Noir: Maaf atas keterlambatan update, minna-san. Habisnya kami punya banyak kesibukan di dunia maya, huhuhu (termehek2 di jalan tol). Dan kami tidak menyangka, renspon pembaca dalam review oke untuk fanfic jelek ini, pokonya aku akan mengusahakan yang terbaik untuk minna-san, hehehe. Mungkin chapter ini sedikit aneh atau banyak ketidak jelasan (kasihan amat). Happy reading~
.
.
.
.
You're My Troublemaker!
Ch2: Impossible to Attack Him!
.
.
.
By Noir
.
.
.
"Dengan taruhan, kalau kau kalah, kau harus keluar dari sini, nona Fabia Sheen"
Fabia tercekat, emosi yang melanda dalam hatinya kini mengantarkannya pada bencana besar. Baru saja Ia bahagia karena ditawari bekerja di toko induk semewah itu, tapi sekarang apa, mungkin karena emosinya yang tidak dapat dikendalikan karena kelakuan pria aneh dihadapannya, sekarang mereka sampai taruhan segala. "A-apa?" tanya Fabia seakan-akan tidak mendengar taruhan gila tadi.
"Ada keributan apa ini?" suara bariton berat membuyarkan suasana panas antara Fabia dan Shun tadi. Refleks keduanya menengok ke asal suara dari ruangan staff tadi dan mendapati sesosok pria dengan jas hitam mewah. "Ayah, tidak ada apa-apa, kok" sanggah Shun santai membuat Fabia terkejut. Percaya tidak percaya, tapi yang ada dihadapannya sekarang tidak lain adalah bigbossnya. "Shun, siapa gadis itu?"
"A-aku Fabia Sheen, yang lusa lalu ditawarkan bekerja disini" jawab Fabia sedikit gugup. Raut wajah lelaki bertubuh besar itu yang tadinya sedikit menyorotkan ketegasan, kini berubah menjadi ceria. "Oh! Sheen! Ternyata kamu sudah tiba, ya? Ayo, silahkan masuk, kita mengobrol dulu sebelum kau mulai bekerja" tawar lelaki itu dengan ramah, sedikitnya Fabia jadi lega dan melupakan soal Shun tadi. "Shun, kau juga ikut, karena nantinya gadis ini akan bekerja bersamamu" lanjut sang bigboss membuat Fabia hampir tersentak kaget. "Baik, ayah"
Ternyata bukan sebuah kebohongan belaka, Shun Kazami, lelaki yang dicap mesum oleh Fabia tadi ternyata benar-benar anak daripada bigbossnya dalam toko besar yang sukses ini. "Apa benar akan baik-baik saja…" tukas Fabia dalam hatinya.
.
.
On Staff Room
.
.
"Ah, jadi kamu tidak tinggal satu rumah dengan orang tuamu?" tanya sang bigboss pada designer barunya, Fabia. "Tidak, saya ingin hidup sendiri agar bisa mandiri" jawab Fabia tersenyum simpul. Ya, sekarang Fabia beserta bigboss mungkin tengah melakukan introgasi ringan sebelum mulai bekerja layaknya perusahaan-perusahaan lainnya, mereka duduk berhadapan di sebuah sofa mewah, sedangkan Shun memojok di sudut ruangan sembari melipat kedua tangannya dan menutup kedua matanya, entah mendengarkan percakapan Fabia dengan ayahnya atau tidak.
"Wah, aku tidak menyangka designer muda sepertimu sudah tinggal sendiri, benar-benar hebat" puji sang bigboss menyunggingkan senyum singkat "Namaku Kakeru Kazami, panggil saja aku Kakeru, aku ketua dari perusahaan butik besar Kazami ini, dan aku sungguh terbantu kalau kau bisa memulai kerja secepat mungkin" sambungnya disambut anggukan kecil dari Fabia.
"Kapanpun bisa, saya akan melakukan yang terbaik" sahut Fabia memantapkan hatinya. "Dan, sebenarnya selama kami menginjak kesuksesan, ada sedikit masalah yang cukup rumit" perkataan sang bigboss membuat Fabia memiringkan kepala sedikit bingung. "Ma-masalah seperti apa, Kakeru-san?"
