Red & Blue Drabble
Genre : Romance, Yaoi, Fantasy, Supernatural
Rate : M
Length : 4.903 Words
Warning : OOC, Gaje, alur cepat (siapa tahu =_=), Sho Ai, summary berubah seiring dengan chapter-chapter lainnya, EBI tak sesuai, dll
Pairing : AkaKuro (Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya)
Disclaimer : Characternya milik Tadatoshi Fujimaki-san. Saya hanya pinjam karakternya Cuma buat kesenangan baik pribadi maupun readers
Prompt : Kisah cinta yang berhubungan dengan fantasy dan supernatural
Summary : Akashi Seijuurou adalah nekomata yang selalu sendirian dan suka duduk di atas dahan pohon sakura bertemu dengan Kuroko Tetsuya yang merupakan nekomata seperti dia. Namun Kuroko adalah pembunuh bayaran dan dia melakukannya demi bertahan hidup sehingga dia tidak tahu apa artinya cinta. Berhasilkah Akashi menaklukan hati Kuroko? Lihat saja di TKP #FID_8.
"aaaaaaa" (Percakapan biasa)
("aaaaaaa") (Berkata dalam hati)
"aaaaaaa" (Flashback)
Bacotan : Uhuy, Shinju Hatsune kembali lagi :3. Kali ini ficnya berceritakan tentang si penyendiri dan sipembunuh. Terbalik? Pastinya iya. Tapi, kalau terbalik begini rasanya gimana gitu #Shinjusudah. Oke, sampai disini bacotan ane. Btw, siapin tisu sebelum membaca karena ini R18 dan kemungkinan bakal ada MPreg. Khusus buat tanggal 7 September yang merupakan hari kedua dari FID dan DLDRADF (Don't Like Don't Read And Don't Flame).Langsung saja ke TKP.
Akashi Seijuurou : 300 tahun (Fisik mirip orang 23 tahun)
Kuroko Tetsuya : 290 tahun (Fisik mirip orang 21 tahun)
10 tahun kemudian
Akashi Seijuurou : 400 tahun (Fisik mirip orang 33 tahun)
Kuroko Tetsuya : 370 tahun (Fisik mirip orang 31 tahun)
Chapter 2 : Tales of The Loner and Assassin Nekomata
Ada yang tahu Nekomata itu apa? Nekomata adalah metamorphosis dari kucing peliharaan dan merupakan makhluk mitologi dari jepang yang konon katanya kucing bisa berubah menjadi nekomata itu karena dia sering disiksa oleh pemiliknya makanya berubah menjadi nekomata. Nekomata memiliki kemampuan yang bisa menghidupkan orang mati, umurnya tidak pernah tua alias abadi, dan bisa menghidupkan orang mati atas kehendaknya sendiri juga mengontrol kematian tersebut dengan cara menggoyangkan 2 ekornya maupun gerakan kaki depannya. Dan yang lebih parahnya lagi Nekomata itu memakan mayat orang yang dibencinya, biar pemiliknya lebih kejam, maka nekomata akan semakin sadis.
Oke sampai disitu penjelasan tentang nekomata. Kalian tidak percaya nekomata masih ada di zaman meiji? Pasti kalian tidak nyatanya masih ada nekomata di zaman meiji dan contohnya adalah nekomata yang sangat suka tidur di atas dahan pohon sakura sendirian. Nekomata yang suka tidur di pohon sakura itu adalah Akashi Seijuurou. Dia mengenakan yukata hitam, obi merah, haori (1) merah yang dibelakangnya ada tulisan "赤司(2)"di punggungnya,tabi dan zoji (3). Jangan lupa dengan telinga kucing berwarna merah di atas rambut deep crimson dan memiliki 2 ekor kucing di bagian pantatnya, warna matanya deep crimson-gold dan senang sekali menyendiri juga sangat suka melempar gunting kesayangannya ke orang-orang yang berani mengusik ketenangannya.
Akashi itu sama sekali tidak tertarik dengan bersosialisasi. Meskipun dia memiliki otak jenius dan bisa melakukan apa pun tetap saja dia tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Jadinya, dia lebih baik menyendiri sambil tidur di atas pohon sakura. Saat itu Akashi sedang melihat keadaan di atas pohon sakura hingga dia melihat nekomata yang sama sepertinya hanya saja dia berwarna baby blue.
Dia memakai yukata berwarna putih, obi biru muda, zoji dan tabi juga ada pedang yang berada di pinggangnya dan dia memiliki rambut, mata, telinga kucing dan 2 ekor kucing berwarna baby blue juga kulitnya putih seperti susu. Akashi merasa takjub melihat keindahan yang dimiliki oleh pria tersebut. Merasa ada yang melihat, pria itu melihat di atas pohon sakura.
Dia pun langsung terpana melihat paras pria tampan itu. Dia melihat telinga dan ekor bahkan warna rambut itu sama-sama berwarna deep crimson. Yukata hitam, obi merah, haori merah, tabi dan zoji, seakan cocok dengan penampilannya. Bahkan yang dia lebih tertarik lagi adalah warna mata yang saling bertentangan antara deep crimson juga gold. Mereka bertatapan satu sama lain.
Deep crimson-Gold meet Baby Blue.
