Bitter Fault
byunpies storyline

.

.

.

WARNING!

Contain ChanSoo as married couple with KaiHun as brothers and lil'bit LuBaek.

Contain bxb and m-preg.

If you don't like it, don't read it.

.

.

.

[Chapter 2]


Jongin dan Sehun duduk berdampingan dengan kaku di meja makan, menunggu dalam keheningan. Sama sekali tidak ada suara yang terdengar dari sepasang kakak adik yang selalu menempel itu—bahkan untuk bergerak barang sesentipun mereka terlihat enggan.

Situasi yang dapat dimaklumi, mengingat Kyungsoo dan Chanyeol baru saja bertengkar hebat di hadapan mereka.

Kyungsoo mematikan kompor. Meletakkan seiris cheesesteak panas di piring kedua anaknya masing-masing.

"Spesial sekali." Jongin mengamati isi piringnya dan menyeletuk datar. Kyungsoo mengulum senyum, menambahkan sesendok salad kentang dengan kacang polong di piring mereka.

"Luhan-ahjussi menelepon Sehun." Jongin lanjut berbicara, terlihat tidak peduli meski tak ada seorangpun yang menyahut ucapannya. "Dia mengatakan pada kami untuk cepat sembuh agar kita bisa cepat-cepat menemui mereka."

Kyungsoo menarik kursi. Tubuh kecilnya didudukkan di hadapan kedua anak remaja yang memiliki tubuh diatas rata-rata itu dengan senyum masih terpajang.

Pertumbuhan mereka yang pesat benar-benar cetakan ayahnya.

"Kenapa kita tidak pergi kesana, Ma?"

Jongin tahu dibalik senyuman itu, ibunya sedang sedih. Dia tahu makan malam spesial ini disiapkan sejak lama untuk merayakan pernikahan sahabat ibunya.

Dia juga tahu ibunya membuat alibi palsu untuk absennya keluarga mereka dalam pernikahan itu—dengan menggunakan ia dan Sehun sebagai tamengnya.

Kyungsoo meraih gelas dan mengisinya dengan botol wine di atas meja. Wine kesukaan Chanyeol. "Papamu punya janji mendadak. Kita tidak bisa pergi tanpanya," Seolah mereka memang sudah merencanakan kehadiran pada acara tersebut bersama dan terpaksa menundanya.

Tapi Jongin juga tahu.

Ayahnya tidak mengingat hari ini sama sekali.

"Papa… tidak pulang?"

Itu suara Sehun. Lirih dan pelan, dengan nada takut seolah sewaktu-waktu dia akan dimarahi bila menggunakan suara setingkat lebih tinggi saja.

"Sepertinya lembur lagi." Chanyeol selalu lembur sejak hubungan mereka mulai merenggang dan dia akan selalu lembur. Tapi Kyungsoo tidak mengatakannya, ia pura-pura lebih tertarik memperhatikan bagaimana anak sulungnya membantu memotongkan daging di piring Sehun. "Jongin, bagaimana sekolahmu?"

Jongin menyuap sepotong daging beserta saladnya dan mengecap-kecap rasanya. "Begitu saja."

"Kalau Sehun?"

Sehun hanya mengunyah dalam diam. Wajah sembabnya kaku, tidak terlihat ingin menjawab. Kyungsoo menghela nafas.

Bungsunya yang dulu begitu berisik dan usil berubah pasif luar biasa. Bila beruntung, Kyungsoo hanya dapat mendengar sepatah dua patah dari mulutnya—itupun pendek-pendek dengan suara nyaris tak terdengar.

Berbanding terbalik dengan kakak kalemnya yang menjadi ganas dan dapat meledak kapan saja seperti bom waktu.

"Ma, tidak makan?"

Suara berat Jongin memecah keheningan lagi. Kyungsoo menggeleng sebagai jawaban.

"Mama sudah kenyang."

Kyungsoo tidak dapat menelan apapun bila dia mulai membayangkan Chanyeol yang tidak pernah makan malam di rumah lagi.

Diamatinya Jongin yang dengan senang hati memindahkan semua keju dari piringnya ke piring adiknya. Sehun suka sekali keju, begitu pula dengan Jongin. Masa kecil mereka dipenuhi dengan perkelahian untuk memperebutkan potongan keju terakhir.

