Prequel 2: Untukmu, segalanya Part 1

Naruto © Masashi Kishimoto

Saya Cuma pinjam tokohnya

Warn: Typo, OOC, Alur cepat, Mengandung unsur kekerasan, M untuk Gore

Adaptasi dari cerpen Untukmu, segalanya

Semata-mata hanya ingin memudahkan pembaca

AU&AR

Kalau tidak suka dan tidak kuat silakan tekan tombol back

Enjoy Reading

.


Hal yang pertama kali terlintas di pikiranku ketika melihat keadaan Satora sekarang adalah:

Mengapa jadi begini?

Saat ku mulai menjejakkan kaki ke dalam kamar nya, hawa dingin menyambut, membuat belakang leher ku meremang. Belum lagi selesai satu kekagetanku, kejutan lain menghadang. Kamar yang dulu selalu ku masuki tanpa permisi itu kini terasing dari kata rapi dan bersih. Benang-benang halus dari abdomen laba-laba menggantung lesu di atas langit-langit. Belum lagi pakaian yang terserak di bawah ranjang, dan cermin dari meja rias yang retak, tak utuh lagi bentuknya.

Kali ini, aku ingin sekali bertanya. Siapa yang dengan lancangnya mencabuti persendian kakiku hingga lemas seperti ini?

Dia,Satora masih duduk tak bergerak di kursi putar depan meja belajarnya. Hanya jari telunjuk nya saja sibuk memutar-mutar boneka ballerina dari kotak musik nya, hadiah ulangtahun dari ku beberapa tahun lalu yang mungkin sudah rusak.

Tanpa ku sadari, setetes likuid bening mulai mengaliri pipiku, lalu jatuh ke punggung tangan, membuatku tersentak.

"Tadaima, Satora. Tidak mau menyambutku?"

Kulihat Satora tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya. Ku hela napas panjang, meyakinkan ku barangkali dia masih sibuk dengan dunia dalam pikirannya sehingga tidak mendengar panggilanku.

"Satora? Aku sudah pulang."

Ia masih saja tak bergerak.

Perlahan ku mencoba mengumpulkan kekuatan, memusatkannya pada kedua kaki dan mulai bangkit berdiri.

"Satora? Kau marah padaku?"

Perlahan ku coba melangkah kan kaki mendekatinya, dengan tidak menimbulkan suara.

"Satora?"

Ku tepuk pundak nya pelan. Perlahan ia memalingkan wajah nya padaku.

Aku terhenyak. Waktu seakan berhenti berputar ketika aku melihat wajahnya.

"I… ini kau, Satora?"

Refleks telapak tanganku menutup mulut, tak percaya dengan yang ku lihat.

Apa benar yang di hadapanku sekarang adalah Satora? Haruno Satora saudara kembarku?

"Ini kau, Satora?"

Airmata mulai berdesakan di pelupuk mata, lalu mengalir kembali. Ku tarik ia dalam pelukan. Napas ku naik turun seiring detik demi detik yang berlalu dari diam nya.

"Satora… "

Ia tidak menjawabku, hanya membisu.

"Gomennasai."

Ku belai rambut nya pelan, yang kini kusut dan berdebu, tidak seperti rambut nya dulu yang rapi dan wangi khas sampo lavender kesukaannya.

"Satora? Kau mendengarku?"

Ia tetap saja membisu.

Dan membuat tangis ku semakin kencang, mirip seperti lolongan panjang menyedihkan seekor serigala yang tersakiti.

"Satora! Kau baik-baik saja, kan? Kau masih kuat kan menghadapi 'itu' ? Jawab aku, Satora!"

Cepat ku lepaskan pelukanku, mencengkeram bahu dan mengguncangkan tubuhnya.

Ia tak menjawab, hanya menatapku nanar dengan kepala sedikit miring ke kiri.

"Satora… Gomennasai… Kau tidak gila karena melodi itu kan?"

Lagi-lagi ia hanya menatapku, kali ini dengan tatapan kosong.

Aku memejamkan mata, menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan untuk mengurangi isakanku.

Dan aku tersentak ketika kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh wajahku.

Ku buka mata, dan melihat jari-jemari Satora membelai wajah, lalu mengusap airmataku perlahan.

