"LIES"
Cast: Mark Lee, Wong Yukhei/Lucas Wong, Lee Jeno
Leight: 1/?
Genre: Romance, Hurt, etc
Warning: BXB, YAOI, Shou-ai, cerita ini mengandung unsur ketidak nyambungan (otak author), gaje plus plus, so many typo...
...
..
.
Minggu pagi...
Mark bangun dari tidurnya dengan rambut yang acak-acakan, wajahnya masih kusut tapi tidak menghilangkan kesan manis darinya. Mark berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.
Setelah itu, ia berjalan keluar kamar menujuh ke ruang makan dengan gontai. Duduk dikursi dan menumpukan badannya dimeja makan.
"Mark, jangan tidur dimeja makan" ujar sang Umma yang sedang mengolesi selai diroti.
Mark segera mengangkat kepalanya, "Ne, Umma". Ia meminum susu yang sudah disediakan sang Umma didepannya dan memakan roti yang telah Ummanya olesi dengan selai. Mark mengunyahnya pelan, seperti tidak berselera untuk makan.
"Eoh, kemana Appa?" tanya Mark saat tidak menemukan sang Appa dimeja makan, biasanya sang Appa sudah duduk duluan sambil minum kopi paginya. Tapi sekarang dimana orangnya.
"Pagi-pagi sekali tadi Appa pergi ke kantor, katanya ada urusan penting" jawab sang Umma.
"Hari minggu begini?" tanya Mark lagi dan hanya dijawab anggukan oleh sang Umma.
Mark melanjutkan makannya. Didalam hati Mark membatin, memang penting sekali ya, sampai harus ke kantor pagi-pagi sekali. Sekarang Mark menatap sang Umma lagi, ia mengerutkan alisnya melihat penampilan sang Umma.
"Umma mau kemana? Sudah rapi begitu" Mark baru menyadari penampilan sang Umma yang terkesan terlalu rapi hanya untuk sekedar dipakai dirumah.
"Umma mau memeriksa toko sebentar, setelah memastikan anak Umma tersayang ini sarapan" ujar yeoja cantik itu sambil mencubit pipi Mark gemas.
Mark cemberut, ia menggembungkan pipinya lucu. "Itu artinya aku di rumah sendirian? Ah, Umma.." rengeknya.
Yeoja cantik itu tertawa pelan melihat tingkah sang putra, "Kau itu sudah besar Mark, tidak usah merengek begitu. Lagipula Umma hanya sebentar" ujar yeoja itu.
Mark hanya diam masih dengan cemberut, ia masih tidak terima ditinggal sendirian di rumah. Sebenarnya tidak sendirian sih, karena ada pelayan juga di rumah. Tapi Mark nya saja yang terlalu manja dengan sang Umma, anggap saja begitu. Memang kenyataan.
"Umma berangkat ya. Kalau butu apa-apa bilang ke ahjumma saja" ucap sang Umma sambil mencium pipinya, setelah itu pergi meninggalkannya di ruang makan.
Sekarang Mark sendirian di ruang makan. Baiklah, setelah sarapan mungkin Mark akan bermain game di kamarnya atau menonton tv. Itu rencananya hari ini.
...
Diwaktu yang sama ditempat yang berbeda...
Lucas menatap namja didepannya kesal, luar biasa kesal. Bagaimana tidak kesal, kakaknya satu ini tidak mau memakan sarapannya. Dan bagaimana dirinya mau minum obatnya kalau tidak makan. Dasar keras kepala.
"Ayolah, ge.. sedikit saja" bujuknya sekali lagi sambil menyodorkan satu sendok bubur.
Namja yang berstatus kakak kembarnya itu menggeleng sambil memegang selimut ditubuhnya sebagai tameng. "Aku tidak mau memakan makanan lembek itu. Aku tidak mau" tolak namja itu mentah-mentah.
Lucas frustasi. Sudah sejak tadi ia membujuk sang kakak, dan hasilnya tetap sama hanya penolakan yang ia dapat. Lucas menaruh mangkuk bubur itu dimeja nakas dan menatap kakaknya itu.
"Gege harus minum obat. Kalau gege tidak makan bagaimana mau minum obat" ucap Lucas putus asa.
