Naruto : The Return of Kiiroi Senko.

Disclaimer: I don't own anything from Naruto manga. But this fic is mine.

Rate: M

Genre : Adventure, Friendly.

Pair: Mystery

Warning : Typo, Alur Pasaran, OC, OOC, GodLike.

Summary : Bukan sebuah amanat bukan pula sebuah permintaan, namun ini adalah kesempatan kedua, sekaligus tugas untuk menjaga seorang anak. Dia, sang legenda kembali ketanah Shinobi, dan akan memulai sebuah cerita baru disana. OOC, OC, Typo.

Jawaban Review.. :

Uzumaki Melstrom : Insya Allah akan saya usahakan meneruskan semua Fic saya, untuk akhir akhir ini Laptop saya lagi kehilangan alat pengisi batreinya, cas cas an :v jadi karena fic yang ini saja yang ada di smartphone ya hanya ini yang baru saya teruskan. Hehehe

Yaoi Readers-ssu : Tentu bisa, ketik lewat smartphone dan update lewat smartphone, mau bertanya tanya lebih lanjut bisa Invite BBM saya ada di Bio :v :v anjer promosi

afff : Minato dan Naruto namun sedikit ditonjolkan pada Minato.

Akira : Untuk saat ini tidak, kekuatan yang diberikan Hagoromo pada Minato hanya sebatas mempermudah dalam pengendalian chakranya, serta kapasitas chakranya yang sedikit diperbesar, namun jika telah sampai pada saatnya kekuatannya akan bisa disamakan dengan Tobirama.

Cukup hanya itu saja yang bisa saya balas, untuk yang mereview Lanjut saya akan tetap melanjutkan fic ini... akhir kata Big Thank's for : Putra Uzumaki, Uzumaki maelstrom, Paijo Payah, Gest, kimykimy, Namikaze Ryuugi, SMGates, Shiroyuki, 66, Yaoi readers-ssu, afff, Namikazehyuli, Ayub. , Seneal, Akira, Achimode, Ranraihan03, Uchiha Namikaze Venom, Dx23, faizi.

WARNING : Don't Like, Don't Read.

Chapter 2 : Akademi dan Latihan.

Pagi hari kembali di Konohagakure no Sato. Cuaca hari ini bisa dibilang cukup cerah dengan sedikit awan yang menghiasi langit biru desa Konoha. Puluhan warga desa telah berlalu lalang dijalanan yang kini sudah terpenuhi oleh warga di desa ini, toko toko pun juga sudah memulai usaha mereka. Banyak pula para Shinobi yang mulai berdatangan ataupun sebaliknya untuk menempuh ataupun telah menyelesaikan misi mereka.

Hari ini telah tepat satu minggu dibukanya Akademi bagi para calon Shinobi dan Kunoichi diKonoha. Banyak para orang tua yang berjalan beriringan dengan anak mereka, tak hanya itu kakak ataupun kakek dan nenek mereka pun juga cukup banyak yang mengantarkan anak cucunya untuk pergi ke Akademi.

Jika kalian tahu, inilah sedikit tradisi yang ada di Konoha. Bagi kebanyakan desa diluar sana para orang tua akan mengantarkan anak mereka pergi ke Akademi ataupun sekolahan pada hari pertama mereka masuk kedalamnya, namun berbeda di Konoha. Entah karena apa para orang tua akan mengantarkan anak mereka setiap pagi dalam satu minggu. Walaupun sejujurnya cukup banyak anak yang protes akan hal tersebut.

Dan yang cukup menyita banyak perhatian adalah seorang bocah laki laki berambut pirang dengan mata coklat yang berjalan sendiri tanpa ditemani oleh seorang pun. Banyak para anak gadis yang menatap bocah tadi dengan tatapan tertarik, dan respon yang diberikannya adalah lontaran senyum manis yang berhasil membuat para gadis disana harus menunjukkan semburat merah diwajah mereka masing masing.

Beda denganya beda pula dengan seorang bocah berambut pirang pula dengan tiga goresan halus disetiap pipi wajahnya. Entah kenapa, tatapan bengis nan tajam dilontarkan para orang tua wali berikan padanya. Walaupun demikian nampak bocah laki laki tadi hanya memasang wajah datar dengan kepala yang sedikit dia tundukan. Bahkan beberapa kali dia nampak tersenyum saat rekan diAkademi menyapanya.

Sebut saja Shikamaru Nara dan Kiba Inuzuka. Walau dihari ketujuh ini mereka tak diantarkan oleh salah satu dari kedua orang tua mereka (minus Kiba) namun mereka kini nampak berjalan bersama. Mereka nampak saling berbincang satu sama lain entah akan hal apa, dan saat mereka sampai didepan pintu Akademi ini seorang kakek tua bercerutu tengah berdiri disana bersama seorang manusia yang diketahui berjenis kelamin laki laki dengan topeng diwajahnya.

"Yoo... Selamat pagi Hokage-Jiji." Bocah berambut pirang dengan tiga goresan halus dipipinya menyapa kakek tua yang mereka ketahui sebagai pemimpin di desa ini. Kakek tua tadi hanya tersenyum dan membalas sapaan bocah bermarga Uzumaki ini. "Yoo... selamat pagi Naruto-kun" Bocah bernama Naruto tadi hanya tersenyum lebar dengan tawa yang mengikutinya setelah mendengar sapaan dari Hokage yang sudah dia anggap bagai kakeknya sendiri ini.

"Lekaslah masuk kedalam dan mulailah belajar dengan sungguh sungguh Naruto." Disamping sang Hokage Konoha, seorang manusia yang memiliki gelar Anbu tercepat ini seperti melontarkan perintah pada Naruto. Dia Taka, Anbu khusus penjaga sang Hokage ketiga Konoha ini. Naruto hanya melontarkan tatapan tajam pada sang Anbu sebagai jawaban akan perintah yang dia berikan dengan seenaknya barusan.

