Warning :Gender Bender. Possible OOC.
"Hei, apa kau sudah dengar? Katanya kita kedatangan murid baru!"
"DI tengah semester seperti ini?"
"Iya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, dia sangat cantik! Aku tidak percaya ada gadis secantik itu hidup di dunia ini."
"Dearka."
"Aku sudah bisa membayangkan suaranya yang lembut itu berbisik di telingaku."
"Errm..Dearka."
"Ah, dia memang bidadariku."
"DEARKA ELTHMAN! Kalau kau memang sebegitu inginnya bertemu dengan murid baru itu, bapak dengan senang hati mengijinkannya. Silahkan kau berdiri di koridor sekarang juga."
.
Love Masquerade
© eL-ch4n
Chapter 2
"Roommate"
.
"103..105...107...109. Ah, 111! Akhirnya." Athrun sedang berjalan di tengah koridor untuk mencari di mana kamarnya berada. Dia tidak mungkin membawa barang-barangnya tersebut (sangat banyak sampai dia tidak percaya bahwa seorang wanita memerlukan barang-barang sebanyak itu) saat pelajaran hingga akhirnya dia memutuskan untuk memasukkannya ke dalam kamarnya. Dia menghela nafas ketika sudah berdiri di depan pintu yang terdapat papan bertuliskan nomor 111. Seharusnya sekarang semua murid sudah memulai pelajarannya, tapi karena memang sudah sifatnya untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar orang asing, maka Athrun mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sebentar!" teriak seseorang dari dalam ruangan tersebut. Hal ini mengejutkan Athrun. Ini berarti, teman sekamarnya masih berada di kamarnya, yang menurut pemikiran Athrun, sangat mustahil untuk terjadi karena saat itu pelajaran sudah dimulai. Jadi, antara teman sekamarnya tersebut membolos, atau sakit, atau mungkin telat bangun. Entah alasan yang manapun, Athrun hanya bisa menunggu sampai pintu dibukakan. Walau dia memiliki kunci kamar, dia tidak bermaksud menganggu teman sekamarnya itu yang mungkin sedang melakukan sesuatu.
Mungkin dia sedang berganti pakaian. Ketika pikiran itu melintas di pikiran Athrun, wajahnya bersemu merah. Tiba-tiba pintu terbuka dan Athrun memutuskan untuk melupakan pikiran aneh itu dari otaknya. Dia kemudian menatap gadis yang sama yang berdiri di depan gerbang tadi. Kalau dilihat dari dekat, rambutnya yang pirang terlihat berkilau seperti cahaya mentari. Matanya yang berwarna amber itu menunjukkan rasa semangat yang belum pernah dilihat oleh Athrun sebelumnya.
"Err..ada sesuatu di mukaku?" Cagalli, kalau Athrun tidak salah mengingat namanya, bertanya karena Athrun cukup lama menatap dirinya. Athrun kemudian merasa tersentak dan dengan segera tersenyum kepada Cagalli.
"Ah, tidak. Aku hanya berpikir. Bukankah seharusnya pelajaran sudah berlangsung?"
Cagalli menghela nafas. "Iya, pelajaran memang sudah berlangsung." Ketika Athrun bermaksud bertanya lebih lanjut, Cagalli sudah menyelanya. "Dan jika kau mau bertanya kenapa aku tidak berada di kelas maka jawabannya adalah, aku minta ijin pada Natarle, kau tahu, guru bahasa kita, agar aku bisa berada di sini saat kau memindahkan barang-barangmu."
"Kenapa?" Athrun bertanya dengan hati-hati agar Cagalli tidak tersinggung.
"Tentu saja karena aku tidak mau kau membongkar barang-barangku tanpa sepengetahuanku! Dan lagi, aku juga ingin bertemu dengan teman sekamarku. Apakah itu sudah cukup jelas?" teriak Cagalli.
Melihat ekspresinya, Athrun tidak bisa untuk tidak tertawa keras. Sudah lama dia tidak tertawa dan yang dia perlukan hanya ekspresi gadis yang baru ditemuinya untuk membuatnya tertawa sekeras ini. Tentu saja hal ini membuat Cagalli bertanya-tanya. Dia menatap Athrun dengan tatapan heran seolah-olah Athrun adalah orang yang paling aneh di dunia ini.
"Maaf, aku hanya merasa bahwa kau ini lucu."
