James Potter, Qudditch, dan Coklat Panas

Chapter 2

Disclaimer : HP Cuma punya JKR

Tapi cerita tetep punya saya

Peringatan : typo(s) bertebaran.

Makasih bgt bwt yang udah nge-review, jasa kalian jadi penyemangat bwt ku..

Bwt yg belom Review, CPET REVIEW FF SAYA ! hahahaha#maksa *Ditabok orang se FFn *

Hehehe, Nggak-nggak…. Just kidd… but I hope you will enjoy and feel to Review my story

So,

Selamat membaca

Allessa POV

Aku terasa seperti di atas panggung yang disinari lampu blitz. Lampu-lampu itu saling sahut menyahut menangkap bayangan fotoku. Sayup-sayup terdengar suara cempreng milik Brith namun mataku masih belum mau terbuka dan lebih memilih tetap tertutup. Tapi kemauanku segera terusik setelah mendengar suara Fred,

"Menurutku mereka lebih cocok sebagai sepasang kekasih daripada sepasang sahabat, benar kan?" tanya Fred penuh intrik. Brith kemudian mengeluarkan dengung yang lebih mirip dengungan lebah, ia sedang berpikir.

"Eng…. Menurutku mereka tidak sadar sedang terlihat seperti apa." Sahut Brith

"Tapi bagaimanapun mereka tetap serasi." Suara ketiga ini sepertinya pernah kudengar, Charina Scott.

Lalu aku bangun dengan hati jengkel plus malu, dan langsung kaget melihat tiga kepala berambut berbeda-beda menatapku penuh selidik. Seakan aku baru saja melakuan kesalahan dan sekarang sedang di introgasi oleh 3 penyidik. Mp3 player-ku merosot ke pangkuanku beserta earphone nya.

"Kalian sangat romantis." Komentar Brith

"Seandainya kalian benar-benar sepasang kekasih" komentar gadis berambut pirang yang sangat ikal, Charina. Dia teman sekamarku selain Brith, Roxane, dan Miranda.

"Tenang, gadis-gadis. Aku sudah memotret adegan romantis antara aktor dan aktris kita ini. Dan kamera sihirku dengan senang hati memotret adegan yang lainnya diwaktu yang akan datang." Ujar Fred lengkap dengan senyuman lebar penuh kemenangan."Lagi pula hasilnya sangat bagus,"

Namun belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ia sudah ambruk ke lantai dengan terjangan James yang berusaha meraih kamera sihir Fred.

Gedebak!gedebuk! suara mereka berdua bergelut di lantai sontak membuat kekacauan di dalam kompartemen. Brith dan Charina bahkan tidak bisa melakukan apa-apa, namun wajah mereka pucat penuh dengan kekhawatiran.

"HENTIKAAAN!" teriakku sekuat tenaga" Hentikan kalian berdua!"

Sekejap mereka berhenti dengan rambut keduanya yang luar biasa awut-awutan. James dan Fred bangkit berdiri. Wajah James terlihat memerah (entah karena marah atau hal lain..) dan rambutnya yang sudah berantakan semakin terlihat seperti baru bangun tidur.

"Sudahlah, tak masalah bagiku gambar itu masih ada atau tidak. Sekarang yang terpenting kalian harus berdamai. Cepat bersalaman!" kataku tegas

Perlahan namun enggan mereka saling menjabat tangan. Setelah itu suasana masih canggung hingga nona troli makan siang melewati kompartemen kami.

"Halo, anak-anak. Mau membeli sesuatu dari troli ?" tanya nona troli ramah

Aku, Brith, James, Fred serta Charina memborong makanan dari troli itu. James memasukkan pastel labu ke dalam sangkar Howl melalui celah-celah jeruji kuningannya.

"Terima kasih, untuk bahunya" kata James

Aku hanya mengangguk dan ikut memberikan pastel labu milikku kepada Howl. Dan Howl beruhu-uhu senang saja mendapat jatah makan siang juga. Aku melihat arloji dan mengetahui bahwa aku sudah tidur selama 2 jam.

