Salam kenal…. Aku author baru di fandom ini… maaf kalau ceritanya gaje n ga bagus… semoga kalian suka sama story ini… happy reading minna!~~~

Disclaimer:

Togashi-sensei

Title:

Me + You = Family (?)

Pairing:

Kuroro X fem Kurapika pastinya

Warning:

OOC, gaje, T (untuk sementara)

A/N:

chapter ini langsung author publish, lebih panjang dari yang sebelumnya, DON'T LIKE DON'T READ... review please #puppy eyes

CHAPTER 1

Kurapika POV

Ku matikan keran air hangat dari Shower milik ku, lalu ku buka perlahan pintu kaca yang sedari tadi menutupi ku, ku keluarkan tangan ku perlahan, meraba-raba sekitar dinding untuk meraih sebuah besi kecil yang tertempel di dekat pintu kaca tadi dan ku ambil handuk putih yang sudah bertengger manis di sana sedari tadi. Ku lilitkan handuk putih itu di sekitar tubuh ku. Aku berjalan mendekati wastafel yang letaknya tak jauh dari pintu kamar mandi ku. Ku berdiri di hadapan wastafel itu, mata ku tertuju lurus ke arah kaca yang ada di hadapan ku, tergambar jelas refleksi diri ku di sana. Bola mata yang senada dengan birunya langit bertengger dengan manis bagaikan manik-manik di dalam rongga mata yang berbentuk hampir sama dengan mata kucing ini. Rambut pirang yang selalu ku potong pendek dan tak pernah ku biarkan lebih panjang dari pundak ku itu masih basah dan sesekali meneteskan air dari setiap helainya. Sebuah anting bermatakan batu rubi kecil di ujungnya terlihat menjuntai di sela-sela rambut pirang ku. tatapan ku terkuci pada anting yang hanya tinggal satu itu dan tak pernah ku lepas dari kuping kiri ku. ku sentuh perlahan anting itu.

Seakan terhipnotis dengan warna merahnya yang bagaikan darah, aku kembali teringat dengan masa lalu ku. Masa lalu yang sejak lama ingin ku lepaskan, masa lalu yang membuat ku selalu bermimpi buruk, tapi sialnya semakin aku berusaha untuk melupakannya semakin aku mengingatnya dengan baik. Apalagi sekarang ada 'orang itu' di sekitar ku. ya... Kehadiran orang itu lah yang membawa ku kembali ke masa lalu yang sempat berhasil ku lupakan.

Kriiiingggg... kriiiiingggg...

Suara keras dari handphone ku membuat ku terkesiap dari lamunan ku. Aku menengok ke kanan-kiri mencari sumber suara itu berasal.

'dari kamar ku' gumam ku dalam hati saat mengingat handphne ku itu tadi ku tinggalkan di kamar. Aku mengambil sebuah kimono handuk berwarna kuning dan sebuah handuk kecil berwarna senada lalu memakainya, handuk kecil itu hanya ku kalungkan di pundak ku. Aku berjalan ke arah tempat tidur ku, tempat di mana handphone ku berada. Aku duduk di ujung tempat tidur, mengambil handphone ku dan melihat layarnya.

'hei... kurapika... lama sekali kau angkat telepon mu? Aku sudah pegal menunggu mu mengangkat telepon' suara dari sebrang telepon sana. Suara anak laki-laki yang sangat ku kenal.

'maaf, killua... aku tadi sedang di kamar mandi...'

'dasar... kau harus mentraktir ku choco robo sebagai permintaan maaf' ujarnya dengan nada egoisnya.

'baiklah...' ucap ku santai, seraya mengeringkan rambutku dengan handuk kecil.

'asiik... aku mau banyak sekali choco robo nanti!' kali ini nadanya lebih bersemangat lagi.

'hai...hai... ah ya... ada urusan apa kau menelepon ku?' aku baru teringat hal yang sedari awal ingi ku tanyakan itu.

'ah ya... aku hampir saja lupa... apa kau sudah dapat kabar dari si kakek itu?'

'kakek?' pikir ku, aku mencoba mengingat-ingat siapa saja yang mendapat panggilan seperti itu dari killua, tak lama berpikir aku pun mendapatkan jawabannya.