"Yeah, whatever." jawab Cagalli dengan sarkasme. Athrun kemudian tersenyum kecil. Dia mengulurkan tangannya.
"Alexa Zala." ujar Athrun pelan.
.
.
"Alexa Zala."
Pagi tadi, sebelum memasuki gerbang, Cagalli sudah merasa bahwa hari Senin itu akan menjadi hari yang berbeda. Dia baru tahu bahwa firasatnya benar saat dia hendak memasuki kelas bahasa, Natarle memanggilnya dan menyampaikan pesan dari Ramius, kepala sekolah Archangel, bahwa dia mendapat teman sekamar dan bahwa dia boleh untuk ke kamarnya membantu teman sekamarnya. Cagalli mengangguk sopan dan melambaikan tangan kepada Lacus sebelum berlari menuju kamarnya sambil memegang buku pelajaran pertamanya.
"Padahal dia boleh saja meletakkan bukunya terlebih dahulu. Dasar." ujar Lacus yang melihat antusiasme temannya. Dia memberikan senyuman lembut ke arah punggung Cagalli yang sekarang sudah tidak terlihat sebelum kemudian disuruh masuk oleh Natarle.
Semenjak dia berada di Archangel, ini adalah ketiga kalinya, dia mempunyai teman sekamar. Teman sekamarnya yang pertama adalah Meyrin Hawke. Jangan bertanya tentang gadis berambut maroontersebut karena Cagalli tidak bisa menyebut namanya tanpa amarah. Meyrin bukan hanya gadis centil, sok manja, tapi juga seorang gadis yang merasa bahwa kehidupan selalu berputar tentang dirinya. Mulanya, Cagalli menganggap gadis itu cukup manis dan sepertinya bisa diajak berteman. Mulanya memang demikian, tapi seiring berjalannya waktu, sosok asli Meyrin mulai terkikis perlahan. Betapa bahagianya Cagalli ketika Meyrin memutuskan untuk sekamar denganFllay Alster, mahasiswi tahun ketiga jurusan Jurnalistik.
Teman sekamarnya yang kedua dan yang paling lama adalah Lacus Clyne. Pertama kali melihat Lacus, Cagalli sudah mengetahui bahwa gadis berambut pink itu sangat lembut dan sepertinya bisa menjadi sahabat. Hal itu terbukti benar karena sampai sekarang mereka menjadi teman yang tidak terpisahkan. Jika memang demikian, mengapa sekarang Cagalli tidak sekamar dengan Lacus? Hal itu dikarenakan orang tua Lacus tidak mengijinkan putri semata wayang mereka untuk tinggal jauh dari mereka. Akhirnya, selama setengah tahun terakhir, Cagalli harus tinggal di kamarnya seorang diri. Dia memang suka sendiri, tapi terkadang dia menginginkan kehadiran seseorang di kamar tersebut.
Jadi, ketika Natarle memberi kabar tentang sekamarnya, sebagian hati Cagalli merasa senang, sebagian lagi tidak demikian. Karena dia dapat menduga siapa yang akan menjadi teman sekamarnya. Siapa lagi kalau bukan gadis berambut panjang biru kelam yang baru datang tadi pagi dan langsung menarik perhatian seisi universitas? Cagalli mudah berteman. Dengan sifatnya yang easygoing dan ceria itu, dia bisa berteman dengan mudah pengecualian untuk Meyrin, Fllay, dan kelompok mereka. Cagalli tetap merasa penasaran kenapa mereka sangat tidak suka dengan dirinya? Menurut Cagalli, dia tidak pernah melakukan apapun yang bisa membuat mereka kesal kepada dirinya.
Oke, kembali ke topik teman sekamarnya. Entah kenapa, menurut Cagalli, dia merasa bahwa gadis itu bukan gadis sembarangan dan Cagalli tidak tahu apakah dia bisa berteman dengan dirinya atau tidak. Cagalli menghela nafas. Semoga saja, pikirnya, dia tidak seperti Meyrin atau kelompoknya dan aku bisa berteman dengannya.
Dan menurut Cagalli, doanya terkabul. Setidaknya bagian dia –Alexa Zalaatau apalah namanya– tidak seperti Meyrin terkabul. Tapi, dia tidak tahu apakah bagian dia bisa berteman baik dengan teman sekamar barunya itu akan terkabul.