Dan suasana mulai hangat ketika Fred mengeluarkan set kartu yang bisa kami mainkan berlima. Permainan berlangsung selama beberapa sesi saat Fred mendapat hal lain untuk dibicarakan.

"Ngomong-ngomong. Kenapa kau tidak langsung ke kompartemen kita, Char?" tanya Fred

"Awalnya aku berada satu kompartemen dengan Roxane dan Miranda. Namun tiba-tiba datang geng cewek Ravenclaw masuk. Kompartemen kami di monopoli sendiri oleh mereka dan semakin lama kami semakin risih dan memutuskan pindah kompartemen. Sesaat setelah kami keluar lengkingan tawa mereka meledak dan terasa mengejek kami. Aku bahkan tidak melihat rasa bersalah sedikitpun di wajah mereka. Benar-benar licik mereka itu!" cerita Charina panjang lebar

"lalu Roxane dan Miranda ?" tanya Brith.

"Roxane bergabung ke gerbong Weasley-Potter, Miranda ke tempat temannya di gerbong 3."

"Dimana letak kompartemen milik kalian?" tanya James

"Di gerbong 3 urutan ke 6 dari depan." Jawab Charina sambil memandang ke arah sangkar Howl yang kini sedang menyembunyikan kepala dibalik sayapnya—Howl tidur.

"Aku punya ide. Bagaimana kalau kita mengerjai geng cewek itu. Kau ikut Fred?" kata James bersemangat. Matanya menyala penuh hal jail.

"Dengan senang hati, sepupu." Balas Fred tak kalah berapi-api

"Oh….! Jangan berbuat sesuatu yang membuat kita dipulangkan sebelum kita menginjak Hogwarts." Kenapa aku terdengar seperti mum sekarang?

"Aku tak akan tinggal diam jika temanku diperlakukan tidak adil." Ujar James dengan nada yang terdengar dingin

"Apa yang akan kalian perbuat? " tanya Brith penuh selidik lagi. Anak ini berbakat sebagai penyidik di lembaga Auror rupanya.

Fred mengeluarkan sebuah bungkus aneh yang berwarna abu abu gelap sebesar kepalan tangan dari tas nya. James nyengir lebar melihat benda itu. "Ini, Bom Lumpur-Super-Lengket. Penemuanku dan James musim panas lalu. Aku sudah tidak sabar mencobanya." Lalu memberikan bom itu ke tangan James.

Mereka berdua keluar dari kompartemen. Dan 5 menit setelah mereka menutup pintu terdengar 3 suara berbeda menjerit jijik dan 2 menit kemudian Fred dan James masuk kompartemen sambil terengah-engah. Misi mereka berhasil. Bom mereka sudah tak ada di genggaman James. Dan ada sedikit noda lumpur di baju mereka. Namun kendati berpenampilan berantakan, wajah mereka seperti habis mendengar bahwa perayaan ulang tahun mereka dimajukan.

"Berhasil." Ujar mereka bersamaan dan langsung ber-tos ria.

"Kalian lah pasangan yang lebih romantis." Kata ku malas

m*_*m

Normal POV

Senja mulai turun ke langit yang menaungi Hogwarts Express. Satu jam lagi kereta merah yang membawa murid-murid Hogwarts tiba di sekolah mereka. Banyak murid yang bergegas berganti baju muggle mereka dengan jubah seragam Hogwarts. Dengan puluhan anak yang masuk ke toilet kereta toh tidak membuat toiletnya penuh—diperbesar dengan sihir tentunya.

Allessa baru saja keluar dari toilet dan sudah memakai jubah hitam dan seragam Hogwarts. Ia menenteng kantong berisi cardigan cokelat dan t-shirt lengan panjang dan celana jeans miliknya. Kini ia menguncir kuda rambut cokelatnya dan memakai bando kain lebar berwarna putih. Sekali lagi ia merapikan dasi merah-emas nya dan tersenyum lebar .

