Terimakasih sebelumnya sudah baca fic saya
Saya baru akan ngebalas review
echaNM : si Sasu mah gag kenapa2 emang orangnya kan gitu..hehe (#plak) nggak ding, Sasu emang sedikit trauma ama kisah ortunya
UchiHaruno Sya-Chan : hehe.. ok kalo itu masih saya pertimbangkan. Sebenarnya dari awal mau sy bikin one shot… eh malah baper nulisnya
Dewie867 : iya mkasih ya ,, ini juga nulis sambil begadang ^_^
Mustika447 : sebernya saya nulis & publish lewat Hp, jadi cara ngetiknyaa gaya SMS,, hehe..mkasi masukannya
Kirara967 : Bingo ! ketahuan ya…
Dewazz : di chapter ini ada nanti
SJXJS : iya sih saya sayang SasuSaku jadi gag mau sad ending...
Guest, winahime, Uchihana Rin, respitasari : ini uda update ^_^
Terimakasih yg uda nge review, fav, dan follow
Saya merasa dihargai (^_^)
Disclaimer…. Lagi2 Kishimoto sensei…
.
.
.
DLDR
Saya tau byk typo
Tapi malas buat ngedit
Hehehe… peace
.
.
Sakura membuka mata. Pandangannya masih terasa kabur. Dilihat sekelilingnya, ini adalah kamar hotelnya. Sinar pagi hari menerpa wajahnya membuat nya semakin pusing. Ia merasa ada sesuatu yang basah dikepalanya. Ia memegang dahinya. Ternyata ia dikompres semalaman. Tapi siapa yang membawanya kesini?
"Kau sudah bangun" suara Sasuke mengagetkan Sakura. Ia membawa sarapan dan meletakkanya di atas nakas sebelah tempat tidurnya. "Berkeliaran di malam bersalju dan tidak mengenakan jaket. Apalagi di tempat asing. Merepotkan saja"
Sakura hanya terdiam. Ia malu kepada dirinya sendiri. Masih bertindak kekanak-kanakan walaupun kenyataannya memang begitu.
Sasuke mengambil kompres dan menempelkan tangannya di dahi Sakura. Sakura hanya tersipu lemas.
"Kau masih panas. Minum obatnya setelah makan. Aku hanya tidak mau sampai kita pulang nanti kau masih seperti ini. Nanti Kakek akan bertanya yang macam-macam padaku"
Sakura masih diam. Ia tau bahwa Sasuke tidak mungkin ada alasan lain untuk merawat dirinya. Ia hanya berfikir bahwa ia hanyalah beban bagi Sasuke.
"Kenapa diam saja. Cepat makan sarapanmu! Apa Kau mau aku suapi?"
Dengan cepat Sakura menjawab "Tidak perlu. Aku bisa sendiri"
Sasuke mengangkat kedua alisnya. Terheran. Sasuke berfikir bahwa Sakura masih marah padanya. Wajar saja, mengingat perlakuannya selama ini pada istrinya itu, dia pantas mendapatkannya.
.
Beberapa hari kemarin Sakura hanya tidur, makan, minum obat, membosankan sekali, pikir nya. Hari ini pun juga begitu. Sakura sedikit jengkel. Andai dia sekarang dirumahnya, rumah orangtuanya. Pasti tidak akan semenderita ini walaupun ia sedang sakit- Derita batin.
"Panasmu sudah sedikit turun. Kalau besok kau sudah sembuh, aku akan mengajakmu ke suatu tempat" cetus Sasuke agar Sakura semangat, sambil memeriksa termometer.
"Benarkah? Kemana?" tanya Sakura antusias. Wajahnya mulai ceria.
"Pulihkan saja kondisimu dulu. Baru bertanya" Sasuke merebahkan tubuhnya di sebelah Sakura.
"Aku sudah melakukan apa yang kakak sarankan. Makan banyak. Minum obat. Istirahat. Tapi cuaca disini sangat dingin makanya suhu tubuhku belum turun juga"
Sasuke terdiam. Seperti berfikir sambil memejamkan mata. Lalu tiba-tiba Sasuke menarik tubuh Sakura. Mendekapnya.
