Disclamer : Hiro Mashima

Title : Aku kembali, Natsu

Genre : Romance, Hurt

Pairing : Natsu x Lucy

Yo Minna! Saya kembali dengan chapter dua! Setelah baca review dari para readers saya jadi tambah semangat buat nerusin Fanfic ini. Syukur...banyak yang suka sama fic ini. Saya kira nggak bakal ada yang mau baca fic jelek saya. Oh iya sebagai pemberitahuan, mungkin saya akan sering telat publish dikarnakan utang fic saya yang menumpuk. Jadi Sheilchan mohon maaf buat para readers. Okey segini aja deh pidato saya, biar nggak kelamaan langsung aja. Read Enjoy!

##############

"Ku mohon Luche...ja-jangan...me-na..ngis..."

Dan tiba-tiba saja tubuh kekar Natsu jatuh di pelukan Lucy membuat tubuh gadis itu oleng hingga mereka berdua terjatuh dengan posisi Lucy berada di bawah. Lucy yang mengabaikan rasa sakitnya langsung mendudukkan dirinya dan memangku kepala pink pemuda itu yang penuh dengan luka dan...darah..Ke-kenapa dia baru sadar jika tubuh Natsu penuh luka?

"NATSUU!"

###########

CHAPTER 2.

Fairy Tail telah banyak berubah. Mulai dari bangunannya yang lebih megah dan luas, anggotanya yang semakin banyak dan juga misi-misi yang dikirimkan lebh sulit tapi dengan bayaran mahal. Bahkan sekarang Fairy Tail punya halaman belakang yang sering di gunakan oleh anak-anak dari para anggota Guild untuk bermain.

Ruangan-ruangan di dalam guild juga lebih banyak. Ada tempat khusus ruang master, Fairy Hills, perpustakaan, ruang perawatan, bar, ruang penyimpanan barang-barang berharga bahkan kolam renang dan tempat untuk bermain.

Lalu di dalam ruang perawatan, di salah satu ranjang, seorang pemuda dengan tubuh penuh perban tengah tertidur atau lebih tepatnya tak sadarkan diri di temani seorang gadis berambut pirang . Sudah seharian ini pemuda di atas ranjang itu tak sadarkan diri dan sudah seharian pula gadis itu menungguinya dengan sabar, berharap bahwa penantiannya akan segera berakhir ketika onix itu terbuka.

Gadis itu, Lucy Heartfilia yang telah dinyatakan gugur dalam pertempuran melawan Alvarez, kini telah kembali ke Fairy Tail. Tak ayal kedatangannya yang tiba-tiba setelah lima tahun ini menjadi sebuah keterkejutan bagi para Nakamanya. Terutama bagi sang Fire Dragon Slayer, Natsu Dragneel.

Setelah mencium bau nakamanya itu, Natsu segera berlari seperti orang gila hingga di ruangan Master, Natsu menemukan orang yang ia cari itu. Dengan cepat Ia langsung menerjang tubuh Lucy, membawanya dalam pelukan protektive yang sarat akan kerinduan dan penantian. Bahkan Natsu yang dulu terkenal bodoh dan tak peka berani mencium gadis itu, mengabaikan para nakamanya yang telah berdiri di depan ruang master, menyaksikan mereka berdua yang tengah saling berpagutan.

Setelah berciuman, tak lama tubuh Natsu terlihat oleng lalu jatuh menimpa Lucy yang ada di hadapannya. Lucy yang terkejut berusaha membangunkan pemuda itu hingga tak sengaja karamelnya menangkap bekas-bekas luka di tubuh Natsu yang masih mengeluarkan darah segar. Gadis itu tak sadar bahwa pemuda itu sedang terluka parah. Ia meneriakkan nama pemuda itu, berkali-kali hingga mengundang perhatian Master Makarov dan para nakamanya yang sedang berdiri di depan ruang master.

Dengan segera mereka masuk dan mendapati gadis pirang itu tengah memangku kepala Natsu yang sedang tak sadarkan diri. Mereka segera menghampiri Lucy yang sedang menangis sesenggukan sambil tetap meneriakan nama Natsu. Lalu beberapa member pria di Fairy Tail membawa Natsu ke ruang perawatan atas perintah Master Makarov.

Lucy mengikuti mereka yang sedang menggotong tubuh Natsu ke ruang perawatan. Bahkan ketika Wendy dan Porlyusica tengah mengobati luka pemuda itu, Lucy tetap menungguinya sebelum Porlyusica menyuruh Lucy untuk keluar sebentar, menemui para Nakamanya dan menjelaskan ke mana dia selama lima tahun ini.

Wendy yang ada satu ruangan dengannya menangis sambil memeluk Lucy yang lebih tinggi darinya. Lucy membalas pelukan Wendy dengan lembut. Gadis kecil yang telah tumbuh dewasa ini begitu merindukan sosok Lucy Heartfilia. Jadi apakah para nakama lainnya juga seperti gadis ini?

Dan benar saja sekeluarnya dia di ikuti Wendy dari ruang perawatan, Ia langsung di sambut orang satu guild yang tengah menunggu di luar ruang perawatan. Para gadis yang sekarang telah menjadi wanita lantas memeluknya beramai-ramai sambil menangis sesenggukan. Terutama sahabatnya, Levy McGarden atau sekarang telah di panggil Levy Redfox. Wanita itu langsung menghujaninya dengan puluhan pertanyaan tentang kemana Lucy selama lima tahun ini.

Para pria bahkan juga ikut menangis. Gray mengelus kepal Lucy sambil mengeluarkan air mata. Erza yang terkenal tegar juga ikut menangis sambil memeluknya. Master yang berdiri tak jauh dari Lucy mengatakan 'Selamat datang kembali ke Fairy Tail, Lucy'.

Lucy terharu, ia menangis bersama teman-temannya, meluapkan rasa rindu setelah berpisah selama lama. Kemudian Lucy menceritakan semua kejadian setelah dirinya menghilang lima tahun lalu. Nakama-nakamanya mendengarkan cerita Lucy dengan seksama. Berharap ceritanya dapat menjawab semua pertanyaan yang mereka lontarkan.

Setelah selesai bercerita, Erza yang berdiri di sampingnya menceritakan hal apa saja yang telah terjadi selama kepergian Lucy. Mulai dari guild yang di bangun kembali, Fairy tail yang menjadi guild terkuat, menikahnya para anggota, kemenangan Fairy Tail di setiap pertandingan Daimatou Enbu selama empat tahun berturut-turut. Dan yang terakhir...tentang perubahan Natsu.

Erza bercerita, setelah kepergian Lucy, Natsu berubah menjadi dingin dan pendiam. Dia tak pernah menggubris perkataan atau hanya sekedar sapaan dari para nakamanya. Bahkan ajakan Gajeel, Gray maupun pria-pria di dalam guild untuk bertarung ia abaikan. Natsu juga selalu mengambil misi solo peringkat S, ia tak lagi mengenal yang namanya tim atau kerja sama.

Erza juga bercerita bahwa ia pernah memaksa Natsu menjalankan misi bersamanya dan berakhir dengan bertarungnya mereka. Tapi Natsu yang sekarang dapat mengalahkan Erza. Kekuatannya sekarang bahkan mungkin setara dengan God Serena.

Natsu juga selalu pulang misi setelah beberapa bulan. Dia hanya akan duduk di salah satu bangku bar di pojok atau hanya sekedar tiduran. Lalu besoknya dia akan kembali mengambil misi solo peringkat S. Happy, Exceed biru kesayangannya selalu menangis melihat perubahan Natsu. Kucing itu sekarang tak mengikutinya karena permintaan pemuda itu sendiri dan Happy sekarang telah tinggal bersama Wendy, Carla dan anak-anak kucing merka. Sungguh, hidup Natsu seperti robot yang telah di atur agar seperi itu terus.