Dia masih menatap gadis yang berada di depannya dengan seksama. Dia baru pertama kali melihat warna rambut biru kelam seperti itu dan dia seperti merasa terhanyut ke dalamnya, terlebih lagi dengan warna matanya yang hijau. Belum pernah dia melihat hal seindah itu. Ketika dia memperkenalkan namanya pada Cagalli, Cagalli tetap mengawasinya dengan curiga. Siapa yang tahu bahwa gadis itu ternyata suruhan ayahnya?
Well, tapi kurasa tidak ada salahnya aku mencoba berteman dengannya. Sepertinya dia anak yang menarik.
Cagalli kemudian mengangguk dan menyambut uluran tangan tersebut. "Cagalli Yula Attha."
.
.
Monday, Archangel University, 07.45 a.m.
Setelah membantu Athrun untuk berberes-beres, Cagalli segera menunjukkan ruang kelas Athrun. Beruntung mereka mempunyai pelajaran pertama yang sama, bahasa, walau jurusan mereka berbeda, Athrun mengambil jurusan teknik industri, sementara Cagalli mengambil bisnis dan komputer. Tentu saja semuanya merasa antusias dengan perkenalan Athrun terutama para kaum Adam.
Athrun tidak begitu terbiasa untuk memperkenalkan dirinya, karena itu dia hanya memberikan informasi seperlunya saja seperti namanya.
"Baiklah, ada yang mau bertanya?"
Hampir sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi di ruangan kelas itu mengangkat tangan. Natarle kemudian menunjuk ke satu orang laki-laki berambut cokelat cepak.
"Ya, Martin?"
"Apakah Alexa sudah punya pacar?"
Kemudian terdengar siulan-siulan nakal di ruangan kelas tersebut dan semuanya menjadi ribut dan sedikit tidak terkendali. Tapi, untungnya Natarle bisa mengatasinya.
"Martin, ibu rasa itu tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Baiklah, perkenalannya ibu rasa sudah cukup. Ayo sekarang kamu duduk di tempat yang kosong." Athrun mengangguk sambil memeluk buku-bukunya. Dia memperhatikan bahwa tempat duduk yang kosong hanya ada di sebelah pemuda berambut hijau dengan tampangnya yang sangat manis seperti perempuan. Athrun tersipu, belum pernah dia melihat seorang lelaki semanis itu. Pemuda itu langsung tersenyum lembut kepada Athrun dan segera mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Nicole Amalfi."
"Alexa Zala. Panggil saja Alex." Dan kemudian Athrunpun duduk di sebelahnya dan mencatat apa yang dijelaskan oleh Natarle.
.
.
Monday, Archangel University, 12.45 a.m.
Sekarang adalah waktu makan siang dan terlihat bahwa para murid sedang mengantri di kantin untuk mengambil makanannya. Biaya universitas sudah termasuk dengan makanan sehari-hari, pagi, siang, dan malam. Jika ingin lebih, universitas juga sudah menyediakan tempat untuk membeli makanan lagi.
Di salah satu meja yang terletak di tengah, Cagalli, Lacus dan tiga orang lainnya sedang duduk. Mereka memilih untuk berbincang dulu daripada harus mengantri lama yang akan membuat perut mereka tambah lapar.
"Jadi Cagalli, kudengar kau sekamar dengan anak baru itu. Hmm..siapa namanya?" ujar seorang gadis berambut cokelat panjang yang duduk di seberang Cagalli dan di sebelah seorang gadis berambut pirang sama seperti Cagalli, tapi sedikit bergelombang.
"Shiho. Namanya, Alex. Geez, memangnya kau tidak mendengarkan dia apa saat perkenalan?" Cagalli mendesis pelan.
"Aduh Cagalli, kau seperti tidak tahu Shiho saja. Dia itu pasti tadi sedang bermimpi tentang lelaki pujaannya, hmm..siapa namanya ya? Yejak? Yezak? Ah, pokoknya semacam itulah." ujar satu-satunya kaum adam yang duduk sendiri di bagian tengah. Pemuda itu sukses mendapat satu pukulan di perutnya yang berasal dari gadis bernama Shiho tersebut yang duduk di dekatnya.
Yang lain hanya tertawa melihat hal tersebut. "Jahat sekali kalian memulai tanpa diriku." Auel, pemuda berambut biru muda yang berkenalan dengan Athrun tadi pagi, datang dan segera duduk di tempat kosong yang terletak di sebelah Cagalli.
