Disclaimer: Harry Potter and all chara(s) belongs to J.K. Rowling.
Pairing : Draco Malfoy / Harry Potter
Rated: T
Genre: Romance / Friendship
Warning: OOC, SLASH, typo(s), etc.
Don`t Like, please Don`t Read!
Setting: 5th Year. No War, No Voldemort!
.
Feeling About You
Chapter 2: Jealous!
"Kau itu kenapa, Harry?" tanya Hermione yang melihat Harry tengah mengaduk-aduk sarapannya dengan enggan.
Harry mendongakkan kepalanya sedikit agar bisa melihat sahabatnya. "Tidak ada apa-apa, `Mione," katanya. Harry pun kembali menatap makanan yang tersaji di atas piring miliknya yang kini sudah tidak jelas mana kentang dan mana daging. Mengernyit melihat kondisi makanannya, membuat Harry urung menikmati sarapannya pagi itu. Ia mendorong piringnya menjauh kemudian menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya yang terlipat diatas meja panjang.
"Dia kenapa?" bisik Ron yang sejak tadi sibuk dengan sarapannya kepada Hermione. Gadis berambut cokelat mengembang itu hanya mengangkat bahunya sedikit; pertanda ia juga sama sekali tidak tahu mengapa sikap Harry seperti sekarang.
Yeah, mereka memang tidak tahu karena Harry sama sekali tidak bercerita kepada kedua sahabatnya. Bagaimana mungkin ia bercerita kalau ia baru saja dicium oleh... Draco Malfoy? Tidak, Harry sama sekali tidak sanggup menceritakan apa yang menimpanya tiga hari yang lalu. Bisa-bisa Ron akan mengolok-oloknya selama setahun penuh kalau ia sampai mendengarnya.
"Harry..." panggil Hermione. Harry yang mendengar panggilan sahabatnya mendongakkan kepalanya; menatap kedua sahabatnya. "...apa kau sedang ada masalah? Kau bisa bercerita pada kami. Siapa tahu kami bisa membantumu."
Pemuda bermata emerald itu menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, hanya sedang perlu sedikit udara segar. Kutunggu kalian di kelas," kata Harry yang kemudian beranjak dari meja panjang dan bergegas keluar dari Aula Besar. Meninggalkan Ron dan Hermione yang menatap heran kepadanya.
'Aku butuh udara segar sekarang,' batin Harry sambil melangkahkan kakinya menjauhi Aula Besar. Ia sempat berhenti sebentar saat melewati meja Slytherin ketika ia merasakan seseorang mengamatinya. Ia mendengus kesal saat mendapati orang yang paling tidak ingin ditemuinyalah yang sejak tadi mengamatinya. Ya, orang itu tidak lain adalah Draco Malfoy.
Pemuda berambut pirang platina itu terlihat menatap lekat ke arah Harry. Seringaian tidak lepas dari wajahnya saat melihat Harry menatap tajam dirinya, kemudian membuang mukanya dan meninggalkan Aula Besar. Sepertinya melihat seorang Harry Potter yang kesal merupakan hiburan tersendiri bagi Draco.
...
Kelas Sejarah Sihir pagi ini berlangsung seperti hari-hari biasanya dimana kebanyakan murid-murid Hogwarts lebih memilih untuk tidur di dalam kelas ketimbang mendengarkan penjelasan Profesor Binns-satu-satunya pengajar yang berwujud hantu di Hogwarts-yang tidak henti-hentinya mengoceh panjang lebar mengenai Pemberontakan Goblin.
Tidak seperti Hermione Granger yang terlihat sangat antusias mendengarkan penjelasan pengajarnya, Harry terlihat menahan kantuk yang sejak tiga puluh menit yang lalu menyerangnya. Menguap selebar-lebarnya, ia menyilangkan kedua tangannya di atas meja; berniat untuk tidur.
Belum sempat ia menenggelamkan kepala di atas tumpukan tangannya, sebuah burung yang terbuat dari perkamen terbang ke arahnya dan mendarat di atas meja.
"Masih mengingat kejadian tempo hari, Potter?"
Harry mengeram pelan saat mendapati sebaris tulisan yang tertulis di burung itu saat ia membongkar burung tersebut. Mata emerald-nya pun segera mencari siapa yang baru saja mengiriminya surat. Tanpa perlu berlama-lama mencari, ia sudah menemukan pelakunya yang saat ini lagi-lagi menyeringai dari bangku paling belakang kelas tersebut.