Bahkan ketika semua Nakama seumurannya telah menikah, Natsu lebih memilih melajang. Master pernah menyuruhnya untuk segera menikah sebagai jalan agar Natsu tak begitu memikirkan Lucy, tapi langsung di tolak mentah mentah dengan berkata 'Tak ada yang bisa menggantikan Luce' atau 'Aku akan terus menunggunya'.

Lucy menggigit bibir bawahnya mendengarkan cerita Erza tentang perubahan drastis dari seorang Natsu Dragneel. Tak dia sangka, kepergiannya begitu memukul pemuda berscraft sisik itu. Hatinya sangat sakit mengingat bahwa Natsu ternyata selalu menunggunya. Walaupun pumuda itu tak pernah tahu apakah Ia akan kembali. Tapi Natsu selalu percaya bahwa Lucy akan kembali padanya. Erza beharap kembalinya Lucy dapat membuat Natsu berubah menjadi Natsu yang dulu kembali.

Tak lama Porlyusica keluar dari ruang perawatan, Lucy langsung bertanya bagaimana keadaan Natsu.

"Aku heran. Bisa bisanya dia tetap berjalan bahkan berlari dengan kondisi kaki kiri patah, lengan kanan patah dan terdapat luka sayatan memanjang di punggungnya. Tubuhnya penuh luka lebam dan gores dan parahnya, ia mengabaikan luka bekas tusukan di perutnya yang sudah bernanah. Benar-benar dia itu bodoh , keras kepala atau memang ingin mati secara perlahan." Cerca Porlyusica.

Semua membulatkan mata mereka. Sebegitu parahkah keadaan Natsu saat ini? Kenapa dia sampai bisa terluka sampai begitu?

Lucy menutup mulutnya dengan dua tangan, terlalu syok mendengar penjelasan nenek Porlyusica tentang keadaan Natsu. Walaupun Natsu pernah terluka lebih parah dari ini tapi rasa khawatirnya melebihi saat itu. Tubuh Lucy gemetaran, Ia sangat mengkhawatirkan keadaan sang Salamander.

Lalu tanpa babibu Lucy langsung masuk ke dalam ruang perawatan dengan air mata menggenang. Ingin cepat-cepat melihat kondisi Nakamanya.

Erza dan lainnya juga berniat masuk, tapi langsung di tahan oleh Master Makarov.

"Kalian jangan masuk."

"Tapi Master, kami ingin memastikan apakah Natsu baik-baik saja."

"Ya Master! Jadi biarkan kami masuk!"

Porlyusica angkat bicara. "Saat ini Natsu masih belum sadar. Dan mungkin akan cukup lama menunggunya membuka mata karena kondisi fisiknya yang parah. Tak hanya itu, kondisi batinnya juga sedang kacau. Jadi lebih baik kalian melihatnya jika sudah sadar."

"Lalu bagaimana dengan Lucy?"

"Biarkan dia bersama bocah itu. Mungkin dengan Lucy di samping Natsu, bocah itu akan cepat sadar."

Erza, Gray, Levy dan lainnya hanya bisa mengangguk. Benar. Mereka harus memberikan privasi untuk Lucy agar bisa bersama Natsu. Pasti gadis itu lebih mengkhawatirkan Natsu di banding nakama lainnya. Akhirnya dengan sedikit berat hati mereka meninggalkan ruang perawatan.

Makarov dan Porlyusica masih berdiri di luar ruangan.

"Aku tak tahu bagaimana orang yang telah mati hidup kembali." kata Porlyusica.

"Dia 'tak pernah mati' Porlyusica. Aku akan menceritakan semuanya."

##########

Lucy mengucek matanya yang terlihat sedikit sembab. Kantung matanya terlihat menghitam karena tadi malam dia sama sekali tidak bisa tidur, terlalu khawatir jika tiba-tiba Natsu terbangun dan pergi darinya. Lucy sedikit merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit karena terlalu lama duduk.

Ia melirik sepiring makanan dan segelas minuman yang ada di atas meja di sisi ranjang. Pagi-pagi sekali, Mira membawakannya untuk Lucy karena wanita berambut silver itu tahu, Lucy sama sekali belum menyantap makanan dari kemarin. Sedikit mereka berbincang sekedar berbasa basi lalu Mira keluar dengan segera, tak ingin mengganggu Lucy yang sedang menunggui Natsu.

Lucy memang sama sekali belum makan dari kemarin. Tapi ia sama sekali tak merasa lapar. Jadi Lucy hanya meneguk air putih di gelas hingga tandas dan kembali duduk di sisi kursi yang di sediakan di sisi ranjang si pemuda. Lucy mengamati Natsu dengan lekat-lekat. Natsu memang telah banyak berubah. Dia terlihat makin dewasa dengan tubuhnya yang bertambah kekar. Tapi yang membuat hati Lucy sakit adalah bibir itu. Bibir itu tak pernah lagi menunjukkan grinsnya. Mata itu tak sehangat dulu dan rambut itu terlihat kusam dan sedikit tak terawat.

Lucy mengelus rambut Natsu, yang walaupun terlihat agak kusam dan berantakan tapi tetap lembut. Ia juga membenarkan sedikit letak scraft kotak-kotak yang selalu melekat di leher Natsu. Tangannya beralih ke wajah , mata, hidung, rahangnya yang tajam dan tegas, pipi lalu mengusap lembut bibir Natsu yang telah berhasil mencuri ciuman pertamanya. Pipi Lucy memerah mengingat bibir itu yang pertama kali melumat bibir ranumnya. Pelukannya sangat erat dan ciuman Natsu juga sangat lembut, yang pasti sangat di inginkan setiap wanita. Lucy tak pernah tahu jika Natsu sangat pandai mencium. Ia bertanya tanya, sejak kapan pemuda itu belajar mencium seorang gadis.

Lucy menyentuh sebuah luka di lengan kanan Natsu. Terdapat luka sayatan memanjang hingga menggores lambang fairy tail merah di yang di lakukan pemuda itu hingga terluka parah seperti ini?

Lalu terakhir tangannya beralih menggenggam tangan kekar Natsu yang selalu menyalurkan kehangatan. Dan di pergelangan tangan pemuda itu, ia melihat sebuah ikat rambut berwarna biru tua melingkar di pergelangan tangan Natsu. Ikat rambut itu sama sekali tak terlihat kotor. Dan Lucy baru ingat, itu adalah ikat rambutnya yang tertinggal sebelum dirinya menghilang. Jadi selama ini Natsu terus menyimpan ikat rambutnya ini? Bahkan selama lima tahun? Dan masih terlihat bersih.

"Ikat rambut ini...milikku kan Natsu? Jadi kau selalu menjaganya ya?" kata Lucy berusaha bicara pada Natsu yang masih belum sadar.

Lucy tersenyum sambil menitikkan air mata. Perasaannya menjadi menghangat. Ternyata Natsu selalu memikirkannya. Sungguh Lucy merasa sangat bersalah pergi meninggalkan pemuda itu. Bahkan selama ini ia tak tahu jika telah pergi lima tahun!

Lucy menempelkan tangan Natsu yang masih di genggamnya ke pipi.

"Maaf Natsu jika kau menungguku terlalu lama. Aku benar-benar minta maaf. Tapi ku mohon, cepatlah sadar." harapnya.

Agak lama dalam posisi itu kemudian Lucy meletakkan kembali tangan Natsu di samping tubuhnya. Menatap lama wajah tampannya. Tiba-tiba kepalan Lucy terasa sakit dan berat. Ia memegangi kepalanya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain masih menggenggam erat tangan Natsu.