"Apa masih dingin?"
"... sedikit" jawab Sakura ragu dengan tindakan Sasuke. Antara senang dan takut.
Sasuke semakin mengencangkan pelukannya. Tiada jarak diantara mereka. Tangan Sasuke membelai lembut rambut panjang Sakura dan membisikkan "Aku ingin mengajakmu jalan-jalan seharian"
Rasanya Sakura ingin meledak seketika. Bahkan dia tidak bisa membedakan degub jantungnya dan Sasuke. Hembusan nafas Sasuke di telinga Sakura membuat gadis itu semakin berdebar. Dada bidang Sasuke, kehangatannya, dan harum tubuhnya pun semakin membuat Sakura melayang.
Begitu pula Sasuke. Yang ia rasakan sekarang hanya tubuh mungil Sakura menggigil dipelukannya. Gadis ini cantik dan baik. Pria mana yang tidak tertarik dengannya. Hanya saja ia masih melihat kelam masalalu keluarganya. Ia hanya sedikit waspada.
Keduanya tertidur dalam pelukan bersama. Mereka berharap bermimpi indah malam ini.
.
Sinar mentari menyapa penglihatan Sakura. Ia mulai membuka matanya, belum sepenuhnya sadar. Ketika ia mendapati wajahnya berada diatas dada bidang Sasuke, ia terbelalak kaget. Tangan kanan Sasuke masih melingkar di pinggang Sakura. Sakura segera bangun.
"Apa.. yang terjadi.. semalam?" Sakura mengingat-ingat. Setelah itu wajahnya memerah. Segera ia beranjak menuju kamar mandi.
Sakura menyalakan shower begitu kencang. Sambil merasakan air shower yang dingin jatuh ke tubuhnya, ia mengingat lagi kejadian semalam. Ia tersenyum. 'benar-benar seperti mimpi' gumam Sakura. Walaupun hanya dipeluk oleh Sasuke, menurutnya itu adalah kemajuan yang cukup menyenangkan. Ia berfikir sedikit bisa merubah sifat kaku dan keras Sasuke .
Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi, Sakura melihat Sasuke duduk di ranjangnya.
"Ah. Kapan kakak bangun?"
"... . Dari tadi. Tapi aku masih ngantuk" jawab Sasuke sambil mengusap wajahnya.
"Kalau begitu sebaiknya kakak tidur lagi" Sakura dengan wajah sedikit muram. "Sepertinya kakak beberapa hari ini jarang istirahat karena menjagaku"
"Hn" Sasuke tersenyum tipis. Berdiri. Melangkah menuju kamar mandi."Sepertinya kau sudah sembuh. Tunggu aku selesai mandi" sambil menepuk pundak Sakura.
Sakura tertegun. Ia senang. Rupanya Sasuke memang mau menepati janjinya untuk mengajak Sakura jalan-jalan seharian.
.
.
"Waaahh indahnyaaaa" teriak Sakura berada di tengah jembatan Pont Des Art.
"Hei. Kau berisik sekali. Kau tidak pernah kesini ?" seru Sasuke menutup kedua telinganya dan melihat sekeliling, khawatir ada yang melihat kelakuan Sakura. Nyatanya memang ada beberapa yang melihat.
Sakura menggelengkan kepalanya "Aku tidak punya teman untuk ku ajak kesini"
Entah kenapa Sasuke terdiam melihati istrinya, Gadis ceria yang kehilangan masa mudanya. Lalu ia tersenyum tipis.
Sakura melirik ke arah Sasuke, mengernyitkan keningnya "Kenapa ?"