'maksud mu Netero-sama?... kalau kabar yang kau maksud adalah perubahan jadwal dan tempat perjanjian pertemuan kita hari ini, aku sudah mendapatkan pesannya malam tadi...' aku berjalan ke arah lemari dan memilih-milih baju ku. Handphone ku masih tertempel di daun telinga ku.

'baguslah... kau sudah siap-siap?'

'aku sedang siap-siap sekarang...' aku mengambil baju ku dan menaruhnya di bangku.

'kalau begitu kita janjian saja, aku, Gon dan Leorio akan menunggu mu di tempat biasa...'

'baiklah... sekitar 15 menit lagi aku akan berangkat dari tempat ku...'

'ok... kalau begitu sampai jumpa nanti ya '

'sampai jumpa ' ucap ku seraya menutup telepon.

Aku segera memakai baju yang telah ku siapkan tadi. Sebuah blazer hitam dan baju panjang turtle neck berwarna indigo menutupi tubuh atas ku, di tambah dengan celana panjang berwarna senada dengan blazer ku. Rambut pirang ku yang masih setengah kering ku sisir rapi. Ku ambil tas selempang berwarna putih yang telah ku persiapkan sedari malam tadi, warna yang cukup kontras dengan pakaian ku yang berwarna gelap. Setelah selesai memakai sepatu kets ku, aku segera keluar dari kamar apartement ku dan berjalan ke arah lift yang berada di ujung lorong. Aku menekan tombol di salah satu bagian dindingnya. Tak lama menunggu, pintu lift di hadapan ku telah terbuka dan aku melangkah masuk.

.

.

SKIP TIME

.

.

NORMAL POV

Di sebuah halte bus terdapat 3 orang pemuda. Angin semilir meniupkan rambut mereka. Beberapa kali melihat ke kanan-kiri, tampak seperti menunggu seseorang.

"ke mana si kurapika itu?... tak biasanya dia terlambat seperti ini..." ucap salah seorang dari 3 pemuda itu. Dia memiliki perawakan paling tinggi di antara mereka, kacamata bulat kecil bertengger di depan mata coklatnya dan terlihat paling 'tua' di antara mereka. sudah beberpa kali ia melirik ke jamnya, menunggu dengan tak sabar.

"bersabarlah leorio... mungkin kurapika sedang di jalan menuju ke sini..." ucap salah seorang lain di sebelah kiri pria yang di panggil Leorio itu. Dia lebih muda dari leorio dan memiliki perawakan paling pendek di antara mereka. Mata coklat polosnya memandang lurus ke pria yang berada di sampingnya yang tidak sabaran itu, lalu pandangannya di alihkan kembali menuju jalan.

"gon benar ossan... kau harusnya lebih bersabar... kau juga tadi bangun terlambat..." ucap orang lain di sana. Orang itu sebaya dengan anak yang di panggil Gon tadi. Rambutnya yang berwarna silver tampak mencolok di antara mereka, rambut yang tampak halus walau tertata sedikit berantakan itu terbuai dengan manis oleh hembusan lembut angin. Di mengeluarkan lolipop yang sedari tadi terkulum di bibir mungilnya.

"diam kau!... kau yang harusnya di panggil tua, rambut putih!" leorio tampak kesal, persimpangan muncul di keningnya.

"ini bukan putih! Ini silver, ossan!" sang rambut silver itu tampak membenarkan kata-kata leorio.

"mou... mou... sudahlah kalian berdua" gon melerai mereka - sweatdrop.

"ah! Itu kurapika... kurapika!" sapa gon dengan nada ramah khasnya. Di lambai-lambaikannya tangannya dengan ceria ke arah seseorang yang datang menghampiri mereka.

Orang itu melambaikan tangannya balik dengan santai dan berjalan semakin dekat.

"kau datang juga, kurapika..." ucap leorio melihat sosok gadis berambut pirang di hadapannya itu.

"maaf datang terlambat... tadi ada seorang anak yang tersesat dan aku harus mengantarnya menemukan orang tuanya..." balas gadis pirang itu dengan santai. Senyum terkembang di wajah manisnya.

"kalau begitu ayo kita berangkat... bus kita pun telah datang..." ucapnya lagi seraya melihat bus yang berjalan mendekati mereka.

.

.

SKIP TIME

.

