Naruto © Masashi Kishimoto

Story © yazura

AU, OOC, dll

Maaf jika ada kesamaan tema, plot, dan sebagainya

Enjoy reading!

.

.

.

Future Husband

.

.

.

.

.

.

.


Di sinilah aku sekarang, duduk di sofa hitam yang berada di apartemen milik Sasuke. Ia memberikanku alamatnya setelah aku menyetujui persyaratannya dua hari kemarin. Dan hari ini aku baru dipersilahkan untuk menepatinya. Aku memandangi ruangan ini. Cukup luas untuk satu kamar apartemen. Tidak, aku sama sekali tidak takjub dengan luasnya. Tapi yang menjadi beban pikiranku sekarang adalah betapa banyak waktu untuk bisa membersihkan semua ruangan ini. Tentu saja itu berpengaruh pada jam khususku untuk berkencan dengan komputerku. Bisa saja aku menyelesaikan pekerjaan baru ini dalam waktu satu jam. Tapi aku yakin pantat ayam sialan itu tidak akan membiarkanku pulang ke rumah begitu saja. Menyebalkan, bukan?

Aku menghela napas berat sembari memejamkan mataku. Benar-benar merepotkan. Rasanya aku ingin sekalian membakar apartemen mewah ini. Sayup-sayup aku mendengar langkah mendekat. Aku yakin itu Uchihayam Sasuke. Aku membuka mataku dan menatapnya sinis. Ia mendengus melihatku.

Sasuke berhenti di hadapanku. "Kau boleh langsung bekerja. Aku mengizinkanmu untuk berkeliling dulu. Untuk peralatan bersih-bersih semua berada di lemari penyimpan," Ia menunjuk ke arah lemari di dekat dapur. "jangan memakai fasilitas di sini tanpa seizinku." Ia memasukkan tangan kanannya di saku celana. "Aku akan pergi ke kampus untuk mengambil bukuku yang tertinggal."

Aku mendengarkan rinciannya. Mengikuti arah tangannya saat menunjuk-nunjuk barang yang dibicarakannya. Mengangguk pelan seraya mengingat-ingat, aku menatap mata hitamnya. Oh, menawannya. Khm, tidak, Sakura! Dia adalah raja dari planet ayam yang sudah menjatuhkan harga dirimu! Kau tidak boleh terpesona dengan segala yang Sasuke miliki! Ingat itu. Aku menggelengkan kepalaku.

Sasuke berjalan ke arah pintu keluar setelah bersiap-siap. "Pastikan semua ruangan sudah bersih ketika aku pulang nanti." ucapnya sebelum menekan kenop pintu dan membukanya lalu menutupnya kembali setelah keluar dengan santainya. Demi Tuhan, aku ingin melemparnya dengan sofa ini.

Aku menjatuhkan tubuh ini di sofa empuk yang tadinya ingin kulempar. Aku memejamkan mata sejenak untuk sedikit beristirahat. Dua menit melakukan hal ini, aku langsung melepas jaket abu-abu yang sedari tadi kukenakan dan menggantungkannya di gantungan. Sambil menyemangati diriku sendiri, aku segera menyambar kain dan pewangi yang ada di lemari penyimpanan. Dengan cepat, aku mengelap semua barang-barang yang ada di apartemen ini. Aku sudah terbiasa bersih-bersih rumah saat duduk di bangku sekolah dasar. Jadi, ini semua tidak terlalu sulit untukku.

Setelah semua barang yang ku lap sudah bersih, aku segera menyapu lantai satu per satu ruangan yang kupijak. Setelah itu langsung mengepelnya. Ruangan ini tampak berkilauan. "Khu, khu." Aku bergumam dengan nada sombong saat melihat hasil kerjaku ini. Keringat sudah memandikan tubuhku. Aku mengikat rambutku dengan menyisakan beberapa helai rambut di bingkai wajahku. Masih ada pekerjaan lain yang menungguku. Tak ingin membuang waktu, aku segera berjalan ke arah mesin cuci dan langsung memasukkan baju kotor Sasuke ke dalamnya. Setelah itu menekan-nekan tombol yang ada di atas mesin putih itu. Tak lupa kucuci semua piring kotor yang ada di wastafel dapur hingga bersih dan menimbulkan bunyi kesat saat jariku menyentuh dan membuat pola garis lurus. Setelah itu aku langsung berlari ke arah sofa panjang yang ada di dekat televisi. Kakiku ku taruh di bagian panjang sofa itu, kurentangkan tanganku ke samping kanan kiri tubuhku. Rasa lelah dengan setia menempel di tubuhku. Bersyukur AC di ruangan ini hidup sehingga membuatku tidak merasakan hawa panas yang menyebalkan. Meskipun tidak bagus saat berkeringat lalu terkena AC. Tapi tak apalah. Aku menutup mataku untuk menghilangkan penat. Setelahnya, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.


