Hujan

.

Nijimura Shūzō |fem! Akashi Seijūrō (Seiko)

Romance

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Warning : OOC, genderswap, typo

.

.

"Shūzō-san hujan-hujanan lagi?!", adalah sebuah kalimat tanya penuh kekesalan yang menyambut Shūzō sepulangnya lelaki itu dari supermarket. Sang pemilik nama, Nijimura Shūzō pun menoleh, mendapati istrinya melipat tangan di depan dada dengan ekspresi kesal (yang menurut Shūzō justru menggemaskan).

"Aku suka hujan Sei.", ucap Shūzō kalem, sambil mendudukkan dirinya di undak-undakan teras rumahnya.

"Itu bukan alasan yang kuat untuk hujan-hujanan.", tukas Nijimura Seiko. Suaranya terdengar samar, karena wanita muda berusia 23 tahun itu masuk ke dalam rumah.

"Hmm, aku tidak bawa payung."

"Jangan jadikan itu alasan. Tadi jelas sekali aku sudah mengingatkanmu untuk membawa payung Shūzō-san.", kali ini suara Seiko terdengar jelas di belakang Shūzō. Pria itu pun merasakan handuk yang dilampirkan ke kepalanya. Kemudian tangan istrinya mulai bergerak lembut untuk mengeringkan rambut Nijimura. "Aku kawatir, nanti Shūzō-san bisa sakit."

"Aku tidak akan sakit hanya karena kehujanan. Sudah lagi aku pilih-pilih kok kalau mau hujan-hujanan."

"Oh ya? Seingatku Shūzō-san hujan-hujanan terus tiap ada kesempatan. Seperti anak kecil saja."

'Yang seperti anak kecil itu aku yang suka hujan-hujanan atau kau yang sedang merajuk?', pemikiran Shūzō barusan membuatnya terkekeh sendiri.

"Iya, tentu saja. Kalau sedang membawa berkas-berkas penting kantor aku tidak akan hujan-hujanan. Jika hujannya hujan badai juga aku tidak hujan-hujanan. Kala sakit aku juga malas hujan-hujanan."

"Terserah. Aku siapkan air hangat dulu.", ucap Seiko. Dan kemudian wanita itu menghilang dari pandangan Shūzō.

.

.

Seiko muncul beberapa menit kemudian, membawa secangkir cokelat hangat. "Minumlah, hangatkan dirimu Shūzō-san.", ucapnya sambil menyodorkan cangkir tersebut ke suaminya. Kemudain mendudukkan diri di kursi teras. "Airnya belum siap, mungkin sekitar 5 menit lagi.", lanjut wanita yang dulunya bermarga Akashi itu.

"Terima kasih.", ucap Shūzō singkat. Kemudian pria itu menyeruput minumannya pelan-pelan, sambil menikmati melodi yang muncul kala hujan.

"Apa sih yang sebenarnya Shūzō-san sukai dari hujan?", pertanyaan Seiko memecah keheningan di antara mereka berdua.

Shūzō meletakkan cangkirnya, kemudian memandang guyuran air di luar sana. "Petrichor, dan melodi yang tercipta.", ucapnya sambil tersenyum.

"Kenapa?"

"Kedua-duanya benar-benar menenangkanku. Meskipun keberadaanmu jauh membuatku tenang."

Seiko menghela nafas pelan. Tersenyum simpul. Kemudian dia beranjak dari kursinya. "Aku akan mengecek airnya dulu.", dan wanita itu kembali masuk ke dalam rumah.

.

.

"Airnya sudah siap. Bergegaslah mandi, tapi mandinya jangan lama-lama. Aku juga sudah menyiapkan baju ganti. Sekarang aku sedang masak sup tofu, nanti setelah mandi langsung makan.", perintah Seiko dengan wajah datar. Sementara Shūzō tersenyum geli. Istrinya meskipun suka memerintah sangatlah perhatian.

"Terima kasih sayang.", dan Shūzō mulai beranjak berdiri. "Ngomong-ngomong, kau tahu 'I am Afraid'?"

"Hmm?"

"William Shakespeare."

Memutar ingatannya sejenak, Seiko pun menjawab. "Iya, tahu. Ada apa?"

Shūzō tersenyum. Kemudian dia berkata, "Tolong ucapkan sajaknya untukku."

Permintaan suaminya membuat Seiko mengernyit. Tapi dia tetap melakukan yang diminta Shūzō.

"You say that you love rain,

but you open your umbrella when it rains.

You say that you love the sun,

but you find a shadow spot when the sun shines.

You say that you love the wind,

but you close your windows when wind blows.

This is why I am afraid;

You say that you love me too."

Senyum Shūzō semakin cerah, kemudian pria itu berkata dengan tegas, "Aku menyukai hujan, dan aku mencintaimu Sei.". kemudian dia menghilang ke dalam rumah. Meninggalkan Seiko yang mematung dengan wajah merona merah.

"Ck, berhentilah melakukan hal-hal bodoh. Dari awal juga aku tidak pernah meragukanmu.", gumam Nijimura Seiko diikuti seulas senyum manis yang muncul di bibirnya.

.

.

END

.

.

AN : terima kasih buat yang sudah baca~

Semoga fic Nijifem!Aka ini menghibur ya~

Dan terima kasih untuk yang sudah fav, follow, dan review.

Fic kali ini super pendek, hhe, maafkan saya~

.

oh ya ini balasan untuk review

.

Akane Miyahara : Iya Mayu di fic sebelumnya semacam malaikat gitu, dan dia berubah jadi setengah manusia karena sayapnya disentuh Niji. ngomong-ngomong, makasih reviewnya~