Minna-sama! Haruna kembaliii *teriak pake toa*
Ehehe, kali ini dengan chapter 2nya (^_^)V
Ini fict boleh di flame, Haruna nggak masalah,kok!
Karena fict ini rasanya makin lama makin abal wae #plak
Daripada dengerin Haruna berisik, mendingan langung jelajahi aja fict gaje ini *dilempar batu*
Enjoy! ;)
Penyesalan
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Typo, OOC, dll
Don't like don't read!
Uchiha Sasuke-Hyuuga Hinata
Rated: T
Berikanlah aku kekuatan
Untuk memendam perasaan ini
Berikanlah aku harapan
Untuk bisa memandangmu sekali lagi
Berikanlah aku kesempatan
Untuk menyesali perbuatanku selama ini
Mungkin selama ini aku tidak menyadarinya
Bahwa aku terlalu banyak memberimu derita
Mungkin selama ini aku tidak menyadarinya
Bahwa yang kau butuhkan adalah sinarnya
Mungkin selama ini aku tidak menyadarinya
Bahwa kelopakmu akan bermekaran-ria
Di saat kau bersamanya
~*~PENYESALAN~*~
Aku dan Hinata baru saja turun dari bus yang kami naiki tadi menuju sekolah, sampai…
"Hoi, Sasuke! Hinata!"
Aku menoleh ke belakang. Mencari tahu siapa yang memanggil namaku. Ooh, rupanya itu si dobe! Buru-buru aku melirik jam tangan hitamku (lagi), "Jam enam lewat tiga puluh menit. Tiga puluh menit sebelum bel masuk, tumben sekali kau datang pagi,dobe!" ujarku dengan seringai.
"Kau pikir aku ini 'si tukang telat',hah? Hey, Hinata, apa kau berpikir seperti itu?" Naruto beralih kepada sahabatku. Yang ditanya hanya menundukan kepalanya, aku mengangkat sebelah alisku. Aneh, tidak biasanya Hinata diam begini…
"I-iya, Na-Naruto-kun tidak seperti i-itu… Sa-Sasuke-kun saja yang berpikiran be-begitu… Na-Naruto-kun,kan tidak se-selamanya ha-harus ja-jadi pemalas…" jawab Hinata terbata-bata. Aku menatap wajahnya yang penuh dengan semburat merah. Hinata? Ada apa?
"Hee? Tuh,kan, Teme! Kau lihat,kan? Hinata juga berkata seperti itu!" seru Naruto senang. Bagaimana tidak senang dibela begitu oleh gadis amethyst ini? Hh…
Aku menatap Hinata khawatir. Rasanya dia berbeda dari hari-hari sebelumnya, "Hnn, Kau tidak apa-apa, Hinata? Wajahmu merah? Kau sakit?" tanyaku cemas. Hinata menggeleng cepat sambil menundukan kepala, "Ti-tidak apa-apa, Sa-Sasuke-kun… A-aku pergi duluan,ya? Ja-jaa nee…"
Aku memandang kepergian Hinata dengan tatapan kosong. Sepertinya, ada 'sesuatu' yang mengganjalnya. Hnn, entahlah… Mungkin perasaanku saja.
Aku baru saja mau berjalan pergi menuju ke dalam sekolah –karena aku berada di lapangan tadi- namun Naruto tiba-tiba mencegatku.
"Mau apa, dobe?" tanyaku sok acuh.
Raut wajah Naruto berubah menjadi gugup. Ada apa ini? Pertama Hinata, sekarang Naruto? Kami-sama, ada apa dengan hari ini?
"Nee, Sasuke… Apakah kau… menyukai Hinata?"
DEG!
Apa? Apa pendengaranku salah? Dia berkata apa tadi?
Aku menatapnya dingin, "Apa urusanmu?"
Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku… Aku hanya berpikir, hahaha… Benarkah kau menyukainya?"
Aku tersenyum kecut, "Aku menyukainya karena dia sahabatku itu saja."
"Tidak lebih?"
Aku menggeleng, "Aku menyayanginya seperti kepada adik sendiri." Jawabku tentu saja berbohong.
Hmm… Entahlah, aku juga merasa bingung bila ditanya begitu. Hatiku mengatakan bahwa aku menyukainya. Namun di lubuk hatiku yang paling dalam, aku begitu menyayanginya. Aku tidak mau ada seorang pun yang menyakitinya.
