Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.
Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya
.
.
.
.
.
Ditulis berdasarkan imajinasi tanpa referensi
© Masashi Kisimoto
Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil, khusus (18+).
Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur cepat
Rated : M (language and content)
Pairing : Naruto-Hinata
Story : Atharu
Cover : Masih dalam tahap pengerjaan (Belum buat desain malah)
Bisa mengikutinya juga di wattpad (Atharu) namun belum bisa saya upload di sana karena covernya masih belum jadi. So, still waiting ya.
Tolong perhatikan warning yang saya cantumkan, terutama mengenai bahasa yang saya gunakan. Memang ada beberapa bagian dengan frasa tidak sesuai tatanan kebahasaan karena memang konteksnya saya buat seperti itu.
Kata yang dicetak Tebal adalah percakapan lewat telepon.
.
.
.
REMOVE
.
.
.
.
.
.
Naruto keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah. Rambut pendeknya menjuntai turun meneteskan butiran air meski sudah beberapa kali digosok menggunakan handuk. Bathrobe hitam yang masih menutupi tubuh atletis nya telah berganti dengan kaos santai dipadu dengan celana pendek loreng–Naruto lebih senang berpakain biasa ketika tidak ada kegiatan formal apapun.
Setelah pertemuan pertamanya dengan Boruto, Naruto lebih banyak berdiam diri. Semua hal yang menyangkut pekerjaan terpingirkan begitu saja. dunianya mendadak dipenuhi keraguan dan ketidak tahuan. Dia melamun, mencoba meraba keanehan dalam dirinya –barangkali dia melewatkan sesuatu. Satu botol sampanye-pun sama sekali tidak bisa menghilangkan beban pikiran hingga kepalanya berdenyut pening.
Setiap Naruto memejamkan mata, dia selalu mendapati wajah bocah kecil replika dirinya tengah tersenyum lebar.
Melebihi keinginan Naruto yang menginginkan seluruh dokumen profil Hinata sudah harus di atas mejanya besok, sebuah map coklat berisi file penting telah Kakashi letakkan. Kakashi bisa dibilang asisten pribadi yang paling cekatan dalam menjalankan perintah. Lelaki berambut perak itu dikenal loyal sejak ayahnya -Namikaze Minato- masih menjabat sebagai leader di Uzumaki crop sampai berganti masa kepemimpinan ke pundak Naruto.
Mendesah pelan, Naruto menyandarkan dirinya pada sofa beludru di sisi jendela. Dia butuh ketenangan untuk membaca lembaran profil mantan istri dengan teliti.
Foto sosok seorang wanita langsung dikenali Naruto. Hyuuga Hinata telah berumur 27 tahun, wajahnya tidak menunjukkan perubahan meski Naruto berharap bisa melihat raut tertekan mantan istrinya dalam menjalani kehidupan selepas perceraian. Wanita itu tetap memancarkan kecantikan tersembunyi yang enggan Naruto akui.
Dia bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe hampir lima tahun lebih terhitung dari beberapa bulan setelah perceraian mereka. Naruto tersenyum sinis, dia cukup terkejut mengetahui wanita pemilik bola mata lavender itu bisa pergi begitu jauh.
"Huh, dia bahkan bisa melarikan diri sejauh ini. Sembunyi layaknya buronan polisi."
Tempat kelahiran Hinata adalah di Tokyo, namun sekarang dia menetap di salah satu sudut Hokkaido –kota Sapporo.
Entah bersembunyi atau ingin memulai hidup baru. Naruto menolak berdiam diri jika Hinata bisa menikmati hidup setelah apa yang wanita itu lakukan padanya. Seharusnya Hinata bunuh diri sehabis melakukan sebuah kesalahan fatal, bila tidak maka Naruto sendiri yang akan menunjukkan apa arti neraka.
Sangat mudah bagi Naruto menghancurkan satu orang.
Pada baris informasi selanjutnya ditemukan fakta bahwa Hyuuga Hiashi, mantan mertua Naruto telah meninggal. Dan lagi-lagi terjadi selang beberapa hari dari perceraiannya dengan Hinata. Meskipun Naruto hanya satu kali melihat Hiashi sewaktu meminta ijin membawa Hinata untuk tinggal bersama, namun Naruto tahu bahwa satu-satunya orang tua Hinata itu tidaklah dalam kondisi sehat.
Seingatnya, Hiashi punya riwayat sakit jantung akut hingga membutuhkan biaya tidak sedikit untuk dapat bertahan hidup. "Seharusnya kau menjaga kehormatanmu ketika kujadikan bagian dari keluarga Uzumaki, Hinata. Namun kau malah melacurkan dirimu sendiri. Cihh pantas saja ayahmu mati. Dia malu punya putri kotor sepertimu."
Mengingat Hinata sama saja membangunkan iblis dalam dirinya. Pria itu merasa kembali ditarik ke dalam jejak hitam di masa lampau. Waktu dimana martabatnya dicoreng, diinjak dan dilucuti. Hinata harus memahami status kepemilikannya, apa yang telah menjadi milik Naruto adalah apa yang tidak boleh dimiliki orang lain. Klaim posesifnya bersifat mutlak dan mengikat.
Nyatanya, berani sekali Hinata berselingkuh bersama lelaki asing tepat di depan matanya. Memapah pria lain untuk masuk pada salah satu bilik kamar hiburan. Naruto mengepalkan tangan, namun dia menolak mendobrak pintu untuk menangkap basah dua tersangka. Terlalu jika mendapati Hinata dibawah kungkungan orang lain.
Naruto mempunyai sifat realistis dan logis, dilengkapi arogansi maka apa yang dilihat adalah kebenaran yang dia percayai
Mengabaikan kemungkinan kesalahpahaman, Naruto terlalu tempramen untuk bisa menerima pembenaran apapun. Dia menolak berdamai bila menyangkut masalah perasaan. Naruto baru tahu apa itu rasa cemburu ketika miliknya bisa dinikmati orang asing.
Meski hubungan mereka berawal dari sebuah kesepakatan namun Naruto benci penghianatan. Hinata harus tahu siapa pemiliknya.
Naruto tidak mengerti sama sekali. Kenapa Hinata membiarkan dirinya disentuh lelaki lain? Kurang apa dirinya dalam memberikan fasilitas kenyamanan yang diharapkan banyak wanita lain di luar sana.
Wanita itu pura-pura menjadi istri baik untuk menutupi kebusukannya.
Naruto menarik napas panjang. Cukup sesak karena itu kali pertama dia merasakan hatinya dirusak. Masa lalu memang tidak boleh terlalu dikenang, menjadikannya pelajaran merupakan cara terbaik untuk menatap masa depan. Mendecakkan lidah, sekarang Naruto hanya ingin memfokuskan diri mengungkap siapa ayah kandung dari Boruto.
Sebuah misteri kenapa Boruto bisa memiliki paras seperti dirinya patut Naruto curigai.
Satu lembar file terakhir menarik perhatian Naruto. Foto sosok Boruto tengah tersenyum lebar membuat Naruto tanpa sadar ikut tersenyum kecil. Netra mata si kecil begitu bening, bahkan birunya melebihi milik Naruto sendiri. Rambut kuning bergelombangnya mencuat ke sisi-sisi samping, muncul sejumput di atas kepala –Ahoge.
