II. Venus.

[ Yoongi/Jimin ]


Ada lontaran-lontaran kalimat bersumpah serapah di sana. Di malam yang kian gelap tanpa gemintang. Dengan titik-titik cahaya rembulan yang tergelincir di sela jendela-jendela lebar itu.

Pintu berderit, ia melangkah dan bercicit pelan macam tikus. Berlari keluar rumah dan merentangkan tangannya lebar-lebar. Kian hari makin seru saja rumahnya itu, dua orang dewasa menjerit-jerit pasal sesuatu yang klise; selingkuh, uang, dan urusan lain. Tapi ia takkan mau peduli.

Jimin menjinjit-jinjit di sebuah halte. Mengecek ponsel pintarnya sesekali dan menggigit bibirnya tak tenang. Musim dingin yang mengerikan, rasanya ia akan membeku dingin di luar sini.

"Jimin."

Ia tersenyum lebar, "Yoongi!"

Tubuhnya yang menggigil itu menerjang yang lebih tua. Merengkuh erat-erat lelaki berambut pirang tersebut. Ia memejamkan matanya, meskipun ada dingin yang mematikan di sela-sela keduanya.

"Aku merindukanmu, Yoongi." Wajahnya yang sering muram itu berubah menjadi bahagia dan bahkan hampir menangis. "Aku rindu."

Yoongi hanya diam dan merogoh saku jaket tebalnya. Mengeluarkan seutas syal rajut yang tampak nyaman. Ia kalungkan di leher jimin yang bebas dan mereka kembali berpelukan.

"Aku juga merindukanmu." Ia tersenyum hangat, melumerkan rasa-rasa dingin di sekujur tubuh Jimin.

"Ini pukul dua pagi, kau tidak dikhawatirkan orangtuamu?"

"Biarkan mereka, aku muak."

Jimin menengadah dan menatap wajah Yoongi yang hangat. Rasanya, semua salju dapat mencair dan tergantikan bunga musim semi dengan senyumnya itu. Lelaki yang umurnya terpaut hampir satu windu tersebut menangkup wajahnya dengan tangan yang dingin, kontras dengan air muka miliknya yang sangat menenangkan.

"Boleh?"

"Lakukanlah."

Keduanya memejamkan netra. Yoongi memagut dua belah bibir tebal jimin dengan khidmat. Remang-remang cahaya rembulan jatuh membasahi kota. Dengan serpih-serpih kecil salju yang jatuh melayang-layang. Jimin melingkarkan kedua tangan di leher Yoongi, pun ada yang melingkarkan tangan di pinggang anak itu.

"Ah." Yoongi melepas tautannya secara tiba-tiba. Jimin merengek sebal. "Aku tidak boleh lebih jauh dari ini."

"Diam! Lakukan lagi!"

Kali ini Jimin menarik wajah Yoongi untuk mendekat. Ia mencium bibirnya, lagi. Dan dilepas selang beberapa puluh detik. Yoongi membuka matanya, berkedip-kedip sok polos dengan sangat menyebalkan. "Apa?"

"Tidak punya cita-cita menghangatkan kasurmu malam ini?"

"Astaga Jim—"

"Maksudku tidur benaran."

Yoongi menghelakan napasnya dengan lega. Memang susah bicara dengan anak yang—menurutnya, baru saja masuk masa pubertas. Lihatlah anak muda ini; rambutnya yang seperti jelaga dan telinga kanannya yang dipasang sebuah anting.

Ia tak mau tahu apakah Jimin tergolong anak yang sering masuk ruang konseling di sekolah atau tidak. Sungguh, ia tak mau tahu. Toh penampilannya juga tidak jauh-jauh dari anak itu, malah ia menggunakan beberapa tindik di telinganya. Mungkin memang sudah takdir bahwa sebaik-baiknya pasangan Jimin adalah Yoongi.

Mereka berdua berjalan dengan jari-jari yang dieratkan. Sesekali bersenda gurau. Jimin tampak sangat cerah dan menyilaukan. Tentu, sebab berminggu-minggu ini yang ia dapatkan selalu seru-seruan orangtuanya bersama. Kemudian Yoongi datang dan menjadi mataharinya, itu cukup menakjubkan.

"Masuklah." Yoongi membukakan daun pintu lebar-lebar. Sebuah jaket dihempaskan kepada lantai seusai pintu ditutup, Yoongi turut pula melepas jaketnya.

"Yoongi, aku akan pinjam dapurmu!" Jimin berseru sebelum menutup mulutnya; dan terperangah. "Kau makan mie instan tiap hari?! Lihat tumpukan sampah ini!"

"Aku tidak suka memasak, repot." Pintu lemari pendingin dibuka dan Yoongi menarik keluar sekaleng alkohol. Ia membawanya ke meja makan dan duduk di salah satu kursi. Mematai Jimin yang dengan telaten—sembari mengomel—memasak makan-makanan yang layak dan bergizi.

"Perhatikan kesehatan tubuhmu." Ujar Jimin di tengah omel-omelannya. "Jangan bilang kau masih rajin menghisap racun?"

"Tidak separah dulu sih, paling satu atau dua batang rokok sehari."

Jimin membersihkan tangannya serta bicara dengan intonasi datar yang kejam, "Nanti akan kurendam tembakau sampah itu."

"Jangan, hei."

"Berisik! Makan!"