"Auh...k-kepalaku...s-sakit sekali." keluhnya.

Sepertinya sakit kepalanya ini di akibatkan karena Ia tak tidur sama sekali semalam. Tubuhnya juga terasa menggigil kedinginan apa lagi ia memakai pakaian yang minim seperi ini. Lucy memeluk tubuhnya sendiri.

"Dingin sekali" gumamnya.

Lucy kemudian berdiri dengan sedikit sempoyongan berniat keluar untuk meminta obat sakit kepala pada Porlyusica atau mungkin meminta Wendy menyembuhkan sakit kepalanya. Juga mengambil selimut dan segelas teh.

Tapi tiba-tiba...

Set!

Tap!

Baru satu langkah Lucy berjalan sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangan kirinya.

"Kau pikir mau kemana kau Luce?"

Lucy terperanjat. Suara ini...NATSU! Dengan perasaan kaget Lucy berniat membalikkan badannya untuk melihat apakah benar Natsu telah sadar. Tapi belum sepenuhnya berbalik, Natsu yang masih memejamkan mata langsung menarik tangan Lucy hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh Natsu.

Bruk!

Kepala dan kedua tangan Lucy menempel pada dada bidang Natsu yang saat ini di perban.

Tubuh Lucy menegang. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya memburu. Ia merasa seperti hampir pingsan karena mendapat perlakuan seperti ini. Apa lagi saat ini posisinya yang cukup intim, di mana dia jatuh di atas tubuh Natsu yang hangat. Lucy sedikit mengangkat kepalnya.

"N-Natsu-"

Greb

Set!

Lucy tak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba tanpa persetujuannya, Natsu melingkarkan lengannya ke pinggang Lucy dan satu lengannya melingkar di punggungnya dengan telapak tangan menyentuh puncak kepala. Lalu Natsu mengubah posisi mereka hingga saat ini mereka berbaring dalam posisi menyamping dan saling berhadapan. Tangannya yang melingkar di pinggang Lucy semakin mengerat dan tangan satunya makin menekankan kepala Lucy ke dada bidangnya.

Lucy telah sepenuhnya berada di dalam kukungan dekapan pemuda berambut salmon itu. Kedua tangan kecilnya menyentuh dada bidang Natsu yang sebagian terekspos hingga memperlihatkan tubuh atletisnya. Kepalanya berbantalkan lengan Natsu.

Natsu memeluk Lucy sangat erat. Takut bahwa gadis itu kembali pergi. Aroma vanila khas yang menguar dari tubuh Lucy menjadi obat penyembuh yang paling mujarab untuknya. Membawa dirinya dalam ketenangan yang selama ini ia rindukan. Natsu sedikit menundukkan kepalanya, menciumi aroma vanila dari surai pirang gadis di dalam pelukannya.

Lucy merasakan nafas Natsu menerpa puncak kepalanya. Tangan Natsu yang melingkar di tubuhnya membuatnya yang semula menggigil kedinginan menjadi hangat. Bau maskuline dari tubuh Natsu membuat Lucy benar-benar merasa tenang.

Lucy sadar bahwa Natsu masih belum sembuh benar. Ia berusah melepas pelukan pemuda itu. Tapi lengan yang melingkari tubuhnya terlalu erat, sulit di lepaskan.

"N-Natsu...tolong lepaskan pelukanmu. Kau sedang sakit dan tidak boleh banyak bergerak. Aku akan memanggil Porlyusiaca-baa-san atau Wendy untuk mengecek keada-"

"Tetaplah seperti ini." ucap Natsu tanpa melonggarlan pelukannya.

"Apa?"

"Ku mohon, sebentar saja... biarkan seperti ini Luce..."

Lucy tak jadi meneruskan niatnya untuk menemui Wendy maupun Porlyusica. Ia membiarkan tubuhnya tetap dalam pelukan Natsu. Membiarkan pemuda itu mengeratkan pelukannya. Lucy tahu, Natsu pasti sangat merindukannya hingga memeluknya sangat erat seperti ini. Setidaknya Lucy tak perlu selimut maupun teh hangat sekarang karena tubuhnya telah menjadi hangat dalam pelukan Natsu. Sakit kepala yang ia rasakan juga perlahan mulai menghilang.

"Luce...Luce...akhirnya...kau kembali..."

"Ya. Aku kembali, Natsu. Maaf membuatmu menunggu lama."ucap Lucy sambil membalas pelukan Natsu.

Natsu tiba-tiba terisak. Ia makin mengeratkan pelukannya. "Luce...Maafkan aku...aku yang telah membuatmu menghilang selama ini...aku yang telah menyakitimu Luce...aku juga yang terlambat meyelamatkanmu...sungguh saat itu...aku tak sadar...aku tak tahu...saat itu...saat itu...tolong...jangan pergi lagi Luce." ungkapnya dengan suara bergetar.

Lucy melepaskan pelukannya. Ia mendongakkan kepalanya hingga saat ini karamelnya dapat melihat onix hitam yang telah tergenang air mata. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi dengan rahang tegas itu.

"Jangan menyalahkan dirimu terus Natsu...ini semua bukanlah salahmu. Lupakan kejadian itu."

Natsu menggigit bibirnya. Ia menyentuh tangan halus Lucy yang membelai pipinya. Ia genggam tangan itu. Menyalurkan setiap rasa lewat sentuhan itu. "Aku selalu mencobanya Luce...selalu...tapi tetap tak bisa. Kejadian itu...saat aku melihatmu terbujur di atas tanah...saat aku sadar aku yang telah menyakitimu...saat kau menghilang di hadapanku...aku tak pernah bisa melupakannya. Tidak sama sekali. Hatiku sangat sakit mengingat hal itu." Jelas Natsu.

"Selama ini...aku selalu menunggumu...menunggumu dalam ketidak pastian yang nyata...menunggumu kembali padaku...menunggumu walaupun tak tahu apakah kau akan kembali. Tapi walau begitu aku akan tetap menunggumu. Karena aku yakin, suatu saat kau akan kembali Luce...dan apa kau tahu Luce...di sini...rasanya sakit sekali" tambahnya sambil menuntun tangan Lucy pada dada kanannya, merasakan detak jantung yang berpacu cepat.

Lucy meneteskan Air mata, ia langsung menyurukkan kepalanya ke dada bidang Natsu. "Maaf...maafkan aku karena membuatmu menunggu lama...maafkan aku karena membuatmu menderita...maafkan aku karena aku membuatmu berubah Natsu...maaf...aku sangat minta maaf..."

Natsu balas memeluk Lucy. "Sudahlah Luce...yang penting sekarang kau sudah kembali. Ke Fairy Tail. Kepadaku. Dan aku bersyukur...penantianku selama ini tidak sia-sia. Penantianku selama ini akhirnya berakhir...terimakasih Luce...terimakasih karena kau telah kembali." ucap Natsu tulus sambil mengelus punggung Lucy.

Lucy kembali terisak. Ia makin menenggelamkan kepalanya di dada Natsu hingga membuat dada nakamanya itu basah karena air matanya. Dan Natsu dengan setia menunggu Lucy, membiarkan tubuhnya di jadikan tempat bersandar Lucy. Melingkarkan kedua lengannya dengan erat pada tubuh gadis blondie itu. Menunggu hingga isakan gadis itu mereda.

Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Kemudian Natsu melonggarkan pelukannya tapi kedua lengannya tetap melingkar di tubuh ramping Lucy. Natsu menundukkan kepalanya, mengadukan dahinya dengan dahi Lucy, menatap karamel dengan onix hitamnya yang tajam Membelai pipi gadis itu dengan dua tangan besarnya. Karamel bertemu dengan onix.