Sasuke masih tersenyum. Mendekat, lebih dekat ke arah Sakura. Sakura memundurkan kakinya selangkah. Sasuke menyetuh pipi kiri Sakura dengan tangan kanannya "Mulai sekarang, lakukan apa yang kau inginkan. Jangan takut padaku"
Debaran jantung Sakura makin tak menentu. Antara senang dan tidak percaya. Ia menutup matanya sebentar. Merasakan tangan hangat Sasuke dipipinya. Lalu ia membuka matanya dan tersenyum riang. Tangan kirinya terangkat menyentuh tangan Sasuke yang mengusap pipinya "Terimakasih kakak"
Sasuke makin mengembangkan senyumnya melihat Sakura yang kembali ceria. Sakura menarik tangan Sasuke "Ayo..kita keliling" senyumnya riang.
Sasuke mengangguk. Mereka bergandeng tangan berjalan bersama. Sakura melihat sekeliling jembatan yang penuh dengan gembok cinta. Yah, banyak wisatawan datang membawa gembok bertuliskan nama sepasang, dikuncinya pada kawat jembatan. Berharap kisah cinta mereka selalu utuh, lalu membuang kuncinya ke sungai.
"Kak Sasuke, kalau kita kesini lagi, Aku ingin nama kita berada disana" kata Sakura menunjuk deretan gembok cinta.
Sasuke mendengus "Hn.. seperti anak kecil saja"
"Aku memang masih kecil" seru Sakura sambil meledek Sasuke.
"Kita juga bisa ke Korea. Di Namsan Tower. Kita bisa menaruh gembok itu disana"
"Ya" segera Sakura tertawa lagi. Begitu indah hari ini. Mungkin tidak terbayangkan oleh Sakura sebelumnya.
.
.
Sasuke bertemu Naruto- teman sekolahnya yang kini ada keperluan bisnis di Paris- saat hendak meninggalkan Pon Des Arts Bridge. Ia menyapa Naruto dan berbincang-bincang dengannya di café . Sedangkan Sakura memilih menghabiskan waktunya sendirian ditepi jembatan, melihat pemandangan air laut yang menenangkan. Sesekali Sakura mengabadikan pemandangan indah tersebut dengan kamera nya. Setelah dirasa cukup memotret, ia segera menyusul Sasuke. Dia berlari ke arah cafe. Ketika Sakura mendapati kedua orang tersebut –Sasuke dan Naruto- tertawa bersama sambil melihat dirinya, Sakura menghentikan langkahnya.
"Apa mereka menertawakanku?" bisiknya pada diri sendiri.
Sasuke beranjak dari tempat duduknya, berniat menghampiri Sakura. Tapi sebelum itu ia berpamitan pada Naruto , dan Naruto melambaikan tangannya seraya berpamitan jarak jauh pada Sakura.
Sakura yang tidak mengerti "apa yang kalian bicarakan?" Tanya Sakura sambil berlalu berjalan lagi.
"Bukan apa-apa. Hanya bisnis" kata Sasuke datar.
"Bukan apa-apa tapi kalian tertawa bersama sambil melihatku. Apa kalian meledekku?"
Sasuke menghentikan langkahnya dan menghadap Sakura "Nanti akan kuceritakan kalau kita sudah sampai di hotel"
Sakura menggembungkan pipinya.
.
Setelah makan malam bersama Sasuke dan Sakura kembali ke kamar hotel mereka.
"Sampai juga akhirnya. Ternyata capek juga ya keliling kota tidak membawa mobil" keluh Sakura.
"Itu kan ide mu" jawab Sasuke datar. Setengah membalas ucapan Sakura tempo hari.
Wajah Sakura kembali cemberut. "Aku mandi saja lah"
Sasuke memperhatikan gelagat Sakura yang agak kesal. Ia menahan tawanya. Senang sekali rasanya menggoda Sakura.
Sementara Sakura mandi, Sasuke merilexkan tubuhnya, berbaring di tempat tidur. Memejamkan matanya. Sedikit terlelap. Sampai ketika Sakura membangunkannya. "Kakak. Kau tidak mandi? Bersihkan diri dulu sebelum tidur"
Sasuke membuka matanya perlahan. Terlihat Sakura yang sedikit terlihat basah. Sial. Lagi-lagi. Memang biasanya Sakura terlihat sangat sexy ketika dia habis mandi. Oh men, ini tantangan bagi Sasuke. Tapi Sasuke segera mengalihkan perhatiannya. Ia beranjak dari tidurnya dan segera masuk kamar mandi membawa pikiram kotornya tentang Sakura.
