A/N. Beberapa waktu lalu setelah selesai nonton Harry Potter (feeling saya memang keren, sebetulnya ga niat nonton, bahkan ga inget kalau hari itu hari minggu, masih nyangkanya hari sabtu, trus tiba-tiba aja pengen nonton, waktu di jalan menuju bioskop baru inget kalo hari itu tanggal 31 Juli xD), dan nangis segelas sepanjang film dan juga setelahnya, jadi punya mood buat nulis fanfic tentang Severus Snape, walaupun ga tau mau nulis apa. Besoknya, waktu buka laptop, menyempatkan baca dulu fanfic chapter satu di belakang itu, dan nangis segelas lagi (iya, lame sih, nangis gara-gara baca fanfic bikinan sendiri :P), tiba-tiba lalu menyembul aja ide nulisnya :D.
Fanfic ini didedikasikan untuk Severus Snape (tentunya) yang baik saat kecil, remaja, maupun dewasanya cute abis, atau kalau untuk dewasanya, manly—tall, dark and charming in his own way (yeah, I just absolutely HAVE TO mention that, lol). Severus Snape is L-O-V-E! *dicekokin bezoar sama Sev*
Tidak seperti chapter 1, extra ini akan difokuskan pada subjek pengabdian dan cintanya, Lily Evans. Chapter 1, seperti yang bisa dibaca, tidak terlalu sama dengan filmnya, terutama dialognya. Alasannya sudah pasti karena ia ditulis sebelum saya nonton filmnya, referensi cuma dari buku, dan itupun tidak persis. Tapi esensinya sama, jadi bisa disambungkan juga dengan extra ini, yang menurut saya terikat erat dengan chapter sebelumnya itu. Karena ini cuma extra jadi pendek… *kabur*
Warning: SPOILER FILM HPDH part 2 (…mungkin). Yang belum nonton dan tidak mau dapat spoiler lebih baik nonton dulu baru baca fanfic ini, oke?
Extra: A Lily's Tear
Tangannya bergetar ketika ia menjepit pena bulu itu, ujungnya urung dicelupkan ke botol tinta untuk kesekian kalinya. Tapi ia tak punya waktu lagi, ia tahu dalam hatinya bahwa sebentar lagi Dia akan datang, dan waktunya menipis setiap detiknya. Lagipula, ini satu-satunya yang bisa dilakukannya, yang mungkin bisa menyampaikan sefraksi rasa terima kasihnya.
Jadi, sebelum nyalinya pudar, dicelupkannya pena bulu angsanya dan segera ia menulis.
Dear Severus,
Kau mungkin tak ingin, dan tak mengira akan mendapat surat dariku. Mengingat bagaimana perlakuanku terhadapmu setelah insiden di tahun kelima kita, aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Meski harus kukatakan, aku tidak menyesal melakukannya, mengingat betapa sakitnya hatiku kala itu. Satu-satunya yang kusesali hanyalah insiden itu sendiri; sahabatku sendiri memanggilku dengan sebutan penuh kebencian itu, setelah semua yang kita alami, setelah semua yang kita lakukan bersama.
Kupikir… tidak, aku tahu bahwa waktuku sudah tidak lama lagi. Aku bisa merasakannya di getaran sihirku, di ujung tongkatku. Aku bisa menciumnya di udara, detik-detik terakhirku semakin dekat. Karena itu, aku ingin… meluruskan kembali hubungan antara kita.
Aku seringkali memikirkan perpisahan kita, sejak terjadinya beberapa waktu lalu. Aku bertanya-tanya dimana aku melakukan kesalahan hingga membuatmu jauh dariku. Tak jarang aku berpikir bahwa tidak mungkin kau memaksudkannya, kau hanya dilanda amarah karena tindakan James yang harus diakui keterlaluan. Tetapi saat itu aku masihlah marah dan kecewa, sehingga aku mengabaikan apa yang logikaku bisikkan. Aku memasrahkan diri untuk menjalani kehidupan tanpamu di dalamnya, seperti apa yang kau pilih.