Apakah itu karena ibunya memiliki rambut lurus?
Naruto semakin tertarik namun dia tak lagi menemukan informasi apapun selain menyebutkan Hinata sebagai nama ibu kandung Boruto. Bahkan tanggal lahir kelahiran Boruto tak tercantum, Hinata benar-benar mengunci rapat hal pribadi yang berkaitan dengan putranya –atau putra mereka?
Naruto harus bertemu Hinata sekarang juga.
.
.
Melewatkan waktu tidur malam, Naruto malah memacu mobilnya ke sebuah alamat tempat Hinata tinggal. Segalanya berubah menjadi tidak terkontrol sejak dia bertemu kembali dengan Hinata, dan Naruto membenci rasa ingin tahu berlebih jika menyangkut mantan istrinya tersebut. Ditambah pertemuan dengan bocah jiplakan dirinya, Naruto butuh jawaban agar dia bisa tidur tenang.
Dan di sinilah sekarang Naruto berada.
Apartemen –lebih cocok jika disebut flat kumuh itu membuat Naruto memandang jijik nyaris meludah. Bau udaranya lembab tak sehat. Benar-benar sudah tak layak huni. Bangunan dua lantai di depannya bisa dikatakan tempat tinggal paling buruk kontruksinya, betonnya keropos serta ditumbuhi lumut yang Naruto percaya akan segera rata dengan tanah jika ada angin kencang lewat.
Tidak ada pos keamanan untuk meminta informasi, namun Naruto juga tidak butuh. Dia tahu di lantai berapa mantan istrinya bernaung. Lantai dua kamar paling ujung adalah jawabannya. Naruto melangkah menaiki tangga karatan, keningnya merengut menyadari standar keamanan dan keselamatan di flat ini jauh dari kata standar.
Sol sepatu beradu besi lapuk. Tangga rapuh ini seolah tidak mampu menahan berat tubuhnya. Kaki bisa terjerembah jika salah pijak. Benar-benar tempat tinggal untuk manusia buangan. Kira-kira sudah berapa lama Hinata tinggal di tempat seperti ini? Naruto menggelengkan kepala enggan memedulikan hal itu. Hidup di kolong jembatanpun dia menyakinkan diri untuk tidak memerdulikan Hinata.
Ketika sudah berdiri di depan pintu, Naruto sedikt ragu. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Jantungnya terlalu berisik sekadar untuk memompa aliran darah. Benar-benar bajingan karena tubuhnya pun sampai berkeringat dingin. Mati rasa.
Naruto tidak ketakutan, dia hanya kebingungan. Apa yang harus dia ucapkan? Salam bertamu? Jangan gila. Hinata bisa menggoroknya karena terlalu benci. Lagipula emosinya juga memburuk bila langsung berhadapan dengan Hinata.
Lantas apa kata pertama yang harus Naruto keluarkan?
"A-apa yang kau lakukan di sini?"
Tangan Naruto tertahan di udara ketika akan mengetuk pintu. Orang yang menjadi alasan Naruto bersikap aneh sekarang malah berada tepat di belakangnya dengan membawa kantong plastik besar entah berisi apa.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan di sini?" Kalap, Hinata menarik lengan Naruto menjauh. Dia hampir terkena serangan jantung saat mata doe-nya melihat sosok pria tinggi menjulang berdiri hendak masuk ke dalam kamar flatnya. Hinata menghadang Naruto agar tetap menjauh dari pintu.
Naruto mengabaikan pertanyaan Hinata. "Oh, seorang wanita baru pulang pukul dua malam? Menjual tubuhmu untuk mengisi perut?" Sejujurnya Naruto membenci fakta jika Hinata masih berada di luar rumah saat tengah malam. Pria berwajah campuran itu mendesis marah. Apa Hinata keluyuran mencari pelanggan? Ototnya menegang tanpa alasan.
"Bukan urusanmu. Cepatlah enyah dari sini."
Naruto membenci Hinata yang tidak lagi memiliki rasa takut. Wanita ini berani menaikkan dagu menantang ketika bertukar pandangan dengan Naruto. Sungguh cari mati!
"Pergi, Pergi kau kurang ajar!" Hinata mengusir Naruto. Memukul tubuh mantan suaminya namun Naruto tetap kokoh berdiri. Kekuatan Hinata terlalu kecil untuk menggeser tubuh tegap Naruto. "Kau tidak perlu mencampuri hidupku lagi."
"Jangan besar kepala, sialan. Melihat wajahmu pun aku ingin muntah."
"Kalau begitu pergi dari sini, tuan Uzumaki yang ter-hor-mat." Kembali Hinata mendorong agar Naruto segera pergi. "Bukankah kau bisa alergi jika berada di tempat kumuh ini." Nada sinis dan sindiran menyerang Naruto.
Tempramen Naruto jelas mudah tersulut. "Jagan mulutmu Hinata. Wanita kotor sepertimu harus tahu dengan siapa kau mencari gara-gara. Hidup miskin membuatmu kehilangan sopan santun."
Hinata mendengus remeh. "Kotor? Sopan santun? Lalu dirimu apa Naruto? Pria terhormat yang mau telanjang bersama mantan pacarnya, begitu. Heh." Tawa Hinata menghina. Tentu dia ingat desahan Naruto bersama sang mantan ketika bercinta di belakangnya. Di kamar yang biasa ditiduri oleh dirinya bersama Naruto sewaktu masih terikat hubungan suami istri.
Di saat Hinata memberitahukan Naruto akan menjadi seorang ayah, pada saat yang sama pula Naruto melemparinya surat perceraian. Mengusirnya dengan tuduhan perselingkuhan. Omong kosong! Lelaki itu hanya mencari alasan untuk bisa bermain serong.
"Seharusnya dulu kubiarkan saja dirimu dan kelurgamu dipermalukan di depan umum karena calon pengantin Uzumaki Naruto memilih melarikan diri bersama kekasih gelapnya. Ingat Naruto, akulah yang menyelamatkan wajah brengsekmu itu."
Amarah Naruto memuncak. Dia tidak tahu darimana Hinata belajar berkata amoral seperti itu. Tidak terdidik ataupun tertata mirip preman pasar. "Hinata!" Lengannya terulur mencekik leher Hinata hingga wanita itu tersedak.
Kepala Hinata membentur tembok sampai kantong plastik di pegangannya jatuh mengeluarkan isinya. "Kau yang pertama tidur dengan lelaki lain. Kau kira mataku buta sepertimu."
Semakin sesak cengkraman tangan Naruto pada lehernya, lelaki ini serius ingin menyakiti Hinata. Sedangkan Hinata mencoba memberontak, menjerit atau meminta pertolongan namun suaranya tercekat tak mampu dikeluarkan. Tidak banyak yang tinggal di tempat bobrok seperti ini, hanya empat orang termasuk dirinya dan Boruto. Dua tetangganya berada di lantai bawah, mereka terlalu enggan melibatkan diri pada permasalahan orang lain.