"Satora?"

"Jangan menangis lagi." Jawabnya. Suaranya begitu serak dan parau. Perlahan aku mendongak, menatap matanya yang kini berkantung besar kehitaman. Pipi yang dulu selalu ku cubit saking tembamnya kini mulai tirus, dan terlihat tonjolan rahang tegas. Mata coklat nya terlihat sayu dan tak lagi terpancar semangat.

"Satora… "

"Tenanglah. Aku akan mematikan melodinya, agar bila kau disini tidak lagi merasa takut."

"Ma… maksudmu?"

Ia menempelkan telunjuk ke bibir ku ketika mulai terdengar lagi melodi itu. Kami sama-sama membisu.

"Yakinkan aku bahwa kau baik-baik saja, Satora."

"Aku tidak bisa menjamin. Kalau efek obatku habis… "

"Kau minum obat? Memangnya kau sakit apa?"

"Diamlah." Jawabnya dengan menatap tajam padaku. Kalau sudah begini aku tak berani membantah apa yang ia katakan.

"Kalau efek obatku habis, aku… aku tak bisa menjamin kau akan selamat. Karena itu, pergilah."

Aku menggeleng cepat.

"Tidak, aku akan tetap disini. Kau tak sendirian lagi. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama, seperti dulu."

"Pergilah Sakura. Aku tak sanggup bila kau kembali merasakannya. Tetaplah menjadi diriku di sana."

"Satora… "

"Aku sudah gila, Sakura. Aku merasa jiwa ku sakit, otakku mengalami gangguan, makanya aku berobat. Ku mohon pergilah, kau takkan selamat bila di sini."

"Aku tidak mau."

Dia bangkit berdiri, menatap ku dengan pandangan penuh amarah. Aku terhenyak.

"SAKURA! PERGI DARI SINI! KAU KUUSIR!"

"Satora… "

"PERGI!" Kulihat ia membuka lemari kasar, lalu mengeluarkan sebuah Katana yang masih lengkap dengan sarungnya.

"Aku tidak tahu kapan efek obat ku habis, Sakura. Aku tak bisa menjamin kau akan selamat dari pedang ku, hahaha."

Tatapan Satora berubah menjadi begitu mengerikan. Aku harus pergi dari sini.

"Minumlah obatmu, Satora."

Dengan sigap ku pasang kembali sepatu ku, mengambil tas dan segera berlari ke luar rumah. Sekilas ku lihat sang pemain melodi itu, terus mengasah parang dan menciptakan melodi yang menyiksa jiwa kami selama setahun ini.

Aku kembali berbalik, ku dengar suara tawa Satora yang belum juga berhenti.

Aku pergi. Sekali lagi maafkan aku, Satora.

.


Kira-kira beberapa bulan setelah kejadian itu aku belum pulang ke rumah. Bukannya takut, namun kemarin aku harus belajar giat untuk ujian nasional. Dan tadi adalah hari terakhir ujian.

Bagaimana keadaan Satora sekarang?

Kulirik ponsel ku yang berada di meja nakas. Segera ku sambar dan melangkah menutup pintu apartemen.

Semoga ia baik-baik saja.

.


"Terimakasih, silakan datang kembali."

Aku membalas ucapan sang kasir dengan anggukan kecil.

Apa lagi yang kurang, ya?

Barang-barang yang barusaja ku beli ku cek kembali, barangkali ada yang tertinggal.

"Sayur, apel, telur, teh. hmm… sepertinya semua lengkap." Gumamku.

Ku fokuskan mata ke depan jalan, melewati jembatan menuju kompleks perumahan.

Aku pulang, Satora. Tunggu aku.

.


"Apa yang terjadi?"

Di depan rumah ku, maksudku rumah Orangtuaku ramai di kerubungi orang, membuat ku mengernyit bingung.

"ITU DIA! TEMBAK SAJA DIA!"

Aku tersentak.

Mereka mengincarku?

DOR!

Sebuah peluru melesat, menusuk tepat bahu kiriku.

Tubuhku langsung tersungkur ke tanah. Aku meringis, menahan sakit dan panas Karena tembakan tadi.

Kesadaran ku mulai pergi menjauh.

