehun kurang cepat menangkapnya.
"Kai kau muntah darah!" Ken berteriak kaget dan panik. Menyadari cairan merah pekat pada seragamnya.
"Oh my god!"
«»
Sang surya bahkan belum memancarkan sinarnya pada kawasan Seoul meskipun begitu Chanyeol sudah berdiri didepan apartemen mewah sendirian. Menjinjing beberapa paper bag buah tangan dari London.
Dia memencet bel lalu menunggu dengan was-was. Beberapa saat kemudian pintu kemudian terbuka, seorang gadis cantik masih memakai stelan baju tidur keluar dengan alis terangkat.
"Chanyeol?"
"Hai Luhan nunna" Senyum merekah dibibir pemuda itu.
Mereka berpelukan untuk sesaat lantas Luhan membawa Chanyeol memasuki apartemen.
"Dimana Kyungsoo?"
Chanyeol mengintai seisi apartemen yang ditempati Luhan dan Kyungsoo. Nuansa putih juga biru muda, sangat rapih dan apik. Dua perempuan itu memang menyukai kebersihan.
"Masih tidur—" Luhan mengukir senyuman, dia mempersilakan Chanyeol duduk diruang tamu sementara dia membangunkan Kyungsoo dan menyiapkan minuman untuk tamu mereka itu.
Suara gedebuk terdengar nyaring. Kyungsoo tergesa-gesa menghampiri Chanyeol. Surai hitamnya berantakan—mencuat ke segala arah. Wajahnya kusut sekali. Kedua bola matanya berkilauan oleh airmata yang siap tumpah kapan saja.
Sahabat masa kecilnya kini duduk manis diruang tamu. Senyuman Chanyeol masih lebar seperti dulu. Tatapan mereka bersibrokan mengantarkan sorot rindu. Tubuh Kyungsoo langsung menerjang Chanyeol yang sudah siap menyambutnya. Sepasang teman lama itu berpelukan erat bagai tak ada hari esok.
Dari dalam dapur Luhan mengintip dengan senyuman penuh makna. Berprasangka akan hubungan mereka yang makin bertambah jenjang.
"Aku merindukanmu" ungkap Chanyeol mendekap tubuh perempuan mungil itu lebih erat. Hidungnya menggesek leher Kyungsoo mencari wangi yang ia damba.
"Hiks.. Hik Akhirnya kamu pulang" Kyungsoo mulai menangis sedih dan bahagia. Perasaannya campur aduk dalam dada. Ia begitu kehilangan sosok Chanyeol dalam hidupnya dulu. Bagaikan potongan berharga hatinya lenyap saat pemuda itu pergi.
"Maafkan aku, sudah membuatmu menunggu—" Chanyeol mencium pelipis Kyungsoo lembut. Luhan yang membawa tiga cangkir teh terkejut menyaksikannya. Mereka terlalu intim untuk dikatakan sebagai sepasang sahabat. "Aku janji tidak akan pergi lagi." Kata pemuda itu sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Kyungsoo. Dia membingkai wajah Kyungsoo lalu menarik hidung si mungil gemas.
"Ack!" Kyungsoo memegang hidungnya, memandang Chanyeol galak. Kini hidungnya jadi berwarna merah sehinga wajahnya bertambah menggemaskan.
"Dasar jorok, mandi sana!" Ledek Chanyeol gemas. Kyungsoo segera menjauhkan tubuhnya kemudian bersedekap ngambek.
"Kamu dapat alamat kami dari mana, Yeol" Luhan yang sedari tadi berdiri menyaksikan akhirnya berjalan mendekati. Meletakan tiga cangkir teh di atas meja.
"Kemarin lusa aku tiba di Korea, lalu langsung ke Goyang bermaksud menyapa kalian. Tetapi eomma Do mengatakan kalian disini jadi aku langsung ke Seoul—"
"Kau pasti lelah" seru Kyungsoo sedih. Chanyeol langsung mengacak rambutnya menjadi semakin berantakan. Lelaki itu menggeleng seolah mengatakan bahwa itu bukan masalah.
"Lalu?" Luhan masih penasaran.
"Ternyata kampus kita sama," Chanyeol tertawa dengan backsoud sorakan gembira Kyungsoo disampingnya. "Jadi aku ke kampus untuk mencari Kyungsoo. Tapi tidak menemukannya, aku langsung menghubungi eomma Do dan meminta alamat kalian."