"Kalau begitu… Kau pernah tahu laki-laki tipe apa yang ia sukai?" tanya Naruto yang kali ini mengajakku berjalan memasuki sekolah. Aku menggeleng, "Aku tidak tahu. Walaupun kita bersahabat sudah lebih dari sepuluh tahun tapi dia belum pernah bercerita tentang ketertarikan terhadap lawan jenis sekalipun."
Aku meletakan sepatuku di rak dan menggantinya dengan sepatu karet. Hmm… mungkin kalian tidak tahu, tapi beginilah 'adat' sekolah-sekolah di Konoha. Sepatu sekolah berbeda dengan sepatu di DALAM sekolah.
Aku memperhatikan raut wajah Naruto yang tiba-tiba menjadi happy begitu. Aneh! Apakah hari ini adalah Hari aneh sedunia?
"Aku duluan, dobe." Aku meninggalkan Naruto yang masih 'bersumringah-ria' itu. Aku melangkahkan kakiku menuju kelas 12-A, tepat disebelah kelas Hinata dan Naruto, kelas 12-B.
"Pagi," sapaku datar saat kakiku memasuki kelas.
"Pagi," jawab teman-teman lelakiku di kelas, Chouji, Kiba dan Sai, salah satu teman terdekatku. Aku melempar tasku ke bangku dan menghempaskan tubuhku kemudian.
"Hei, Uchiha, ada titipan dari adik kelas,nih!" Kiba menyerahkan setumpuk surat di depan mejaku. Aku menatapnya malas, "Buang saja, Inuzuka!" ujarku. Kiba hanya mengangguk maklum dan menjalankan perintahku: membuang surat-surat itu.
"Bukankah itu surat cinta? Kenapa dibuang begitu saja, Sasuke? Krauks... krauks…" tanya Chouji sambil memakan keripik kentangnya. Aku menutup kelopak mataku dan membukanya kembali, "Biar saja, tidak akan kubalas."
"Kau ini jahat sekali, Sasuke," ucap Sai sambil memamerkan senyum palsunya. Aku mengacuhkan perkataannya, aku mulai malas dengan rutinitas seperti ini. Selalu saja adik kelas, teman sekelas, kakak kelas, mengirimi surat penuh dengan perkataan gombal yang sudah pasti tidak akan kubalas. Bodoh,kan?
"Uchiha, kau tahu hari ini akan kedatangan murid baru?" tanya Suigetsu tiba-tiba. Suigetsu adalah teman sekelasku yang hobi berenang dan berjemur di pantai. Entahlah, menurutku hobinya itu sangat aneh.
Aku menggeleng tidak peduli. Aku hanya berharap kalau orang itu bukan perempuan dan tidak mengesalkan, itu saja.
"Katanya perempuan. Gosip-gosip ada yang bilang dia itu cantik,lho!" tambah Suigetsu. Oya, aku lupa satu hal, hobi Suigetsu yang lain adalah bergosip dan ngerumpi, jadi jangan heran kalau dia punya segudang gosip tentang murid-murid di sekolahku.
"Masa? Kalau iya, boleh tuh aku embat! Wahaha… krauks… krauks…" timbrung Chouji dengan tawanya yang khas: diselangi kunyahan keripik.
"Jangan samakan perempuan dengan keripik kentang dong, Chouji!" timpal Kiba sambil ikut tertawa. Sai pun ikut tertawa. Heran, biasanya dia hanya tersenyum palsu seperti biasa, jarang tertawa.
Aku merasa risih dengan keadaan begini, aku berjalan keluar kelas. Belum beberapa saat aku menginjakan langkah ketiga, seseorang menabrakku dan kami terjatuh.
"Aaw…" ringisku pelan. Aku memegangi kepalaku yang terbentur lantai. Ittai…
"Eh? Eh? Maaf, aku tidak sengaja! Daijobouka? Ada yang sakit?" tanya orang yang menabrakku khawatir.
Aku menggeleng, "Hati-hati kalau berjalan," ucapku cepat dengan nada datar.
"Gomen ne! aku sedang terburu-buru…" ucapnya tersenyum. Aku balas tersenyum, "Ya, tidak apa-apa…"
Aku memicingkan mataku. Kembali mencari tahu siapa orang ini… Dan…
SET!