Hingga beberapa waktu lalu, ketika Dumbledore memberitahuku dan James untuk bersembunyi, karena kami telah menjadi target utama Voldemort (yeah, Sev, mungkin kau akan mendelik padaku karena menulis namanya secara gambling seperti ini, tapi kujamin tidak akan ada yang bisa membuka surat ini selain dirimu, sihir ini akan tetap bekerja bahkan bila aku tiada).
Mungkin tidak sepantasnya aku senang mendengar berita bahwa kami menjadi target nomor satunya, tapi setelah Dumbledore memberitahu siapa yang memperingatkannya, aku senang bukan main. Kebimbanganku selama ini terjawab. Jauh di dalam hatiku aku tahu kau tak pernah mengkhianatiku. Karena itulah kami kemudian menghilang dalam persembunyian.
Beberapa bulan ini, disela-sela kesenggangan membereskan rumah dan keluargaku, dan mendengarkan raungan dan decak bosan James yang tidak diizinkan pergi kemanapun, aku sering memikirkanmu. Larut dalam kenangan masa-masa ketika kita masih bersama, juga bertaya-tanya bagaimana keadaanmu sekarang. Kuharap kau baik-baik saja berada di tempat berbahaya itu.
Mau tak mau, aku juga jadi berandai-andai, apa jadinya jika insiden itu tak memisahkan kita; jika kau tak mengucapkannya atau aku tak keras kepala tak memaafkanmu. Aku mungkin masih akan menikah dengan James, atau mungkin juga tidak. Kurasa aku masih akan tetap menikahinya. Ia tak seburuk di masa lalu, setelah aku menghajar habis arogansi dan sifat kekanakannya. Mungkin kalian bisa menjadi teman… Well, mungkin tidak, tapi minimal kalian tidak akan saling kutuk setiap kali melihat satu sama lain.
Harry—kau tahu, putraku yang baru berumur satu tahun lebih—akan memiliki tambahan satu orang paman. Aku tahu kau akan menjadi paman yang hebat. Kau tidak akan memanjakannya seperti yang mungkin sekali dilakukan Sirius, Harry-ku akan belajar Ramuan dari yang terbaik. Aku bisa membayangkannya mondar-mandir dalam jubah kerja mini, sibuk belajar menggunakan set alat Ramuan pertamanya, bahkan sebelum anak-anak lain belajar membaca dan menulis. Beberapa minggu terakhir ini aku mulai memperkenalkan beberapa bahan Ramuan tak berbahaya, ia senang sekali mengulang-ulang nama-namanya walaupun ia belum bisa mengejanya dengan lengkap atau sempurna.
Sebagai seorang ibu, mungkin aku bias, tapi ia pintar sekali, Sev. Ya, ia jelas mewarisi kesenangan James akan ketinggian dan terbang, sekarang saja ia sudah mahir mengendarai sapu-mainan hadiah ulang tahun pertamanya dari Sirius (tapi tentu saja aku menambahkan banyak mantra pengaman padanya). Rambut liarnya dan struktur wajahnya juga dari James, tetapi perangainya berbeda. Berbeda dengan bayi lainnya, ia tenang sekali, dan meskipun bisa cukup aktif berjalan kesana kemari dan berceloteh, ia juga cukup senang dengan hanya duduk melihat-lihat buku cerita bergambarnya. Mungkin setelah besar ia akan suka membaca, dan selalu penasaran akan apa yang ada di sekitarnya. Sementara James dan teman-temannya mengajarinya menikmati hidup dan kesenangan bermain-main, kita akan mempersiapkannya bagaimana cara menghadapi dan menjalani hidup.
Kuharap aku bisa mengalami hal-hal tersebut, namun apa yang sudah terjadi tak bisa dihapus. Aku harap kita memiliki kesempatan untuk memperbaikinya dan kau akan kembali padaku, namun perasaanku mengatakan aku takkan melewati malam ini dengan mulus, meninggalkanku cemas akan apa yang terjadi pada Harry.
Aku tak tahu siapa yang akan mengurusnya, aku meninggalkan beberapa nama yang kupikir akan bisa membesarkan Harry dengan baik, tapi aku yakin bahwa Dumbledore akan mencari keputusan yang terbaik untuknya. Diam-diam, kuharap aku bisa menyelipkan namamu, dan dengan posisimu saat ini, kurasa itu tidak mungkin.