"Jangan macam-macam padaku Hinata. Nyawamu terlalu murah untuk dibeli." Naruto melepaskan cekikannya. Sulur merah cetak lima jari melingkar di leher Hinata. Naruto cukup puas untuk menggertak Hinata. "Kubunuhpun tidak ada yang peduli atau merasa kehilangan."
"A-aku tidak takut Naruto." Hinata balas menatap tajam pada pria ini. "Kau salah bila beranggapan aku tetap Hinata yang naif. Dia mati, wanita lemah itu sudah kau bunuh! Aku bukan Hinata yang berdiam diri jika kau perlakukan secara keji." Sebenarnya tubuh Hinata sudah melemas, tenaganya tidak sebanding untuk melawan lelaki kekar berbadan gahar.
Tapi, meski bahunya terguncang layaknya diserang getaran thermor, Hinata menyakinkan diri untuk tetap berdiri di atas kakinya sendiri. Dia tidak boleh menangis di depan Naruto. Hinata sudah mengalami ketakutan yang lebih besar daripada ini.
Salah besar jika beranggapan dia wanita tanpa keberanian!
Naruto mengatur napas mengolah emosinya. Sejujurnya Hinata selalu bisa menaik turunkan suasana hatinya. Mengaduk perasaan sampai membuat Naruto berdiam diri sibuk menyelami apa yang telah dia lakukan. Dadanya berdentum mendengar kata-kata Hinata.
Naruto bisa merasakan sehancur apa Hinata hanya dari ucapannya.
"Aku sedang tidak ingin berdebat." Mata Naruto melihat tubuh Hinata nampak berantakan, memandang datar pada bekas merah di leher putih Hinata. Bekas tangannya seperti rantai.
"Aku di sini untuk menjemput anakku."
Bola mata Hinata melotot tak percaya. Secepat inikah Naruto mengetahui rahasianya? Tidak! Hinata tidak bisa menerima. Pria itu tidak punya hak apa-apa kepada Boruto meski sehelai rambutpun. Tidak ada nama Uzumaki di belakang nama anaknya. Boruto bukan anak Naruto.
"Anak? Sejak kapan kau punya anak dari seorang jalang sepertiku? Haha." Hinata berucap dingin. Pandangannya mencelah rendah, dia mengenyahkan segala hal buruk yang bisa Naruto lakukan padanya.
Bahkan untuk membunuhpun Hinata bertaruh Naruto tidak akan gentar. Dia punya kekuasaan untuk menundukkan hukum. Kekuasaan bisa membeli keadilan. Hinata mencibir segala kesempurnaan yang melekat pada mantan suaminya, Naruto tidak pernah tahu cara untuk bersyukur.
Namun, mana peduli Hinata dengan keselamatannya jika saat ini Boruto lah yang menjadi sumber perdebatan. "Kau melabeliku sebagai pelacur, lalu kau meminta anak padaku? Bercerminlah, Naruto. Barangkali kau bisa melihat sebajingan apa dirimu."
Telinga pria berahang tegas itu memanas. Emosi Naruto bukan hal bagus untuk dipancing. Semua ucapan Hinata menancap, memasungnya untuk tetap menjaga jarak. Sadar akan posisi. "Boruto. Dia adalah anakku." Tenang dan terkendali, Naruto berusaha mencoba bernegosiasi. "Aku bisa menuntutmu karena memisahkan seorang anak dan ayah."
"Anak yang mana? Seingatku dulu kau tidak mengakuinya. Kembalilah ke Tokyo, urus wanitamu dan jangan campuri kehidupanku."
Dua-duanya saling melempar pandangan kebencian. Naruto menuntut sedangkan Hinata berkeyakinan denial.
"Uzumaki Boruto adalah anakku!" Balas Naruto tanpa tahu malu.
Hati Hinata menggeleng tegas. Mana sudi dia mengakuinya. Perasaannya sebagai seorang ibu kenapa begitu Naruto permainkan. Pernahkah dia dulu menjahati Naruto hingga lelaki itu bisa sekejam ini padanya?
Dulu Naruto yang membuang, kini dia muncul ingin mengambilnya. Rongsokan. Hinata merasa hidupnya dipelintir dan disetir. Dunianya tidaklah seluas Naruto, hanya ada Boruto sebagai porosnya. Lalu jika anaknya diambil, Hinata akan berhenti bergerak. Jatuh lalau hancur sampai melebur.
"KAU BUKAN AYAH BORUTO!" Akhirnya Hinata berteriak murka. "Sampah yang kau tolak dan buang, bukan lagi milikmu Naruto. Kau sendiri yang mengatakan janin dalam kandunganku adalah kesialan dari lelaki lain -Hmm."
Tidak puas hanya itu, kembali Hinata melontarkan sakit hatinya. Bara api yang tersembunyi bertahun-tahun meledak melemparkan amukan ganas siap mengadili –menghanguskan kepercayaan seorang Naruto. "Mulutmu menyumpah bayi malangku agar lekas berjumpa dengan penjaga neraka. Kau pula yang mencoba membunuhnya. Ingatkah malam itu Naruto, kau ingin merampas kesempatannya untuk bisa melihat dunia. Kau menginginkannya bersatu dengan tanah. KAU MEMINTAKU UNTUK MENGUGURKANNYA, BAJINGAN!"
Mana bisa Hinata melupakan itu semua. Dendam pada Naruto adalah dendam karena lelaki inilah orang yang paling menginginkan Boruto didekap oleh gundukan tanah pemakaman.
Meskipun dulu Hinata memohon sampai mengemis namun Naruto tetap mengusirnya. Dia lebih menaruh kepercayaan pada omongan Shion –mantannya. Sulit bagi Hinata untuk memaafkan mereka. Sampai sekarangpun andai Hinata bertemu dengan Shion, dia tidak akan ragu untuk memberinya pembalasan.
Shion lah sosok kunci penyebab kehancuran rumah tangganya, menjadi penjembatan untuk segala kesakitan yang Hinata dan Boruto terima. Wanita yang mengaku paling terhormat itu adalah jalang yang sesungguhnya. Dia bisa membutakan mata Naruto, berhasil meracuni pikiran Naruto agar membenci calon anaknya sendiri.
"Anggap saja aku memang jalang murahan yang meniduri lelaki manapun dan Boruto adalah anak dari salah satu pelanggan yang menyewa jasaku."
'PLAAKKK!'
Dada Naruto naik turun, dia tak tahan untuk tidak menampar pipi milik wanita bertubuh kecil ini. Mulut Hinata harus dihentikan bagaimanapun caranya. Seluruh tubuhnya diliputi kemarahan tanpa bisa disembunyikan. Naruto merasa bagian terdalamnya terinjak setiap mendengar perkataan Hinata.
Naruto marah ketika mendengar wanita yang dulu berperan sebagai pendamping hidupnya terlalu merendahkan diri. Hinata membakar habis kesabarannya.