Dua batang sumpit diraih, Jimin mengapit gulungan telur dadar dan menyuapkan dengan paksa ke mulut yang lebih dewasa. Yoongi nyaris tersedak tapi ia mampu mengontrolnya sebelum terjadi. Ia tergelak, Jimin yang meluapkan amarah sangatlah menggemaskan dan lucu. Rasanya ia ingin menarik pipi-pipinya itu hingga hilang.

Jika orang lain anggap intonasi-intonasi Jimin yang sedang mengamuk itu seram; maka Yoongi akan mengajukan diri sebagai penentang. Baginya, semua intonasi jimin itu seperti malaikat. Apalagi gelaknya. Sangat manis dan candu.

"Pukul berapa ini?"

"Kurasa pukul lima."

Yoongi menatap jarum-jarum jam yang bergerak lamat itu. Benar, pukul lima lewat. Sebentar lagi fajar akan pulang. Ia merekah sebuah kurva pada bibirnya, "Mau lihat sesuatu?"

"Apa?"

"Kemari."

Jari-jari tangannya yang panjang menarik lengan jimin yang terbalut sweater. Ia berjalan menuju kamarnya dan membuka pintu menuju balkon, "Tunggulah dan lihat langit itu."

Jimin menengadahkan kepalanya, ia mencari sesuatu di atas sana tanpa tahu itu apa. Dahinya berkerut-kerut kesal, sejenak sebelum pandangnya bertemu suatu yang berkilau-kilau, "Oh!"

"Cantik bukan?" Yoongi tersenyum. "Itu Venus."

"Aku tahu, hanya baru lihat."

"Wajar sih. Anak sepertimu mana pernah bangun subuh."

Lengan Yoongi dipukul berkali-kali dengan sebal. Ia tergelak lepas, meminta Jimin untuk menghentikannya dengan segera. "Huh!" Dengus anak itu dan melipat tangannya di atas dada.

"Apa kau tahu mitologi tentang Venus?" Sebatang rokok dikeluarkan, Jimin nyaris memukulinya lagi, "Ampun, aku janji hanya satu ini!"

Di sana, ada bintang fajar yang berkilau-kilau dan indah. Jimin mencebikkan bibirnya dan menatap lingkaran cahaya itu. Ia sedikit terpesona, "Venus ... dewi cinta, kan?"

Yoongi menyesap rokoknya dengan santai. Kemudian ia hembuskan asap-asap racun itu dengan estetika—atau memang dirinya sendiri adalah sebuah seni. Lelaki itu tampak keren; dan menyebalkan, bagi Jimin.

Tapi entah kenapa pipinya tidak berhenti bersemu merah, tuh?

"Iya, dewi cinta yang cantik bukan?" Ujarnya di sela-sela merokok. Yoongi menengadah dan menatap langit lamat-lamat. Ia tersenyum tipis. Kemudian tergantikan air muka tak paham kala Jimin menarik-narik lengan bajunya, "Hm?" dan jantung Yoongi nyaris meledak, anak itu menatapnya dengan sangat menggemaskan dan pipinya bersemu merah.

"H-heh?" Suaranya yang berat bergetar karena kaget. "Kau kenapa—demam ya?"

Jimin menggeleng. Ia menunjuk sesuatu dan membuang wajahnya ke arah lain.

"A-aku ingin itu ..."

"Maaf?"

"Dasar tidak peka!"

Yoongi tergelak. Ia mengacak-acak helai jelaga milik kekasihnya itu dengan senyuman yang lebar. "Tahu kok."

Sekali lagi, Jimin berjinjit sedikit pada ujung kakinya dan memejamkan kedua netra. Yoongi mendorongnya pada pembatas balkon, mencium bibirnya dengan lembut. Ada rasa-rasa pahit rokok di antaranya. Tidak ada yang peduli akan abu puntung rokok milik Yoongi yang tertumpuk di atas lantai, mereka menikmati dunianya sendiri yang menyilaukan.

Jimin mengusap-usap kedua pipi Yoongi. Kemudian ciuman memabukkan itu mereka lepas, hingga ada asap-asap musim dingin dari kedua belah bibirnya yang hangat, "Aku tidak menyukai Min Yoongi."

"Tapi aku menyukai Park Jimin." Ia kembali menyesap rokoknya.

"Lihat, Venus marah padamu karena kalah bersinar." Yoongi merekah sebuah senyum tipis. Dan lagi, dua pipi anak itu kembali bersemu. "Senang sekali menggombal!"

"Jadi kau lebih suka langsung dinikahi?"

"Ya—eh, maksudku, tidak begitu juga!"

Yoongi tertawa, "Iya, aku paham. Nanti-nanti saja kita menikahnya."

"Ah! Lagi-lagi kau menyebalkan!"

Bintang fajar itu perlahan mulai kembali pulang dan tergantikan matahari. Dua orang itu, tentu masih asyik pada dunianya sendiri. Bersenda gurau yang berakhir pada terlelap di atas ranjang. Tanpa bumbu-bumbu pahit atau penuh hasrat. Tidak, selagi Jimin belum legal, Yoongi bersumpah tidak akan macam-macam padanya. Karena itu ia bertekad membawa Jimin lari dari rumahnya secepat mungkin.

Mungkin mereka bukan yang sempurna dengan kekurangan-kekurangan itu; tapi tetap saja, binar-binar mata keduanya yang larut dalam bahagia itu jelita seperti bintang fajar. Sebuah kisah yang diharapkan tidak pernah memiliki akhir. Tentang mereka yang berusaha bahagia untuk kehidupan masing-masing.

end.