Kedua mata kami bertemu. Mata onyxku dan matanya yang hijau…
Kurasa… mata itu…. Seperti batu permata yang cukup langka, emerald.
Aku memperhatikan secara keseluruhan orang itu. Kulitnya putih oriental, rambutnya berwarna pink sepanjang punggungnya. Dia mengenakan seragam sekolah yang sama denganku, namun rasanya… Aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya.
Kalau untuk dilihat sesaat, dia memang cantik. Wajahnya seperti menyiratkan semangat pantang menyerah yang tinggi. Hmm…
"Ehm, maaf… A-apakah kau boleh melepaskan tanganmu?" pintanya dengan wajah merona.
Apa? Tangan?
…..
….
Oh! Bodohnya aku! Aku tidak sadar posisi kami saat ini! Kami berjatuhan saling bersebelahan dan aku menahan tubuhnya.
Buru-buru aku melepas tanganku dan membuang muka. Sial! kenapa darah memenuhi kedua pipiku sekarang?
"A-arigatou… Ah, sumimasen! Aku ada perlu dulu, jaa…" Gadis itu membungkukkan badan dan segera pergi meninggalkanku.
Aku terdiam sesaat. Gadis itu… Menarik juga. Apa?
Aku membersihkan celanaku dan segera kembali ke kelas. Kurasa sebentar lagi bel masuk berbunyi…
KRIIINNGG!
Benar,kan?
~*~PENYESALAN~*~
"Baiklah anak-anak, sekian dulu pelajaran dari saya. Jangan lupa kalau lusa ulangan bab kedua!" seru guru Kakashi. Anak-anak hanya ber-koor-ria, "Yaaahhh…"
Aku meletakan daguku di atas tangan. Kejadian tadi pagi seperti direkam ulang oleh otakku. Dan saat Hinata mengatakan namanya itu… Akh, dadaku kembali sakit!
Dan entah kenapa aku memikirkan gadis berambut merah muda itu lagi. Aku menarik ujung bibirku, apa yang membuatku senang ketika memikirkannya?
"Oya, anak-anak, saya lupa sesuatu! Ada murid pindahan dari Suna yang akan menjadi salah satu penghuni kelas ini. Silahkan masuk, nona Haruno!"
Kelas kembali riuh. Mendengar kata 'nona', para anak lelaki berdesas-desus apakah 'nona' itu cantik seperti obrolan gosip ataukah pintar atau… Ya, kalian tahu pikiran anak lelaki,kan?
Tak, tuk, tak…
Bunyi langkah kaki seseorang bergema di seluruh penjuru kelas. Seorang gadis berambut pink ngejreng berdiri di depan papan tulis.
Tidak mungkin! Dia,kan…
"Ohayou gozaimasu, minna! Watashi no namae wa Haruno Sakura desu! Saya pindahan dari kota Sunagakure. Dozo yoroshiku onegaishimasu!"
"Kochira koso!" jawab seluruh murid serempak kecuali aku. Ya, kecuali aku. Mataku terbelalak kaget, gadis itu… Gadis yang kutabrak tadi pagi di sekolah!
"Oi, Uchiha! Kau tidak menjawab 'kochira koso' tadi!" seru temanku, Jugo. Aku terhenyak, "Ah, ha'i… Ko-kochira koso…" jawabku lirih namun terkesan dingin.
"Baiklah, sekarang Haruno-san! Silahkan duduk di samping tuan Uchiha di pojok sekat jendela!" perintah guru Kakashi.
Apa? Di sebelahku?
Aku melirik bangku tepat di sebelahku dan… bangku itu memang kosong! Ah, sial…
Gadis berambut pink itu berjalan mendekat ke arahku dan duduk di sampingku. Buru-buru aku membuang muka dengan menatap keluar jendela.
"Hai, namaku Sakura! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
DEG!
Aku menoleh ke arahnya pelan. Aku memasang wajah cool ku dan tatapan dingin, "Hnn…" gumamku.
"Ka-kau yang tadi pagi,kan?" tanyanya setengah berbisik. Aku menatapnya malas, "Hnn, mungkin begitu…" jawabku ala kadarnya.
"Eh,oh… Ma, maaf atas kejadian tadi pagi. A-aku benar-benar tidak sengaja…" ucapnya menunduk. Aku menghela nafas maklum, "Ya, ya… Aku mengerti. Tidak perlu dibahas."