.

Ke empat orang sahabat itu kini tengah duduk di dalam sebuah cafe yang berada di tengah kota Yorkshin. Mereka duduk di sebuah meja panjang di pojok cafe, meja itu langsung menghadap keluar, dapat mereka lihat keramaian kota yang terjadi di luar, tapi meski mereka bisa melihat lalu lalang orang-orang yang ada di luar, tapi orang-orang tak bisa melihat mereka karena kaca bohong ini.

"kenapa kakek netero menyuruh kita bertemu di sini ya? Bukankah akan lebih aman kalau kita bertemu di kantor Hunter..." ucap Gon sambil melahap sepotong roti yang ada di tangan kanannya. Mata coklat polosnya bergantian melihat ke arah teman-teman yang ada di sekitarnya, menunggu jawaban dari salah satu mereka.

"entahlah gon... kakek itu kan memang selalu aneh..." ucap seorang anak laki-laki yang berambut silver yang duduk di sebelahnya. Nada bicaranya begitu santai. Di ujung bibirnya masih tersisa bekas krim coklat dari kue yang tadi baru selesai di makannya.

"netero-sama pasti punya alasan lain mengapa kita di kumpulkan di tempat ini... bagaimana juga dia ketua kita jadi dia pasti punya pertimbangannya sendiri..." kali ini suara itu datang dari satu-satunya gadis manis yang berada di antara mereka. Mata birunya masih dengan tenang memperhatikan sebuah buku yang tak sedikit pun tersingkir dari wajah manisnya itu.

BRAK!

Gerakan leorio yang tiba-tiba bangkit dari kursinya mampu mengusik perhatian para teman-temannya. Matanya tertuju ke arah pintu yang tepat ada di seberangnya.

"ada apa leorio? Kenapa kau tiba-tiba berdiri?" kurapika menurunkan buku tebal dari hadapannya dan melihat ke arah leorio yang duduk di sebelahnya. Setelah menunggu beberapa detik, karena merasa tak dapat jawaban dari temannya itu, akhirnya dia pun mengalihkan pandangannya ke arah yang di tatap oleh leorio.

BRAK!

Tiba-tiba kurapika pun berdiri, melihat sosok yang ada di hadapannya itu. darahnya seakan mendidih melihat sosok orang itu. mata birunya yang semula memancarkan sorot ketenangan, berubah seketika menjadi merah -semerah darah dan memancarkan kebencian yang sangat dalam. Melihat sorot mata kurapika itu, tanpa perlu bertanya lagi, ke dua orang yang duduk di hadapan mereka sudah bisa menebak siapa yang sekarang hadir di antara mereka. mereka duduk di atas lututnya dan melihat sosok itu dari balik punggung kursi. Sosok para anggota Ryodan.

"untuk apa kalian kemari, laba-laba?" tanya kurapika, nada suaranya tak mampu menyembunyikan kebencian yang di milikinya.

"hai... kurapika-chan... senang bisa melihat kalian di sini" sapa salah seorang di antara mereka. orang yang terlihat masih berumur belasan itu. rambut coklatnya tampak manis di wajah ramahnya. Tangan kanannya masih sibuk menekan-nekan keypad handphone.

"ku tanya... untuk apa kalian kemari, Brengsek!" nada suara gadis pirang itu meninggi. Tangannya terkepal erat menahan emosi, seakan tak menggubris sapaan yang tadi di arahkan padanya.

"kami kemari karena di panggil Netero..." kali ini suara bariton itu meluncur dengan mulus dari pria bermata onyx yang berdiri dengan santai di tengah-tengah kelompoknya. Pria bermata onyx itu memiliki rambut yang sama hitamnya dengan langit malam, dengan tatoo aneh berbentuk seperti salib di dahinya, terlihat sangat mencolok di kulit wajahnya yang putih pucat. Dia mengeluarkan tangannya dari saku mantel hitam panjangnya dan berjalan mendekati meja kurapika lalu duduk di sebrang gadis itu, tepat di sebelah gon.

"siapa yang menyuruhmu untuk duduk brengsek! Pergi dari tempat ini!" kurapika terlihat semakin emosi. Tangannya di hentakan dengan keras ke arah meja yang ada di hadapannya. Tatapan kebenciannya tak pernah menjauh dari laki-laki bermata onyx itu. namun sang pemilik mata onyx itu hanya melihat gadis itu santai.