Sekali lagi namja didepannya itu menggeleng, "Aku mau pulang, aku tidak mau berada disini" pintahnya.
"Bagaimana gege mau pulang kalau makan dan minum obat saja tidak mau. Yang ada gege malah akan semakin lama disini" ujar Lucas.
Namja yang memiliki paras serupa dengannya itu mengerucutkan bibirnya, kekanakan sekali-batin Lucas.
"Lagipula karena kelakuan gege sendiri 'kan yang membuat gege berakhir disini" ujar Lucas sambil memakan apel yang ia ambil dari meja nakas sang kakak.
"Kau selalu membuatku khawatir ge. Mommy yang tiba-tiba saja menelpon, memberitahuku kalau kau pingsan dijalanan. Dan saat aku bertanya pada Kim ahjusshi, dia berkata kalau kau mengejar seseorang. Kan sudah aku bilang ge, kau harus pulang setelah mengantarku dan beristirahat di rumah. Kau tau sendiri bagaimana kondisi tubuhmu, malah keluyuran diluar. Udara diluar sekarang itu sedang dingin ge, tidak baik untukmu. Kenapa kau keras kepala sekali, sih?" omel Lucas panjang lebar pada sang kakak.
Sang kakak hanya memutar bola matanya malas. Begini kalau sudah keluar sifat cerewet sang adik, mengomelinya ini itu kalau dirinya melakukan hal yang membuatnya colapse seperti dua hari yang lalu. Menyebalkan sekali.
"Aku 'kan hanya ingin jalan-jalan. Dan lagipula, waktu itu aku juga bersama dengan Kim ahjusshi tidak sendirian" ujarnya mencoba membela diri.
"Hahh, lalu kenapa kau tiba-tiba berlari mengejar seseorang? Kau tau sendiri itu berbahaya untukmu, Yukhei ge" Lucas menatap kakaknya yang hanya diam menunduk sambil memainkan tangannya.
Yukhei, namja yang sedang duduk diranjang rumah sakit itu tidak berani menatap sang adik. Dalam hati ia diam-diam membenarkan semua ucapan Lucas tentang dirinya sejak tadi. Dirinya memang keras kepala, tidak pernah mendengarkan ucapan sang adik yang selalu menasehatinya.
Tapi waktu itu ia melihat seseorang yang dikenalnya. Sudah lama dirinya tidak bertemu dengan seseorang tersebut yang merupakan ibu dari seseorang yang ia sangat cintai hingga saat ini. Dan tanpa pikir panjang ia berlari mengejar sosok tersebut yang berada diseberang jalan.
Belum sampai diseberang jalan, dirinya sudah pingsan karena penyakitnya yang tiba-tiba saja kambuh.
"Aku.. waktu itu aku melihat seseorang yang kukenal..." ujar Yukhei menggantung tanpa memandang Lucas.
Lucas mengernyitkan alisnya bingung, "Siapa?"
"Aku melihat Lee ahjumma" ucap Yukhei sendu.
"Lee ahjumma?" tanya Lucas bingung, siapa yang dimaksud oleh kakaknya ini.
Yukhei menatap sang adik dengan tatapan yang sulit diartikan, "Umma Mark"
Mata bulat Lucas semakin membulat, ia terkejut mendengar ucapan Yukhei barusan.
"Kau tau, aku juga terkejut saat melihat Lee ahjumma berada di Seoul. Kalau keluarga Lee pindah kesini berarti Mark juga" terbesit kerinduan dalam hati Yukhei kepada namja manis itu.
Lucas terkejut memang, tapi bukan karena mengetahui kalau keluarga Mark berada di Seoul. Dirinya bahkan sudah bertemu dengan Mark, satu bangku lagi. Lucas terkejut karena kakaknya sudah mengetahui hal ini.
Astaga, bagaimana ini? Bagaimana kalau Mommynya juga tau akan hal ini. Mommynya pasti tidak akan membiarkan Yukhei bertemu dengan Mark. Lucas bingung.
"Bukankah keluarga Mark tinggal di Busan? Kenapa bisa ada di Seoul" tanya Lucas mencoba menyangkal ucapan Yukhei.
