WHEN LOVE BE THE LAST THING
'
Produced By: STIDA.
Special Thanks For: Miidori-chan, EcrivainHachan24, STIDA FORBIDDEN TEARS ART COMUNITY RANDUBLATUNG, Class IX D SMP 1 Randublatung, And Others for giving advice and support
'
Warning: too fast storyline, predictable storyline (if you can guess it), and other that i dont find out it yet.
'
1..2..3
DON'T LIKE, DON'T READ
AND DON'T THROW ANY BAD WORD'S ON REVIEW EXCEPT FOR CRITICISM
note: hiks.. (nangis), uhuk.. (batuk)
"Kok, gue selalu aja mikirin anak itu ya?" kata Rin kepada dirinya sendiri ketika ia sedang bercermin. Memang sih, gak bisa disembunyikan lagi kalo Rin mulai ada "tanda-tanda" sama Len, hanya saja ada si Kaito yang menjadi satu-satunya penghalang bagi Len dan Rin untuk lophe-lophean berdua, jadi ya.. mau gimana lagi.
"Rin!, ada temen kamu yang mampir nih!" panggil ibu Rin dari lantai bawah.
"Iya bu, sebentar." jawab Rin sopan.
dengan langkah lemas Rin menuruni tangga menuju ke teras.
"Pasti Kaito lagi nih, paling mau ngajak malam mingguan, males ah." batin Rin.
"Selamat sore menjelang petang 'princess Rin'." sapa seseorang yang suaranya tak asing di telinga Rin.
"Len?" jawab Rin tak percaya ketika ia melihat Len, ia mengenakan kaos berwarna merah dengan kerah berwarna hitam bertuliskan 'The Best Prince in The World' berpasangan dengan celana 'Jeans' panjang-nya, "Kok lu bisa tahu rumah gue sih?" sambungnya.
"Hehehehe... waktu pulang sekolah tadi gue ngikutin lu." jawab Len santai,
"Oh iya, gue hampir lupa, nih gue beliin jeruk buat lu." sambung Len sambil menyodorkan satu kantong plastik penuh dengan jeruk.
"Wah, makasih ya, lu baik deh." balas Rin dengan senyuman manis yang membuat Len 'sal-ting', tetapi jeruk tadi diambil lagi oleh Len.
"Eh, tapi ada syaratnya." sambung Len, "Lu harus nemenin gue malem mingguan."
"OK!" jawab Rin tanpa pikir panjang dan spontan menyambar kantung plastik yang penuh dengan jeruk itu.
"Gue ganti baju dulu ya." kata Rin sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya, dan entah Rin tidak menyadari atau mungkin sengaja, resleting pada belakang gaunnya terbuka dan menampakkan punggung putih dan mulus Rin / maaf Stida jorok pikirannya *dibanting*
dan secara tidak sengaja Len yang memperhatikan Rin melihatnya dan,... darah pun mengalir deras dari lubang hidungnya.
Setelah 30 menit menunggu, Rin pun keluar menemui Len, ia mengenakan kaos bercorak jeruk dengan tulisan 'number one princess in your heart', dan dengan bawahan celana blue jeans se-*paha*, kok cocok banget sama Len ya...?
"Nana-san, aku pergi dulu ya..." pamit Rin kepada ibunya yang sedang cuci piring.
"Lama banget lu." komentar Len ketika melihat Rin berjalan keluar dari rumahnya.
"Diem lu, atau gak gue temenin malem mingguan." ancam Rin tanpa pikir-pikir dulu.
"Iya-iya... bawel lu." jawab Len sinis
"Eh, keliatannya lu sama Kaito serasi deh." kata len di tengah perjalanan.
"hah... Len, kalo gue boleh jujur ya... gue pacaran sama Kaito, bukan karena cinta" jawab Rin sambil menunduk, yang membuat Len tersentak kaget.
"Lho, terus, atas alasan apa lu pacaran sama Kaito?" tanya Len penasaran.
"Udah ah, gak usah dibahas, capek gue." jawab Rin sinis, dan Len tidak berani bertanya lagi, perjalanan pun dilanjutkan dengan keheningan, sampai...
"Lho? Kaito?" kata Rin pelan, yang sontak membuat Len melihat ke arah yang sama dengan Rin.
"kok dia duduk sendirian sih?" tanya Rin, "iya, kayaknya lagi nungguin seseorang tuh." jawab Len, dan benar saja, seorang wanita berambut sakura datang sambil membawa tas kecil.