"Kami, perusahaan Kazami hanya memiliki satu designer yang bertahan" dengan itu Fabia kembali tercekat, perlahan tapi pasti, Fabia pun menengok sekilas Shun yang masih tenang-tenang di sudut ruangan. "Dia adalah putraku sendiri, Shun Kazami, perusahaan kami dulunya mempekerjakan banyak designer, tapi dengan banyaknya jumlah para designer, persaingan motif dan design memjadi masalah utama dan kami sedikitnya mengalami pemerosotan"
Penjelasan itu membuat jantung Fabia sedikitnya berdenyut lebih kencang, Ia tidak menyangka, toko sukses ini pernah mengalami masalah serumit itu. Pemikiran Fabia yang pertamanya harus mendapatkan saingan dari banyak designer hanya debu lewat belaka. "Tapi kenapa tinggal satu designer saja?" tanya Fabia penasaran. Ya, memang aneh kalau di perusahaan besar seperti itu hanya mempekerjakan satu designer saja, padahal banyak motif dan design juga dipertaruhkan nantinya, "Walau aku masih tidak mempercayai ini, tapi hanya anakku, Shun, yang bisa menciptakan design terbanyak dan kualitas terbaik dalam waktu singkat. Semua busana yang terpajang di toko, semuanya asli karya Shun sendiri" Fabia membulatkan matanya tidak percaya, rupanya tidak satupun dari perkataan Shun tadi adalah dusta, dan hal ini pun juga …
"Sudah Ayah, jangan diceritakan lebih dari itu, jadi dia akan bekerja denganku mulai besok?" potong Shun dengan suara yang tak kalah berat dari sang ayah, otomatis kedua insan yang sedari tadi berkomunikasi langsung menengok ke arahnya. "Iya, Shun,Jadi, Fabia, aku sangat mengharapkan designer professional sepertimu bisa bekerja disini…"
"Baik, aku akan melakukan yang terbaik!" jawab Fabia mantap. Tak diketahuinya, Shun menarik sudut bibirnya diam-diam. "Kau bisa mulai bekerja besok, atau ingin berkomunikasi dengan anakku dulu?" "Eh?"
.
.
Coffe Café
.
.
"Duh, suasanya benar-benar tidak enak" umpat Fabia dalam hatinya. Sekarang, sesuai dengan saran sang bigboss, akhirnya Fabia dan Shun mampir ke sebuah café yang cukup ternama di kota besar itu. Sebelumnya Fabia terlebih dahulu menginformasikan kedua sahabat baiknya, Runo dan Alice, untuk pulang duluan. Tentu saja karena insiden tadi, Fabia jadi merasa canggung berdua dengan Shun saja, mereka duduk berhadapan di salah satu meja café yang sudah terhidang dua cangkir minuman mewah disana. "Bersikaplah seperti biasa"
"Eh?" Fabia mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk karena merasa seseorang yang duduk di hadapannya mulai angkat bicara. "Kau merasa canggung, kan? Anggap saja aku sudah mati, bersikap seperti biasa saja" lanjut Shun membuat Fabia cengo. "Bo-bodoh… Bagaimana caranya menanggap designer mesum macam kau sudah mati, hah? Jangankan masih hidup, saat kau dikubur nanti pun aku masih menganggap kau menghantuiku tahu" jawab Fabia dengan nada sinis yang entah kenapa terlontarkan begitu saja, padahal tadinya Ia tidak ingin berbicara sekasar itu.
"Menghantuimu, eh? Jadi kau masih belum lupa soal kejadian tadi? Asal kau tahu, itu cara terbaik untuk mengamati design baju yang sedang dikenakan orang lain" sambung Shun mengayung-ayungkan jari telunjuknya dengan santai. "Hah? Jadi untuk itu kau harus me-menyentuh tubuh orang yang bersangkutan? Dasar designer aneh…" balas Fabia masih illfeel pada pria berambut panjang yang dikuncir ponytail itu. "Aneh, ya? Aku jadi penasaran bagaimana kau mengamati design orang lain" tantang Shun kemudian menatap tajam Fabia yang juga dibalas glare dari sang wanita berambut deepblue itu.
"Tantangan tadi jadi kita lakukan, hah?" tanya Fabia masih bertukar pandang dengan Shun. "Hoh, padahal aku sudah berbaik hati untuk melupakan tantangan itu padamu, siapa tahu nanti kau menyesal dan menangis pada orang tuamu" ledek Shun tetap pada wajah datar. "Menangis katamu? Aku tidak akan menangis kalau yang kulawan itu designer mesum macam kau!" nada bicara Fabia sedikit meninggi. "Sudahlah, aku tidak ingin bersikap curang kalau menantang designer jagung sepertimu, yang jelas aku ingin lihat seberapa kuatnya dirimu dalam merancang design, ayahku itu bukan orang baik yang akan memanjakan karyawannya, jadi soal usir-mengusir masalah kecil" lanjut Shun sedikit tersenyum garing.
