A/N:
tampaknya memang banyak sekali kekurangan di fic saya sebelumnya.
mohon dimaklumi..
m(_ _)m
saya sendiri masih bingung dengan akun ffn saya ini..
(_ _)a
hehehehe
semoga chapter ini lebih bagus dari sebelumnya..
##########################
Chapter 2: Let's start fighting!
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke/Naruto
Rate : T
Warning : OOC, yaoi
Summary : Naruto berniat menempati rumah peninggalan orangtuanya. Namun, dia bertemu seorang laki-laki di sana.. Siapakah laki-laki itu?
########################
Setelah kericuhan di pintu depan. Saat ini mereka sedang duduk santai di ruang tamu. Errr-mungkin tidak terlalu santai juga, mengingat pandangan mata mengerikan milik Sasuke dan Naruto terus tertuju pada Kakashi.
Sedangkan orang yang dipandang, malah asyik berkutat dengan sebuah novel. Lama juga, sebelum akhirnya Kakashi menyadari tatapan-tatapan itu. Dia pun menutup novelnya. "Aku harus cerita ya?", tanyanya bodoh.
Dan tentu saja hanya dibalas dengan lirikan tajam dari dua pria yang tidak sabaran itu.
"Yare-yare!", mulainya dengan malas. Jeda panjang sebelum dia melanjutkan, "Begini, rumah ini memang milik Sasuke, Naruto."
Mendengar itu, Sasuke tersenyum puas melirik Naruto. Sementara Naruto bangkit dan menjawab keras, "Tapi ini rumahku, Kakashi! Kau sendiri yang dulu bilang begitu. Aku bahkan punya sertifikatnya!"
Sasuke melengos, "Hn, Dobe, tidakkah kau dengar ucapan Kakashi-san barusan? Ini RUMAHKU."
Naruto hendak membalas lagi ketika akhirnya Kakashi berkata, "Tapi ini juga rumah Naruto, Sasuke."
Kedua mata yang berbeda iris itu terlihat bingung. Mereka menunggu penjelasan selanjutnya dari Kakashi.
"Tidakkah kalian lihat di sertifikat kalian masing-masing? Rumah ini milik kalian berdua.", tandas Kakashi pada akhirnya.
"Apa maksudmu Kakashi-san?", tanya Sasuke setelah terdiam cukup lama. "Bukannya dulu ayahku sudah membeli rumah ini?"
Kakashi menghela nafas keras, "Aku sendiri tidak tahu apa yang diinginkan oleh dua paman tua itu. Ayahmu, Naruto, bersikeras hanya mau menjual sebagian rumah ini saja. Aku sendiri tidak tahu apa alasan mereka sehingga membuat kesepakatan gila seperti ini."
"Lalu, rumah ini milik siapa?", Naruto bertanya pelan.
Kakashi mengulurkan tangan ke tasnya. "Tentu saja milik kalian. Tapi ada sedikit pembagian. Uhm, kutaruh dimana ya dokumen itu?", Kakashi mulai membongkar isi tasnya. Tak lama, dokumen-dokumen berserakan di lantai ruangan itu.
Setelah penantian yang terasa berabad-abad, dan ruangan yang kian berantakan, Kakashi pun menemukan dokumen yang dimaksud.
"Ehm, ehm, baiklah, aku akan membacakan peraturannya.", katanya dengan nada sok penting.
"Jangan bertele-tele Kakashi.", suara Naruto terdengar penuh ancaman. Jujur, dia lelah. Harapannya untuk hidup dengan tenang dan jauh dari "mereka", jelas tidak akan terwujud dengan mudah.
"Uh, oke. Jadi, kamar-kamar di lantai 2, adalah milikmu Naruto, sementara kamar di lantai 1 milik Sasuke. Namun, dapur, ruang tamu, ruang baca, ruang keluarga, loteng, halaman, garasi.."
"Cukup-cukup, tak perlu terlalu detail, aku mengerti.", Sasuke memotong Kakashi.
"Yah, pokoknya semua itu milik kalian bersama.", tandas Kakashi akhirnya.
"Berarti aku harus tinggal dengannya, begitu?", Naruto menunjuk Sasuke dengan wajah horor.
"Sayangnya iya. Kecuali kalau kau memutuskan mencari penginapan."
"Itu mungkin lebih cocok untukmu, Dobe. Pergilah, kurasa kau tak akan betah tinggal di rumah kumuh ini.", Sasuke menyarankan dengan cepat.
"Hell no! Aku akan tinggal di sini. Walaupun harus seatap dengan orang yang menyebalkan sepertimu, aku akan tetap tinggal di rumah ini, Teme!", Naruto menjawab tegas. "Bisa kita saling memperkenalkan diri dengan wajar? Karena sepertinya kita akan tingal bersama untuk waktu yang belum ditentukan. Aku Naruto, Naruto Uzumaki.", Naruto mengulurkan tangannya.
"Sasuke, Sasuke Uchiha, Dobe. Kuharap kau betah tinggal di sini, Naru-Dobe.", Sasuke yang tidak membalas tangan Naruto, berucap penuh ancaman.
Setelah saling bertukar tatapan mata mematikan, mereka berbalik menatap Kakashi yang sekarang bangkit berdiri. "Baiklah, tampaknya semua sudah diputuskan. Kalau begitu, aku pamit dulu. Hubungi aku kalau kau butuh sesuatu Naruto." Katanya mulai melangkah meninggalkan ruangan itu. Diikuti Sasuke yang hendak mengantarnya sampai pintu.
