Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

*Not own anything of Naruto.

*This story is originally made by me.


A Little Secret

Written by Shady (DeShadyLady)

Chapter 2 – Explanation (Penjelasan)


Make sure you fight for the future, not for the past.

Pastikan dirimu berusaha untuk masa depan, bukan masa lalu.


POV: Normal

"Um, maaf. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Ryouichi memecah keheningan.

"Eh, Um.. A-apakah benar kedua anak ini bermarga U-Uchiha?" balas Sakura tersadar dari lamunannya.

"Heh? Bagaimana Anda tahu hal itu?" ucap Ryouichi terkejut dengan apa yang ditanyakan wanita berambut merah muda itu.

"Iya. Aku dapat pastikan itu. Aku ibu dari mereka, namaku Kimiko. Ini anak sulungku, Uchiha Ryouichi. Dan yang tadi menyembuhkanmu adalah adiknya, Uchiha Shuichi. Mereka berdua saudara kembar." jawab ibu dari anak kembar itu sambil menepuk bahu Ryouichi.

"Ah, salam kenal." Ucap Ryouichi sambil membungkuk dan tersenyum tipis ke arah Sasuke dan Sakura.

Shuichi hanya diam, tapi dia juga ikut membungkukkan badannya untuk menunjukkan rasa hormat, meski dengan wajah datar.

"Mama menyebut nama lengkapku dan Shuichi? Siapa mereka sebenarnya?" tanya Ryouichi kepada ibunya. Ia benar-benar bingung dengan ibunya yang biasanya tidak seperti itu.

"Mereka keluarga Uchiha, nak." jawab Kimiko.

"Apa? Benarkah? Jadi masih ada keluarga Uchiha selain kita?" tanya Ryouichi. Ia kemudian mendapat jawaban anggukan dari sang ibu.

"Baiklah, Kimiko-san. Apa mereka benar-benar keturunan sah dari Uchiha? Mengapa mereka tidak mengenakan lambang Uchiha di belakang baju mereka? Maaf, mungkin ini tidak sopan. Tapi maksud saya, apakah benar ada darah Uchiha mengalir dalam tubuh mereka?" tanya Sakura lagi, ia sulit mempercayai apa yang ada di hadapannya saat ini.

"IYA. Papa seorang Uchiha. Ayah kandungku seorang Uchiha. Mengenai baju itu, memangnya harus setiap orang yang bermarga Uchiha memakai baju seperti itu? Kurasa aku akan menghilangkan aturan itu jika aku yang menjadi kepala keluarga atau kepala klan nantinya." ucap Shuichi tegas sambil memberi tatapan malas. Ia bosan dengan situasi menduga-duga seperti ini. Ia memang anak dari seorang Uchiha, itulah kebenaran dan kenyataannya. Shuichi kemudian mulau berpikir mengenai… baju? Entahlah, aku pernah melihat baju lama ayah di lemari ibu, ya memang ada lambang itu di bajunya. Tapi, apa hebatnya sih memakai baju berlambang kipas merah putih itu? Aku juga tidak masalah tidak memakai baju dengan lambang itu. Semua baju sama saja, yang penting 'kan hati. Aku benar-benar ingin menghilangkan aturan itu, batin Shuichi kesal, namun ia tetap mempertahankan wajah datarnya.

Ryouichi hanya dapat diam dan menggeleng melihat tingkah adik kembarnya itu, sungguh benar-benar kurang ajar, tapi mengenai baju Ryouichi setuju dengan kata-kata Shuichi, ia mungkin dapat membaca apa yang adiknya pikirkan saat ini.

"Siapa ayah kalian?" Sasuke angkat bicara.

"Umm…, aku tahu ini sedikit mengejutkan. Bagaimana jika kalian ikut ke rumah kami saja? Aku akan menjelaskan semuanya." tawar Kimiko, ibu dari kembar itu.

"Hn, boleh. Sakura, kau istirahat saja di rumah. Sarada, jaga mama ya." jawab Sasuke sambil memandang Sakura dan Sarada bergantian.

"TIDAK!" teriak Sakura dan Sarada bersamaan. Sasuke sedikit tersentak mendengar kedua wanita yang dicintainya meneriaki dirinya.

"Aku ikut, papa. Aku mau tahu kebenarannya." ucap Sarada.

"Ya, aku juga. Lagipula, aku bisa merasakan mereka tidak punya niat jahat. Dan, aku yakin aku sudah tidak apa-apa. Pengobatan Shuichi itu… berbeda dengan ninjutsu medis pada umumnya." ucap Sakura.

"Kedua anak ini memang punya bakat tersembunyi sejak lahir. Mungkin diturunkan dari ayah mereka. Hm, bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Aku bisa menyiapkan makan siang untuk kita semua." ucap Kimiko dengan senyum hangat pada Sakura.

Saat ini, Shuichi dan Ryouichi hanya dapat diam. Mereka berdua sedikit terkejut dengan kelakukan ibunya. Tiba-tiba mengajak orang yang tidak dikenal ke rumah mereka, ibu mereka tidak biasanya seperti ini. Tapi mungkin inilah yang terbaik, mengingat orang-orang ini juga merupakan keluarga Uchiha.

Sedangkan Sasuke yang mendengar betapa inginnya Sakura dan Sarada ingin ikut, hanya dapat pasrah kalau sudah berhadapan dengan keadaan seperti ini. Sangat sulit untuk mengatakan 'tidak'.

"Papa, boleh ya?" ucap Sarada sambil menatap Sasuke dengan matanya yang berbinar-binar.

"Ayolah, anata. Kau tahu bahwa istrimu tidak selemah itu 'kan?" ucap Sakura sambil memegang lengan Sasuke dengan erat, kemudian memandangnya dengan wajah memelas.

"Haaaah, iya iya. Kita berjalan pelan-pelan saja ya." balas Sasuke pasrah dengan keadaan.

"Tidak jauh dari sini 'kan?" sambung Sasuke, bertanya pada Kimiko.

"Tidak. Tidak terlalu jauh, dekat dengan sungai sebelah sana." jawab Kimiko sambil menunjuk arah rumahnya berada.

"Baiklah. Ayo." ajak Sasuke kepada Sakura dan Sarada yang memasang senyum puas karena keinginan mereka dituruti oleh sang kepala keluarga.

"Ryouichi, Shuichi, pimpin jalan ya." ucap Kimiko sambil menatap kedua anaknya dengan hangat.

"Hn." jawab Shuichi.

"Baiklah, ma." jawab Ryouichi.

Keenam orang itu berjalan bersamaan. Ada sedikit gejolak dalam hati Sasuke. Siapa sebenarnya ayah kedua anak ini? Jika ada Uchiha lain yang masih hidup, ia benar-benar bersyukur dan ingin segera menemui orang tersebut. Tapi kedua anak ini mirip Itachi, ah.. Sasuke semakin bingung dengan keadaan ini. Mungkinkah anak Itachi? Tapi Itachi tidak pernah memberi tahu dengan adanya istri ataupun anak saat ia akan meninggal, batin Sasuke. Kemudian ia tersenyum ketika melihat Sakura yang sedang asyik berbincang dengan Kimiko dan Sarada yang terlihat mulai akrab dengan dua anak kembar itu.