Luhan mengangguk paham.
"Kamu berkunjung pagi sekali, ini bahkan baru pukul enam." gadis dengan bola mata bundar itu memprotes. "Aku belum mandi dan menyiapkan sarapan."
"Tidak apa, aku tidak mau merepotkan. Lagi pula aku ingin berangkat ke kampus bersamamu" Chanyeol memandang Kyungsoo lembut. Untaian kata yang ia utarakan begitu halus dan hati-hati. Luhan dihadapan mereka jadi tersentuh seolah dapat merasakan perasaan Chanyeol pada sepupunya itu. Merasa bahwa dia menggangu, Luhan undur diri untuk mandi karena dia ada kelas pukul delapan, dia harus berangkat lebih awal.
"Aku membawakan oleh-oleh untukmu dan Luhan nunna" Dua buah paper bag Chanyeol serahkan pada Kyungsoo. "Punyamu berwarna kuning, Luhan nunna yang biru."
Kyungsoo menerima dengan senang hati. Dia mengecup pipi Chanyeol sebagai ucapan terimakasih. Kebiasaan yang mereka lakukan ketika masih kecil, dia tak mengetahui efek tindakannya jelas berbeda karena kini mereka sudah beranjak dewasa. Chanyeol menyentuh pipinya lantas sedikit menunduk.
Kyungsoo mengeluarkan kotak kecil dari dalam paper bag. Dia buka dengan hati-hati. Sebuah cincin polos berwarna putih menyapa penglihatannya. Berkilauan begitu elegan. Kyungsoo menoleh kaget pada Chanyeol. Mulutnya membulat tak dapat berkata-kata.
"Kau suka?"
"Ini sangat indah..." Kyungsoo mencelos. Untuk oleh-oleh aneh rasanya jika harus sebuah cincin. Dikepalanya cincin seperti sebuah benda ikatan sakral. Terlebih mereka lawan jenis. "..kenapa?" Kyungsoo bimbang memilih kata yang tepat.
"Simpan saja, ketika melihatnya ditoko. Aku langsung teringat kamu. Aku mengumpulkan uang untuk membelinya sedikit demi sedikit. Jadi aku mohon jangan ditolak."
Kyungsoo tidak enak hati. Terpaksa menerimanya walau masih sungkan. Dia membiarkan Chanyeol memakaikan cicin indah tersebut. Kyungsoo memperhatikan ekspresi Chanyeol yang cerah dan bahagia. Bagaimana mungkin Kyungsoo tega menolaknya.
"Terimakasih"
Chanyeol mencubit pelan pipinya sebagai balasan. "Nanti akan ku ganti dengan berlian jika kita menikah"
Retina Kyungsoo membulat. "A-apa"
Sebelum sempat bertanya lebih jauh maksud dari ucapannya. Chanyeol lebih dulu meninggalkan Kyungsoo sambil membawa paper bag untuk Luhan.
"Luhan nunna, ini oleh-oleh untukmu!" lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Kyungsoo termagu sendirian.
Kyungsoo mencoba berfikir positif mungkin semua ucapan Chanyeol hanya gurauan semata dari kecil dia memang suka sekali bercanda. Dia ikut beranjak untuk mandi dan menyiapkan sarapan.
Tadinya Kyungsoo ingin berangkat kuliah sendiri namun Chanyeol terlalu memaksa. Disinilah dia saat ini cemberut didalam mobil Chanyeol. Lelaki itu tertawa terus puas melihatnya sebal pagi-pagi.
"Kamu hari ini bertugas mengantarku berkeliling kampus." perintah Chanyeol ngebos.
"Tidak mau, aku sibuk!" Kyungsoo harus terus bersama Kai. Aktivitas yang biasa ia lakukan belakangan ini.
"Kemarin aku hampir tersesat saat mencarimu. Tempat ini luas sekali. Kamu mau aku tersesat lagi?"
Kyungsoo mendengus sambil bersedekap. Kalah telak.
"Aku harus minta tolong pada siapa lagi selain kamu, Soo." Chanyeol menusuk pipi tembem Kyungsoo dengan jarinya.
"Arreseo" Kyungsoo menghela nafas panjang. Tidak bisa mengelak lagi.