"Hiih, dasar designer mesum yang sombong! Aku tidak percaya kalau baju rancangan di toko tadi semuanya buatanmu, jangan-jangan ada dewa yang berbaik hati merasuki tubuhmu lalu merancangkan semua itu atas namamu, heh?" ledek Fabia kemudian tidak mau kalah. Sepertinya suasana canggung tadi meleleh seiringnya perdebatan mulut mereka yang semakin tidak nyambung arahnya. "Semua dewa berpihak pada designer hebat sepertiku" balas Shun semakin melangit debatannya.
"Tapi dewa apa yang membuatmu menjadi designer mesum, eh? Atau jangan-jangan modelnya nanti dihipnotis lalu lupa ingatan sudah disentuh oleh designer mesum seperti Shun Kazami" sahut Fabia mengarahkan sendok kecil tepat di depan dahi Shun, sedangkan pemiliknya kini menyanggah kepalanya dengan tangan kirinya.
.
.
Saking asyiknya berdebat, Fabia sampai tidak sadar kalau diam-diam kedua temannya sedang mengamati dari jarak yang cukup jauh. Sepertinya kedua sahabat Fabia, Runo dan Alice, tidak pulang duluan seperti yang diperintahkan Fabia, melainkan membuntuti sang sahabat diam-diam. "Runo, kelihatan tidak?" tanya Alice sedikit bersemangat. "Iya, Fabia bersama cowok keren, tuh. Siapa, ya?" Runo malah bertanya balik karena terlalu bersemangat.
"Masa tiba di kota baru langsung dapat gebetan? Atau jangan-jangan itu kekasih Fabia? Jahat sekali, masa tidak cerita sama kita-kita" umpat Alice masih mengamati perdebatan mulut antara Fabia dan Shun, walau percakapan kedua designer itu tidak terdengar dikarenakan jarak mereka yang cukup jauh, tapi gerak-gerik mereka terlihat jelas sekali. "Mungkin Fabia malu. Lihat-lihat! Fabia mesra sekali dengannya"
.
.
"Hooh, jadi kau menggunakan kekuatan seribu bayangan untuk melakukan teknik design terbaru?" tanya Fabia dengan nada yang diliputi penasaran, tanpa disadarinya, pertanyaan yang diajukannya itu sudah ngawur diambang batas. "Tentu saja, aku mempelajarinya dari guru ninja ternama, hanya designer keren sepertiku yang bisa belajar darinya" jawab Shun menutup matanya dengan sedikit gengsi. "Masa di zaman sekarang ada ninja, jangan ngawur, deh" ujar Fabia sedikit cemberut dan menggembungkan pipinya. "Designer hebat sepertiku bisa apa saja, ketemu ninja berenang dan katak terbang juga bukan hal yang mustahil"
"Eh? Uph…"
"Huahahahahaha"
"Kau designer terbodoh yang pernah kutemui, nona Fabia Sheen" setelah mereka berdua melepas tawa lega tanpa disadari, Shun langsung saja melontarkan pendapatnya tentang Fabia secara frontal. "Kau juga, designer paling HEBAT yang pernah kutemui" tidak mau kalah, Fabia juga mengeluarkan pendapatnya dengan menekan kata HEBAT. "Begitu, ya? Kalau begitu ingat, mulai besok kita ini saingan, aku akan menciptakan design baju yang akan membuat dua bola matamu itu berhenti berputar" pamer Shun tetap mengontrol nada bicaranya.
"Siapa takut, kuterima tantangan itu" dengan itu Fabia menjadi lega entah kenapa, pikiran buruknya tentang Shun ditepisnya jauh-jauh, ternyata tuan muda Kazami ini tidak seburuk perkiraannya, walau tetap saja Fabia mencap mesum pada Shun karena kejadian di awal mereka bertemu.
.
.
.
"Selamat Fabia, jadi kau benar-benar diterima bekerja disana? Selamat, ya!" puji Runo senang karena keberhasilan temannya. Sekarang hari sudah sore, Fabia ditemani kedua sahabatnya pun pergi menuju tempat kos-kosan yang disarankan Alice. "Terima kasih, tapi tadi kalian kok tidak pulang saja, menungguku pasti lama…" ujar Fabia sedikit cemas dengan kedua sahabat baiknya itu. "Jangan sungkan, Fabia. Kami tidak apa-apa menunggu, kok. Lagipula tadi kami jalan-jalan ke mall sebentar, hehehe" sambung Runo berbohong, padahal seharian penuh mereka mengintai Fabia.