"Auel-niisan!" ujar gadis berambut pirang yang wajahnya terlihat sedih tadi. Gadis tersebut bernama Stellar Loussier dan dia adalah adik dari pemuda yang bernama Auel Neider itu. Mereka memiliki marga yang berbeda karena orang tua mereka bercerai. Auel mengambil nama ayahnya sementara Stellar mengambil nama ibunya. Sungguh suatu kebetulan yang tidak terelakkan mereka bisa belajar di universitas yang sama.
"Stellar." Auel tersenyum lembut kepada Stellar, yang wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang mendapatkan mainan.
"Oke, kembali ke topik semula. Jadi, kau benar sekamar dengan Alexa Zala atau apalah namanya itu?" tanya Shiho dengan rasa penasaran di dalamnya.
"Ya ampun, Shiho. Memangnya kenapa dengan hal itu? Kau terlihat seperti seorang inspektur saja yang sedang menginterogasi tersangkanya." Cagalli tertawa pelan.
"Aku serius Cagalli. Aku kan cuma ingin tahu." Shiho memasang tampang kesal dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya untuk menunjukkan ekspresinya tersebut.
"Iya, benar. Dia sekamar denganku."
Mata Dearka langsung bersinar-sinar entah karena apa. "Wow, kau beruntung sekali Cagalli. Seandainya aku adalah wanita juga. Oh, ini berarti aku boleh dong sering-sering mampir ke kamarmu untuk bertemu dengannya?" kata Dearkka dengan nada bercanda.
"Boleh," ujar Cagalli pelan. Mendengar hal itu, Dearka serasa berada di langit ketujuh. "Tapi, satu kali pertemuan kau harus lari keliling lapangan 70 kali, bagaimana?" sambung Cagalli dengan memasang senyum 'iblis'nya. Dearka langsung menghela nafas panjang dan serasa ditarik kembali ke tanah.
"Dasar, tidak kapok-kapoknya juga kau ini Dearka." ujar Auel. "Kalian tahu? Gara-gara Dearka sibuk membicarakan anak baru itu, dia sampai tidak memperhatikan bahwa Pak Arthur sudah masuk kelas. Alhasil, dia harus berdiri di koridor selama pelajaran dengan ember dan, yah kalian tahulah."
Cagalli dan lainnya sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi dan akhirnya mereka tertawa sekeras-kerasnya menarik perhatian seisi kantin. Dearka yang menjadi bahan tertawaan hanya bisa malu dan wajahnya memerah seperti tomat.
Tiba-tiba saja suara sesuatu terbanting ke tanah terdengar membuat semua perhatian teralihkan ke sumber suara tersebut. Dan mereka semua melihat Athrun sedang berhadapan dengan Meyrin dan gengnya. Sepertinya gadis itu tidak sengaja bertabrakan dengan Meyrin yang sedang mengambil nampan berisi makanannya. Semua mata memandang ke arah mereka, ingin mengetahui kelanjutan adegan tersebut.
"Makanya kalau jalan pakai mata dong!" teriak Meyrin, gadis berambut maroon yang diikat dua, kepada Athrun yang masih menatap ke kakinya.
Kesal karena tidak digubris, Meyrin memutuskan untuk mendorong Athrun hingga terjatuh. Tapi, sebelum dia sempat melakukannya, Athrun sudah menghindar. Hal ini membuat Meyrin yang terpeleset dan terjatuh ke lantai. "Aduh, maaf. Tapi, aku tidak tahu bahwa kau ingin mendorongku." ujar Athrun dengan nada centil yang membuat seisi kantin tertawa.
"Wow, dia berani sekali menantang Meyrin ya?" Lacus berbisik pelan ke arah teman-temannya sementara teman-temannya mengangguk tanda setuju kecuali Cagalli menatap dengan seksama ke arah adegan heboh tersebut.
Satu orang teman Meyrin dengan rambut biru dan berkacamata membantu Meyrin untuk berdiri, sementara seorang lagi yang bernama Fllay memutuskan untuk berhadapan langsung dengan Athrun. "Cepat minta maaf!"