Harry berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya yang kini sudah diambang batas agar ia tidak meluncurkan kutukan pada Pangeran Slytherin itu. Berkali-kali ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kuat-kuat sampai-sampai Ron yang duduk disamping Harry menatap pemuda itu dengan sangat heran.
Kelas Sejarah Sihir berakhir satu setengah jam kemudian. Tanpa membuang-buang waktunya, Harry segera membereskan peralatannya dan memasukkan asal-asalan ke dalam tasnya. Dengan langkah kaki yang sedikit tergesa, ia pun meninggalkan kelas tersebut.
.
Harry menghempaskan tubuhnya di atas hamparan rumput hijau di tepi Danau Hogwarts sambil memejamkan matanya. Hari ini jam pelajarannya kosong sampai saat makan siang dan baru akan mulai kembali sore nanti. Memungkinkannya untuk sekadar menenangkan amarahnya yang meledak-ledak karena apa yang telah Draco lakukan padanya.
"Sial!" maki Harry saat mengingat kejadian dimana Daco menciumnya tempo hari. Mengingat bagaimana bibir lembut pemuda itu yang membelai bibirnya...
Bagaimana aroma khas yang menguar dari tubuh pemuda itu yang bisa dicium Harry dengan jelas...
Dan bagaimana sensasi yang diciptakan saat jemari pemuda itu menyentuh kulitnya...
"Apa yang barusan kupikirkan!" pekik Harry frustasi sambil mengacak-acak rambutnya saat menyadari apa yang ia pikirkan barusan. Bagaimana mungkin ia mengingat hal-hal yang membuatnya susah tidur belakangan ini! Tidak seharusnya Harry memikirkan itu. Bukankah Harry seharusnya melupakannya saja? Bagaimana pun ia itu laki-laki normal yang masih menyukai lawan jenis.
Ya, ia adalah laki-laki NORMAL! Normal karena ia memiliki ketertarikan pada Cho Chang, salah satu murid asrama Ravenclaw sekaligus seeker di tim Quidditch asramanya. Jadi tidak seharusnya Harry memikirkan Draco Malfoy.
"Apa yang kau lakukan disini, Potter?"
Harry tersentak dari lamunannya. Dengan cepat ia bangun dari posisi tidurnya dan melihat siapa yang baru saja mengganggu waktunya. Harry langsung mengutuki segala kesialan yang menimpanya belakangan ini saat melihat seorang Draco Malfoy berdiri beberapa meter di belakangnya.
"Apa kau tidak bosan mengikutiku terus, Malfoy?" desis Harry yang segera berdiri dan menyambar tas miliknya yang tergeletak tidak jauh darinya.
"Jangan terlalu percaya diri seperti itu," kata Draco yang kini menyandarkan tubuhnya pada batang pohon terdekat. Mata abu-abu pemuda itu menatap lekat ke arah Harry yang terlihat menggumamkan sesuatu kata yang tentunya tidak bisa didengar dengan jelas oleh Draco.
"Kalau bukan mengikutiku, apa yang kau lakukan disini?" tanya Harry.
"Ini tempat umum, Potter. Apa salahnya aku kemari," jawab Draco. Pemuda itu menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Harry. Ia baru berhenti saat berdiri beberapa langkah di hadapan pemuda tersebut. Diulurkannya tangan pucatnya ke arah Harry; berniat untuk menyentuhnya. Tapi sebelum tangan itu menyentuh apa yang ingin disentuh, Harry sudah terlebih dahulu menepis tangan Draco dan mundur beberapa langkah.
"Menjauh dariku!" bentak Harry. Mata emerald-nya menyiratkan kebencian yang ditujukan kepada Draco. Melihat hal tersebut, Draco pun mau tidak mau menarik kembali tangannya.
"...Apa kau begitu membenciku, Harry?" tanya Draco. "Apakah selain benci, tidak ada rasa lain di hatimu untukku?"
Lama Harry terdiam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Draco barusan. "Tidak," jawabnya singkat.
Pemuda pirang itu menghela nafasnya pelan. Mata abu-abunya kini beralih ke arah Danau yang membeku. Terlihat begitu berkilauan dari tempatnya berdiri saat ini.
"Apakah kalau aku mengatakan 'aku mencintaimu', kau tidak merasakan apa-apa?" tanya Draco lagi.
