"Kaito, ingatlah Poker face mu terus."

Ucapan itu terus terngiang. Berulang seperti kaset rusak. Kenapa ucapan itu terus membayangiku? Dia bukanlah semacam mimpi buruk bagiku! Tapi, dia terus membayangiku. Sekarang inilah yang di sebut mimpi buruk.

.

The Light In This Night

Owner Aoyama Gosho sensei

Story by Tiramisuchan30

"It's not a nightmare for me, it's for you. Actually."

.

'DORR!'

"Ugh!"

Lagi. Timah panas itu kembali menggesek bahunya. Cairan kental berwarna merah itu mengotori jas putih bersihnya. Pria berpakaian hitam itu tampak tak kenal yang namanya belas kasihan. Menembakkan timah panas itu untuk melukai sang pencuri.

Sang pencuri sudah tidak bisa apa-apa. Pasrah. Kemungkinan terbunuh. Darah. Itulah yang sekarang berkecamuk memenuhi pikirannya. 'Sepertinya hanya sampai di sini, ya?' Terkekeh pelan. Ia sudah bisa merasakan dewa kematian mengasah sabitnya yang runcing itu di depannya.

"KID! KAU SUDAH TIDAK BISA LARI LAGI! MENYERAHLAH!"

Teriakan itu mengejutkannya. Pemuda ini melihat ke helikopter-helikopter yang mengitari bagian atap. Lagi. Tubuhnya bergetar. 'Tidak. Kumohon. Tidak. Katakan tidak. Mereka.. Tidak mungkin..'

Kaito segera berlari. Ke tengah atap. Di depan para pria berdarah dingin ini. "Keluar juga kau. Ku pikir kau akan terus bersembunyi di belakang sana." Suaranya terdengar mengerikan. Kaito mengarahkan senjatanya tepat ke pria berambut panjang itu. Menembakkan benda yang melesat bagai peluru.

'SRET!'

Dan mengiris pipi kiri pemuda itu. Ia lalu berlari. Menembakkan kartu-kartunya menuju tali-tali helikopter itu. Walau tubuhnya nyeri bila di gerakkan.

"Sial! Kakak!" Bukannya meringis atau merintih. Seringaian iblis itu terbentuk. "Panggil Chianti, Vodka." Desisnya. Sambil memperhatikan Kaito yang masih sibuk mengurus helikopter itu. "Habiskan semuanya."

'SIAL!' Batin Kaito menjerit. Ia tidak bisa. Membuat mereka ikut campur. Organisasi ini terlalu berbahaya.

'DOR! DOR! DOR!'

Dipalingkannya wajahnya. Helikopter lainnya. Sepertinya bukan punya polisi. 'Siapa?' Tersadar salah satu peluru itu mengenai pahanya. 'Sial!' Entah sudah berapa kali dia merutuk dalam hati. Kaito berlari ke belakang cerobong asap tua di ujung sana.

"Keibu! Di sini A! Ada helikopter tidak di kenal! Menyerang secara mendadak!"

Inspektur Nakamori mendengarkan dari walkie talkie miliknya. "APA!?" "Dia menyerang kami! Kami akan menjauh!" Nakamori hanya terdiam. "Apa yang terjadi sebenarnya?" Gumamnya. Firasatnya mengatakan hal yang buruk. Tidak. Sangat buruk. "Di sini D! Helikopter kami tertembak! Kami akan jatuh!" "Di sini C! Mesin helikopter tertembak!" Nakamori terdiam. 'Ini sangat buruk.'

"SEMUANYA MENJAUH! BATALKAN RENCANA! A, B, C, D! DENGAR!" Nakamori berteriak. "Kami ulangi semua pasukan harap mundur!" 'Apa yang bisa kita lakukan sekarang?'


"Tampaknya semua berjalan lancar sesuai rencana sampai saat ini, Gin."

"Bagus. Teruskan. Kami akan bergabung sebentar lagi."