Lucy balas menatap onix hitam Natsu. Nafas hangat si pemuda menerpa wajahnya teratur. Jarak bibir mereka bahkan tak sampai satu jengkal. Natsu menautkan kedua alisnya. Merasa ada yang aneh.

"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanyanya.

"Lebih dari 24 jam" jawab Lucy, masih saling mengadukan kening.

"Dan apa kau terus menungguiku?" tanya Natsu dengan serius.

Lucy mengangguk kecil dan itu cukup untuk menjawab pertayaan Natsu.

"Lalu, apa kau sudah makan?"

Lucy menggeleng. "Sebenarnya tadi pagi-pagi sekali Mira membawakan makanan untukku. Tapi aku tak merasa lapar. Jadi aku hanya minum saja."

Natsu menatapnya serius "Luce. Kau terlalu memaksakan diri. Menungguiku selama 24 jam. Bahkan kau juga belum makan sama sekali? Kau membuat dirimu sakit Luce..."

"Itu tak seberapa Natsu...kau bahkan telah menungguku selama lima tahun. Jadi menungguimu selama seharian bukanlah hal yang sulit." jawabnya.

"Itu tak ada hubungannya Luce. Aku melakukan itu karena keinginanku sendiri. Karena aku percaya kau akan kembali."

"Dan aku melakukan hal itu juga karena keinginanku sendiri. Dan itu karena aku peduli padamu Natsu."balas Lucy.

Natsu sedikit berdecak. Kemudian ia menyatukan kening mereka "Kau memang keras kepala. Apa kau tak sadar, suhu tubuhmu meningkat tapi tubuhmu terasa seperti menggigil. Dan apa kau juga tak tidur semalam?" tanyanya lagi.

Lucy tak menjawab. Natsu yang semula serius sekarang tampak khawatir. "Astaga Luce, kau tidak tidur? Kantung matamu bahkan menghitam seperti itu."

"Tenanglah Natsu, aku tak apa. Aku Hanya kurang tidur dan sedikit pening. Itu bukanlah hal besar."

Natsu bangun dari posisi tidurnya. "Tentu saja itu hal besar. Apa lagi jika itu terjadi padamu Luce. Bagaimana aku bisa tenang? Tunggulah, aku akan memanggil Wendy atau nenek tua itu untuk mengobatimu."

"T-tunggu!"

Natsu yang hendak turun dari ranjang di hentikan oleh Lucy. Gadis itu menggenggam tangannya yang masih di perban dengan dua tangan.

"Tetaplah di sini. Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur saja. Jadi kau tak perlu memanggil Wendy maupun Porlyusica-baa-san. Lagi pula kau belum sembuh benar." Mohon Lucy.

Natsu menghela Nafasnya. Nakamanya ini memang keras kepala. Padahal jelas-jelas dia sekarang sedang sakit, di lihat dari kondisi fisiknyapun sudah tampak begitu. Tapi begitulah Lucy. Dia selalu berusaha untuk tak merepotkan orang lain.

Natsu tersenyum. Senyum yang selama ini telah hilang dari dirinya. Senyum tipis dan menenangkan yang tulus, hingga membuat dada gadis celestial spirit yang duduk di ranjang bersamanya itu berdegup kencang. Kemudian Natsu kembali merebahkan tubuhnya bersamaan dengan tubuh Lucy. Ia tatap karamel itu dengan lembut sambil membelai surai pirang itu.

"Tidurlah..."

"Ha?"

"Ku bilang tidurlah. Bulankah kau tadi mengatakan bahwa kau kurang tidur? Kalau begitu sekarang tidurlah. Biar aku yang ganti menjagamu."

Lucy hendak protes tapi tiba-tiba Natsu kembali menariknya dalam pelukan hangatnya. Membelai lembut puncak kepala gadis itu.

"Jangan membantah. Sekarang tidurlah. Aku akan menemanimu."

Lucy tampak bimbang tapi kemudian ia mengangguk, menuruti perkataan sang Dragon Slayer yang sepenuhnya benar. Ia memang perlu tidur sebentar. Dan ia juga tak perlu takut karena pemuda itu menemaninya. Memeluknya dengan hangat sekarang.

Lucy mengalungkan lengannya ke leher Natsu lalu menenggelamkan wajahnya ke dada pemuda pink itu. Sementara Natsu makin mengeratkan pelukannya. Membelai dan sedikit memijit puncak kepala gadis di dekapannya dengan lembut. Membawa Lucy dalam ketenangan dan kenyamanan yang sangat ia harapkan. Hingga rasa kantuk tiba-tiba menyergapinya dan tak lama kemudian, Lucy telah sepenuhnya jatuh ke alam mimpi.

Natsu yang memelunya merasakan nafas Lucy yang teratur menggelitik dadanya. Ia melepaskan pelukannya dan mendapati gadis itu telah tertidur. Natsu membelai surai pirang Lucy. Menyisipkan helaiannya yang menutupi mata ke telinga. Tangannya berpindah mengelus pipi Lucy kemudian menghapus air mata yang bertengger di bawah matanya.

Natsu mengamati wajah itu lekat-lekat. Wajah itu masih sama seperti lima tahun lalu. Tetap cantik dan bahkan tak berkesan bertambah tua. Kulitnya yang halus, matanya yang indah, pipinya dan bibir lembutnya.

Natsu menyentuh bibir berwarna pink itu dengan ibu jari. Tiba-tiba ia teringat kejadian sebelum dirinya pingsan. Dimana ia yang benar-benar sangat merindukan Lucy langsung memeluk bahkan mencium gadis itu. Mengingat bibirnya menyapu bibir ranum nan lembut gadis itu.

Jantung Natsu berdebar ketika mengingatnya. Ia sedikit menggelengkan kepalanya.

"Astaga...sepertinya aku benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa aku langsung menciumnya?"

Tapi kemudian Natsu langsung tersenyum. Ia ingat, selama ini Lucy belum pernah berciuman dengan pemuda manapun. Dan itu berarti Natsu adalah orang yang berhasil mencuri ciuman pertama Lucy. Dan ciuman pertaman Natsu juga telah di berikan kepada Lucy.

Natsu mendekatkan wajahnya. Kemudian mencium kening Lucy dengan lembut dan lama. Kemudian menjauhkan wajahnya. Ia tersenyum simpul sambil berkata.

"Oyasumi Luce...terimakasih kau telah kembali padaku." kemudian kembali memeluk tubuh ramping Lucy.

#############

Lucy mengerjapkan matanya. Ia merasa tubuhnya terbaring dengan sangat nyaman. Kemudian ia membuka mata dan melihat sekeliling. Ini...ruang perawatan Fairy Tail dan dia sekarang tengah berbaring di salah satu ranjangnya dengan sebuah selimut melekat padanya. Sepertinta ia tertidur. Tunggu! Sepertinya tadi dia tidur dengan Natsu? Lalu di mana nakamanya itu.

Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya Lucy langsung mendudukkan dirinya. Wajahnya terlihat panik.

"Natsu!"

"Ya. Aku di sini Luce."

Lucy menoleh ke asal suara dan mendapati sosok yang ia cari sekarang tengah duduk di kursi, tempat di mana dia menunggui Natsu saat ia masih tak sadarkan diri. Pemuda itu menatapnya. Tangan kekarnya menyentuh tangan Lucy. Lucy menghela nafas lega, ia pikir pemuda itu pergi kemana.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Natsu yang saat ini telah duduk di ranjang. Saat ini Natsu tak mengenakan baju karena tubuhnya masih di perban.