Mereka saling bertatapan dan saling mengagumi. Hingga Akashi turun dari pohon Sakura kemudian menghampiri pemuda yang memiliki rambut secerah langit musim semi tersebut.
"Ini menarik. Baru kali ini aku bertemu pemuda sepertimu disini. Namaku Akashi Seijuurou. Namamu?" Kata Akashi memperkenalkan dirinya.
"Kuroko Tetsuya. Salam kenal, Akashi-kun." Kata pemuda bernama Kuroko memperkenalkan dirinya. "Haori itu kau dari klan Akashi?" Tanya Kuroko. Akashi kaget dan dia tersenyum ke Kuroko.
"Kalau iya memangnya kenapa?" Tanya Akashi.
"Hanya menebak dan ternyata aku benar." Jawab Kuroko. "Lagian buat apa kau ada diatas pohon Sakura? Memangnya kamu tidak bosan apa?" Tanya Kuroko. Akashi mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menatap Kuroko.
("Baru kali ini ada yang berani bicara padaku seperti itu. Ini akan menjadi menarik.") Kata Akashi lalu dia menjawab pertanyaan dari Kuroko.
"Aku sangat suka tidur di atas sana. Terutama di saat musim semi seperti ini dan aku paling benci diatur sana sini oleh keluargaku apalagi aku adalah pewaris sekarang yang menggantikan ayahku yang sudah lama meninggal." Kata Akashi.
"Aku turut berduka atas kematian ayahmu." Kata Kuroko.
"Tak apa. Toh, dia sudah tenang disana." Kata Akashi. "Ngomong-ngomong, kenapa kau selalu membawa pedangmu saat jalan-jalan? Apa tidak berat?" Tanya Akashi. Kuroko hampir berjengit kaget jika saja kalau dia tidak memasang wajah datarnya. Kuroko langsung menjawab pertanyaan dari Akashi.
"Aku membawanya hanya untuk melindungi diri dan pedangnya juga tidak berat. Karena aku sudah biasa membawanya." Kata Kuroko. Jawabannya setengah bohong setengah jujur. Yang bagian bohong itu adalah dia sedang membawa pedan untuk menjaga-jaga saat ada misi datang menghampirinya dan yang bagian jujur itu adalah Kuroko memang sudah biasa membawa pedang yang dikaitkan di pinggangnya. Akashi hanya bisa mengiyakan jawaban Kuroko. Karena dia tahu ada yang Kuroko sembunyikan darinya.
"Oh jadi begitu rupanya." Kata Akashi lagi. "Oh ya, Tetsuya. Kau mau menjadi temanku? Aku tidak punya teman semenjak aku tidak pandai bersosialisasi. Kau mau, kan?" Kata Akashi. Entah Akashi bilang begitu ke Kuroko. Akashi yang penyendiri itu mau berteman? Kalian tidak salah dengar maupun baca. Akashi mungkin sudah menemukan kenyamanan tersendiri saat dia berbicara dengan Kuroko. Kuroko yang mendengarnya pun tersenyum sambil menatap wajah Akashi.
"Aku mau berteman denganmu." Kata Kuroko tersenyum dan Akashi merasa ada panah cinta di dadanya. Jantungnya mulai berdebar dengan kencang hanya melihat senyuman Kuroko. Akashi mengesampingkan hal itu dan mereka berdua pun berteman.
Sudah lebih dari 1 tahun mereka bertemu juga berteman. Akashi dan Kuroko saling akrab satu sama lain. Namun, Akashi merasa ada rahasia besar yang Kuroko sembunyikan darinya. Tapi, Akashi tidak ingin memaksa Kuroko untuk mengatakannya.
("Cepat atau lambat dia akan mengatakan rahasianya padaku") Pikir Akashi dalam hati. Akashi sangat sering membawa buku keluar dari rumahnya. Kadang dia berikan bukunya ke Kuroko kadang mereka baca bersama-sama. Perasaannya ke Kuroko semakin hari semakin membesar bagaikan bunga yang sedang mekar.
Namun, dia mulai mencurigai Kuroko. Kuroko kadang sering pergi tanpa pamit juga kadang dia membuat alasan yang tidak jelas. Seperti pada hari ini.
"Akashi-kun maaf aku tidak bisa hari ini." Kata Kuroko.
"Kenapa Tetsuya?" Tanya Akashi.
"Aku ada panggilan dari ayahku bahwa nenekku lagi sakit sekarang." Kata Kuroko. Akashi merasa ada yang tidak beres dari ucapan Kuroko. Namun dia menerima kebohongan itu dan dia mulai menjawabnya.
"Begitu. Semoga nenekmu bisa segera sembuh." Kata Akashi.
"Iya." Kata Kuroko datar kemudian dia pun pergi meninggalkan Akashi. Akashi memutuskan untuk mengikuti Kuroko. Dia membawa pedang dan menaruhnya di pinggangnya sama seperti Kuroko. Lalu, dia pun berlari mengejar Kuroko dengan diam.
Akashi bersembunyi di balik tembok dan dia melihat Kuroko menggantikan yukata yang biasa dia pakai dengan baju ninja berwarna hitam, memakai masker hitam yang menutupi mulut dan hidungnya, syal hitam bahkan sepatu yang tingginya hanya sampai setengah betis. Dia mengambil pedangnya dan menaruhnya di pinggangnya.