"Di mengerti."

Pria– bercode nama Gin itu terkekeh pelan. Lalu berlari ke arah Helikopter yang mendarat di atas atap.

"Hah.. Hah.. Hah.."

Di aturnya kembali napasnya itu. Lelah. Ia sudah terlalu lelah. Mimpi buruk ini sangat mengerikan.

'Apakah tidak ada yang lebih buruk daripada ini?'

Batinnya.

"Jadi? Apa yang kita lakukan sekarang?" Seorang wanita bertanya sambil menggerakkan senjatanya. Tampak ada tato sayap kupu-kupu di mata kirinya. Pria itu menyeringai. Lagi. "Kita lakukan rencana B." Ujarnya.

Tak lama. Tak sampai terhitung 2 menit..

'DORR! BLARR!'

Tempat itu meledak dalam waktu yang singkat? Dalam sekejap. Semuanya menjadi panik. Malam itu penuh dengan asap. Ya. Teriakan menggema sampai ke telinga pemuda ini. 'Apakah ini semuanya karena aku?'


"Ah maaf, Aoko – chan. Aku tadi harus ke kamar kecil." Pemuda berambut blonde itu berlari kecil ke arah gadis itu."Sepertinya malam ini berakhir cepat, yah. Tidak seperti rencana awal sepertinya." Ucap Hakuba lagi. Lalu menatap gadis yang mengenakan gaun biru lembut di sampingnya kini. Gadis itu mengedarkan pandagannya. Sepertinya tidak mendengarkannya sama sekali. "Aoko – chan?" Gadis yang di panggil Aoko itu langsung tersentak kaget. "A-ah. Hakuba – kun. Tadi kau bilang apa?" "Tidak. Apa kau ingin ku antar pulang? Kebetulan aku lewat rumahmu nanti." Tawar hakuba.

Aoko tersenyum sedikit kikuk. "E-eh, sepertinya aku akan pulang dengan ayahku lagi, Hakuba – kun. Masih ada yang ingin ku lakukan di sini. Terima kasih." Aoko menolak sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Pemuda itu terdiam sambil menatap wajah Aoko. "Baiklah kalau begitu. Aku duluan, ya." Pamitnya lalu berjalan keluar.

Aoko memandangi Hakuba yang berjalan keluar. Sebenarnya, ia agak merasa bersalah karena menolak ajakan pemuda itu. Tetapi, ia masih penasaran dengan pemuda yang mirip dengan Kaito yang di lihatnya tadi. Memang, memakai baju polisi. Tapi, wajah itu. Senyum itu. Pasti Kaito!

'KLIK!'

Gelap gulita. Lagi. 'Oh, ada apa dengan penerangan hotel ini?' Aoko membatin kesal. Ia mencoba untuk tenang. Walaupun ada beberapa wanita yang sudah berteriak. Tetapi ia..

'DORR! BLARR!'

'Bunyi itu.. Ledakan?' Tidak. Kini ia gelisah. Benar-benar gelisah.

"Tidak! Apa yang terjadi!?"

"Hei, Hei! Tadi itu suara ledakan?"

"KYAAA! APAKAH KITA AKAN MATI!?"

Suara itu bergema menuju ke arah pendengaran Aoko. Ia benar-benar gelisah sekarang. Tiba-tiba, beberapa penerangan hidup. Setidaknya. Aoko dapat melihat sekitarnya. Walau tidak begitu jelas. 'Rasanya.. Agak panas.' Batin Aoko.

"A-ADA API!"

"KE-KEBAKARAN!?"

"HEI, HEI! SEMUANYA TENANG!"

Mau di bilang tenang. Mereka yang menenangkan saja mungkin lebih tidak tenang dalam hatinya daripada yang di tenangkan. Aoko terduduk. Air matanya jatuh. 'Bodoh, kenapa aku menangis.' di sekanya air matanya.