Harry mendengus keras. "Kau pikir aku akan percaya apa yang kau katakan tadi, Malfoy? Jawabannya tidak. Dan jangan pernah kau ucapkan kata-kata itu padaku!"
Merasa kalau pembicaraan ini hanya akan membuang-buang waktunya, Harry pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Tapi sebelum kakinya beranjak pergi, ia merasakan sesuatu mencekal tangannya. Ia melirik dan melihat sebuah tangan putih pucat mencengkram lengannya.
"Kubilang jangan menyentuhku!" bentak Harry yang segera menyentak keras tangan Draco. Tapi sayangnya, pemuda Slytherin itu mencengkram lengannya dengan terlampau kuat sehingga tidak bisa ia lepaskan.
Draco menarik lengan Harry sehingga tubuh pemuda bermata hijau cemerlang itu kini menghadap kearahnya. "Aku belum selesai bicara," desis Draco.
Harry mencibir. "Apa lagi yang perlu kita bicarakan? Aku sudah muak denganmu, Malfoy! Sekarang lepaskan tanganmu dariku!"
Seorang Draco Malfoy tidak akan mau menuruti perintah orang lain. Malah hal tersebut akan membuatnya semakin tidak berniat untuk melepaskan lengan Harry. Dengan sekali tarik, ia menarik tubuh Harry semakin mendekat kepadanya. Tangan kirinya yang sejak tadi menganggur, mencengkram leher Harry dan menariknya mendekat ke wajah Draco sehingga untuk yang kedua kalinya kedua wajah pemuda itu saling berhadapan satu sama lain.
"Seorang Malfoy tidak pernah main-main dengan ucapannya," bisik Draco tepat di depan wajah Harry yang tanpa sadar membuat Harry menahan nafas saat nafas Draco berhembus dan menerpa wajahnya.
"Aku mencintaimu, Harry," bisiknya lagi.
Harry tersentak saat menatap kedua bola mata abu-abu dihadapannya. Mata itu menyiratkan keseriusan. Sesuatu yang jarang sekali ditunjukkan oleh seorang Draco Malfoy. Selama beberapa lama keduanya hanya diam menikmati pesona kedua bola mata lawan mereka masing-masing sampai akhirnya Harry yang tersadar lebih dahulu kembali mendorong tubuh Draco agar menjauh darinya.
"Kau sudah gila, Malfoy!" seru Harry yang kemudian segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh; meninggalkan Draco yang masih terpaku di tempatnya.
...
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Mate?" tanya Ron saat ia, Hermione dan juga Harry tengah bersantai di ruang rekreasi. "Kau aneh sejak beberapa hari belakangan ini!"
"Ron benar. Apa ada sesuatu yang terjadi, Harry?" Hermione bertanya kepada pemuda dihadapannya. Ditutupnya buku tebal yang sejak beberapa saat yang lalu ia baca; menunggu Harry untuk berbicara.
Harry yang ditanyai oleh kedua sahabatnya terdiam cukup lama sampai akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan apa yang mengganggu pikirannya. Melirik ke sekitarnya hanya untuk memastikan kalau tidak ada yang menguping pembicaraan mereka, Harry pun mulai bercerita. Masa bodoh kalau pada akhirnya Ron akan menertawakannya. Ia tidak perduli karena saat ini yang ia perlukan adalah saran.
.
"What!" teriak Ron dan Hermione bersamaan saat Harry selesai bercerita. Kedua orang itu menatap tidak percaya kepada Harry yang baru saja menceritakan kalau ia dicium oleh Draco.
"Kau sedang bercanda kan, Harry?" tanya Hermione yang seolah-olah tidak percaya atas apa yang baru saja didengarnya.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Harry balik bertanya kepada gadis itu. "Aku serius. Si brengsek itu menciumku dan mengatakan kalau dia mencintaiku. Apa dia sudah gila?" kata Harry dengan suara berbisik; tidak ingin orang-orang di ruangan itu mendengar pembicaraan mereka.
Ron dan Hermione saling berpandangan. Heran dan tidak percaya adalah reaksi mereka. Tidak menyangka kalau seorang Draco Malfoy melakukan hal seperti itu.
"Mungkin dia sedang mengerjaimu, Mate," kata Ron memecah keheningan yang sempat melanda ketiganya. "Lebih baik tidak perlu kau pikirkan."