"Kau diamlah baka Anbu, bwlek!" Setelah sedikit ejekan Naruto berikan pada Anbu khusus ini dia segera berlari menuju kelas Akademi guna menyusul kedua temannya yang tadi meninggalkannya setelah memberikan salam pada sang Hokage. Namun, dari kejauhan nampak seorang bocah yang seumuran dengan Naruto menatap serta tersenyum kecil kearahnya.

Dia mulai berjalan dan kini dia berdiri dibelakang sang Hokage. "Selama satu minggu ini, kau baru bertemu dengannya pada hari ini bukan, Minato." Anbu tadi memutar badannya dan melihat seorang bocah laki laki yang hampir sama persis dengan Naruto tersenyum kearahnya. Punggungnya dia sandarkan didinding bagian luar Akademi ini, dan tengannya dia masukkan kedalam saku celana abu abu miliknya.

"Anda betul Hokage-sama, dan mulai hari ini aku akan menjaganya sebagai sahabatku." Hiruzen Sarutobi hanya tersenyum mendengar penuturan dari bocah laki laki bernama Namikaze Minato ini. Dia pun berjalan pergi bersama dengan sang Anbu pribadinya yang masih terdiam dengan tanda tanya besar diatas kepalanya.

Minato masih dalam posisi tadi sampai seorang Laki laki yang dia ketahui sebagai guru diAkademi ini menepuk pundaknya. Minato menoleh dan tersenyum kearahnya, begitu pula sebaliknya. "Kau Namikaze Minato bukan?" Minato mengangguk saat pertanyaan tadi diterima oleh indra pendengarannya dengan baik.

"Ha'i, saya Namikaze Minato murid baru diAkademi ini." Guru yang masih berdiri tepat didepan Minato menganggum mengerti, dia pun beranjak dari tempat itu setelah memberikan isyarat pada Minato agar mengikutinya. Tak lebih dari lima detik sang guru telah berada didalam kelas yang kini mulai tenang saat melihat guru mereka datang.

"Baiklah anak anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Minato, kau boleh masuk!" Dengan sedikit keras dikata kata terakhir guru tadi mempersilahkan Minato untuk masuk kedalam kelas ini. Saat pintu tergeser, banyak para siswi disana yang menatap kearah pintu tersebut dengan antusias. Beberapa dari mereka sudah sempat melihat bocah tampan ini dan tentu saja berita akan kedatangan murid baru itu menyebar dengan cepat dimulut para calon Kunoichi.

Minato melangkah dengan mantab disertai senyum tipis diwajahnya, setelah sampai disamping sang Guru, Minato menatap kearah depan kearah dimana bocah bocah yang akan jadi temannya disini memberikan perhatian padanya.

"Perkenalkan, namaku Namikaze Minato aku lahir diDesa besi walau ayahku lahir didesa ini, hal yang aku suka adalah ketenangan, hal yang kubenci adalah keributan, tujuanku berada didesa ini awalnya adalah untuk mencari dimana pamanku namun kini dia telah tak ada, jadi tujuanku untuk hidup disini adalah untuk menjadi seorang Hokage yang hebat dan melebihi Hokage Hokage sebelumnya."

Banyak siswi disana yang berteriak saat mendengar kata kata Minato barusan, tentu saja. Suara yang terdengar lembut, senyum yang menawan dan impian yang diutarakan. Walau mereka lupa akan satu hal, hal tersebut adalah hal yang disukai Minato dan dibenci olehnya. Tetapi...

"Hoy! Apa maksudmu, menjadi Hokage dan melebihi para Hokage yang terdahulu adalah impianku!" Disisi tengah barisan kedua dari belakang nampak seorang bocah yang bernama Naruto berteriak keras disertai dengan jari telunjuk yang dia arahkan lurus kearah Minato. Minato mendengarnya, melihatnya, dan dia hanya tersenyum kepadanya.

"Baiklah, aku akan rubah..." Minato diam beberapa saat dengan mata yang dia arahkan tatapannya pada Naruto yang masih tetap memasang wajah keras dengan tatapan tajamnya. "...Aku akan melebihi Yondaime Hokage."

Diam...

HAHAHAHAHAHA

Kalian tahu suara itu berasal dari siapa, ya Uzumaki Naruto. Dia tertawa dengan lebar dengan tangan kiri yang dia gunakan untuk memegang perutnya serta tangan kanan yang dia acungkan untuk menunjuk kearah Minato. Minato hanya memasang wajah datarnya, dia hanya ingin tahu dan ingin melihat apa yang akan dikatakan Naruto saat ini.

"Hahaha, kau jangan bercanda! Melebihi Yondaime Hokage katamu, apa kau tahu dia adalah Shinobi tercepat yang ada diElemental Nation, kau tak akan bisa melampauinya walau dengan namamu yang sama dengannya, bagiku dia adalah Hokage terhebat yang pernah ada bahkan Hokage-jiji tak ada apa apanya dengan dia!" Minato sedikit terperangah saat mendengar jawaban dari Naruto barusan. Namun senyum muncul setelahnya.

Namum...

"Ekhem... Apa yang kau katakan barusan, Uzumaki Naruto?!"

Hening...

Suara angin pun terdengar saat ini, dan sedetik setelahnya...

Hahahahahahaha

Riuh oleh tawa para siswa siswi disana saat mereka mengetahui siapa yang berdiri tepat didepan pintu masuk ruang Akademi ini. Hiruzen Sarutobi, ya dia adalah Hokage Ketiga Konoha yang diberi julukan The Professor. Dia nampak menatap Naruto dengan tatapan tajam yang sangat dibuat buat olehnya, dan Naruto? Wajahnya kini sedikit pucat dengan keringat yang sedikit membasahi tubuhnya.