'Tenang, ini tahun yang baru. Aku akan menjadi Cheaser Gryfindor dan memenangkan piala Quidditch. Tak ada yang bisa menghalangiku.' Batinnya

Ia berjalan sambil melihat keluar jendela dan ia menangkap cahaya kecil yang sepertinya adalah Kastil Hogwarts. Allessa tidak sabar untuk segera tiba di sekolah tercintanya itu. Ia berjalan sambil memandangi kerlipan cahaya redup dari kastil megah itu.

Dan ia mulai bergerak ke arah kompartemennya hingga…..

Brukk ! ia merasa menabrak benda tinggi dan hitam. Itu manusia. Mereka berdua terduduk akibat tabrakan keras. Alessa hanya mengerjap-ngerjap kan matanya yang terasa berkunang-kunang akibat tertabrak benda keras, tinggi dan harum (?) itu.

"Kau tak apa-apa?" tanya orang itu

Setelah merasa cukup bisa melihat dengan baik, ia melihat ke wajah penabrak itu menggunakan jubah hitam berlabel Slytherin dan berdasi hijau-perak. Rambut cokelat terangnya berkilau di timpa lampu penerangan kereta. Ia meringis melihat Allessa memeganggi hidungnya yang terasa sangat nyeri.

Allessa hanya bisa memandang anak laki-laki itu. Dan sempat tertegun.

"Maaf telah menabrakmu. Apakah ada yang terluka?" tanya anak laki-laki itu. "Dan bolehkah aku bertanya siapa nama mu. Aku Andrew Flint" sambungnya

"Allessa Wood"

"Oh. Senang berkenalan denganmu. Kau di Gryfindor kan ?"

Allessa mengangguk dan tak ingin lebih lama lagi terjebak dalam situasi aneh ini. Dan tiba-tiba…

"Allessa! Kemana saja kau dari tadi. Aku hampir botak mekikirkan kemana perginya kau! Ayo cepat kembali. Kereta akan berhenti setengah jam lagi. Kau mau kita terlambat mendapat kereta—tanpa—kuda seperti tahun lalu!?" omel Brith tanpa behenti. Langkahnya yang tadi terdengar berderap kencang kini mulai melambat dan berhenti di samping kanan Allessa.

"Err.. sampai ketemu di kastil kalau begitu." Ujar Flint lalu pergi.

"Demi Merlin! Kau tahu siapa itu tadi?" tanya Brith sambil menyeret Allessa kembali ke kompartemen "Itu Andrew Flint! Dia kapten Quidditch Slytherin. Dan lagi menurut desas desus, ayahnya adalah musuh besar ayahmu. Kau berkenalan dengannya kan ? OooH… apa kata mr. Wood jika mendengar anaknya berteman dengan anak musuh besarnya."

"Aku hanya bertubrukan dengannya dan saling bertanya nama, hanya itu."

"Hanya itu, Kau baru saja bertubrukkan dengan salah satu selebriti Slytherin kedua setelah si Malfoy dan kau hanya berkata, hanya itu?"

"Aku tidak peduli."

"Banyak gadis yang rela menukarkan apapun miliknya demi berada di situasi mu tadi." Ujar Brith melembut.

"Tapi itu sama sekali bukan hal yang menakjubkan buatku. Dia hampir membuat hidungku patah."

"Tapi.."

"Sudahlah, Brith. Aku tidak sedang ingin membahas tentang kejadian barusan." Potong Allessa kesal.

"Baiklah."

Brith dan Allessa bertemu Charina di depan pintu kompartemenMereka langsung membuka pintu kompartemen dan melihat dua cowok keren tapi hyperaktif. Fred dan James telah mengenakan jubah seragam Hogwarts nya dan kini mereka membereskan barang mereka. Allessa, Brith, dan Charina mengikuti aktifitas Fred dan James. Lalu menghabiskan sisa-sisa cokelat kodok yang mereka beli tadi siang.

Kereta Merah besar mulai melambat dan akhirnya berhenti total di stasiun Hogsmead yang gelap. Hogwarts express menghembuskan uap panasnya dan membuat udara malam itu yang berkabut semakin menyerupai negeri diatas awan, kabutnya pekat sekali. Allessa turun dari kereta sambil menenteng sangkar Howl dan langsung menuju petugas Koper. Ia menyerahkan Howl ke petugas koper dan memberitahunya untuk mengikut sertakan Howl ke antaran kopernya. Dia mengomeli petugas itu tentang keselamatan Howl dan berhenti saat petugas itu meyakinkannya bahwa Howl akan berada di tumpukan teratas kopernya ketika Allessa kembali ke kamar dan tanpa cacat atau bulu tercabut sedikit pun.