Mobil Chanyeol memasuki parkiran kampus beberapa orang melirik penuh minat. Mobil yang dinaiki mereka itu sangat mahal jelas orang-orang penasaran siapa pemiliknya. Kyungsoo langsung mengkerut dikursi. Belakangan dia sudah menjadi topik perbincangan karena kedekatannya dengan Kai kini dia malah bersama lelaki lain. Gosip buruk tentangnya akan bertambah banyak meskipun dia tidak perduli tapi akan berbeda urusannya jika Kai tahu. Pujaan hati Kyungsoo itu akan salah paham dan berfikir macam-macam. Kyungsoo takut mati ditangannya.
"Ayo turun Kyungsoo." Alis Chanyeol terangkat begitu mendapati Kyungsoo diam saja, mimik gadis itu pucat pasi. "Kau sakit?" tanyanya cemas. Buru-buru mengecek suhu gadis itu. Kyungsoo langsung menepisnya dan menggeleng pelan.
Setelah membulatkan tegad. Kyungsoo menyemangati dirinya sendiri lalu membuka mobil Chanyeol tanpa pikir panjang. Chanyeol hanya tersenyum kecil akan tingkah anehnya.
Pandangan para mahasiswa lain selalu tertuju pada mereka Chanyeol menyadari dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa mereka begitu tertarik padanya dan Kyungsoo. Gadis itu mendadak pendiam, Chanyeol memprediksi ada yang tidak beres disini. Dia akan mencari tahu nanti.
"Gwencana?" jemarinya mengenggam jemari Kyungsoo erat. Sementara Kyungsoo menatapnya serbasalah.
Pagi itu Baekhyun berangkat sendirian tanpa diantar supir pribadi keluarga. Dia memakirkan mobilnya disamping sebuah mobil asing. Alisnya terangkat menilai mobil mewah tersebut. Setelah memeriksa penampilannya. Gadis berpakaian modis tersebut keluar dari mobil bertepatan dengan seorang lelaki yang keluar dari mobil sebelahnya.
Lelaki itu... Baekhyun menilai dalam diam. Dia yang menghapus air matanya kemarin. Sontak garis tipis tertarik pada bibirnya yang tipis. Kebetulan apa ini. Tanpa pikir panjang Baekhyun berniat menghampiri sekedar menyapa dan berkenalan. Dia lupa belum menanyakan nama lelaki baik tersebut. Langkah kakinya mendadak membeku begitu seorang gadis juga keluar dari mobil lelaki itu.
Dia adalah Do Kyungsoo... Perempuan yang terkenal akan tingkah lakunya yang berani menjegar-ngejar Kai. Senyum luntur dari paras cantik Baekhyun. Rasa kecewa menggelayuti batinnya. Lelaki itu mengengem jemari Kyungsoo penuh perhatian meninggalkan parkiran berdua. Baekhyun masih setia memperhatikan mereka penasaran.
Apa hubungan Kyungsoo dengannya?
Kenapa mereka begitu dekat?
Kenapa dia tidak rela?
Jika memang Kyungsoo menyukai Kai. Kenapa dia bersama lelaki lain sepagi ini.
Tangan Baekhyun terkepal marah. Dia sungguh tidak perduli jika Kyungsoo harus berpacaran dengan Kai tapi jika niat Kyungsoo hanya mempermainkan perasaan Kai maka Baekhyun tidak akan tinggal diam.
"Chanyeol maaf.. Aku tidak bisa mengantarmu berkeliling. Aku harus menemui seseorang." Kyungsoo melepaskan tautan tangan mereka dan Chanyeol hanya tersenyum memaklumi.
"Temui aku dikantin nanti" kata Chanyeol sambil mengusap kepala Kyungsoo sedangkan Kyungsoo hanya mengangguk kecil dan pergi tanpa mengucapkan apapun.
Senyum yang terukir perlahan sirna. Tatapan yang lembut menjadi hampa. Chanyeol memperhatikan punggung sempit itu menjauh. Dia merasa sedih akan perubahan sikap Kyungsoo. Dulu gadis itu tak mau lepas darinya. Kini Chanyeol menyadari bersamanya sebentar saja Kyungsoo tak nyaman. Mungkin Kyungsoo hanya kaget akan keberadaannya yang tiba-tiba.