"Hehehe.. ano.. Jiji, aku ha-hanya bercanda hehehe." Hiruzen hanya menghela nafas saat mendengar alasan yang diberikan Naruto barusan. Dia tahu betul seperti apa sifat bocah ini, ceroboh dengan mulut yang licin. Guru Akademi ini nampak memandang kearah sang Hokage dengan pertanyaan yang terlontar setelahnya.

"Anoo... Hokage-sama, cukup jarang saya melihat anda berada disini, ada keperluan apa?" Hiruzen hanya mengangguk dan berjalan masuk meninggalkan Anbunya yang masih berdiri diluar sana seorang diri. Dia kini berdiri tepat disamping Minato sebelum dia menepuk pundak bocah itu.

"Aku hanya ingin tahu seperti apa hari pertama yang dialami oleh anak ini, Iruka." Iruka nama sang guru, dia nampak mengangguk mengerti akan maksud dari sang Professor ini. Dia pun mempersilahkan Minato untuk mencari bangku yang kosong, tepatnya disamping sang Uchiha penyendiri itu.

Para Kunoichi nampak berbisik bisik saat mendengar maksud sang Hokage berada disini. Mereka tahu benar tak mungkin Hiruzen menyempatkan waktunya datang kemari hanya karena ingin melihat bocah Namikaze itu masuk sekolah untuk pertama kalinya. Selain jika dia memiliki hubungan langsung dengan The Professor ini.

Setelah sedikit berbincang, Hiruzen pergi bersama sang Anbu khususnya. Iruka kini mengalihkan pandangannya kepada Minato yang masih menatap kearahnya tanpa ada sedikitpun perubahan ekspresi, masih tetap dengan senyum tipis disertai sedikit bumbu datar diwajahnya. Iruka pun angkat bicara...

"Minato, ada hubungan apa kau dengan Hokage-sama sampai sampai dia menyempatkan diri pergi kemari sepagi ini?" Minato tahu betul pertanyaan itu pasti akan terlontar kepadanya. Minato berdiri dari kursinya setelah membuang sedikit nafasnya, dan karena pertanyaan dari Iruka barusan, hampir seluruh mata yang ads dikelas ini kini tertuju padanya.

"Bisa dibilang saya adalah sepupu jauh dari Hokage-sama, Iruka-sensei. Paman saya sudah dianggap bagai anak olehnya, namun tidak dengan ayah saya karena beliau sedari kecil sudah pergi dari Konoha untuk mengembara bersama kakek. Dan oleh karena itu saat saya datang kemari beliau sangat terkejut mengetahui jika paman saya memiliki seorang kakak, namun maaf Iruka-sensei, saya tidak bisa memberi tahu nama paman saya dan nama ayah saya, itu perintah langsung dari Hokage-jiji."

Pengendalian ekspresi milik Iruka bisa dibilang sudah cukup baik. Walaupun dia kini tengah dalam keadaan terkejut saat mendengar perkataan bocah tadi dia masih dapat mengontrolnya dengan sangat baik. Jika maksud akan alasan yang dikatakan Minato tadi benar, berarti informasi akan paman dan ayah bocah ini sangatlah rahasia. Sama dengan informasi akan nama ayah Naruto.

"Dasar, kenapa bocah pirang selalu memiliki rahasia besar." Iruka sedikit mengumpat dalam batinnya akibat alasan yang diberikan Minato tadi. Namun dia tak mungkin jika langsung bertanya dengan Sandaime Hokage. Sembilan puluh persen pertanyaan yang menyangkut akan hal tadi pasti tak akan beliau jawab...

"Baiklah, lupakan hal tadi. Hari ini kita akan belajar tentang formasi dan sistem chakra!" Dan pelajaran hari ini pun dimulai dengan desahan bosan bocah bocah disana.

.-.

Bel tanda selesainya Akademi hari ini menjadi suatu pemicu bagi para calon Shinobi dan Kunoichi Konoha berlari berhamburan keluar. Bermain, tentu saja. Saat ini masih siang hari, bahkan belum lebih dari pukul 2 siang, namun bagi beberapa orang saat ini mereka lebih memilih untuk mengasah kemampuan mereka, dan mereka dapat dihitung dengan jari.

Salah satunya seorang bocah yang baru satu minggu di Konoha ini, Namikaze Minato. Dia ingin kembali berlatih mulai usia dini, dia tahu dahulu dia mulai berlatih dalam umur lebih dari 8 tahun, tepatnya tahun kedua saat dia berada di Akademi, itu adalah latihan keras yang baru dia mulai dahulu.

Tujuannya adalah training ground yang berada di sisi Timur Konoha, tempat yang dahulu sering dia gunakan untuk berlatih dahulu. Setelah sampai hal yang dia lakukan pertama adalah pemanasan, beberapa kali dia berlari memutari Training Ground tersebut. Setelah selesai beberapa kali push up dan shit up dia lakukan. Nafasnya kini nampak sedikit berat, berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya.

Namun, konsentrasinya sedikit terganggu saat Minato merasakan sedikit chakra yang tiba tiba muncul tak jauh dari tempatnya berlatih saat ini. Minato tahu siapa yang tengah menontonnya berlatih saat ini, putranya sendirilah orangnya Uzumaki Naruto. Minato yang memang memiliki kemampuan sensor cukup baik dapat mengetahui walau tak pasti siapa yang berada didalam jangkauan sensornya. Namun bagi putra semata wayangnya hal itu bisa sedikit dibedakan.