"BUKA PINTU YANG DI SANA!"

"YANG DI SINI TIDAK BISA DI BUKA!"

"YANG DI SINI JUGA!"

"Apa? Kalian tidak bercanda, kan?"

'BLARR!'

"KYAAA!"

Aoko mengangkat kepalanya. Api dimana-mana. Gorden terbakar. Pentas menjadi panggung api.

"HEI! YANG DI SINI BISA DI BUKA!"

"APA! YANG BENAR!? SEMUANYA! KELUAR LEWAT PINTU INI!"

Semuanya langsung berlari. Seakan tidak sudi untuk mati di tempat semewah hotel keluarga Suzuki ini. Aoko. Dia juga berlari ke arah yang di tunjukkan.

"KYAA!"

Teriakan itu meluncur mulus dari bibir Aoko. Ia kini berbaring di lantai yang dingin. Beberapa orang yang lewat di sana tidak lagi menolongnya. Mereka sudah terlalu sibuk dengan nyawa masing-masing.

"Ta-tas ku!"

Dilihatnya tasnya sudah tidak lagi melingkar di lengan kirinya. Tas biru yang di padu lembut dengan gaunnya itu kini terbaring di dekat tangga darurat di seberang sana. Aoko berusaha bangkit. Lalu mengambil tasnya ini. Dan ia mencoba untuk kembali keluar dari–..

'DORR! BLARR! BLARR!'

Tapi, suasananya sudah tidak lagi mendukung gadis semata wayang inspektur yang dipersiapkan khusus untuk Kaito KID ini. Lampu utama sudah terputus dari lorong hotel itu. Menyisakan tangga yang menuju ke arah atas hotel di depan Aoko.

'Tidak! Gelap. Gelap.'

Tiga ledakan sekaligus menghantam badan hotel. Gelap menjadi teman Aoko kini. Tidak! Gelap itu teman yang buruk. Itu yang diulangnya. A-aku.. A-aku..

'Gelap! To-tolong!"

Dia.. Takut gelapkah? Setelah mengalami yang namanya gelap dan ledakan. Mau bagaimana pun, dia itu gadis biasa. Gelap tentu saja menjadi teman yang sangat menakutkan.

Ke bawah terlalu gelap. Bagi gadis sepertinya. Yah. Aoko berlari ke atas. Hanya itu yang ada di pikirannya. Terus berlari. Masa bodoh dengan dompetnya yang terjatuh. Tidak! Dia tidak peduli lagi!

Suara senjata minigun yang cepat itu dan suara kaca-kaca pecah itu kini menjadi melodinya. Ia hanya mendongakkan kepalanya. Seakan tak punya apa-apa lagi yang harus di perjuangkannya. Jika ibunya tahu, ia mungkin akan di bunuh oleh Phantom Lady yang merangkap ibunya itu. Hei, dia benar-benar akan terbunuh saat ini. Waktunya hanya tinggal menghitung saja, kan?

'BRAKK!'

Suara pintu yang di dorong– sangat keras. Mencapai gendang telinganya. Matanya langsung menatap seseorang di depan pintu atap itu. Tidak. Dia.. Gadis. Dan itu.. Tidak mungkin.

Dadanya sesak. Ia benar-benar sulit bernapas sekarang. Gelisah. Tidak. Sangat gelisah. Sesak. Benar-benar sesak.

'Aoko!'

Tidak. Gadis itu. Gadis itu. 'Tuhan. Kumohon, jadikan ini hanyalah sebatas mimpi buruk.'

.

"Ah! HEI! AKU DI SINI! POLISI! AKU DI SINI!"

Gadis itu melambaikan pada sebuah helikopter hitam yang sedang melayang di atas sana. Batin Kaito sudah tidak bisa menjerit lagi. Ingin rasanya di panggilnya gadis itu. Namun, suaranya. Suaranya sama sekali tidak ingin memperdengarkannya pada gadis itu.