Melihat si sulung yang begitu menyayangi adiknya bahkan dalam situasi rumah yang begitu hancur seperti ini, membuat Kyungsoo setidaknya merasa lega.

Ia tidak bisa menyalahkan sikap-sikap nakal mereka.

Anak-anaknya yang berubah drastis seolah sedang menyuarakan protes pada orangtua mereka itu adalah salahnya.

Sikap Chanyeol dan hubungan mereka yang mulai berubah pun—mungkin adalah salahnya.

"Kalian tahu," Kyungsoo tiba-tiba merasa dia harus mengatakan ini. "Apapun yang terjadi, Papa dan Mama tetap menyayangi kalian."

Hening sesaat. Jongin dan Sehun berhenti mengunyah. Yang sulung mengangkat wajah, menatap obsidian gelap ibunya yang terlihat lelah.

"Tidak akan ada yang terjadi, Ma."

Ya. Kyungsoo tersenyum lembut, berusaha agar setidaknya senyum tersebut dapat menenangkan hati kedua anaknya. Ia juga berharap begitu.


Luhan menanyakan kondisi anak-anaknya. Bertanya apakah mereka baik-baik saja karena Sehun terus-terusan menangis di telepon dan Jongin terdengar gusar luar biasa.

Pria itu bukannya tidak tahu kondisi rumah tangga keluarga Park yang tengah genting. Selalu bersama-sama dengan rekan kerjanya Chanyeol, yang notabene adalah suami dari sahabat baik sang kekasih—sekarang istrinya, membuat Luhan tahu betul keadaan mereka. Ia hanya khawatir; kekacauan itu pastinya mempengaruhi kesehatan akal semua orang. Hal sepele yang bahkan hanya seperti satu butir debu pun akan membuat sang kepala keluarga dan istrinya tersebut dengan mudah tersandung hebat.

"Kau tidak boleh gegabah, Park." Akhirnya ia mengatakannya juga. Kekhawatiran Baekhyun yang selalu diungkit-ungkitnya setiap hari, akhirnya Luhan sampaikan juga pada Chanyeol. Iris madu Luhan menatap prihatin—seolah menyuarakan pengertian akan alasan dibalik seluruh kegalauan dan kebimbangan sang ayah. "Kau harus bertahan. Demi anak-anakmu."

Ya, dia juga tahu itu. Dia tahu tentang itu lebih baik dari siapapun.

Chanyeol pulang ke rumah sedikit lebih cepat dari biasanya dengan harapan keadaan akan jadi lebih baik, hanya untuk mendapati setelan jas yang digantung di samping meja kerjanya.

Jas terbaik yang tidak akan dipakai Chanyeol bila bukan untuk acara yang benar-benar istimewa.

Jas yang sengaja di letakkan di tempat yang tidak semestinya itu—merupakan sebuah isyarat tidak langsung dari istrinya. Kyungsoo berusaha mengingatkannya pada sesuatu yang ia pikir ia lupa.

Tapi—Chanyeol tidak lupa. Bagaimana dia bisa lupa raut sumringah istrinya saat ia mengabarkan kabar gembira itu setengah tahun yang lalu? Bagaimana dia bisa lupa keberisikan Luhan saat pria itu terus merongrongnya dan Kyungsoo untuk menjadi best-man mereka?

Dia hanya lupa bagaimana caranya untuk menatap Kyungsoo tanpa harus merasa tersengat, lupa sejak kapan hubungan mereka mulai terasa… asing.

Dia bahkan dapat melupakan pernikahan teman baiknya bila itu karena Kyungsoo.

Tindak-tanduk istrinya itu memang selalu arogan. Bahkan dengan tubuh mungil seperti itu, dia selalu terlihat tangguh dan kuat. Chanyeol tahu keangkuhan itulah yang menjadi pesona seorang Kyungsoo, keangkuhan itulah yang membuat Chanyeol bertekuk lutut, keangkuhan itulah yang membuat mereka dapat melangkah dalam jenjang yang lebih tinggi,

Dan keangkuhan itulah yang menyeret mereka saling menjauh hingga menjadi seperti sekarang ini.