Minato yang ingin tahu seperti apa reaksi yang muncul saat mengetahui dirinya lebih kuat dari Naruto pun mulai duduk bersila ditengah tengah training ground ini, panas terik matahari dia hiraukan karena dia ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi anaknya ini. Minato pun mengonsentrasikan chakranya. Dan dengan tiba tiba angin disekitar Training Ground ini bertiup pelan, sejuk, santai. Ya itu yang Naruto rasakan saat ini.

Naruto sedikit melihat kesekitarnya, merasakan rasa sejuk dan santai yang dia rasakan saat ini. Saat dia menatap kearah Minato tadi bersila, disana dia melihat Minato yang kembali berdiri dengan kedua telapak tangannya yang dia sentuhkan satu sama lain. Hal tersebut hanya terjadi sebentar. Kini dia mengeluarkan sebuah kertas dari kantung celananya, Minato menatap kertas tersebut sebentar.

Naruto sedikit mengerutkan dahinya, dia keluar dari persembunyiannya dan melompat kearah Minato berada. Minato tahu siapa yang datang dia pun mengalihkan pandangannya kearah Naruto yang kini berjalan kearahnya dengan tangan yang dia lambaikan kearah Minato. Minato tersenyum dan ikut mengangkat tangannya.

"Kau Namikaze Minato bukan?" Minato tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda jika pertanyaan yang dilontarkan Naruto adalah hal yang benar.

"Apa kau juga sering berlatih dipinggir sungai ini? Di Training Ground ini? Jika iya, bagaimana jika kita berlatih bersama, Uzumaki Naruto?" Kening Naruto sedikit mengerut saat mendengar pertanyaan dan ajakan Minato barusan, bukan karena apa yang dia utarakan namun karena Minato mengetahui siapa nama dari Naruto dengan lengkap.

"Jangan bingung seperti itu, aku tahu namamu karena Hokage-Jiji yang memberitahukannya padaku." Hanya anggukan dari Naruto yang menjadi tanggapan atas penjelasan Minato barusan, mereka berdua pun berjalan kearah sebuah pohon yang cukup rindang disisi Selatan Training Ground ini. Sesampainya disana Naruto mulai bertanya.

"Sebenarnya apa yang akan kau lakukan dengan kertas itu?" Minato menatap kearah kertas yang ada digenggaman tangan kanannya saat ini. Minato sejujurnya tahu apa kegunaan kertas ini, namun dia ingin sedikit berpura pura berfikir dengan raut wajah yang dia rubah menjadi seserius mungkin.

"Hokage-Jiji dan Anbunya berkata jika kertas ini dapat mengetahui perubahan chakra kita, tetapi aku sedikir bingung dalam menggunakannya, Jiji bilang jika kita harus mengalirkan chakra yang kita miliki, namun yang aku bingungkan adalah aliran tersebut arus aku keluarkan dari setiap ujung jariku atau seluruh telapak tanganku?"

Naruto tertegun sebentar saat mendengar penjelasan yang Minato katakan barusan. Naruto pun meminta kertas yang berada ditangan Minato barusan, dia pun juga menatap kertas tersebut dan membolak balikkannya beberapa kali. Naruto pun melemparkan tatapannya pada Minato yang kini baru saja mengeluarkan kertas lainnya dari sakunya.

"Mungkin kita harus memegangnya seperti ini..." Naruto memegang dengan menjepitnya dengan jari telunjuknya yang tertekuk serta dengan ibu jarinya. Minato menatapnya, dan Minato tahu jika cara memegang yang ditunjukkan Naruto adalah benar. "...Dan kita harus memfocuskan chakra kita ditelapak tangan namun sedikit diperbanyak pada telunjuk dan ibu jari." Minato mengangguk membenarkan jawaban Naruto.

"Kau cukup genius dari pada saat berada diAkademi." Naruto hanya tertawa kecil mendengar ucapan Minato barusan. Naruto menatap kearah dahan pohon yang berada diatas mereka berdua. Minato sedari tadi menatap Naruto dalam. Sejujurnya dia sangat bahagia saat ini, sangat sangat bahagia karena bertemu dengan anaknya ini.

"Aku hanya ingin mereka melihatku saja dengan cara aku bersifat bodoh dan konyol setiap bersama teman temanku, namun entah kenapa aku harus jujur saat bersamamu, dan juga aku merasakan rasa nyaman saat bersamamu, ano.. ma-maksudku sebagai teman ya seperti itu, seperti saat aku bersama Hokage-jiji itu maksudku."

Minato tertawa saat mendengar jawaban Naruto barusan. Dan Naruto nampak menatap Minato dengan mata yang bingung akan hal yang dilakukan Minato barusan. "Haha, tentu saja kitakan sama sama berambut pirang." Naruto yang mendengar jawaban Minato barusan pun juga ikut tertawa, Naruto mulai tahu dan mulai menyadari jika hampir delapan puluh persen fisik mereka hampir sama.

Beberapa saat mereka terdiam saat tawa mereka selesai. Naruto pun dengan tiba tiba berdiri dan menepuk nepuk celana belakangnya. "Yosh! Ayo kita mulai berlatih bersama -ttebayo!" Minato tersentak saat mendengar kata terakhir yang terlontar dari mulut Naruto, dia jadi teringat dengan teriakan Kushina saat dahulu. Namun dia masih dapat mengontrolnya dengan sangat baik.

"Yosh, ah jika aku boleh tahu apa perubahan chakramu Naruto? Tidak mungkin bukan bocah genius sepertimu tidak mengetahui perubahan chakra yang kau miliki." Naruto terkekeh pelan saat mendengar pertanyaan Minato barusan dengan tambahan tangan kanan yang dia gunakan untuk menggaruk tengkuknya.

"Hehe... aku belum mengetahuinya."

.-.