Sekilas ku lihat seorang perempuan membawa pedang di tangan kanannya, dengan rambut tak beraturan, berdiri di depanku.

"Satora… "

Dunia ku kini menggelap sempurna.

Jaga Satora, wahai Tuhanku.

.


"Sakura… lihat ini… "

Seorang perempuan berambut pirang sebahu berlari masuk ke dalam kamar yang berpintu hijau tua.

"Sakura! Aku menang! Minggu depan aku akan bersekolah di luar kota!"

Sedangkan yang disebut Sakura masih berbaring tengkurap, menyembunyikan wajahnya dengan bantal.

"Sakura? Bagaimana denganmu? Kau berhasil juga, kan? Kita akan pindah bersama, kan?"

Satora menghampiri kembarannya, duduk di pinggiran ranjang.

"Sakura? Kau kenapa?"

Perlahan Sakura berbalik menghadap nya.

"Mengapa kau menangis?"

"Satora… "

Cepat Sakura memeluk tubuh saudaranya erat. Ia menangis terisak.

"Kau kenapa?"

"Aku… aku kalah, Satora. Aku tidak bisa ikut bersamamu."

Satora tertegun.

"Pergilah."

"Tidak, Sakura. Gantikan saja aku disana. Kau harus bebas dari melodi ini. Kau yang harus pergi."

"Satora…"

"Aku akan mengemasi barang-barangmu. Lebih cepat lebih baik. Aku disini akan baik-baik saja."

Satora beranjak dari ranjangnya. Ia tersentak ketika ia merasa tangan kiri nya ditahan.

"Sejak kecil kau selalu mengalah padaku. Kali ini kau harus mengambil bagianmu."

"Jangan membantahku! Kau tahu aku tak suka di bantah! Aku hanya ingin melindungi mu! Cepatlah berkemas! Dan ingat, mulai esok kau adalah aku disana."

Satora membuka lemari, mengeluarkan semua pakaian milik Sakura dan koper, mulai mengemasi barangnya.

Sakura hanya diam dan menunduk, mengiyakan apa yang di katakan Satora.

.


Apa yang tadi?

Bukankah itu kejadian tiga tahun lalu?

Apa maksudnya ini?

Mungkinkah Tuhan ingin memutar film kehidupanku sebelumnya?

Lalu, mengapa rasanya disini gelap?

Mungkinkah alam kematian memang seperti ini?

"Sakura!"

Siapa itu?

"SAKURA!"

"SAKURA!"

Mengapa seakan aku mendengar ada orang yang memanggilku?

"Sakura! Bangun!"

Bangun?

Memangnya kenapa aku harus bangun? Bukankah aku sudah mati?

"Sakura bangunlah, kumohon… "

Dan apa ini!

Siapa yang mengguncang bahuku?

"Buka matamu, Sakura!"

Apa maksudnya semua ini?

Apakah aku masih hidup?

Baiklah, akan ku coba membuka mata.

Tapi, kenapa rasanya berat sekali?

Cahaya ini… argh membuat mataku perih, namun tetap ku coba memaksa untuk bisa terbuka.

Dan apa ini? Bahuku terasa nyeri luar biasa.

"Sakura? Kau sudah sadar?"

Bahkan merotasi kan bola mataku saja masih terasa susah.

"Ii… Ino?"

Setetes air tiba-tiba jatuh mengenai pipiku, membuat ku menoleh pada Ino.

"Mengapa kau… "

"Aku yang… hik harusnya bertanya padamu. Mengapa ada… hik yang kau sembunyikan padaku?"

.


"Pasien yang bernama Haruno Sakura, apakah sudah sadar?" Tanya seorang perempuan berpakaian semiformal ketika ia melihat seorang suster keluar dari ruangan.

"Ya. Anda siapa?"

Ia menunjukkan sebuah ID card yang menggantung di lehernya. Sang suster mengamati nya sebentar, lalu mengangguk. Ia membuka pintu pelan.

"Terimakasih." Ucapnya.

"Saya permisi dulu." Jawab suster sembari berlalu.

.


"Anda siapa?"

Sekonyong-konyong Sakura yang barusaja terbangun dari tidur bertanya pada seorang perempuan yang masuk ke Ruangannya.