"Tapi," Hermione tiba-tiba angkat bicara, "bagaimana kalau ternyata Malfoy serius?"
Harry tidak bisa membayangkan kalau seandainya apa yang Hermione katakan ternyata benar. "Aku ini masih normal. 'Mione," kata Harry.
"Aku tidak mengatakan kalau kau tidak normal. Aku hanya mengatakan bagaimana kalau Malfoy serius dengan ucapannya. Hanya itu."
Harry tidak menanggapi perkataan Hermione. Ia hanya diam sembari menatap perapian yang menyala.
.
.
.
Sudah dua hari berlalu sejak terakhr kalinya kedua pemuda berbeda asrama itu berinteraksi satu sama lain. Entah mengapa sejak kejadian di tepi Danau, Draco tidak lagi mengerecoki Harry dengan sindiran-sindiran yang biasa pemuda Slytherin itu lontarkan. Tidak ada juga perang Mantra saat Harry dan Draco berpapasan di koridor atau dimana pun. Seolah-olah mereka adalah dua orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
"Apa kau sudah bosan mengerjai Potter, Draco?" kata Theo, salah satu teman satu asrama Draco yang biasa mengikuti kemana pun Pangeran Slytherin itu pergi. Ia tampak sangat tertarik karena Draco mengacuhkan begitu saja seorang Harry Potter saat mereka sedang menunggu kelas Pemeliharaan Satwa Gaib beberapa saat yang lalu.
Draco yang ditanyai seperti itu sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Ia terlalu sibuk mengamati Harry yang terlihat berbicara dengan Ron dan Hermione yang berada tidak jauh darinya. Entah apa yang mereka bicarakan Draco sama sekali tidak tahu. Tapi yang pastinya mereka terlihat sedang berbicara serius.
"Drakie~"
Panggilan bernada manja yang sanggup membuat Draco merinding mendengarnya membuat pemuda itu mengalihkan perhatiannya dari Trio Griffindor tersebut. Mata abu-abunya menatap tajam kepada seorang gadis berambut hitam panjang yang kini bergelayut manja pada lengan kanannya.
"Parkinson," desis Draco kepada gadis itu.
"Oh, Drakie... panggil aku Pansy. Sudah berapa kali aku memberitahumu agar memanggilku seperti itu!"
Menghela nafas, Draco berusaha melepaskan tangan Pansy yang memeluk erat lengannya. Ia juga sempat menatap tajam ke arah Theo yang terlihat berusaha menahan tawanya agar tidak pecah ketika melihat pemandangan antara Draco dan Pansy.
"Lepaskan aku, Pansy. Dan berhenti menggangguku, " kata Draco dengan nada dingin dan tanpa ekspresi yang langsung membuat Pansy merenggut kesal seraya melepaskan tangannya. Ia berbalik membelakangi Draco dan berjalan menjauhi pemuda itu sambil menggerutu tidak jelas. Sepertinya ia kesal karena lagi-lagi Draco mengacuhkannya.
"Dia gadis yang menyebalkan, hmm?" kata Blaise Zabini yang sejak tadi hanya diam sambil bersandar di salah satu pohon di tepi Hutan Terlarang. Ia terlihat sangat bosan kali ini.
"Yeah, gadis yang paling menyebalkan yang pernah kukenal," gumam Draco pelan sambil kembali mengalihkan perhatiannya kearah Trio Griffindor. Sedikit terkejut saat melihat Harry tengah menatapnya dengan tajam dan... marah? Tapi pemuda itu segera mengalihkan pandangannya ke arah Rubeus Hagrid-manusia setengah raksasa yang mengajar Pemeliharaan Satwa Gaib-ketika Draco menyadari tatapan Harry yang tertuju padanya. Seulas seringai nampak di wajah tampan Draco saat menyadari apa yang sedang terjadi.
.
.
.
Harry terlihat memasuki kastil Hogwarts dengan sedikit tergesa-gesa sambil menenteng Firebolt di tangan kanannya. Seragam Quidditch yang melekat di tubuhnya terlihat basah dengan ujung pakaiannya yang tidak henti-hentinya meneteskan air dan mengotori koridor yang dilaluinya dengan genangan air.
Ia tidak perduli kalau seandainya Filch ataupun kucing peliharaannya memergoki Harry yang mengotori koridor saat ini. Ia hanya perduli satu hal. Kehangatan dan kenyamanan yang akan segera ia dapatkan di kamar asramanya.