Obsidian gelap yang dulu begitu berbinar-binar semangat, sekarang hanya menatapnya dengan menuntut dan arogan. Manik penuh keangkuhan itu akan selalu memancing amarahnya timbul—bila tidak sedang mengeluarkan airmata. Melihat Kyungsoo yang begitu menawan dalam pakaian mewahnya seakan memaksa Chanyeol untuk memikirkan ulang semuanya.

Kapan terakhir kali Kyungsoo memakai sesuatu khusus untuknya?

Kapan terakhir kali Kyungsoo tersenyum untuknya?

Kapan terakhir kali Kyungsoo memasak untuknya?

Bahkan kapan terakhir kali—ia bercumbu dengannya—?

Pikiran tak menentu itu membuatnya diliputi kemarahan tanpa batas.

Menyadari perang dingin tanpa alasan jelas yang mereka lakukan telah begitu lama, hingga ia melupakan sejak kapan tepatnya genderang itu ditabuh. Perasaan mereka menghilang bersama seluruh gairah dan kenangan yang perlahan-lahan meluruh.

Semuanya terlihat abu-abu bagi Chanyeol, semua yang dia lakukan hanya sekadar memenuhi kewajiban yang tidak ia inginkan. Rasanya tidak ada satupun hal yang membuatnya bahagia.

Semua bahagia yang ia dapat, semuanya, terasa semu.

Dia lelah.

Chanyeol lelah dengan semuanya.

Bahkan lelah itu muncul hanya dengan berada dalam rumahnya sendiri.

"Papa," Suara lirih Sehun tiba-tiba terdengar.

Ayahnya tersentak dari lamunan, melihat satu siluet yang entah sejak kapan telah berdiri diam di depan pintu kamarnya, menatapnya dengan sedih.

Mungkin hanya Sehun, si bungsu kesayangannya, yang masih memperlakukannya seperti saat keadaan rumah mereka belum sekacau ini. Kyungsoo bahkan tidak pernah memasakkannya apa-apa lagi sejak beberapa bulan belakangan—sejak Chanyeol memutuskan untuk selalu pulang larut dan berhenti menyantap makan malam dirumah.

"Ya?" Chanyeol mendengarkan penuh antisipasi. Tidak biasanya Sehun mengajak ia bicara pertama kali. Tapi bungsunya itu hanya terdiam sebentar untuk kemudian menggeleng kecil.

"Tidak jadi," gumamnya berat seperti dipaksa menelan kalimatnya kembali, sebelum ia berbalik dan masuk ke kamar lagi. "Selamat malam, Pa."

Meski begitu, Chanyeol sudah tahu hanya dengan melihatnya. Ia sudah tahu apa yang ada dalam benak kesayangannya—yang tidak dapat anak itu sampaikan.

Chanyeol hanya tidak mau menyadari tatapan terluka Sehun yang selalu mengatakannya dengan jelas.

Papa, tolong jangan bertengkar lagi.

Jangan bertengkar dengan Mama.

.

.

.

Jangan tinggalkan aku.


"Kau terlihat kacau."

Adalah tiga kata pertama yang Baekhyun lontarkan ketika Kyungsoo mengunjungi kediaman Xi.

"Ada apa, Kyung?" Tangan mungil itu membantu Kyungsoo menggantung coatnya yang sedikit basah. Diluar sedang dingin luar biasa. Salju pertama baru saja turun.

Hingga beberapa tahun yang lalu, setiap salju pertama turun, mereka berempat akan berkumpul di halaman. Kyungsoo dan Chanyeol akan tertawa-tawa mengamati kedua anak mereka saling melempar gumpalan salju.

Yang ditanya mendengus pelan, mengibaskan ujung lengan sweaternya yang basah. "Kenapa bertanya begitu? Aku hanya ingin melihat pengantin baru."

Baekhyun tertawa kecil. Dihelanya sang tamu ke sofa tengah. "Sebentar, ya. Aku buatkan minuman dulu."

Kyungsoo duduk dengan manis, memperhatikan sekeliling rumah mungil yang baru dibangun itu. Warna cokelat muda dan putih yang mendominasi seluruh ruangan dengan perabotan kayu sederhana namun berkelas benar-benar mencirikan khas dari seorang Luhan.

Baekhyun kembali dengan dua cangkir besar cokelat hangat. "Tidak membawa Jongin dan Sehun?"