Sakura mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer. Dilihatnya dari cermin Sasuke sudah keluar dari kamar mandi. Cepat sekali, pikirnya.
Sasuke duduk di tepi ranjang.
Sakura selesai dengan kegiatannya mengeringkan rambut. Ia beranjak menuju tempat tidurnya. Ia duduk bersebelahan dengan Sasuke " Kakak aku matikan lampunya ya"
"Hn" jawab Sasuke singkat dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Sakura menaikkan selimutnya "oh ya kak. Katanya mau bercerita tentang temanmu tadi ? Apa yang kalian bicarakan sambil tertawa seperti itu?"
Sasuke yang terlentang, kini memiringkan posisinya, menghadap Sakura. Mereka berdua saling berhadapan. Sedikit lebih dekat dari biasanya.
"Kami tidak tertawa seperti yang kau pikirkan " kata Sasuke member jeda "Dia hanya kagum melihatmu"
Wajah Sakura memerah "Pasti dia mengira aku adalah adikmu..?" tanya Sakura sedikit tidak bersemangat.
"Aku bilang padanya kalau kita sudah menikah"
Wajah Sakura lebih memerah "….benarkah?"
Sasuke mengangguk "Dia bilang kita sangat cocok" tambahnya lagi. Wajah Sakura semakin tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tapi terlihat agak malu-malu. Melihat Sakura yang pipinya lucu seperti buah tomat-kesukaannya-sekarang, rasanya Sasuke sudah tidak bisa menahannya. Menahan perasaannya karena Sakura.
Sasuke mendekat menarik tengkuk Sakura. Diciumnya bibir lembut Sakura. Sakura tertegun. Sempat ia mendorong Sasuke karena perlakuannya yang tiba-tiba itu, tapi hatinya berkata lain. Sakura perlahan menutup matanya menikmati perlakuan Sasuke itu. Membalas tiap kecupan dari suaminya. Ciuman yang bertahan lama sampai rasanya Sakura tidak bisa bernafas lagi. Sasuke melepaksan ciumannya, memberikan jeda agar Sakura bisa lebih menikmati ciuman yang selanjutnya. Dan lagi, Sasuke mendaratkan bibirnya pada bibir Sakura yang masih basah. Rasanya semakin panas dan liar ketika keduanya saling merespon. Ciuman Sasuke beralih turun ke leher jenjang Sakura. Menghirup aroma cherry blossom tubuh Sakura. Sakura semakin menggeliat, tak dapat mengontrol desahannya.
"Ka..kak..Ssasu..keehhh.. ngh…" panggil Sakura sedikit memaksakan suaranya yang nyaris tak keluar."a..aku.. takut"
Mendengar itu, Sasuke menghentikan ciumannya. Dilihat gadisnya kini yang terengah-engah mengatur nafasnya. Wajahnya lemas, matanya berkaca-kaca dan tubuhnnya sedikit gemetar.
Sasuke tau bahwa Sakura belum siap untuk itu. Dikecupnya kening Sakura,mencoba menenangkan gadis itu kemudian memeluknya erat, "Maafkan aku Sakura"
Sakura membalas pelukan Sasuke lebih erat lagi. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sasuke. "Seharusnya aku yang minta maaf kakak" Sakura merasa malu pada dirinya sendiri. Ia terisak dalam pelukan suaminya. Bukan seperti ini harusnya seorang istri, pikirnya. Tapi kenyataannya memang dia belum siap. Ciuman ini juga adalah ciuman pertamanya. Dia butuh adaptasi.