Salahkanlah Angelina Johnson yang membuat Harry basah kuyup karena mengejar Snitch di tengah guyuran hujan salju sore ini. Kapten tim Quidditch-nya itu terlihat sangat bersemangat dalam latihan kali ini. Entah apa yang merasuki gadis itu sehinggga menyuruh anak buahnya berlatih di tengah cuaca yang buruk. Apakah karena stress akibat ujian N.E.W.T yang menyebabkan gadis itu out of character seperti tadi, Harry sama sekali tidak tahu.
Belum sempat ia berbelok di koridor pertama yang dilaluinya, tiba-tiba saja pemuda berkacamata itu menghentikan langkah kakinya saat melihat seorang pemuda dan seorang gadis yang tengah berdiri di dekat dinding koridor. Kedua orang itu terlihat sedang berbicara dengan sangat akrab. Sesekali suara tawa keluar dari bibir sang gadis saat si pemuda membisiki sesuatu di telinganya.
Harry merasakan sesuatu perasaan yang aneh saat melihat pemandangan di depannya. Perasaan yang sama yang ia rasakan saat Pansy bergelayut manja pada Draco. Sesak, kesal dan marah bercampur menjadi satu dan membuat perutnya melilit sakit.
Tanpa sadar Harry mencengkram gagang sapu miliknya lebih keras dari yang seharusnya dan membuat buku-buku jarinya memutih. Ia sepertinya melupakan dingin yang tadi dirasakannya saat melihat pemuda pirang yang tidak jauh darinya sedang memainkan rambut panjang gadis dihadapannya.
Mengeram kesal, Harry pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Terpaksa ia harus mencari jalan memutar agar bisa kembali ke asramanya daripada harus melewati kedua orang itu. Hell no! Ia sama sekali tidak mau.
"Malfoy brengsek!" maki Harry sambil berjalan menuju asramanya. "Apa tidak bisa mencari tempat lain untuk pacaran!"
Sepanjang perjalanan gerutuan tidak henti-hentinya keluar dari bibir pemuda itu. Sesekali kata makian dan umpatan mengiringi suara langkah kaki Harry. Ia baru berhenti menggerutu saat sampai di depan lukisan Nyonya Gemuk yang saat ini terlihat sedang bernyanyi dengan suaranya yang fals.
Setelah mengucapkan kata kunci dengan sedikit membentak, Harry pun memanjat melalui lubang di belakang lukisan tersebut untuk masuk ke dalam asramanya. Mata hijau cemerlangnya mengamati keadaan ruang rekreasi yang masih ramai karena hari belum terlalu malam. Ia mendapati Ron dan Hermione sedang duduk di permadani dengan beberapa gulung perkamen dan buku-buku yang terbuka disekeliling mereka.
Menghiraukan beberapa teman asrama yang menyapanya saat ia lewat, Harry yang masih kesal karena apa yang ia lihat tadi buru-buru berjalan ke arah tangga menuju kamarnya; sekali lagi mengacuhkan kedua sahabatnya.
.
"Apa yang terjadi padaku?" gumam Harry pada dirinya sendiri. Suara gemericik air yang keluar dari shower dan membasahi tubuh pemuda itu mengiringi perang batin di kepala Harry.
Lagi-lagi perasaan yang tidak dikenalnya menyeruak kembali saat mengingat apa yang baru saja dilihatnya. Seorang Draco Malfoy tengah berbicara berdua dengan seorang gadis yang Harry tahu namanya adalah Astoria Greengrass, murid satu tingkat di bawah Harry yang satu asrama dengan Draco.
Harry tidak tahu perasaan apa yang dialaminya sekarang. Tapi yang pasti, perasaan itu membuatnya tampak tidak tenang. Apalagi mengingat kalau tadi Draco sempat tersenyum tipis kepada Astoria, membuat Harry merasa ingin menyingkirkan gadis itu dari Draco.
"Sial!" rutuk Harry karena tidak juga mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Dengan segera ia menyudahi acara 'menenangkan pikiran'-nya lalu bergegas keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya mengeringkan tubuh dan mengganti pakaiannya.
...
"Aku bisa gila kalau seperti ini, 'Mione," kata Ron yang menatap tumpukan perkamen dihadapannya dengan tatapan horor. Tugas-tugas yang mengalir seperti air bah yang tidak ada hentinya memaksa pemuda berambut kemerahan itu lebih memilih untuk sakit daripada mengerjakan semua tugas essay yang belum juga selesai sampai sekarang.