"Ngomong-ngomong, aku tidak mendapatkan tempat kos-kosan yang mewah, maaf, ya" sahut Alice dengan nada kecewa. Fabia langsung mengada-ngada kedua tangannya "Jangan bilang begitu, Alice. Mendapat tempat tinggal saja sudah bersyukur, kok. Justru aku yang harus berterimakasih". Alice tersenyum simpul "Tapi tidak seburuk yang Alice kira, , pada umumnya tempat kos-kosan di kota ini yang paling minimal saja sudah bagus, tidak bobrok seperti kos-kosan murahan pada umumnya" jelas Runo mengayung-ayungkan jari telunjuk kirinya. "Syukurlah, aku sempat lupa soal itu, bagaimana jadinya kalau designer hebat seperti Fabia harus tinggal di tempat yang buruk" ujar Alice bernafas lega.
"Duh, aku benar-benar terbantu berkat kalian, mungkin setelah melihat tempat kosnya nanti aku mau langsung membuat design" Runo dan Alice menengok bersamaan ke arah Fabia "Eh? Semangat sekali" umpat Runo tersenyum kecil. Fabia mengangguk sembari mereka bertiga masih berjalan di tengah kota yang ramai itu. "Iya, aku kan mulai bekerja besok, jadi aku sudah harus memikirkan design yang bagus untuk dipajang di butik mahal itu" sahut Fabia mengayungkan kepalan tangan manisnya tanda semangat.
"Wah, besok? Kalau begitu sepulang dari kursus kami langsung mampir, deh" balas Alice bersemangat kalau-kalau soal baju dan butik. "Jangan terburu-buru dong, teman-teman, kalian juga harus menyimpan banyak tabungan untuk masa depan, kan?" dengan itu Alice langsung cemberut. "Betul kata Fabia, kau kebanyakan belanja, sih" omel Runo lalu akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.
.
.
.
"Apanya yang buruk, tempat kos ini bagus" guman Fabia begitu menginjakan kakinya di kamar kos yang baru disewanya, untung saja Alice cepat membooking kamar terakhir dari rumah kos-kosan itu, kalau tidak Fabia akan bernasib apa nantinya tanpa tempat tinggal. Kamar itu seukuran 3 x 4 meter, ada ranjang tidur, lemari pakaian, pendingin ruangan,dan kamar mandi, bahkan kamar itu bisa disewanya dengan harga terjangkau. "Baiklah, mulai besok aku akan mulai hidup baruku di kota ini, semangat Fabia!" teriak Fabia dalam hatinya. Gadis berperawakan manis ini mulai mengeluarkan sebuah buku sketsa tebal dari bawaannya dan juga pulpen yang biasanya digunakan gadis ini untuk merancangi design baju yang selama ini selalu menganggumkan dunia.
"PERMISIIII"
"Eh?" suara seseorang dari luar kamar kos mengejutkan Fabia yang baru menyelesaikan atasan dari rancangannya, gadis manis itu segera menengok ke arah pintu kosannya yang sekarang mulai terketuk pelan dari orang luar. "Siapa?" tanya Fabia dengan suara yang cukup keras agar sosok dari balik pintu itu bisa mendengarnya. "Aku tetanggamu, aku boleh berkenalan denganmu tidaak?" seru suara itu lagi. Fabia pun berpikir balik, mungkin kalau sebentar tidak akan menganggu designnya, hari juga sudah gelap, tidak baik kalau Ia menolak penawaran dari tetangga barunya. "Hm, sebentar…"
Cklek…Begitu pintu terbuka, Fabia mendapati lelaki berambut kecoklatan yang sepertinya sangat ramah, Fabia memiringkan kepalanya "Aku kira perempuan" ujar Fabia membuat sosok lelaki itu gedubrak slow motion di tempat. "Jahat sekali, suaraku kan jelas laki-laki…Ah, lupakan, lupakan! Uhm, perkenalkan, namaku Dan, Danma Kuso" sapa lelaki itu bangkit berdiri dan menyodorkan tangan kanannya dengan ramah. "Uhm, maaf. Aku Fabia Sheen, salam kenal Dan-san" balas Fabia menyodorkan tangan kanannya lalu mereka berdua berjabat tangan secara singkat.