"Iya, aku tau mereka memang tinggal di Busan. Tapi yang aku lihat itu benar-benar sangat mirip dengan Lee ahjumma" kukuh Yukhei.
"Kau mungkin salah lihat, ge. Sudahlah, sekarang kau makan atau aku adukan kepada Mommy" ancam Lucas.
Yukhei sekarang pasrah saja disuapi sang adik dengan bubur lembek yang hambar itu karena diancam akan diadukan kepada ibu mereka. Sedangkan ia melihat sang adik yang tersenyum puas karena berhasil membujuknya makan.
Dalam hati dirinya masih yakin kalau yang dilihatnya kemarin itu memang Lee ahjumma, Ummanya Mark. Ia yakin kalau dirinya tidak salah lihat. Baiklah, Yukhei akan pastikan nanti.
...
Mark mengganti kaos merah yang ia pakai dengan hoodie berwarna putih dan juga celana pendek yang semula ia pakai dengan celana jeans hitam. Sepatu sneakers dengan warna senada dengan hoodie yang ia gunakan membuat Mark terlihat semakin manis.
Rencana yang ia buat tadi pagi sepertinya pupus sudah. Karena dengan tiba-tiba bocah kelebihan energi yang selalu mengganggunya itu datang ke rumahnya menagih janjinya kemarin. Tolong jangan ingatkan Mark kejadian kemarin, intinya berakhir dengan Mark yang -terpaksa harus- mau diajak Jeno jalan-jalan dihari minggu ini.
Selesai berpakaian dan merapikan penampilannya Mark menuju ke ruang tamu dimana disana sudah ada Jeno yang menunggunya sejak tigapuluh menit lalu.
Jeno memakai setelan kemeja kotak-kotak biru yang tidak dikancing serta bagian lengannya yang digulung sampai siku. Dibagian dalam t-shirt polos berwarna putih, celana jeans dengan warna yang sama dengan yang Mark kenakan. Dan terakhir sneakers hitam sebagai alas kakinya. Perfect, Jeno tampan sekali.
Oh, Mark sempat terpesona dengan penampilan Jeno hari ini. Tapi hari inikan cukup dingin, gila memang bocah satu ini hanya memakai kemeja dan kaos tipis saja.
Sebentar, apa tadi Mark bilang terpesona?
Mark menggeleng-gelengkan kepalanya lucu, apa yang dipikirkannya barusan. Astaga, apa mungkin Mark sudah mulai menyukai Jeno. Umma tolong anakmu ini-batin Mark nelangsa.
"Woah, hyung. Kau hari ini sangat manis, berkali-kali lipat lebih manis dari biasanya" puji Jeno saat melihat penampilan Mark. Mark tentu saja langsung merona dipuji seperti itu.
"Sudahlah, ayo cepat" ujar Mark sambil berjalan melewati Jeno begitu saja. Tidak ingin Jeno tau kalau wajahnya sekarang sudah seperti kepiting rebus begini, Mark kan malu.
Jeno masih cengo, sebelum kemudian segera menyusul Mark yang sudah keluar rumah.
"Hyung, kau itu kebiasaan ya meninggalkanku" ucap Jeno yang sudah menyusul Mark. Rencananya hari ini Jeno akan mengajak Mark jalan-jalan ditaman lalu makan bersama. Aaahh, Jeno berasa sedang kencan.
Mereka hanya berjalan kaki hingga sampai ditaman. Suasana taman kota begitu ramai dengan orang-orang, entah itu anak kecil yang sedang bermain ataupun pasangan kekasih yang sedang jalan berdua. Intinya, taman kota sekarang begitu padat.
Jeno melihat Mark yang tersenyum riang saat melihat banyak anak kecil yang sedang bermain. Dan tanpa pikir panjang Mark langsung berlari kecil kearah anak-anak kecil itu yang sedang bermain kereta-keretaan.
Jeno yang kaget dengan tingkah Mark barusan, hanya tersenyum sampai matanya menyipit saat melihat Mark yang begitu senang bermain dengan anak kecil itu. Jeno jadi merasa sedang mengawasi seorang anak kecil.