"Siapa gadis itu?" Wanita yang bercode nama Chianti itu melihat gadis yang kini sedang melambai ke arah mereka. "Sepertinya dia menganggap kita sebagai polisi-polisi tak berguna."

"Bunuh." Desis Gin. Darah membunuhnya sangat panas sekarang. "Kalau tidak, dia akan membeberkan tentang kita. Aku yakin dia sudah melihat wajah kita." Ucapnya lagi. Chianti hanya terdiam lalu mengarahkan senjatanya ke arah gadis tak berdosa itu sekarang.

"Selamat tinggal, gadis kecil."

Kaito hanya diam. Sekarang. Padahal dia tahu kalau orang-orang organisasi itu akan membunuh gadisnya. Dia.. Harus bangkit. Harus bangkit dari mimpi buruk ini.

'DORR! DORR! DORR!'

'GREP!'

Sepasang tangan yang kekar tapi lembut, merengkuhnya. Mendorong tubuhnya menghindari timah-timah panas yang kini berterbangan di udara. Siap menjadi duri panas bagi sang gadis.

"A-ah.."

Hanya ucapan kecil itu yang keluar. Tubuh gadis ini bergetar. Takut. Ia merasakannya sekarang.

"Tenanglah. Kau aman sekarang."

Suara menenangkan yang amat sangat di kenalnya. Sakit sekali melihat gadis ini menangis. "Aku ada di sini."

Di peluknya lagi gadis ini. Tidak. Tidak ingin. Membiarkannya sendiri.

"DORR! DORR!"

Setelah 2 selongsong peluru itu tertembakkan, kesempatan bagi Kaito untuk beranjak. Ia menarik dirinya. Menjauhi sang gadis. Di cobanya untuk melihatnya.

"Kau ti–"

"Kau Kaito, kan?"

Pertanyaannya di potong oleh pertanyaan Aoko. Gadis ini memperhatikan iris Kaito yang berwarna sama dengan miliknya. Mencari-cari suatu kebohongan di matanya.

"A-Ao–"

'Sret.'

Di bukanya kacamata tunggal seorang KID. Tidak. Bukan Kaito KID. Kuroba Kaito saja yang ada di hadapannya kini.

"Kaito."

Gumamnya. Air matanya menyesak keluar. "Kau Kaito, kan?"

"Aoko."

"Ya, kan?"

Kaito hanya terdiam memandangi gadis yang baru saja di perisainya. Kacamata tunggal sudah tidak lagi di sebelah matanya. Tidak sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Dadanya kembali sesak. Tidak ada cara untuk menyembunyikan kenyataan yang sudah di ketahui. 'Mungkin, inilah saatnya.'

'DORR! DORR! DORR! DORR!'

Kaito melihat ke belakang. Orang-orang organisasi itu masih saja mencoba untuk membunuh mereka berdua. Kaito berdiri. Gadis di depannya pun berdiri. Kaito segera menarik tangan Aoko menuju suatu gudang aneh yang ada di atap. Menghindari peluru yang bertebaran seperti hujan asam.

Mereka berhenti di balik papan tebal dan kumpulan besi-besi tua yang kokoh. Kaito menyempatkan dirinya untuk mengatur napas.

"Kaito."

Aoko menatap Kaito. "Kau tidak apa-apa? Lenganmu. Luka itu.." Aoko mengelus lembut lengan Kaito yang terserempet peluru. "Karena aku.. Kaito jadinya.." Ia mulai terisak.

"Hei." Kaito memegang jemari Aoko yang lembut itu lalu mengembalikannya di atas pangkuan sang pemilik. "Ini bukan karena kau. Dan aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."

Lembut. Itulah yang dirasakan Aoko saat mendengar jawaban Kaito. "Ka-Kai–"

"Sekarang. Dengarkan aku baik-baik. Di ujung sana, ada mobil. Sepertinya bisa di pakai. Kalau tidak salah, itu hadiah, biasanya pasti ada kuncinya tergantung di sana. Kau pergilah ke sana. Dan–"

'Srep.'