Sakura bertanya sedikit demi sedikit mengenai keluarga kecil ini kepada Kimiko. Tapi, Kimiko hanya memberi alasan bahwa semua akan terjawab begitu mereka sampai di kediaman Kimiko dan dua anak kembarnya itu. Sakura bercanda dengannya, begitu rahasiakah kehidupan mereka saat ini? Kimiko menjawabnya dengan tawa juga, tapi diakhiri dengan kata iya. Memang semua ia rahasiakan, kehidupan mereka selama ini sangat rahasia, karena itu adalah keinginan dari ayah kedua anak kembar ini.

Sarada berkenalan dengan kedua anak kembar itu, Ryouichi dan Shuichi. Mereka berdua memperlakukan Sarada layaknya adik kecil yang imut dan menggemaskan. Bahkan mereka bergantian mencubit pipi Sarada sambil tertawa. Meski tidak begitu suka pipinya dicubit, Sarada suka akan kehangatan ini. Kehangatan memiliki kakak, kehangatan memiliki saudara. Sarada juga bercanda tawa dengan mereka sambil bercerita mengenai pengalaman masing-masing.

"Nah, sudah sampai." ucap Ryouichi.

"Iya. Shuichi, buka pintunya, nak." ucap Kimiko.

Kimiko tersenyum pada arah ketiga anggota keluarga Uchiha itu, kemudian senyumannya itu dibalas senyuman manis dari Sarada dan Sakura. Sedangkan Sasuke hanya terdiam memperhatikan rumah sederhana di hadapannya ini.

'Crek Crek' Shuichi membuka pintu dengan kunci. 'Clek' lanjut Shuichi memutar knop pintu.

"Silahkan masuk." ucap Ryouichi.

Ketiga anggota keluarga Uchiha itu melepas alas kakinya dan memasuki rumah sederhana itu. Mereka dapat langsung melihat ruang tamu yang dilengkapi dengan sofa dan meja kecil didepannya, oh ada juga altar sembahyang di samping ruang tamu itu. Betapa terkejutnya mereka, dengan sesuatu yang terdapat di altar sembahyang rumah itu yang terletak di samping ruang tamu.

"I-itu.." gumam Sasuke tidak jelas.

"Lho? Itukan foto Itachi-jisan? Iya 'kan, papa, mama? Wah, disini ada juga foto bayi. Bahkan ada foto Itachi-jisan bersama Kimiko-basan." ucap Sarada sambil memutar kepalanya ke sekeliling ruang tamu.

"Eh, iya, Itachi. Pantas saja aku merasa pernah melihat Ryouichi entah dimana. Eh, tunggu, Jangan bilang kalian a-" ucapan Sakura tersela.

"Kalian anak Itachi?" tanya Sasuke dengan lantang dan menyela ucapan Sakura.

"Ya, itu papa kami. Ayah kandung kami." jawab Shuichi terus terang.

"Papa yang sangat kami sayangi dan kagumi, Uchiha Itachi." sambung Ryouichi.

Seketika mata Sasuke, Sakura dan Sarada membulat. Mulut mereka tidak dapat berucap, setelah mengetahui kenyataan yang begitu mengejutkan. Sasuke berusaha memasang wajah datarnya kembali, hal ini benar-benar sesuai dugaannya sejak awal karena melihat kedua anak ini sangat mirip dengan Itachi. Tapi, mengapa Itachi tidak pernah bercerita padanya?

"Kimiko, benarkah?" tanya Sasuke kepada Kimiko, raut wajahnya mulai menunjukkan ekspresi terkejut bercampur sedih.

"Um, Iya. Selama ini kami hidup diam-diam. Karena Itachi pernah bilang padaku bahwa jika aku tidak menemukan anggota klan Uchiha yang terakhir, maka hiduplah dalam diam dan bersembunyilah. Saat itu, aku tidak sempat bertanya mengapa. Aku hanya dapat menuruti perkataannya hingga saat ini karena aku sangat mencintainya dan aku percaya padanya. Aku rasa, anggota klan Uchiha yang terakhir...yang Itachi maksud.. adalah kau, bukankah begitu Uchiha Sasuke?" ucap Kimiko menjelaskan apa yang dilewatinya bersama kedua anak kembarnya selama ini.

"Kau tahu namaku? Maksudku, bukan karena Sakura menyebutnya?" tanya Sasuke.

"Iya, aku mungkin tahu segala apa yang Itachi tahu tentangmu. Itachi terus bercerita tentangmu. Bahkan aku mungkin tahu kebiasaanmu sejak kecil, hehe. Ia mengatakan bahwa kau adalah adik yang sangat ia sayangi, adik yang tiada duanya di dunia ini. Ia ingin melindungimu dari seluruh bahaya, dan bahkan ia bilang padaku bahwa jika aku menemukanmu seorang diri, aku harus merawat dan menjagamu. Tapi, jika dirimu sudah memiliki keluarga, maka ia akan sangat bersyukur melihatmu bahagia." jawab Kimiko sambil tersenyum.

"Nii.. Nii-san.." gumam Sasuke sambil tertunduk setelah mendengar penjelasan Kimiko.

"A-anata.." Sakura mengerti perasaan suaminya, ia segera mendekati suaminya itu dan menggenggam erat lengannya.

"Sakura, aku keluar sebentar." ucap Sasuke.

"Permisi." sambung Sasuke sambil menatap Kimiko. Kemudian Sasuke berjalan keluar, ke arah belakang rumah itu.

"Tu-tunggu, anata! Sarada tetaplah disini, ya." ucap Sakura berusaha mengejar Sasuke dan menyuruh anaknya untuk duduk dan menunggu.

"Baiklah, ma. Aku mengerti." jawab Sarada. Sarada cukup mengerti dengan apa yang dirasakan ayahnya itu, mungkin jika ia adalah ayahnya, ia akan bertingkah seperti itu juga.

Kimiko terdiam dan sedikit terkejut melihat keadaan itu.

"Papamu kenapa? Tidak dapat menerima kenyataan?" tanya Shuichi dengan spontan.

"Tidak, bukan begitu. Papa itu sangat menyayangi kakaknya, ayah kalian. Mungkin ia mengingat kejadian masa lalu, sehingga ada kesedihan yang tidak dapat ia tahan." jawab Sarada.

"Ah, apakah aku salah bicara? Aku akan minta maaf nanti." Ucap Kimiko merasa bersalah atas ucapannya sambil tersenyum lembut pada Sarada.

"Tidak, Kimiko-basan. Papa memang seperti itu kalau sudah membahas mengenai Itachi-jisan." balas Sarada.

"Aku tidak tahu kalau ayah punya adik, ma?" tanya Ryouichi ingin tahu.

"Ah, iya! Aku juga tidak tahu hal itu, mama. Bisa mama jelaskan mengapa mama tutupi semua ini?" sambung Shuichi yang tak kalah penasarannya dengan Ryouichi.

"Ya, maaf tidak memberitahu bahwa kalian punya paman. Ini semua keinginan mendiang ayah kalian, nak. Kalian patuh pada ayah 'kan? Peraturan itu tertulis di warisan ayah kalian. Aku hanya mengikutinya." jawab Kimiko, menatap kedua anak kembarnya dalam-dalam.

"Warisan ayah? Yang mana?" tanya Shuichi heran dan sedikit memaksa dengan nada bicaranya yang menekan.

"Seminggu lagi, seminggu lagi saat kalian berulang tahun, mama akan memberinya pada kalian. Bersabar ya?" jawab Kimiko.

"Jadi, mama simpan sendiri selama ini?" tanya Ryouichi yang tidak kalah penasaran.