"Jangan kau kaitkan anakku dengan pekerjaan kotormu itu." Nada suara Naruto memperingatkan tidak kalah dingin. Sebuah ancaman tersirat melalui kata verbal. "Kau tidak bisa mengurusi hidup anakku dengan kondisi miskinmu seperti ini." Bahkan sekarang Naruto menarik kuat rambut Hinata. Dia menolak mendengar rontaan kesakitan Hinata.
Biadab! Hinata menyumpah dalam hati. Naruto berkata seolah uang adalah segalanya, segala hal bisa dibeli dengan uang termasuk Boruto. "Dia anakku. Aku yang melahirkannya." Jerit Hinata frustasi. "Mintalah banyak anak pada lacurmu. Shion akan senang hati menampung spermamu untuk bisa menghadirkan penerus Uzumaki lain. Tapi jangan anakku."
Panas di pipi bekas tamparan masih tersisa, kepalanya juga sakit akibat jambakan Naruto. Tapi lebih perih keadaan hati beserta jiwanya ketika Naruto mulai menuntut haknya sebagai seorang ayah. Hinata bangkit kembali, ia harus bisa menegakkan batas antara dunia Naruto dengannya.
"Boruto tidak membutuhkan seorang ayah. Seorang yang ingin melenyapkannya tidak akan pernah Boruto terima. Meskipun dia terbentuk dari spermamu, namun kau tidak bisa mengklaim Boruto sebagai anakmu. Dia bisa hidup dengan baik tanpa papa pengecut sepertimu!"
Perlahan jambakan Naruto melemah, setiap kata yang terucap dari Hinata menjadi rentetan peluruh yang berebut ingin melubangi tubuhnya sampai bocor. Naruto belum pernah merasakan kekalahan di dalam hidupnya. Dia adalah pemenang di setiap kompetisi, harga dirinya menolak tunduk. Tapi kali Naruto mengakui, hatinya meringis ngilu dan sisi kemanusiannya ingin menangis.
"Sebelum Boruto sendiri yang menolakmu, lebih baik kau lebih dulu menghilang. Tetap lakukan seperti apa yang kau lakukan terhadap kami selama lima tahun ini. Jangan muncul, jangan mendekat apalagi mengakui dirimu sebagai papa. Meski Boruto anakmu, cukup anggap dia sudah tiada."
"Ingatlah kata-katamu dulu Naruto. Anak yang kukandung adalah anak haram."
Tanpa memerdulikan bahan makanan yang masih tercecer di lantai, Hinata buru-buru masuk dan mengunci pintu. Dia tidak butuh pengakuan Naruto lagi untuk anaknya. Perih itu kembali muncul, bahkan membawa luka baru menambah pedih terdahulu.
Hinata tidak memersalahkan kebencian Naruto terhadap dirinya. Tapi satu hal yang mustahil Hinata lupakan dan maafkan. Penolakan Naruto akan keberadaan Boruto sungguh menyakitkan. Anaknya dulu diragukan. Dicemooh ayahnya sendiri padahal belum terlahir ke dunia. Cukup satu kali penolakan menyakitkan maka Hinata telah menutup pintu maafnya untuk Naruto.
Tubuhnya langsung merosot, menggigit tangannya untuk meredam isak tangis. Dia wanita kuat yang belajar dari kejamnya hidup tapi di saat tertentu dia bisa lemah. Semuanya menjadi rumit dan Hinata ingin menjerit. Sekali sentuh Hinata bisa hancur berkeping-keping.
Batinnya menangis pilu. Tuhan, bisakah Hinata hidup tenang bersama Boruto seorang?
Tepat di sana, mata basah Hinata melihat Boruto nyenyak tertidur meski hanya beralas futon tanpa busa. Hinata mendekat dan mengelus kening anaknya. Lihat, bayi kecil yang ia besarkan seorang diri kini telah tumbuh sehat. Dia anak yang montok, bahkan bobotnya sering membuat Hinata kesusahan untuk menggendong.
Hinata terkekeh lirih. "Sayang, tidurlah. Mimpi indah, mama di sini untuk melindungi Boruto –hikss- mama akan kuat hanya untuk Boruto -hikss- jadi Boruto akan tetap bersama mama kan? Mama ingin membelikan Boruto mainan, namun mama masih menabung nak, bersabarlah sedikit lagi. Tapi Boruto harus tahu sayang –hikss- mama mencintaimu melebihi diri mama sendiri. Mama yakin kau bisa menjadi orang hebat nak."
Air mata Hinata terus menetes membasahi wajah tirusnya. Doanya akan selalu menyertai Boruto. "Meskipun Boruto nanti bertemu papa, namun mama harap kau memilih mama sayang. Mungkin mama tidak punya uang, tapi cinta dan kasih sayang bahkan nyawapun akan mama berikan untukmu sayang."
Hinata mengingat saat kelahiran Boruto dulu. Dia berjuang antara hidup dan mati tanpa keluarga yang mendampingi. Ditengah kesakitan hebat yang dia alami, Hinata percaya anaknya adalah berkah dari Tuhan yang harus dia jaga.
Lalu Hinata tertidur dengan posisi memeluk Boruto. Dia tidak tahu bahwa di balik pintu, Naruto menunggu dengan lelehan air mata.
.
.
Hinata terbangun ketika merasa sebuah kecupan manis pada wajahnya. Sinar mentari dari celah ventilasi sedikit mengaburkan penglihatan Hinata. badannya terasa pegal, sakit kepala dan terasa mual. Hinata akan bangun namun entah kenapa matanya terasa berkunang-kunang. Bahkan kepalnya ikutan berputar.
"Mama bangun ma." Suara cempreng Boruto membuat Hinata tersenyum. Apa anaknya sudah bangun sejak pagi? "Mama!" Bocah itu memanggil Hinata sekali agar segera bangun. Boruto tahu ibunya harus bekerja.
"Sayang sudah mandi?" Kakinya diselonjorkan mencari posisi nyaman. Hinata sedang tidak enak badan, matanya perih dan dia yakin kantung mata panda memperburuk keadaannya. Hinata kemudia mengelus kening Boruto sebelum mengecupnya. "Jadi, apakah anak mama ini sudah bisa mandi sendiri?" Tangannya menggelitik perut Boruto sampai bocah itu terpingkal kegelian.
"Nunggu mama, Boruto ingin mandi bersama." Oh manis sekali perkataan putranya. "Apa mama baik-baik saja?" Jari mungilnya menunjuk pada hidung Hinata. "Mama terlihat kelelehan." Mata biru itu menajam ketika mendapati pancaran sendu mamanya.
"Mama sakit?" Tanyanya semakin khawatir. Boruto mendekatkan keningnya pada dahi Hinata. Dulu ibunya sering melakukannya sewaktu dia terserang demam flu. Memeluk boruto seharian tanpa mengelh sedikitpn. Katanya bisa meredakan demam dengan membaginya ke orang lain.
Cubitan gemas Hinata berikan di hidung kecil Boruto. "Tidak sayang, mama hanya sedikit merasa kelelahan –keterusan menggendong Borto yang berat." Goda Hinata yang disambut kegurutan lucu Boruto. "Ayo sekarang kita mandi, Boru ke kamar mandi dulu ya, mama menyiapkan pakaian." Tidak ingin Borto semakin bertanya lebih jauh, Hinata lebih dulu menyuruhnya segera menuju kamar mandi.
