catatan: not important, really.
02: a widow, a novel, a vow.
Roderich mungkin saja bisa menjadi seorang komposer yang sukses dan lagu-lagu buatannya membahana di speaker bioskop jika saja mertua tolol itu tidak memaksakan anaknya masuk ke Angkatan Udara, hanya untuk meneruskan generasi pejuang yang mengalir begitu murni dalam nadi mereka – dan Roderich satu-satunya yang bukan seorang pejuang, jadi ia dipaksa untuk menjadi seorang pejuang. Roderich toh menerima paksaan itu, hanya untuk mendapat pujian dari ayahnya yang sering merasa malu karena kerjaan Roderich cuma bermain piano dan berbisnis, tidak bertualang.
Ayahnya memang terlalu tolol. Benar-benar tak sadar kalau Roderich cuma bisa bertahan di balik meja, membangun perusahaan yang mungkin bisa merekrut ribuan karyawan. Di medan perang, Roderich seperti anak yang di-bully di kelas. Buktinya ia mati dengan tembakan di kepala, leher, dan paru-paru.
Pembawa pesan dari pihak militer memberitahu cara kematiannya dengan wajah datar, mata kosong, dan mungkin dengan hati yang lelah, mengatakan kalimat yang sama berbeda nama tiap kali nyawa tentara dicabut di kejauhan. Elizaveta yang mendengarnya hanya terjatuh. Lututnya lemah dan air mata mulai jatuh di lantai kayu.
Roderich. Oh, Roderich.
Lelaki yang menemani sekaligus tak mengacuhkannya sepanjang hidupnya telah didahului oleh ajal dalam mencapai satu pujian dari ayahnya. Lelaki yang menunggu selama dua puluh dua tahun sejak pujian pertamanya ketika ia berhasil mengucapkan kata "perang". Dan sekarang ia meninggalkan seorang janda berumur dua puluh satu tahun di rumah mertua yang ia benci.
Lelaki tampan. Lelaki pintar. Lelaki bodoh.
Elizaveta bangkit dari lantai dan menyalami kedua pembawa pesan, menggumam terima kasih dan menjawab tidak tiap kali mereka menawarkan sesuatu. Mereka akhirnya pergi dengan langkah yang pelan, menambah keheningan di rumah mertuanya, terutama piano di ruang tamu, yang akan berdebu seiring badan Roderich habis dimakan waktu di bawah tanah. Elizaveta toh yakin kalau ayah Roderich takkan membersihkan piano tersebut. Mungkin ibunya datang untuk membersihkannya, tapi ibu mertuanya tinggal di luar negeri setelah bercerai dengan ayah mertuanya beberapa tahun lalu.
Elizaveta berjalan ke telepon yang terpaku di dinding, menekan beberapa tombol, dan menunggu. Ketika orang yang ditelepon mengatakan halo, Elizaveta melirik ke piano dan menarik napas dalam-dalam, air mata masih mengalir di pipinya.
"Anakmu mati."
Ia kabur dari rumah mertuanya setelah menyaksikan peti mati Roderich diturunkan ke liang lahat, menaruh dengan rapi baju termewahnya dan membawa pergi baju-baju kusut yang belum disetrika serta sebotol bir dan The Great Gatsby. Ia menyewa motel di pinggir kota untuk beberapa hari, lalu melanglang tanpa arah, mencari tempat yang tepat baginya untuk membaca The Great Gatsby, meski pada akhirnya ia berjalan ke arah taman, yang saat itu ramai karena hari Minggu dan anak-anak bermain penuh suka cita.
Ia menyapu bersih air dari matanya karena pandangannya mulai kabur. Lalu ia menemukan lelaki gila yang menjulurkan lidahnya ke langit. Ia mendengar orang-orang berbisik kalau lelaki albino itu sudah menjulurkan lidahnya lebih dari lima menit, mengatakan bahwa ia adalah orang gila. Ia tetap menontonnya tanpa bergabung dengan orang lain hanya karena ia sudah lama tak melihat aksi gila sejak menonton sirkus bersama Roderich beberapa tahun lalu.
Lelaki itu pun mengakhiri aksinya dan orang-orang mulai berkeliaran, kembali ke tujuan semula. Ia menemukan pandangan lelaki itu terfokus ke arahnya, dan entah mengapa, ia merinding. Mungkin karena ia lama sekali tidak menangkap pandangan sedalam itu sejak bertengkar dengan ayah Roderich, tapi toh sebenarnya tak ada alasan untuk merinding.
Selintas cinta pada pandangan pertama berkelebat di pikirannya, tapi ia sudah lama menjadi orang yang tidak percaya dengan peristiwa itu, dan demi apapun, suaminya baru saja mati. Sahabat seumur hidupnya, lelaki yang seharusnya membahagiakannya...
Ia memandang pria albino itu lagi dan bersumpah untuk berbicara padanya jika ia melihatnya lagi di suatu tempat―hanya untuk berjaga-jaga.
Elizaveta menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, memandang lama sampul The Great Gatsby dengan air mata menggantung di ujung bulu matanya, dan mengambil sumpah lain: tidak jatuh cinta sebelum menghabiskan novel favorit Roderich.
(np: first train home by imogen heap; makassar, 04/09/2012)