"Papamu itu membuat surat warisan untuk kita semua, sayang. Mama hanya membaca surat warisan untuk mama yang boleh mama baca setelah kalian berumur 5 tahun. Dan kalian akan dapat membaca surat yang ditulis ayah saat kalian berumur 17 tahun. Ia bahkan membuat surat warisan untuk Sasuke, istri Sasuke dan juga anak-anak Sasuke dan ia tambahkan 'jika punya' dalam kurung di bagian belakang surat tersebut." ucap Kimiko menjelaskan apa yang selama ini Itachi titipkan padanya.

"A-apa maksudnya -jika punya? Apakah menurut Itachi-jisan, papa tidak akan menikah dan punya keluarga seperti saat ini?" tanya Sarada, otak jeniusnya mulai berputar.

"Entahlah, Sarada. Mungkin ada sesuatu dari masa lalu. Kurasa itu tidak penting lagi bukan? Aku bisa melihat cinta papa dan mamamu itu begitu besar, dan mereka juga sangat menyanyangimu." jawab Kimiko.

Kedua saudara kembar itu, Ryouichi dan Shuichi, tidak dapat menyimpan kekesalan pada ayah mereka. Ya, menurut mereka apakah tidak keterlaluan menyimpan surat itu selama 17 tahun? Sedangkan mereka tergolong anak jenius yang sudah bisa membaca dengan baik sejak umur 4 tahun. Tiba-tiba, Ryouichi mendekati altar yang dilengkapi dengan foto Itachi itu, ia melengketkan kedua telapak tangannya dan mulai berucap. Adiknya, Shuichi, juga mengikuti gerakan kakaknya itu.

"Baiklah, papa. Kau mau membuatku penasaran sampai umurku genap 17 tahun? Syukurlah mama baru mengatakannya sekarang, aku hanya perlu menunggu 1 minggu. Mama benar-benar sangat mencintaimu, ya? Menuruti semua perkataanmu. Untung saja kau pilih mama yang baik hati sebagai istri, kalau tidak, kurasa aku sudah mati penasaran, papa." ucap Shuichi di depan altar ayahnya.

"Kali ini aku setuju dengan baka otouto-ku, papa. Maaf tidak sopan, tapi aku juga penasaran dengan apa yang akan papa sampaikan padaku. Mengingat papa yang hanya menjumpaiku sekali saat aku masih bayi dan itu pun dalam wujud setengah manusia, kata mama. Aku mungkin tidak tahu apa yang papa katakan, tapi aku dapat merasakan papa sangat menyanyangi kami bertiga, terutama mama. Bolehkah aku tahu rahasia itu sebelum aku berumur 17 tahun, pa? Ryou benar-benar penasaran sekarang." sambung Ryouichi yang mengikuti ucapan adiknya.

"Hei, kalian! Tidak boleh mengatai papa seperti itu, cepat minta maaf!" ucap Kimiko sedikit berteriak kepada kedua anaknya itu.

"Baiklah, maafkan Ryouichi dan Shuichi, pa. Aku dan adikku hanya penasaran." ucap Ryouichi, ia mengakhiri ucapannya dengan membungkukkan badan.

"Maafkan kami, papa." sambung Shuichi yang juga membungkukkan badannya.

"Sudah, jangan marahi ayah yang kalian sayangi itu. Ayo, bantu ibu siapkan teh untuk tamu-tamu kita. Ibu akan mulai memasak makan siang. Persilahkan Sarada duduk. Dan, sambil menunggu ji-san dan ba-san kalian kembali, kalian dapat berbincang dengan Sarada." ucap Kimiko memerintah kedua anaknya itu.

"Iya, ma." jawab Ryouichi, ia segera pergi ke dapur untuk membuat ocha hangat.

Kimiko tersenyum, anak sulungnya memang selalu bisa diandalkan. Yang bungsu juga penurut, hanya saja kadang sedikit malas dengan urusan dapur. Kimiko terkekeh melihat Shuichi yang memilih mempersilahkan Sarada untuk duduk di ruang tamu. Sungguh, anak laki-laki sejati yang tidak ingin berurusan dengan dapur, batinnya. Kimiko pun berjalan masuk ke dapur menyusul Ryouichi.

"Sarada, silahkan duduk. Mau bicara tentang apa?" tanya Shuichi, ia tersenyum tipis pada Sarada.

"Apa ya? Mungkin mengenai masa kecilmu, Shuichi-niisan?" jawab Sarada sambil duduk di salah satu sofa ruang tamu itu.

"Hn. Tidak ada yang menarik." ucap Shuichi yang mengambil tempat duduk pada sofa yang berseberangan dengan Sarada.

"Benarkah? Oh ya, mengenai ninjutsu medis tadi, dimana nii-san mempelajarinya? Apakah nii-san juga masuk akademi ninja?"

"Tidak."

"Heh? Hm, pantas aku tidak pernah melihat nii-san. Jadi ninjutsu itu nii-san pelajari dimana? Apakah ada yang mengajarimu?"

"Sudah bisa sejak lahir."

"Hah? Jawaban macam apa itu?" ucap Sarada tidak dapat menerima jawaban asal-asalan.

"Tanya saja mamaku jika tidak percaya. Sejak lahir tanganku bisa menyembuhkan luka dan dapat merasakan perasaan orang lain, hanya dengan menyentuh. Dan seiring bertambahnya usiaku, aku melihat beberapa orang memakai ninjutsu medis. Kemudian aku tiru mereka, nah, jadilah aku yang sekarang dapat menggunakan ninjutsu medis." jawab Shuichi jujur dan seadanya.

"Tidak masuk akal."

"Memang. Aku juga tidak meminta bakat ini, Sarada."

"Hei hei, apa yang kalian bicarakan?" tanya Ryouichi yang datang dengan nampan berisi teko dan beberapa gelas.

"Ninjutsu medis yang dilakukan Shuichi-niisan." jawab Sarada.

"Eh? Dia melakukan itu dihadapan kalian tadi?" ucap Ryouichi sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil depan sofa.

"Iya, dia menolong mamaku. Bahkan katanya, mamaku sedang hamil. Benarkah itu?" ucap Sarada.

"Kurasa benar. Shuichi memang hebat dalam hal tersebut. Mungkin sudah bisa sejak lahir." balas Ryouichi lagi.

"Hah? Maksudnya? Mana mungkin ada yang dapat melakukan ninjutsu medis sejak lahir tanpa mempelajarinya?" Sarada tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Sarada, dengar baik-baik. Maksudnya aku sudah bisa mengobati luka atau rasa-merasa dengan memegang salah satu bagian tubuh orang lain. Aku tidak tahu apa namanya itu sebelum aku tahu ninjutsu itu ada. Jadi, kau mengerti 'kan sekarang?" Shuichi menjelaskan kepada Sarada.

"Hm.. Oh, jadi.. semacam bakat bawa lahir?" tanya Sarada lagi.

"Mungkin begitu." jawab Shuchi, ia sudah menahan emosi daritadi.

"Hei, aku juga punya bakat lho. Kata mama aku sudah bisa begini sejak lahir." ucap Ryouichi tiba-tiba.

"Benarkah? Apa itu Ryouichi-niisan?" tanya Sarada penasaran.

Ryouichi menutup matanya untuk fokus. Kemudian ia membuka mata onyx-nya dan mengangkat sebelah tangannya ke atas.

'Byuusshh' keluar api dari telapak tangan Ryouichi.

Sungguh Sarada tidak dapat percaya apa yang dilihatnya. Mata Sarada membulat dan terdiam. Mengeluarkan api tanpa harus menggunakan segel tangan. Dan itu juga tidak terlihat seperti jurus ninja atau semacamnya. Ryouichi tersenyum pada dan memain-mainkan api dalam tangannya itu.