Baru kali ini Akashi melihat penampilan Kuroko bagaikan ninja dan tetap dia terlihat cantik saat menggunakannya. Kuroko merasa ada yang mengintainya dari belakang pun menoleh ke belakang. Namun, Akashi sudah duluan sembunyi di balik tembok.
"Ini hanya perasaanku saja." Gumam Kuroko. Kemudian dia melipat yukatanya dan menaruhnya di dalam rumah begitu juga dengan zoji dan tabi miliknya. Lalu, dia pun berlari lumayan cepat. Akashi tidak mau kehilangan jejak Kuroko lalu dia pun ikutan berlari meskipun dia harus sembunyi-sembunyi.
("Tadi itu hampir saja ketahuan. Kalau tidak, aku yakin Tetsuya pasti tidak mau bertemu denganku lagi.") Kata Akashi dalam hati masih sembunyi kemudian dia lari mengikuti Kuroko. Kuroko pun berhenti melihat target yang akan dibunuhnya sedangkan Akashi sembunyi di balik pepohonan itu.
Akashi bisa melihat kilat mata Kuroko yang lembut berubah menjadi dingin. Dan dia pun melawan 10 orang yang menjadi targetnya dengan mudah. 2-3 orang pun terbunuh hingga akhirnya Kuroko membunuh semua orang dengan pedangnya. Dia pun mulai mengibaskan pedangnya satu kali ke arah kiri untuk menyingkirkan sisa darah tersebut.
Akashi baru tahu Kuroko adalah pembunuh bayaran. Kuroko yang merasa ada mengintip kegiatannya mulai mendelik tajam bagi orang yang bersembunyi di balik pepohonan itu.
"Siapa disana? Keluar dan tunjukkan dirimu atau kau kubunuh di tempat." Kata Kuroko datar namun suaranya sangat dingin. Akashi kemudian muncul di hadapan Kuroko kemudian mendatanginya. Kuroko langsung menatap Akashi dengan kaget.
"Aka… Shi-kun…" Kata Kuroko terbata-bata saking kagetnya sedangkan Akashi tetap menatap Kuroko seperti biasa namun di balik tatapannya itu dia butuh yang namanya penjelasan.
"Ya, ini aku Tetsuya." Kata Akashi. "Kenapa kau sembunyikan hal ini dariku? Aku mau penjelasan darimu sekarang." Kata Akashi yang kali ini dengan nada kecewa. Kuroko hanya mengangguk dan menyuruh Akashi untuk datang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Kuroko yang sederhana itu, Akashi pun masuk dan duduk dengan tenang yang ditemani oleh meja yang masih tetap diam di tempatnya. Sedangkan Kuroko membuat teh hijau untuk Akashi dan dirinya. Setelah jadi, dia menaruh teko yang isinya teh hijau dan 2 gelas di atas baki dan mulai mendatangi Akashi.
Kuroko mulai menuangkan teh tersebut ke dalam 2 gelas tersebut. Kemudian dia pun memberikannya ke Akashi. Akashi kemudian meminumnya dengan tenang begitu juga dengan Kuroko. Setelah mereka berdua selesai minum dan menaruh lagi gelas mereka di meja, Akashi mulai membuka suaranya.
"Teh hijau buatanmu sangat enak, Tetsuya. Sekarang kau mau menjelaskan ini semua?" Kata Akashi memuji juga meminta penjelasan secara bersamaan di hadapan Kuroko.
"Terima kasih. Aku senang kau menyukainya, Akashi-kun. Baiklah, aku akan jelaskan tentang siapa diriku yang sesungguhnya. Aku adalah pembunuh bayaran yang memiliki julukan yaitu Shadow Demon Cat Assassin. Karena, aku sering menyembunyikan identitasku dan hawaku yang terkenal tipis itu menyebabkan sebagian orang tidak tahu siapa diriku yang sesungguhnya.
Juga aku bagaikan bayangan yang terkena cahaya dan itu yang terjadi sama seperti yang kau lihat. Aku membunuh mereka dengan cepat." Kata Kuroko dan Akashi tetap setia mendengarkan penjelasannya.
"Dari kecil, aku sudah di latih untuk menjadi pembunuh karena demi bertahan hidup juga keluargaku membutuhkan uang meskipun mereka menjadi pembunuh termasuk aku juga. Gara-gara itu juga aku tidak punya waktu untuk menikmati masa kecilku yang bahagia. Masa kecilku itu sangat gelap, penuh darah yang ada di kedua tanganku ini." Kata Kuroko sambil menatap kedua tangannya. "Tanganku ini sudah banyak darah. Tidak peduli aku membersihkannya sampai bersih, bau darah masih saja ada." Kata Kuroko sambil mengepalkan kedua tangannya. Akashi memegang kedua tangan Kuroko kemudian menatapnya dengan lembut.
"Tidak peduli seberapa kotornya dirimu, tanganmu ini berhasil menyelamatkanku." Kata Akashi.
"Apa maksudmu?" Tanya Kuroko.
"Maksudku tanganmu ini yang meraihku untuk berteman dengan nekomata sepertimu. Dari kecil saja aku tidak memiliki teman hingga aku bertemu denganmu dan berteman denganmu. Tanganmu yang rapuh ini berhasil menarikku dari pohon sakura yang selama ini merupakan tempat untuk melampiaskan kesedihanku." Kata Akashi.
