Tadi salah publish file maaf ya~ ini yang bener hehe.
Chapter 2
Mansion Oh
"Sehun-ah kau sudah pulang? Apa kau makan siang?"
"Ne eomma, aku SANGAT BERTERIMAKASIH pada hyung ku karena dia sudah menspam hp ku dengan smsnya." Sehun menekankan kata terima kasih saat ia melihat Luhan berjalan ke dapur. Dia melepas jasnya dibantu dengan Yoona
"Ya aku tau. Aku memang hyung yang terbaik~" Luhan menatap Sehun sambil menepuk dada bangga.
"Dasar rusa! Oh! Eomma, appa dimana? Katanya dia mau memberitahu ku tentang ke Jeju lusa. Apa eomma tau apa yang ingin kita lakukan di Jeju?"
"Katanya dia mau bertemu salah satu kolega nya membahasa proyek entah apa itu, eomma tak ingin memikirkan hal itu. Eomma pun tak tahu apa yang ingin dilakukan di Jeju Hun-ah. Sudah eomma mau masak untuk makan malam, karena appamu mungkin pulang jam 7 malam." Yoona langsung menuju ke dapur setelah menjawab pertanyaan Sehun, ia tak ingin diintrogasi oleh Sehun, yang sebenernya ia sudah tau jawaban sebenarnya.
"Eomma, eomma apa eomma tahu?" Luhan yang masih di dapur menghampiri eomma nya sambil berbisik-bisik.
"Kau kan belum memberitahu eomma, Lu."
"Hehe iya juga ya." Yoona menggelengkan kepalanya karena Luhan.
"Ada apa memangnya? Dan kenapa harus berbisik seperti itu?"
"Sssttt eomma! Nanti manusia albino itu dengar." Luhan menaruh jari telunjuk di bibirnya sambil melihat ke arah Sehun yang sedang menonton tv di ruang tamu.
"Dia adikmu Lu."
"Oh benarkah?!"
Tak! Yoona memukul kepala Luhan karena ia bicara seperti itu.
"Dasar! Jadi kenapa?" Yoona mengiris sayuran sambil menunggu perkataan Luhan.
"Itu, tadi saat ke kantor Sehun aku lihat dia senyum-senyum sendiri seperti orang yang habis melihat makhluk jadi-jadian."
"Huh? Maksudmu?" Tanya Yoona sambil memasukkan sayuran itu kedalam panci.
"Sepertinya ya eomma, Sehun sudah punya calon pendampingnya."
Prang! Yoona yang kaget karena perkataan Luhan tak sengaja menjatuhkan piring yang dia pegang untuk menaruh lauk pauk.
Sehun yang mendengar suara pecahan langsung berlari ke arah dapur.
"Eomma kenapa? Baik-baik saja?" Sehun menghampiri Yoona yang masih terbengong. Sedangkan Luhan langsung membersihkan pecahan piring.
"E-eh y-ya eomma tak apa. Sudah sana kau lebih baik mandi dan istirahat, kau pasti cape kan?" Yoona mengelus lengan Sehun karena ia sudah sadar karena pertanyaan Sehun.
"Hm baiklah. Lain kali hati-hatilah eomma."
"Ya, lagian ini hanya insiden kecil Hun-ah."
Sehun langsung menuju kamarnya yang ada di lantai 2.
"Eomma maafkan aku, aku tak bermaksud membuat eomma seperti ini." Luhan memegang lengan Yoona sambil menatap khawatir.
"Tak apa Lu. Dan... apa benar Sehun sudah punya calon? Apa kau tahu? Tujuan kita ke Jeju itu untuk menjodohkan Sehun dengan anak Kim Yunho dan Kim Yuri."
"Hn. Aku tak begitu tau eomma, yang jelas Sehun hanya senyum seperti itu. Oh, jadi Sehun mau dijodohkan. Apa seseorang itu baik?" Tanya Luhan sambil membuang pecahan piring.
"Ya dia baik, sopan, santun, pintar. Dia mahasiswa di Seoul National University. Lu, jika Sehun menanyakan hal tentang Jeju jangan kau beritahu hal ini ya?"
"Ya aku takkan memberitahu. Jadi dia masih mahasiswa? Apa tak apa eomma? Apa umur mereka terpaut jauh?"
"Tidak, lagian usia mereka tidak terpaut terlalu jauh, hanya terpaut 2 tahun, Lu."
"Hm, kuharap Sehun tak keras kepala saat diberitahu oleh appa nanti."
"Ya. Sudahlah kau bantu eomma menyiapkan makan malam ini. Appa mungkin sebentar lagi pulang."
Mansion Kim
"Jongin."
"Ya appa?" Jongin yang dipanggil oleh appa nya lantas menghentikkan sebentar mengerjakan tugasnya.
"Apa appa dan eomma boleh masuk ke dalam kamarmu, sayang?" Tanya Yuri sambil tersenyum.