"Nii-san, kau berniat membakar rumah ini?" tanya Shuichi melihat api di tangan aniki-nya itu semakin membesar.

Dengan tangannya yang sebelah lagi, ia mengontrol elemen air. Sepertinya ia mengambil air dari dapur. Air itu melayang ke arah api Ryouichi.

'Pheeshh' terdengar suara api yang tersiram dengan air. Kemudian Ryouichi menatap Shuichi dengan tatapan malas.

"Sudah padam 'kan?" ucap Ryouichi sambil memandang tajam Shuichi.

"A-apa apaan itu tadi? Mengapa ada cahaya terang kemudian ada suara api yang disiram dengan air?" ucap Sakura yang tiba-tiba muncul dari belakang.

"Mama? Ah, tadi itu Ryouichi-niisan menujukkan bakatnya padaku, hehe." ucap Sarada.

"Hah?" Sakura semakin bingung mendengar pernyataan anaknya.

"Ya, katanya mereka berdua punya bakat sejak lahir." jawab Sarada sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya.

"Benarkah? Bisa tunjukkan padaku?" ucap Sasuke penarasan, sehebat apa kedua anak kembar kakaknya itu.

"Hn, dengan senang hati, ji-san." ucap Shuichi dengan percaya diri.

"Aku setuju dengan Shuichi. Ayo ke dekat sungai, ji-san." sambung Ryouichi.

"Hn." jawab Sasuke.

"Ji-san mirip sekali dengan Shuichi, tidak sopan tau 'hn' 'hn' begitu." tegur Ryouichi kepada dua orang yang semakin lama semakin mirip itu.

"Hn." ucap Shuichi dan Sasuke bersamaan, mereka berdua juga memberi tatapan malas pada Ryouichi.

Merasa ucapan mereka bersamaan, Shuichi dan Sasuke saling menatap satu sama lain. Kemudian dua-duanya juga sama-sama membuang muka. Namun, ada senyum tipis menghiasi wajah kedua pria itu.

"Sasuke-kun, benar sudah tidak apa-apa?" tanya Sakura mengkhawatirkan kondisi perasaan Sasuke yang masih kurang stabil.

"Hn." jawab Sasuke sambil tersenyum kepada istrinya.

Sasuke menatap altar kakaknya, Uchiha Itachi. Kemudian ia melengketkan kedua telapak tangannya, membungkuk hormat di altar kakaknya itu dan mulai mengatakan sesuatu.

"Nii-san, tidak perlu khawatir lagi dengan kedua putramu itu. Aku yang akan melatih mereka mulai sekarang. Sepertinya mereka juga sangat berbakat karena darahmu mengalir dalam diri mereka. Aku tidak sabar melihat kekuatan mereka yang sesungguhnya, nii-san. Aku berjanji akan melatih mereka hingga mereka tahu apa arti kekuatan Uchiha yang sebenarnya. Tenang saja, aku janji tidak akan mengaucaukan semuanya lagi, kurasa nii-san bisa lihat aku yang sekarang seperti apa? Aku sangat bahagia dengan istriku, Sakura, dan putriku Sarada. Oh ya, serta bayi yang sedang dalam kandungan Sakura, yang aku harap anak laki-laki. Aku sedikit iri denganmu yang punya anak dua sekaligus, kau memang berbakat dalam segala hal ya? Haha. Nii-san, jagalah kami semua dari atas sana. Jagalah istrimu yang sudah bersusah payah membesarkan kedua putramu seorang diri. Oh ya, mau tahu sesuatu? Aku merindukanmu, Itachi."

Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Sasuke tersenyum dan membungkuk lagi. Empat pasang mata terdiam mendengar dan melihat kelakuan Sasuke. Perkataan Sasuke terasa begitu meyakinkan, mungkin saat ini mereka bisa merasakan rasa sayang yang tulus antara kakak-adik itu. Sasuke berbalik dan menatap keempat orang yang menatapnya heran itu.

"Kalian menatapku seperti menatap orang lain saja." ucap Sasuke.

"Ya, papa memang seperti orang lain." balas Sarada.

"Untung saja kau putri kesayanganku, Sarada." ucap Sasuke sambil memberi tatapan malas pada putrinya itu.

"Hm.., apakah benar kau Uchiha Sasuke, suamiku yang dingin seperti kutub utara itu?" tanya Sakura dengan ekspresi bingung.

"Haaah." Sasuke menghela nafas panjang.

"Jika aku bukan suamimu, dari mana datangnya Sarada dan bayi dalam kandunganmu, Sakura? Aku tahu kekuatanmu dan tidak ada pria mana pun yang berani denganmu selain aku. Dengan siapa kau tidur setiap malam, hah?" ucap Sasuke dengan tegas, ditambah seringai mesum dengan menatap istri kesayangannya itu sambil memegang lengannya.

"Sa-Sasuke-kun…" Sakura tidak dapat melanjutkan perkataannya, wajahnya semerah tomat saat ini.

"Papa, mama. Hentikan. Kalian buat malu saja." ucap Sarada ketus.

"Hahaha, hahaha, hahaha." Ryouichi dan Shuichi tertawa terbahak-bahak.

"Hm, apa ada yang kulewatkan?" tanya Kimiko yang baru saja muncul dari dapur.

"Tidak, tidak, tidak ada. Mari aku bantu, Kimiko-san." ucap Sakura berjalan ke arah Kimiko.

"Ah, panggil saja aku Kimiko."

"Baiklah."

"Oh ya, mama. Aku, Shuichi, dan ji-san akan berlatih di dekat sungai ya. Kami akan kembali sebelum makan siang." ucap Ryouichi.

"Ya, pergilah. Hati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri." balas Kimiko, ia tersenyum melihat kedua anaknya yang sangat bersemangat itu.

Ryouichi dan Shuichi tersenyum pada Sasuke. Sasuke juga membalas senyum kepada kedua anak kembar itu. Sungguh mereka sangat tampan jika selalu tersenyum manis seperti itu.

"Aku tidak pernah melihat mereka berdua sebahagia ini." sambung Kimiko.

"Ya, aku juga sudah lama tidak melihat Sasuke-kun tersenyum semanis itu." ujar Sakura.

"Ma, papa.. benarkah itu papaku ma?" tanya Sarada terkejut dengan apa yang dilihatnya.

"Iya, Sarada. Papa sangat tampan 'kan kalau tersenyum?" ucap Sakura.

"Ya, aku rasa ia menurunkan manisnya padaku ketika aku tersenyum hehehe." ujar Sarada sambil tersenyum lebar.

"Kau memang putri kami yang paling manis, Sarada." jawab Sakura.

Kimiko tidak dapat berhenti tersenyum. Seketika sesuatu terlintas dipikirannya, andai saja Itachi masih ada disini, andai saja Itachi masih hidup. Pasti kedua anaknya itu akan lebih gembira dan lebih bahagia lagi dari ini. Dan, adiknya, Sasuke, mungkin juga akan sangat bahagia hidup berdampingan dengan kakaknya. Lihatlah Itachi, anak-anak kita dan adikmu sangat bahagia saat ini, batin Kimiko sambil tersenyum. Tidak lama kemudian, Kimiko mengingat malam 'itu', malam dimana ia dan Itachi memadu kasih, malam dimana mereka berusaha menciptakan Ryouichi dan Shuichi.

Flashback – POV: Normal

"Kimiko, apa kau serius?" tanya Itachi.

"Ya, hamili aku." jawab Kimiko.