"Dia pacarmu?" Suara perempuan mengagetkan Chanyeol. Dia menoleh dan mendapati gadis cantik yang ia temui kemarin menatapnya sinis.
"Oh kau..." Chanyeol tersenyum ramah. "Kita bertemu lagi."
"Namaku Byun Baekhyun." Sapa Baekhyun
"Chanyeol, Prak Chanyeol. Senang mengenalmu Baekhyun"
"Jadi, dia pacarmu?" Baekhyun masih penasaran sementara Chanyeol tidak menjawab hanya menatapnya penuh arti. Baekhyun segera mengalihkan pandangannya kemudian berjalan meninggalkan Chanyeol namun lelaki itu buru-buru menyusulnya.
"Kau jurusan apa?" tanya Chanyeol menyamai langkahnya dengan Baekhyun.
"Seni"
"Oh keren. Karena kau teman pertamaku. Aku akan mentraktirmu sarapan"
Belum sempat Baekhyun membantah dia sudah ditarik menuju kantin. Mereka duduk berdua lagi-lagi sosok tampan asing menarik perhatian seisi kantin Baekhyun mendengus.
Chanyeol memesan sandwich dan jus jeruk sementara Baekhyun hanya segelas jus strawberry. Sedang diet katanya. Chanyeol hanya menggelengkan kepala.
Mereka terus mengobrol sesekali Baekhyun tertawa kecil akan lelucon yang Chanyeol lontarkan.
"Jika aku tidak salah, kemarin kau mencari Kyungsoo. Untuk apa?" Jus jeruk diatas meja Baekhyun aduk dengan gusar.
Chanyeol tersenyum lembut. "Aku sangat merindukannya. Hingga langsung mencarinya dikampus begitu tiba."
Untaian kata yang Chanyeol lontarkan menghantam dada Baekhyun. Perempuan itu hanya bisa membalas dengan senyum yang dipaksakan. Enggan bertanya lebih jauh. Dia dapat mengira bahwa hubungan Chanyeol dan Kyungsoo pastilah spesial.
Kemudian keheningan menjadi mendominasi mereka. Chanyeol memperhatikan gadis cantik dihadapannya ini. Baekhyun sedari tadi hanya diam dengan pandangan kosong. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?
"Hei. Ada apa?"
Baekhyun menggeleng. Sejak pagi dia tidak nyaman dibagian intimnya seperti ada sesuatu yang mengalir keluar. Perut hingga pinggang rasanya kebas dan nyeri. Pantas dia begitu sensitif pagi ini. Ternyata dia datang bulan. Siklusnya maju beberapa hari dari yang ia perkirakan. Dia tidak membawa pembalut dan sekarang mengenakan dress berwarna kuning cerah pasti darah akan terlihat jelas.
Kenapa harus disaat sedang berdua dengan Chanyeol. Dikantin yang penuh orang. Jika dia berdiri pasti akan terlihat. Baekhyun malu sekali. Dia ingin menangis rasanya.
Lamunanya buyar tatkala suara gelas yang tumpah dan rasa dingin menyengat pahanya. Chanyeol menumpahkan jus strawberrynya dengan sengaja.
Mata sipitnya menatap Chanyeol terkejut.
"Maaf!" lelaki itu menarik perhatian kantin untuk beberapa saat. Kemudian orang-orang tidak peduli kembali melanjutkan aktivitas mereka.
Chanyeol membuka jaketnya menyelimuti pinggang hingga paha Baekhyun, melindungi gadis itu. Hingga tumpahan jus serta noda darah tidak akan terlihat. Bahkan lelaki itu tidak perduli jika jaketnya kotor. Baekhyun ingin menangis. Chanyeol tahu. Dia menyadarinya hingga melakukan ini semua.
"Kumohon jangan menangis, aku akan membelikanmu baju baru. Sekarang pergilah ke toilet dan tunggu aku." Chanyeol tersenyum seraya mengacak surai keriting Baekhyun. Dia mendekatkan telinganya. Membisikan untaian kata yang tak Baekhyun sangka.
"Aku juga akan membelikan pembalut untukmu, tenanglah. Semua akan baik-baik saja."
Air mata Baekhyun langsung tumpah. Dia memang sensitif. Tidak menyangka Chanyeol rela melakukan ini semua. Bagaimana mungkin lelaki itu menyadari?