"Luka?" kata Len tak percaya, "Kok dia bisa ada disini sih?" sambung Rin. Dan dari kejauhan samar-samar Rin dan Len bisa mendengar apa yang Kaito dan Luka katakan.
"Gimana, jadi kan?" tanya Kaito kepada Luka yang saat itu sudah berdiri didepannya.
"Jadi dong, tapi nanti kalo pacar lu tau gimana?" tanya Luka, "kalo buat gue sih, kagak apa-apa, tapi kalo lu kepergok gimana?" sambungnya.
"alah.. Itu mah urusan gampang, dia gak bakalan tau kok." jawab Kaito dengan santainya.
"kalo gitu ya udah deh, sekarang kita mau kemana?" tanya Luka.
"ke Alun-alun aja yuk." ajak Kaito.
"boleh." jawab Luka singkat, lalu pergi sambil menggandeng tangan Kaito. Sementara itu...
"dasar playboy kampungan." kata Rin menahan tangis "gue udah pernah dikhianati banyak orang, sekarang Kaito juga nghianati gue, gue..." isaknya, yang lalu memeluk Len sambil menangis, len yang menyadari bahwa Rin sedang terluka hatinya memeluk balik dengan erat sambil menenangkan Rin. Hiks..hiks.. huaa... Stida ikutan sedih nih.. *dilempar*
"udahlah, gak penting nangisin orang kayak dia, buat apa lu nangisi orang pengkhianat kayak dia." kata Len mencoba menenangkan Rin.
"hiks..ma..makasih ya Len, gue..hiks..gue gak tau harus gimana sekarang kalo gak ada lu." jawab Rin sambil sesenggukan, tetapi tetap saja ia belum mau melepaskan pelukannya ke Len, Rin ngerasa nyaman ketika berada dalam pelukan Len, dan tiba-tiba muncul sekelompok orang dari belakang mereka berdua.
"Hei!" Bentak salah satu orang tersebut, Len langsung menengok ke belakang sedang Rin masih terisak-isak di pelukan Len.
"Miku, Gumi, Haku, Rinto?" sapa Len.
"eh, Rin lu apain sampe nangis gitu?" Tanya Haku.
"dia,… dia dan gue melihat sendiri kalo… Kaito udah ngkhianatin dia." Kata Len pelan.
"cowok sialan itu udah selingkuh sama Luka, tepat dihadapan gue!" sambung Rin emosi.
"eh, tenang Rin, jangan emosi dulu." Kata Miku yang masih tak percaya.
"padahal tadi pas gue ajak, Luka bilang kalo dia lagi gak enak badan." Sambung Rinto.
"oo… Pantesan, waktu di sekolah tadi, pas gue bilang gue seneng Kaito, dia natap gue dengan tatapan sinis, jadi dia itu selingkuhannya Kaito toh." Miku ikut menambahi.
"kalo gitu lu mending putusin dia aja Rin." Bujuk Gumi.
"iya, sekalian aja kita labrak tuh jerapah bengkak." Sambung Len yang ikut-ikutan emosi.
"tapi jangan sekarang, kita perlu bukti yang lebih banyak." Gumi ikut-ikutan nyerocos kayak detektif.
"alah, biarin aja dulu, lebih baik, lu berdua ikut kita, sekalian malem mingguan." Kata Miku mencairkan suasana
"iya, tadinya sih kita juga mau malem mingguan berdua, ya nggak Ri.. uhuk..." Kata Len kepada Rin, dan spontan Rin menyikut perut Len dengan keras. Dan membuat Miku dan kawan-kawan tertawa dengan keras.
"ciee… Len sama Rin, kalian berdua lophe-lophean ya.." Kata Rinto dan Miku bersamaan, dan bisa ditebak kalo Len sama Rin pipinya udah merah kayak tomat.
"udah ah, ayo jalan." ajak Len kepada mereka semua.
Di tengah perjalanan, Len mendekati Rin yang sedang ngobrol sama Miku, dan Len menahan pundak Rin sehingga mereka agak terpisah dari rombongan.
"ssttt, Rin." bisik Len kepada Rin.
"apa?" tanya Rin sambil berbisik.
"minggu depan kita malem mingguan lagi yuk." ajak Len.
"asal gak papasan sama si jerapah bengkak itu lagi." jawab Rin asal, dan riuh tawa mereka berdua membuat Miku, Rinto, Haku, dan Gumi bingung, dan akhirnya juga ikut-ikutan ketawa.
Hahahaha, malam minggu yang berwarna bagi Rin dan Len, ya… hanya mereka berdua.