"Ta-tapi kau tahu 'kan Kimiko, aku sudah menceritakan semuanya padamu mengenai adikku, Sasuke. Aku tidak ingin kau kerepotan mengurus anak kita tanpaku nanti."

"Aku tidak akan kerepotan mengurusi anakmu, Itachi. DIa juga anakku jika lahir dari rahimku. Aku tidak akan kerepotan mengurus anak kita."

"Yakin? Bukankah lebih baik kau cari pria lain setelah aku pergi nanti?"

"A-apa? I-itachi beraninya kau berkata seperti itu padaku? Hiks.. Apa kau tidak lihat? Hiks.. Apa kau tidak merasakan? Aku tulus mencintaimu apa adanya! Hiks.. Hiks.." jawab Kimiko terisak-isak.

"Bukan begitu, Kimiko. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Aku juga sangat mencintaimu." ucap Itachi.

"Ya, dan bahagiaku adalah dengan mengandung anakmu. Melahirkannya, dan membesarkannya."

"Meski sendirian?"

"Ya, meski aku sendirian."

"Ya sudah, jangan menangis lagi."

"I-ya, maaf aku cengeng."

"Tidak, kau kuat. Kau wanita kuat dengan pendirian tangguh, baik hati tapi juga keras kepala."

"Oh, aku anggap itu pujian, tuan Uchiha. Dan kau, teruslah dengan kepura-puraanmu sebagai penjahat. Teruslah dengan kepura-puraanmu yang tidak menginginkanku, maka kau akan mati karena menahan nafsumu terlalu lama, bukan karena dibunuh oleh adikmu."

"Wah, berani sekali calon nyonya Uchiha ini menyindir calon suaminya sendiri? Mau hukuman, hah?"

"I-Itachi. A-aku-" ucapan Kimiko tersela. Seketika Itachi menyatukan bibirnya dengan bibir Kimiko.

Kedua insan itu tidak lagi berbicara. Malam itu dipenuhi dengan desahan, menandakan cinta dan hasrat yang mereka pendam selama ini. Mereka benar-benar ingin lari dari kenyataan yang sedang mereka hadapi saat ini. Bulan menjadi saksi dua kekasih yang saling mencintai.

Flashback End

POV: Normal

"Kimiko?" panggil Sakura.

"Ah iya, Sakura. Maaf aku jadi melamun." jawab Kimiko.

"Melamunkan apa? Itachi-nii?" tanya Sakura.

"Hm, iya. Aku… merindukannya." ucap Kimiko.

"Aku tahu rasanya, menunggu dan terus menunggu." ucap Sakura dengan raut wajah sedih.

"Sungguh?" tanya Kimiko.

"Ya, aku juga tahu rasa itu, ba-san." ucap Sarada menyambung pembicaraan.

Kimiko menatap Sarada dengan ekspresi terkejut. Sedangkan Sakura, malah menatap anak semata wayangnya itu dengan ekspresi sedih. Sakura mengerti bahwa Sarada sangat ingin melewati masa kecilnya yang sudah terlewatkan itu bersama ayahnya. Dan sampai sekarang pun, Sasuke masih sering pergi keluar Konoha untuk memastikan tidak ada bahaya yang datang lagi. Hal ini membuat Sarada dan Sakura harus menunggu dan selalu menunggu Sasuke untuk pulang.

"Sarada, susul papa dan kedua aniki-mu itu. Ikutlah berlatih bersama mereka. Mama akan membantu Kimiko." ucap Sakura. Ia tidak ingin kesedihan anaknya itu berlarut-larut dalam pembicaraan ini.

"Baiklah, ma." jawab Sarada.

Sarada pergi meninggalkan kedua wanita Uchiha itu.

"A-apa yang dimaksud dengan menunggu tadi?" tanya Kimiko.

"Ceritanya panjang, yakin mau dengar? Sarada juga selalu menunggu papanya itu, karena sering pergi keluar Konoha." ucap Sakura.

"Tentu saja mau, Sakura. Apa ini ada hubungannya dengan Sasuke?" tanya Kimiko penasaran.

"Ya, laki-laki yang sudah kusukai sejak umur 8 tahun, ayah dari anak-anakku." jawab Sakura sambil menatap Sarada yang berjalan pergi dan mengelus perutnya pelan.

Kimiko sedikit terkejut mendengar pernyataan Sakura.

"Dia selalu membuatku menunggu. Aku tahu perasaanku tak akan terbalaskan, tapi aku tidak ingin ia jatuh lebih dalam lagi ke dalam kegelapan. Aku hanya ingin menolongnya. Dan yang membuatku terkejut adalah ia malah menyatakan cintanya padaku setelah ia pulang dari perjalanannya tidak lama setelah peristiwa bulan jatuh. Meski begitu, sampai sekarang Sasuke juga masih sering pergi keluar Konoha untuk memastikan tidak ada bahaya lain yang menimpa desa ini lagi." jelas Sakura. Meski ia tersenyum, tapi dapat dipastikan bahwa senyumnya adalah senyum palsu.

"Aku.. turut prihatin, Sakura." ucap Kimiko, ia merasa sedikit bersalah karena bertanya pada Sakura.

"Ah, sudah biasa, tidak apa-apa. Sasuke sudah memutuskan dan ia melakukan semua ini untuk Konoha. Dan.. mengenai pembunuhan Itachi, a-apa kau tahu, Kimiko?" ucap Sakura.

"Tentu. Sasuke 'kan?" balas Kimiko dengan senyuman.

"I-iya. K-kau tidak marah, Kimiko? Tidak membencinya?"

"Haha, oh Sakura. Tentu saja tidak. Mana bisa aku marah dengan kedua kakak-adik yang saling menyayangi itu."

"Oh, jadi karena mere-"

"Tidak, Sakura. Maksudku, Itachi mengatakan bahwa semua sudah terlanjur. Semua yang ia kerjakan, semua yang ia rencanakan, harus terwujud. Begitulah Itachi, aku yakin suamimu, Sasuke, juga tidak kalah keras kepalanya. Ia berkata padaku bahwa Sasuke lah yang harus membunuhnya. Dengan itu, Sasuke akan dianggap sebagai pahlawan oleh Konoha karena telah membunuhnya yang dianggap sebagai musuh Konoha. Mulia sekali Itachi itu, dia pria sekaligus kakak terbaik yang pernah kujumpai."

"Hm, kau benar. Bahkan dalam wujud Edo Tensei pun, dia masih berkata ia sangat menyayangi Sasuke, apa pun yang terjadi. Sasuke menceritakan semuanya padaku, Kimiko."

"Benarkah, Sakura? Ah, ia juga datang menemuiku dengan wujud itu. Saat itu aku masih berdiam di hutan."

"Hutan?"

"Iya, kebetulan Itachi menemukan rumah kayu yang kelihatannya sudah lama ditinggal pemiliknya. Lalu kami memutuskan untuk membersihkannya dan menjadikannya rumah untuk menetap sementara. Ia bahkan mengecat dinding rumah kayu itu dengan lambang Uchiha beberapa hari setelah kami menikah di kuil. Katanya bukan rumah Uchiha kalau tidak ada lambang itu, lucu mengingat tingkahnya, hehe."

"Lalu apa yang terjadi? Apa ia sempat melihat kedua anaknya, Kimiko?"

"Ya, meski dalam wujud Edo Tensei, aku tahu dia adalah Itachi-ku. Aku rasa Kami-sama sudah mengatur semuanya, waktunya begitu pas. Lalu tanpa basa basi ia segera memberi nama anak kami. Anak yang baru saja aku lahirkan dua hari yang lalu."