Malam hari telah kembali di Konohagakure, lampu lampu jalan telah menerangi seluruh bagian penjuru Konoha. Dan kini, dua orang bocah berambut pirang dengan wajah yang hampir mirip tersebut terlihat berjalan bersama dengan tubuh yang kotor. Beberapa kali mereka terlihat tertawa bersama, terlebih lagi saat bocah berambut pirang dengan tiga goresan halus dikedua pipinya mengatakan beberapa lelucon.

Tak terasa mereka kini tengah berdiri didepan sebuah gedung bertingkat disalah satu sisi diKonoha. Bocah berambut pirang bermata coklat tadi menatap lurus kearah atas, tepatnya langai tertinggi digedung tersebut. "Itu kamarku, kapan kapan kau boleh datang kesini semaumu, tapi jika aku ada disini hehehe." Bocah bermata coklat tadi tersenyum mendengar tawaran bocah Uzumaki ini.

"Tentu saja, besok sehabis Akademi bagaimana jika kita langsung pergi berlatih?" Bocah Uzumaki yang diberikan ajakan dari Namikaze muda ini tersenyum lebar dan mengarahkan ibu jarinya lurus kearah wajah Namikaze muda ini. "Tentu saja -ttbayo..." mereka tertawa bersama untuk terakhir kalinya di hari ini.

Namikaze muda tadi beranjak dari tempatnya dengan tangan yang melambai kearah Uzumaki muda tadi. "Sampai jumpa lagi, Naruto!" Uzumaki Naruto, tentu saja dia melakukan hal yang sama dengan Namikaze muda barusan. "Sampai jumpa lagi, Minato!"

Minato yang mendengarnya tersenyum dan mulai berjalan santai dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam kantung celananya, namun sebuah kepulan asap menghadang jalannya. Sudah cukup jauh memang dirinya saat ini dengan posisi Apartemen milik anaknya tadi.

"Minato, Sandaime-sama ingin kau menemuinya di kediaman beliau." Minato tahu siapa Anbu yang menghadang jalannya ini, seorang anbu dari salah satu anbu dibawah bimbingan Sandaime Hokage, Hiruzen Satutobi. Minato mengangguk dan anbu tadi memegang kedua pundak Minato, sedetik kemudian kepulan asap menyelimuti tempat mereka berdua berdiri.

.-.

Di kediaman Sarutobi.

Sebuah kepulan asap muncul beberapa meter di depan kediaman Sarutobi saat ini, dua orang berbeda usia muncul dari balik kepulan asap barusan. Namikaze Minato dan anbu kepercayaan Sandaime Hokage tepatnya. Tanpa basa basi mereka berjalan masuk kedalam rumah pejabat tertinggi Konoha ini.

Tak butuh waktu lama sampai mereka berdua menemukan ruangan yang ditempati oleh Veteran Kage ini. Setelah mengetuk beberapa kali pintu ruangan tadi dan menerima jawaban akan diperbolehkannya masuk mereka berdua, Minato memutar handel pintu tadi. Setelah terbuka disana dapat terlihat Hiruzen yang tengah duduk ditemani secangkir teh hijau serta cerutu yang tak pernah jauh darinya.

"Selamat malam Hokage-sama." Dengan sopan, Minato memberikan salam pada Hiruzen yang hanya tersenyum padanya. Anbu yang tadi membawa Minato datang ketempat ini telah lenyap entah kemana. Jadi, ditempat ini hanya ada Minato dan Hiruzen walau sebenarnya masih ada tiga anbu khusus yang menjaga sang Hokage ini. Anbu yang mendapat jatah Shift malam tepatnya -,-

"Selamat malam Minato-kun, bagaimana latihan pertamamu dengan saudara sepupumu Minato-kun?" Minato hanya tertawa hampar dengan tangan yang dia gunakan untuk menggaruk tengkuk kepalanya. Dia tak dapat menyangkalnya karena dia tahu jikalau disana, saat dia berlatih dengan anaknya ada seorang anbu yang memantaunya beserta Naruto pula.

"Hehehe, cukup baik Hokage-sama. Berkat bantuanmu, aku dan Naruto dapat mengetahui jenis perubahan chakra kami, dan lebih mengejutkan lagi kami berdua memiliki jenis perubahan chakra yang cukup sulit ditemukan di Konoha, elemen angin, yaa... walau aku memiliki dua jenis lainnya."

Hiruzen hanya tersenyum senang mendengar jawaban Minato barusan. Hiruzen tahu jika Minato jujur karena dia menempatkan seorang anbu untuk mengawasinya. Hiruzen pun menuangkan teh hijau miliknya kesalah satu cangkir kosong yang ada diatas nampan dimeja miliknya.

"Duduklah Minato-kun, temani aku minum dan mulailah bercerita." Minato duduk dan lebih memilih menurut akan perintah sang The Professor ini. Pukul delapan malam dia mulai bercerita, tak begitu panjang namun mencakup seluruh hal yang terjadi sedari dia keluar dari kelas di Akademi.

.-.

Pagi hari telah tiba di Konohagakure no Sato, namun cuaca kali ini tak bisa dibilang baik. Sedari waktu yang seharusnya telah memunculkan sang Raja Siang. Namun kini awan hitam tengah menghalau hangat cahaya yang seharusnya menyinari Konoha pagi ini. Para warga yang berjalan disepinggiran jalan Konoha ini bahkan sudah mempersiapkan payung payung digenggaman tangan ataupun didalam tas belanjaan mereka.

Namun tidak dengan bocah pirang yang kini tengah berjalan santai menuju Apartemen milik teman ataupun anaknya. Namikaze Minato berniat pergi keApartemen Uzumaki Naruto dan mengajaknya pergi bersama menuju Akademi. Namun sesampainya dia didepan gedung Apartemen milik anaknya ini, dia melihat seorang bocah yang dia ketahui adalah anak sahabatnya dahulu, Shikaku Nara.