Chanyeol segera memakai tasnya lalu berlari pergi meninggalkan Baekhyun untuk membeli baju baru dan pembalut untuknya.
Baekhyun terus memandang punggung Chanyeol yang semakin menjauh. Mereka baru kenal kemarin tetapi Chanyeol sudah berani menolongnya seperti ini. Lelehan air mata terus mengalir. Kebaikan hati Chanyeol menyesakan dada Baekhyun.
Dia menyadari, hatinya telah dicuri, oleh seseorang yang telah dimiliki.
"Kau sangat beruntung Do Kyungsoo." gumam Baekhyun memeluk jaket Chanyeol erat.
.
.
.
.
.
Kai dilarikan ke rumah sakit terbaik di Seoul. Dia mendapatkan penangan dari para petugas medis yang handal. Dalam waktu singkat dia sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa.
Dua hari dirawat di RS bagaikan sewindu. Jika saja keadaan Kai tidak lemas dia mungkin akan kabur dulu.
Seorang wanita berpakaikan seragam perawat membuka pintu kamar vip yang ia tempati. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" sapanya tersenyum hangat seraya menghampiri Kai yang tergeletak diranjang tak berdaya.
"Biasa saja"
Walau sedang sakit kesombongan Kai tak pernah hilang. Masih sama melekat dalam dirinya. Perawat tersebut menekan perutnya hingga Kai mengerang.
"Ouch!"
"Kau kesakitan bodoh!"
"Ah nunna!" Kai memprotes marah. Perawat tersebut bernama Kim Jieun sepupunya.
"Kai maafkan aku, aku harus pergi sekarang." Sehun yang sedari tadi tiduran di sofa buka suara setelah mendapakan telpon dari seseorang.
"Pergilah" usir Kai mengibaskan tangannya.
Jieun yang melihat sikap Kai hanya menggelengkan kepala. Dia membantu Kai duduk dan memberikan obat yang harus diminum sepupunya itu.
"Huek ah sialan" dua butir pil berwarna pucat masuk ke tenggorokannya dengan paksa. Kai langsung menyambar air mineral diatas meja. Rasa pahit meleleh dimulutnya
"Ini obat mual dan nyeri" Jieun sebagai perawat menjelaskan dengan senyum maklum.
"Obatnya akan bekerja setengah jam lagi. Dalam waktu itu kau tidak boleh sendiri. Harus ada seseorang yang menemanimu disini" tambahnya menjelaskan.
"Tidak perlu kan ada kau" sahut Kai enteng.
"Tidak bisa, banyak pasien yang harus aku kontrol juga." tolak Jieun pada sepupunya itu. Mutlak.
"Kalau begitu aku bisa sendiri" Kai tetap keras kepala.
"Kau bisa muntah membasahi lantai dan seluruh tubuhmu." Jieun mengangkat alisnya jahil. Menggoda Kai.
"Enak saja!"
"Apa tidak ada seseorang yang bisa kuhubungi?" perempuan itu belum juga menyerah.
"Tak ada, teman-temanku sibuk"
Kai membuang muka tak perduli dan engan menanggapi.
"Orangtuamu, dan para hyung?" perawat tersebut sudah kenal betul dengan keluarganya. Kai berdecak.
"Bahkan jika aku mati mereka tak akan peduli. Mereka hanya bisa menaburkan uang diatas pemakamanku" Kai menertawakan nasib dirinya.
"Aku turut menyesal. Coba pikirkan lagi. Pasti ada orang yang peduli padamu. Aku yakin itu"
Setelah beberapa saat Kai termenung, senyum berbentuk hati milik seseorang terlintas dalam benaknya.
"... ada, kurasa."
«»
Brak!
Pintu naas itu terbuka paksa. Do Kyungsoo dengan dress pinknya masuk tergesa-gesa.
"Kai!" teriaknya ketika menemukan Kai terbaring diranjang dengan infus terpasang dilengannya.
Wajah lelaki yang dicintainya itu terlihat pucat pasi. Entah perasaan Kyungsoo saja. Kai yang sedang sakit namun mengapa ia juga merasakannya.
"Ugh berisik" telinganya Kai tutupi dengan bantal.
"Kau baik-baik saja? Hiks hiks kau kesakitan" Kyungsoo langsung menaiki ranjang dan memeluk Kai brutal. Khawatir dan rindu menjadi satu.