"Akashi-kun. Kau tetap mau berteman denganku meskipun kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya?" Tanya Kuroko.
"Tentu saja. Tapi, kurasa aku butuh lebih dari sekedar berteman." Kata Akashi kemudian dia melepaskan kedua tangan Kuroko dengan pelan.
"Hah? Maksudmu?" Kata Kuroko datar tapi tidak peka. Akashi mulai menjawab pertanyaan dari Kuroko.
"Aku ingin kita menjadi sepasang kekasih. Aku tidak peduli kau laki-laki maupun pembunuh bayaran. Aku tetap menerimamu apa adanya." Kata Akashi menyatakan perasaannya. Kuroko mulai mengerjapkan kedua matanya dan dia mulai membuka suaranya.
"Aku sudah tidak bisa merasakan cinta dari seseorang. Semenjak kedua orang tuaku juga nenekku meninggal, hidupku menjadi hampa tanpa cinta sama sekali. Jadi, aku tidak yakin apa aku bisa membalas perasaanku ini terhadapmu." Kata Kuroko datar namun dengan nada sedih. Bukan Akashi Seijuurou namanya kalau dia tidak menyerah untuk meraih apa yang dia dapatkan. Dia pun mulai menatap Kuroko penuh percaya diri.
"Kalau begitu, akan kubuat kau jatuh cinta padaku." Kata Akashi.
"Oh ya? Kalau kau memang berhasil, maka aku akan menjadi milikmu seutuhnya." Kata Kuroko.
"Tentu saja. Karena ucapanku adalah absolute. Dan aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku ini, Tetsuya." Kata Akashi sedikit menyeringai dan Kuroko membalasnya dengan senyuman lembut.
Kuroko memiliki persepsi bahwa Akashi akan menarik kembali ucapannya. Namun, dia salah besar. Akashi tetap melakukan apapun untuk membuat Kuroko jatuh cinta padanya dan terkadang ada sedikit pemaksaan dalam melakukannya. Perasaan Kuroko mulai tumbuh dan mekar di saat hubungan mereka berdua semakin berkembang.
Kuroko saat ini duduk di bawah naungan pohon sakura dan tidak lupa dengan syal berwarna biru mudanya. Karena, angin di bulan april semakin hari semakin dingin dan Kuroko paling lemah terhadap cuaca dingin. Kuroko sudah memutuskan untuk mengakhirinya dengan memberikan jawabannya ke Akashi. Akashi melihat Kuroko duduk sendirian di bawah pohon sakura itu mendatanginya dan duduk di sampingnya.
"Apa yang kau pikirkan, Tetsuya?" Tanya Akashi. Kuroko menoleh melihat Akashi kemudian dia pun melihat ke langit.
"Lagi memikirkan sesuatu." Kata Kuroko sambil melihat ke langit.
"Contohnya?" Tanya Akashi. Kuroko mulai menatap Akashi dengan lembut meskipun wajahnya tetap datar seperti biasanya.
"Contohnya adalah bagaimana kau tidak menyerah untuk menaklukan hatiku juga aku memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan kepadamu." Kata Kuroko.
"Jawaban tentang perasaanmu, kah? Berarti kau sudah tahu apa yang kau jawab." Kata Akashi.
"Sepertinya begitu." Kata Kuroko. "Baiklah. Aku akan memberikan jawabanku untukmu. Aku sudah jatuh cinta padamu dan perasaanmu yang tertuju padaku memang murni untuk pembunuh bayaran sepertiku. Tapi, aku masih bisa menerima kau ada di hidupku." Kata Kuroko sambil tersenyum lembut.
"Kau mau menerimanya?" Kata Akashi sambil membelai pipi kiri Kuroko.
"Aku mau menerimanya. Meskipun aku harus berhenti menjadi pembunuh bayaran." Kata Kuroko menyengir ke Akashi.
"Itu lebih baik daripada kau harus mengotori tanganmu terus menerus." Kata Akashi tersenyum lembut kemudian dia mengecup lembut bibir Kuroko. Kuroko menutup matanya dan membalas ciuman Akashi. Kemudian Akashi melepaskan bibirnya dari bibir Kuroko.
"Bibir Tetsuya memang manis seperti vanilla." Kata Akashi dan itu membuat Kuroko menundukkan wajahnya ke arah rumput untuk menyembunyikan wajah merahnya. Akashi hanya tertawa kecil dan menarik pelan wajah Kuroko lalu dia mencium bibirnya lagi.
Kali ini ciumannya lebih panas. Akashi menciumnya dengan ganas. Dia menggigit lidah Kuroko sekaligus menghisapnya dengan lembut. Kuroko memberikan akses ke Akashi agar bisa menjelajahi mulutnya lebih dalam lagi. Kuroko memeluk leher Akashi dengan kedua tangannya. Desahan dalam bibir Kuroko terkadang lolos dari bibir Kuroko yang masih terkunci dengan bibir Akashi. Lalu, Kuroko mulai memukul dada Akashi dengan kedua tangannya seakan dia kehilangan oksigen. Akashi mulai melepaskan bibirnya dari bibir Kuroko dan meninggalkan seuntas benang saliva di kedua bibir mereka. Akashi kemudian menjilat sisa saliva Kuroko dengan lidahnya. Kuroko merasa sedikit panas akibat ciuman Akashi.