"Ia memberikan nama Ryouichi (亮一), yang berarti anak pertama yang terang, ia ingin masa depan anak itu terang, tidak seperti dirinya. Ia sedikit terkejut melihat anak kami kembar, namun dengan bahagianya ia memberi nama yang kedua, Shuichi (修一). Ia berkata bahwa anak ini sangat mirip dengan teman yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri, namanya Uchiha Shisui. Namun ia berkata lagi bahwa nama Shuichi juga mempunyai arti, yaitu anak pertama yang disiplin dan rajin. Kemudian ia berkata, sebenarnya akhiran –chi itu lebih untuk mengingatkan kepada mereka bahwa ayah mereka yang bernama Itachi. Ia bahkan bertanya aku keberatan atau tidak, karena tidak memasukkan namaku dalam nama anak kami. Sungguh ia tidak akan rela mereka memanggil orang lain sebagai 'papa' selain dirinya, hahaha. Dan, ia bahkan ingin mempunyai anak lagi, maka dari itu ia memberi nama –ichi yang berarti pertama, bayi dari kelahiran pertama, di belakang nama kedua anak kembar kami." jelas Kimiko panjang lebar mengenai nama Ryouichi dan Shuichi yang diberikan langsung oleh Itachi.

"Hm, memang benar-benar sama yang kedua kakak-adik itu. Saat Sasuke memberi nama pada putrinya pun, ia buat dengan penuh perhitungan, hahaha. Ia bahkan menghabiskan waktu semalaman tidak tidur untuk merangkai nama putrinya. Dan, ketika ia mengucapkannya, Sarada, aku malah tertawa. Ia memarahiku dan berkata bahwa itu adalah nama yang sudah susah payah ia rangkai. 'Sa' dari namaku dan namanya, 'ra' dari nama belakangku, dan 'da' yang diubah dari 'ta' yang berasal dari nama Itachi, untuk mengenangnya. Ia juga berkata bahwa ia terinspirasi oleh nama seorang dewi. Sungguh aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya, memberi nama saja sampai berpikir berat seperti itu." ucap Sakura menjelaskan tingkah Sasuke yang kurang lebih sama dengan kakaknya itu.

"Ya, mungkin mereka ingin anak mereka tidak mengalami hidup yang kelam seperti yang mereka alami. Semua orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, bukan begitu?" ucap Kimiko.

"Ya, itu benar. Oh ya, apakah... Ryouichi dan Shuichi pu-punya adik lagi? Tadi katamu…" balas Sakura.

"Ahaha, tentu saja tidak, Sakura. Aku memilih menggunakan waktu untuk foto keluarga daripada melakukan hal semacam itu dengannya. Ryouichi dan Shuichi sudah cukup untukku."

"Oh, foto yang tadi di ruang tamu, Kimiko? Aku tidak memperhatikan foto itu. Ah, tidak ku sangka Itachi-nii sangat antusias ya dalam hal itu? Hehe..."

"Tidak juga menurutku. Mengingat seluruh klannya habis dibantai oleh dirinya sendiri. Malah aku heran, mengapa anak Sasuke hanya 1? Dan kulihat juga Sarada sudah cukup besar, sudah berumur lebih dari sepuluh tahun 'kan? Oh foto itu, kau bisa melihatnya dari arah sini. Itu benar-benar foto yang membuatku sangat bahagia."

"Ah.. ya, alasannya karena tadi yang kuceritakan. Sasuke pergi untuk memeriksa dimensi lain. Selama hampir 8.. atau 9 tahun kurasa. Sarada juga tumbuh besar tanpa adanya figur seorang ayah. Oh, ya foto. Foto yang itu?" ucap Sakura sambil bertanya. Ia sedikit sedih menjelaskan kenyataan Sasuke tapi ia tetap tersenyum di depan Kimiko. Kemudian ia berjalan mendekat ke sebuah foto yang cukup besar di dinding ruang tamu.

"Maaf, Sakura. Lagi-lagi aku membuatmu sedih, maafkan aku ya. Oh, iya, yang ini." ucap Kimiko sambil mengikuti Sakura dari belakang sambil menunjuk sebuah foto besar yang tergantung di ruang tamu.

"Sudahlah, Kimiko, itulah kenyataannya. Aku sudah bersiap menerima segala konsekuensinya saat menikah dengan Sasuke."

"Kau memang istri dan ibu yang sangat baik, Sakura."

"Terima Kasih. Tapi… kau lebih kuat dariku, Kimiko. Itachi-nii bahkan sudah tidak ada saat bayimu lahir."

"Ah, sudahlah. Begitulah kenyataan hidup, seperti katamu tadi Sakura." balas Kimiko sambil tersenyum kecil pada Sakura.

"Hahaha, iya." ucap Sakura.

Kedua wanita Uchiha itu saling tertawa kecil dan tersenyum pada satu sama lain. Sakura kembali memandang foto keluarga yang dikatakan oleh Kimiko. Dalam foto itu, tampak Itachi dan Kimiko. Masing-masing menggendong 2 bayi yang masih dibungkus kain. Mata Itachi berlatar hitam, yang berarti itu mata Edo Tensei.

"I-ini, saat Itachi-nii di Edo Tensei?" tanya Sakura.

"Ya, begitulah keadaannya. Yang memotret itu juga temannya yang di Edo Tensei, rambutnya merah, kalau tidak salah namanya Nagato. Aku senang, ia masih dapat melihat kedua anaknya. Meski itu untuk terakhir kalinya." jawab Kimiko dengan senyum.

"A-aku minta maaf, Kimiko. An-andai saja, Sa-sasuke-kun tidak…" ucap Sakura terbata-bata

"Sudahlah, Sakura. Seperti katamu, semua sudah berakhir. Yang lalu sudah berlalu. Lebih baik kita pikirkan Ryouichi, Shuichi, Sarada, dan anak dalam kandunganmu itu. Aku benar-benar berharap itu anak laki-laki."

"Benarkah? Hm, Sarada juga pernah bilang padaku ia ingin otouto. Kau benar, Kimiko. Lebih baik kita memikirkan masa depan anak-anak kita. Aku rasa aku akan mengenalkanmu dengan beberapa teman-temanku. Pasti asyik jika bertambah seorang anggota, hehehe. Terlebih lagi, dirimu adalah kakak iparku. Bukan begitu, Kimiko-neechan?"

"Hah? Benarkah? Apa itu tidak merepotkan, Sakura? Um, panggil saja aku Kimiko, kurasa umur kita tidak berbeda jauh."

"Baiklah, Kimiko. Tidak, aku rasa mereka akan sangat menyukaimu. Kita bisa berbincang mengenai anak-anak kita yang lucu, cara merawat mereka serta mengenai suami kita yang menyebalkan itu, hahaha. Eh, jangan bilang kalau Itachi-nii tidak punya sisi menyebalkan?"

"Hahaha. Oh, tentu saja, seorang Itachi juga punya sisi yang menyebalkan. Banyak. Yang terparah adalah sisi over-protective. Ia bahkan melarangku berjalan keluar rumah saat aku hamil besar 7 bulan. Dan hal itu membuatku bosan hingga hampir keguguran. Oh, Itachi..." Ucap Kimiko sambil menggelengkan kepalanya, mengingat perlakuan suaminya dulu.