Kalau Hagrid tidak mengangkat lentera besarnya mungkin anak-anak akan semakin sulit mencari jalan menuju pemberhentian kereta-tanpa-kuda. James memimpin rombongan sahabat dan saudara-saudaranya mendekati Hagrid. Ia langsung mengenali tubuh—setengah—raksasa milik Hagrid yang berdiri di . Kalau bukan James, mungkin rombongan kecil dibelakangnya akan sulit membedakan Hagrid dengan pohon dedalu raksasa.

"Halo,The Weasley-Potters. Lama tak melihat kalian." sapa Hagrid dan menghampiri dan memeluk mereka satu persatu.

"Hai juga, Hagrid" balas mereka satu-satu

"Lewat sini, Anak-anak.!" Seru Hagrid kemudian di remang-remang kabut.

Kumpulan Murid yang siap ke Hogwarts mengerubunginya.

"Kelas satu di depan dan Perfek belakang kelas satu di depan dan kelas dua ." Perintah Hagrid untuk mengatur barisan anak-anak. Lalu ia menoleh kearah lokomotif tempat masinis kereta berada. Masinis itu mengayunkan lentera ke atas dan ke bawah.

"Nah, itu berarti tak ada lagi yang tertinggal. Baiklah, ayo ikut aku. Dan jangan sampai terpisah atau memisahkan diri."kata Hagrid serak.

Iring-irgingan berjalan keluar stasiun. dan satu persatu berangkat ke Hogwarts dengan kereta—tanpa—kuda, kecuali kelas satu yang akan menaiki perahu kecil melewati Danau hitam bersama Hagrid, sesuai tradisi.

Allessa merapatkan Syal merah-emasnya. Dan juga dengan anak-anak lainnya. Udara sedingin ini akan membuatnya terkena radang dingin. Jubahnya dan seragamnya terlalu tipis untuk melindunginya dari udara yang membekukan tulang ini. Ia melirik James yang terlindung mantel panjang dibalik jubahnya. Ia tak menuruti saran ibunya untuk membawa mantel di dalam tas tentengnya. Ia bahkan baru ingat bahwa ia menaruhnya di koper.

Allessa POV

Aku merasa gigi ku bergemeletukan. Semua murid telah berada di pemberhentian kereta. Dan satu per-satu meninggalkan pangkalan kereta—tanpa—kuda. Pangkalan ini semakin sepi dan tersisa beberapa anak termasuk aku dan sahabat-sahabatku. Dan tiga diantaranya adalah geng cewek ravenclaw yang aneh, Rin Corner( oh! Serius. Semua cowok waras Hogwarts berebutan menjadi pacarnya budaknya.), Janette Davies (pacar Peter), Nicole Dunhill. Mereka semua terlihat cukup cantik. Dan mereka selalu menonjolkan kecantikan mereka, itu lah yang membuatku semakin tidak menyukai mereka.

"Lihat! Trio Ravenclaw sedang mempercantik diri." Seru Brith dengan takjub yang dibuat-buat. Namun wajahnya menujukkan muka yang seolah berkata, apa yang mereka lakukan!.

Oh! Lihat mereka. Tak sadar kah bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mempertebal bedak mereka. Aku mulai percaya bahwa topi seleksi mulai tidak akurat dalam memilih murid untuk Ravenclaw. Sesungguhnya aku berharap mereka di pindahkan ke Slytherin saja, atau lebih buruk Huflepuff.

Nafas kami mulai mengeluarkan uap yang kontras dengan gelapnya malam. Aku menoleh kearah duo gila kami, Fred dan James. Dan benar saja, dua orang 'abnormal' itu sedang membuat bentuk-bentuk aneh dengan uap nafas mereka dengan membuat mebentuk bibir mereka sebisanya. Setidaknya ada hiburan yang lumayan lucu. Aku menyenggol sikut Brith untuk menyuruhnya ikut menoleh kearah Fred dan James. Dan tawanya langsung meledak setelah dua detik menolehkan wajahnya.