Ia hanya memperhatikan Mark dari bangku taman disana. Bagaimana Mark yang sedang bermain kejar-kejaran hingga bisa tertawa lepas, bermain ayunan dengan seorang anak perempuan yang cukup manis, tapi bagi Jeno tetap Mark yang paling manis. Oh, tidak pernah Jeno melihat Mark yang seceria ini, selalu mengumbar senyum manisnya sejak tadi.
Mark yang biasanya dingin, angkuh dan selalu kaku terhadap orang lain seakan tidak pernah ada. Mark yang sekarang terlihat begitu ceria, hangat dan sangat menawan. Jeno jadi semakin menyukai Mark.
Tiba-tiba saja nama Lucas terbesit dikepalanya. Entah kenapa ia merasa Mark dan Lucas memiliki hubungan yang lebih daripada disebut sebagai teman lama. Tingkah laku Mark yang selalu terlihat aneh saat bertemu dengan Lucas -menurut Jeno- apalagi saat Jeno memergoki Mark yang sedang melamun dikantin kemarin.
Disela-sela lamunan Mark kemarin, ia mendengar nama Lucas yang Mark sebut. Jeno bertanya-tanya, apa yang sedang dilamunkan Mark kemarin. Mungkinkah Lucas itu mantan namjachingu Mark? Ah, Jeno rasa tidak mungkin, tapi bisa jadi. Lagipula kemarin Mark juga menyebut nama Yukhei, siapa lagi itu. Astaga, Mark itu terlalu banyak rahasia.
Jeno terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai tidak menyadari Mark yang sudah ada disampingnya, setelah selesai bermain dengan anak kecil itu. Mark sedikit kecewa saat anak-anak itu diajak orangtua mereka untuk pulang karena hari sudah siang, juga waktunya makan siang. Ngomong-ngomong makan siang, Mark jadi lapar.
Mark menolehkan pandangannya kearah Jeno, ia heran sejak tadi anak ini diam saja. Mark menepuk bahu Jeno pelan, "Hei, Jeno! Kenapa kau dari tadi diam saja?"
Jeno tersentak, dan menoleh kearah Mark yang tadi menegurnya. Jeno menatap wajah bingung Mark yang juga menatapnya. Uuh, lucu sekali.
"Hei.." tegur Mark sekali lagi.
"Eh, iya hyung ada apa?" sahut Jeno yang sudah tersadar dari keterpesonaannya.
"Kau kenapa sih, aneh sekali" ujar Mark. Jeno hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.
Mark mengerucutkan bibirnya sambil berucap, "Aku lapar setelah bermain dengan anak-anak tadi dan kau malah duduk saja disini" gerutu Mark. Jeno tertawa melihat ekspresi Mark.
"Apa yang lucu?" tanya Mark sewot.
"Haha, kau yang lucu hyung. Baiklah, sekarang memang sudah jam makan siang, jadi kau mau makan apa?" tanya Jeno pada Mark yang masih saja cemberut.
Sekarang Mark sedang mengetuk ngetukkan jari kecilnya didagu, pose berpikir. Jeno hanya menatapnya tanpa berkedip.
'Ya tuhan, kenapa ada makhluk semanis ini di dunia' batin Jeno kagum.
"Oh, bagaimana kalau kita ke toko roti Ummaku, kebetulan ada didekat taman ini. Bagaimana?" Mark menatap Jeno.
"Kau mendengarku tidak? Jangan menatapku seperti itu" terlihat semburat merah muda dikedua pipi Mark, saat ia tau kalau dirinya diperhatikan sedekat itu oleh Jeno.
Jeno gelagapan, "E-eh, ke toko Umma hyung 'kan?! B-baiklah" Jeno mencoba menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba datang.
"Ayo, hyung" ujar Jeno sambil memegang tangan Mark.
...
"Ukh.. dingin sekali" keluh Yukhei. Ia sekarang sedang berjalan disekitar jalan yang ia lewati kemarin.