Aku tak bisa mengungkapkan betapa berterima kasihnya aku akan semua yang telah kaulakukan untukku, untuk kami. Bila kata-kataku masih berarti untukmu, aku ingin mengatakan bahwa aku memaafkanmu. Kuharap di masa yang akan datang hatimu bisa memaafkanku.
Surat ini akan sampai padamu bila keadaan yang terburuk terjadi. Besertanya kutitipkan pesanku untuk Harry, vial berisi memori terakhirku, untuk kau berikan padanya bila kau rasa saatnya tepat. Jaga dirimu, Sev.
Bersamamu Selalu,
Lily
Segera setelah huruf terakhir ia goreskan, bahkan sebelum tinta di kata-kata terakhir mengering, ia melipat perkamennya dengan rapi dan menyegelnya. Pena bulu dan botol tinta yang belum ditutup tergeletak begitu saja di meja. Alih-alih diraihnya tongkat sihirnya, dilambaikannya pada suratnya dengan serangkaian gerakan rumit, baru setelah itu diletakkannya juga di meja.
Sebuah rengekan lemah memecah kesunyian, membuat wanita berambut merah itu menghampiri tempat tidur berpagar di pojok ruangan, dimana kemudian diangkatnya penghuninya. Mata hijau emerald tak berbeda dari miliknya mengedip malas, mulut kecil itu menguap oleh kantuk. Lily tersenyum kecil, walaupun hatinya getir, lalu dikecupnya dahi putra kecilnya.
"Hush, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Takkan ada yang bisa menyentuhmu dan menyakitimu, banyak orang yang akan melindungimu," bisiknya sambil menggoyang pelan bayi dalam gendongannya. "Bahkan pria kurus tinggi yang selalu cemberut, ia juga melindungimu. Ia hanya kesepian dan butuh orang yang mengerti dirinya, hidupnya tak mudah sejak ia masih sangat muda. Ia juga berlidah tajam dan keras kepala. Bukan orang yang mudah untuk diajak bekerja sama dan bercengkrama. Kurasa kau akan sering adu mulut dengannya. Tapi kuharap kau akan menemaninya dan melihat menembus ke balik topeng suramnya." Lalu dikecupnya sekali lagi dahi mungil itu, sebelum dibaringkannya kembali si bayi dalam ranjang hangatnya. Harry sudah tertidur pulas lagi tanpa mengingat apa yang membangunkannya tadi.
Lily memandangi putranya lekat-lekat, seakan saat itu kali terakhir ia bisa melihatnya. Ia memejamkan kelopak matanya, menyembunyikan kilau emeraldnya, dan sebulir air mata merayap di pipinya, sebelum menetes ke dalam sevial kristal tak-terpecahkan.
.
.
Tubuh Severus Snape terasa lunglai sekembalinya ia dari ingatan masa lalu. Disandarkannya kepala hitamnya ke tembok batu terdekat, rambut lepeknya lemas menempel ke pelipisnya dibantu oleh keringat dingin yang membasahinya.
Betapa ia merindukan Lily-nya…
Severus mengerjap pelan mengumpulkan seluruh kesadaran dan kesigapannya. Tak baik untuknya berleha-leha dan tak waspada di saat penuh bahaya ini. Sekarang ia mengepalai Hogwarts, di dalam sekolahnya berkeliaran Pelahap-Pelahap Maut kejam siap menyiksa murid-muridnya yang keluar jalur. Entah bagaimana caranya ia harus memastikan anak-anak berotak polong itu supaya tetap hidup dan hanya terluka seminimal mungkin, tapi tetap berada dalam sisi baik para pengikut Pangeran Kegelapan.
Tugas yang sangat berat dan menuntut untuk siapapun juga, terutama untuknya, yang tak punya ikatan apapun dengan dunia ini. Karena itu, hatinya harus dikuatkan dan dibangun kembali. Ia membutuhkan pengingat, mengapa ia melakukan semua ini setelah sekian lamanya…
Menegakkan diri, dicabutnya tongkat sihir dari balik jubahnya, tangan lainnya menjepit ujung perkamen kuning itu dengan dua jari. Ditatapnya lekat-lekat untuk sesaat, mencoba mengingat kata-perkata tiap baris surat tersebut, yang sebetulnya telah dilakukannya di malam pertama diterimanya surat itu. Ini terakhir kalinya…
Dengan desah dalam, Severus menyipitkan mata, ujung tongkatnya menyala, dan begitu disentuhkan, begitu pula ujung perkamennya. Disaksikannya perlahan lenyapnya hartanya yang paling berharga, abunya berterbangan ke karpet di bawahnya. Tak sekalipun matanya berkedip.