"Jangan mengeluh dan kerjakan saja," tungkas Hermione tanpa menatap ke arah Ron. Mata gadis itu terlihat menyusuri tulisan-tulisan yang tertulis di perkamen dihadapannya sambil sesekali mencoret dan memperbaiki isinya.
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu padahal kau tidak tahu apa yang kurasakan," gerutu Ron lagi.
Hermione menghentikan kegiatannya mengoreksi tugas essay Astronomi milik Ron dan kemudian memandang pemuda itu dengan pandangan aku-juga-mengalami-hal-yang-sama-denganmu, lalu kembali menekuni hal yang ia lakukan barusan.
Ron mendesah panjang sembari merebahkan tubuhnya pada permadani yang melapisi seluruh ruang rekreasi. Tapi kemudian ia bangun saat melihat Harry berjalan ke arahnya dengan penampilan yang sedikit berantakan. Kemeja yang dikancing asal-asalan dan rambut yang basah sehabis mandi.
"...Aku butuh bantuan kalian," kata Harry yang mendudukkan dirinya diantara Ron dan Hermione.
Harry melihat kedua sahabatnya kini menatap heran kearahnya. Hermione sudah mengesampingkan memeriksa essay milik Ron dan kini menunggu Harry untuk bercerita. Sedangkan Ron menegakkan kembali tubuhnya dan bersandar pada sofa di dekatnya.
"Katakan," perintah Hermione kepada Harry.
Harry mengangguk pasrah. Dengan suara pelan ia mulai menceritakan apa yang begitu menganggu pikirannya saat ini. Bagaimana perasaannya saat ini semua itu meluncur mulus dari bibir pemuda itu.
"Well-Harry," kata Hermione sesaat setelah Harry selesai bercerita. Gadis berambut cokelat mengembang itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyum geli yang kini bertengger di wajah cantiknya. "Aku akui kau sangat hebat dalam beberapa hal. Baik itu dalam terbang atau pelajaran. Tapi harus kuakui kau itu bodoh dalam hal perasaan."
Bukan hanya Harry yang menatap heran ke arah Hermione. Setidaknya Ron juga seperti itu. "Apa maksudmu?" kata Ron.
Hermione menatap sinis ke arah pemuda berambut merah tersebut. Memang kalau dalam hal seperti ini, anak laki-laki agak sedikit lambat untuk menyadarinya. Merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Ron, Hermione mengalihkan perhatiannya dari pemuda itu ke arah Harry.
"Harry, kau itu..." Hermione terdiam sejenak sebelum kembali bersuara. "...cemburu."
Harry membelalakkan matanya mendengar penjelasan Hermione tadi. Ia sama sekali tidak percaya apa yang gadis itu ucapkan. Ia cemburu? Yang benar saja!
"Harry, kau memang cemburu. Kau harus akui itu."
"Ta-Tapi aku membenci Malfoy," desis Harry. Ia beralih ke arah Ron; berniat meminta pertolongan dalam hal ini. Sayang pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bukan orang yang pintar dalam hal mempelajari perasaan seseorang.
Hermione tersenyum. "Benci bukan menjadi patokan untuk membuatmu cemburu pada seseorang atau tidak. Kau boleh mengatakan kalau kau membenci Malfoy. Tapi bagaimana dengan hatimu?"
Harry tidak menjawab. Saat ini ia sedang berusaha memahami setiap kata yang Hermione ucapkan. Apakah benar ia cemburu karena seseorang berada di dekat pemuda itu? Tapi mengapa ia harus cemburu? Bukankah ia tidak memiliki perasaan apa pun terhadap pemuda itu?
Harry tidak mengerti tapi bukan berarti ia tidak ingin tahu. Tanpa diketahui kedua sahabatnya, Harry berniat untuk mencari tahu.
...
To be Continued
...
A/N: tanpa banyak basa-basi, saia hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk:
Kuchiki Hirata, AngelBlueEyes D'Lucifer, SlythGirlz Phantomhive, Sun-T, Icci chan, CCloveRuki, Lalalu, himawari Ichinomiya, aicchan, tyas kaitani amelia, Cyborg GirL Fujoshilver & Mayu Azanuma, karena sudah bersedia me-review chapter sebelumnya...
.
Mind to leave me review again?