"aku kemari karena menuruti perintah netero, bukan menuruti mu... jadi aku tak akan menuruti mu... phinks, paku, shalnark, nobu... ayo duduk..." ucapnya kemudian dengan santai, tak meghiraukan kemarahan kurapika. Ia melihat ke arah empat orang yang tadi bersamanya, memerintahkan mereka dengan tenang.

"baik, danchou" jawab mereka, dengan suara pria berambut coklat yang terdengar paling ceria. Lalu mereka duduk di dekat pria yang mereka panggil danchou itu.

BRAK!

"hei... kurapika! Tenang... jangan terbawa emosi... ini tempat umum" suara leorio terdengar, kali ini lebih keras, pria tinggi itu menahan gadis pirang yang ada di sebelahnya agar gadis itu tak melakukan hal bodoh, terutama di keramaian begini.

"lepas! Aku akan membunuhnya! Aku bersumpah akan membunuhnya!" bentak gadis itu penuh emosi. Dia meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pria tinggi itu. kakinya di tendang-tendang ke udara berupaya untuk bisa naik meja dan segera menghajar pria yang ada di hadapannya.

"aku tak akan membiarkan itu!" kali ini gon yang angkat bicara. Anak berambuk jabrik itu merentangkan tangan di hadapan pria yang ada di sampingnya, berusaha untuk melindunginya dari amukan kurapika.

"gon! Apa yang kau lakukan?! Kau bilang kau teman ku, tapi kenapa kau malah melindungi pria itu!" gadis itu semakin terhanyut dengan emosinya, melihat ke arah gon dengan amarah.

"justru karena aku teman kurapika aku melakukan ini! Aku tak ingin kurapika membunuh dengan mudahnya... aku mengerti perasaanmu, tapi kalau kau membunuhnya sekarang kau sama saja dengan mereka" tegas anak itu. matanya menatap serius ke arah mata kurapika. Tak ada keraguan sedikit pun di sana.

"gon benar... kau tak boleh membunuhnya sekarang, kurapika... kau tidak dengar tadi dia bilang, dia kemari karena di minta oleh kakek itu? berarti sekarang suka atau tidak dia ada di pihak yang sama dengan kita... dan membunuh salah seorang sekutu kita akan membuat kita di keluarkan dari organisasi Hunter... dan itu juga artinya akan menghancurkan impian mu... jangan hancurkan mimpi mu sendiri karena emosi, kurapika..." pria berambut silver itu melihat ke arah kurapika dengan tatapan tenangnya. Dia menyeruput milkshakenya dengan tenang di akhir perkataannya.

"gon dan killua benar, kurapika... aku juga emosi melihat mereka... tapi kami mohon lebih tenanglah... kita tunggu ketua netero di sini dengan tenang dan menunggu penjelasannya.. seperti kata mu, netero pasti memiliki alasan sendiri melakukan ini..." leorio menenangkan gadis itu. dia mendudukannya kembali di kursinya. Gadis itu hanya menurut dalam diam. Tapi mata merahnya masih membara menatap pria di sebarangnya.

"... mata yang indah... jauh lebih indah bila di lihat saat mata itu masih berada di rongga mata pemiliknya..." ucap pria yang ada di sebrang kurapika itu dengan tenang. Tangannya terlipat di depan dadanya dan mata onyxnya menatap mata scarlet itu dengan tatapan yang sangat dalam. Tatapan yang tak bisa di artikan dengan mudah.

Kurapika menggigit bawah bibirnya sangat kuat hingga darah segar mengalir dari bibirnya, tangannya terkepal sangat kencang. Sangat sulit baginya untuk menahan emosi, tapi dia harus mendengarkan perkataan teman-temannya, dia tak mau menghancurkan masa depannya karena orang itu, orang yang sama dengan orang yang pernah menghancurkan hidupnya satu kali, dan dia tak akan membiarkan orang itu menghancurkannya lagi.

"kalian sudah datang? Baguslah... kalau begitu pertemuan ini bisa langsung di mulai..." ucap seseorang dari belakang mereka, suara yang sangat mereka kenal. Mereka mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara itu.

.