"Ada apa Tetsuya?" Tanya Akashi.
"Umm, aku tidak tahu tapi aku merasa sedikit panas." Kata Kuroko. Akashi tahu gejala ini. Kuroko dalam masa In Heat (4). Tapi, yang paling di herankan Akashi adalah kenapa Kuroko bisa In Heat hanya gara-gara French Kiss darinya? Akashi hanya bisa mengesampingkan hal itu dan segera menggendong Kuroko ala bridal style menuju ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar Akashi, Akashi menurunkan Kuroko dengan pelan di atas Futon (5). Untungnya, insting Akashi selalu benar dan dia sudah mempersiapkan Futon sejak awal. Akashi melihat wajahnya memerah, napasnya semakin panas, juga dia melihat kejantanan milik Kuroko semakin mengeras. Kuroko pun mulai berbicara ke Akashi.
"Aka… Shi-kunh… Tolong aku… Rasanya panas sekali…" Kata Kuroko di selingi desahan tersebut. Kata-kata dari Kuroko itu meruntuhkan pertahanan Akashi untuk tidak menerjang Kuroko.
Akashi mulai mencium bibir Kuroko dengan ganas sambil membuat Kuroko dalam posisi duduk dan melepaskan obi biru muda milik Kuroko. Dia melempar obi itu juga menaruh pedang milik Kuroko di belakang futon tersebut dan giliran yukata putih milik Kuroko yang di lempar sembarangan. Tinggal badannya yang seputih susu juga cawat putihnya yang di baliknya kejantanan Kuroko yang masih menegak.
Setelah ciuman panas mereka, kali ini bibir Akashi mengalih ke leher Kuroko kemudian mengecupnya lalu menggigit lembut leher Kuroko dan meninggalkan beberapa kissmark di leher Kuroko begitu juga dengan bahu Kuroko.
"Aka… Shi-kunh… Ah…" Desah Kuroko.
Bibir Akashi mengalih ke dada bidang milik Kuroko. Dia memainkan nipple berwarna pink itu dengan jari telunjuk dan jempolnya. Lalu dia menjilat dan menghisap nipple itu secara bergantian sambil melepaskan cawat milik Kuroko dan di lemparnya dengan sembarangan. Kuroko mulai melepaskan obi milik Akashi dan di lemparnya begitu saja hingga setengah badannya pun terekspos. Akashi melepaskan bibirnya dari nipple Kuroko kemudian dia mulai bicara dengan Kuroko.
"Aku tidak menyangka kau begitu agresif." Kata Akashi menyeringai.
"Hah… Habis… Hah… Ini tidak adil namanya… Hah… Masa aku saja… Hah… Yang telanjang… Hah… Sedangkan kamu tidak… Hah…" Kata Kuroko mendesah.
Mendengar jawaban dari Kuroko tersebut membuat Akashi tertawa tapi dia tidak bisa menahan tawanya dan akhirnya dia tawa lepas.
"Apanya… Yang lucu…?" Kata Kuroko mendesah.
"Jawabanmu itu memang tidak terduga. Makanya aku ketawa." Kata Akashi masih tertawa dan dia pun berhenti tertawa. "Baiklah, aku melepaskan semua pakaianku demi Tetsuya." Kata Akashi dan benar saja Akashi melepaskan yukata dan cawatnya sekaligus melemparnya sembarangan. Akashi pun telanjang sama seperti Kuroko.
Kemudian Akashi mendekat ke Kuroko begitu juga dengan Kuroko. Akashi mengambil kejantanan Kuroko begitu juga dengan Kuroko. Jari mereka bertaut bersamaan dengan kejantan mereka kemudian dikocok dengan irama yang sama.
"Ah… Tetsuya… Shhh…" Desah Akashi keras.
"Ah… Akashi-kun… Ah…" Dessah Kuroko dengan tidak kalah keras.
"Nama kecilku… Panggil nama kecilku…" Desah Akashi sambil meminta Kuroko untuk memanggil nama kecilnya.
"Ah… Seijuurou-kun... Seijuurou-kunh..." Desah Kuroko menuruti perintah Akashi.
Mereka mendesah memanggil nama pasangan mereka kemudian mereka berdua sama-sama mencapai puncak atau yang biasa disebut dengan klimaks.
"Ash... Tetsuya... Aku mau keluar... Ssshh..." Desah Akashi.
"Ah... Seijuurou-kun... Aku juga... Ahhh..." Desah Kuroko.
"AAAAHHH!" Desah Akashi dan Kuroko secara bersamaan mencapai klimaks dan kejantanan mereka berdua telah menyemburkan sperma dari kejantanan yang mengenai tautan tangan, dada bidang juga wajah mereka. Mereka saling menjilat tangan, dada bidang, juga wajah pasangan mereka. Kemudian mereka pun berciuman dengan rakus dan mereka menciptakan seuntas benang saliva.
Akashi mulai memainkan kedua ekor Kuroko dengan kedua tangannya sambil menggigit telinga kucing Kuroko di bagian kiri. Kuroko kaget karena perbuatan Akashi sekaligus mendesah sekaligus menyukai sentuhan dari Akashi.
"Ah... Seijuurou-kun... Seijuurou-kun..." Desah Kuroko sambil memeluk leher Akashi. Akashi tetap memainkan kedua ekor juga telinga milik Kuroko. Hingga Kuroko merasa bahwa dia mau keluar lagi.