"Kapankah mereka menjadi normal…..?"keluh Brith geli saat kehabisan nafas karena terlalu banyak tertawa.

"Itu akan menjadi peritiwa besar setelah kemenangan Gryfindor di piala asrama. "Jawabku

"Kalian terhibur? Syukurlah. Dan.." ujar James terputus saat ia melihat arlojinya . "Akankah keretanya semakin terlambat."

"Perutku sudah protes ingin Diisi. Aula besar bisa saja kehabisan makanan sebentar lagi. Oh! Itu dia!" kata Fred.

Benar saja, sebuah kereta mendekat menuju pemberhentian. Dan kereta itu berhenti tepat di depan kami. Kami berempat di tambah seorang anak kecil Hufflepuff berambut pirang—sepertinya dia baru kelas dua—menaikinya dan berusaha duduk berdempetan karena udara semakin dingin. James sempat melirik ke arah Rin dan kawan-kawannya dan mendapat kedipan genit dari Rin saat kereta kami melewatinya.

"Sepertinya kau mempunyai pengagum yang berkelas, James." Sindirku. Ada perasaan aneh ketika aku melihat tatapan Rin Corner terhadap James. Aku merasa ada gejolak benci padanya, tapi langsung kuhilangkan perasaan itu.

"Entahlah. " sahut James tak peduli.

"Ada apa sih hari ini.? Kenapa kita bertemu murid-murid terkenal Hogwarts di awal semester. Mungkin ini pertanda buruk sesuatu akan menimpa kita." Kata Brith meniru professor Trelawney.

"Ukh.. jangan meniru professor gila itu, tak ingin mendapat kesialan di awal semester karena mengingat ucapannya bahkan satu kata pun." Tukas Charina

Fred menyihir sebuah api Merah (ia belajar dari salah satu bibinya) dan memasukkannya ke sebuah stoples kecil dan kami saling bergantian mendekati stoples itu selama perjalanan untuk menghangatkan diri. Dan lima menit kemudian kereta memasuki gerbang yang dihiasi dua patung babi hutan bersayap.

"Selamat datang kembali di Hogwarts!" seruku sambil melompat turun dari kereta.

"Cepat masuk. Aku sudah lapar berat. " kata Fred

"Aku bisa mencium bau Pai daging asap dari sini." Kata James

Namun kami masih harus lapor kehadiran kami kepada prof. Flitwick. Professor bertubuh mungil itu mendata satu-persatu nama murid yang baru datang di atas undakan menuju kastil dengan menaiki sebuah kursi tinggi yang berhasil membuat tinggi badannya setara dengan James. Dan langsung berlari menuju ke aula besar untuk makan karena koper kami pasti akan terletak begitu saja ketika kami kembali ke kamar kami semua. Disana keluarga besar Fred dan James menunggu di meja Gryfindor. Mereka semua terlihat memenuhi meja panjang, dan tentu saja hampir semua berambut merah menyala. Mereka membuat meja Gryfindor terlihat sangat cerah ceria. Kami langsung ikut duduk melanjutkan deretan panjang keluarga besar James. Fred begitu kecewa karena makanan belum tersaji, bahkan makanan pembukanya pun belum ada.

"Aku begitu lapar tapi kenapa peri-peri rumah itu tidak segera mengeluarkan makanannya. Mereka seharusnya mematuhi perintah tuan-tuan mereka, singkatnya, kita!" omel Fred bercampur gerutuan.

"Hormatilah, acara penyambutan Ini, Fred. Dan bersabarlah. " kata Rose weasley sabar. "Lagi pula peri mana yang patuh pada tuannya jika tuannya sendiri sering mencuri makanan darinya."

Fred angkat bahu dan menopangkan dagunya di tangan kiri sambil tangan kanannya mengangkat piring emas kosong ciri khas makan malam penyambutan. Charina yang tidak tega segera memberikan satu-satunya potongan bolu kuali miliknya yang tersisa pada Fred.