"–Oi, bangun, jelek."

Suara berat masuk ke dalam gendang telingaku. Aku membuka mataku yang sebelumnya tertutup untuk melihat siapa yang mengganggu tidur nyenyakku. Objek pertama yang kulihat adalah mata hitam kelam yang sedang menatapku. "..ng?" Mataku menyipit. Setelah itu, mata hitam itu bergerak menjauh beriringan dengan wajah yang sangat kukenal. Ugh, ternyata dia.

Aku membangunkan tubuhku dan duduk di sofa yang tadi kutiduri. Tanganku mengucak mataku yang masih sedikit buram. Astaga, jadi aku ketiduran? Aku melihat ke arah Sasuke yang sedang memandangiku datar. Mataku terbuka lebar setelahnya. "Cuciannya!" pekikku keras sembari menepuk jidatku dan langsung berlari ke arah mesin cuci dekat kamar mandi.

Aku membuka tutup mesin cuci dan langsung memindahkan semuanya ke dalam ember biru polos yang kosong dengan cepat. Kurasa aku tertidur terlalu lama sehingga melupakan cucian ini. Cucian yang malang. Maafkan aku, oh, cucian.

Aku menghela napas dan langsung mengangkat ember yang seketika menjadi berat sejak berpindahnya baju-baju itu lalu berjalan ke arah balkon apartemen. Kugantungkan semua baju itu di jemuran besi panjang sembari mengintip Sasuke yang sedang duduk di dalam. Beruntung ia tidak–belum–marah karena kelalaianku. Mengingat kata-katanya sebelum pergi tadi membuat bulu kudukku berdiri. Setelah semuanya selesai, aku masuk dan menaruh ember itu kembali lalu berjalan ke arah Sasuke.

"Semuanya sudah kukerjakan. Aku ingin pulang. Dah." ucapku lalu berbalik untuk mengambil barang-barangku sebelum sebuah tangan menahanku untuk berjalan. Aku menoleh ke belakang dengan memasang ekpresi terkejut sekaligus bingung. "Apa?"

"Aku ingin makan." ucapnya datar.

Aku menarik tanganku kasar. "Kau merusak kulit indahku." sambil mengusap-usap pergelangan tanganku yang tadi dipegangnya dengan gerakan seakan-akan membersihkan kuman yang menempel. "Beli saja di luar." ucapku sedikit sinis.

"Kau sudah lalai dalam pekerjaanmu dan sekarang kau ingin pulang tanpa memberi makan majikanmu?" Sasuke melipat tangan di dadanya.

Aku meringis mendengar kata 'majikan' yang ia lontarkan. Aku menghela napas kesal. Ingin sekali meludahi wajahnya yang sangat menyebalkan itu. Aku menghentakkan kakiku kasar lalu melihatnya dengan tajam. "Baiklah," ucapku dengan menggertakkan gigi menahan marah dan langsung berjalan ke dapur dengan kaki yang masih dihentak-hentakkan.

"Heh," Pantat ayam menghela napas sembari bersuara.


Aku meletakkan semua masakanku ke meja makan. Lima menit aku memasak menggunakan bahan makanan yang begitu sedikit. Aku sedikit kesusahan karena itu. Dan lalu tiba-tiba aku memiliki ide untuk membagi bahan makanan itu menjadi banyak. Alhasil, meskipun sedikit, masakan ini terasa enak saat kujajal. Aku juga mengambilkannya nasi semangkuk. Baiklah, kami terlihat seperti suami istri sekarang.