"Sebut saja Rika. Sebelumnya ada yang ku ingin tanyakan padamu, tapi sepertinya tempat ini kurang tepat. Dan terlihat kau tidak terlalu menikmati tempat ini."

"Um… benar." Sahut Sakura dengan alis yang sedikit bertaut.

Darimana dia tahu bahwa aku tidak terlalu suka tempat ini?

Ah, benar juga. Siapapun tidak suka dengan ruangan seperti ini, dingin dan bau obat.

"Sebaiknya kita keluar. Mau ku bantu?"

Rika melirik sebuah kursi roda di sebelah meja nakas.

"Baiklah."

"Jadi, apa yang anda inginkan dari saya? Umm… saya harus memanggil anda dengan… "

"Rika-neesan saja." Potong Vee.

"Yah, Rika-neesan. Apa yang ingin anda tanyakan? Dan sebelumnya, anda siapa?"

"Mau minum apa? Teh? Susu?"

"Tidak. Air mineral saja, kalau ada."

Rika mengambil sebotol air mineral dan sekaleng kopi, lalu membayar nya ke kasir.

"Tolong pegang." Rika menyerahkan minuman di pangkuan Sakura, lalu menjalankan kembali kursi roda.

"Kita mau kemana, Rika-neesan? Kukira kita duduk di kantin ini."

"Disana kurang cocok. Aku ingin membawamu ke suatu tempat yang lebih tenang."

.


"Kita sudah sampai."

Rika menghentikan dorongan pada kursi roda Sakura disamping sebuah bangku taman. Sakura terdiam sebentar, mengamati sekeliling.

Taman Rumah sakit. Disini lah mereka sekarang. Taman yang di penuhi tanaman yang indah seperti palem, mawar dan pakis.

"Indah… " Desisnya. Tangannya terjulur pada bunga bugenvile putih di sampingnya.

Ia berpaling ketika melihat Rika duduk di bangku, memandangnya dengan senyum tipis.

Sakura mengembalikan minumannya pada Rika.

"Sebelumnya, Rika-neesan belum menjawab pertanyaanku."

"Huh? Oh iya, yang tadi ya?"

Sakura mengangguk.

"Sebenarnya aku adalah anggota polisi dari tim kriminal, dan pernah kuliah di psikologi aku juga merangkap jadi psikiater."

Sakura terlonjak kaget.

"Kau… "

"Ya. Aku adalah anggota tim yang memeriksa saudara mu. Karena dia sekarang tak bisa dimintai keterangan maka dari mu aku ingin mendapatkan informasi."

"Ba… bagaimana keadaan Satora sekarang? Dia baik-baik saja kan? Dia tidak dipenjara kan?" Sakura menarik cardigan Rika dengan kasar.

"Tenanglah, dia baik-baik saja. Dia masih dalam pengaruh obat bius."

Sakura menghela napas penuh kelegaan.

"Jadi, sebenarnya apa yang terjadi hingga dia… seperti itu?"

Sakura tertunduk dalam.

"Aku harus memulainya dari mana?"

"Dari yang kau ingat saja."

Sakura mengangguk.

"Baiklah."

.


Dulu, dia tak seperti itu.

Aku masih bisa bicara dengannya dengan normal. Kadang dia meminta bantuan padaku untuk sekadar membelikan camilan di luar rumah.

Setahuku dia sedikit aneh dan pemalu, bahkan keluar rumah saja tidak mau.

Dia pernah bercerita padaku bahwa dulu dia sering di bully oleh teman-temannya, kadang sampai terluka dan berdarah, yang paling parah bibirnya pernah sobek karena terjatuh oleh ulah temannya.

Menjalani kehidupan yang pahit semasa sekolah menengah saat usaha orangtua kami mengalami kebangkrutan.

Aku tak mengerti kenapa sebegitu bencinya dia pada orangtua, terutama pada ayah.

Apa mungkin karena ayah selalu membuatnya menderita? Entahlah aku tidak tahu. Tapi yang jelas bukan hanya dia yang menderita, aku dan Ryn juga.

Dulu, aku masih bisa melihatnya beribadah seperti biasa, bahkan terihat sangat khusyuk.