"Terima kasih banyak, Char sayang." Katanya penuh syukur, langsung membuka bungkusnya.

Dan bisa kulihat muka Charina mulai di penuhi rona merah jambu. Tiba-tiba professor Mcgonagal berdiri di podium dan bertepuk tangan satu kali dan sontak seluruh Aula dilanda keheningan.

"Laporan yang kuterima semua murid sudah berada di kastil. Dan tahun ini adalah tahun baru bagi kalian semua. Dan sekarang waktu penting untuk kita semua, megetahui siapa saja keluarga baru kita di asrama masing-masing. dan sambutlah murid-murid baru Hogwarts!"

Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Professor Longbottom sambil membawa sebuah topi yang sangat lusuh dan penuh sobekan. Namun professor Longbottom membawanya seolah benda itu sutra cina berkualitas nomor satu. Topi itu adalah salah satu peninggalan Godric Gryffindor, yakni topi seleksi. Di belakang professor Longbottom, terdapat deretan panjang anak-anak kelas satu yang menggunakan jubah hitam mereka. Mereka terlihat sangat imut dan membuatku gemas karena kegugupan mereka. Sepasang anak berambut pirang yang sepertinya kembar melambai kearah keluarga Weasley-Potter, dan dibalas oleh mereka semua.

"Siapa itu?" tanyaku

"Si kembar Scamander. Anak Aunt Luna, sahabat keluarga kami. Mereka selalu hadir saat perayaan natal di The Burrow." Jelas James padaku.

Di belakang barisan panjang itu , mr. Flinch berjalan tertatih-tatih sambil menyeret sebuah kursi bersenderan tegak. Gesekan kaki kursi dan lantai marmer aula besar menimbulkan bunyi yang menyayat hati. Hampir semua orang menutup telinganya tak tahan dengan bunyi itu. Aku melirik ke wajah orang tua itu, aku bersumpah melihat raut muka bahagia darinya karena melihat Fred dan James begitu tersiksa dengan bunyi ini. Fred dan Jmaes adalah musuh bebuyutan penjaga sekolah tua itu.

Aku bersyukur kursi itu telah berhenti di seret dan kini telah teletak di depan deretan guru yang lantainya lebih tinggi beberapa inchi dari lantai sekitarnya. Professor Longbotom meletakkan topi itu dengan hati-hati diatas kursi. Dan robekan itu mulai terbuka dan membentuk seraut wajah yang cukup sangar. Dan topi itu mulai bernyanyi.

Aku adalah sebuah topi ajaib

Dan lebih bertuah dari apa pun yang berarti

Aku tak mengharapkan pita dan dekorasi

Aku hanya ingin menembus hati kalian

Apapun yang kalian pikirkan, aku lah yang bisa membacanya

Tak perlu kalian khawatir dimana kalian akan berada

Griffindor yang penuh ksatria

Slytherin yang sesak dengan ambisi dan kemuliaan

Ravenclaw yang brilian pikirannya

Dan Hufflepuff yang baik dan setia

Aku belum pernah salah

Dan jangan kalian remehkan dimana kalian berada

Karena disanalah kalian akan menemukan keluarga

Selama tujuh tahun lamanya

Dan sekaranglah waktunya

Tegakkan kepala kalian

Dan pakai aku diatasnya

Lalu kita mulai seleksinya!

Gemuruh tepuk tangan dan sorakan mengakhiri nyanyian topi seleksi.

"Lagu yang lainnya kali ini. Pasti dia akan sibuk mengarang lagu tahun depan sepanjang tahun ini." Komentar James

"Daripada diam terduduk lemas sepanjang tahun. Aku lebih memilih hidup dalam ke kreatif-an sepertinya." Ujar Brith

Professor Longbottom maju dan membuka gulungan perkamen.

"Yang namanya kusebut, maju kedepan! Kenakan topi ini di kepala kalian dan segera duduk di bangku."katanya menghadap barisan kelas satu. "dan setelah topi seleksi menyebutkan asrama kalian, segeralah bergabung di meja masing-masing. Baiklah. Adolf, Rowan."