"Ah ne! Masuklah, kenapa kalian harus minta izin?"
"Kami takut mengganggumu mengerjakan tugas." Yunho dan Yuri langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang Jongin yang dekat dengan meja belajarnya.
"Ish tak apa. Lagian sebentar lagi juga selesai. Ada apa appa, eomma?" Jongin merengut sebal karena orang tuanya biasanya tak bersikap seperti itu.
"Kita akan ke Jeju lusa. Kau juga ikut Jonginie." Yuri mengelus tangan Jongin.
"Apa? Ke Jeju lusa? Kenapa mendadak?" Jongin membolakan matanya mendengar penjelasan dari Yuri.
"Kita berencana menjodohkan mu dengan salah satu anak dari kolega appa. Disana hanya untuk pertemuan kalian." Dijodohkan? Kenapa appa dan eomma baru bilang? Aku dijodohkan dengan anak dari kolega appa? –Dalam hati Jongin.
"Jika kau tak mau tak apa." Yuri menampilkan senyum hangatnya pada Jongin.
"Eung... baiklah aku akan ikut. Tapi eomma appa..." Jongin bingung bagaimana menyampaikan nya.
"Kenapa Jongin?" Tanya Yunho sambil mengelus kepala Jongin.
"Jika saat bertemu orang yang dijodohkan denganku nanti, tapi aku tidak menyukainya. Apa aku bisa membatalkan perjodohan ini?" Jongin menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Tak apa. Kami takkan memaksa mu."
"Apa aku boleh tahu sifat orang yang nanti dijodohkan denganku?"
"Dia terkadang dia bersifat dingin, tapi sebenernya dia memiliki pembawaan yang hangat, baik, tampan dan sopan. Di usia nya yang 22 tahun dia sudah menjadi CEO dan sangat bertanggung jawab pada keluarganya." Yuri menjelaskan kepada Jongin sambil tersenyum.
"Jadi hanya terpaut 2 tahun usia kami?"
" Ya sayang. Sudah kita hanya ingin membicarakan itu, jangan lupa sebentar lagi makan malam. Jangan terlalu fokus pada tugas! Bisa-bisa maag kau kambuh." Peringat Yunho sambil berdiri untuk keluar kamar.
"Ne! Ish eomma appa! Aku sudah dewasa bukan bayi lagi~ nanti aku akan turun ke bawah kok tenang saja hehe."
"Bagaimanapun kau akan tetap jadi bayi kami Jonginie~" Sebelum keluar kamar Yunho mengusak rambut Jongin.
"Ish menyebalkan." Jongin menatap pintu kamarnya yang tertutup sambil menghentakkan kakinya tanda bahwa ia kesal.
Back to Mansion Oh
"Jadi Sehun, appa akan memberitahu mu. Kita semua ke Jeju karena berencana menjodohkan mu dengan anak dari kolega ayah teman kecil ayah juga." Siwon selaku kepala keluarga memulai obrolan saat makan malam berlangsung
"UHUK! UHUK!"
"Hun-ah hati-hati! Ini minum." Yoona menepuk-nepuk punggung Sehun dan memberikan segelas air putih kepada Sehun yang tersedak.
"Uh gomawo eomma. Dijodohkan? Kenapa mendadak sekali appa?"
"Sebenernya kami sudah menjodohkan kalian dari kecil. Tapi karena keluarganya pindah ke Jepang saat anaknya berumur 6 tahun. Jadinya ya sekarang kami baru mau mempertemukanmu dengannya. Kau mau Sehun?"
"U-uh tapi appa... sebenarnya aku sudah mempunyai calon. Aku akan mengenalkan dia kepada kalian jika kami sudah menjalin hubungan yang jelas, karena sekarang kami masih belum terlalu mengenal satu sama lain. Tapi pasti aku akan membawanya ke hadapan kalian!" Sehun menatap keluarga nya secara bergantian.
"Tapi Sehun—"
"Kumohon appa... Aku akan ikut ke Jeju lusa, tapi jika aku tidak menyukai orang yang dijodohkan denganku bisakah kalian batalkan perjodohannya?"
"Hahhh baiklah. Sifat keras kepala mu sepertinya menurun dariku. Lanjutkan makannya."
"Appa, eomma, hyung aku ke ruang kerja ku dulu. Ada tugas yang belum ku selesaikan." Sehun bangkir dari kursinya setelah pamit pada keluarganya.
"Yeobo, bagaimana ini? Benar kata Luhan, Sehun sudah punya calon. Bagaimana dengan Jongin nanti? Padahal aku ingin mempunyai menantu seperti dia." Yoona menatap Siwon dengan tatapan sedih.
"Kau sudah tahu Luhan?" Siwon menatap anak sulungnya yang masih di meja makan.