"Mereka sekolah," Kyungsoo sebenarnya tidak tahu apakah kedua anaknya benar-benar berangkat dalam cuaca seperti ini—ia telah meninggalkan rumah sejak sebelum mereka terbangun.

Tapi meskipun mereka membolos atau bahkan berkelahi lagi, sesungguhnya Kyungsoo sudah terlalu penat untuk peduli.

"Mana Luhan?" Kyungsoo berharap pertanyaan itu dapat mengalihkan sahabatnya itu dari seluruh pertanyaan yang mungkin menumpuk dalam benaknya—paling tidak sejenak.

"Mengurus beberapa surat." Iris sapphire Baekhyun mengamati jari-jari mungil Kyungsoo yang menggenggam cangkirnya dengan gemetaran. Hari ini memang benar-benar dingin. Atau memang hatinya-lah yang sejak lama telah dingin, Baekhyun tidak tahu. "Sedikit repot, memang. Bulan madu kami jadi harus ditunda. Harusnya dia langsung mengurus surat-surat itu sebelum menikah, seperti Chanyeol dulu."

Kyungsoo tertawa dipaksakan.

Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Chanyeol berada dirumah sebelum senja.

"Kau tidak bekerja,"

Baekhyun melontarkan ucapan sembari mengaduk cokelatnya. Itu bukan pertanyaan. Kyungsoo mengangguk.

"Jumlah orang di penerbit sedang lebih dari cukup. Tidak masalah kalau aku mengambil jatah cuti tahunan sekarang." Untuk menghabiskan waktu di rumah dengan menangis. "Jika butuh, mereka akan menghubungiku."

"Tapi kau saja tidak pernah menghubunginya meski butuh."

Mata bulat itu membesar bingung. "Siapa?"

"Chanyeol."

Kyungsoo terdiam.

"Kau tidak pernah mencoba berbicara dengan Chanyeol meski kalian membutuhkannya." Baekhyun memperjelas yang sebenarnya tidak diperlukan. Tanpa ia beritahu pun Kyungsoo sudah lebih dari mengerti.

Bukan hanya dia yang butuh. Jongin dan Sehun juga membutuhkan ayahnya.

Tapi egonya menekan perasaan itu kuat-kuat.

"Ia tidak membutuhkan kami." Ia tidak membutuhkan-ku. "Bukankah dia hanya menginginkan yang lain?"

Kyungsoo tahu bagaimana sikap suaminya pada orang lain diluar sana terlihat begitu berbeda. Begitu ekspresif. Begitu santai. Begitu bebas. Seakan rumah mereka dan seluruh isinya eksis hanya untuk mengekang Chanyeol, seakan Kyungsoo dan anak-anak mereka hadir hanya untuk membatasi kehidupannya, keinginannya—

Kebebasannya.

Bibir penuh itu tersenyum kaku ketika dia mendapati tatapan iba dari manik Baekhyun. "Aku tidak mengerti mengapa memiliki Jongin dan Sehun pun tidak pernah cukup untuknya."

Aku tidak bisa mengerti mengapa aku tidak pernah cukup untuknya.

Apapun yang kulakukan, aku tidak akan pernah cukup untuknya.

"Kau seorang Park Kyungsoo," Dirasakannya jari-jari lentik Baekhyun menggenggam tangannya yang dingin dan gemetar. "Kau selalu kuat menghadapi apapun dan akan selalu begitu. Coba ingat-ingatlah semua alasanmu untuk menikah dengan Chanyeol, Kyungie."

Kyungsoo hanya menatap Baekhyun lurus. Lelah. Obsidian gelapnya menampakkan kelelahan itu dengan begitu kentara, membuat lawan bicaranya segera mengetahui apa yang ada di pikiran itu.

"Apapun yang akan kau putuskan, setidaknya—ingatlah anak-anakmu."

Baekhyun mengulangi kalimat itu. Terus mengulang dan mengulanginya lagi. Mencoba menggali akal sehat Kyungsoo yang telah terkubur sejak perang dingin itu berlangsung.

Tapi Kyungsoo tidak ingat lagi.

Lebih tepatnya, dia sudah tidak kuat lagi.


Chanyeol tidak peduli alasan Kyungsoo tiba-tiba menjadi terlihat sangat pasif belakangan.