"Kalau begitu, bisa aku minta bantuanmu, Kakashi?", ucapan Naruto membuat 2 pasang mata itu menoleh kembali padanya. "Ehm, kau tahu kan kalau aku ini masih 16 tahun?" Naruto menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung. Dia tak terbiasa terlihat lemah seperti ini. "Ano, bisakah kau mencarikanku sekolah? Tidak perlu yang terlalu bagus, yang penting aku tidak harus berada di rumah sepanjang hari.". Naruto menjelaskan dengan ragu-ragu.
Kakashi menyeringai, "Tentu Naruto. Besok aku akan mengabarimu lagi. Ada lagi?"
Naruto menggeleng. "Baiklah, sampai besok kalau begitu." Dengan langkah lebar, Kakashi pun meninggalkan dua pemuda beda usia itu. Keheningan yang mengambang benar-benar terasa canggung.
Dengan rikuh, Naruto bangkit menuju kamarnya di lantai atas. "Ano, aku ke atas dulu." Dan tanpa menunggu persetujuan dari Sasuke dia, berlari melewati tangga dengan cepat.
Naruto membuka pintu kamar, dan langsung menghempaskan diri ke tempat tidur. Badannya letih, otaknya terasa penuh menerima semua kejutan ini.
Tinggal serumah dengan laki-laki yang sangat menjengkelkan? Itu adalah hal terakhir di kamusnya yanng terpaksa dia terima.
Hanya untuk kali ini tentu saja.
Mengingat-ingat jam-jam yang dia habiskan dalam lamunan indah tentang hidup damai, teman baru, dan lingkungan baru, hal ini jelas yang paling indah.
Ya, paling indah.
Kalau definisimu tentang indah sebanding dengan apa yang Naruto pikir adalah Neraka.
"Sial!", makinya pelan dan mendesah lelah, semuanya semakin rumit untuknya.
"Apalagi yang harus ku terima, Tuhan?", bisiknya sebelum akhirnya kantuk membawanya pada tidur tanpa mimpi.
Sasuke sendiri masih belum mengerti kenapa ini terjadi padanya. Hidupnya yang aman dan damai, tiba-tiba rusak hanya karena badai bernama Dobe itu.
Sungguh tidak bisa dimaafkan.
Tapi dia menyadari ada kesedihan di mata sewarna langit itu.
Dan bukan hanya hal itu yang dia tangkap.
Dia sedikit tidak yakin,
Tapi memang ada bias ketakutan yang samar di iris itu.
"Sebenarnya masalah apa yang akan dibawanya pada hidupku?", dengusnya kesal.
"Ini tidak akan lama Dobe.", seringainya kejam. "Aku akan membuatmu angkat kaki dari rumahku ini."
Ya, tak ada Dobe yang boleh berkeliaran di sekitar seorang Sasuke Uchiha.
Apalagi Dobe yang penuh dengan masalah seperti-Nya.
Sinar mentari yang menerobos sela-sela tirai, membangunkan Naruto dari tidur. Dia mengerjapkan mata. Sedikit panik saat menyadari suasana yang berbeda dari kamarnya. Butuh beberapa saat sebelum dia ingat.
"Ah, ya. Aku sekarang sudah di rumah."
Dengan perlahan, dia beringsut dari posisinya. Menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Setelah mencuci muka, dia menuruni tangga menuju dapur.
Sempat mengerling ke arah jam, Naruto tahu bahwa dia bangun sangat siang. Sekarang sudah pukul 10 siang. Tapi badannya terasa segar, sudah lama dia tidak menikmati tidur senikmat itu.
Masih perlahan dan terlihat mengendap-endap, Naruto mengintip ke dalam dapur.
Sepi.
Tak urung rasa heran meghinggapinya.
Dia mengelilingi dapur. Melongok ke arah halaman belakang serta ruang tamu.
Nihil.
"Kemana Teme itu?", pikirnya bingung.
Dia kembali ke dapur.
Akhirnya dia menemukan sebuah memo tertempel di kulkas.
"AKU ADA URUSAN, BAKA-DOBE. JANGAN MERUSAK APAPUN! MAKAN APAPUN YANG KAMU MAU."
Naruto memandang memo itu dengan tatapan yang bisa membakar rumah.
"Aku bukan Baka-Dobe, Teme-Jelek.", umpatnya dalam hati.
Dia menatap memo itu sekali lagi sebelum melemparnya ke tong sampah.
"Setidaknya, aku akan membuatmu bangkrut dengan memakan semua persediaan makananmu Teme. Kau sendiri yang mengizinkanku. Jadi, jangan menyesal yaa~..", Naruto tersenyum-senyum.
Tangannya segera menuju ke kulkas, betapa terkejutnya dia saat membuka pintu kulklas.
Ternyata...
"Semoga kau sakit perut, wahai Dobe.", di tempat lain Sasuke mebayangkan Naruto memandang kesal makanan yang ada.
"Makanan menjijikkan seperti itu. Aku yakin kau akan kapok, Dobe.", katanya dengan seringai kejam.
Orang-orang di sekitarnya hanya bisa menatap heran dan ngeri pada sang Uchiha itu.
"Tok, tok."
Naruto yang sedang asyik dengan kesibukannya, sedikit terlonjak saat mendengar ketukan di pintu.
Dengan tergopoh-gopoh, dia berlari.
"Cklek.",
Saat menatap ke arah luar pintu, Naruto hanya bisa melongo melihat siapa yang datang.
^)TBC(^