Pantat ayam sedang duduk tegak sembari memperhatikkan makanan yang kubuat. Awas saja jika ia sampai berkata bahwa makananku itu sangat tidak enak, maka aku akan memotong kemaluannya hingga habis! Heh. Perutku sangat lapar setelah semua ini. Aku mengambil tempat duduk di depannya dan bersiap menyantap masakanku. "Itadakimasu!" ucapku sembari menepuk kedua tanganku di depan wajah.

"Siapa yang menyuruhmu ikut makan?" ucap Sasuke datar namun membuatku merasa seperti didorong ke jurang penuh jarum-jarum besar yang tajam.

Aku menatapnya sembari menyipitkan mata tak suka. "Excuse me?" ucapku.

"Pulang sana."

Aku mengerutkan alisku kesal. "Eugh!" umpatku sembari memukul meja makan. Ia mendengus lalu mulai memakan makanannya. Aku menatapnya dengan tatapan mata yang berapi-api, bersiap menyemburkan apiku ke arahnya agar ia bisa dengan cepat gosong di tempat. Oke, aku mulai gila. Dengan sabar, aku berdiri lalu menyambar tas dan jaketku. "Dasar Pantat Ayam bodoh, tak tahu diri, pelit, kejam, jahat, sombong, mesum, tak berperi kemanusiaan!" teriakku memakinya lalu berlari ke arah pintu dan membukanya dengan kesal.

"Hei, jelek." panggilannya membuatku berhenti dan menolehkan kepalaku ke arahnya dengan kesal.

"Apa?" ucapku dengan nada jengkel.

Ia tersenyum miring. "Masakanmu enak." ucapnya lalu melanjutkan acara makannya.

Aku sedikit melebarkan mata dan mulutku terkejut dengan ucapannya. Sedetik kemudian, jantung ini terasa seperti ingin dicabut. Aku menghela napas. Emosiku reda seketika. Tuhan, kenapa ia dengan mudahnya berkata seperti itu tanpa ada rasa bersalah? Aku sedikit tersenyum. Meski hanya dua kata, tapi itu cukup membuatku merasa senang. "Terim–"

"Jangan senang dulu," potongnya lalu meneguk minumannya. "aku melakukan ini hanya untuk membuatmu betah menjadi pembantuku." lanjutnya datar.

Empat pola siku-siku terpampang jelas di keningku. Jika bisa, maka di sekelilingku sudah ada api sekarang. Dengan cepat, aku menggapai sepatu hitamnya yang ada di rak dekat pintu lalu langsung melemparkan sepatu itu ke arahnya.

BUK!

Misiku sukses.

Samar-samar aku mendengarnya keselek masakanku itu. Rasakanlah penderitaanmu, ayam!

Aku membanting pintu dan kabur dari situ sebelum ia menggorengku. Dengan cepat aku berlari ke luar gedung apartemen itu. Aku masih berlari saat sudah berada di trotoar. Suara jendela terbuka di atas membuatku menoleh ke arah sana. Di situlah terdapat manusia ayam yang sedang memegang sepatu yang kulempar tadi dengan empat siku-siku berpola melihat ke arahku. Aku membelalakkan mataku dan langsung menambah kecepatan lariku.

"HARUNO SAKURA!"

Dan saat itulah aku mendengarnya memanggil namaku untuk yang pertama kalinya.

.

.

.

.

.

.

to be continue


Haro! Maaf baru bisa apdet sekarang^^")9 Aku sibuk mengerjakan tugas yang begitu menjijikkan. Kalian pasti tahu rasa jijkku terhadapnya, hiks.

Abaikan pernyataan di atas.

Hm, bagaimana? Maaf ya, kalau kurang puas. Karena ini masih awal, jadi sedikit-sedikit dulu aja. Khukhu.

Maaf juga kalau chapter kali ini pendek banget. Aku buru-buru soalnya^^")9 Gamau bikin readers menunggulama. Ciye, menunggu:3

Untuk chapter depan, akan kuusahakan untuk lebih memanjangkan cerita. Jadi kalian tidak perlu mengalami rasa kecewa^^)o.

Yokaii, segini aja. Tunggu cerita selanjutnya, ya! Aku harap kalian suka. Jangan lupa untuk review^^

.

.

.

.

yazura

Thu, 6 August. 8:56PM


SPECIAL THANKS FOR ALL REVIEWERS! I ALWAYS READ YOUR REVIEW!

SANKYUU!


RnR?