.

SKIP TIME

.

.

Malam sudah larut. Sinar bulan menyeruak masuk dari jendela kamar apartemen yang masih di biarkan terbuka, angin semilir bertiup memasuki kamar kecil nan rapi itu. jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Namun pemilik kamar ini masih terlihat sibuk dengan tumpukan buku-buku yang ada di atas meja belajarnya. Rambut pirangnya yang pendek bergerak pelan seirama dengan hembusan angin malam. Mata birunya masih sibuk dengan setiap kata-kata yang tertulis di halaman buku di tangannya. Tapi walau buku itu sudah berjam-jam ada di hadapannya, namun tak ada satu pun kata yang bisa tercerna di otak pintarnya, pikirannya melayang ke keajadian hari ini.

Flashback

"apa?! Bekerja sama dengan para brengsek ini?!" suara gadis itu kembali meninggi mendengar perkataan pria tua yang kini telah duduk manis tepat di hadapan pria bermata onyx itu. mata scarletnya tampak semakin mengkilat menyiratkan kemarahan yang semakin dalam. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pria bermata onyx itu dengan kesal.

"tepat sekali, kurapika-san... kalian berempat harus bekerja sama dengan mereka dalam misi kali ini... terutama dengan kuroro-san..." ucap pria tua itu dengan santai seraya melihat ke mata scarlet itu. dia menurunkan tangan kurapika yang masih tertuju pada pria itu.

"aku menolak, netero-sama!" ucap gadis itu lantang.

"sayang sekali kurapika-san... kau sedang dalam posisi tidak bisa menolak perintah ini... misi kali ini membutuhkan kalian, kami butuh kepintaran, insting dan intuisi tajam kelompok kalian... selain itu kami pun perlu koneksi yang di miliki oleh kelompok ryodan agar misi kali ini berjalan dengan sukses tanpa ada kerugian yang lebih besar... jadi aku harap kau bisa mengenyampikan ego mu dan bersedia bekerja sama dengan mereka..." jelas pria tua yang di panggil netero itu santai, seraya menyeruput teh hitam di tangannya.

"aku tetap menolak!"

"jangan terlalu keras kepala, kurapika-san... kalau kau masih keras kepala seperti ini maka akan banyak nyawa yang tak bersalah terbuang sia-sia... kembali lah ke diri mu dan bersikap lah tenang..." ucap netero kembali. Suaranya kali ini lebih dalam, dia melihat gadis pirang itu dengan ujung matanya yang mulai keriput, ada tekanan lain dari auranya ini.

"... eh?... huh..." kurapika tersentak melihat tatapan itu, dia hanya tertunduk diam dan kembali duduk.

"aku anggap itu sebagai persetujuan dari mu, kurapika-san... maka misi ini resmi kalian terima... kuroro-san... silakan memilih kawan satu tim mu untuk misi ini... jangan terlalu banyak cukup 4-5 orang... dan pastikan orang-orang yang kau tunjuk itu dapat bekerja sama dengan baik dengan kurapika cs" perintah netero lagi, kali ini nada bicaranya lebih santai..."

"baik... sebelum memilih tim ku, aku harus tahu misi apa kali ini?" kuroro angkat bicara dengan suara baritonnya.

"untuk itu akan ku jelaskan besok pagi di kantor Hunter... aku harap kau bisa datang pagi-pagi, kuroro-san..."

"tentu..."

"bagus kalau begitu... untuk kalian, aku berikan kalian hari bebas hari ini... karena sepertinya ada anggota kalian yang perlu waktu lebih lama untuk menenangkan hati dan pikirannya..." netero bangkit dari duduknya dan melihat ke arah kurapika cs.

"hai!" jawab mereka dan memberi hormat ke arah sosok yang telah menjauh itu.

End flashback

'bekerja sama dengan mereka? huh!... jangan bercanda... aku tak akan sudi melakukannya!' gurutu ku dalam hati penuh emosi. Ku lemparkan buku yang ada di tanganku ke arah kasur ssebelum akhirnya benda itu terpantul dan jatuh ke lantai dengan keras. Aku segera bangkit dari bangku ku dan melemparkan tubuhku ke atas kasur itu. tak lama aku telah terbuai lembut sang malam.

CONTENYUUU~~~