"Aku akan tetap menunggumu" bisik Sasuke lembut. Ia menyadari perasaannya sekarang. Ia hanya mencoba menahan diri. Ia tau jika terus terpaku pada masalalu kelam ayah dan ibunya, maka sama saja ia akan membunuh masa depannya. Yang ia yakini sekarang,masa depannya adalah Sakura. Walau bagaimanapun gadis itu, dengan lugunya dapat menarik sedikit perhatiannya.
Tak terasa seminggu sudah Sasuke dan Sakura berada di Paris. Waktunya kembali kerumah mereka.
Sakura sedikit kecewa sebenarnya. Padahal ia tidak berniat benar-benar bulan madu disana. Tapi perasaannya sekarang bercampur aduk. Dimana ia sedikit membuka perasaannya pada Sasuke, akan tetapi ia merasa sangat bodoh, tidak bisa menjadi istri yang sempurna bagi suaminya. Sebenarnya Sakura sedikit merasa ragu, apakah Sasuke memiliki perasaan yang sama, atau hanya merasa kasihan padanya. Tapi yang jelas, banyak perubahan pada sikap suaminya itu, yah apalagi setelah kejadian itu. Sasuke bilang akan menunggu sampai Sakura siap. Benar-benar siap menjadi istrinya.
"Kenapa manyun terus dari tadi?" tanya Sasuke melirik Sakura yang terus menatap luar jendela mobilnya.
"..." Sakura melihat Sasuke sebentar dan mengalihkan nya lagi keluar jendela.
Sasuke tak menemukan jawaban Sakura. Diliriknya lagi istrinya, sampai ia tak melihat ada sebuah mobil lewat didepannya. Sasuke segera membanting stir dan mengerem mendadak mobilnya. Sasuke dan Sakura keluar dari mobilnya, melihat situasi didepannya.
"Ada apa kak Sasuke?" tanya Sakura kaget dan khawatir. Melihat sekeliling. Jalanan sepi. Tidak ada orang. Selain mobil yang ada didepannya.
Pengendara mobil itu membuka pintunya dan keluar ," Maaf. Aku tidak melihat belakang saat memundurkan mobilku"
"Nyaris saja" jawab Sasuke datar.
Tapi apa yang dilihat Sakura. Seperti kembali ke masa lalu nya. Ia tercengang melihat pria di depannya. Pria dengan warna rambut yang hampir sama dengannya, Wajah baby face nya dan senyumnya. Sakura ingat betul siapa yang dihadapannya sekarang.
Pria itu melihat Sakura dan reaksinya sama seperti Sakura yang tercengang "... Sakura"
Sakura tak bisa berkata apa-apa lagi. Satu masalah dipikirannya belum selesai, muncul pikiran-pikiran baru lagi.
Sasuke memicingkan matanya. "Kalian saling kenal?" tanyanya pada keduanya.
"Ah. Sakura apa benar itu kau?" pria itu mendekat pada Sakura.
Sakura hanya mengangguk tak berani menatap pria itu. Dilihat dari pakaian kerja sepertinya ia adalah seorang dokter. Pria itu juga rasanya tidak seumuran dengan Sakura, tapi dengan tampang seperti itu, mungkin saja ia adalah teman sekolah Sakura dulu. Apapun itu, tidak berpengaruh dengan Uchiha Sasuke sekarang.
"Jadi berita itu benar ya? Kau sudah menikah? Bahkan aku tak menerima undangan di emailku" tuturnya santai melihat pasangan Sasuke Sakura.
Sasuke semakin tidak suka dengan pria yang di depannya itu. Apalagi Sakura yang tak berkata apapun. Seribu pertanyaan di benak Sasuke. Tapi dia seorang uchiha, dia tau cara menekan gengsi nya.
"Maaf kakak. Aku tidak memberitahumu" jelas Sakura lirih.
Pria itu tersenyum kecil "Tidak apa-apa. Harusnya kau menjawab tiap pesanku"
"Sakura ayo cepat masuk mobil" perintah Sasuke.