Yah, tujuan Yukhei kemari lagi adalah untuk memastikan bahwa yang dilihatnya kemarin itu benar Ummanya Mark. Yukhei yakin kalau akan menjumpai yeoja yang dilihatnya kemarin disini, padahal belum tentu yeoja itu akan lewat disini. Tapi tekat Yukhei sudah bulat, buktinya dirinya nekat kabur dari rumah sakit sekarang dan kesini masih dengan memakai baju pasien nya, juga mantel tebal agar tubuhnya hangat tidak kedinginan.
Tapi sepertinya mantel yang ia pakai tidak berpengaruh sama sekali. Tubuhnya menggigil sekarang, hanya karena terkena udara luar. Padahal sekarang hari sudah siang harusnya sedikit hangat, tapi kenapa tubuhnya merasa kedinginan.
Yukhei jarang atau lebih tepatnya hampir tidak pernah keluar dari rumah, mungkin kalau ada urusan tertentu dirinya akan keluar itupun juga dengan mobil. Tapi sekarang ia hanya berjalan kaki dijalanan ini tanpa seseorang yang bersamanya, mungkin sekarang adiknya sudah panik mencarinya di rumah sakit.
Yukhei menggosok gosok kedua telapak tangannya mencoba mencari kehangatan ditengah kedinginan yang ia rasakan. Salahkan tubuhnya yang terlalu lemah, Yukhei itu namja tapi kenapa tubuhnya harus selemah ini. Baru juga beberapa menit dirinya diudara terbuka, sekarang bahkan bibirnya sudah hampir membiru, wajahnya sudah pucat.
Yukhei berjalan kearah dekat taman kota dimana ia melihat sosok Lee ahjumma tersebut. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh area sekitar taman. Banyak orang yang berlalu lalang lewat disana, Yukhei jadi tidak bisa fokus.
Cukup lama Yukhei mengelilingi tempat disana, tapi ia tidak menemukan orang yang ia cari. Yukhei sudah hampir putus asa, sedikit menyesal karena pergi dari rumah sakit tanpa sepengetahuan keluarganya.
Tapi tanpa diduga Yukhei, sekarang tepat didepan sana. Seseorang yang sudah satu tahun ini tidak ia jumpai, seseorang yang sangat ia rindukan.
"Mark.."
Yukhei melihatnya, malaikat yang sudah membuat harinya dulu menjadi berwarna. Yang selalu mengisi hari-harinya yang sudah hampir putus asa. Ingin sekali Yukhei menangis sekarang, tapi ia urungkan.
Tanpa pikir panjang Yukhei berlari kearah Mark yang sedang duduk dibangku taman sendirian, jaraknya cukup jauh. Tidak peduli apa yang akan terjadi padanya setelah ini, Yukhei terus berlari kearah Mark. Senyum Yukhei mengembang, akhirnya setelah sekian lama dirinya bisa bertemu dengan orang terkasihnya.
Degh..
Langkah Yukhei terhenti, senyumnya luntur sudah. Saat seorang namja tinggi mendekati Mark, memberikan ice cream yang ia bawa pada Mark dan tersenyum pada Marknya. Mata kepalanya melihat, bagaimana Mark yang semula cemberut kepada namja tinggi itu dan kemudian tersenyum kepada namja itu.
Sakit..
Kenapa sakit sekali..
Deg
Deg
Deg
"Ukh.. a-hh.. hhah"
Yukhei memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, memukul-mukulinya berharap rasa sakit itu hilang. Nafasnya sudah tersengal, Yukhei masih mencoba menahan rasa sakit itu. Kenapa harus kambuh disaat yang tidak tepat. Perlahan ia masih melihat Mark dengan namja asing itu. Air matanya mengalir tanpa diperintah.
Yukhei tidak bergeming dari tempatnya sekarang, keringat dingin sudah membasahi seluruh wajahnya. Pandanganya mulai memburam, Yukhei sudah tidak bisa menahan rasa sakit itu lagi. Hingga akhirnya kegelapan merenggut kesadarannya.
"Ma.. rkhh.."
...
"Aish, dasar Jeno! Seenaknya saja menyuruhku menunggu disini, aku 'kan lapar" gerutu Mark sambil mengelus perutnya yang sudah berontak minta diisi. Mark menoleh ke kanan-kiri mencari Jeno.