"Sudah baikan. Lalu bagaimana denganmu Natsu? kau tidak seharusnya bergerak dulu. Bagaimana jika luka di perutmu terbuka kembali? Dan sejak kapan kau duduk di situ?"

"Sepertinya kau memang sudah baikan. Kau cerewet seperti biasa Luce. Aku sudah sembuh. Aku duduk di sini sekitar 5 jam yang lalu.

Lucy membulatkan matanya. "Astaga Natsu, kau menungguiku selama itu?"

Natsu mengangguk dan itu cukup untuk menjawab pertanyaan Lucy. Gadis itu tampak merasa bersalah. "Kau tak seharusnya menungguiku. Kau kan harus banyak beristirahat. Dan maaf aku malah tidur di ranjangmu."

Natsu hanya diam, ia tak merespon perkataan Lucy. Natsu berdiri lalu berjalan ke sebuah meja yang terdapat nampan dengan semangkuk bubur dan segelas air putih. Ia membawa nampan itu dan meletakkannya di sisi ranjang, kemudian menyodorkan segelas air putih pada Lucy. Lucy langsung menerima dan meneguknya lalu mengembalikannya pada Natsu.

Natsu mengambil semangkuk bubur di nampan lalu memberikannya pada Lucy.

"Makanlah bubur ini."

Lucy menolak. " Tidak. Aku tidak lapar."

"Kau belum makan dari kemarin."

"Sudah ku bilang. Aku tidak lapar Natsu. Lagi pula bubur ini di bawakan untukmu. Jadi lebih baik kau yang-uph" Lucy tak meneruskan perkataannya karena tiba-tiba Natsu memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.

"Telan dan jangan banyak bicara." kata Natsu. Lucy ganya bisa cengo si buatnya. Tapi akhinya gadis itu menurut juga.

Natsu dengan telaten menyuapi Lucy yang memang terlihat kelaparan. Perlakuan Natsu yang sangat hangat dan perhatian ini membuat jantung Lucy berdebar-debar. Padahal sebenarnya Lucy bisa makan sendiri. Dan memang benar Lucy merasa lapar. Tapi Lucy terlalu terlena dengan perlakuan Natsu.

Bahkan ketika telah selesai makan, Natsu kembali menyodorkan segelas air pada Lucy dan juga mengelap sisa makanan di bibir tipisnya. Sungguh Lucy hampir berhenti bernafas ketika Natsu mendekatkan wajahnya lalu menghapus sisa makanan di bibirnya dengan ibu jari.

"Ternyata kau memang kelaparan ya Luce?"

Lucy menggembungkan pipinya merasa kesal dengan perkataan Fire Dragon Slayer itu yang terdengar sedikit mengejek. "Itu karena kau terus memasukkan bubur itu ke mulutku!"

"Tapi kau menelannya juga kan? Bahkan sampai habis."

"I-itu karena bu-buburnya enak!"

"Dasar Weirdo." ejek Natsu.

Lucy hendak membalas ejekan Natsu tapi tiba-tiba Natsu menariknya ke dalam pelukannya. Dagunya ia sandarkan ke lekukan leher Lucy.

"Luce...aku sangat senang. Kau kembali. Kau masih hidup. Ku harap kau tidak membenciku karena aku yang telah-"

"sstt...sudahlah Natsu." potong Lucy sambil mengelus punggung Natsu. Kemudian ia melepas pelukan Natsu. Pandangannya melembut.

"Bagaimana bisa aku membenci orang yang selama ini selalu ada untukku, melindungiku, mengkhawatirkanku, bahkan menungguku. Karena...aku juga sangat merindukanmu."

Natsu memejamkan matanya. Merasakan sentuhan tangan Lucy yang lembut di pipinya. Kemudian ia menyentuh tangan itu. Menggenggam tangan kecil itu lalu menarik kepala lucy hingga menyandar pada dadanya. Merengkuhnya sembari mengusap surai si blondie.

"Luce...ceritakan. Ceritakan kenapa kau masih hidup. Di mana kau selama lima tahun ini. Dan bagaimana kau bisa kembali." desak Natsu.

Lucy menggenggam tangan Natsu yang melingar di tubuhnya. "Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya. Semua hal yang menimpaku setelah menghilang lima tahun lalu."

##########

Flash back on

"Ku mohon...ja-jangan sedih...mu-mingkin kita...tak akan bisa bertemu lagi. Tapi...ingatlah Natsu...aku...aku akan selalu memperhatikanmu. Karena...aku...mencintaimu."

Natsu memeluk tubuh Lucy yang hampir menghilang itu dengan sangat erat. Jadi begini akhirnya?Lucy akan pergi?

"TIDAK! KU MOHON LUCE! JANGAN TINGGALKAN AKU! KAU MENCINTAIKU KAN?! JADI BERTAHANLAH!"

Lucy menggigit bibirnya. Air mata menetes dari iris karamelnya. Sangat sakit mengetahui ia akan mati, meningglkan teman-temannya dan...orang yang ia sayangi. Tubuh Lucy perlahan menghilang menjadi butiran debu. Dan akhirnya Lucy benar-benar menghilang. Ia masih dapat mendengan suara Natsu yang meneriakkan namanya sambil terisak kemudian Lucy tak dapat mendengar apapun lagi dan semua berubah menjadi gelap.

Lucy membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali karena silau. Lucy mendudukkan dirinya dan merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit, terutama di dada kanannra. Lucy melihat keadaan tubuhnya yang dibalut dengan perban. Lucy bingung, kenapa tubuhnya bisa diperban dan merasa sakit seperti ini?

Kemudian Lucy mengedarkan pandangannya. Ia bingung di mana sekarang dirinya berada. Ia menoleh kesana kemari dan menemukan dirinya tengah terbaring di suatu tempat yang menurutnya sangat asing dan...aneh. Ia terbaring di sebuah tempat tidur yang di anyam dari beberapa tumbuhan dan tempat itu berhadapan langsung dengan tanah kosong yang luas.

"ini...dimana?"

Lucy turun dari ranjang dan menapakkan kakinya di tanah berumput. Ia bahkan merasa tanah yang ia pijak terasa empuk dan berkesan memantulkan dirinya.

Lucy melihat sebuah cahaya memancar di depannya. Karena penasaran ia berjalan ke sana, dengan sedikit menyeret kakinya. Dan sesampainya di sana, mata Lucy langsung terbelalak.

Lucy berada di sebuah tempat yang berbentuk seperti tebing curam. Ia melongok ke bawah dan sama sekali tak menemukan dasarnya. Dan di sana sini Lucy melihat ada banyak bintang yang bersinar terang dan berada sangat dekat dengannya. Tak jauh darinya, di atas langit, terdapat sebuah gerbang emas raksasa. Lalu tiba-tiba gerbang itu terbuka lalu memunculkan sesuatu, melesat ke angkasa lalu menghilang

"Itu kan...seirei?! Kenapa bisa ada seirei di tempat ini? di mana aku sebenarnya?"

Lucy terus memperhatikan sekelilingnya. Ia tak sadar jika seseorang tengah mendekat.

"Kau sudah sadar?"

Lucy membalikkan badannya ketika mendengar suara seseorang. Iris karamelnya terbelalak.

Di depannya kini berdiri seorang gadis berambut pirang pucat dengan hiasan seperti sayap di rambutnya. Lucy sangat mengenalinya.

"M-Master Mavis?!"

Orang itu, Mavis Vermillion tersenyum. "Sepertinya kau sangat terkejut Lucy."

"Te-tentu saja! Kenapa Master Mavis bisa berada di sini? Sebenarnya tempat apa ini? Lalu kenapa aku bisa berada di sini? Dan di mana nakama-nakamaku?" tanya Lucy beruntun.