Anak laki-laki kecil berambut pirang maju dan memakai topinya. "GRYFFINDOR!" aku langsung bersorak mengikuti seluruh meja panjang yang kududuki. Dan selanjutnya, Katney Arcley masuk Ravenclaw sekarang berganti meja tempat Peter bersorak , namun kalah meriah daripada sambutan dari pada sambutan Hufflepuff pada Jessica Bandly. Sesaat kemudian Slytherin pertama masuk, Gale Beritto. Dan seterusnya hingga huruf "L" Fred mulai ngomel lagi.

"Ayolah…aku bisa makan seekor werewolf dengan perut selapar ini."keluhnya


"Dari mana saja kalian? Tak tahukah kalian aku sangat cemas tidak menemukan kalian dimanapun?" Omel Rose Weasley begitu Fred dan James begitu proses seleksi selesai dengan ucapan selamat makan dan pemberitahuan peraturan sekolah dari Profesor Mcgonagall.

"Kereta—tanpa—kuda Hogwarts sepertinya harus segera diganti. Ketepatan waktu datang mereka semakin lambat dan kecepatan mereka kurasa semakin lambat pula." Kata James sambil meraih Roti barley dan krim sup hangat yang baru saja muncul di depannya bersama dengan makanan-makanan lain.

"Beful. Akhusepuhu." Kata Fred diantara kunyahannya.

"Apa?"

"Betul. Aku setuju." Kata Fred lebih jelas setelah menelan makanannya.

"Menurutku tidak juga. Dan sepertinya keterlambatan itu dikarenakan murid Hogwarts yang semakin banyak juga." Kataku.

Setelah itu kami melanjutkan makan malam kami. Aku, Brith, dan Charina melanjutkan deretan Potter-Weasley. Kami makan malam diselingi canda tawa buatan Fred atau James. Aku sempat melirik ke meja Ravenclaw dan menemukan kakakku sedang duduk memangku si Davies sialan itu. Sesaat kemudian mereka berciuman dan aku langsung menoleh ke deretan dewan guru. Dan aku hampir tidak menemukan guru yang peduli dengan perilaku dua sejoli itu, kecuali professor Greengrass yang melihat mereka berdua secara intens dan kalu saja mereka mau menghentikan dan melihat tatapan mata beliau saat ini, aku yakin mereka akan langsung merasa dibunuh dengan tatapan mata seperti itu.

Stelah pudding cokelat diedarkan dan habis dalam waktu yang singkat, Professor Mcgonagall. berdiri sambil memukul piala kacanya pelan namun menimbulkan dentingan yang terdengar keras dan langsung membuat seluruh Aula diam.

"Baik!. Ini saatnya tidur anak-anak." Kata professor Mcgonagall.

Aku ingin cepat-cepat ke kamar dan menulis surat untuk Dad dan Mum. Aku berlari kecil dan tanpa melihat depan aku menubruk punggung seseorang. Apakah hobi baru ku sekarang adalah menabrak orang?,batinku.

Kami jatuh terjerembab dan siap melihat tatapan geli dan ejekan dari anak-anak lain. Aku bangkit terlebih dahulu karena aku menimpa orang itu. Aku melihat anak itu bangkit berdiri.

"Oooh. Maafkan aku. Aku tidak melihat apa yang ada di depanku. Sekali lagi aku minta maaf." Kataku.

Dan ku beranikan diriku melihat orang yang telah ku tabrak. Ia membersihkan debu pada jubahnya lalu memberiku senyum. Rambut cokelat terang, tinggi dan tampan. Dia adalah… Andrew Flint.

"Kau lagi?" katanya menahan tawa.

Oh tuhan….. lenyapkan aku sekarang juga.

TBC


Haaaaa!

Akhirnya selesai juga chapter duanya….

Makasih udah baca…. Gimana ceritanya ? Seru ? Aneh? Boring?

salah ketik dari Chap satu, ini tahun ke empatnya Allessa n ke enam bwt Peter

maap yah salah...

Jgn lupa di Review yah…