"Ya appa. Sebenarnya aku hanya meneba saja, karena tadi pagi saat aku berkunjung ke kantornya ia senyum-senyum sendiri. Tapi ternyata aku benar. Mianhae." Luhan menundukkan kepalanya karena ia merasa bersalah.
"Tak apa Lu. Apa appa bisa meminta bantuan mu?"
"Jika itu bukan bermain debus aku bisa appa hehe." Siwon dan Yoona tertawa karena perkataan Luhan.
"Jadi appa minta kau mengikuti Sehun sampai besok. Jika ia bertemu dengan calonnya kau harus memfoto nya arra? Appa ingin tahu orang yang Sehun sebut calon."
"Ha? Baiklah appa. Semoga saja aku tak ketahuan albino itu saat menguntitnya. Oh eomma bisakah aku lihat foto calon adik ipar ku?" Luhan menatap ke arah Yoona.
"Bisa. Tunggu eomma ambil di kamar."
Sambil menunggu Yoona kembali ke ruang makan, Luhan mengobrol dengan ayahnya.
"Appa, orang yang ingin dijodohkan dengan Sehun seperti apa?"
"Sepertinya kau sudah tahu dari eomma mu, mendengar tadi kata eomma kau cerita tentang calon Sehun."
"Maksudku apa dia manis? Cantik? Atau yang lain?" Luhan mencondongkan badannya ke meja makan karena ia penasaran.
"Kau lihat saja nanti fotonya."
Tepat setelah Siwon mengatakan itu Yoona datang ke meja makan sambil membawa beberapa foto. Ia langsung menyerahkan foto tersebut kepada Luhan.
"ASTAGA DIA IMUT DAN MANIS!"
"Hey Lu pelankan suara mu nanti Sehun dengar."
"Hehe ne eomma. Appa, eomma kenapa kalian tak menjodohkannya denganku saja? Kenapa malah Sehun dulu padahal usiaku sudah 27 tahun sedangkan Sehun masih 22 tahun. Jodohkan dengan ku saja ya?~"
"Tidak bisa Lu, kau nanti malah terlihat seperti pedofil haha~" Siwon tertawa karena ucapannya sendiri.
"Ish! Yasudah aku juga mau dijodohkan, tapi hampir seperti Jongin ya?"
"Ya ya jika ada yang mau." Ucap Yoona sambil berjalan ke arah wastafel.
"Jahatnya kalian." Luhan mengusap ujung matanya seolah-olah ia sedang menangis. Padahal hanya akting.
Mansion Kim
"Jongin ayo turun makan malam sudah siap!" Yuri berteriak karena Jongin belum turun dari kamarnya.
"Selamat makan!"
"Bagaimana kuliah mu?"
"Baik-baik saja appa tak ada kendala apapun." Jongin menjawab pertanyaan Yunho setelah ia menelan makanannya.
"Jika ada sesuatu yang kau butuhkan. Mintalah pada kami, sayang." Yuri menatap Jongin dengan lembut.
"Ya. Tapi aku masih memiliki uang di rekening yang cukup untuk keperluan ku. Selagi aku masih bisa sendiri, aku akan membayar keperluan ku sendiri appa, eomma." Jongin tersenyum tulus sambil menatap kedua orang tuanya.
"Hn baiklah. Habiskan makanmu."
Setelah percakapan itu meja makan menjadi hening hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan garpu.
"Appa, aku ke kamar duluan."
"Ya. Jangan tidur terlalu malam sayang," Kata Yuri saat Jongin sudah naik tangga.
"Kau tau yeobo? Sifat mandiri Jongin sepertinya menurun dari mu."
"Kau benar Yuri-ah aku bangga punya anak seperti Jongin.
Jongin Side
"Hffttt dijodohkan? Hah entahlah. Sehun hyung... Eh kenapa aku tiba-tiba memikirkannya?" Jongin menutup pipi nya yang memerah dengan telapak tangannya.
"Apa besok aku bertemu dengan Sehun hyung lagi? Oiya dia bilang kan untuk bertemu di cafe yang tadi siang~ Ughh aku kenapaaaa?~~" Jongin menundukkan kepalanya ke meja belajar miliknya.
~TBC~
HEEE ga nyangka responnya lumayan bagus hehe, makasih yang Ini ga di edit lagi, cuma edit buat italic aja. Jadi maaf ya kalo banyak typo~ Disini belum ada Hunkai momentnya, tapi pasti di chap depan sedikit-sedikit ada. Jadi kalo mau full sabar ya~
Oiya mau promo boleh ya?
Kalo mau kenalan ini :
Id Line : riezqi08
Wattpad : LoeeyyBee
Ig : riezqiii_
Kalo yang punya wattpad/CBHS follow wattpad aku ya. Disitu aku baru publish ff chanbaekk hehe. Jangan bosen buat review ff ini ^o^
Thalanghaee3