Ucapannya lagi-lagi terpotong. Tangannya di genggam erat oleh sang gadis. Matanya menatap iris biru laut Kaito. "Kau akan ikut." Ucapnya. "Kau akan ikut bersamaku."

Kaito menatap gadis di depannya. Setiap ia ingin membantah, tangannya makin di genggam erat oleh sang gadis. "Ya. Aku akan ikut denganmu. Tapi nan–"

"Berjanjilah padaku. Sekarang! Kumohon, nee Kaito!" Aoko hampir saja setengah berteriak. Kaito akhirnya menghela napas panjang. "Ya. Sekarang. Ayo!" Kaito menarik tangan Aoko yang menggenggam tangannya sedari tadi. Menghindari peluru-peluru yang ingin mengenai mereka. Walaupun badannya sedikit perih untuk di gerakkan. 'Tidak. Tidak. Aku tidak ingin menunjukkannya depannya.' Batin Kaito.

"AOKO! MASUK!" Teriak Kaito. Mengeluarkan pistol kartunya dan menembakkannya ke tali-tali yang panjang di sekitar mereka.

'DORRR! DORR! DORR! BLARR!'

'Apa!?' Api. Itu ledakan yang lain. Gudang ini penuh dengan bahan peledak. Kaito tak habis pikir. Ia langsung berlari masuk ke mobil tanpa atap dan terbuka itu.

"Ka-Kaito. I-ini. Huwahh.." Gumam Aoko lalu tertidur pulas. Tangannya tiba-tiba terborgol. "A-apa ini!?" Begitu juga dengan tangan Kaito. Ia langsung menutup mulutnya. Untuk menghindari gas tidur yang memang sudah didesain oleh perusahaan mobilnya.

Setelah gas itu habis. Kaito langsung menghidupkan mobil. 'Aku mungkin bisa mati jika nekat menerobos api. Satu-satunya cara adalah memanfaatkan ledakan dari bahan peledak yang tersisa. Mungkin aku bisa memakai gantole nanti. Aku tidak bisa ceroboh sekarang. Apalagi ada dia.' Pikir Kaito sambil melihat Aoko yang tertidur akibat gas tidur yang secara tidak sengaja di hirupnya.

Kaito menggenggam setir kuat-kuat. Menumpahkan semua kegelisahan dan ketidakyakinannya. Tapi, waktu terus berjalan. Pedal gas pun diinjak. Mobil race itu melesat.

.

"Dimana bocah-bocah itu?" Chianti tanpak kesal sambil memperhatikan atap dengan lensa snipernya. "Mungkin mereka bersembunyi." Ucap Korn. Lelaki yang sepertinya lebih tua dari Chianti. "Tch."

"Tenang saja, Chianti. Sebentar lagi mereka menampakkan ekor mereka." Ucap Gin menyeringai. Vodka mengarahkan helikopter ke depan.

'WUSH!'

"A-APA!?"

Mobil race merah ranum itu melesat ke depan mereka. Mata Kaito menatap tajam mata pria berambut pirang panjang itu. 'Sekarang!' Batin Kaito lalu menembakkan kartu-kartunya ke arah peledak yang tersisa. Hitungan detik.

'3.. 2.. 1...'

'BOUM! BLARR!'

Gudang itu menjadi api semua. Tak ada yang tersisa. Bahan peledak itu sudah memakan semuanya. Mobil itu masih melayang. Kaito hanya bisa merutuk. Borgol yang memborgol tangannya dan Aoko masih terkait di mobil itu. Tidak. 'Sial! Kenapa ini tak bisa di buka!?' Rutuknya sambil mencoba melepaskan borgol itu.

