Chapter 2

Selamat membaca!

_-_-line_-

Kuroko termenung di kamarnya dengan Nigou ada dipangkuannya. Meski wajah stoicnya tetap bertahan, jika dilihat lebih teliti lagi akan nampak matanya berkabut. Dengan helaan nafas pelan, Kuroko merebahkan dirinya di ranjang tanpa memperdulikan geraman Nigou yang protes karna terbangun.

"Maaf.. tidak bermaksud membangunkanmu." Ucap Kuroko pelan. Matanya menerawang. Memori ketika ia masih menjadi partnernya Aomine kembali muncul. Memori ketika Aomine masih menjadi light-nya. Ketika ia menyukai Aomine namun merasa tak pantas. Ia sudah sedikit melupakan first love-nya. Aomine hanyalah masa lalu. Tapi disaat ia menyukai seseorang untuk kedua kalinya, ia tak menyangka kalau orang itu Kise. Dan ketika mendengar ucapan Kise kemarin membuatnya mau tak mau merasa kesal. Ingin sekali ia memberi Kise teknik passing-nya yang bahkan bisa membuat Kagami kesakitan jika menerimanya.

"Kise-kun menyebalkan.." Gumamnya.

Malam itu Kuroko entah kenapa merasa ingin emosi dan itu membuatnya merasa tak wajar, apalagi banyak orang mengenalnya sebagai seseorang bertipe stoic. Apa jadinya jika ia kelepasan kendali dan marah-marah tak jelas? Mereka akan menganggapku sedang PMS.. ,Pikirnya. Nigou sudah lama tertidur di sebelahnya.

"Pasti enak menjadi sepertinya, dapat tidur tanpa badmood." Gumamnya pelan sambi menatap Nigou. Dengan pertimbangan yang cukup lama, akhirnya Kuroko memutuskan akan keluar sebentar untuk menenangkan diri.

"Bagus, keluar saat tengah malam seperti ini. Aku semakin seperti hantu." Gumamnya lagi. Kuroko keluar dari rumah dan menatap jalanan sepi disekelilingnya. Ia melangkah menyusuri jalanan sepi yang cukup gelap. Angin malam membuatnya semakin merasa dingin. Dan sepi...

Namun mood badai-nya menjadi cerah ketika melihat stan vanilla milkshake dihadapannya. Namun ketika ia ingin menuju kesana, seseorang menarik masuk ke sebuah lorong gelap. Reflek, ia menendang kaki orang yang menariknya itu.

"Ouch! Tenanglah! Ini aku!" Teriak sosok itu. Kuroko memalingkan kepalanya menemukan sosok orang yang dikenalnya.

"Aomine-kun?" ucapnya.

"Yea.. Tendangan yang bagus.." Ucap Aomine yang sekarang melepas pegangannya dari Kuroko dan beralih mengelus-elus kakinya yang menjadi korban (?).

"Maaf.. Tapi apa yang kau lakukan tadi? Kau mengejutkanku, Aomine-kun." Ucap Kuroko datar namun sebenarnya ia sangat kesal.

"Momoi mengutus-memaksa-ku. Mana aku tahu. Tanya saja pa-" Belum sempat Aomine melanjutkan kata-katanya, sebuah sepatu melayang ke arahnya dan tepat mengenai kepalanya.

"F ##? ""::! Siapa yang melemparnya!?" Umpat Aomine kesal sambil memegangi kepalanya yang menjadi korban-lagi-.

Entah darimana, tiba-tiba saja Momoi berlari dan memeluk Kuroko.

"Ah! Tetsu-kun! Apakah Dai-chan yang super idot, bodoh, brengsek, menyebalkan, dan mesum ini melukaimu? Oh Tetsu-kun, maafkan aku yang tak bisa menahan tindakan nista Dai-chan no baka ini!" Teriak Momoi histeris-dan gak jelas- sambil masih memeluk Kuroko.

"Aa.. aku tidak apa-apa, Momoi-san." Ucap Kuroko datar. Aomine hanya melototi Momoi-sang pelaku pelempar sepatu- dengan tajam.

"Padahal aku ingin memberitahu suatu rencana untuk membuat Kise dan Tetsu-kun bisa bersama tapi terima kasih untuk manusia yang satu ini, semua gagal!" Ucap Momoi kesal lalu melepas pelukannya dari Kuroko.

"Hei! Rencananya saja belum jelas! Dasar perempuan!" Bentak Aomine kesal. Mereka saling menyalahkan hingga tak menyadari aura gelap dari Kuroko.

"Apa.. yang..kau..katakan..?" Bisik Kuroko pelan namun Momoi dan Aomine mendengarnya. Momoi menatap Kuroko takut. Aomine sedikit memundurkan langkahnya menjauhi Kuroko.

"Sebaiknya kalian jangan ikut campur." Ucap Kuroko dingin.

"Tapi, Tetsu-kun! Kise menyukaimu!" Ucap Momoi keras.

"Aku tahu-huh?"

"Kau mendengarnya'kan? Momoi benar. Bocah berisik dan sok dramatis itu menyukaimu." Ucap Aomine dengan nada yang sedikit lembut.

"Ta-tapi.. Kise-kun bilang.."

"Jangan percaya! Ia hanya tidak tahu kalau Tetsu-kun juga menyukainya! Clueless!" Ucap Momoi meyakinkan.

"Yep. Bocah berisik itu hanya membuatmu ingin menjauhinya karena ia ragu-ragu karena perasaannya. Dasar.." Tambah Aomine. Kuroko menatap mereka dengan wajah sedikit cerah. Berarti masih ada harapan'kan..?

"Karena itu... Aku punya ide." Ucap Momoi tiba-tiba. Ia menceritakan idenya ke Kuroko dan Aomine.

"Terserah kau saja. Tapi kalau bocah berisik itu tahu yang sebenarnya bisa kacau." Namun nasehat Aomine ini tidak terdengar oleh yang lain. Aomine hanya mendengus kesal lalu menyusul Momoi dan Kuroko yang melangkah pergi.

-tobecontinued!-

Author: Soooo... bagaimana? Haha Angst-nya g kerasa (sama sekali malah-_-) tapi saya akan berusaha sebaiknya, raaa!

Kuro: PMS-huh? ... *stoic face* (saya tahu anda sedang esmosi-eh salah! Emosi! Hehe)

Author: ahahaha... *sweatdrop*

Aomine: Woi! Aku ini bukan si mesum! Tapi si master pervert!

Author: diam. Momoi-san tolong bantuannya untuk mendidik manusia ini *nunjuk Aomine

Momoi: Dai-chan! Ayo kuberi pelajaran lagi! *narik Aomine

Aomine : noo! I'm die! Die!

Kuro: Hiraukan saja manusia-manusia tadi. Please review *bow