Akhirnya titik terakhir serpih keabuan mendarat lembut di permadani keemasan, diawasi oleh dua bulir onyx hitam tak bergeming. Lama kemudian, Severus menegakkan diri, menyusupkan tangan ke lengan jubah lainnya, dan menarik keluar sebuah vial bening masih bersegelkan lilin, tak pernah dibuka.
Tanpa tergesa kali ini dihampirinya lemari kaca di sebelah tempatnya tadi bersandar. Takkan ada yang menemukannya karena tak ada yang mengunjungi kantor ini selain dirinya, dan ia menyimpannya di sudut tergelap lemari itu, jadi kecuali seseorang memang meraba-raba, vial tersebut akan aman. Untuk memastikan, diluncurkannya mantra hingga hanya satu orang yang dimaksudkannya untuk menerima vial tersebut yang bisa mendapatkannya.
Berbalik dan berdiri kukuh, mata hitamnya yang dalam menerawang keluar jendela kantor Kepala Sekolah, tinggi di atas menara menuju ke kejauhan dan luasnya dunia sekitar kastil Hogwarts yang kelabu.*
.
.
Harry Potter mencengkeram vial kristal itu hingga buku-buku jarinya memutih.
Ruangan bundar ini tidak berubah sama sekali sejak terakhir ia mengunjunginya, ketika ia terburu-buru menghampiri pensieve batu untuk melihat apa yang ingin sekali disampaikan Snape. Kalau dipikir-pikir sekarang, Harry sendiri heran mengapa waktu itu ia tidak menyiksa Snape ketika menemukannya di penghujung hidupnya, mengapa ia tidak bahkan meludah di wajah pucatnya atau menginjak kepalanya; mengapa ia percaya begitu saja dan mengikuti kata-katanya.
Tapi bahkan pada pembenci utamanya sekalipun—selain Voldemort—Harry tak sampai hati untuk tidak mendengarkan kata terakhir orang yang hanya tinggal terhubung oleh seujung benang dengan dunia fana. Ia juga masih ingat dengan tindakan-tindakan Snape yang tidak hanya sekali-dua kali menyelamatkan nyawanya, apapun alasannya. Jadi, ia lakukan permintaan terakhir Snape dan disaksikannya memori itu. Yang mana mengubah total pandangan dan pendapatnya pada Sang Agen Ganda.
Kali ini alasannya datang kemari berbeda. Ia merasa penat dan lelah dengan kegiatan monoton membersihkan Hogwarts dari reruntuhan dan mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini sejak musnahnya Voldemort kurang lebih tiga minggu yang lalu. Matanya perih dan hatinya serak setiap kali ia menemukan wajah yang dikenalnya di bawah kain putih, hidungnya tersendat mencium aroma kematian di udara sekian lamanya. Namun kalau bukan ini, jika ia meninggalkan Hogwarts, wartawan dari surat-surat kabar dan tabloid seantero negeri—dan bahkan dari luar negeri!—menunggu wawancara eksklusif dengan Penakluk Dia-Yang-Namanya-Masih-Segan-Disebut. Tak perlu diungkapkan lagi Harry lebih memilih mengurung diri di Hogwarts; ia alergi reporter dan surat kabar.
Harry membutuhkan istirahat, dan akhirnya untuk bersembunyi sejenak dari dunia luar di Kantor Kepala Sekolah ini. Ia tidak menyangka akan menemukan botol kristal tanpa label di salah satu sudut lemari tempat penyimpanan pensieve, terpisah dari botol-botol memori lain milik Dumbledore disimpan.