Kaito tak habis pikir. Ia pun mengambil sesuatu yang mungkin berguna. Dan tiba-tiba saja ia menemukan sesuatu.

'BLARR!'

Lagi. Kembang api yang yang tidak–sangat indah ini tersaksikan. Lalu di gantikan dengan pemandangan gantole putih yang melayang di angkasa.

"Huft–" Ujarnya menghela napas panjang. 'Aku tidak percaya aku masih hidup sampai sekarang.' Batinnya tersenyum. '.. Mungkin gara-gara dia, ya?' Menatap Aoko yang masih ada di pelukannya. Tertidur pulas. 'Sepertinya efek gas itu masih belum hilang.'

'Ugh!' Lukanya masih terlalu perih. Di turunkannya gantole itu di dekat pepohonan yang rindang pada malam pukul 11. Di sandarkannya tubuhnya yang sudah terlalu lelah. Entah kapan di gantinya pakaiannya menjadi pakaian sehari-harinya yang di bawa ke hotel pada awalnya. Lagi-lagi, Kaito memandangi malaikatnya ini. Wajahnya yang tenang itu.

'Sial! Pandanganku..' dan bagi Kaito. Tidak ada lagi yang bisa dilihatnya.


Aoko's Pov

"Um.. Um.."

Aku mengerang sedikit. Mencoba mengumpulkan cahaya di mataku. Ku luruskan punggungku yang tersandar di batang pohon yang rimbun.

'Tring.'

'Eh? Borgol?'

Kulihat tangan kiri ku terborgol dengan tangan..

"Ka-Kaito!"

Aku hampiri tubuhnya yang tersandari di sisi lain batang pohon ini."Hei, Kaito! Kaito!" Kuguncangkan pelan tubuh itu. "Kaito! Kaito!" Tidak. Kumohon. Ka-Kaito..

"Krr.. Krr.."

Dengkuran halus itu terdengar. Wajahnya yang tenang saat tertidur itu menenangkanku. "Tidur? Hah." Aku pun kembali menyandarkan punggungku. 'Syukurlah.' Batinku. Dan aku melihat ke arah tangan kiriku yang terborgol. Wajahku memanas.

Ada tangan Kaito disitu. "Ka-Kai.."

"AOKO!"

Teriakan itu, aku langsung cepat-cepat menarik tangan kananku. Beberapa polisi dan ayah serta–

"Aoko – chan!"

–Hakuba – kun?

"Kau tidak apa-apa, Aoko?" Tanya ayah sambil menghampiriku. "Tidak. Aku tidak apa-apa. Tapi.." Aku melihat ke samping. "Apa? Kenapa Kaito ada di sini?" "Karena dia Ka–" Ucapanku terhenti. "Karena dia..?" "Ka-karena dia, Kuroba Kaito." Ucapku sambil tersenyum kikuk. "Hah?" "AYAH! CEPAT BAWA KAITO KE RUMAH SAKIT! JANGAN DIAM DI SITU, DONG!" Teriakku. Ayah menutup telinganya sedikit. Lalu menyuruh para polisi untuk membawa Kaito.

Borgol itu di lepaskan dengan master key. Yah. Pergelangan tanganku sedikit memar. Tapi, bukan itu yang ku gelisahkan sekarang. Aku menatap pemuda yang berada di atas tandu itu. "Kaito.. Gomen."

"Aoko – chan. Daijoubu?" Hakuba menghampiri ku. "Ya. Hakuba – kun, kau yang temukan kami di sini?" Tanyaku. Dia menegakkan kepalanya. "Ya, aku melihat dompetmu yang jatuh di tangga darurat. Sepertinya menuju ke atas. Karena di bawah gelap. Aku yakin kau pasti pergi ke atas. Saat aku pergi ke atas, tidak ada orang hanya ada helikopter aneh. Sepertinya bukan punya polisi. Tapi, saat itu. Mereka sudah melarikan diri. Sesaat itu juga, aku melihat mobil merah melaju jatuh. Dan kalau tidak salah, di belakang hotel ini hutan. Jadi aku meminta polisi dan Nakamori – keibu untuk melihat di hutan." Jelas Hakuba. Aku hanya tersenyum. "Syukurlah, kalian baik-baik saja." "Nee, arigatou Hakuba – kun." Ucapku tersenyum.

