Characters ;
- Jung Jaehyun of NCT
- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT
- Lee Taeyong of NCT
Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.
WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~
Selamat membaca!
Aku pertama kali melihat Jung Jaehyun saat aku hendak mengembalikan beberapa buku yang kupinjam dari perpustakaan.
Saat itu, aku berada di tahun keduaku.
Aku melewati sebuah lab sains di lantai 2 gedung utama SMA-ku.
Saat melewati lab tersebut, aku mendengar sebuah desahan perempuan dari dalam lab.
Aku terkejut dan nyaris menjatuhkan buku-buku yang berada didekapanku.
Err, siapa yang cukup berani menggunakan lab kosong untuk bercinta?
Aku mengerti kalau lab itu kosong! Tetapi tetap saja, ini kan di sekolah!
Dan, dan—ini kan juga di gedung utama!
Orang bodoh mana, sih, yang tidak punya rasa malu dan berani melakukan hal tidak senonoh di sekolah?
Aku pun memutuskan untuk mengintip.
Lagipula desahan perempuan tidak membuatku terangsang.
Oh.
Aku melihat siluet laki-laki dan perempuan yang sedang bersetubuh di meja depan lab tersebut.
Aduh, aduh! Berani sekali!
Kenapa tidak dibagian belakang lab saja, sih?!
Saat kuperhatikan baik-baik, aku dapat melihat wajah lelaki itu.
Wajah itu.
Aku mengetahui wajahnya.
Dia adalah—
Jung Jaehyun.
Aku tidak pernah mendengar rumor baik dari lelaki itu.
Aku selalu mendengar rumor tidak baik dari lelaki itu.
Aku memperhatikan posisi keduanya.
Jaehyun menghentakan tubuhnya ke tubuh perempuan tersebut.
Perempuan tersebut sedikit menjerit—ia mengalungkan kakinya di pinggang Jaehyun.
Seragam Jaehyun masih lengkap, tetapi kancingnya seragamnya sudah terbuka.
Sedangkan perempuan itu? Aku dapat melihat seragamnya berserakan di lantai lab.
Aku memperhatikan gerak-gerik Jaehyun.
Bagaimana ia mencumbui leher perempuan itu—bagaimana salah satu tangannya memainkan buah dada perempuan tersebut.
Aku tahu, ia memiliki banyak pengalaman.
Ia membuat sang perempuan duduk diatas meja—kakinya masih setia melingkari pinggang Jaehyun.
Tangan Jaehyun yang tidak sibuk menahan berat keduanya dengan memegangi ujung meja.
Aku memperhatikan ekspresi keduanya.
Perempuan—ia terlihat menikmati. Wajahnya begitu merah.
Sedangkan Jaehyun,
Ekspresi Jaehyun—
Tidak ada ekspresi apapun.
Datar.
Tanpa kusadari, Jaehyun melirik ke arah pintu lab.
Mata kami bertemu melalui kaca yang ada di pintu lab.
Wajahku memerah. Jantungku berdebar cepat.
Buru-buru aku berlari meninggalkan tempat itu.
Ketika aku berlari, isi kepalaku dipenuh oleh Jung Jaehyun.
Bagaimana bisa ia bersetubuh dengan seseorang tanpa ekspresi di wajahnya?
Apakah Jaehyun tidak menikmatinya?
Apakah ia—
Aku menjatuhkan buku-bukuku.
Dan melirik kearah celanaku.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku bereaksi dengan seseorang yang terlihat dingin?
.
.
Diperjalanan pulang, aku terus memikirkan Jung Jaehyun.
Bagaimana ia terlihat begitu berpengalaman—bagaimana ia menyentuh perempuan itu.
Terlihat sangat sensual dan menggoda.
Tatapannya yang tajam, walaupun wajahnya tidak berekspresi.
Aku penasaran—bagaimana jika ia yang menyentuh tubuhku ini?
Tubuh laki-laki.
Aku penasaran—bagaimana jika aku yang berada dibawah dekapan Jung Jaehyun?
Aku yang mendesah karena Jung Jaehyun memaksakan dirinya kedalam tubuhku?
Aku menginginkannya—
Aku menginginkan sentuhan Jung Jaehyun.
Aku haus akan sentuhan Jung Jaehyun.
.
.
Semua berlalu begitu cepat.
Tahun ketigaku.
Bahkan setelah waktu yang cukup lama,
Aku masih menginginkan sentuhan Jung Jaehyun.
Setiap aku teringat kejadian di lab sains, aku selalu memikirkan—
Ketika tubuh kami bersentuhan tanpa ada sehelai pakaian yang menghalangi.
Ia meninggalkan bekas kemerahan di leherku,
Ataupun menggigit. Meninggalkan bite mark.
Aku berakhir dengan menyentuh bagian bawahku.
Mendesah.
Memanggil namanya,
"Jung Jaehyun." Bisikku.
.
.
"Ten, apakah keadaanmu sudah membaik?" Lee Taeyong bertanya kepadaku dengan ekspresi khawatir.