Hampir dua hari tak bertemu rasanya bagai bertahun-tahun. Dia sudah mencari Kai kemana-mana tidak ada infoemasi sama sekali. Geng EXO tidak ada yang masuk kuliah juga. Bahkan Zitao tidak tahu keberadaan Kai. Hingga ia mendapatkan telpon dari rumah sakit memberitahukan bahwa Kyungsoo perlu datang untuk menjaga Kai. Tanpa pikir panjang Kyungsoo langsung datang dia bahkan bolos kuliah.
"Gwenchana. Kyungsoo-ssi. Dia keracunan minuman keras. Kami sudah mencuci lambungnya namun dia masih kerap kali muntah"
Tiba-tiba suara wanita mengagetkan mereka. Kai segera mendorong Kyungsoo pelan. Sementara gadis itu beringsut menuruni ranjang, wajahnya tersipu malu ketahuan melakukan hal senonoh di RS.
"Sudah kubilang berhenti minum!" pekik Kyungsoo sebal. Melotot galak pada Kai.
"Yak! Kau datang kesini hanya untuk meneriakiku?!" Kai balas memarahinya.
"Tapi kamu menyebalkan"
"Apa!"
"Kamu tidak pernah sakit sebelumnya hiks hiks.. aku bisa mati karena khawatir." air mata menuruni pipi Kyungsoo deras sekali. Dia sangat sedih melihat Kai selemah ini.
"Hei kau cengeng sekali" ledek Kai menyeringai remeh. Geli sekaligus senang ternyata ada orang yang mengkhawatirkannya.
"Karena siapa aku begini?!"
"Segitu cintanya kau padaku ya?" tebak lelaki berkulit tan itu jahil.
"Arg! Diam! Cintaku cuma sedikit!" Kyungsoo berusaha menyanggah.
"Segimana?"
"Sedalam lautan dan seluas tata surya!" walau pada akhirnya Kyungsoo tidak bisa berbohong juga. Dia kembali menangis.
Kai tersenyum singkat.
"Ei itu sih gak sedikit!"
"Pokoknya sedikit!" Kyungsoo tetap tak mau mengalah.
"Terserah" Kai masih tersenyum. Tidak salah dia meminta Jieun menelpon Kyungsoo kemarin. Kehadiran gadis itu didekatnya selalu membuatnya nyaman dan senang.
"Ehem" suara wanita menarik perhatian mereka. Kai dan Kyungsoo bahkan lupa bahwa ada Jieun diruangan Kai juga.
"Ah maaf" Kyungsoo tidak enak hati. Langsung membungkuk dalam sementara Kai tidak perduli sama sekali
"Tolong bujuk Kai makan, atau dia tidak akan sembuh dan mualnya akan semakin parah." pinta perawat tersebut.
"Baiklah aku mengerti."
"Aku pergi dulu. Setengah jam lagi aku akan kesini untuk mengecek efek obatnya okay?" Jieun berpamitan. Dia memandang Kyungsoo penuh arti lalu meninggalkan pasangan itu setelah memastikan Kyungsoo akan menjaga Kai. Karena Kai sangat bandel sebagai pasien.
"Apa kau merasakan sakit?"
Kyungsoo membenarkan selimut Kai.
"Tidak"
"Walau tidak, kau harus tetap makan" gadis itu membuka tas yang sedari tadi dia bawa.
"Kenapa kau mengaturku? Memang kau pikir kau siapa?" alis Kai bertaut tak suka akan sikap Kyungsoo yang semena-mena.
"Aku Do Kyungsoo. Calon kekasihmu!" dengan percaya diri Kyungsoo berteriak membalasnya sambil membuka kotak makanan yang ia bawa.
"Dasar" Kai berdecih tapi tak mengelak apapun. Dia hanya memperhatikan Kyungsoo yang cekatan mengurusnya. Gadia itu mulai menyuapinya.
"Buka mulut mu aaa!"
Kai diam saja melihat bubur di sendok yang Kyungsoo sodorkan. Itu bukan racunkan?
"Ayo buka atau aku tumpahkan bubur ini ke wajahmu!" ancam Kyungsoo galak tapi bukannya seram raut wajahnya imut sekali. Kai ingin menciumnya. Gemas.