Ia mengangguk lalu memberiku sebotol air mineral. "Minumlah, kau pasti haus." "Ya, terima kasih." Aku membuka segelnya lalu meminumnya. Ya, aku begitu haus. Karena semua ini.

"Aoko, Ayah harus ke kantor dulu." Ucap ayahku. "Namamu Hakuba Saguru, kan? Kau bisa antar Aoko pulang?" "Baiklah." Jawab Hakuba. "A-aku mau ke rumah sakit dulu!" Ucapku. "Eh? Kau harus istirahat Aoko. Dan syukurlah kau tidak terluka. Jadi, istirahatlah di rumah." Jawab Ayahku. Aku menggeleng kuat. "Tidak! Aku mau ke rumah sakit! Aku mau melihat Kaito, Otou san." Ucapku.

Ayah terdiam. Sepertinya ia tidak begitu setuju. "Kalau begitu, mungkin aku bisa mengantarmu ke rumah sakit Aoko – chan. Kau bisa istirahat di sana." Ujar Hakuba akhirnya. "Saya bisa antar Aoko – chan pulang nanti, keibu." Ayah berpikir sebentar. "Baiklah. Tapi, kau harus istirahat." Lalu ayah berjalan masuk ke dalam mobil patroli. Aku menghela napas panjang. "Hakuba – kun, terima kasih, ya." Ujarku. Ia tersenyum. "Ayo. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."


Author's Pov

"Bagaimana ini, kak? Mungkin mereka sudah membeberkan tentang kita." Ucap Vodka sambil memperhatikan badan jalan. Gin hanya membentuk seringai di bibirnya. "Mungkin kali ini mereka lepas. Tapi, tak lama lagi mereka akan kembali ke atas genggaman kita." Ucapnya.

"Wah wah, sepertinya kalian tidak berhasil menangkap pencuri itu, ya?" Suara wanita muncul dari belakang. Gin meliriknya melalui ekor mata. "Tch, bukankah aku menyuruhmu untuk menyelidiki tentang detective itu, Vermouth?" Tanya Gin. Wanita itu menyulut rokoknya. "Ya, aku sudah menyelidikinya. Sepertinya dia sudah mati. Tapi ada beberapa artikel dan bukti yang menyatakan dia masih hidup. But, sebagian besar semua itu mengatakan bahwa, that detective is dead." Ucapnya tenang sambil menghembuskan asap dari bibirnya.

"..." Gin terdiam. Masih memandangi wanita yang dipanggilnya Vermouth itu dari ekor matanya. ".. Apa kau tidak menyembunyikan sesuatu, Vermouth? Tentang detective itu?" Tanyanya. "Sudah kubilang berulang kali, aku tidak menyembunyikan apa-apa tentang–" Ucapannya terhenti saat moncong pistol itu mengarah ke depannya. "Kau tahu jika kau membohongi kami.." Ucapnya. Vermouth terdiam. "Aku sudah mengatakannya, kalau aku tidak mengetahui apa-apa." Ucapannya masih terdengar tenang. "Baguslah." Gin menarik pistolnya.

"Hei, Gin! Dimana tempat selanjutnya?"

"Di tempat yang sudah di tentukan Tuhan untuk kita, Chianti."

"Baiklah."

'Ya, di tempat dimana surga telah berpihak pada kita.'