"Seijuurou-kun... Aku mau keluar... Myaaaa~~..." Desah Kuroko dan kejantanannya mulai mengeluarkan sperma yang mengotori perut mereka berdua. Akashi membaringkan Kuroko dengan perlahan dan beralih ke lubang Kuroko kemudian menjilatnya dengan lidahnya.
"Aaahh... Seijuurou-kun..." Desah Kuroko sambil menjambak rambut Akashi. Setelah membuat lubang Kuroko basah, dia pun memasukkan satu jarinya di lubang Kuroko.
"Ahh... Sakit..." Desah Kuroko berjengit dan Akashi menghentikan aktivitasnya kemudian dia mencium Kuroko dengan lembut dan basah untuk menenangkan Kuroko sambil memainkan satu jarinya di dalam. Kuroko sudah mulai terbiasa hingga jari kedua dan ketiga miliknya masuk ke dalam lubang Kuroko.
"Ahn... Di situ... Yah..." Desah Kuroko sekaligus berjengit karena Akashi menemukan titik kenikmatannya. Dia mulai memasukkan kejantanannya di dalam lubang Kuroko dengan satu kali masuk. Akashi menunggu Kuroko tenang terlebih dahulu. Merasa Kuroko sudah tenang Akashi kemudian menggerakkannya dengan pelan namun makin cepat waktu berlalu makin cepat gerakannya.
Kuroko merasa dia begitu gila. Dimulai dari ciuman dari Akashi, sentuhan dari Akashi, bahkan ditusuk oleh Akashi, benar-benar membuatnya gila dan dia merasa dia terbang ke dunia ketujuh.
Akashi juga merasa dia begitu gila. Dimulai dari desahan dari Kuroko, manisnya sekaligus memabukkan dari bibir Kuroko bagaikan Sake (6) dicampur rasa vanilla, juga lubang dan dinding rektum milik Kuroko memanjakan kejantanan Akashi dari dalam seakan kejantanannya dilahap habis oleh lubang rektum itu.
Kecapan basah dari bibir yang saling bertautan, saling tusuk maupun ditusuk, bahkan mendesah nama kecil dari pasangan mereka hingga suara mereka hampir mau habis. Udara musim semi tidak mereka hiraukan dan itu pun di gantikan oleh adegan panas nan erotis yang berasal dari sang nekomata yang suka menyendiri dan sang nekomata yang diketahui profesinya adalah pembunuh bayaran tersebut. Desahan tiada henti-hentinya hingga Akashi menemukan titik kenikmatan dari sang nekomata pembunuh bayaran tersebut.
"Ahh... Seijuurou-kun... Di sana... Aah..." Desah Kuroko.
"Apa di dalam sini, Tetsuya?" Tanya Akashi sambil menusuk Kuroko juga berdesah.
"Ah... Ya itu... Lebih cepat... Hentakkan aku dengan keras... ngghh..." Desah Kuroko yang secara tidak langsung memberikan perintah ke Akashi.
"Dengan senang hati, Tetsuya sayang." Kata Akashi mendesah. Dan benar saja Akashi menusuk Kuroko sangat cepat dan menghentakknya dengan keras. Hingga kejantanan Kuroko mulai membengkak seakan dia mau mencapai puncaknya.
"Ah... Aku mau keluar... Seijuurou-kun..." Desah Kuroko.
"Kebetulan juga aku mau keluar." Kata Akashi. "Aku akan mengeluarkan benihku di dalam Tetsuya. Membuatmu basah dan lengket hingga tumpah keluar. Saat itu juga kau akan jadi milikku." Kata Akashi tersenyum ke Kuroko.
"Tentu saja, karena aku adalah milikmu... Ssshh... Aaah... Seijuurou-kun..." Desah Kuroko dan Akashi semakin bergairah kemudian menghentaknya. Hingga sekali lagi hentakkan mereka berdua klimaks secara bersamaan.
"Aaahh... NYAAA!" Desah Kuroko sambil mendongak kepalanya juga menutup matanya dan memeluk Akashi sambil merasakan sperma yang begitu panas di dalam perutnya sekaligus memuncratkan spermanya mengotori perutnya dan dada bidangnya.
"Aku mencintaimu... Tetsuya..." Desah Akashi sambil menembakkan spermanya di dalam perut Kuroko memeluk pinggang Kuroko dengan erat. Lalu, mereka berdua pun ambruk secara bersamaan. Akashi mengeluarkan kejantanannya di dalam lubang rektum milik Kuroko.
"Aku juga... Seijuurou-kun. Aku mencintaimu." Kata Kuroko memeluk Akashi sambil tersenyum lembut. "Aku senang aku melakukan in heat dan bercinta denganmu, Seijuurou-kun." Kata Kuroko kemudian mencium pipi kiri Akashi. Akashi kaget saat itu dan dia mulai tersenyum ke Kuroko.
"Bercinta dengan Tetsuya memang terbaik." Kata Akashi tersenyum. Kuroko mulai memeluk Akashi sambil menyembunyikan wajah malunya. Akashi kemudian mencium ubun-ubun Kuroko dan Kuroko mulai menatap Akashi dengan datar namun dia minta pertanggung jawaban.