"Sheen? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu dan… uhm panggil saja aku Dan, tidak perlu embel-embel '-san' segala" ujar Dan mengada-ngada kedua tangannya. Fabia mengangguk "Baiklah, Dan. Pernah mendengar namaku? Tapi kita tidak pernah bertemu sebelumnya, kan?" tanya Fabia heran. "Iya, sih. Sheen…Sheen…ah, iya! Sheen! Merk baju yang sedang naik daun itu, ya?" tanya Dan sembari menepuk telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya. "Eh? Ternyata kau benar-benar perempuan, buktinya kau tahu merk bajuku yang merupakan merk baju perempuan" kesimpulan yang diambil Fabia membuat lelaki berparas ceria itu kembali gedubrak.
"Tu-tunggu dulu, dong! Sepupu perempuanku selalu saja membeli baju merk itu, jadi aku tahu dan benar nih kamu Sheen yang itu?" entah siapa dulu yang memulai, topik pembicaraan mereka seakan sudah ditetapkan, yaitu tentang merk baju Fabia. "Iya, itu aku" jawab Fabia singkat. "Sugee, aku tidak menyangka akan bertemu dengan designer aslinya, senang sekali!" umpat Dan loncat-loncat girang.
"Ah, aku tidak sehebat itu, kok" sahut Fabia berusaha merendahkan diri. "Ngomong-ngomong, aku juga designer, hanya saja belum pintar. Kalau begitu nanti bagi-bagi tips, dong" mohon Dan dengan pandangan memelas membuat Fabia sedikit sweatdrop. "Wah, kau designer baju juga? Boleh aku melihat rancanganmu?" Fabia jadi penasaran kalau soal design baju, tadinya Ia juga tidak menyangka kalau lelaki didepannya juga seorang designer yang tidak sengaja bertemu.
"Boleh saja, sebenarnya aku merancang baju sia-sia, karena rancanganku itu nantinya akan beratas namakan merk orang lain" bisik Dan tersenyum maklum, Fabia membulatkan matanya mendengar itu "Eh? Kenapa seperti itu, kau tidak menyesal nantinya?" memang aneh kalau seseorang yang sudah susah-susah menciptakan sebuah maha karya, tapi nantinya harus diatas namakan orang lain, dengan kata lain sia-sia saja dan tidak bernilai. "Tidak juga, lagipula karyaku sedikit sekali, belum lagi pengatas namakan karyaku itu teman baikku sendiri"
Dengan itu, Fabia pun mengajak Dan masuk ke kamar kos-kosannya merasa pria di hadapannya bukanlah orang yang berbahaya, bahkan mereka itu satu type. Begitu mengobrol di dalam, tak terasa Dan jadi ikut-ikut berkomentar pada gambar rancangan Fabia, setelah asyik, mereka jadi menciptakan karya berdua. "Seharusnya lekukan tangan 45 derajat dibuat dengan jepitan, lekukannya pasti sangat bagus" umpat Dan sembari menggambar design bagian tangan. "Iya juga, ya. Lekukan yang tidak bisa dibuat dengan mesin jahit, lalu di bagian bahu ditambahkan aksesoris metal, pasti lebih berkelas" pembicaraan Fabia dan Dan sedikitnya nyambung selaku sesama designer.
.
.
.
.
Malam kelam tanpa bintang pun berganti pagi hari yang cerah, Fabia terbangun dari tidurnya, tak terasa sampai-sampai buku sketsa gambarnya dibawa-bawa saat tidur. Kemarin Dan baru kembali ke kamarnya setelah 3 jam asyik mendesign bersama Fabia, memang menyenangkan, tambah lagi Fabia jadi mendapat ide gratisan dari Dan secara cuma-cuma. "Baiklah, jam 8 pagi aku sudah harus tiba di toko" umpat Fabia langsung turun dan merapikan ranjang tidurnya, Ia bergegas mandi dalam waktu singkat dan bersiap kerja. Mungkin karena hari pertama, makanya Fabia jadi sangat bersemangat.
Cklek.
Merasa sudah siap, Fabia segera mengunci pintu kamar kosannya dan bergegas untuk berangkat kerja, baru Ia ingin menuruni tangga, kebetulan atau apa, Fabia langsung berpas-pasan dengan Dan yang sepertinya baru lari pagi. "Ohayou Fabia!" sapa Dan tetap ramah seperti kemarinnya, Fabia tersenyum simpul lalu membalasnya "Ohayou"
"Katanya hari ini kau akan bekerja, kan? Semangat, ya!" seru Dan mengacungkan jempol kanannya, Fabia mengangguk "Iya, kapan-kapan kau juga mampir ke toko tempatku bekerja" ajak Fabia yang moodnya membaik. "Hump, pasti!"
