Author : rhie_sha

Genre : Family/angst

Desclaimer : Member DBSK bukan milik author... Mereka milik Tuhan dan diri mereka sendiri...

Warning : First story ever... Gender bender! OOC akut. Bahasa alay. Don't like, don't read! I've warned you already...

Summary : Andai cinta itu masih ada, mungkin tak perlu ada hati yang terluka...

Kalau saja...


WISH

Written by rhie_sha

Chapter 2 : A Little Faith

"Junsu-ya!"

Namja yang dipanggil itu tersentak dari diamnya. Tepat di hadapannya tampak seorang anak lelaki melambai-lambaikan tangan."Ya! Kau melamunkan apa sih, dipanggil dari tadi diam saja?" Yoochun, nama namja itu, bertanya.

"Mian, hyung... Aku hanya..." DilihatnyaJunsu menghela nafas panjang, lalu terdiam, tak melanjutkan. Yoochun mendadak paham. Perlahan, ia mendudukkan diri di samping Junsu. "Orang tuamu lagi, Su?" tanyanya lembut. Diacaknya pelan rambut sahabatnya itu. "Tidak apa-apa. Mereka akan baik-baik saja. Jangan membebani dirimu dengan berfikir yang tidak-tidak, oke?"

"Kenapa kau bisa begitu yakin, hyung? Kau tahu, Appa dan Umma bahkan sudah pisah ranjang sekarang. Apanya yang baik-baik saja kalau jangankan bicara, saling menatap muka saja mereka enggan?! Aku... Aku..." Dua manik bening itu mendadak basah.

Yoochun terdiam. Kenangan demi kenangan berkelebat dalam ingatannya. Memori demi memori berputar dalam benaknya. Semua berhenti pada sebuah lapangan hijau muda dan seraut wajah bangga. Wajah seorang anak lelaki yang tertawa lepas saat berlari menggiring bola. Ditatapnya lekat figur Junsu. Sesak menyergapnya seketika. Sejak kapan sosok ceria dalam memorinya itu menjadi begini rapuh? Yoochun menarik Junsu dalam pelukannya. "Aku tak tahu, Su.. Aku memang tak tahu. Tapi aku percaya semua akan baik-baik saja, dan kau juga harus percaya itu. Aku janji padamu, semua ini akan berakhir bahagia. Kau percaya padaku kan? Hm?"

Tak ada jawaban, selain getaran pundak yang makin kentara dari sosok dalam dekapnya dan basah yang terasa menyesap. Entah kenapa Yoochun jadi ingin ikut menangis. "Junsu-ya... Uljima... Kau bilang seorang pria tidak boleh cengeng kan? Jangan menangis. Kau harus kuat, setidaknya untuk Changmin... Ara?"

"Changminnie..." Junsu menegakkan diri. Memaksa tangisnya berhenti. Tiba-tiba ia merasa bodoh. Ia masih punya seorang adik yang membutuhkannya. Seseorang yang sama sakit dan terlukanya, lalu bagaimana bisa ia malah terpuruk sendiri. Buru-buru disekanya bulir air mata itu dengan lengan bajunya. Bodoh! Ia mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Tak terasa usapan lengan tangan di wajahnya bertambah kasar.

Yoochun meringis. Dengan segera digantikannya tangan ringkih itu dengan tangannya sendiri. "Yah, yah... Kenapa jadi kasar begitu?" ucapnya sambil menyeka pipi Junsu. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, arasso?" Anggukan lemah yang diterimanya membuat Yoochun lega. Ia tersenyum. Mencoba mengubah suasana."Nah, I think that you're alright now. So, bisa kau kembalikan sahabatku sekarang? Kau tahu, bebek berisik hiperaktif yang bernama Junsu itu lho?"

Dan satu senyum sarat usaha disertai pukulan ringan di lengan kanannya jadi sebuah jawaban yang lebih dari cukup untuk Yoochun.

"Aku kan tidak seberisik itu, hyung!"

Yoochun terkekeh. "Oh ya? Kalau begitu kita pasti membicarakan Junsu yang berbeda..." tambahnya meledek.

"Hyuuung! Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong kenapa tadi kau mencariku, hyung?"

"Oh, itu.. Hanya ingin menunjukkan padamu lirik lagu yang kubuat tadi malam." Yoochun menggoyangkan tangan kirinya, membuat Junsu menyadari untuk pertama kali ada gulungan kertas tergenggam di sana. Diraihnya kertas itu dan dibukanya perlahan. Sejenak ada diam dan genggam tangan yang mengeras pada kertas. Hanya sejenak, sebelum bibir Junsu membentuk lengkungan lembut. Ada kehangatan yang peduli dalam bait penuh makna di sana. Ada pengertian yang terselip di antara baris-baris yang ia baca. Dan ada janji, doa serta pengharapan yang sama, dan ia mengerti. Lagu ini...

"Ini lirik untuk melodi yang pernah kau perdengarkan padaku waktu itu, hyung?" Suara itu lirih.

Yoochun mengangguk. "Uh-uh..."

"Kau belum memberinya judul, hyung."

"Ah, benar juga..." Yoochun mengalihkan pandang pada hamparan biru muda yang terbentang di atasnya.

"Jadi, apa judulnya?"

Untuk beberapa lama, hanya senyap yang bicara. Yoochun menutup mata, membiarkan bisik mengusik diam yang tercipta. "Soweon.." ia bergumam pelan. "Soweon... Wish... Cocokkah?"

"Harapan...?"

"Bagaimana menurutmu?"

"Judul yang bagus... kurasa sesuai..."

Junsu mendongakkan kepala. Mengikuti arah pandang sahabatnya. Di sini, di bawah bentang lazuardi, ia menyadari. Ini bukanlah neraka yang ia sebut rumah. Di sini sunyi yang ada bukan sunyi yang memekakkan telinga. Dan Junsu turut memejamkan mata, mencoba mengapresiasi lega dan hening yang menguar di antara mereka. Ah, tapi sebelumnya...

"Hyung... Gomawo..."

"Hmm?"

Junsu tak menahan diri, ""Untuk menghiburku, untuk menemaniku di sini, untuk jadi hyung yang luar biasa... dan untuk lagunya..." Dan keduanya tak perlu membuka mata untuk tahu bahwa masing-masing dari mereka mengulas senyuman yang sama. Ya, semua akan baik-baik saja... Semoga...

~ to be continue ~


Inside the memories, inside this heart, inside your childish dream

The dream, in which even when you're caught in a maze, you spread your wings

Even when there are times, where this world hurts you, makes you cry

Put it in your heart, bear it, laugh all the time, then it's ok

I believed that you can do well, can't even defeat the fading

Take the hand, you're able to shine brightly

You're walking around on this dark road that became closed

If you're overcoming it, bit by bit

Your life will get different again

Even when i sometimes break down, I'm able to stay

Are you able to see me, who's in front of you?

(DBSK ft SUPER JUNIOR – 소원)

credits: .com


Yeorobun... Minna-san...

Mian buat apdet yang luar bisa lamanya..

Hehe... Mudah-mudahan masih ada yang berkenan baca fanfic abal ini yah..

Anyways, REVIEW please! 3 3 3

Ditunggu komentarnya... ^_^