Kemudian Hinata menuju pintu masuk kamar flatnya. Setidaknya Hinata harus memastikan bahwa Naruto sudah pergi pagi ini. Hinata khawatir Naruto keras kepala menunggui semalaman.
Hinata membuka kuncian engsel pintunya pelan. Menelisik ke luar guna melihat ada tidaknya Naruto di sana. Dia merasa lega, sosok pria berambut kuning sudah tidak ada. Hinata berdoa agar pria itu cepat kembali ke Tokyo saja. Lama-lama di Hokkaido membuat Hinata dilanda kecemasan berlebih.
Namun direksi pandangan Hinata langsung teralih melihat bungkusan bahan-bahan yang tadi malam berserakan akibat pertengkaran mereka kini sudah terbungkus kembali di dalam tas plastik.
Hinata buru-buru mengambilnya, mau bagaimanapun itu hasil dari membelanjakan uang lembur yang diberikan Ms. Konan, bukan menjual diri seperti yang dituduhkan Naruto. Meskipun hidupnya tergencet masalah ekonomi namun Hinata tidak sampai gelap mata melemparkan diri dalam kubangan dosa.
Dirinya masih punya tenaga untuk menghasilkan uang dari tetes keringat.
Namun kening Hinata merengut, dua alisnya hampir bertaut ketika mendapati lembaran uang berada pada selipan bahan makanan. Hinata membuang napas kesal. Tch, apa Naruto mengasihaninya? Semiskin apapun keadaanyya, dia masih bisa menghidupi anaknya.
"Dia masih saja pria bodoh berpikiran sempit."
Lelaki itu tidak perlu susah-susah mengeluarkan uang. Hinata memahami Naruto sebagai pria kaya raya –tajir melintir sampai puluhan bisnis dipunyai. Namun sifatnya yang Hinatasesalkan. Pria itu suka meledak-ledak, arogan tanpa belas kasihan, berpikir semua masalah dapat diselesaikan dengan gelontoran uang.
Namun tidak untuk masalah ini. Dia menolak menerima suapan Naruto dalam bentuk apapun.
Kadang Hinata bertanya. Kenapa dulu dirinya bisa jatuh cinta pada pria seperti itu? Lalu, apa sekarang dia masih mencintai Naruto? Hinata bergidik ngeri tidak ingin memikirkan Naruto lagi. Lelaki itu sudah masuk ke dalam daftar hitam hidupnya.
Hanya Boruto hal yang Hinata syukuri dari hubungannya bersama Naruto. Selebihnya adalah kepahitan dan kengerian yang tidak ingin Hinata ingat.
.
.
.
.
.
Lagi-lagi Naruto bertindak di luar kebiasaan. Dia melupakan sarapan pagi di hotel sampai mere-schedule kegiatannya untuk hari ini. Segala pertemuan dicancel atau bisa diwakilkan. Naruto tidak ambil pusing dengan beberapa agenda pertemuan, mau rapat bersama klien penting atau bukan, Naruto berharap hari ini bisa melihat anaknya lebih lama.
Dia hanya terlalu antusias, ingin sekali bertemu dengan anaknya.
Mengenakan jas hitam dipadu kaca mata lensa gelap, Naruto kembali mengutit segala yang dilkukan Hinta dan Boruto mulai dari keluar flat sampai dengan Hinata mengantarkan anaknya ke penitipan daycare. Naruto mengernyit sedikit tidak suka, seharusnya Hinata tidak meninggalkan Boruto terlalu lama untuk bekerja.
Anak seusia Boruto sedang dalam masa perkembangan pesat. Naruto khawatir anaknya kurang mendapat kasih sayang bahkan pendidikan.
Bajingan, seharusnya kau sadar diri Naruto. Hinata lebih tahu apa yang Boruto rasa dan butuhkan. Kau yang sejak awal tidak berperan sama sekali selain ikut andil dalam memunculkan Borto masih tertinggal jauh dibanding mantan istrimu. Kaulah yang harus dikasihani, anakmu tidak tahu bahwa dirinya punya seorang ayah.
Hinata menang mutlak dan Naruto kalah telak.
"Tapi kini kau yang harus mengalah Hinata." Geram Naruto. "Masa depan Boruto lebih terjamin jika bersamaku." Dari balik kaca mobil jaguranya di pinggir jalan, Naruto mengintip tingkah lucu Boruto ketika melambaikan tangan pada Hinata. Bocah itu sungguh membawa aura keceriaan.
Ujung bibir Naruto sampai tertarik ke atas ketika Hinata memberikan kecupan pada masing-masing pipi gembil anaknya. Sangat manis bukan? Naruto jadi ingin bertukar tempat dengan Hinata. Dia cemburu.
Sekeras apapun hati seorang Uzumaki Naruto, namun dia mengakui hubungan ibu dan anak itu membuat sesuatu dalam dirinya berdesir aneh.
Seolah mengejek dirinya sebagai pria brengsek ditambah seorang pengecut. Jiwanya dipikat untuk ikut bergabung meski dalam angan.
Naruto lantas melihat pada Hinata, mata birunya memandang jeli keadaan mantan istrinya. Wajahnya pucat, beberapa kali tubuh wanita itu nampak limbung hingga beberapa kali menabrak orang lain. Yang paling menyita attensi Naruto adalah bekas lebam di pipi Hinata, bekas tamparan dirinya kemarin malam.
Cubitan rasa bersalah bersarang dalam diri Naruto, dia cukup berlebihan memberikan gertakan.
"Apa dia belum makan?" Naruto bertanya seorang diri. Tubuh kecil Hinata memang mungil tapi Naruto menyakini beratnya dibawah ideal. Tapi wanita itu mampu untuk berdiri tegap ketika melawannya. Entah kekuatan apa yang Hinata punya sampai bisa berani beradu fisik dan argument kemarin malam.
Naruto terus memerhatikan Hinata sampai wanita bersuarai dark blue itu memasuki cafe tempatnya bekerja. Di sana pula Hinata didatangi seorang lelaki berkulit kecoklatan yang seingat Naruto bernama Kiba.
Mereka berdua cukup akrab, saling melempar senyum. Naruto membuang muka. Pria berwajah barat ini merasa kecurian.
Entahlah, Naruto benar-benar kebingungan. Selama lima tahun mereka bercerai, Naruto cukup percaya diri mengaku dia membenci Hinata. Kesenangannya adalah kesedihan Hinata, kepuasnya ketika melihat Hinata dalam kesulitan. Tapi kini ia tertampar, dasbor mobil menjadi sasaran pukulan kekesalan.
Andai harga dirinya tidak setinggi konstilasi bintang, bisakah Naruto jujur mengatakan dia merindukan Hinata?
Tapi apalah mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur, pernikahan mereka hanya berumur sejagung.
Getar ponsel dalam sakunya menyentak Naruto. Panggilan dari Shion tertera di layar touchscreen. Naruto melamun kembali melihat lampu layar berkedip menampilkan sebuah nama seorang wanita. Umpatan Hinata terngiang di telinganya, Hinata jelas menunjukkan seberapa benci dia pada Shion.