Sejak hari dimana Luhan mengantarnya pulang dari kediaman Xi, Kyungsoo menyetop segala aktivitasnya dan hanya berdiam diri di kamar. Kyungsoo tidak lagi terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Tidak lagi berkutat dengan laptopnya. Tidak lagi berbicara dengan anak-anaknya. Tidak lagi memasang senyum palsunya. Kyungsoo menghabiskan waktunya dengan berdiam diri dan merenungkan entah apa.

Satu-satunya yang membuatnya terlihat hidup hanyalah setiap Baekhyun datang ke rumah dengan membawa setumpuk file yang akan mereka diskusikan dengan sungguh-sungguh.

Sehun-lah mengadukan padanya sikap-sikap aneh sang ibu. Gelagat mereka setiap Baekhyun datang sangat tidak mengenakkan, katanya.

"Itu bukan tentang pekerjaan. Mama dan Baekhyun-ahjussi selalu menyuruh hyung dan aku pergi—seperti tidak ingin kami mendengarkan pembicaraan mereka." Sehun menjelaskan dengan lirih, meminta Chanyeol secara tak langsung untuk mengajak Kyungsoo berbicara tentang hal mengkhawatirkan tersebut.

Bungsunya itu masih memiliki harapan untuk melihat orangtuanya harmonis kembali.

Dan Chanyeol tidak peduli. Dia tidak ingin peduli pada apapun.

Dia terlalu kalut untuk memedulikan perubahan apapun di rumah tersebut. Entah itu perubahan pada anak-anaknya hingga istrinya sendiri—

Chanyeol terlalu takut untuk peduli.

Tapi di suatu malam yang begitu larut, ia melihat Kyungsoo masih terbangun dengan kaki yang diselonjorkan di atas kasur. Tatapan yang tadinya sedang terkunci pada amplop di tangannya segera teralihkan ketika mendengar derit pintu.

Apa dia sedang menunggunya?

Mungkin itu pertanda baik. Mungkin akhirnya ada yang mau mengalah dari perang tanpa akhir ini. Chanyeol diam-diam menarik nafas lega.

"Kita perlu bicara."

Suara lantang Kyungsoo langsung terdengar bahkan ketika pria jangkung itu baru saja melangkah masuk ke kamar. Nada tegas yang ia gunakan entah mengapa membuat Chanyeol menjadi waspada.

Mungkin itu juga pertanda buruk.

"Soo,"

Pria yang masih berbalut setelan kerja itu berusaha memanggil. Chanyeol tanpa sadar menahan nafas, menanti ucapan selanjutnya yang akan keluar dari bibir istrinya.

Panggilan manis itu—entah kapan terakhir kali Kyungsoo mendengarnya. Tapi dia tidak ingin berbasa-basi lagi.

"Channie," Dia balas memanggil. Panggilan kesayangan untuk sang suami yang entah kapan terakhir kali ia gunakan. Kyungsoo menarik nafas panjang, menatap mata bulat Chanyeol yang terlihat was-was, untuk mengulangi kalimatnya. "We really need to talk."

Bahkan hanya dengan menatapnya, Chanyeol segera tahu. Dia tahu Kyungsoo telah memutuskan.

"Tidak adakah kesempatan lain?" Suara beratnya terdengar bagai cicitan. Merasa begitu rapuh di bawah tatapan dingin istrinya. Merasa begitu terhanyut dalam tatapan berbalut luka itu.

Dilihatnya Kyungsoo hanya tersenyum. Senyum pahit yang meminta sang suami untuk mengartikannya sendiri.

Chanyeol terdiam, menatap amplop cokelat dalam genggaman Kyungsoo yang kemudian diangsurkan padanya, merasakan sejumput kecewa yang merambatinya sejenak.

Merasakan ketidakrelaan yang merambati punggungnya.

Tapi dia pun—tak ingin memohon hanya demi mengembalikan sebuah kebahagiaan semu yang lain.


Jongin akhirnya dapat menarik nafas lega.

Ketika ia dan adiknya mulai mempersiapkan diri akan akhir yang terburuk bagi keluarga mereka, orangtuanya dengan mengejutkan meminta mereka untuk bersiap-siap.

Mereka, demi Tuhan, akan makan bersama diluar.

