Immortal Life (Sekuel My Mortal Mate)
Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto. But This Story is Mine!
Pair : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura (Slight YahikoSaku)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Mistery
Rated : T+
Warning! : Typo, Gaje, OOC, dan Sebangsanya! Diharapkan membaca fic saya yang berjudul 'My Mortal Mate' terlebih dahulu!
-Happy Reading! Dilarang mengcopas tanpa seijin author-
.
.
Chapter 2
.
.
Suasana diruangan ini masih saja tak mendukung indra pengelihatan seorang pemuda bernetra ungu. Walaupun lilin-lilin kecil mulai memberi sedikit cahaya, tetapi tetap saja ia tak bisa mengenali wajah sosok misterius didepannya saat ini.
"Aku adalah…"
"Ah tidak penting mengetahui siapa diriku, yang terpenting sekarang, aku ingin kau bertemu dengan teman-temanku." lanjut sosok misterius itu tak menjawab rasa penasaran dibenak pemuda bernetra ungu tersebut.
"Ayo, ikuti aku." Perintah sosok itu lagi. Pemuda dibelakangnya hanya mendecih sebagai tanggapan. Tubuhnya tak kunjung bergerak mengikuti perintah sosok menyebalkan didepannya. Sosok misterius itu berbalik saat dirasanya tubuh pemuda itu tak bergerak menuruti perintahnya. Dengan tenang, ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan ini seolah tak memperdulikan sang pemuda yang membantah perintahnya.
Sang pemuda tiba-tiba bergerak. Bukan, bukan ia yang menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya seolah ada yang mengontrolnya. Ia merasa ada sesuatu yang melilit tubuhnya. Dengan sekuat tenaga, pemuda itu mencoba menahan langkah kakinya yang mulai melangkah kearah hilangnya sosok misterius tadi. Namun, sekeras apapun usahanya, ia gagal. Karena ia sudah kehabisan cara untuk menahan tubuhnya, ia pun membiarkan saja langkah kakinya menuntunnya keluar ruangan ini.
"Kerja bagus Sasori." Ucap sebuah suara berat. 'Sosok misterius tadi,' batin pemuda itu menyadari pemilik suara berat ini.
"Hn." Tanggap suara lain. Sepertinya suara ini milik seseorang bernama Sasori tadi.
Tiba-tiba lampu menyala. Terlihatlah berbagai mahkluk hidup dengan berbagai bentuk yang unik(?). Sang pemuda bernetra ungu tampak mengamati mahkluk-mahkluk itu satu persatu. Tak menyadari betapa megahnya tempat yang ia pijaki saat ini.
"Siapa kalian?" tanya pemuda itu to the point. Netra ungunya menatap dengan tatapan menyelidik yang dibalas dengan tatapan dingin dari mahkluk-mahkluk tadi.
"Kami adalah Akatsuki… Haruno Yahiko." Sahut suara yang tak asing lagi ditelinga pemuda bernama Yahiko tadi. Ia menengok kearah pojok ruangan –asal suara tadi-. Sesosok pemuda dengan topeng spiral berwarna senada dengan rambut Yahiko tampak memandangnya dengan ekspresi wajah tak terbaca –karena tertutup topengnya.
"Darimana kau tahu namaku?" tanya pemuda bernetra ungu bernama Yahiko itu masih mempertahankan tatapan menyelidiknya.
"Berhenti menatap kami seperti itu." Celetuk sebuah suara feminim dari arah depan. Ia kembali menengokkan kepalanya kedepan. Mencari pemilik suara feminim tadi. Sesosok wanita cantik diantara tubuh-tubuh kekar terefleksi di netra ungunya. Yahiko menggulirkan matanya kesamping kanan wanita itu, terlihatlah wajah-wajah penuh seringai menyeramkan yang tengah menatapnya. Yahiko tetap tak acuh melihat seringai menyeramkan yang ditujukan padanya itu. Ia mengalihkan pandangannya kesamping kiri wanita tadi. Berbeda dengan sisi kanan tadi. Di sisi kiri, terlihat wajah-wajah dengan tatapan datarnya yang terkesan mengintimidasi.
"Sudah puas mengamati eh?." Sindir sosok bertopeng spiral tadi. Ia melangkah maju kedepan barisan teman-temannya. Bersidekap dada dengan angkuhnya layaknya seorang pemimpin mafia.
