"Hey, malam ini kita makan di luar... kau mau...?"
"CAKE!"
"Sudah ku duga..."
Kakashi tersenyum hambar dari balik kemudi. Dia membetulkan letak kacamata butler di mata kirinya yang terluka. Di kursi belakang, Hinata sedang melucuti baju sekolahnya. Melepas dasi, sepatu, kaus kaki, dan atribut lainnya. Hanya memakai rok dan kemeja yang kancing atasnya sudah separuh terbuka, dia meloncat ke kursi depan. Duduk bersila di kursi samping Kakashi.
"Kurangi makanan manis, nanti kau bisa gemuk..." ucap Kakashi, tak mengalihkan pandangan dari jalan.
"Kalori di tubuhku selalu habis tiap hari... tak ada yang menumpuk sia sia!" Ucap Hinata cuek, mencari lagu yang bagus dari FD di mobilnya.
"Uh, cewek beruntung..." Kakashi tertawa kecil. Hinata tersenyum lebar.
Kakashi adalah driver pribadi keluarga Hyuuga. Dulunya ia adalah bodyguard Hiashi Hyuuga, ayah Hinata. Namun, karena melindungi Hiashi, ia melumpuhkan mata kirinya. Dan diputuskanlah, bahwa mulai saat itu, ia bertugas menjaga Hinata di apartemen barunya.
Hinata yang tidak tahan tinggal di kediaman keluarga besar Hyuuga meminta izin untuk tinggal sendiri. Ayahnya setuju, dengan catatan, Hinata harus mau menghadiri setiap acara perjodohan yang diatur ayahnya. Walau sangat keberatan dengan persyaratan ini, Hinata setuju, karena hanya dengan begini, ia bisa bebas dari tata tertib kehidupan bangsawan di kediaman Hyuuga.
"Minggu depan, ada acara lagi..." ujar Kakshi. Hinata mengangguk.
"Siapa lagi, kali ini...?" tany Hinata.
"Putra dari pemilik Sabaku Coorperation"
"Oh..."
Dan percakapan berakhir. Hinata yang sudah terbiasa dengan perjodohan yang terus menerus di atur ayahnya, bahkan tidak ingat lagi nama nama anak pengusaha yang telah ditemuinya. Ya, dia sudah bosan.
Volume lagu dari FD player kian membesar. Hinata terhanyut dengan lagu lagu pop-rock yang terputar disana. Ikut bernyanyi.
"Kak Neji?" Hinata terdiam di pintu apartemen.
"Hai, Hina..."
Belum sempat Neji menyelesaikan kalimatnya, Hinata sudah meloncat kearahnya dan memeluknya erat.
"Hahaha... sedang apa disini...?" tanya Hinata, tak dapat menyembunyikan ekspresi bahagianya. Neji tersenyum.
"Memang salah kalau aku mengunjungi 'adik' kesayangan ku?" tanya Neji, bergurau. Ia menepuk kepala Hinata pelan.
"Hahaha..."
Neji mengalihkan pandangan pada Kakashi yang sedang meletakkan barang barang Hinata di atas meja Mini bar.
"Hey, apa kabarmu Kakashi?" tanya Neji.
"Seperti yang kau lihat..." jawab Kakashi, tersenyum.
"Yaa, wajah seram mu tak berubah..."
"Sama halnya dengan mata pucatmu..."
Saling mengejek, namun diakhiri dengan tawa. Selalu seperti ini.
Neji sudah mengenal Kakashi dari dulu, jauh sebelum ia berangkat untuk sekolah diluar negeri dan mendapatkan kepercayaan Hiashi untuk menjalankan perusahaannya di kota. Selain karena Hiashi tak dapat menjalankan perusahaan di kota karena sering berpergian keluar negeri, juga karena Hiashi ingin Neji mengawasi Hinata, dan menjaganya.
"Jadi... aku hanya mampir sebentar, untuk melihat keadaan mu, selanjutnya, aku harus pergi lagi..." ucap Neji, duduk di sofa.
"Kenapa tidak bermalam saja disini?" Hinata duduk di sebelah Neji, memeluk boneka lumba lumba birunya dan merapatkan lututnya ke dadanya.
"Tak bisa... Ada yang -ehem- menunggu..." ucap Neji, merona. Hinata tersenyum lebar, mengerti.
"Aaah... jadi kau... dengan, Tenten...?" ujar kakashi, berjalan dibelakang sofa sambil menyeruput segelas kopi susu, dan memberikan segelas lagi pada Neji.
"Ya... begitulah..." Neji menyembunyikan wajahnya dibalik kelas kopi susunya.