"Seijuurou-kun harus tanggung jawab denganku." Kata Kuroko.
"Tentu saja. Aku mau bertanggung jawab. Tapi, tunggu anak yang ada di kandungmu itu lahir ke dunia." Kata Akashi tersenyum sambil membelai rambut Kuroko.
"Kau janji, kan?" Tanya Kuroko.
"Ya. Karena, keluarga Akashi tidak pernah mengingkari janji yang sudah di buat." Kata Akashi. Tanpa mengucapkan selamat tidur mereka pun tertidur lelap akibat aktivitas bercinta mereka yang panas dan erotis tersebut.
10 Years Later
Kuroko Tetsuya atau Akashi Tetsuya sedang melakukan hanami (7) bersama dengan suaminya Akashi Seijuurou dan juga keempat anak-anaknya. Dua anak laki-laki kembar dan dua anak perempuan kembar juga mereka berdua sama-sama fraternal.
Akashi Kazuya merupakan putra pertama sekaligus yang paling tertua dari Akashi Seijuurou dan Akashi Tetsuya itu memiliki bentuk wajah, bentuk mata, warna rambut, 2 ekor kucing juga telinga kucing warna merah yang persis seperti Akashi. Sifatnya dan hawanya normal sama seperti Akashi yang membedakannya adalah warna matanya antara baby blue-gold.
Akashi Seiji merupakan putra kedua dari Akashi Seijuurou dan Akashi Tetsuya itu memiliki bentuk wajah, bentuk mata, warna rambut, 2 ekor kucing juga telinga kucing warna baby blue yang persis seperti Tetsuya. Sifat dan hawa tipisnya sama seperti Tetsuya. Warna matanya sama seperti Kazuya yaitu baby blue-gold.
Akashi Tooko merupakan putri ketiga dari Akashi Seijuurou dan Akashi Tetsuya itu memiliki warna rambut, 2 ekor kucing juga telinga kucing warna merah persis seperti Akashi. Sifat mirip Kuroko namun hawanya mirip Akashi alias normal. Yang membedakannya adalah warna matanya mirip dengan Tetsuya yaitu baby blue dan tidak heterochrome seperti kedua kakaknya maupun ayahnya juga bentuk wajah dan bentuk matanya yang bulat mirip dengan Tetsuya.
Akashi Tsuyako merupakan putri keempat sekaligus bungsu dari Akashi Seijuurou dan Akashi Tetsuya itu memiliki warna rambut, 2 ekor kucing juga telinga kucing warna baby blue yang persis seperti Tetsuya. Sifat mirip Akashi namun hawanya tipis mirip Tetsuya. Yang membedakannya adalah warna matanya mirip dengan Akashi yang masih menjadi oreshi yaitu deep crimson dan sama seperti Tooko matanya tidak heterochrome seperti kedua kakaknya maupun ayahnya juga bentuk wajah dan bentuk matanya yang mirip kucing mirip dengan Akashi.
Akashi Kazuya dan Akashi Seiji berumur 100 tahun meskipun penampilan mereka mirip seperti anak kecil berumur 10 tahun. Sedangkan Akashi Tooko dan Akashi Tsuyako berumur 50 tahun meskipun penampilan mereka mirip seperti anak kecil 5 tahun dan selisih umur mereka terpaut 50 tahun. Saat ini mereka berempat lagi bermain bersama-sama.
Akashi dan Tetsuya mengawasi anak-anak mereka dari jauh. Akashi mulai menatap Tetsuya dengan lembut begitu juga dengan Tetsuya juga menatap Akashi jauh lebih lembut meskipun wajahnya terlihat datar-datar saja.
"Aku tidak menyangka kau melakukannya dan menepati janjimu itu, Tetsuya." Kata Akashi.
"Oh ya? Janji yang mana?" Kata Tetsuya dengan nada jailnya.
"Oh kau lupa? Janjimu itu adalah menjadi milikku, berhenti menjadi pembunuh bayaran, dan menunggu agar Kazuya dan Seiji lahir supaya aku bisa menikah denganmu. Apa aku harus ingatkan lagi, hah?" Kata Akashi dengan nada yang tidak kalah jailnya.
"Yah, kalau yang diingatkan itu adalah kau, aku tidak keberatan." Kata Tetsuya merangkul tangan Akashi sambil menyenderkan kepalanya di bahu Akashi. "Tapi, ini seperti mimpi." Kata Tetsuya.
"Maksudmu?" Tanya Akashi.
"Ini adalah mimpi yang tidak pernah terpikirkan oleh mantan pembunuh bayaran sepertiku. Mencintai dengan orang yang kucintai, menikah dengan orang yang kucintai juga memiliki anak hasil buah dariku juga dengan orang yang kucintai. Ini mirip mimpi menjadi kenyataan." Kata Tetsuya tersenyum lembut.
"Tetsuya. Ini memang yang kita harapkan dan kita berhasil mewujudkannya. Berkat itu kau tidak akan membunuh orang lagi." Kata Akashi tersenyum.
"Ya. Tapi, tanpamu juga mungkin aku akan menjadi pembunuh berdarah dingin nantinya. Sudah cukup dengan julukan Shadow Demon Cat Assassin, aku tidak mau julukan lain." Kata Tetsuya menyengir.