"Yak! "
"hihih!" Kyungsoo geli pada Kai. Dia manis sekali jika sakit seperti ini.
"Aaa"
Walau malas Kai menerima suapan Kyungsoo sedikit demi sedikit.
"Am nyam nyam" Kyungsoo terus bersuara saat menyuapi Kai. Kai merasa dia balik kembali menjadi bayi.
"Bagus anak pintar!"
Terus seperti itu hingga bubur yang Kyungsoo bawa habis satu porsi. Setelah makan Kai tertidur dengan alunan senandung suara Kyungsoo yang mengiringi.
.
.
Empat hari Kai dirawat di RS dengan Kyungsoo yang menjaganya. Setelah dokter visit dan memutuskan bahwa Kai sudah bisa pulang nanti sore. Kyungsoo segera merapihkan baju serta barang Kai kedalam tas lelaki itu dengan cekatan. Sementara Kai hanya memperhatikan Kyungsoo dalam diam.
"Terimakasih" Kata Kai suaranya pelan sekali. Kyungsoo menoleh padanya dengan senyuman berbentuk hati yang menggemaskan.
"Aku juga mencintaimu" balas Kyungsoo tidak nyambung. Kai mendengus menahan senyuman, jantungnya berdebar senang. Perasaan yang hanya ia temukan jika bersama gadis bersurai hitam disampingnya.
Keesokannya Kyungsoo mencari Kai kesekeliling kampus seperti biasa. Dia sudah menelpon Kai pagi pagi sekali. Lelaki itu mengatakan bahwa hari ini akan masuk kuliah karena sudah tertinggal banyak pelajaran.
Langkah kaki Kyungsoo menjadi cepat kala menemukan sosok tampan dengan rambut acak-acakan yang ia kenali. Senyuman diwajahnya perlahan luntur begitu menyadari Kai menarik seorang gadis pergi.
Dengan dada berdebar takut. Kyungsoo mengikuti mereka memasuki toilet yang rusak. Beberapa detik kemudian terdengar suara desahan sang gadis menyapa pendengarannya. Kyungsoo menangis dibalik pintu merasakan kecemburuan menggerogoti hati. Dia menepuk dadanya berulang kali lantas beranjak dan pergi. Tak kuasa mendengarkan lagi rasa perih begitu menyakitkan seakan merusak dirinya dari dalam.
Kyungsoo belum berhasil merubahnya. Walau sudah berusaha, Kai tetaplah sama. Dia seorang bad boy.
##
Makin hari Kyungsoo semakin menjauh. Dia tidak pernah membawakan bekal atau menemuinya di basecamp EXO. Gadis itu bagaikan menghilang dari hidupnya. Seminggu seperti setahun begitu membosankan, Kai merasa sesuatu hilang. Ini tidak dapat dibiarkan Kyungsoo harus kembali. Kai tidak perduli. Kyungsoo harus kembali kesisinya.
Disuatu pagi yang mendung Kai menemukan Kyungsoo bersama seorang lelaki berperawakan tinggi. Sedang bercanda sambil mendengarkan musik berdua. Kemarahan membutakan Kai dia langsung menarik Kyungsoo hingga si gadis terjungkal dari kursi. Menyeretnya paksa tanpa perduli.
Kyungsoo meninggalkannya demi bersama lelaki lain? Kurang ajar. Tidak bisa Kai biarkan.
"Ikut aku!"
Entah sudah berapa meter Kyungsoo diseret paksa menuju parkiran. Tanpa mau mendengar penjelasannya lebih dulu Kai menulikan pendengarannya akan rengekan gadis itu.
"Sakit," mungkin lengan Kyungsoo memar akibat cengkraman Kai. Kyungsoo menahan air matanya yang siap untuk tumpah.
"Diam!"
"Hei, lepaskan! Kau menyakitinya"
Seketika langkah mereka terhenti. Chanyeol berdiri menghadang dan langsung memendorong Kai kasar hingga Kai hampir jatuh. Dia segera menarik Kyungsoo kedalam pelukkannya. Melindungi gadis mungil itu dari jangkauan Kai.
Mata Kyungsoo membulat terkejut akan kehadiran Chanyeol. Ternyata sahabatnya itu nengejar mereka.
Melihat Kyungsoo dalam pelukan lelaki asing kemarahan membakar dada Kai. Ekspresi wajahnya mengeras menyeramkan.