"Sepertinya, Kaito – san hanya menderita luka-luka di tubuhnya. Ada beberapa yang menembus. Tapi, kami sudah keluarkan peluru itu. Dan sekarang Kaito – san hanya perlu beristirahat." Ucap salah satu perawat sambil membaca data-data pada lembaran kertas yang di pegangnya. "Arigatou Gozaimashita!" Ucap Aoko sambil membungkukkan badan. Perawat itu pun pamit dan keluar meninggalkan tiga orang dalam ruangan yang berbau obat itu.

"Nah, Aoko – chan. Apa kau mau pulang sekarang?" Tanya Hakuba. "Aku akan pulang nanti, Hakuba – kun. Maaf merepotkanmu." Jawab Aoko. "Baiklah. Kalau begitu, kau bisa menghubungiku nanti." Ucap Hakuba lalu berjalan keluar. "Jaa." Aoko hanya mengangguk pelan melihat Hakuba pergi. Lalu ia berjalan mendekati Kaito. Dan duduk di kursi samping ranjang pemuda itu.

"Kaito.."

Aoko mengelus pelan pipi Kaito yang hangat itu. "Kenapa kau menyembunyikan hal ini? Semuanya, tentang KID dan organisasi itu. Apa kau.. Tidak percaya padaku?" Mengenggam tangan Kaito yang dialiri selang tipis. "Dan sekarang kau terluka karena aku. Maafkan aku, Kaito. A-aku memang.. hiks." Air mata itu tidak tertahan lagi. Jatuh membasahi tangan yang tergenggam kuat.

"A-aku.."

"Hei."

"Eh?"

Aoko membulatkan matanya. "Ka-Kaito.." Bukannya apa, air matanya makin deras. Tangan sang pemuda menggapai sang gadis. Menyeka butiran bening itu dengan jarinya. "Kau tidak perlu menangis. Dasar cengeng." Ledek Kaito. Tapi, Aoko tidak bisa balas meledeknya. Ataupun melemparinya dengan senjata andalannya.

"Aku .. Bukannya tidak mempercayaimu. Aku tidak ingin kau terluka, Aoko." Ucapnya pelan. Mata Aoko makin membulat. Lalu memeluk sang pemuda di depannya. "BAKA! BAKAITO! A-aku.."

"Aku menyukaimu, Ahouko."

Aoko terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa lagi mengatakan apa-apa. "A-aku.." Lalu tangan itu mengelus lembut rambutnya. "Maafkan aku membohongimu selama ini." Ucapnya lembut. "Ka-Kaito.."

Aoko segera melepaskan pelukannya. Pertamanya, Kaito sedikit terkejut. "Ma-makanya Kau tak boleh terluka! Bakaito! Ka-karena a-aku menyukaimu, Ba-Bakaito!" Ujar Aoko. Kaito hanya tersenyum. "Ya, aku sudah tahu itu." Ucapnya kalem. "A-APA!?" Wajah Aoko lebih memerah –walaupun tadi memerah–, "TI-TIDAK, KOK!" Teriak Aoko. "Bohong kok." Ujar Kaito lagi.

Aoko lalu mengembungkan pipinya–dengan rona merah itu. Kaito terkekeh pelan.

Fin?

.

.

A/N;

YEAHH! Akhirnya saya bisa update chapter 2 yang KATANYA adalah chater terakhir. Dan kenapa saya buat setelah Fin itu ada tanda tanya? Oh, itu mah. Saya kurang puas sama endingnya :" Kurang greget. Jadi, saya ada buat.. OMAKEnya! Hehe. ada hubungannya dengan cerita tapi tidak begitu berpengaruh. Dan alur ceritanya itu jatuh pada KaiAo.

Terima kasih pada reviewer dan yang sudah follow dan favorite. Saya senang banget ahh. Terima kasih!

Oke. saya bakal update entah kapan. Tapi, saya serius saya udah selesai buatnya. Btw, IHK fic itu updatenya tak beraturan :V Saya kena WB berkepanjangan hshs. Terima kasih juga yang sudah kasih review ke IHK yah.

Laffual!

Tiramisuchan30