Berempat. Lengkap. Seperti yang mereka selalu lakukan dulu. Bahkan orangtuanya memilih restoran yang sama seperti waktu itu.

Jongin tersenyum, memperhatikan Sehun yang dengan ceria memilih-milih baju.

"Hyung, aku harus pakai yang mana?" Entah kapan terakhir kali ia melihat adiknya secerewet ini. Pipi putih Sehun memerah, antara kedinginan dan terlalu senang. "Yang putih ini akan mencolok sekali di kegelapan. Yang merah tadi membuat warna kulitku terlihat bagus, kan? Tapi desainnya aneh. Ah, yang biru ini lucu. Hyung—hyungie? Coba lihat aku. Bagus tidak?"

Kakaknya hanya mengangguk. "Iya, bagus."

Sehun merengut. "Dari tadi hyung bilang bagus melulu. Yang objektif, dong."

"Apapun akan terlihat bagus kalau kau yang memakai."

Memukul atas ucapan gombal kakaknya, Sehun terkikik geli. "Ih! Genit sekali, sih, hyung!"

Jongin balas tertawa. Sehun kembali berkutat dengan pakaian-pakaian tersebut, tak peduli pipinya semakin merah karena tubuh setengah telanjangnya yang menunggu dipakaikan baju. Sang bungsu tampaknya sedang terlalu bersemangat.

"Hyung pakai apa?"

Yang lebih tinggi hanya memperlihatkan setelan kemeja yang ia ambil asal-asalan untuk kemudian dihempaskan adiknya kembali.

"Jangan pakai baju sembarangan, dong!" Sehun mengomel, mencoba mencocokkan berbagai pakaian pada kakak lelakinya. "Ini, kan, makan malam perdana, jadi kita harus tampil sekeren mungkin. Nah, hyung pakai yang biru ini, aku pakai yang biru itu. Biar kita terlihat seperti kembar."

Setelah meyakinkan kakaknya agar memakai pakaian yang ia pilihkan, Sehun melesat pergi ke kamar mandi dengan membawa setumpuk pakaian untuknya. Ia bahkan mandi dengan bersenandung.

Jongin akan melakukan apa saja untuk melihat adiknya sebahagia ini. Dia akan melakukan apa saja untuk membuat orangtuanya kembali harmonis.

Mungkin orangtuanya sudah lelah bertengkar. Makan malam ini pastilah inilah akhir dari segalanya.

Sayangnya, wajah sumringah Sehun menghilang bersamaan dengan eskpresi tegang orangtuanya yang muncul ke permukaan, tepat setelah hidangan mereka disajikan.

"Jongin." Suara berat ayahnya yang terdengar begitu dalam tidak membantu perasaan sepasang remaja yang berpakaian mirip itu membaik sama sekali. "Papa minta maaf."

Suara Chanyeol begitu sarat akan luka. Begitu pula dengan tatapannya. Kyungsoo menatap kedua anaknya bergantian dengan manik yang memancarkan luka yang sama.

Kalau memang kalian sama-sama terluka, kenapa tetap saja—?

"Papa akan membawa Sehun. Kau akan jauh lebih baik bila ikut mama."

Jongin dan Sehun, meski sudah memperkirakan hal tersebut sejak jauh-jauh hari, tetap saja tidak dapat mempercayai pendengaran mereka ketika mendengarnya secara langsung.

Apa?

"Sehun," Kyungsoo menggenggam sebelah tangan bungsunya yang mulai gemetaran dari seberang meja, tidak peduli betapa anak itu meronta berusaha melepaskan genggaman ibunya. "Sehun, Jongin. Kami akan berpisah."

Suara lembut sang mama terdengar seperti guntur di telinga kedua anaknya.

Mereka baru saja diberikan harapan yang begitu tinggi—hanya untuk dihempaskan kembali.

Garpu yang dipegang Sehun terlepas. Empunya terdiam dengan mata berkaca-kaca, sementara sang kakak di sebelahnya mengeraskan rahangnya dengan penuh amarah.

Betapa kejamnya.

Betapa kejamnya kalian.

.

.

.

Ternyata mereka memang sudah terlalu lelah.

Ternyata memang,

inilah akhir dari segalanya.

.

.

.


just a few chapter again. hehe.

To Be Continued—

Sukabumi, 23.05.2018
byunpies