Naruto menggeser layar ponsel.
"Hmm? Aku sedang di Hokkaido."
"Apa yang kau lakukan di sana? Kudenger kau hanya perlu membahas mengenai kontrak kerja pembangunan hotel. Cepatlah pulang."
Dulu Naruto akan tertawa ketika mendengar nada merajuk Shion, terdengar manja dan Naruto menyukainya. Namun kini Naruto merasakan hal yang berbeda. "Jangan terlalu posesif, kau masih belum menjadi istriku."
"Tapi aku tunangan resmimu. Calon istrimu."
"Kupikir kita sudah tidak ada hubungan mengenai hal itu. Bukankah kau sendiri yang dulu melarikan diri." Kedua tangan Naruto mencengkram kemudi mobil. Dia merasa muak dengan basa-basi Shion. Seharusnya wanita di seberang telpon sadar bahwa dirinyalah yang menyebabkan semua kekacauan ini.
"Kau masing mengungkitnya? Kupikir kau telah memaafkanku."
"Aku tidak pernah mengatakannya Shion. Untuk percaya padamu lagi adalah hal mustahil yang kulakukan."
"Lalu kenapa kau mau menjadikanku kekasihmu jika kau tidak punya hati padaku!" Suara Shion mulai naik beberapa oktaf.
Naruto mendecih merasa Shion terlalu berbesar kepala. "Kau yang mengemis di kakiku untuk kembali padaku. Jangan terlalu meminta banyak, sadarlah posisimu." Naruto bisa membayangkan wajah Shion memerah kesal karena ucapannya, namun siapa yang peduli. "Terima kasih kau dulu sempat menghangatkan ranjangku, namun aku sudah tidak ingin berhubungan denganmu. Jika kau ingin uang, aku masih bisa memberimu beberapa lembar di dompetku."
Tidak ada lagi percakapan atau sambungan. Shion sudah lebih dulu memutus pembicaraan.
Menarik napas panjang, Naruto memijat pelipisnya pelan. Permasalahan masa lalu terus mengejarnya. Naruto menyadari, awal kebenciannya pada Hinata adalah awal bertemunya kembali dengan Shion.
Bukan rahasia lagi jika Shion adalah kekasihnya sebelum menjadikan Hinata sebagai istrinya. Dialah yang akan menjadi istri Naruto jika saja tidak melarikan diri bersama kekasih gelapnya.
Lewat Shion pula Naruto dituntun melihat keburukan Hinata.
'Aku melihat istri tercintamu itu manjual diri.' Naruto mengingat perkataan Shion kala itu. Hasilnya langsung memunculkan ketidak percayaan pada Hinata. Apalagi Shion menunjukkan bukti nyata yang tidak dapat Naruto bantah.
Shion mengajak Naruto datang ke salah satu tempat hiburan untuk melihat sendiri bagaimana istrinya dipeluk pria hidung belang. Pinggang sempitnya diraba tanpa perlawanan lalu dua orang beda gender itu masuk ke salah satu kamar, tentu sebagai suami Naruto merasa sudah dicurangi. Kemarahannya meletup sampai tidak bisa berpikir jernih.
Kali pertama Naruto merasakan patah hati sungguh suatu ledakan emosi yang tidak bisa Naruto kendalikan. Sangat berbeda dengan apa yang dulu Naruto rasakan sewaktu ditinggal Shion, kekecewaan serta kesakitannya berlipat ketika Hinata yang melakukannya.
Inilah akibatnya ketika Naruto sudah menaruh hatinya terlalu dalam untuk Hinata. Membiarkan perasaan cinta tumbuh adalah kesalahan karena, jika dinodai akan menghitam lalu memporak-porandakan pikiran.
Naruto menjadi gelap mata. Shion menawarkan diri sebagai tempat untuk bersandar dan Naruto tidak menerima ajakan bermain curang. Hinata juga harus merasakan apa yang Naruto rasakan. Sakit ini harus dibagi. Naruto bersumpah, bukan Hinata yang membuangnya, justru dialah yang akan membuang Hinata.
Keinginan Naruto terkabul. Dia menyeringai mendapati wajah pucat dan terkejut Hinata ketika melihat dirinya bertelanjang dengan wanita lain. Dua bola mata mutiaramasing-masing meneteskan air kesedihan. Kata-kata yang tercekat dan penuturnnya yang tersendat oleh tangisan adalah kepuasan Naruto dalam membalas.
Dan yang paling Naruto ingat adalah pernyataan Hinata yang mengucapkan 'Kau akan segera menjadi ayah.' Shion lebih dulu tertawa keras. Mengatakan bahwa Hinata hanya membual mencari pertanggung jawaban atas kehamilan akibat menjadi wanita murahan.
Sedangkan Naruto sudah tidak ingin dibohongi lagi. Apa yang Hinata coba jelaskan sianggap hanya omong kosong semata. Semua kata-kata Shion lebih banyak didengarnya daripada penjelasan Hinata. Naruto berkeyakinan anak dalam kandungan Hinata bukan anaknya, dia mengolok dan mendoakan agar janin itu tidak sampai terlahir. Kematian adalah hukuman yang pantas bagi Hinata beserta anak haramnya.
Kemudian sekarang apa? Setelah lima tahun barulah Naruto melihat kebenarannya. Kepergiannya ke Hokkaido mengantarkan Naruto pada kebenaran yang sesungguhnya. Bukti baru terbuka tanpa bisa ditutupi. Andai dulu dia mencari tahu akankah hasilnya akan berbeda?
Kini Naruto baru menyadari siapa dalang dibalik kehancran biduk rumah tangganya. Sangat salah dan keliru untuk bermain-main dengan Uzumaki Naruto.
Hinata benar-benar mengandung anaknya, melahirkan sosok kecil yang menyerupai dirinya dalam versi yang berbeda. Pantas jika Hinata tidak sudi melihatnya kembali. Hinata benar-benar membencinya setengah mati. Dosanya melebihi kapasitas kelapangan Hinata untuk memaafkan, bahkan dulu dia nyaris membunuh darah dagingnya sendiri.
Tapi Hubungan ayah dan anak tidak akan bisa dipisahkan. Naruto akan berjuang untuk mendapatkan Boruto, entah dengan jalan baik-baik atau paksaan. Hinata harus membiarkannya memeluk putranya sendiri. Setidaknya Naruto ingin bersua dengan buah hatinya.
.
.
.
.
"Ada yang bisa saya bantu?" Kurenai menghampiri seseorang yang baru masuk ke dalam daycare miliknya, dia nampak asing di mata Kurenai. Belum pernah Kurenai lihat sosok pria tampan berwajah campuran di sekitar sini, pria itu terlihat kebingungan.
"Apa aku bisa bertemu dengan anak yang bernama Boruto?"
Kurenai mengernyitkan keningnya. Dia kembali mengamati postur tubuh Naruto, pria di depannya sangat mirip dengan Boruto. Warna rambut, bibir dan hidung serta bola mata semuanya sama. Seolah duplikat otentik yang menunjukkan hubungan dekat. Kurenai menaruh minat.