"Nara-san!" Bocah Nara bernama lengkap Shikamaru Nara tadi menolehkan kepalanya kearah dimana asal suara tadi keluar. Dan disana dia dapat melihat seorang bocah laki laki yang baru saja masuk kedalam Akademi kemarin. Dia tahu siapa bocah ini, dan dia mengakui jika dia adalah seorang genius seperti halnya bocah yang baru saja loncat dari lantai tertinggi Apartemen didepan mereka ini.

"Yo... Selamat pagi Shika, Minato!" Minato tersenyum saat mendengar sapaan bocah didepannya ini, dan Shikamaru. Kalian tahu sendiri seperti apa dia, menggaruk tengkuknya dengan ekspresi malas dan ... ngantuk.

"Selamat pagi juga, Naruto." Minato menjawab sapaan anaknya barusan dengan hangat. Setelah berbincang bincang sebentar mereka memutuskan untuk berangkat bersama menuju Akademi, diperjalanan hanya Shikamaru yang sedari tadi diam dengan telinga yang selalu dia pasang guna mendengarkan lebih tajam lagi percakapan dua sahabat barunya ini.

"Aku setuju pendapatmu Minato, ah Shika apa kau setelah ini mau ikut kami pergi ke Perpustakaan desa? Cuaca kurang mendukung untuk kita berlatih, kau juga bisa bermain Shogi disana melawanku atau Minato." Shikamaru yang awalnya kurang tertarik akan ajakan Naruto barusan kini merubah fikirannya saat mendengar kata 'Shogi' barusan.

"Boleh juga, kau tahu scoremu masih jauh dibawahku saat ini." Naruto hanya mendecih kesal mendengar ucapan bernada sedikit sombong dari Shikamaru barusan. Naruto melompat beberapa langkah didepan Shikamaru dengan jari telunjuk yang mengacung lurus didepan wajah bocah ber IQ 200 ini.

"Aku hanya tiga score dibawahmu Nanas Sialan! Kau jangan bangga dulu -ttebayo!" Shikamaru hanya menyeringai kecil saat melihat tingkah sahabatnya barusan, dan Minato. Dia sedikit tertarik akan perbincangan tentang Shogi antara Naruto dan Shikamaru barusan. Dia menjadi teringat saat saat dia melawan Shikaku dahulu, score terakhir mereka Minato dua angka diatas Shikaku. Cukup mengejutkan, keberuntungan seorang Namikaze saat itu.

"Benarkah ? Boleh aku bermain melawanmu, Nara-san?" Shikamaru yang tadi masih berdebat dengan Naruto pun mengalihkan pandangannya kearah Minato yang ... menurutnya dengan percaya dirinya menantang Shikamaru bermain permainan yang sangat dia kuasai. Bahkan hanya Naruto dan ayahnya sajalah yang dapat mengimbangi permainannya. Walau, hanya segelintir orang yang tahu akan kehebatan Naruto.

"Tentu saja, nanti sepulang Akademi kita langsung pergi ke Perpustakaan Konoha." Bukan nada malas yang sering dia keluarkan sekarang ini, namun nada yang terdengar sedikit sombonglah yang Shikamaru tujukan pada Minato. Dan setelahnya, mereka bertiga segera berangkat menuju Akademi dengan diselingi beberapa percakapan dari anak anak genius Konoha.

.-.

SKIP TIME.

Seperti cuaca yang tadi pagi ditunjukkan langit Konoha, hujan deras kini mengguyur seluruh Konoha. Sudah lebih dari dua jam air air berjatuhan dari langit. Jalanan yang beberapa saat yang lalu nampak sepi kini ada beberapa orang yang berlalu lalang dengan masing masing satu payung ditangan mereka. Akademi telah selesai beberapa menit yang lalu, dan beberapa orang tua murid murid disana menjemput anak anak mereka yang pagi tadi tak sempat membawa payunh saat pergi ke Akademi.

Disalah satu jalan, nampak tiga orang bocah yang tengah berjalan dibawah naungan dua payung mereka. Naruto, Minato, dan Shikamaru. Merekalah bocah bocah tadi, sesuai dengan perjanjian mereka sebelum berangkat menuju Akademi, tujuan mereka kali ini adalah Perpustakaan Umum Konoha. Sebenarnya Minato ingin pergi kesana untuk mencari beberapa gulungan Jutsu yang ada disana sesuai dengan perubahan chakranya.

Namun tak hanya itu, dia juga ingin mencari beberapa gulungan yang akan dia gunakan untuk berlatih dengan anaknya ini. Namun, sedikit adu stategi dengan putra Shikaku Nara juga akan dia lakukan. Cukup lama mereka berjalan, kurang lebih lima menit dan kini mereka telah sampai didepan sebuah bangunan yang cukup besar di sisi Barat Konoha, berdekatan dengan bangunan utama Kantor Hokage.

Setelah meletakkan dua payung mereka, Narutolah yang pertama kali masuk kedalam bangunan ini. "Selamat Siang!" Dengan semangat Naruto menyapa seorang petugas Perpustakaan yang sangat dia kenal. Petugas tadi sedikit berjengit kaget akan teriakan bocah tujuh tahun ini, dan...

BRAAK

"Sudah aku bilang jangan berteriak di Perpustakaan Naruto!" Naruto hanya terkekeh pelan menanggapi teriakan dari perempuan berkacamata ini. Dibelakangnya Minato dan Shikamaru hanya terdiam dengan fikiran masing masing... ya masing masing.