"Tentu saja, karena hawamu tipis dan kau bekerja di balik layar bagaikan bayangan itu memang cocok untukmu." Kata Akashi kemudian mengecup bibir Tetsuya dengan singkat.
"Yep dan aku memang seharusnya berada di sana." Kata Tetsuya mengecup balik bibir Akashi dengan singkat.
"Aku hanya berharap adanya kau juga keempat anak-anak kita berada di sini sudah cukup bagiku." Kata Akashi.
"Aku pun juga berharap begitu." Kata Tetsuya dan kemudian mereka berdua pun tertawa. Hingga Kazuya, Seiji, Tooko, dan Tsuyako datang buat makan masakan buatan Tetsuya. Setelah kenyang, Kazuya berinisiatif untuk bertanya kepada ibunya.
"Otou-san, okaa-san, bagaimana kalian bisa bertemu? Kazuya penasaran." Kata Kazuya dan itu pun diikuti oleh anggukan dari ketiga adiknya. Akashi dan Tetsuya saling menatap satu sama lain kemudian Tetsuya menjawab pertanyaan dari Kazuya.
"Okaa-san akan bercerita tapi ini bukan pertemuan okaa-san dan otou-san." Kata Tetsuya dengan lembut.
"Terus gimana ceritanya?" Tanya Seiji.
"Okaa-san akan menceritakan tentang nekomata penyendiri dan nekomata pembunuh bayaran." Kata Tetsuya lagi.
"Oh, kayaknya akan jadi menarik kalau okaa-san yang cerita." Kata Tooko dengan senyum lebar.
"Yang sabar, ya. Nanti kalian bereempat akan mendapatkan bagian cerita yang sama." Kata Tetsuya.
"Hmm, gimana kisahnya? Aku begitu penasaran." Kata Tsuyako dengan datar namun penasaran.
"Nanti saja ceritanya saat kalian tidur, oke?" Kata Tetsuya dengan lembut sambil mengelus satu per satu rambut keempat anaknya yang merupakan kloning dari Akashi dan dirinya.
"Baiklah." Kata Kazuya, Seiji, Tooko dan Tsuyako secara bersamaan.
"Kau memang pintar dalam hal menyembunyikan sesuatu." Kata Akashi.
"Kecuali kalau ada Seijuurou-kun. Aku tidak bisa bohong kalau sudah ada kau." Kata Kuroko.
"Ya iya lah. Karena, aku absolut Tetsuya." Kata Akashi.
"Baik baik. Kau memang absolut." Kata Tetsuya dan Akashi meraih kepala Kuroko dan menaruhnya di bahunya. Tetsuya sangat menikmati sentuhan yang di miliki Akashi saat ini.
Semenjak Tetsuya berhenti menjadi pembunuh, dia pun mulai tinggal di rumah Akashi dan menjadi pelayan pribadinya hingga Kazuya dan Seiji lahir di dunia, Akashi dan Tetsuya memutuskan untuk menikah dengan mengundang beberapa orang yang mereka kenal. Saat umur Kazuya dan Seiji mencapai 50 tahun, mereka berdua memiliki 2 adik perempuan kembar yang bernama Tooko dan Tsuyako.
Kehidupan Tetsuya menjadi lebih berwarna semenjak Akashi berada di sisinya dan menerima dirinya meskipun dia tahu bahwa dia adalah pembunuh bayaran. Di masa lalunya yang gelap dan penuh darah pun menjadi lebih berwarna-warni. Baru kali ini, Tetsuya merasa bersyukur karena dia di lahirkan di dunia, bertemu dengan Akashi dan menjalani hubungan sebagai suami-suami. Misteri di dunia ini, hanya Kamisama yang tahu. Barangkali di balik misteri itu ada sebuah keberuntungan yang sangat tidak disangka olehnya. Contohnya adalah Akashi Tetsuya. Dia tetap hidup bahagia meskipun dia tidak pernah lupa bahwa dirinya dulunya adalah seorang pembunuh bayaran.
THE END (おわり)
1. Haori : Jubah tradisional dari jepang yang biasanya dipakai oleh pewaris klan tertentu.
2. 赤司 : Di baca "Akashi" dalam kanji jepang.
3. Zoji : Sendal tradisional jepang.
4. In Heat : Masa dimana para youkai atau makhluk supernatural sedang mengalami musim kawin atau mencari pasangan untuk melakukan mating/berhubungan seks dengannya.
5. Futon : Seperangkat tempat tidur tradisional jepang.
6. Sake : Alkohol dari jepang.
7. Hanami : Tradisi dimana orang-orang jepang merayakan datangnya musim semi dengan cara pergi taman hanya sekedar melihat bunga sakura bermekaran.
Hello, Shinju Hatsune kembali lagi untuk merayakan FID_8 di hari kedua. Btw, untuk penjelasan umur nekomata itu sangat sederhana. Apabila umur nekomata itu mencapai 10 tahun maka fisiknya itu tetap menjadi anak berumur 1 tahun. Dengan kata lain, selain bertambahnya umur maka semakin naik selama 10 tahun. Idenya entah dapat darimana juga adegan you-know-what-i-mean itu terinspirasi dari beberapa DJ yang ane lihat di fb. Btw, happy FID_8. Oke, sampai disitu bacotan ane. Anyway don't you mind to review? See ya in the my next chapter fanfic. Bye bye :).
Sign Of Love
Shinju Hatsune