Rasa penasaran Gryffindor-nya menampakkan batang hidungnya, Harry mengguyurkan isi vial kristal misterius itu, dan isinya sama sekali bukan apa yang mungkin ditebaknya. Ia bersyukur ia melihat memori itu di meja kepala sekolah, karena begitu ia keluar dari pensieve, lututnya terasa lemas tak bertulang dan ia rubuh ke atas kursi empuk nyaman berpunggung tinggi di belakangnya.
Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya. Ia senang dapat melihat bentuk lain dari ibunya: lebih nyata dari foto, lebih berwarna dari bayangan hasil panggilan Ressurection Stone dan gaung Priori Incantatem yang hanya berupa kabut putih, lebih mendekati kondisi terakhir ibunya bahkan dibanding dengan dari memori Snape. Ia sedih karena yang disaksikannya adalah saat-saat terakhir ibunya sebelum ia memeluk kematian. Ia… tertegun melihat ikatan dan kedalaman emosi antara keduanya.
Harry memandangi botol kosong di genggamannya. Mau tak mau, ia bertanya-tanya, apa jadinya jika vial ini sampai ke tangannya lebih awal. Betapa banyak hal yang akan berubah. Mungkin tahun-tahun pertamanya di Hogwarts tidak akan semerana yang dialaminya. Mungkin ia akan bisa melembutkan sedikit sudut-sudut tajam dan keras Profesornya. Mungkin ia akan mempunyai teman bicara yang akan mengerti lebih dari siapapun tentang apa yang dirasakannya, tentang apa yang ingin diketahuinya mengenai ibunya.
Sekejap ia merasa tersengat rasa bersalah, seperti ketika setiap kali ia menyadari bahwa ia diselamatkan Snape dan kecurigaannya keliru, atau setiap kali ia melakukan kesalahan bodoh yang ia tahu sebenarnya bisa dihindari kalau saja bukan karena kekeras kepalaannya dan sikap ke-Gryffindor-annya. Perasaan yang sering menyentilnya di momen-momen tak terduga sejak ia melihat memori Snape. Sebagian besar sakit kepala yang dihadapi Snape setiap hari kemungkinan besar disebabkan oleh dirinya. Tapi dengan memori ini, ia sedikit terlegakan mengetahui bahwa tidak semuanya dibebankan di atas pundaknya, tidak semuanya merupakan kesalahannya. Kelelawar Tua itu memang kepala batu sejak dulu.
Harry meletakkan wajahnya di sebelah tangannya, entah kenapa. Sesuatu mendorongnya untuk melakukan hal itu. Kemudian, dirasakannya kedua matanya panas. Namun di bibirnya tertaut sebentuk senyum.
Fin
.
.
*Ini scene pembuka HPDH part 2 xD. Eh, sebenernya saya ga tau jelas juga sih dia memandang dari mana (terlalu sibuk memelototi Severus ^^a), tapi yang jelas dia memandang dari ketinggian dengan sorot mata dalam dan ekspresi tak terbaca, seakan mengirim pesan tak terkatakan… (insert-fan-girl-signatured-scream-here).
Untuk yang nggak nangkep *berlindung dari timpukan batu*, scene pertama itu di malam kematian James dan Lily Potter, Lily nulis surat dan menyimpan memori, lalu setelahnya Voldemort dobrak pintu, dst. Scene kedua itu bagiannya Severus, dia cuma pernah baca suratnya. Scene ketiga bagian Harry, dia melihat memorinya, yang mana isinya adalah scene pertama.
Lily sepertinya ga pernah sadar seperti apa Severus mencintainya :(.
Jadi… ini adalah closure—penutup untuk tiga orang yang di hatinya terperangkap rasa bersalah. Lily Evans-Potter. Severus Snape. Harry Potter. Tidak ada yang diantagonisi, everyone has their fair share of faults and guilt, right?
FYI, bermacam-macam Lily punya arti yang berbeda. Tapi overall, Lily berarti purity/kesucian; lalu, sebagian orang Cina percaya Lily melambangkan 'forever in love'; dan di pemakaman, ia ' announces the departure of a young soul being restored to its innocence after an untimely death'.
Err, semoga ini memuaskan. Maaf lama nulisnya, mood berubah-ubah terus soalnya X(. Setelah ini lanjut nulis fanfic-fanfic (yang terbengkalai) yang lain— *disapparate sebelum diamuk massa yang ga sabar*