"Ngomong-ngomong Fabia, apa kau kenal dengan Shun Kazami?" pertanyaan itu membuat Fabia tersentak kaget. Kenapa orang macam Dan bisa mengenal Shun? Mungkin alasan yang pasti adalah karena sama-sama di dunia designer. "Uhm, ti-tidak…" entah kena angin apa Fabia jadi berbohong seperti ini "Memangnya kenapa?"
"Dia teman baikku yang kuceritakan waktu itu, lho. Semua rancangan buatanku, semuanya kuberikan padanya" jelas Dan tersenyum ceria, tapi Fabia menanggapinya sebagai sebuah kenyataan yang tidak terduga. "A-apa?"
.
.
.
.
To Be Continued
Noir: Halo, minna-san. Sudah selesai dibaca? Gi-gimana ceritanya? Pastinya garing asli, ya (?). Dan maaf kalau misstypo masih beredar, duh, saya paling kesulitan untuk mengawasi misstypo dalam cerita. Oke, ceritanya juga singkat atau alurnya kecepatan? Beri pendapat kalian lewat review, ya, buat bahan referensi juga :)
-Balasan Review:
To Muto Tendou Haku'kun: Makasih, ya, dik sudah di review. Ini yang buat ficnya hanya neechan, kok. Niichan hanya numpang lewat (kasihan amat). Soal tema, iya nih lagi kepengen buat tentang design, salah satu cita-cita nee yang mungkin susah tercapainya (plak). Ini Dan sudah muncul, semoga mengobati rasa kekuranganmu pada fic ini, review again. ^_^
To Pratama sync demon: Arigatou nee sudah menyempatkan diri untuk review. Soal masalah pair, namanya juga awal kan ngak mungkin langsung jatuh cinta, hehehe XD (plop). Dan x Runo? Hm, lihat saja nanti, hehehe, Review again :)
To Kazekoori Nagare: Makasih sudah di review, apa icon itu tandanya cerita ini 'good'? O.O (salah mengerti). Ya, sudah, review again, ya ^_^
To wishing to know Indonesian: Uhm, hello there, thanks for review this fail fanfiction. English fic? Uh, sorry about it, I think I can't make it. Because my grammar too bad, I won't make all of English reader disappointed with my fail English.
To Madoka Vessalius: Madochan, thanks sudah di review, ya. Penggambaran ceritanya belum kelihatan? Waduh gomenasai, cerita ini fail banget dan maaf mengecewakan Madochan. Soal gaya pendeskripsian? Ah sama failnya dengan gaya penggambarannya *plak* Review again ^_^
To Authorjelek: Makasih ya Author-san sudah mau mampir ke fanfic jelek ini, seru? Wah, baguslah, akan saya pertahankan soal itu. Shun-nya mello? Wah gimana itu ya, fufufu. Review again :D
To Laila Sakatori 24: Laila-san, makasih ya sudah di review. Ceritanya seru? Wah, syukurlah anda berpendapat seperti itu, saya akan coba mempertahankan tingkatnya dan soal tema, aku kira tema ini membosankan, ternyata bagus dimata anda, syukurlah * w * Review again, dayo~ :)
To bjtatihowo: Hello there, terima kasih sudah di-review, ya, hehehe. Ceritanya bagus? Syukurlah, soal pair, iya saya ambil dari versi itu, kebetulan ingin mempelajari fanfic straight juga, jadi saya ambil fandom ini sebagai percobaan. Flame itu review yang menggunakan kata2 senonoh atau ngata2in fic, sepertinya review anda tidak demikian, review again ^_^
To Chubi-chubi: Halo, Chubi-san, makasih sudah datang review fanfic ini. Iya, nih, lagi belajar buat fanfic straight, semoga suka, ya. Eh, cita-cita Chubi juga jadi designer? Hebatnya, semoga terkabul, ya. Review again ^_^
To YorinaiMizuchi: Yorichan, thanks sudah datang review, ya. Misstyponya sedikit? Syukurlah *sujud2* Iya, disini kami pakai pair Shun x Fabia, ini sudah diupdate, semoga mengobati rasa penasaranmu pada fanfic ini. Review again, ya :D
R
E
V
I
E
W