Dia menatapku tidak percaya lalu tersenyum. Rona merah terlihat jelas di tulang pipinya, "Arigatou!" ucapnya senang. Aku hanya menarik ujung bibirku, "Hnn."
"Ya, anak-anak, sekarang kalian boleh istirahat!" seru guru Kakashi sambil merapihkan buku-buku. Dalam hitungan detik, murid-murid segera pergi ke luar kelas.
Aku menunggu sampai kelas agak sepi dan baru beranjak dari tempat duduk. Tiba-tiba sebuah tangan hangat menarik lenganku.
"Eh?"
"Anou… A-aku belum tahu namamu…" ucapnya dengan rona merah. Rupanya itu gadis berambut pink tadi, "Aku Uchiha Sasuke." Jawabku singkat.
"Salam kenal Sasuke!" ucapnya lantang dengan senyuman gembira. Gembira? Tentu saja! Bisa berkenalan dengan seorang tuan muda Uchiha adalah sebuah keajaiban di mata gadis-gadis. Hnn.
"Ya." jawabku singkat sambil menepis tangannya dan pergi keluar kelas. Meninggalkannya, yang kurasa, menatap heran kepergianku.
Aku berjalan menuju lapangan basket sekolah.
Aku menyukai olahraga, jadi jangan heran kalau kau sedang melihatku di lapangan basket sekolah sambil bermain bola.
Aku melirik penjuru lapangan. Tumben sekali sepi. Tidak banyak orang yang berlalu lalang. Ya, mungkin ada dua-tiga orang yang lewat, tapi tetap saja sepi!
Aku memungut bola basket yang tergeletak di samping ring. Aku men-dribblenya dan mencoba menge-shoot dan… Ya, masuk!
Aku berlari hilir-mudik sambil men-dribble dan melompat untuk memasuki bola… Sekali lagi, masuk!
Plok…plok…plok…
Aku menoleh. Barusan aku seperti mendengar suara tepuk tangan. Hmm, siapa?
"Kau hebat, Sasuke…"
Dia lagi?
Aku mengelap keringatku yang bercucuran dengan punggung tanganku. Kalian bisa tebak siapa orang yang sekarang berada dihadapanku sambil bertepuk-tangan? Ya, Haruno Sakura, si anak baru.
"Kau suka bermain basket?" tanyanya sambil berjalan mendekatiku. "Hnn," jawabku sambil mengangguk, acuh. Aku meliriknya sekilas, "Memang ada apa?"
"Tidak apa-apa. Maksudku… Hobi kita sama," ucapnya sambil mencoba merebut bolaku. Buru-buru aku mengelak dan men-dribble bola kembali.
"Begitu,ya?" kataku dengan seringai menantang. Kulihat dia juga tertawa sinis, "Tentu saja. Apa perlu ku buktikan?" tanyanya kembali merebut bola dan kali ini berhasil.
Dia berlari sambil men-dribble dan melakukan… Slum dunk?
Tass!
Bola tepat memasuki ring. Three point untuk nilai kompetinsi. Hmm… Anak ini boleh juga…
"Bagaimana?" tanyanya sambil menoleh dan berkacak pinggang ke arahku. Aku mengangkat bahu dan tersenyum masam, "Not bad for a beginner."
Dia berjalan mendekatiku dan menatap mataku dengan tatapan ayo-tantang-aku, "Hmm… Begitu,ya? Kau merasa dirimu itu hebat? Kita akan buktikan nanti!" ujarnya sambil tersenyum.
Apa? Dia menantangiku? Apa dia belum tahu siapa sebenarnya Uchiha Sasuke itu, eh? Lihat saja!
"Hallo? Tuan Sasuke? Kenapa Anda melamun? Apa Anda takut untuk melawan seorang gadis,hah?" Dia menggerakan tangannya di depan mataku. Aku menggeleng cepat, "Hnn, sebenarnya aku sibuk. Tapi kau memaksa, apa boleh buat… Daripada kau merengek dan menangis seperti anak kecil?"
Kali ini dia menatapku tajam. Hahaha, sepertinya dia tidak terima setelah kuejek tadi.
"Baiklah, ayo mulai!" Dia mulai men-dribble bola dan berlari memutar. Aku mengejarnya dan berhasil merebut bola dan berlari kembali menuju ring.