"Oh kalau begitu kita sama, Kimiko." ucap Sakura menganggukkan kepalanya, mengerti akan penderitaan Kimiko. Sakura mengingat saat dulu Sasuke melarangnya melakukan apa pun saat hamil besar. Bahkan kemana pun harus diikuti oleh Sasuke.

"Hahaha. Benarkah? Ya, bisa kulihat sebenarnya. Suamimu itu selain sangat melindungimu, ia juga sangat mencintaimu, Sakura."

"Ya, aku tahu itu. Dan kurasa, Itachi-nii juga sangat mencintaimu, ya 'kan Kimiko?"

"Hm.. Iya. Itachi.. sangat mencintaiku."

Tidak lama kemudian, mereka menghentikan pembicaraan. Mereka berjalan masuk ke dapur dan menyiapkan makan siang bersama-sama untuk keluarga klan Uchiha yang tersisa di Konoha. Meski tidak banyak orang, tapi mereka cukup bahagia bila bersama. Dan bahkan langsung akrab meski baru saja mengenal.

-Sementara itu di tepi sungai…

Sarada duduk di kejauhan memandang tiga pria Uchiha yang sedang beradu. Ia tersenyum, ia merasa sangat bahagia. Tiba-tiba memiliki dua orang kakak laki-laki yang tampan dan juga mempunyai kemampuan ninja yang lumayan hebat menurutnya.

'Syuut'

"Hiaaaaa…." terdengar suara teriakan.

'Srat' 'Srat'

Sasuke menghindari segala serangan taijutsu dari kedua bersaudara itu.

"Hanya begitu kemampuan kalian?" tanya Sasuke sedikit meremehkan. Dalam pikirannya, Itachi sudah menjadi ketua Anbu ketika seusia anak mereka sekarang.

"Sabarlah, paman. Kami bukan tipe menyerang di awal." ujar Shuichi sambil menyeringai.

"Baka otouto, kurasa sudah saatnya. Ji-san terlihat bosan, tuh." balas Ryouichi.

Dan… benar saja. Kedua mata Ryouichi dan Shuichi berubah menjadi merah dilengkapi tiga titik, ya itu Sharingan. Sasuke menyeringai melihat mata kedua anak itu, rasa bangga muncul di dalam dirinya. Tidak lama kemudian, Sasuke juga mengaktifkan Sharingan-nya.

"Shuichi, mata paman sama." ucap Ryouichi.

"Hm, jadi ini benar semacam keturunan ya, ji-san?" tanya Shuichi.

"Hn. Apa mama kalian tidak memberitahu mengenai Sharingan?" jawab Sasuke sambil bertanya kembali.

"Ada, tapi saat itu kami terkejut bukan main saat mata kami berubah menjadi merah. Kami kira mata kami akan menjadi buta. Hahaha. " tawa Ryouichi.

"Dia saja yang begitu, aku tidak. Dasar berlebihan." ucap Shuichi sambil memandang malas Ryouichi.

"Tenang saja. Mata merah Uchiha ini sangat bermanfaat dalam pertarungan." balas Sasuke sambil tersenyum tipis.

"Ya, kami tahu. Kami mempelajarinya sendiri dengan berlatih 1 lawan 1." balas Ryouichi.

"Kalian tidak mencari guru?" tanya Sasuke.

"Kehidupan kami saja dirahasiakan, ji-san. Bukankah mencari guru akan memberitahukan ke seluruh Konoha bahwa kami anak dari seorang Uchiha? Kemudian seluruh Konoha akan mencari-cari siapa ayah kami? Sekarang aku mengerti peraturan yang papa buat, hal ini karena ia tidak ingin kami, keturunannya, di serang oleh masyarakat Konoha karena masa lalu yang kelam itu." jawab Shuichi.

"Hn. Sepertinya kalian sudah tahu kenyataan mengenai klan dan ayah kalian ya. Baiklah, aku mengerti. Jangan takut, hal itu tidak akan terjadi. Ada aku yang menjadi kepala klan sekarang. Ayo, serang aku lagi. Aku guru kalian mulai saat ini." ucap Sasuke sambil mengeluarkan kusanagi yang selalu ia bawa.

"Ya, mama menceritakan pada kami mengenai ayah kami yang rela berkorban dan sedikit sejarah klan Uchiha. Baiklah, bersiaplah paman. Kali ini kami tidak akan main-main lagi." ucap Ryouichi. Ia mengeluarkan sebuah belati pendek di tangan kanan dan kunai di tangan kiri. Shuichi tidak mengatakan apa-apa, ia hanya berkonsentrasi dan mengeluarkan sebuah belati pendek dengan tangan kiri.

'Syuut' 'Syuut'

'Duak' 'Dug' 'Trak'

'Trang' 'Trang' 'Tring'

'Klang' 'Cling'

Ketiga pria Uchiha itu saling beradu. Tampak Sasuke yang mulai serius menggunakan pedangnya untuk menahan serangan dan sesekali membalas serangan mereka. Begitu pula dengan Ryouichi dan Shuichi yang berusaha melukai Sasuke. Ryouichi menyerang Sasuke dari belakang, Shuichi dari depan. Sasuke berhasil menghindar ke arah samping.

Kali ini, Ryouichi bertukar posisi dengan Shuichi. Ryouichi di depan dan Shuichi di belakang. Shuichi berkonsentrasi dengan Sharingan, sedangkan Ryouichi bersiap dengan bakat yang ia miliki itu, mengeluarkan api, tanpa segel apapun. Ya, ia bahkan bisa berubah menjadi manusia api jika ia mau. Shuichi berhasil melihat pergerakan Sasuke, ia memberi tanda pada Ryouichi yang berada di belakang Sasuke dengan anggukan kepala. Sasuke tidak lalai, ia tahu pergerakannya sudah terbaca. Maka ia memutuskan untuk menggunakan Rinnengan untuk teleportasi atau menjebak Shuichi dengan genjutsu.

Ryouichi semakin mendekat dari arah belakang, tangannya masih setia dengan kedua benda tajam itu. Shuichi juga terus menahan pergerakan Sasuke dari depan. Shuichi menyerang Sasuke dengan taijutsu. Ryouichi datang dari belakang, dan tanpa Sasuke duga, tangan anak itu sudah penuh dengan api membara yang siap untuk membakarnya. Jika Sasuke tidak berhat-hati, sedikit lagi pinggang Sasuke akan terluka parah karena api dari tangan Ryouichi itu.

"PAPA!" teriak Sarada, ia langsung berlari mendekat ke arah Sasuke.

'Byaashh'

Chakra ungu keluar dari tubuh Sasuke, chakra itu membentuk sebuah tengkorak raksasa. Sharingan Sasuke sudah berubah menjadi Mangekyou Sharingan. Sasuke melindungi dirinya dengan Susanoo. Kedua anak itu, Shuichi dan Ryouichi terkejut. Mereka merasakan aura chakra Sasuke yang sudah berbeda dengan tadi. Auranya benar-benar mengerikan saat ini. Mereka berdua mundur, Ryouichi kembali ke depan Sasuke.

"Darimana api itu?" tanya Sasuke terus terang.

"A- oh, api. Ini?" jawab Ryouichi.

"Bagaimana bisa seperti itu?"

"Itu bakat mereka, papa. Katanya sudah bisa begitu sejak lahir." Sarada menjawab.

"Apa? Benarkah? Ada hal seperti itu?" tanya Sasuke lagi.

"Hn. Bakat medis dan sensorik-ku juga dari lahir. Aku bahkan tidak butuh pengajaran." ujar Shuichi.

"Itachi.. kau selalu hebat dalam segala hal ya.." gumam Sasuke.