"Sepertinya kau kehilangan ingatan. Mendekatlah. Aku akan memulihkan ingatanmu."

Lucy mendekat ke Mavis dan Mavis menyentuhkan telapak tangannya ke dahi Lucy. Seketika ingatan Lucy berputar-putar seperti video yang di ulang kembali. Penyerangan Alvarez, peperangan, guild dan kota yang luluh lantak, Zeref yang tiba-tiba muncul dan...Natsu...yang berubah menjadi END dan rang terakhir...ketika tubuhnya menghilang"

Lucy sedikit mundur ke belakang, terlalu syok dengan apa yang berputar di kepalanya. Sekarang Lucy sudah ingat semuanya...

"Ti-tidak mungkin..."

Air mata Lucy jatuh ke pipi. Karamelnya menatap kosong sosok Master pertama Fairy Tail yang menatapnya sedih.

"Teman-temanku...bagaimana dengan mereka? Apa mereka selamat?"

Master Mavis mengangguk. "Ya. Tapi tak semua selamat."

"Lalu...bagaimana dengan Natsu?"

"Dia telah kembali menjadi Natsu. Kau tak perlu khawatir."

Lucy sedikit lega mendengar bahwa Natsu kembali sepertu semula. Bukan menjadi sosok END. Tapi seketika hatinya menjadi sakit. Dirinya...kini sudah mati dan ia tak akan bisa bertemu dengan nakamanya...Natsu.

"Jadi...aku sudah mati ya?" sedih Lucy. Ia menundukkan kepalanya.

"Kau belum mati." sahut suara seorang pemuda.

Lucy mengangkat kepalanya dan seketika kakinya menjadi lemas. Di sana muncul seorang Mage yang sangat ditakuti di seluruh dunia. Sang Raja dari Alvarez dan Kakak dari Natsu, Zeref Dragneel.

"Ze-Zeref?!"

Master Mavis mengikuti arah tatapan Lucy dan menemukan Zeref telah berdiri di belakangnya.

"Ah Zeref. Dari mana saja kau?"

Lucy sedikit terkejut ketika melihat Master Mavis dan Zeref saling melemparkan senyum.

"Maaf membuatmu terkejut Heartfilia."

Lucy masih takut dengan Zeref. Ia ingat, orang itulah yang telah menghancurkan seluruh magnolia, guild dan membangkitkan END. Lucy memasang tampang siaga ketika Zeref mencoba mendekatinya.

"J-jangan mendekat!"

"Aku tak bermaksud jahat padamu. Baiklah mungkin kau masih takut denganku karena akulah yang telah menghancurkan kota dan guildmu. Tapi kali ini aku tak bermaksud menyakitmu."

Master Mavis mendekat, mencoba menenangkan gadis berambut pirang di depannya. "Lucy, dia benar-benar tak bermaksud jahat. Kau harusnya berterimakasih pada Zeref karena dialah yang telah mengobatimu yang sedang sekarat.

"Itu tidak mungkin. Dia bahkan membunuh semua orang."

"Aku membunuh bukan karena keinginanku Heartfilia. Itu karena sihir kutukanku. Dan aku bersyukur akhinya sihir ini bisa di gunakan untuk menyelamatkan seseorang."

Lucy mulai mengerti. Sepertinya Zeref memang jujur memgatakannya dan dialah yang telah menolong Lucy. Tapi ada satu hal yang tidak ia mengerti.

"Baiklah. Aku percaya. Terimakasih sudah menolongku. Tapi apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku belum mati? Lalu tempat apa ini?

Master angkat bicara . "Duduklah. Aku akan menceritakannya."

Mereka bertiga duduk di tempat seperti tebing itu. Lalu Master Mavis mulai menjelaskan.

"Jadi Lucy, kau berada di suatu tempat di antara dunia roh dan dunia manusia."

Lucy menautkan alisnya. "Aku tidak mengerti. Maksudnya?"

"Maksudnya, kau berada di perbatasan itu. Kau lihat kan tadi ada seirei yang keluar dari gerbang itu?" tunjuk Mavis pada gerbang emas Raksasa.

Lucy mengangguk.

"Itu adalah gerbang dunia roh atau seirei lalu di sebrang sana.." Mavis kembali menunjuk ke langit di dekat gerbang itu, di sana terdapat seberkas cahaya yang terang. "..Itu adalah dunia manusia."

Lucy langsung jawdrop. "Bagaimana aku bisa ada di sini? Bersama anda dan...Zeref?"

"Sebenarnya ini adalah tempat di mana orang-orang yang tidak seharusnya mati berada. orang-orang yang mati karena sihir kutukan." kata Mavis.

"Dan aku dan Mavis mati karenanya." tambah Zeref.

"Lalu bagaimana aku bisa di sini?"

Master Mavis bercerita.

"Jadi saat itu, aku melihatmu hampir mati karena tertusuk oleh Natsu yang berubah menjadi END. Tapi kau berhasil menyadarkannya kembali. Tapi karena itu, kau hampir mati Lucy. Lalu aku ingat, aku bisa menteleportmu ke tempat ini dengan sihir fairy sphere sebelum kau benar-benar menghilang. Tapi aku hanya bisa menteleportmu saja dan mungkin kau akan mati jika saja saat itu aku tak bertemu dengan Zeref..."

Zeref ikut dalam cerita.

"Aku yang sudah mati ini berada di tempat ini sebelum Mavis kembali. Aku juga sempat bingung di mana aku berada. Dan saat itu aku bertemu dengan Mavis yang sedang membawamu dalam keadaan terluka. Mavis juga sempat terkejut melihatku. Dan aku berusaha mengobatimu dan meminta penjelasan tentang tempat ini pada Mavis. Untunglah...kau berhasil selamat."

"Dan walau kami sudah mati, tapi kami masih bisa keluar ke dunia manusia pada waktu-waktu tertentu. Tapi dalam wujid roh."

Lucy mengangguk paham. "Lalu apakah aku masih bisa kembali ke dunia manusia?"

Zeref mengangguk. "Tentu saja"

Lucy yang semula murung tampak kembali bersemangat. "Benarkah?! Lalu bagaimana caranya?"

"Kau adalah seorang Seirei Modoushi. Kau bisa kembali ke dunia manusia dengan membuka gerbang salah satu seireimu dan dia akan bisa membawamu ke dunia manusia."

Lucy berdiri. Ia sudah bersiap dengan kunci gerbang salah satu seireinya.

"Kalau begitu aku akan mencoba! Kelu-"

"Tunggu Lucy."

"-ar. Ya master? Ada apa?"

"Kau belum bisa membuka kunci seireimu. Karena kekuatanmu sihirmu telah hilang saat aku membawamu ke sini."

Lucy tersentak. "Ba-bagaimana bisa? Lalu bagaimana aku kembali ke dunia manusia?"

"Tentu dengan mengembalikan kekuatan sihirmu dulu. Kau harus kembali berlatih Lucy, dan mungkin dalam beberapa bulan kau baru bisa mengembalikan semua kekuatanmu."

"Kalau begitu, aku akan mulai berlatih untuk mengembalikan kekuatanku."

Mavis dan Zeref mengangguk.

"Tapi sebelumnya kau harus memulihkan kondisi fisikmu dulu. Baru setelah itu kau bisa mulai berlatih."

"Ya. Terimakasih Master, Anda telah menyelamatkanku. Dan terimakasih juga untuk Zeref yang sudah mengobatiku. Aku tak mungkin bisa membalas jasa kalian."

"Tak masalah Heartfilia. Cukup kau membalasnya dengan terus bersama dan menjaga Natsu."