"Dengar, kami adalah mahkluk sebangsa denganmu. Kami adalah vampire, jadi kau tak perlu takut pada kami. Kami tak akan memangsamu." Ucap si spiral menjelaskan. Yahiko tersenyum meremehkan.
"Vampir katamu? Heh, mana ada mahkluk seperti itu disini. Dan apa tadi kau bilang? Mahkluk sebangsaku? Kalian menganggapku vampire heh? Cih mana mungkin." Tanggap Yahiko remeh. 'Apa aku terbangun di dunia hayalan setelah pingsan tadi?' batinnya dalam hati.
"Bodoh. Kau. Adalah. Vampire. Newborn." Sahut si spiral penuh penekanan, masih kukuh dengan ucapannya tadi.
"Tobi membawamu kemari saat melihatmu memangsa seorang pengemudi yang hampir menabrakmu. Kau itu sudah mati sebagai manusia bodoh! Kalau kau tak percaya, kami bisa membawamu ke makammu!." Geram seorang pemuda disisi kanan dengan rambut perak klimisnya. Emosinya tersulut mendengar tanggapan remeh Yahiko tadi.
"A-apa? Mati kau bilang? Mana mungkin! Buktinya aku masih berdiri disini!" sanggah Yahiko masih bersikukuh dengan pendapatnya bahwa ia masih hidup dan bukan seorang vampire.
"Percuma berdebat dengannya. Biarkan aku menyelesaikan hal ini." Pemuda bertopeng spiral yang disebut Tobi tadi mendekat kearah Yahiko. Tangannya mencengkram erat kedua sisi wajah Yahiko, memaksanya untuk menatap mata merah darahnya yang terlihat dari lubang kecil disamping kiri topengnya.
"Biiiiiiiip"
"Hiks.. Sakura-chan, jangan tinggalkan aku! Imouto bangun!"
"Bip Bip"
"ARGHH ARGHH!"
Kilasan balik kejadian dirumah sakit kembali terulang dibenaknya. Mulai dari saat ia menemukan Sakura yang terbaring kaku dengan suara alat pendeteksi jantung yang berbunyi nyaring, sampai sesuatu yang Sakura lakukan secara mengejutkan padanya. Kakiknya melemah mengingat semuanya.
BRUK
Tubuhnya lunglai saat melihat sebuah kejadian yang tersuguh dalam mata semerah darah Tobi. Disana ia melihat sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan 'R.I.P HARUNO YAHIKO'. Disebelah nisan itu, ia melihat seorang gadis bersurai merah jambu dan seorang pemuda raven yang tengah berpelukan.
Kejadian selanjutnya saat ia melihat gadis pink tengah berciuman mesra dengan pemuda raven itu, membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun. Belum sampai disana keterkejutan Yahiko. Mata merah darah itu seakan terus membawanya menyusuri kejadian lampau yang terjadi padanya. Ia mebelalakkan matanya melihat dirinya sendiri yang tengah menggigit leher seorang pria dan menyesap darahnya sampai tubuh pria itu mengering dan meninggalkan jasadnya ditengah jalan begitu saja.
Tobi menatap pria yang tengah syok itu dengan seringai liciknya yang tertutupi topeng.
"Jadi kau sudah mengingat semuanya?." Tanya Tobi mengakhiri aksinya. Melihat wajah Yahiko yang menampakkan berbagai emosi, semakin membuat Tobi melebarkan seringainya.
Yahiko menatap tajam Tobi dengan raut wajahnya yang kini menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
"Gadis itu.. itu Sakura kan? Apa yang terjadi dengannya? Dan siapa pemuda raven itu?" gumamnya rendah terdengar berbahaya. Ia sangat membutuhkan penjelasan sejelas-jelasnya sekarang.
"Ya itu memang Sakura. Adik sekaligus orang yang kau cintai. Ia sama sepertimu. Kalian adalah.. vampire newborn." Jelas Tobi seraya melangkah menjauhi Yahiko. Ia memberi kode pada teman-temannya untuk membiarkan Yahiko sendiri saat ini. Ia pikir, Yahiko harus menenangkan diri dan mulai menerima takdirnya sebagai vampire newborn.
Baru selangkah ia berjalan, permintaan Yahiko yang terdengar pelan menghentikan seluruh pergerakannya. Ia menyeringai -entah sudah untuk keberapa kalinya hari ini- sebelum memutar langkah mendekati Yahiko kembali.