"Ish, menyebalkan. Katanya mau makan, kenapa meninggalkanku" Mark mengerucutkan bibirnya sambil menyilangkan kedua tangannua didepan dada.
Terlihat dari jauh Jeno tengah berlari menghampiri Mark. Mark mendengus menatap tajam Jeno.
"Kau darimana, huh?" marah Mark saat Jeno sudah berada didepannya. Jeno yang masih mengatur nafas hanya tersenyum menatap Mark.
"Jangan marah hyung, aku 'kan tidak lama. Aku tinggal sebentar saja sudah merindukanku" Jeno menaik turunkan alisnya menggoda Mark yang terlihat masih kesal.
Plakk..
"Siapa yang merindukanmu!? Aku lapar bodoh" sungut Mark semakin kesal.
"Maaf hyung, aku tadi membeli ini.." ujar Jeno sambil menunjukan dua buah ice cream rasa coklat ditangannya. Jeno menyodorkannya satu kepada Mark, ".. untukmu hyung"
Mark menatap ice cream coklat ditangan Jeno dan wajah Jeno bergantian. Ternyata benar yang Mark pikirkan selama ini, Jeno memang gila.
INI MUSIM DINGIN...
Garis bawahi itu, dan bisa-bisanya Jeno membeli ice cream saat udara dingin begini. Pintar sekali, tapi Mark sedikit tergiur melihat ice kesukaannya itu.
"Jeno..."
"Ada apa hyung, kau tidak mau?"
"Kau tau ini musim dingin 'kan?!" tanya Mark balik.
Jeno mengangguk, "Iya, aku tau"
"Lalu kenapa kau malah membeli ice cream?!" teriak Mark kesal sampai menghentakkan kakinya.
Jeno nyengir, "Hehe, sudahlah terlanjur hyung. Sebenarnya kau juga mau 'kan?"
Mark salah tingkah, apa kelihatan jelas ya? Mark kan memang pecinta ice cream, apalagi ice cream coklat. Mark mengalihkan pandangannya dari Jeno.
"Makan ini hyung, ayo duduk dulu" ujar Jeno dan meletakkan satu ice cream itu ditangan Mark.
Mark tersenyum, kenapa dirinya merasa senang hanya karena Jeno memberinya ice cream. "Terima kasih" ujar Mark.
Jeno dan Mark memakan ice cream nya dengan sesekali bercanda. Jeno yang sengaja mengolesikan ice cream ke pipi Mark, dan Mark yang balik membalasnya.
"Jeno berhenti" pekik Mark mencoba menghalangi tangan Jeno yang mau mengolesi ice cream lagi diwajahnya.
"Hahaha... kau lucu sekali hyung" tawa Jeno meledak saat melihat wajah Mark. Mark cemberut dan memukuli Jeno bertubi-tubi.
"Akh.. hyung berhenti, jangan memukuliku lagi. Lihatlah itu, ada apa"
"Tidak, aku tidak percaya" Mark masih gencar memukuli Jeno.
"Aku tidak berbohong hyung, lihatlah" ujar Jeno lalu memegang kedua tangan kecil Mark, dan satu tangannya yang lain mengarahkan kepala Mark.
"Eoh, ada apa disana. Kenapa mereka berkerumun?" tanya Mark yang melihat kerumunan tidak jauh dari tempatnya dan Jeno berada sekarang.
"Akupun tidak tau hyung, ayo kesana" ujar Jeno dan tanpa menunggu jawaban Mark segera menarik lengan namja manis itu menujuh kerumunan.
"Permisi ahjumma, kalau boleh tau ada apa?" tanya Jeno pada seorang ahjumma yang ikut berkerumun disana. Sedangkan Mark yang sudah terlanjur penasaran masuk kedalam kerumunan tersebut. Tubuh Mark 'kan terbilang mungil, jadi dengan mudah menyusup dikerumunan tersebut.
Jeno yang melihat Mark menyusup diantara kerumunanpun ikut melesak masuk. Kata ahjumma tadi ada seorang pemuda jatuh pingsan, Jeno jadi penasaran. Sedikit susah hingga sampai ditempat Mark, tapi akhirnya berhasil juga.
Jeno melihat Mark yang hanya diam, ia mengikuti arah pandang Mark.