Lucy tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja! Aku akan kembali padanya!"

Beberapa bulan di perbatasan dunia roh dan mausia, Lucy telah berhasil memulihkan semua kekuatan sihirnya. Jadi hari itu juga ia mencoba membuka gerbang seireinya. Di temani oleh Mavis dan Zeref.

"Buka gerbang Leo!"

Singg...

"Lama sekali kau tak memanggilku Lucy."

Lucy memekik gembira karena akhirnya ia bisa membuka gerbang seireinya.

"Akhirnya berhasil! Lama tak jumpa Loki."

"Ya...aku sangat merindukanmu Lucy. Ku kira kau tak lagi me-Zeref!"

Loki langsung maju di berniat melindungi Lucy. Karena melihat Zeref.

"Kenapa dia bisa ada di sini Lucy?" tanyanya panik.

Lucy berusaha megenangkan Lucy. "Ceritanya panjang Loki. Aku akan menceritakannya nanti. Jadi kita sekarang berada di perbatasan dunia roh dan dunia manusia. Aku terjebak di sini bersama Master Mavis dan Zeref. Hanya kau yang bisa membawaku kembali ke dunia manusia. Jadi bisakah kau terbang dan masuk lewat celah itu ke dunia manusia?"

Loki yang hendak bertanya lebih memilih menuruti permintaan gadis itu. "Baiklah. Apapun untukmu Hime. Tapi kau berhutang banyak penjelasan padaku."

Lucy mengangguk. Kemudian ia berpamitan.

"Master, Zeref, aku akan kembali ke dunia manusia. Terimakasih atas pertolongan kalian selama ini."

"Sama-sama. Tapi Lucy, kau jangan kaget jika Magnolia ataupun guild telah banyak berubah."

Lucy yang tak begitu mengerti maksud ucapan dari Mavis hanya mengangguk.

"Tolong jaga Natsu, Heartfilia. Dan titipkan salamku padanya."

"Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik. Aku pergi...terimakasih.."

Kemudian Lucy terbang dengan di gendong Loki, melewati gerbang dunia manusia dengan perasaan bahagia.

"Aku kembali, minna.."

End flash back

#########

"Saat kembali aku benar-benar bingung karena kota ini sudah banyak berubah. Dan ternyatacaku twlah pergi selama lima tahun." Terang Lucy, mengakhiri ceritanya.

Natsu tersenyum miris. "Jadi sepertinya aku harus berterimakasih pada Zeref, huh?"

Lucy menghela nafasnya. "Walau dia membuatmu menjadi END, Tapi setidaknya, dia telah menyelamatkanku Natsu."

"Bagaimanapun, aku berhutang terimakasih padanya walau aku masih tak bisa memaafkannya."

"Ya...dan waktu benar-benar cepat berlalu."

"Intinya waktu di sana dan di sini berbeda?" tanya Natsu yang masih memeluk Lucy dari samping.

"Ya. Bahkan kemarin ketika memasuki guild aku agak heran karena pasalnya sekarang guild ini jadi sangat ramai, luas, dan banyak anak-anak."

Natsu tersenyum. "Banyak hal beruba semenjak kepergianmu Luce..."

"Dan kau salah satunya Natsu."

Lucy duduk di samping Natsu, menangkup wajah pemuda yang telah tumbuh semakin dewasa itu dengan dua tangannya. "Lihatlah...onix ini tak sehitam dulu. Rambut pinkmu juga tampak memudar dan kau juga jadi jarang bicara dan tersenyum. Kau berubah Natsu. Sangat berubah. Apa kau tahu, Erza, Gray, Happy, Wendy dan lainnya merasa sangat kehilangan Natsu yang mereka kenal.

Natsu menundukkan kepalanya, terlihat menyesali semua perubahannya. "Aku tahu. Mungkkn aku harus minta maaf pada semuanya."

"Aku akan mendukungmu. Jadilah Natsu yang dulu."

Natsu tersenyum. Memberikan grins yang telah lama tak terlihat pada Lucy dan Lucy membalasnya dendan tersenyum kecil. Kemudian Natsu membelai surai Lucy kemudian menaruh tangannya di tengkuk Lucy. Natsu mendekatkan wajahnya pada Lucy dan mendekatkan wajah Lucy yang telah mengeluarkan semburat merah kepadanya. Mata Lucy berubah sayu dan Natsu makin mendekatkan bibirnya. Beberapa centi lagi bibir mereka saling bertemu. Natsu membuka sedikit bibirnya dan Lucy juga melakukan hal yang sama. Tangan Natsu yang satunya memeluk tubuh ramping Lucy. Bibir keduanya hampir saling bersentuhan, namun...sebuah suara menghenentikan aksi keduanya.

"Ups...s-sepertinya kami mengganggu..."

Natsu dan Lucy sontak langsung menjauhkan diri mereka lalu menatap ke arah pintu yang telsh terbuka, memperlihatkan para member fairy rail yang tenhah berdiri di depan pintu.

Natsu berguman 'Sial' sambil memalingkan wajahnya yang telah memerah sempurna. Sementara Lucy langsung berusaha menetralkan detak jantungnta yang berpacu cepat.

"M-minna..." panggil Lucy.

"Ne semuanya...sepertinya kita masuk di saat yang tidak tepat. Jadi lebih baik kita kembali saja dulu. Nah Natsu, Lucy, silahkan kalian lanjutkan yang tadi." kata Mira sambil tersenyum penuh arti.

"M-mou...Mira..."

"Ada apa?" tanya Natsu dengan nada sedikit ketus. Ia merasa jengkel karena nakamanya merusak momentnya dan Lucy.

"Apa maksudmu dengan berkata ada apa? Tentu saja kami kesini karena ingin melihat keadaanmu. Dan sepertinya kau sudah sembuh." cerca Gray yang tengah mengendong anak kecil berambut biru.

"Ya. Aku memang sudah sembuh. Jadi sudah kan?"

"Bisakah kau hilangkan nada dinginmu itu? Kau bisa menakuti anakku dasar flame head." kata Gajeel.

"Kalau begitu jangan bawa anakmu kemari. Merepotkan." jawab Natsu walau masih dengan nada dingin andalannya selama lima tahun. Tapi itu sudah membuat nakama-nakamanya merasa senang. Setidaknya ia tak lagi mengabaikan perkataan nakamanya.

"Baiklah. Jadi Natsu, kami ke sini karena ingin melihat keadaanmu dan Lucy. Ku dengar dia sakit."

Erza berjalan mendekati Lucy yang masih duduk di sisi ranjang. Wanita berambut merah itu sedang menggendong gadis kecil berambut biru pendek.

Lucy tersenyum pada Erza. "Ahaha...aku hanya kurang tidur saja Erza. Sekarang aku sudah sembuh."

Gadis kecil di gendongan Erza meronta meminta turun.

"Mama...Zella mau tulun." pintanya.

"Baik-baik." Erza menurunkan gadis kecil itu ke lantai dan setelah turun, gadis itu langsung mendekati Lucy. Dengan senang hati Lucy mengangkat tubuh mungilnya ke ranjang.

"Siapa namamu anak manis?" tanya Lucy.

Gadis itu langsung menjawab dengan semangat. "Zella Felnandes bibi cantik!"

"Nama yang bagus. Ayahmu pasti Jellal ya?"

"Wah...kok bibi bisa tahu?"

Lucy tersenyum saja.

"Papa Ruvi mau turun." pinta anak laki-laki Gray.

"Galev juga yah...Galev mau belkenalan dengan bibi cantik itu." tunjuk anak laki-laki Gajell pada Lucy yang saat ini sedang memangku Zella.