"Jelaskan… jelaskan padaku apa yang terjadi pada Sakura."
.
.
.
.
"Ini.. siapa?." Gumam pelan seorang gadis cantik yang tengah melihat sebuah foto. Jemari lentiknya meraih sebuah bingkai foto dalam lemari kecil disamping tempat tidurnya. Kaca foto itu nampak berdebu namun tak sampai menghalangi refleksi foto di bingkai itu. Dengan cekatan, diraihnya sebuah tissue dan menggunakannya untuk membersihkan debu yang menghalangi. Perlahan, Sakura –nama gadis itu- mengamati foto itu dengan seksama.
"Gadis ini mirip sekali dengan Sasuke-kun.." ucapnya. Terlihat foto seorang gadis berambut pendek sebahu berwarna hitam dengan netra emerald yang serupa dengan miliknya, namun lebih cerah bagaikan batu permata. Gadis dalam foto itu nampak menggunakan pakaian gothic yang menunjukkan kesan misterius dalam dirinya.
SREKK
BRAKK
Sakura terlonjak kaget saat tanpa sengaja sikunya menyenggol lemari kecil itu. Alhasil, semua benda dalam lemari kecil itu terjatuh dan berhamburan disekitar kaki Sakura. Dengan tergesa, Sakura membereskan barang-barang itu sebelum Sasuke memarahinya karena menyentuh barang-barang pribadi Sasuke tanpa seijinnya.
Gerakan tangannya terhenti saat melihat satu lagi bingkai foto dengan kondisi tak jauh berbeda dengan foto yang sedang digenggamnya kini –nampak berdebu-. Ia segera melanjutkan kegiatannya setelah sebelumnya menyisihkan foto itu dari barang-barang lainnya.
Tak butuh waktu lama bagi Sakura melakukannya. Setelahnya, ia membawa kedua foto tersebut kebalkon kamarnya. Mendudukkan dirinya disofa empuk dan memangku kedua foto itu. Pandangannya tertuju pada bingkai foto yang tadi baru saja ia temukan. Dilihatnya seorang wanita yang tampak lebih tua darinya sedang tersenyum lembut.
'Cantik sekali..' batinnya terpesona. Jemari lentiknya mengusap-usap kaca foto itu, membersihkannya dari debu. Kini ia dapat melihat dengan jelas rupa wanita itu. Wajahnya sangat mirip dengan Sasuke. Mata serta rambutnya berwarna hitam berkilau. Gaya rambutnya tak jauh berbeda dari foto pertama yang ia temukan.
Sakura mengambil foto lainnya. Ia mulai membandingkan kedua foto tersebut. Mencari-cari persamaan yang mungkin saja bisa menjawab rasa penasarannya akan siapa sosok dalam foto-foto itu.
"Kedua wanita ini sangat mirip dengan Sasuke-kun. Tetapi.. wanita ini memiliki mata emerald yang mirip denganku." Gumamnya sembari mengusap pelan foto gadis bermata emerald dengan ibu jarinya.
Tiba-tiba, Sakura merasakan dadanya sesak saat sebuah pertanyaan terlintas dalam benaknya. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran nista itu.
"Aku harus bertanya pada Sasuke-kun tentang-" ucapannya terhenti saat sebuah suara baritone terdengar. Sakura sontak kaget mengetahui Sasuke sudah berada dibelakangnya.
"Kau ingin bertanya tentang apa Hime?." Tanya Sasuke memotong ucapan Sakura tadi. Dengan segera, ia mengambil posisi duduk disamping Sakura. Tangan kekarnya menyandarkan kepala pink Sakura di dada bidangnya. Ia mengecup pucuk kepala gadisnya dan mengelusnya sayang.
"Sa-sasuke-kun, sejak kapan kau ada dibelakangku?." Gumam Sakura dalam pelukan nyaman Sasuke. Mendengarnya Sasuke terkekeh geli.
"Sejak kau menjatuhkan lemari kecil itu Hime. Kau jadi tak menyadari kehadiranku saking seriusnya menatap foto itu." Jawabnya lembut masih mengelus rambut Sakura.
"Ma-maafkan aku Sasuke-kun. Aku-aku tak sengaja menjatuhkannya." Ucap Sakura tergagap, takut Sasuke marah.