Hinata tahu betul, Neji sedang memaksakan wajahnya berhenti merona karena malu.
"Strawberry shortcake, mausse lucifer choco, cheese cake, dan Blueberry smoothies! Hey, perbanyak potongan blueberry dalam smoothiesnya ya! Jangan pakai cream..." Hinata menyebutkan makanan yang ingin dimakannya.
Kakashi menatapnya aneh dari seberang meja, berusaha tak menghiraukan tampang kaget pelayan di cafe tempat mereka makan malam.
"Hinata... itu...?"
"Apa?"
"Ah, Tidak..."
"Bagus..."
Hinata tersenyum lebar lagi. Lalu asik dengan ponselnya.
"Baiklah beri kami French Fries, Beef Steak Pepper Sauce, dan Cappucino panas... Ah, beri dua porsi French Fries nya!" pesan Kakashi.
Pelayan mencatat pesanannya dengan wajah kaget, benar benar tak menyangka gadis berbadan ramping dan pria dengan tubuh 'seksi' di hadapannya ternyata punya porsi makan yang luar biasa. Ia lalu pergi dari meja mereka kearah dapur cafe.
"French Fries... dan Cappucino?" Hinata memandang Kakashi, sambil menaikkan alisnya.
"Kenapa? Belum pernah mencoba kombinasi itu?" Kakashi menatapnya usil, memegang pipinya diatas meja.
"Belum... dan tak akan pernah... apa jadinya karbohidrat bertemu kafein? Perutmu tak akan bertahan hidup..." ucap Hinata sinis.
"Setidaknya lebih lezat dari pada makan manis manisan berlebihan..." Kakashi tersenyum.
"Manisan ku TIDAK berlebihan... lagi pula, apa salahnya menjadi gadis pencinta gula?"
"Dan apa salahnya menjadi Pria pencinta Kafein?"
"Kafein membuatmu tua..."
"Dan gula membuatmu semakin manis..."
Hinata terdiam, dan bukan karena terpesona. Ia jengkel sekali. Kakashi selalu bisa membalas semua perkataan sinisnya. Dan itu dilakukannya tanpa berpikir.
"Aku benci kau..." ujar Hinata, menatap benci Kakashi sambil memaksa tersenyum.
"Terima kasih..." Kakashi tersenyum tak tanggung tanggung, seperti biasa. Meremehkan.
"Ugh, kupikir, aku akan ke toilet sebentar..." Hinata membuang muka dari Kakashi lalu bangkit dari kursi.
"Kau 'pikir'...?" Kakashi bertanya bingung.
"Ah, maksudku, aku INGIN ke toilet sebentar... permisi..." Hinata tersenyum palsu. Lalu melenggang pergi ke bagian belakang Cafe.
Kakashi sadar, ini cara Hinata menghindar saat dia sedang jengkel. Ya, mengatakan maksud sebenarnya, lalu memperbaiki kalimatnya dengan kebohongan. Benar benar ciri khas klan Hyuuga. Kakashi tahu itu, karena Neji pasti akan berbuat sama saat ia merasa terjebak.
"ARGH!" Hinata kembali menunduk di westafel dan menyiram wajahnya dengan air yang mengalir dari keran. Air bercipratan kesegala arah. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca urinoir.
Wajah dan rambutnya basah. Untung saja ia tak pernah memakai make-up, kalau ya, pasti maskaranya sudah berantakan dan membuat wajahnya semakin menyeramkan. Menatap mata pucat warna lavender nya, ia masih belum bisa menghilangkan warna merah diwajahnya.
Kembali menunduk, dan melakukan hal yang sama berulang ulang. Hingga bagian kerah baju kemeja birunya basah.
BRAKK!
Pintu toilet terbuka keras, Hinata langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu di belakangnya, membuat air yang menempel pada rambut hitam indigo nya terciprat ke segala arah.
"Hina... ta?" tanya seseorang di ambang pintu, ia menahan nafasnya yang tersengal. Seperti habis berlari berpuluh puluh kilometer saja.
"Sensei...?" tanya Hinata tak percaya.
Sasuke mendelik lagi ke luar pintu, lalu langsung berlari kearah westafel, menarik Hinata ke salah satu bilik toilet yang ada disana, mengunci pintunya, dan membekap mulut Hinata, mencegahnya mengeluarkan suara.
Hinata yang sangat terkejut, mencoba memberontak. Terselip di benakanya, bahwa guru wali kelas disekolahnya ternyata lelaki mesum yang suka mengunjungi toilet wanita. Pemberontakan tubuhnya gagal total, karena kekuatan sensei nya yang begitu kuat menahan tubuhnya di dinding.