"Kau juga berteriak, Akane-san hehe." Perempuan bernama Akane tadi hanya mendecih kesal mendengar tanggapan Naruto barusan. Jika kalian tahu, dia salah satu dari sekian dikit orang yang mengakui keberadaan Naruto di Konoha ini. Dia membalik badannya dan mengeluarkan sebuah kotak yang mereka ketahui adalah sebuah kotak permainan Shogi.

"Sudah sangat lama kau tak datang ke Perpustakaan ini dengan Shikamaru dan sekali kau datang kau membawa seorang blonde lainnya, dan hey... kau mengingatkanku dengan Yondaime-sama waktu dia kecil bocah, siapa namamu?"

Deg...

Minato ingat sekarang siapa perempuan yang sejujurnya masih memiliki fisik seperti umur tiga puluhan tahun ini, walau sesungguhnya dia telah menginjak umur lima puluhan tahun. Dahulu, bibi bernama Akane ini adalah seorang Kunoichi yang mengajar di Akademi untuk beberapa tahun sampai dia di Promosikan menjadi seorang Jounin lalu bekerja untuk Rumah Sakit Konoha. Namun, karena jari telunjuk, ibu jari, dan jari tengahnya terputus dia memilih untuk berhenti menjadi seorang Suster dan Kunoichi.

Setelah itu dia pergi menjadi seorang penjaga Perpustakaan. Minato tahu betul siapa dia, karena dahulu dia juga sering pergi ke Perpustakaan ini untuk mencari informasi tentang Ninja.

"Namaku Namikaze Minato, Akane-san. Maafkan aku jika aku memanggilmu dengan nama depanmu karena aku tak mengetahui siapa nama lengkapmu." Akane, Naruto dan Shikamaru tertawa kecil minus Naruto saat mendengar jawaban Minato barusan. Mereka baru ingat jika Minato baru datang ke Konoha seminggu ini.

"Tak apa bocah namaku hanya Akane, dan kau tak perlu sesopan itu padaku, bahkan tak hanya fisik dan dandananmu yang persis dengan Yondaime-sama, bahkan namamu juga, selain matamu yang berwarna coklat itu." Minato hanya tersenyum kecil dan menerima kotak Shogi yang disodorkan Akane padanya. Setelah berbasa basi sebentar mereka bertiga pergi menuju sebuah meja untuk memulai pertandingannya.

Beberapa menit telah terlewati saat pertandingan antara Minato melawan Shikamaru. Naruto yang tadinya asik membawa sebuah gulungan berisi ajaran pengontrolan chakra kini mengalihkan perhatiannya pada kedua bocah yang tengah bertarung sengit diatas papan Shogi ini. Sangat sangat jarang Naruto melihat Shikamaru yang memasang wajah serius begitu pula dengan Minato, sampai...

TAK!

"Maaf Shikamaru, Tsumi!" Mata Shikamaru sedikit membulat saat Raja yang dia miliki telah berada ditengah tengah perangkap buatan Minato barusan, bahkan Naruto hanya dapat terdiam saat melihat apa yang terjadi di pertandingan antara Minato dengan Shikamaru. Shikamaru membuang nafas panjang dengan punggung yang dia senderkan pada kursi tempatnya duduk saat ini.

"Ck, kau hebat juga Minato." Minato hanya tersenyum dengan tangan yang kembali menata bidak bidak di atas papan Shogi ini. Disisi lain Akane tertawa keras saat melihat kekalahan Shikamaru barusan.

"Haha! Tak kusangka kau kalah dengan bocah itu! Otak Nara milikmu kalah dengan otak Namikaze itu Shikamaru." Shikamaru mendecih kesal saat mendengar perkataan Akane barusan namun kekesalannya menghilang saat Minato mengeluarkan suaranya. "Bagaimana jika kita bermain lagi, kau belum ingin pulangkan?" Shikamaru yang awalnya ingin mengangguk harus dihentikan dengan munculnya seorang laki laki didepan pintu Perpustakaan.

"Sepertinya aku mendengar nama klan Namikaze diucapkan barusan." Semua orang disana mengalihkan perhatian mereka secara bersamaan kearah pintu masuk perpustakaan. Disana berdiri seorang laki laki yang sama persis dengan Shikamaru. Naruto dan Minato tahu siapa laki laki ini.

"Ck, jangan bilang kau mencariku, Otou-san." Shikaku Nara namanya, dia adalah ayah dari Shikamaru Nara yang baru saja menjadi musuh bertanding Shogi dengan Minato. Dan dari mereka semua yang ada disana, hanya Minatolah yang sedari tadi sedikit diam saat melihat Shikaku berjalan kearah mereka bertiga, tentunya setelah memberi salam pada Akane dibelakang meja penjaga Perpustakaan.

"Jadi kau yang namanya Namikaze Minato? Tak kusangka ada bocah yang wajahnya sama persis dengan mendiang Minato." Minato sedikit tertawa gugup saat ditanya oleh Shikaku barusan. Dia berdiri dan membungkukkan sedikit badannya. "Ha'i Nara-san, namaku Namikaze Minato." Shikaku sedikit tersenyum dan menepuk pundak Minato pelan.

"Kau tak perlu seperti itu Minato, seluruh Konoha pun sudah tahu siapa namamu terlebih lagi orang orang yang sebaya denganku, mereka tentunya terkejut saat mendengar namamu yang sama persis dengan mendiang Yondaime." Minato tertawa gugup kembali untuk kedua kalinya mendengar ucapan Shikaku barusan.

"Merepotkan, kenapa kau kemari Tou-san kenapa tiba tiba saja kau datang keperpustakaan ini." Shikamaru tahu betul sifat ayahnya ini, dia pasti tak ingin repot repot datang ke Perpustakaan tanpa ada sesuatu hal yang penting. Shikaku menatap bosan kearah anaknya itu. Dia sedikit menggaruk tengkuk kepalanya dan berdiri menghadap kearah Shikamaru.