Mereka menurunkan anak-anak mereka. Mira dan Lissana yang juga sedang menggendong anak mereka ikut menurunkan anak-anaknya. Bocah-bocah itu langsung berlari menghampiri Lucy. Lucy tampak senang dengan anak-anak itu.

Mereka berebut meminta di pangku gadis celestial spirit itu.

"Sepertinya mereka menyukai Lu-chan." kata Levy yang berdiri di samping Gajeel.

"Ya. Aku senang melihatnya."

Tiba-tiba Ruvi, anak Gray berdiri di depan Lucy kemudian memegang tangan Lucy dengan kedua tangan kecilnya.

"Bibi Lucy sangat cantik. Ruvi suka bibi Lucy. Bibi Lucy mau menikah dengan Ruvi?"

Sontak perkataan bocah itu membuat hening suasana. Natsu yang mendengarnya entah kenapa sedikit merasa kesal. Mykanya bahkan sudah cemberut. Sepertinya ia cemburu dengan anak kecil.

Gray lantas tertawa di ikuti nakamanya. Ia berjalan mendekati Ruvi lalu menepuk pelan pundak bocah itu.

"Jadi anak ayah menyukai bibi Lucy ya? Tapi sepertinya kau akan bersaing dengan paman api nak." kata Gray melirik Natsu yang tengah menatapnya datar.

"Kau harus mengalahkanku dulu bocah jika ingin menikahi Luce." kata Natsu.

Lantas para nakamanya langsung berdehem ria dan itu membuat pipi Lucy kembali merona.

Tiba tiba Natsu berdiri. Ia menatap para nakamanya. Kepalanya sedikit tertunduk. Lucy yang mengerti apa yang akan di lakukan Natsu lantas tersenyum.

"Teman-teman...aku...aku minta maaf karena telah berubah. Maaf telah membuat kalian sedih. Maaf telah membuat kalian khawatir." ucap Natsu yang malah menatap ke lantai. Pipinya bersemu merah. Sepertinya dia malu.

Erza dan lainnya tersenyum. Sepertinya kedatangan Lucy memang telah membuat Natsu berangsur-angsur berubah menjadi Natsu yang dulu, walau belum sepenuhnya. Tapi itu sudah cukup membuat mereka senang.

"Tentu saja. Kau kan bagian dari Fairy Tail, Natsu. Jadi kami akan memaafkanmu." kata Erza.

"Aku akan memaafkanmu setelah kau berhasil mengalahkanku Flame brain." kata Gajeel memanggi Natsu dengan nama ejekannya.

"Itu mudah Ice Freak." balas Natsu membalas ejekannya sambil menyeringai kecil.

"Selamat datang kembali Natsu." kata Mira.

"Tak ku sangka dia bisa berubah secepat itu. Pasti karena kemarin dia mencium Lucy." Ejek Gajeel yang langsung di sikut oleh Levy.

Lucy hanya menunduk malu. Natsu membalas Gajeel dengan mengatakan. 'Urusai'.

Asuka ikut bicara. "Jadi Natsu sudah mencium Lucy ya? Berarti hutangmu padaku tujuh tahun lalu sudah lunas Natsu." katanya.

Dulu saat masih kecil, Asuka pernah memerintah Natsu untuk mencium Lucy. Tapi akhirnya Natsu malah mencium Happy.

"Terserah."jawab Natsu seolah tak peduli.

"Lucyyyy~"

Seekor exceed berwarna biru terbang melintasi kerumunan orang di dalam ruang perawatan dan ia langsung menubrukkan dirinya ke dada gadis berambut pirang yang sedang duduk di ranjang.

"Ah Happy.."

"Lucy...akhirnya kau kembali...aku sangat merindukanmu..."

Lucy balas memeluk kucing itu. "Aku juga merindukanmu Happy. Hey kau belum menyapa Natsu."

Happy beralih menatap Natsu yang duduk di samping Lucy. Natsu tersenyum padany dan air mata Happy langsung mengalir deras.

"Natsu..." ia memeluk sang Fire Dragon slayer itu. Natsu balas memeluknya.

"Maaf ya Happy...kau jadi seperti ini."

"Tak apa Natsu...yang penting kau sudah kembai seperti dulu. Aku senang sekali."

Para Nakama menyaksikan adegan mengharukan itu dengan air mata menggenang.

"Di mana Carla dan anak-anakmu Happy?" tanya Lucy sambil mengelus kepa Happy yang masih dalam pelukan Natsu.

Natsu melepaskan pelukannya. Happy turun.

"Mereka ada di rumah. Aku memintanya agar tidak keluar dulu." kata Happy.

"Kalau begitu Nanti aku akan ikut melihat Carla dan anak-anak kalian." kata Lucy dan Happy langsung mengangguk.

"Syukurlah...Lucy-san bisa merubah Natsu-san kembali...kami sangat senang." kata Wendy yang turut meneteskan air mata.

Kemudian Wendy berlari memeluk Lucy di ikuti para wanita, sebuah reuni keluarga. Kemudian mereka melepaskan pelukannya.

Saat para Pria hendak ikutan memeluk Lucy Natsu langsung menarik Lucy dalam pelukannya.

"Kalian pikir bisa seenaknya memeluknya" kata Natsu ketus masih dalam posisi memeluk Lucy. Tak ayal Lucy langsung mengeluarkan semburat merah karena malu.

"N-Natsu...mereka melihat kita..."

"Biar. Yang penting pria-pria mesum ini ak menyenruhmu." balas Natsu.

"Siapa yang kau katai mesum? Dasar over protectife." celetuk Gray.

"Kau lah yang mesum flame head. Siapa yang mau memeluk Lucy-mu itu?" tambah Gajeel.

"Berisik!" balas Natsu.

Kemudian mereka semua tertawa termasuk Natsu dan Lucy. Sungguh...sudah sangat lama sekali mereka tak tertawa bersama seperti ini. Sangat hangat...

Tapi suasana membahagiakan itu terganggu ketika tiba saja terdengar suara pintu di buka kasar. Lantas mereka beralih ke arah pintu dan mendapati sosok pria tengah berdiri tertatih tatih dengan penuh Luka. Mereka mengenalinya dengan Jellal.

"Jellal!" Erza langsung menghampiri Jellal yang hampir terjatuh lalu memapahnya.

"Apa yang terjadi Jellal?" tanya Erza panik.

"Kita...kita harus bersiap..." jawabnya.

Jellal mengalihkan matanya dan menangkap sosok gadis berambut pirang yang tengah berada di samping Natsu.

"Lu-Lucy?"

"Ya, dia kembali kemarin. Kami akan menjelaskannya setelah kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

"Ada apa Jellal?" tanya Natsu yang telah merasakan perasaan tidak enak.

Jellal menatap para anggota Fairy Tail di ruangan itu.

"Acnologia...dia muncul kembali..."

Dan kebahagiaan Fairy tail tak bertahan lama karena kemunculan tiba-tiba sang raja Naga kegelapan...Acnologia. Lalu sebuah pertempuran akan kembali terjadi.

########

Beesambung...

WTH! Kok malah ada acnologia sih?! Waduh kalau gini nggak jadi tamat di cahapter dua dong! Jadi gini nih readers...tiba-tiba aja sebuah ide nyantel di otak saya untuk memunculkan acnologia. Jadi mungkin fic ini bakalan tamat di chapter 4 atau lebih. Biar hurt ama romance lebih kerasa sih...hehehe. Tolong maafkan author yang labil ini. TT_TT. Tapi tenang aja, fanfic ini bakal saya tamatin kok. Jado readers nggak perlu khawatir. Jadi mohon RnR nya buat semuanya boar saya jadi semangat buat nerusin ff ini ^_^.