Sakura teetegun, ia melihat raut wajah Sasuke yang sedikit menahan emosinya. Tanpa pikir panjang Sakura segera masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya ini hanya salah faham. Kau tidak apa-apa. Jadi kami akan pergi dulu" kata Sasuke berlalu masuk mobil dan segera melaju.
Pria itu hanya melihat mobil Sasuke melewatinya. Masih terlihat bayang-bayang Sakura dipikirannya.
Sakura masih terdiam. Ia tak tau harus darimana menjelaskan semuanya pada Sasuke. Sasuke melajukan kendaraannya dengan cepat. Sakura tau, bahwa suaminya sedikit marah. Apa Sasuke cemburu?
"Kak Sasuke" panggil Sakura pelan, Sasuke segera memperlambat laju kendaraanya. Dia tidak biasanya seperti ini.
"Hn"
"..." Sakura bingung mau bicara apa.
Sasuke melirik istrinya itu, mungkin bukan hal baik dibicarakan disini, pikirnya.
"Tidak usah dijelaskan"
Sakura terheran, dan memurungkan wajahnya, lagi.
.
Sakura mendekati Sasuke yang sedang membaca buku di tempat tidurnya.
"Kak Sasuke apa kau masih marah padaku" tanya Sakura memelas.
Sasuke tak menjawab. Ia terus membaca bukunya.
"Kakak..."
Sasuke menutup bukunya "Siapa yang marah padamu"
"Tapi kakak—"
"Aku tidak berhak marah padamu"
Sakura tak bisa berkata. Rasanya sakit mendengar kalimat Sasuke barusan seperti belati yang menyayat hatinya.
"Namanya Sasori. Akasuna Sasori" Sakura membuka omongannya "Aku mengenalnya saat kami bertemu di perpustakaan kota"
Sasuke melihat Sakura dengan pandangan tajam.
"Kami sering bertemu dengannya dulu, awalnya waktu aku kelas 1 SMA dan dia mahasiswa di Universitas Konoha. Aku baru pindah ke kota ini saat itu. Setiap ada waktu senggang pasti aku habiskan di perpustakaan kota dan aku mulai mengenalnya. Kertika dia lulus dan mulai bekerja, kami jarang bertemu. Dia sering mengirimiku email, awalnya aku terus membalas. Tapi ketika tau aku akan dijodohkan, aku sama sekali tidak membalas emailnya sampai sekarang" jelas Sakura.
"Jadi kau menyukainya?" tanya Sasuke to the point.
"Tidak" jawab Sakura cepat "Bukan begitu. Maksudku sebenarnya aku sudah menolaknya dari dulu tapi dia, dengan semangatnya itu, dia orang yang baik, aku jadi merasa kasihan padanya. Tapi aku tau itu salah, malah akan membuat harapan palsu baginya. Makanya aku tidak memberitahunya saat kita menikah"
"Apa kau akan meninggalkanku?" tanya Sasuke kalimatnya serius.
Seperti ada yang menusuk jantung Sakura. Rasanya sakit sekali. Semakin Sasuke berfikir negatif , semakin sakit hati Sakura.
Sakura diam menatap sendu Sasuke. Tiba-tiba Sakura melingkarkan kedua tangannya ke leher Sasuke, mengecup kecil bibir Sasuke "Mana mungkin aku meninggalkan orang yang aku cintai"
Mata onyx Sasuke membulat kagum pada Sakura. Ia segera membalas pelukan istrinya dan….
TBC
Ow Ow Ow….
Di geruduk lagi nih sambil di demo sama SSaver…...hihiii..
Oh Kami-sama .. sebenarnya saya ingin buat lemon, tapi tangan saya gag sanggup buat ngetik adegan ituu…
Tiba-tiba aja pikiranku blank ditengah jalan,,, #duakk #emang gag punya pikiran ^_^
Maaf kalo ada kekurangan, author juga manusia.
Trimakasih kritik dan masukannya.
Semoga kalian masih setia dengan fic GEJE ini.
Dan yg kecewa dg chap ini, silahkan, bakar saya saya ..