"Apa kau tak melihat hujan diluar sana, aku kemari untuk sekedar berteduh dan karena Akane-san menyebut nama Namikaze aku menjadi tertarik untuk bertemu dengan bocah ini." Minato dan Naruto nampak tertawa mendengar ucapan Shikaku barusan, jarang jarang mereka berbicara cukup panjang dengan alasan MALAS.

"Ah.. Shikamaru kau bisa bermain dengan Naruto terlebih dahulu aku ingin membaca beberapa gulungan yang dicarikan Naruto tadi." Shikamaru mengangguk begitu pula dengan Naruto, dan Shikaku dia ikut menonton pertandingan antara anaknya dan Naruto kini. Beberapa saat berlalu, tak begitu sengit pertandingan kali ini, sampai...

"Ck, seriuslah seperti saat kau melawan Minato, Shika!" Shikaku sedikit mengerutkan dahinya mendengar ucapan penuh kekesalan dari Naruto barusan. Sebagai ayah, Shikaku sangat tahu jika anaknya sudah memasang wajah serius pasti akan cukup sulit mengalahkannya dalam permainan didepannya ini, bahkan Shikaku hanya tiga point diatas Shikamaru saat ini.

"Ck, aku masih sedikit kesal karena dikalahkannya, jadi moodku bermain Shogi sedang tidak begitu baik." Shikaku menatap kearah anaknya dengan pandangan tertarik, ia tahu betul hanya ada satu hal yang membuat mood bermain Shogi Shikamaru sampai turun, karena saat dia merasa menang karena tinggal beberapa langkah lagi Raja akan dilahapnya namun keadaan terbalik dengan Raja miliknya yang telah terkena tsumi, dia merasa gagal dalam merancang Stategi dan kalah dengan jebakan musuh.

"Heh, sebegitukah sampai Strategimu kalah dengan jebakan Minato, Shikamaru." Shikamaru menatap tajam ayahnya yang tengah tersenyum mengejek kearahnya, namun hal tersebut hanya terjadi sebentar saat mereka melihat Minato yang datang dengan setumpuk gulungan yang ada di dalam genggaman tangannya, tepatnya dia angkat dengan kedua tangannya.

"Kau serius dengan itu, Minato?" Naruto bertanya dengan nada tak percaya saat melihat ada lebih dari sepuluh gulungan yang tengah Minato bawa saat ini. Namun tanggapan dari Minato hanya kekehan kecil, setelah dia meletakkan gulungan gulungan tadi diatas meja yang berbeda dengan meja yang digunakan Shogi antara Naruto dan Shikamaru, Minato pun duduk disana dengan memulai membuka satu buah gulungan.

"Aku serius, mungkin jika ini tak selesai aku baca aku akan membawa beberapa pulang." Shikaku nampak tersenyum saat melihat Minato membaca sebuah gulungan bertuliskan Control Chakra. Nampaknya dia tahu hal terpenting dalam pengendalian chakra. Disisi lain, Minato yang sebenarnya telah mengetahui seluk belum Control Chakra mulai membacanya lagi, dia hanya ingin menyempurnakan contol chakra miliknya dengan beberapa metode baru yang ada di dalam buku ini.

"Sepertinya menyeimbangkan antara Air dan Pasir ini metode baru, satu tingkat dibawah menghentikan air terjun dan dua tingkat dibawah menyalurkan elemen chakra pada sebatang daun, tapi kenapa hal ini berada satu tingkat diatas melindungi tubuh dengan balutan chakra tipis?" Batin Minato berucap bersamaan dengan fikirannya yang menerawang jauh keatas, dia meletakkan gulungannya dan mengambil posisi berfikir.

Shikaku yang melihat gaya Minato saat ini sedikit mengerutkan dahinya, dia tak menyangka bahwa bocah itu memiliki gaya yang persis dengan Minato dahulu. Minato kink menggulung gulungan tadi dan meletakkan disisi kiri meja didepannya ini dan dia kembali mengambil gulungan yang kini berisi sebuah Taijutsu dasar dari beberapa klan.

Minato membacanya dan dia nampak tertarik, terlebih lagi dengan metode untuk menaikkan ketahanan dan kekuatan fisik yang ada didalam tulisan ini. Dia membacanya cukup lama metode barusan, dan dia telah mengcopynya didalam otak Namikaze miliknya. Dan sekali lagi dia meletakkan gulungan tadi disamping meja tersebut. Membuka yang lain, membaca, dan kembali meletakkan.

Sampai...

BOFT...

"Naruto Uzumaki, ikut bersamaku Sandaime Hokage ingin bertemu denganmu."

.

.

.

.

.

.

To Be Continue...

.

.

Yoo... yooo... saya kembali lagi dengan cerita ini... banyak yang bertanya siapa sih pemeran utama dalam cerita ini, tentu saja Minato dan Naruto walau akan lebih banyak scene Minato yang akan ditampilkan sesuai dengan judul diatas sana... noh atas noh... Namun, Minato akan sering bersama dengan Naruto disetiap scene nya, walau ada beberapa adegan yang hanya Minato sendiri disana ataupun Naruto yang tengah dalam keadaan tanpa Minato.

Untuk beberapa chapter kedepan mungkin belum ada sebuah scene fighting selain dalam latihan antara Naruto dengan Minato... Namun, pertarungan akan muncul didalam beberapa chapter kedepan karena akan saya masukan scene scene pelatihan mereka berdua untuk kedepannya...

Cukup sekian basa basi author yang suka terlambat update ini... Semoga chapter ini lebih baik dari chaptee sebelumnya, dan tentu jangan lupa meninggalkan jejak berupa Review, menerima saran dan kritik...

.

.

~.~ Searfont Graffity Out ~.~