Chapter 2

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Jangan berlari di dalam rumah, Draco." Kata Lucius pelan dari meja makan.

"Maaf ayah. Aku hanya bersemangat."

"Baiklah. Sekarang kau harus bersekolah di Hogwarts, ada suatu hal penting yang ingin ayah minta darimu."

"Tentu ayah."

"Banyak hal yang sudah ayah ajarkan padamu dan kepercayaan untuk berhubungan dengan sesama penyihir sedarah murni. Untuk kali ini saja, aku ingin kau mengabaikan hal itu. Ada seorang gadis penyihir keturunan muggleborn yang akan bersekolah di Hogwarts bersama denganmu. Hermione Granger. Dia seorang penyihir kuat dan tidak di ragukan lagi akan tumbuh menjadi seorang yang luar biasa. Aku tidak memintamu menjadi sahabatnya Draco, tapi untuk alasan itu aku bisa berdiskusi denganmu sekarang, aku ingin kau untuk menjaganya di Hogwarts. Jangan biarkan dia seperti kebanyakan muggleborn."

"Tidakkah itu menjadikan aku seorang penghianat, ayah?." Draco bertanya penasaran.

"Jika dia masuk ke Slytherin maka kau akan bisa berteman dengannya dengan dasar 'asrama sebelum darah'. Teman Slytherinmu sudah melakukan ini selama bertahun-tahun untuk darah campuran Slytherin."

Draco mengangguk mengerti, "Dan bagaimana jika dia tidak masuk ke Slytherin? Sangat jelas dia tidak akan percaya Slytherin. Asrama lain akan membuatnya memikirkan tidak-tidak tentang kami."

"Benar. Maka dari itu kau harus bertemu dengannya hari ini. Bertemanlah dengan dia agar dia melihat hal baik tentangmu. Lakukan kesan baik tentang dirimu sebelum dia belajar tentang hukum asrama."

Draco mengangguk, "Aku tidak akan mengecewakanmu, ayah."

"Bagus." Kata Lucius, "Sekarang makan sarapanmu." Dia berkata dengan lambaian tangan.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Draco berjalan di lorong kereta, melihat setiap kompartemen mencari seorang dengan wajah tertentu. Ayahnya memberitahu dimana gadis itu ketka di platform, tapi gadis dengan rambut mengembang itu telah hilang kedalam kereta sebelum Draco mengucapkan selamat tinggal kepada orang tuanya.

"Hei!" Draco mendengar perempuan berteriak, lalu ia tersadar bahwa telah menambrak seseorang ketika pikirannya kosong.

"Ah, maaf aku tid-." Lalu Draco mengenali sesosok penyihir di depannya. Sedetik kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak bisa berkata apa-apa, lalu berdehem dia melanjuykan, "Salahku. Pikiranku tidak pada tempatnya."

"Tidak apa." Dia tersenyum pada Draco.

"Aku Malfoy. Draco Malfoy." Kata si pirang, menjulurkan tangannya.

"Hermione Granger." Katanya, senang mendapat kenalan yang ramah memperhitungkan bagaimana gugupnya dia, "Suatu kehormatan bertemu denganmu."

"Kau sudah dapat tempat?" Draco bertanya segera setelah melihatnya akan pergi.

"Ya. Aku sudah memasukan barang-barangku disana." Dia menjawab.

"Apa kau mau berbagi? Sepertinya aku tidak bisa menemukan tempat yang kosong." Kata Draco

"Tidak masalah," Hermione tersenyum, "Akan sangat menyenangkan mendapat seseorang menemani. Meski aku membawa buku untuk dibaca selama perjalanan."

"Oh, aku tidak akan mengganggu. Dalam artian, kau bebas membaca bukumu dan tidak usah perdulikan aku." Katanya sambil mengikuti Hermione.

Selama perjalanan, Draco berhasil akan kewajibannya menjadi teman dari Hermione dan mencoba untuk lebih mengenalnya. Dia sedikit terkejut dengan dirinya yang merasa santai dengan Hermione menemaninya.

Fakta bahwa dia seorang muggleborn hanya terpikir sekali dan ketika dia mempercayainya bahwa sebenarnya Hermione merasa gugup karena dia mungkin tidak terlalu bagus untuk masuk Hogwarts dan mereka melakukan kesalahan atau dia akan di keluarkan dari sekolah.

Draco merespon dengan memberitahu bahwa sihirnya adalah sihir sebenarnya, tanpa memperdulikan tentang warisan keturunan dan dia dapat melakukan apapun jika memiliki pemikiran yang kuat.

"Aku tidak meragukan dirimu akan menjadi penyihir yang hebat." Draco memberitahu Hermione dengan kedipan, "Tapi aku mohon dandan jangan bilang orang lain aku berkata seperti itu. Keluarga Malfoy mempunyai reputasi menjadi dingin dan tidak ramah, memerlukan banyak kehormatan. Jangan hancurkan reputasi itu." Lanjutnya sambil tertawa.

Hermione tertawa bersamanya dan berterimakasih untuk reputasi baik-menghancurkan kata. Dan selama sisa perjalan, mereka memakan camilan dari troli, mengobrol dan sesekali berdebat tentang sihir dan makhluk gaib, dan seketika Draco juga merasa dia harus tahu tentang Dunia Sihir, dan duduk dengan tenang sewaktu Hermione membaca bukunya.

Draco melihat dengan penasaran kepada penyihir di depannya ini. Dia tidak tahu mengapa ayahnya memberi perintah untuk melindunginya, tapi dia berterimakasih kepada Merlin dia melakukannya. Akan sangat menyedihkan jika dia tidak dapat berteman dengannya karena status darah disini.

Dari sedikit waktu yang mereka habiskan bersama, Draco dapat menyimpulman bahwa dia seorang yang sangat pintar. Dari perdebatan ramah mereka, Draco dapat berkata bahwa Hermione keras kepala dan tidak takut berpendapat.

Dari fakta bahwa di jam terakhir yang memilih untuk menghabiskan membaca buku tentang Hogwarts bersantai, Draco dapat menyimpulkan tulus. Dan dengan beberapa sifatnya digabungkan dengan keinginannya yang kuat, Draco berfikiran sama dengan yang ayahnya katakan. Hermione Granger akan menjadi penyihir yang hebat.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Hermione Granger" panggil seorang wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Profesor McGonagall.

Hermione maju perlahan menuju kursi di depan tengah-tengah aula, gugup karena akan di sortir asrama. Dia sudah mendengar seseorang mengatakan diq gila atau seperti itulah tapi dia tidak peduli. 'sihir adalah sihir' dia memberitahu dirinya sendiri, menenangkan dirinya, 'kau akan menjadi penyihir hebat'.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Original Story by Callia Sara

Pemilik Cerita adalah Callia Sara

Chezzell hanya mentranslate.

Uploaded. 11:38 pm. Thursday, July 12 2018.