"Fuck siapa kau. Kembalikan dia padaku sekarang, bangsat!" bentak Kai menggelegar.
Dalam pelukan Chanyeol, Kyungsoo bergetar ketakutan. Chanyeol mengusap punggung gadis itu, mencoba menenangkannya. Seakan mengatakan semua akan baik-baik saja tanpa suara.
"Ada aku" Bisik Chanyeol ditelinga Kyungsoo.
Kai sudah bersiap akan melayangkan tinjunya sebelum jemari lentik seseorang menahan lengannya.
"Jongin.." panggil perempuan itu.
Kai memandangnya, terkejut akan kehadiran Baekhyun. Biasanya gadis itu akan jaga jarak dengannya jika dikampus.
"Ayo antar aku pulang." Kata Baekhyun dengan senyuman. Tetapi matanya terfokus pada Chanyeol dan Kyungsoo. Dia memperhatikan bagaimana Kyungsoo yang berada dipelukan Chanyeol.
Kyungsoo balas memandangnya dengan berurai air mata sehingga Chanyeol memberikannya kecupan di kepala. Rasa sakit yang tidak Baekhyun pahami ia rasakan begitu perih. Meyayat hati.
Dia menoleh mengabaikan pasangan itu beralih pada Kai disampingnya tetapi lelaki itu justru terfokus pada Kyungsoo dimatanya hanya ada Kyungsoo. Bahkan Kai kini bisa mengabaikan kehadirannya.
"Ayo kita pergi Kai" ajak Baekhyun lagi, dia sudah tak kuat menyaksikan betapa Chanyeol mengasihi Kyungsoo seperti itu.
Kai mengangguk walau ekspresi wajahnya kaku seakan tak rela meninggalkan Kyungsoo dengan lelaki lain. Baekhyun tidak peduli ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia mau. Maka orang lain pun tidak bisa. Jika Kyungsoo mendapatkan Chanyeol. Maka Baekhyun akan mengambil Kai darinya.
Tatapan tajam Kai mengarah pada Chanyeol. "Kau menggali liang kuburmu sendiri." ancamnya sebelum Baekhyun menariknya pergi. Kai melirik Kyungsoo penuh rasa sakit lalu membuang mukanya. Membiarkan Baekhyun memeluk lengannya.
Tangisan Kyungsoo makin keras. Siapa gadis itu, kenapa Kai marah, kenapa hatinya sakit melihat Kai bersama gadis lain. Banyak sekali pertanyaan dalam batinnya. Kyungsoo tidak pernah jatuh cinta. Kai adalah cinta pertamanya dia tak mengerti, yang dia ketahui nyeri di hatinya tak tertahankan. Kyungsoo terus memukul dadanya hingga Chanyeol menahan lengan mungilnya.
"Hentikan Kyung," Chanyeol memandangnya nanar. "Seharusnya kamu tidak menangis untuk lelaki lain ketika ada aku yang memelukmu seerat ini"
Kyungsoo menatap Chanyeol, kaget akan makna perkataannya.
"Aku mencintaimu, kapan kau akan melihatku?"
Ibu jari Chanyeol mengusap pipi Kyungsoo yang basah oleh air mata dengan perlahan-lahan penuh kasih sayang. "Tolong liat aku sekali saja, aku mohon padamu."
"Chan.. Aku.." gumam Kyungsoo tak menyangka. Dia memang sadar akan perhatian Chanyeol yang berlebihan sedari mereka kecil namun, Kyungsoo tak pernah menduga bahwa lelaki itu ternyata menyimpan perasaan lebih padanya.
"Sst.. Jangan menolakku" Seakan dapat membaca jawaban Kyungsoo. Chanyeol mendekap gadis itu makin erat seolah menahan Kyungsoo pergi dari sisinya.
"Aku sudah pulang, sekarang aku akan menjaga dan melindungimu seperti dulu."
Kyungsoo meremas jaket yang Chanyeol kenakan resah dan gelisah. Bertemu dengan Kai nanti tidak akan mudah jika Chanyeol kembali disisinya.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
To Be Continue
#HappyKaisooDay
Terimakasih kalian telah lahir dan menjadi penyemangatku dalam menulis.
Bagaimana chapter ini? Pendapat kalian ditunggu dikolom riview yaa.