"Tak apa Hime.. aku tak akan pernah bisa marah padamu." Balas Sasuke sembari tersenyum lembut pada Sakura-nya.
"Jadi apa yang ingin kau ketahui Hime? Apa tentang foto itu hm?." Lanjut Sasuke. Sakura mengangguk ragu-ragu menanggapi pertanyaan Sasuke. Tangan mungilnya meraih kedua foto itu dan menunjukkannya pada Sasuke sembari berucap..
"Siapa kedua wanita ini Sasuke-kun? Apa.. apa mereka selingkuhanmu?." Cicit Sakura pelan terutama saat menyebutkan kata 'selingkuhanmu'. Hatinya berdebar-debar menunggu jawaban Sasuke. Ia akan merasa dipermainkan jika mereka memang benar selingkuhan Sasuke.
Sasuke hampir terbahak karena pertanyaan polos Sakura. Ah, manis sekali Sakura-nya ini.
"Haha.. bukan Sakura-hime.." jawabnya sembari tertawa pelan. Sakura yang mendengar Sasuke tertawa, malah merasa kesal dan dengan kesal melepaskan rangkulan Sasuke. 'Apanya yang lucu?' batinnya kesal.
"Maaf hime.. jangan kesal begitu. Wanita dalam foto itu adalah Kaa-sama dan.. Kau." Sasuke segera menjawab rasa penasaran Sakura saat dirasa gadis itu kesal akan tanggapannya. Ia merebut kedua foto itu dari tangan Sakura dan memandanginya dengan tatapan lembut sekaligus rindu.
"Kau? Maksudmu gadis di foto itu adalah aku Sasuke-kun? Tapi yang mana? Mereka sama-sama berambut hitam. Kontras sekali dengan milikku." Tanya Sakura heran. Jemari lentiknya meraih beberapa helai rambutnya dan mulai mengamatinya. Jelas sekali warnanya sangat kontras dengan warna rambut kedua wanita itu.
Sasuke kembali terkekeh melihat tingkah gadisnya. Melihat wajah cantik Sakura memberengut kesal, ia segera berdehem untuk menghentikan tawanya.
"Ehm. Yang berambut panjang itu Kaa-sama. Dan yang berambut pendek ini adalah kau Hime. Masa kau tak menyadarinya? Lihat, bahkan mata kalian sama." Ucap Sasuke menjelaskan sembari menunjuk foto itu satu persatu.
Sakura kembali mengamati foto pertama yang disebut-sebut sebagai dirinya.
"Tapi.. rambutnya hitam Sasuke-kun." Sanggah Sakura masih mengamati foto itu.
"Hah.. baiklah akan aku ceritakan. Dengarkan baik-baik ne?." pinta Sasuke. Dengan antusias, Sakura menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Sasuke.
"Gadis berambut hitam ini adalah reinkarnasimu beberapa ratus tahun yang lalu. Ia berbeda dari gadis-gadis lainnya. Ia adalah gadis misterius yang sangat menyukai hal-hal berbau gothic. Saking cintanya ia akan hal itu, ia sampai memotong pendek rambutnya, dan mengubah warnanya menjadi hitam. Walaupun begitu, ia adalah gadis yang baik." Kenang Sasuke dengan pandangan menerawang.
"Apa ia adalah manusia?." Tanya Sakura lagi. Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Sakura dan tersenyum.
"Ya tentu. Tapi sayang sekali aku tak bisa hidup abadi dengannya. Ia meninggal saat para perampok menyerang rumahnya. Padahal kami baru saja bertemu saat itu." Lanjut Sasuke dengan tatapan sendunya.
"Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa gadis itu adalah mate-mu Sasuke-kun?." Sakura tak henti-hentinya bertanya. Rasa penasarannya masih belum tertuntaskan.
"Hm? Entahlah. Tapi seorang vampire selalu mempunyai insting yang kuat. Dan instingku lah yang membawaku menemukanmu." Jelas Sasuke menuntaskan ceritanya kali ini. Sakura hanya bergumam pelan sebagai tanggapan. Sasuke kembali menarik tubuh ramping Sakura ke dalam pelukannya. Dan hari itu mereka habiskan untuk membagi kasih sayang yang sempat tertunda selama bertahun-tahun lamanya.
.
.
.
.
-TBC or not?-
Yosh! Chapter 2 udah kepublish nih. Terimakasih untuk yang sudah mereview, memFav, dan memFollow fic ini.
Rnr?