Apa dia ayahnya Boruto? Ah, namun setahu Kurenai, suami Hinata telah tiada. Hinata sendiri yang mengatakannya. "Maaf, anda siapa?" Kurenai merasa curiga, dia tidak mau anak di penitipannya ditemui sembarang orang yang bukan dari pihak keluarga.
"Saya –" Naruto tidak boleh gegabah, identitasnya harus dirahasiakan. Bisa-bisa Hinata akan menjauhkannya dari Boruto jika tahu dirinya nekat menemui sang anak sembunyi-sembunyi.
"Saya teman Hinata. Dia mengatakan bahwa Boruto ingin sebuah mainan maka saya membelikannya." Mainan robot yang masih terbungkus plastik bening diperlihatkan kepada Kurenai agar wanita itu percaya. "Hinata sendiri yang menyuruh saya untuk memberikannya pada Boruto."
Wajah tegang Kurenai melunak. Dia tersenyum pengertian. "Oh, tentu saja. Boruto sejak kemarin merengek ingin dibelikan mainan. Anda teman yang baik sekali."
Rencana Naruto berhasil mulus. Penjaga daycare tidak mencurigainya, Kurenai mengantar Naruto pada sebuah ruangan luas berdesain tokoh kartun di dindingnya. Banyak balita atau anak kecil di sini, namun yang cukup mencolok tentu saja Boruto. Anak itu mudah dikenali hanya dari surai rambut yang menyala kuning.
Boruto duduk manis sendiri. Dia menahan diri untuk tidak ikut bermain jika nantinya teman-temannya kembali menghina sang mama. Semenarik apapun mainan robot-robot itu namun Boruto tetap akan lebih senang jika dia bermain dengan ibunya. Hinata adalah sosok yang sangat Boruto cintai.
"Boru." Kurenai memanggil Boruto. "Ini ada paman yang ingin memberikan mainan untuk kamu sayang."
"Huh?" Kepala Boruto melongok melihat sosok paman yang seingat Boruto pernah membantunya. Ingatan Boruto cukup bagus memang. "Paman!" Entah kenapa Boruto senang melihat paman itu di sini. Kurenai yang melihat menjadi yakin jika pria ini memang teman Hinata.
"Apa yang paman lakukan di sini?"
Naruto gemas sendiri melihat Boruto. Tangannya bergerak mengusap pucuk kepala Boruto. "Paman ingin bertemu." –Papa ingin melihatmu. Naruto mengatakannya dalam hati.
"Kok bisa tahu Boruto ada di sini?"
"Paman tahu apapun mengenai Boruto. Ini ada hadiah yang ingin paman berikan." Robot iron man langsung membuat mata biru Boruto berbinar senang. Selama ini Boruto tidak pernah dibelikan mainan seperti ini, paman kiba pun biasanya akan mengajak jalan-jalan dan membelikan gulali manis.
"Ini untuk Boru?" Tanyanya tidak yakin. Mama Hinata selalu berpesan untuk tidak menerima apapun dari orang asing. Tapi kan Boruto sudah kenal paman ini, meski nama paman ini belum Boruto tahu. "Nama paman siapa? Kita harus berkenalan agar paman tidak menjadi orang asing."
Naruto tersenyum lebar, anaknya sudah sepintar ini rupanya. "Panggil paman Naruto." Ada ketidak relaan dalam mengucapkannya. Naruto ingin dipanggil papa, wow rasanya jantung Naruto akan meledak kesenangan jika Boruto melakukannya. Namun lupakan, Naruto ingin berjalan pelan-pelan.
"Paman bukan orang jahat. Mainan ini untukmu sebagai tanda perkenalan kita."
Tentu saja Boruto menerimanya. Dia berjingkrak senang, dengan begini mamanya tidak akan kepikiran untuk membelikan Boruto mainan. "Terima kasih paman." Tubuh kecilnya memeluk Naruto. Rasanya begitu pas, memang tidak sehangat ketika memeluk mamanya. Namun Boruto merasa nyaman.
Naruto pun juga merasakannya. Matanya sampai berair hanya karena pelukan kecil Boruto. Ingin sekali Naruto membawa Boruto pulang tapi dia tidak segila itu untuk melakukannya. Masih ada Hinata sebagai pagar pembatas untuk keinginannya.
"Boruto sudah makan, nak?" Mata Narto melihat jam tangan. Sudah hampir memasuki waktu siang hari.
"Belum paman, Boruto akan makan siang jika mama sudah datang."
"Bagaimana jika makan bersama paman. Kau bisa memesan semua makanan yang kau inginkan."
Sangat menarik. Boruto jadi lapar mendadak. Hampir saja dia melupakan bekal yang sudah dibuatkan Hinata. "Tapi, aku sudah punya bekal paman. Masakan mama sangat enak, aku ingin terus memakan masakan mama."
"Bagaimana jika kita tukar makanan. Paman akan memesan makanan enak dari restoran dan itu untuk Boruto semua lalu bekalmu paman yang makan. Bertukar makanan seperti sahabat, menarik bukan."
"Tapi," Boruto tidak rela bekal buatan mamanya dimakan orang lain. Namun apa yang dikatakan Naruto juga sepertinya menarik. Dia mengangguk menyetujui. Dengan begini masakan mamanya tetap akan termakan. "Bisakah paman pesankan es krim juga?" Pandangan bulat dari dua mata sebiru langit tidak kuasa Naruto tolak. Sangat mirip dengan Hinata. Naruto terkekeh mengiyakan.
"Kau mendapatkannya, boy." Bahkan membelikan pabriknya pun sanggup dilakukan Naruto. "Setelah makan kita juga bisa bermain."
"Benarkah? Kenapa paman begitu baik? Pasti seperti ini rasanya mereka yang memiliki seorang papa." Boruto berandai. Bukannya iri tapi dia sedikit cemburu. Hinata mengatakan papa berada di tempat yang jauh. Boruto tidak bisa menemuinya.
Dada Naruto langsung sesak. Nyerih di ulu hati ketika anaknya sendiri tidak tahu bagimana figure seorang ayah. 'Ini papa sayang. Kau masih punya papa'. Kenapa sulit untuk mengatakannya? Naruto menelan ludah gugup. "Memangnya papamu dimana?"
Raut wajah Boruto berubah muram. Dia mencebikkan bibir enggan menjawab. "Mama bilang papa tidak ada. Papa meninggalkan aku dan mama sampai mama bekerja dengan keras." Boruto membenci papanya yang tidak pernah ada. Bocah lima tahun itu bahkan tidak tahu seperti apa wujud papanya. Mama selalu bersedih ketika Boruto menanyakan keberadaan papa.
"Tapi Boruto sudah biasa paman, Boru tidak butuh papa jika ada mama. Aku menyayangi dan mencintai mama."
Giliran hati Naruto mencelos, lima tahun berlalu tanpa dirinya tahu ada anak yang merindukannya. Apalagi Hinata tidak membiarkan Boruto tahu siapa papanya. Tangannya terkepal erat, entah siapa yang harus disalahkan.