"Astaga, bukankah ini Lucas. Ahjusshi dia kenapa?" tanya Jeno kepada ahjusshi yang sedang memangku tubuh yang tak sadarkan diri itu.
"Ahjusshi tidak tau, nak. Tiba-tiba saja anak ini pingsan, sebentar lagi ambulans akan datang" ujar ahjusshi tersebut.
"Hei Lucas, bangun..." ujar Jeno panik sambil menepuk nepuk pelan wajah pucat itu.
"Mark hyung, kenapa kau diam saja?" Jeno menatap bingung Mark yang hanya diam sedari tadi. Raut wajahnya tidak karuan.
"Apa kau mengenal anak ini?" tanya ahjusshi itu pada Jeno.
"Ya, dia teman saya ahjusshi" jawab Jeno, kembali menatap tubuh yang tergolek lemah itu. Suhu tubuhnya dingin, Jeno jadi semakin panik. Apalagi nafas yang terasa sangat lemah itu.
"Astaga, kapan ambulans 'nya sampai?!"
...
Jeno menatap Mark yang menangis sejak sampai di rumah sakit tadi, dengan sesekali menyebut nama 'Yukhei'. Jeno tidak mengerti apa yang dimaksud Mark.
"Hyung, kau tidak apa?" tanya Jeno yang melihat sikap Mark itu. Jeno bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada Mark. Kenapa Mark tadi hanya diam saja dan sekarang malah menangis. Mark masih saja menangis tidak menjawab pertanyaan Jeno.
Ada yang aneh, batin Jeno. Perasaan Jeno kemarin Lucas masih bersekolah, tapi tadi pakaian yang dikenakan Lucas itu pakaian rumah sakit. Dan juga kata salah satu suster tadi, Lucas itu pasien rumah sakit.
"Mark, Jeno"
Keduanya menoleh, menatap seseorang yang baru saja memanggil mereka berdua. Jeno terkejut melihat sosok yang memanggilnya itu.
"Lucas?!" ujar Jeno terkejut. Kenapa ada dua? Jeno semakin bingung, ia tidak mengerti. Sedangkan Mark malah menatap tajam sosok itu.
"Kenapa kalian berdua bisa ada disini?" tanya Lucas pada Mark dan Jeno. Lucas sama terkejutnya saat melihat Mark dan Jeno disini.
Lucas yang mendapat telepon dari pihak rumah sakit bahwa kakaknya ditemukan pingsan oleh dua orang remaja, dan Lucas tidak menyangka kalau dua orang itu adalah Mark dan Jeno. Lucas melihat Jeno yang menatapnya bingung dan Mark yang menatapnya tajam dengan berurai air mata.
Sepertinya setelah ini Lucas harus memberikan penjelasan.
Pintu ruang UGD terbuka, tiga pasang mata itu menatap seorang dokter laki-laki yang baru saja keluar. Dokter tersebut menghampiri Lucas.
"Ahjusshi, bagaimana keadaan Yukhei ge?" tanya Lucas khawatir.
"Sekarang dia sudah tidak apa. Ada yang ingin ahjusshi bicarakan padamu, ikut aku" dokter laki-laki tersebut lalu melenggang pergi. Lucas mengangguk.
Lucas menatap Mark sebentar, "Mark.." panggilnya pelan.
Mark menghapus air matanya kasar, "Kau sangat jahat" teriak Mark pada Lucas, lalu berlari pergi dari sana. Jeno yang melihatnya pun mengejar Mark.
Lucas menatap kepergian Mark dengan pandangan menyesal.
/TBC/
Saia kembali, membawakan ff yg kurang jelas ini. Gk nyangka kalo ternyata ada yang mau ngerespon ff ini.
Terima kasih untuk yang udah review, nge follow dan nge favorite. Reader ku tersayang yang amat berharga, saia terharu karena ada juga yang suka ama kapel LuMark.
Kalo kalian kurang ngeh ama cerita ini, gpp ya! Soalnya saia bikinya dengan mood naik turun.
Udah gitu ajah, sampai bertemu di chap selanjutnya. JANGAN LUPA REVIEW...
TERIMA KASIH UNTUK READER