Aku tersenyum ke arahnya.
"Aku sudah mendingan, hyung. Aku sudah bisa bekerja."
Taeyong menggelengkan kepala mendengar jawabanku, "Seharusnya kau masuk sekolah bukannya membantu aku di café."
Aku kembali tersenyum, "Tidak apa. Jarang-jarang kan aku membantu hyung saat weekday begini di siang hari?"
Taeyong yang berada dibalik counter mendengus, "Iya, iya terserah kau saja."
Aku terkekeh pelan.
Aku melirik ke arah jendela di café tempat aku bekerja part-time.
Gelap.
Sepertinya akan hujan.
Hujan yang deras.
Aku menarik nafas dalam.
Sudah hampir tiga tahun semenjak aku memutuskan untuk pindah ke Korea Selatan dan menuntut ilmu disini.
Aku berasal dari keluarga yang kaya raya di Thailand. Aku tidak memiliki masalah dalam keuangan.
Tetapi aku memutuskan untuk bekerja part-time di café milik Lee Taeyong.
Lee Taeyon juga merupakan tuan tanah-ku.
Aku menyewa sebuah tempat tinggal kepadanya—yang berada diatas café ini.
Saat tahun kedua, aku memutuskan untuk kerja part-time di café milik Taeyong karena aku ingin menjadi lebih mandiri dari sebelumnya.
Padahal aturan sekolah melarang muridnya untuk bekerja part-time dimanapun.
Karena itu, aku muncul dengan sebuah ide gila.
Bagaimana jika aku cross-dressing?
Awalnya Taeyong menolak, tetapi aku terus membujuknya dengan sikap manis.
Akhirnya ia luluh dan mengijinkanku untuk bekerja part-time dengan berdandan seperti perempuan.
"Kalau kau ketahuan, kau tanggung akibatnya sendiri."
Begitu kata Taeyong saat aku mulai bekerja.
Alasan lain kenapa aku mulai bekerja part-time padahal aku tidak perlu karena aku butuh pengalihan dari Jung Jaehyun.
Aku tidak mau terus memikirkan lelaki tersebut.
Tetapi, saat ini—
Aku melihat Jung Jaehyun berdiri didepan counter.
Seragamnya terlihat basah.
Rambutnya pun basah. Sepertinya ia kehujanan.
Ia menyibakkan rambutnya begitu ia selesai memesan sesuatu di counter.
Wajahku memerah. Aku tidak menyangkal kalau ia memang sangat menawan.
Buru-buru aku menghampiri counter.
"Oh? Ten? Bisakah kau buat satu Americano?"
"A, Anu—"
"Ada apa?"
Aku ingin bertanya, tetapi aku mengurungkan niatku.
"Tidak apa, hyung."
Taeyong berkacak pinggang,
"Bukankah pelanggan barusan mengenakan seragam yang sama denganmu? Kau mengenalnya?" Tanya Taeyong.
Aku terdiam sejenak, lalu aku menggeleng, "Tidak. Aku tidak mengenalnya."
.
.
Satu Meat Pie dan satu Americano.
Apakah ia menyukai Meat Pie?
Apakah ia menyukai Americano?
Aku terus bertanya-tanya sambil membawa pesanan tersebut ke meja Jung Jaehyun.
Ah—kalau kuingat-ingat, bukankah ini masih jam sekolah?
Kenapa ia bisa berada disini?
Apakah ia membolos?
Tanganku rasanya bergetar semakin langkahku mendekat dengan meja yang Jaehyun tepati.
Tubuhku hampir merosot.
Jantungku berdebar cepat.
Duh, duh! Semoga aku tidak mengacaukannya!
Tersenyum yang normal, tersenyum yang normal!
Jangan kaku, jangan kaku!
Jangan canggung!
"Permisi, ini pesanan anda—"
Aku meletakkan Meat Pie dan Americano Jaehyun diatas meja.
Semoga ia tidak sadar bahwa tanganku bergetar.
"Oh, terimakasih—"
"Satu Meat pie dan satu Americano, kan? Silahkan dinikmati."
Aku melemparkan senyuman terbaik yang pernah aku lakukan seumur hidupku.
Aku harap aku tidak terlihat aneh.
Aku harap ia tidak mengenaliku.
Tuhan, aku ingin Jung Jaehyun pergi secepatnya! Sobs.
.
Tbc
.
[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Terimakasih untuk para pembaca yang sudah membaca dan review cerita ini walaupun tidak banyak! Tetapi aku benar-benar menghargainya, karena hal itu membuatku semakin semangat ketika menulis, aku benar-benar berterimakasih! Sejujurnya aku tidak yakin kalau akan ada orang yang tertarik dengan pairing Jaeten(´-`)Namun, aku menyukai pairing ini dan memutuskan untuk menulis fanfiction tentang keduanya. Sekian untuk note dari aku dan sekali lagi, Terimakasih banyak! (⁼̴̀ .̫ ⁼̴́ )✧ ]