Yang pasti Naruto akan membawa Boruto ke Tokyo. Pulang kembali ke rumah. Meskipun itu artinya dia harus membawa Hinata juga.
.
.
Firasat Hinata tidak enak. Sedari tadi pikirannya tertuju pada Boruto. Hinata punya perasaan yang kuat terhadap anaknya, ikatan batin ibu dan anak adalah hal dipercayai oleh Hinata. Dia tidak akan menganggap remeh rasa mengganyal ini. Oleh karena itu ketika tiba jam istirahat, dia langsung bergegas menemui Boruto.
Hinata takut Naruto menemui Boruto. Tidak sulit untuk melakukannya bagi seorang pria macam Naruto. Bahkan menghancurkan hidup saja sangat mudah dilakukan.
"Hinata? Kali ini kau tidak telat. Aku yakin Boruto sangat senang." Ucap Kurenai kalem.
"Dimana Boruto?" Hinata harus secepatnya bertemu Boruto.
Kurenai melihat Hinata sedikit panik. Hinata berkeringat terlalu banyak. Kurenai yakin Hinata sakita. "Kau sakit? Kau harus istirahat Hin -"
"Tidak, itu bukan masalah. Aku hanya ingin anakku." Bibirnya digigit sampai memerah. Kebiasaan Hinata bila cemas berlebih. Kukunya sampai memutih pula.
"Tenanglah. Boruto baik-baik saja. Dan sejak kapan kau merahasiakan tentang teman barumu ini?"
"Teman?" Tanya Hinata tak mengerti. "Maksud Kurenai-san?"
"Iya, teman. Temanmu selain Kiba. Dia pria yang sangat tampan, penampilannya mirip model iklan. Kau berteman dengan orang hebat Hinata. Astaga, bahkan aku sempat mengira dia ayah kandung Boruto melihat kemiripannya dengan anakmu."
'DEG'
Tidak mungkin. Hinata bergumam pelan. Mana mungkin Naruto ada di sini. Jantung Hinata serasa copot dari tempatnya. Naruto benar-benar ingin mengambil anaknya.
Hinata berlari masuk ke dalam tidak memerdulikan Kurenai yang bertanya khawatir. Tubuhnya memang sedang demam, perutnya terasa diaduk sampai ingin muntah namun Hinata hiraukan ketika tahu Naruto menemui putranya.
Pikiran Hinata blank. Dia takut Naruto menghancurkan kembali hidupnya dengan cara mengambil Boruto. Tiba-tiba kepala Hinata berkunang. Kali ini lebih hebat sampai matanya terasa berat untuk terbuka. Suhu tubuhnya mendadak naik ketika mata bulannya melihat Naruto benar-benar berada di sana.
Menyuapi Boruto dengan tangannya sendiri.
"Naruto!" Hinata berteriak marah. Dia langsung menghampiri pria itu dan menampar Naruto karena sudah menyentuh anaknya. Hinata menarik Boruto kebelakang. Boruto takut dan terkejut. Baru pertama ini dia melihat mamanya berteriak marah.
"Kau! Jangan sentuh anakku. Tanganmu terlalu kotor untuk menyentuhnya."
Suasana menegang. Hinata terlanjur mengamuk. "Hinata tenanglah. Boruto takut melihatmu."
"Berhenti mengucapkan nama anakku. Pergi dari sini, jauhi kami." Semakin Hinata mengeluarkan amarahnya semakin pening pula kepalanya. Dia punya riwayat anemia namun sekarang darahnya malah mendidih marah. Hinata sudah merancau akibat demam dan Naruto menyadari keadaan Hinata tidak baik-baik saja.
Apalagi ketika tatapan Naruto beralih pada anaknya. Boruto ketakutan. Bocah itu hampir menangis.
"Jangan ambil anakku. Aku tidak akan memaafkanmu, Naruto."
"Kau menakuti Boruto, Hinata. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik." Naruto berusaha menenangkan Hinata, namun belum berhasil.
"Maa. . . " Boruto memanggil mamanya. Apa dia sudah membuat mamanya marah?
Kurenai datang tergopoh. Teriakan Hinata terdengar sampai depan, membuat dua orang dewasa itu menjadi pusat perhatian.
"Uangmu tidak bisa membeli Boruto." Hinata melempar uang yang sempat diberikan Naruto. "Ambil dan pergi. Kami tidak memerlukannya. Boruto tidak membutuhkanmu."
Tubuh Hinata sudah terlalu lelah. Tubuh dan batinya butuh istirahat. Pijakannya tidak seimbang dan kesadarannya berlahan menghilang. Boruto menjerit melihat mamanya ambruk. Dia menangis histeris, begitu takut jika terjadi hal buruk pada mamanya.
Naruto yang lebih dulu tanggap, Dia membridal tubuh Hinata. Sesaat Naruto bar menyadari satu hal. Hinata terlalu ringan, Naruto tak yakin Hinata cukup makan. Hinata masih mengigil demam, panasnya tinggi sampai kulit Naruto terasa tersengat. Dia harus membawa Hinata ke rumah sakit secepat mungkin.
Tidak lupa dia juga membawa Boruto.
Naruto memang harus secepatnya membawa Hinata dan Boruto kembali ke Tokyo. setidaknya di sana dia bisa leluasa mengawasi mereka berdua. Kalau bisa Naruto akan menebus kesalahannya. Hinata dan Boruto butuh dirinya. Dia tidak peduli jika nantinya Hinata kembali berterian marah atau memakinya.
Seharusnya Hinata paham. Jika dirinya sakit, siapa yang akan menjaga Boruto. Tidakkah wanita itu terlalu keras kepala untuk memikirkan masa depan Boruto?
"Kakashi." Naruto menelpon sekretarinya. "Siapkan helikopter. Aku kan kembali ke kota malam ini. Perintahkan juga para maid di penthouse untuk menyiapkan satu kamar beserta makanan. Aku membawa Hinata beserta anakku pulang."
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Fiuhhhh….. akhirnya selesai juga chapter dua ini. Maaf telat bin ngaret. Tapi belum sampai satu bulan kan? Haha
Yang nagih di ff atau wattpad mohon dimaklumi. Aku emang lagi sok sibuk #beneran sibuk. Ngurus ini itu di kampus sampai bulan depan. Tapi ya yang namanya udah kejedot cinta fanfiksi jadinya ku-usahakan nulis meski cuma satu kalimat di tengah malam. Dan chapter dua ini aku benar-benar minta maaf jika bahasanya semakin absurd dan bertebar typo. Keyboard ku emang rada ngehang. Huruf a-o-p-l dan spasi gag bakal keluar kalau gg digencet super kuat.
Terima kasih atas dukungannya. Mohon maaf jika saya belum membalas satu persatu review kalian. Tapi tetap saya baca kok. Satu lagi, maafkan juga Naruto kubuat super jahat di sini. Yeps, aku haus akan sosok laki macho, tajir tapi mulut pedas walau sebenarnya hatinya hellokity haha.
Next chap flash back hubungan Naruhina dari sudut pandang Naruto. Biar pada kagak bingung tentang masa lalunya dua sejoli ini. Byeee.