Sampai dia dikirim bekerja di luar kota, dua tahun kemudian dia pulang, masih normal dengan sifatnya yang biasa.

Namun saat itu ada yang berubah darinya.

Tak lagi kulihat ia beribadah. Ia terlihat lebih sering melamun, kadang menggunting gambar-gambar di Koran, lalu menaruhnya tak beraturan di atas kasur.

Dia terlihat lebih sering diam. Ketika aku berpapasan dengannya, dia selalu mendecakkan lidah dengan keras dan membuatku terheran-heran sekaligus kesal. Dari situlah aku mulai membencinya, begitu juga dengan Satora.

Ah, rasanya kini begitu sulit untuk mengakuinya sebagai kakakku.

Dia lebih sering terlihat tanpa memakai baju atasan, hanya memakai celana bahan panjang berwarna hitam. Aku selalu menghindarinya karena tidak tahan dengan bau badannya yang seperti tidak mandi seminggu itu.

Perubahan dirinya dimulai sejak itu.

Dia begitu tertarik dengan sebuah parang peninggalan kakek puluhan tahun lalu.

Dan dari situ lah penderitaan kami dimulai.

Dari sebuah parang karatan, pengasah benda tajam dan kedua tangan 'kotor' nya itu tercipta lah Melodi itu, melodi yang membunuh kami secara perlahan.

Tiap hari, dimana kami berada disitu lah ia memainkan melodi nya, seakan mengikuti kami.

Kami tersiksa.

Kami tak punya siapa-siapa untuk berlindung.

Orangtua kami begitu sibuk di luar kota sehingga tidak tahu apa yang terjadi di rumah.

Yang mereka ingat hanyalah mengirimi kami sejumlah uang lewat Bank.

Tapi, apalah arti itu semua kalau hidup kami lebih menakutkan daripada orang-orang yang jauh berada dibawah.

Anehnya, ada saja halangan yang menyebabkan kami tidak bisa keluar dari rumah ini, maksudku neraka ini. Dari Satora yang sakit sampai rumah yang ingin kami sewa sudah didahului oranglain.

Namun kami tak kehabisan akal. Kami mencoba berbagai lomba dan beasiswa untuk pindah sekolah ke luar kota.

Dan inilah yang terjadi. Ryn tidak sanggup lagi dengan semua ini.

Ah ya, pernah aku berpikir, mengapa dia tidak membunuhku saja?

Namun Satora selalu menasehati ku, jangan pernah mati konyol di tangannya.

Kini, orang itu sudah mati. Dan Satora, orang yang paling ku sayangi menjadi orang yang sama sekali tak ku kenal.

Yah, aku sudah mati sebelum nyawa ku direnggut.

.


"Jadi begitu, ya?"

Sakura mengangguk pelan. Iris kehijauannya tak jua beralih dari botol air mineral nya yang sama sekali belum dibuka.

"Lalu, apa rencana mu selanjutnya?"

"Entahlah. Ujian sudah selesai, aku ingin tinggal di rumah saja. Lagipula orang itu sudah tidak ada."

"Hmm… begitu." Rika mengangguk.

"Jadi, kapan aku bisa bertemu dengan Satora? Aku ingin melihatnya."

"Mungkin besok. Kau harus pulih dulu, fisik mu masih lemah."

"Baiklah." Jawab Sakura lesu.

"Arigatou untuk hari ini, Rika-neesan."

Rika berbalik, mengulaskan senyum tipis di wajahnya.

"Ya. Minum obatmu dengan rutin supaya luka mu cepat sembuh. Sampai jumpa."

Rika membalikkan badan, membuka pintu dengan pelan.

Sakura mengernyit ketika melihat sesuatu tercetak di belakang leher Rika, tepatnya berbentuk angka lima romawi.

Apa itu? Tato? Seperti sebuah huruf… atau apa?

Ah mungkin perasaanku saja, mana ada Polisi memakai tattoo.

Sakura menaikkan selimutnya setinggi dada. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, memandangi langit yang sudah menggelap pekat.

Dan tidak menyadari bahwa seringai tipis tercetak di wajah Rika yang memandang pintu kamar ruangan di depannya.

TBC