Athrun hanya bisa menatap mereka dengan bingung. Kenapa dia harus meminta maaf padahal dia tidak berbuat salah apapun? Dia selalu berjalan dengan hati-hati, terlebih dengan sepatu wanita yang sedang dipakainya yang membuat dia merasa tidak nyaman, dan dia juga tahu bahwa gadis bernama Meyrin itu tidak memperhatikan sekelilingnya karena tadi dia asyik berbicara dengan yang lain. "Kenapa aku harus minta maaf?" tanya Athrun dengan lembut dan wajah tak berdosa.
"Karena kamu telah berbuat salah dengan membuat bajunya kotor seperti itu!" gerutu Fllay.
"Err...aku cukup merasa bahwa itu bukan perbuatanku." jawab Athrun lagi dengan tersenyum lembut membuat semua kaum Adam di situ, kecuali Auel, termasuk Dearka, terbang ke langit ketujuh.
"Tsck."
Cagalli merasa kesal melihat adegan tersebut dan akhirnya memutuskan untuk bertindak. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah mereka. Lacus dan yang lain hanya bisa berharap kalau Cagalli bisa mengontrol emosinya dan semoga saja hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.
.
So much for a day.
.
Wew, sepertinya chapter kali ini kurang panjang ya? a_a Kasihan dikau Athrun, ckck..satu masalah belum selesai, masalah lain muncul. Semoga, di chapter berikutnya nasibmu sudah lebih baik XPP Akrhirnya, sesuai saran ofiai17, saya membuat nama Athrun menjadi Alexa Zala dengan nama panggilan Alex, jadi jangan merasa bingung kalo di chapter berikutnya saya akan berganti-ganti nama ya XDD
Semoga saja semuanya merasa puas dengan chapter ini. eL sungguh kaget waktu mendapat review sebanyak itu dan merasa senang bahwa semuanya menanti cerita ini. eL akan berusaha untuk mengupdate secara rutin. Tolong doakan semoga eL tidak banyak ulangan di sekolah ya XD karena udah kelas 3, jadi harus siap-siap neh..duh, belum UAN X(
Ok deh, eL mau balas anonym review ^^
nina :Oh, I'm sorry. It just that, it has been a very long time since I wrote in my own language and besides, I'm having a trouble in tranlsating it and I'm afraid that it might ruin the plot, so, yeah, I choose my own language instead of English, but I appreciate your advice. Maybe, if I have the time, I'll translate it ^^ Anyway, enjoy reading
Ka :Iya, duh, jadi pengen liat Athrun crossdress neh, pasti imut banget, kya XD
Athrun : Author sialan, kenapa harus aku melulu yang kau siksa? Udah dijadiin cewek, sekarang harus berhadapan ama sih Meyrin lagi. Malas banget.
alice zalattha
Cagalli : Wew, namanya keren. Gabungan nama Athrun sama namaku XD, sep2. Semoga eL bisa melanjutkan cerita ini tanpa dihalangi apapun..haha..
VhieHime
Athrun : Review yang unik, haha...
Cagalli : Apakah ini sudah secepat kilat? XP
Sweetiramisu
Dearka : What? Dia Athrun? Duh, Athrun, kenapa kau tidak jadi cewek aja seumur hidup. Aku pasti akan langsung menikahimu...*keep blabbering*
Milly : Dearka, kau bilang apa tadi?
Dearka : Milly? Tidak, tidak apa-apa.
Milly : Oh, kau yakin? Seperitnya tadi kau bilang kau ingin menikahi Athrun?
Dearka : Tidak kok. Tidak.
Milly berjalan pergi.
Dearka : Ini sih gara-gara Athrun cwantik banget. Duh, author kau harus cepatan update. Gimana nasibku dengan Milly? *pundung di pojokan*
Deathisme:
eL : He? Saya juga tidak tahu seh klo di cerita lain ada. Soalnya saya jarang liat dan saya merasa kasihan kalau Cagalli melulu yang jadi cowok, padahal dia kan cewek abiz XDD wow, review 2x _ iy neh, udh saya update..saya gak mau ngestuck deh kayak cerita saya yang lain. Moga2 saya ada waktu.
Best Regards untuk nina, Ka, alice zalattha, Ritsu-ken, ofiai17, Hiru-chan, mrs. Zala, VhieHime, Merai Alixya Kudo, sweetiramisu, Deathisme, Aihsire Atha
Alright, see u soon ^^
Luph u all,
eL-ch4n.