"Sssst..." Sasuke mendesis di telinga Hinata, membuat bulu kuduknya berdiri. Tangan sasuke masih membekap mulut Hinata, dan tangan satunya menahan tubuh Hinata semakin merapat ke dinding Toilet.
Hinata masih tak tahu apa yang tengah terjadi, sampai suara berisik langkah kaki berlarian, dan jeritan gadis yang sangat tinggi terdengar samar dari luar toilet.
"Kyyaah... Sasuke-kun... kau di manaa...?"
"Hey, Ino-pig, dia tak akan keluar jika kau memanggilnya begitu!"
"Kau diam saja, dahi-lebar! Aku tahu apa yang ku lakukan!"
"Oh, ya? Di mataku kau hanya seperti tong kosong yang berbunyi nyaring...!"
"Hah, katakan itu untuk dirimu sendiri...!"
"Terserah... Sasuke-kuuun~!"
"Hey, Sakura, kau meniru caraku memanggilnya!"
"Kubilang, terserah aku... Sasukee~...?"
"Ugh... Sasuke-kuun sayaang!"
Dan suara berisik para 'fan-girl' pun berlalu, meninggalkan suasana sunyi di Toilet wanita.
Setelah yakin keadaan aman, Sasuke melepaskan bekapannya dimulut Hinata, namun tak melepaskan tangannya yang menahan tubuh Hinata. Hinata mendongak, dan menatap Sasuke tajam dari sudut matanya.
"Mengerikan..." ujarnya.
"Aku tahu..." Sasuke menjawab dengan menyeringai.
"Sekarang, lepaskan aku, 'Sensei'! kau mau di tangkap sebagai orang mesum yang suka bermain di toilet wanita?" tanya Hinata, mencoba melepaskan diri dari cengkraman Sasuke.
"Whoa... ini toilet wanita?" tanya Sasuke. Mulai melonggarkan cengkramannya pada tubuh Hinata.
"Tentu saja... kau tak melihat tanda di depan pintunya...?" Hinata berbalik, menghadap tubuh besar Sasuke. Sasuke menggeleng.
"Dengan 'itu' berlarian mengejarmu, kau takkan menyadari apapun selain kecepatan larimu yang meninggi..." ucap Sasuke, menunjuk 'itu' dengan ibu jarinya. Hinata mengerti.
"Yeah, kurasa aku paham..." Ucap Hinata, berjalan keluar bilik toilet, mendapati ruang westafel masih se sepi saat ditinggalkannya.
"Dinner?" tanya Sasuke, berjalan mengikuti Hinata, keluar dari toilet.
"Ya, kau?" Hinata menjawab, tanpa berbalik menghadap Sasuke.
"Tidak, aku kerja disini..."
"Chef?"
"Pettisieri..."
"Kau yang membuat cake di sini...?"
"Yup!"
"Serius...?"
"Kenapa?"
"Aah... tidak... lupakan!"
Sasuke menatap Hinata bingung. Hinata tetap berjalan santai dihadapannya, tak menoleh sedikitpun ke Sasuke. Ia benci mengakui bahwa cake disini sangat lezat, setelah tahu Sasuke yang membuatnya.
"Hey..." Hinata berbalik. Sasuke nyaris menabrak tubuh Hinata.
"Apa?" tanya nya, mundur selangkah agar tak menempel ke tubuh gadis itu.
"Mau sampai kapan mengikutiku?" tanya Hinata dengan tampang malas.
Sasuke terdiam. Ya, sebetulnya kenapa dia mengikuti gadis ini?
"Hinata, kau kemana saja? Pesanan mu sudah datang semua... Oh!" Suara Kakashi terhenti saat dia menyadari kehadiran Sasuke di hadapan Hinata.
Hinata menatap Kakashi dan Sasuke bergantian. Dan memecahkan kesunyian yang sangat aneh dengan memperkenalkan keduanya.
"Ah, Kakashi, ini Sasuke Sensei, wali kelasku di sekolah. Sensei, ini Kakashi..." Hinata memperkenalkan.
"Aah, senang bertemu anda..." Kakashi senyum seperti biasa, menjabat tangan Sasuke.
"Hn, yah... aku harus pergi, permisi..." Sasuke berbalik pergi setelah bersalaman dengan Kakashi, dan menghilang dari pandangan.
"Sensei yang... Ramah..." ujar Kakashi, saat mereka kemabali ke meja makan.
"Yeah, sangat ramah..." jawab Hinata, asik dengan cake cake nya.