"Kaupikir aku ini bodoh,hah?" serunya mencoba merebut bola namun dengan sigap aku memutar badan melakukan shoot… Masuk!
Aku meliriknya dengan sebelah mata. Kulihat, dia menatapku tidak percaya. Entahlah, mungkin kagum…
"Sudah kubilang,kan? Ini membuang tenaga saja!" ujarku tanpa menoleh. Aku men-dribble bola tanpa bergerak sedikitpun. Menunggu reaksinya…
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan hangat menyentuh pipiku dan mencubitnya… Sontak, aku menepis tangan tersebut dan memegang pipiku.
"Aaw!" seruku meringis. Rupanya si rambut pink itulah yang mencubitku. Dia tertawa keras, "Hahaha, kau lucu sekali, Sasuke! Hihi… Aku sendiri juga bodoh mau bertanding denganmu! Harusnya aku tahu aku tidak mungkin mengalahkan anak laki-laki! Haha."
Aku memandangnya datar. Seolah aku mengetahui isi hatinya: Dia tertawa karena kecewa.
"Aduh, haha… Aku tertawa sampai menangis begini! Dasar aku ini… Eh, apa-apaan aku? Hahaha, aku,kan anak baru tapi kenapa bersikap konyol begini…" ucapnya sambil mengusap kelopak matanya.
Aku diam.
"Hahaha, aku bodoh,ya?"
Aku hanya terdiam.
"Apa-apaan aku? Anak baru tapi sudah bertingkah sok jagoan begini."
Aku tetap bergeming.
Dan kini dia juga terdiam, menatap tanah tempatnya berpijak dalam-dalam.
Seolah hatinya berkata: apa yang baru saja aku perbuat?
Aku kembali men-dribble bola dan menge-shoot… Namun kali ini gagal.
"Hey…" panggilku tanpa menoleh. Si rambut pink tetap terdiam. Aku memutar tubuhku dan menatapnya, "Tak sadarkah kau baru saja kupanggil?"
Dia tersentak dan menatapku takut. Cih, untuk apa takut? Memang aku hantu apa?
"Tidak ada hubungannya kau ini apa. Perempuan atau laki-laki itu sama saja…" ucapku menatap langit.
Dia terdiam.
"Bagi bola ini, tidak berpengaruh sama sekali…" Aku melempar bola itu pelan ke arahnya dan berhasil ia tangkap.
"Eh?"
"Semua tergantung dirimu saja. Apakah kau merasa enjoy saat bermain dan kau benar-benar berusaha atau tidak? Itu saja." Aku memutar tubuhku dan berjalan menjauh darinya perlahan.
Tass!
Kembali aku mendengar bunyi bola yang masuk ke dalam ring. Aku menoleh. Kudapati seorang gadis berambut panjang dengan warna pink tersenyum ke arahku dengan sebuah bola basket yang terpantul sendiri di dekatnya.
"Arigatou, Sasuke…" ucapnya tersenyum. Aku terdiam sebentar lalu menarik ujung bibirku, "Hmm… Ya, apa boleh buat. Kau memang merepotkan."
"Aah, kau ini!" Dia berlari mendekatiku dan mencoba mengacak-acak rambutku. Aku tertawa sambil berlari menjauh.
Entahlah, itu berlangsung selama jam istirahat. Dan selama itu aku tidak menyadarinya bahwa ada seseorang yang mengawasiku selama ini.
~*~PENYESALAN~*~
Aku tidak menyadarinya
Bahwa selama ini aku merasa bahagia
Aku tidak menyadarinya
Bahwa selama ini aku berdiri di samping bunga Sakura
Aku tidak menyadarinya
Bahwa dibalik sana,
Seseorang tengah menangisi karenanya
Namun yang membuatku tidak percaya
Orang itu adalah kau, cinta
~To~Be~Continue~
Minna-sama, gimana? Fictnya beneran makin abal ya?
Konflik 'peperangan' nya belom mulai, nih (?)
Oya, balasan review yang nggak log in:
Hina bee Lover: Iya, ini saya lanjutkan :D
Adel Kireina : Ada, kok, ini lanjutannya ;)
Shaniechan : Ini udah update, hihi :
Nerazzuri : Saya emang sengaja buat Sasuke OOC -" hehe, ini udah update :)
Ha'i, minna-sama, sampai ketemu di chapter depan :D