"Apa ji-san mengatakan sesuatu?" tanya Ryouici, ia menaikkan sebelah alis matanya.

"Hn, ji-san bilang papa selalu hebat dalam segala hal." ucap Shuichi dengan tenang.

"Eh? Shuichi-nii bisa dengar?" tanya Sarada. Ia benar-benar bisa terkena serangan jantung karena kejutan yang diberikan oleh kedua anak kembar itu.

"Hn. Aku juga sudah bisa mengendalikan apa saja yang ingin ku dengar. Dulu sebelum aku bisa mengendalikan, semua suara itu menyebalkan. Tidak terkecuali suara semut." jawab Shuichi.

"Hah? Suara semut pun bisa?" tanya Sarada dengan suara yang semakin meninggi.

"Ya, indera yang terlalu tajam. Kurasa papa ingin aku menjadi orang yang selalu bisa merasakan perasaan makhluk lain ya? Hm..." jawab Shuichi sambil merenungkan mengapa ayahnya, Itachi, bisa-bisanya menurunkan bakat merepotkan seperti ini.

"Shuichi, bersyukur atas bakatmu. Jadi kalau aku apa? Papa ingin aku bakar-bakaran dengan ini? Hahaha. Lalu memadamkannya dengan ini?" ucap Ryouichi sambil mengangkat tangan kanannya yang penuh dengan api, kemudian memadamkan api itu dengan air sungai yang ia ambil dengan tangan kirinya.

"A-apa apaan itu tadi?" tanya Sasuke heran.

"Aku bisa mengeluarkan elemen api dari dalam tubuh, ji-san. Dan mengontrol elemen api dan air juga. Sejauh ini hanya api dan air saja. Lagipula juga aku tidak berharap bisa yang lain lagi. Mata ini saja sudah merepotkan." jawab Ryouichi santai.

"Mata? Maksud Ryouichi-nii, Sharingan?" tanya Sarada.

"Tidak, mata hitamku. Aku dapat melihat sampai beberapa puluh kilometer ke depan. Penglihatan itu seperti terlintas di pikiranku. Mungkin seperti penglihatan elang dari atas." ucap Ryouichi menjelaskan kemampuannya.

"Benar-benar kau, Itachi." gumam Sasuke lagi sambil mengepalkan tangannya dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa bangga sekaligus iri dengan kakaknya yang sudah meninggal tapi sanggup mewariskan sejuta bakat untuk kedua anaknya. Sedangkan ia sendiri? Masih hidup tapi tidak dapat melatih anaknya sealam ini. Meski seperti itu, Sasuke merasa Sarada juga punya bakat terpendam, yang mungkin belum ia sadari. Sarada punya pemikiran lebih dewasa dan daya tangkap yang lebih cepat dari genin seusianya. Sasuke bersumpah dalam hatinya akan melatih putrinya sendiri dan menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.

"Ji-san kesal pada papa?" tanya Shuichi.

"Ah, tidak. Buat apa aku kesal pada Itachi. Aku bangga pada kalian, Shuichi, Ryouichi." ucap Sasuke.

Kedua saudara kembar itu tersenyum mendengar perkataan paman mereka. Meski Shuichi dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan perasaan pamannya itu.

"Dan, Sarada.. mulai sekarang berlatih lah dengan mereka. Dan tentu saja aku yang akan melatih kalian bertiga. Mungkin sekalian bersama Boruto." sambung Sasuke dan memberi senyum pada akhir perkataannya.

"Wah.. Benarkah? Baiklah pa, dengan senang hati!" ucap Sarada dengan senangnya.

Kedua anak kembar itu saling memandang. Boruto? Siapa itu? Hm, murid ji-san? Baiklah, mungkin orang itu juga sehebat mereka. Baiklah, tidak ada salahnya menambah teman, batin mereka berdua. Susanoo Sasuke masih aktif, ia masih mempertahankan chakra-nya dan menunjukkan kehebatannya di depan kedua keponakannya itu.

"Oh ya, ji-san, kami juga punya lho tengkorak seperti itu. Ya 'kan, Shuichi?" ucap Ryouichi.

"Hn." Shuichi hanya bergumam. Namun ia langsung berkonsentrasi. Menutup matanya sejenak, kemudian ia membuka matanya.

Mangekyou Sharingan.

Sasuke semakin terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Astaga, mereka berdua benar-benar akan menjadi shinobi yang kuat, batin Sasuke. Tidak mau kalah, Ryouichi juga mengaktifkan Mangekyou Sharingan miliknya. Sasuke hanya dapat menggelengkan kepalanya, ia masih terkejut dengan keadaan ini. Sarada matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka. Kekuatan kedua kakak sepupunya berhasil membuatnya takjub, sekaligus bangga. Seketika chakra Ryouichi dan Shuichi melambung ke atas, membentuk Susanoo. Chakra Ryouichi berwarna merah terang, sedangkan Shuichi berwarna kuning kemerahan.

"Inilah batas kekuatan kami. Tidak ada lagi yang lebih dari ini, ji-san. Kami tahu ji-san masih menyimpan kekuatan asli ji-san dari tadi." ujar Shuichi.

Sasuke menyeringai mendengar perkataan Shuichi.

"Kalian tidak perlu tahu kekuatanku yang sebenarnya, lebih baik kalian terus berlatih dan tingkatan kekuatan kalian." balas Sasuke.

"Baik, ji-san." jawab kedua anak kembar itu serentak.

"Hn." Sasuke hanya bergumam.

Dari kejauhan, tampak bunshin Naruto yang sedang membantu salah satu penduduk desa mengangkat barang bawaan. Bunshin itu melihat ke arah sungai, dan melihat tiga Susanoo dengan warna chakra yang berbeda.

"Heeeh? Bukankah itu Susanoo? Hmm.. Dan bukannya hanya Sasuke yang bisa? Tapi.. kenapa ada tiga yah? Kurasa aku harus memberitahu pada Naruto yang asli." gumam bunshin Naruto itu. Setelah selesai membantu warga desa itu, ia segera menuju ke kantor Hokage.

Naruto asli sedang berada di kantor Hokage dan sedang berbicara dengan keluarganya dan Kakashi, mereka berbincang santai sambil tertawa riang.

'Braak' suara pintu kantor Hokage dibuka dengan bantingan keras.

"Hei, Naruto yang asli! Aku melihat tiga Susanoo loh di sungai bagian utara!" ucap bunshin Naruto yang secara tiba-tiba memasuki ruangan Hokage itu.

"A-APA?" ujar Kakashi dan Boruto serentak.

Semua yang berada di ruangan itu terkejut. Tidak terkecuali Hinata. Himawari masih tidak mengerti, tapi ia dapat melihat raut kekhawatiran yang muncul pada wajah ayah dan ibunya. Boruto yang kurang lebih sudah tahu menahu tentang kekuatan sensei-nya itu juga ikut terkejut sampai berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan Naruto, ia masih dengan tenang menghabiskan segelas ocha yang ada di genggamannya. Mungkin ia memang sedikit berubah semenjak menjadi Nanadaime, lebih berwibawa.


To Be Continue


Halo semuaaaa, ketemu lagi dengan Shady~

Maaf sedikit lambat update karena alasan yang sudah basi, sibuk hehehe

Makasih sudah membaca dan review, ah terutama makasih banyak untuk para silent reader.

kalau bisa tinggalkan review yaaa

agar Shady tau jika ada yang salah Shady bisa perbaiki, hehe

Terima Kasih banyak :D

Sincerely,

Shady.